eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    Rancang Bangun Sistem Monitoring Suhu dan pH pada Aquascape Berbasis Internet of Things (IoT)

    Get PDF
    Aquascape  merupakan  seni  menata  tanaman  air,  batu karang,  dan  kayu,  sehingga  terlihat  seperti  berkebun  di  dalam   air   dengan   tambahan   ikan   sebagai   pendamping untuk   menyeimbangkan   ekosistem. kendala yang sering dikeluhkan dalam proses perawatan aquascape di antaranya yaitu berkaitan dengan kualitas air yang dapat mempengaruhi terjadinya fotosintesis buatan dengan pemberian pupuk sebagai bentuk penjagaan kesehatan ekosistem di dalam aquascape. Kualitas air sangat mempengaruhi kehidupan biota yang ada di dalam aquascape. Kualitas air dapat dilihat dari kejernihan air, suhu, dan derajat keasaman (pH) yang baik. Untuk menjaga agar air tetap jernih, dibutuhkan suhu antara 25-30oC, tingkat kekeruhan air minimal 0 NTU, dan pH air berkisar 6 - 8. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kualitas air, mengetahui tingkat efisiensi dari penggunaan Internet of Thing pada bidang budidaya ikan, menganalisis hubungan antara kualitas air, kehidupan ikan, dan pengontrolan secara real time. Berdasarkan dari penelitian ini, Nilai suhu, pH, dan lampu merupakan parameter yang dapat mengontrol kualitas air. Peltier berperan untuk menurunkan suhu air dan lampu mampu menumbuhkan tanaman di dalam aquascape dengan baik. Sensor yang digunakan memiliki tingkat akurasi mencapai 98% dan dapat memonitoring lewat Telegram memudahkan dalam memonitor tingkat kualitas air pada aquascape. Serta otomatisasi yang membantu dalam mengontrol kualitas air pada aquascape. Internet of Things atau IoT, merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung dengan sensor secara terus menerus. Konsep ini mempunyai kemampuan seperti berbagi data, remote control kepada prototipe yang telah dirancang, sehingga dapat memantau, mengontrol, dan menyeimbangkan ekosistem dalam aquascape

    Kondisi, Profil dan Keragaan Perikanan Tuna Cakalang Tongkol (TCT) di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja, Aceh

    Get PDF
    Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaraja, sebelumnya PPS Lampulo merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dan sentra kegiatan bisnis perikanan yang berkelanjutan terbesar di Aceh. Armada yang digunakan berupa pukat cincin yang terdiri atas dua kategori yaitu pukat cincin dengan sistem penangkapan satu hari (one-day fishing) dan sistem penangkapan lebih dari satu hari (multi-day fishing). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi, profil dan keragaan perikanan Tuna Cakalang Tongkol (TCT) di PPS Kutaraja. Penelitian dilakukan pada tahun 2020, pengambilan data menggunakan tenaga enumerator, dan survey langsung dilokasi. komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan Cakalang (SKJ) sebanyak 1580 ekor sebesar 39,18%, kemudian Tongkol lisong (BLT) sebesar 20,53%. Hasil tangkapan per upaya CPUE tertinggi terjadi pada ikan tuna sirip kuning (YFT) di bulan Agustus sebesar 0,165 ton/trip. Sebanyak 1037 ekor BLT (15-37cmFL), Tongkol krai (FRI) 407 ekor (19-42 cmFL), Tongkol Kawa-kawa (KAW) 12 ekor (18-32 cmFL), SKJ 1580 ekor (19-56 cmFL) memiliki pola pertumbuhan alometrik positif. Sedangkan YFT 848 ekor (21-155 cmFL ) meliki pola pertumbuhan alometrik negatif

    Pendampingan Poklahsar Produk Olahan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah

    Get PDF
    Kecamatan Kertek merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah 6.215,76 hektar atau setara dengan 6,31% dari total luas Kabupaten Wonosobo (Badan Pusat Statistik, 2021). Kecamatan Kertek memiliki potensi Perikanan budidaya dengan komoditas Ikan Nila dengan adanya Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar). Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 20 Februari sampai dengan 20 Mei 2023 yang berlokasi di Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah dengan sasaran Kelompok Pengolah dan Pemasar Sendang Rejeki yang berjumlah 15 sasaran. Tujuan penelitian ini yaitu meningkatkan  aspek pengetahuan, sikap serta keterampilan sasaran terhadap permasalahan yang terjadi di Poklahsar Sendang Rejeki. Metode  penyuluhan yag digunakan adalah ceramah, diskusi dan demontrasi cara. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan evaluasi pretest dan posttest dengan menggunakan kuesioner. Media yang digunakan adalah media tertayang powerpoint, media tercetak folder, dan media sesungguhnya yaitu peralatan yang digunakan pada saat kegiatan. Melalui kegiatan sosialisasi sanitasi dan higiene, terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 37,3%, sikap 22,1% dan diringi dengan dampak dari penyuluhan penerapan sanitasi dan higiene perubahan perilaku kelompok memberikan dampak dari materi yang telah diberIkan. Evaluasi dampak terkait penerapan sanitasi dan higiene dapat dinilai apabila anggota kelompok sudah menerapkan penerapan sanitasi dan higiene seperti membersihkan diri sebelum melakukan produksi, mencuci alat yag digunakan pada proses produksi, menjaga kebersihan ruangan produksi agar tetap bersih dan rapi, melalui kegiatan demontrasi cara pengemasan dan pelabelan produki Ikan Nila bumbu kuning, terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 34,7%, peningkatan sikap 20% dan diiringi dengan peningkatan peningkatan keterampilan dengan kriteria cukup terampil hingga terampil, melalui kegiatan sosialisasi pemasaran online terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 40%, sikap 21% menuju sikap sangat setuju. upaya pemasaran online menggunakan whatsapp bisnis mampu meningkatkan penjualan 60%, Melalui kegiatan penyuluhan peran dan fungsi kelompok terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 44%, dan peningkatan sikap 23% serta menjadIkan kelompok sebagai wadah belajar melalui pertemuan kelompok yang rutin setiap bulannya. Berdasarkan  berbagai kegiatan yang sudah dilakukan, peningkatan mutu mengalami perubahan dengan adanya kemasan baru pada produk Ikan Nila bumbu kuning dengan menggunakan plastik vakum dan diberIkannya label, adanya peningkatan pemasaran pada produk melalui pemasaran online dengan menggunakan aplikasi Whatsapp bisnis

    HUBUNGAN PRODUKTIVITAS PRIMER DENGAN TINGKAT PRODUKSI TAMBAK POLIKULTUR RUMPUT LAUT DENGAN UDANG DAN IKAN BANDENG: STUDI KASUS DI BREBES, JAWA TENGAH, INDONESIA

    Get PDF
    Produktivitas tambak dipengaruhi oleh produktivitas primer yang tergantung dari kesetimbangan dinamika suhu, salinitas, kandungan oksigen, fosfat, dan nitrat. Nilai produktivitas primer yang tinggi meningkatkan daya dukung lingkungan bagi pertumbuhan rumput laut, ikan bandeng, dan udang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan produktivitas primer terhadap produksi tambak polikultur dan membandingkan hasil produksi Gracilaria sp. pada tambak polikultur rumput laut dengan udang (RLU) dan rumput laut dengan ikan bandeng (RLB). Observasi selama 4 bulan dilakukan pada 10 tambak RLU dan 10 tambak RLB di Desa Randusanga Wetan, Kabupaten Brebes. Padat tebar ikan bandeng adalah 1-2 ekor m-2, udang windu 10 ekor m-2, dan rumput laut adalah 1 ton ha-1. Dosis pakan udang 2% bobot tubuh per hari, sedangkan ikan bandeng hanya mengandalkan pakan alami berupa klekap yang tumbuh di tambak. Nilai produktivitas primer pada tambak RLB (112,17 ± 41,06 mgC.m-3.hari-1) dan RLU (105,39 ± 29,12 mgC.m-3.hari-1)  tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05). Hubungan produktivitas primer dengan produksi Gracilaria sp. adalah cukup kuat, yaitu 76% pada polikultur dengan ikan bandeng, dan 61% pada polikultur dengan udang. Namun, korelasi produktivitas primer terhadap produksi ikan bandeng dan udang windu memiliki hubungan yang rendah (10%). Tambak RLB menghasilkan produksi Gracilaria sp. lebih tinggi (8.885 kg.ha-1.siklus-1) dibandingkan dengan tambak RLU (7.203 kg.ha-1.siklus-1). Pada budidaya polikultur dengan rumput laut, produksi ikan bandeng adalah 688 kg.ha-1.siklus-1, dan produksi udang yaitu 593 kg.ha-1.siklus-1. Produktivitas primer yang tinggi pada tambak polikultur rumput laut dengan ikan bandeng menghasilkan produksi Gracilaria sp. yang lebih tinggi dibanding tambak polikultur rumput laut dengan udang.Pond productivity is influenced by primary productivity, which depends on the dynamic balance of temperature, salinity, oxygen, phosphate, and nitrate content. High primary productivity values increase the environmental carrying capacity for the growth of seaweed, milkfish, and shrimp. The aims of this study were to determine the relationship between primary productivity and production in polyculture ponds and compare the production results of Gracilaria sp. in polyculture ponds of seaweed with shrimp (RLU) and seaweed with milkfish (RLB). Observations were carried out during 4 months at 10 RLU ponds and 10 RLB ponds in Randusanga Wetan Village, Brebes Regency. The stocking density for was 1-2 fish m-2  for milkfish, 10 shrimp m-2  for tiger prawns and 1 ton ha-1 for seaweed. The feed dose for shrimp was 2% of body weight per day, while milkfish only rely on natural food in the form of microphytobenthos available in the ponds. The primary productivity values in RLB ponds (112.17 ± 41.06 mgC m-3 day-1) and RLU (105.39 ± 29.12 mgC m-3 day-1) did not show significant differences (P<0.05). The correlation between primary productivity and Gracilaria sp. production is quite strong, which is 76% in polyculture with milkfish, and 61% in polyculture with shrimp. However, the correlation between primary productivity and milkfish and tiger prawn production is low (10%). The RLB ponds produced higher quantity of Gracilaria sp. (8,885 kg ha-1 cycle-1) compared to RLU ponds (7,203 kg ha-1 cycle-1). In polyculture with seaweed, milkfish production was 688 kg ha-1 cycle-1, and production of shrimp was 593 kg ha-1 cycle-1. High primary productivity in polyculture ponds of seaweed and milkfish resulted in a higher production of Gracilaria sp. compared to that of seaweed and shrimp polyculture ponds

    Karakteristik Mutu Rajungan (Portunnus pelagicus) Pasteurisasi dalam Kaleng di BMI, Lampung Selatan, Lampung

    Get PDF
    Pengalengan merupakan salah satu bentuk pengolahan dan pengawetan ikan modern serta memerlukan pengemasan dan sterilisasi yang cermat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan metode pengolahan kepiting kalengan yang dipasteurisasi. Metode ini dilakukan melalui observasi dan survei yang mengikuti pelaksanaan penelitian di lapangan. Pengujian mutu dilakukan pada daging rajungan rebus dingin dan daging rajungan pasteurisasi dalam kaleng meliputi mutu sensori, mikrobiologi (Angka Lempeng Total/ALT. Escherichia coli dan Salmonella) dan kimia (chloramphenicol). Analisa data dilakukan dengan deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan rajungan pasteurisasi dalam kaleng dilakukan dengan baik, tetapi tidak sesuai dengan SNI 6929.3:2010 tentang cara menangani dan mengolah daging rajungan pasteurisasi dalam kaleng. Hasil uji nilai sensori daging rajungan rebus dingin rata-rata 8, dan sensori rajungan kaleng pasteurisasi nilai rata-rata 7. Penerapan rantai dingin telah diterapkan dengan baik dengan suhu rajungan pada receiving 1,9°C, sizing 3,3°C, picking 8,6°C, sortir 7,4°C, dark room 7,7°C, final checking8,3°C, mixing and before seaming 9,1°C. Hasil pengujian mikrobiologi produk akhir ALT 4x102 koloni/g, Coliform <3 (APM/g), E. coli <3.0 (APM/g), S. aureus <3 (APM/g), Listeria Negatif, Salmonella Negatif, Vibrio Negatif. Hasil uji antibiotik rajungan bahan baku rata-rata not detected ppb, sesuai dengan standar perusahaan dan SNI. Hasil pengujian fisik berupa filth tidak melebihi standar dan bobot tuntas pada produk akhir dinyatakan tidak kurang dari standar yang telah ditetapkan SNI minimal 90%

    Karakteristik Mutu, Rendemen dan Sanitasi Pengolahan Pempek Ikan Gabus (Channa Striata) di Unit Mikro Kecil Menengah (UMKM) Hj. E.Y. Palembang

    Get PDF
    Pempek merupakan jajanan khas palembang yang kenyal  dimakan dengan “cuko”  khas Palembang. Penelitian ini melibatkan proses pembuatan pempek ikan gabus, mulai penerimaan bahan baku hingga produk akhir pempek gabus. Proses ini mencakup pengukuran suhu tiap tahapan, rendemen dan sanitasi tempat produksi. Metode penelitian melalui observasi dan survei Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) EY. Pengukuran mutu bahan baku dan sensorik pempek dilakukan dengan menggunakan scoresheet SNI 7661:2019, sementara suhu diukur dengan termometer. Hasil penelitian menunjukkan proses pengolahan pempek sudah memenuhi standar SNI, dengan nilai organoleptik rata-rata bahan baku 8,5 dan produk akhir 8. Pengukuran suhu menunjukkan: penerimaan bahan baku 5.37°C, pembuatan surimi 19.25°C, penimbangan 13.97°C, pencampuran adonan 13.43°C, pembentukan adonan 31.84°C, perebusan 84.19°C, penirisan 36.92°C, pengemasan 31.73°C, penimbangan 31.42°C, dan pembekuan -12,56°C. Nilai rendemen dari berat awal daging lumat 5,43 kg menjadi pempek sebanyak 7,73 kg, menghasilkan rendemen 142,45%. Pengamatan sanitasi menunjukkan bahwa tempat tersebut layak digunakan sebagai unit produksi

    Analisis Penerapan Sistem Rantai Dingin dan Identifikasi Mutu, Rendemen dan Produktivitas pada Pengolahan Fillet Ikan Lemadang (Coryphaena hippurus) Beku

    Get PDF
    Ikan lemadang (Coryphaena hippurus) adalah hasil samping tangkapan (by catch) yang sering tidak terlalu diperhitungkan karena jumlahnya relatif sedikit. Namun permintaan pasar terhadap ikan lemadang yang cukup tinggi, menjadi peluang untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan nilai ekonominya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem rantai dingin, mengidentifikasi mutu ikan lemadang, menganalisis rendemen dan produktivitas pada pengolahan fillet ikan lemadang (Coryphaena hippurus) beku. Pengujian mutu bahan baku dan produk akhir meliputi pengujian organoleptik (SNI 4110:2020), dan pengujian fillet ikan beku (SNI 2696:2013). Pengujian mutu produk akhir meliputi pengujian mikrobiologi meliputi pengujian  Angka Lempeng Total (ALT) dan bakteri patogen meliputi  E. coli, Salmonella, dan Vibrio cholerae Pengamatan penerapan rantai dingin dilakukan dengan mengukur suhu produk selama proses produksi. Pengamatan rendemen dilakukan pada tahap pemfilletan dan skinning/trimming,  sedangkan perhitungan produktivitas karyawan dilakukan pada tahap  skinning dan trimming. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan rantai dingin pada produk sudah diterapkan dengan baik, dimana ikan diolah dalam kondisi beku (suhu berkisan antara - 15,2°C sampai -21,3 °C). Nilai organoleptik bahan baku dan produk akhir rata-rata 8. Uji mikrobiologi menunjukkan bahwa kandungan ALT fillet lemadang beku yaitu 2,2x103 kol/g, E. coli <1,8 APM/g, Salmonella dan V. chlorea negatif. Rendemen rata-rata pada tahap pemfilletan, skinning/trimming mencapai 66,05% dan 42,76%.  Produktivitas tenaga kerja pada tahap skinning/trimming mencapai 90,37 kg/jam/orang

    SUPLEMENTASI PIGMEN KAROTENOID DAN ANTOSIANIN MELALUI COATING PAKAN TERHADAP INTENSITAS WARNA DAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN PLATY PEDANG (Xiphophorus helleri)

    Get PDF
    Ikan platy pedang (Xiphophorus helleri) merupakan salah satu jenis ikan hias yang berasal dari Sungai Amazon dan kini menjadi sangat populer di kalangan penggemar akuarium. Warna tubuh ikan hias dipengaruhi oleh keberadaan sel pigmen atau kromatofor yang terletak pada lapisan dermis sisik, baik di bagian luar maupun bawah sisik. Peningkatan kualitas warna ikan hias dapat dilakukan melalui pemberian pakan yang diperkaya dengan sumber pigmen alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian berbagai jenis ekstrak pigmen alami terhadap intensitas warna dan kinerja pertumbuhan ikan platy pedang. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, yang terdiri atas lima perlakuan: P1 (pakan dengan 15% ekstrak bunga telang), P2 (15% ekstrak kulit sawit), P3 (15% ekstrak ubi jalar kuning), P4 (15% ekstrak cangkang udang), dan P5 (kontrol tanpa ekstrak), masing-masing dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 menghasilkan peningkatan intensitas warna tertinggi sebesar 26,32%, diikuti oleh P1 (21,05%), P2 dan P4 (masing-masing 20%), serta P5 (15,79%). Pertumbuhan terbaik juga diperoleh pada perlakuan P3, sementara tingkat kelangsungan hidup tertinggi (89%) dicapai pada P2, dibandingkan dengan kelompok kontrol (72%). Meskipun ekstrak ubi jalar kuning memberikan hasil terbaik dalam peningkatan warna, analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perbedaan jenis pigmen yang diberikan tidak berpengaruh signifikan terhadap pertambahan berat maupun panjang tubuh ikan platy pedang

    Kajian Historis Industri Kapal Nelayan Desa Teluk, Pandeglang, Banten 1998-2021

    Get PDF
    Sebagai wilayah pesisir yang berbatasan dengan Selat Sunda, Desa Teluk menjadi tuan rumah industri pembuatan perahu nelayan yang berperan penting dalam masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evolusi industri pembuatan perahu nelayan di Desa Teluk antara tahun 1998 hingga 2021 serta dampak sosial ekonominya terhadap warga desa. Penelitian ini mengandalkan data riwayat lisan yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga belas peserta dari Januari 2023 hingga Januari 2024. Investigasi ini membahas kesenjangan dalam dokumentasi dan studi komunitas nelayan yang lebih luas dan sektor manufaktur kapal penangkap ikan tertentu. Pertumbuhan industri perahu nelayan di Desa Teluk dipengaruhi oleh para pendatang dari pantai utara Jawa, termasuk daerah seperti Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Brebes, dan Tegal, yang mulai berdatangan pada tahun 1960-an. Beberapa faktor yang mendorong ekspansi ini: Keputusan Presiden No. 39 tahun 1980, yang melarang pukat dan mempromosikan kapal bermotor dengan dukungan pemerintah untuk mesin; pemulihan ekonomi setelah krisis keuangan 1998, yang memungkinkan nelayan untuk berinvestasi di kapal yang lebih besar; dan distribusi 30 perahu GT ke kelompok nelayan pada tahun 2014, mendorong peningkatan lebih lanjut. Industri ini telah meningkatkan ekonomi lokal dengan menciptakan lapangan kerja untuk membangun dan memperbaiki kapal, menjadikannya penting bagi pembangunan masyarakat. Title: Historical Study of Fishing Boat Industry in Teluk Village, Pandeglang, Banten 1998-2021As a coastal region bordering the Sunda Strait, Teluk Village hosts a fishing boat manufacturing industry that plays a significant role in the local community. This study aims to analyze the evolution of the fishing boat manufacturing industry in Teluk Village between 1998 and 2021 and its socio-economic impacts on the village's residents. The research relies on oral history data gathered through in-depth interviews with thirteen participants from January 2023 to January 2024. This investigation addresses a gap in the documentation and study of the broader fishing community and the specific fishing boat manufacturing sector. The growth of the fishing boat industry in Teluk Village was influenced by migrants from Java's northern coast, including areas like Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Brebes, and Tegal, who began arriving in the 1960s. Several factors drove this expansion: Presidential Decree No. 39 of 1980, which banned trawling and promoted motorized vessels with government support for engines; economic recovery after the 1998 financial crisis, which enabled fishermen to invest in larger boats; and the distribution of 30 GT boats to fishing groups in 2014, encouraging further upgrades. This industry has boosted the local economy by creating jobs for building and repairing boats, making it essential to the community's development

    Compliance Evaluation of The GMP and SSOP Implementation of Frozen Tuna Loin Processing in PT. XYZ, Bitung

    Get PDF
    The implementation of basic feasibility programs such as Good Manufacturing Practices (GMP) and Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) must be carried out properly to maintain and ensure the feasibility and food safety of processed fishery products in the fisheries industry sector as one of the main components of the Indonesian economy. Bitung City as the center of fisheries industry in Indonesia has a variety of Fish Processing Units (UPI) that produce various processed products, such as frozen tuna loin as a primer commodity. This research, which was conducted from February to May 2023 through direct observation of the implementation of GMP and SSOP, aims to assess the suitability of GMP and SSOP implementation in the frozen tuna loin production process. Qualitative, quantitative, and descriptive comparative analysis were conducted based on the Regulation number 75/M-IND/PER/7/2010 from the Minister of Industry for the analysis of GMP implementation and the Regulation number PER.19/MEN/2010 from the Minister of Marine and Fisheries Affairs on SSOP conformity. The results obtained during the study showed that the percentage of GMP implementation conformity was 83% of the 200 items assessed. Meanwhile, of the 28 SSOP items that have been applied to frozen tuna loin processing, the suitability of the application reached 78.57% and is running well, although there are some minor errors. Compliance evaluation needs to be carried out in the form of improvements to 34 non-conformities in GMP and 6 improvements in SSOP implementation to improve the safety of frozen tuna loin products

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇