eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    FILOGENETIK IKAN SUMATRA (Puntius tetrazona) ALAM DAN BUDIDAYA BERDASARKAN GEN COI

    Get PDF
    Ikan sumatra (Puntius tetrazona) memiliki beberapa varietas, meliputi  tiger barb, hijau, albino, dan balon. Namun, belum diketahui karaker genetiknya menggunakan DNA barcoding terhadap spesies asal perairan di Sumatra Selatan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase kemiripan sekuen gen cytochrome oxidase c subunit I (COI) DNA mitokondria, jarak genetik dan filogenetik ikan sumatra alam serta budidaya. Penelitian barcoding DNA pada ikan sumatra dilakukan dengan beberapa tahap terdiri atas isolasi DNA, perbanyakan DNA berdasarkan polymerase chain reaction (PCR), elektroforesis, dan sekuensing gen COI pada mtDNA. Ikan sumatra dari alam berasal dari Sungai Lematang (n=2), Sungai Musi (n=2), dan dari budidaya komersial (n=7) dikoleksi di wilayah Palembang. Produk gen COI mtDNA berhasil diperoleh menggunakan metode PCR dengan suhu penempelan primer 51℃ selama 30 detik dalam 35 siklus. Sekuensing gen COI menghasilkan panjang nukleotida 604 bp. BLAST-N menunjukkan ikan sumatra dari alam (Sungai Lematang dan Sungai Musi) memiliki persentase kemiripan lebih kecil (94,56-95,16%) dibandingkan dari budidaya (99,55-100%) terhadap P. tetrazona yang diperoleh dari pusat data Genbank. Konstruksi filogenetik terbentuk dua subcluster yang terpisah antara ikan sumatra alam dan budidaya dengan jarak genetik 0,046 ± 0,00, menunjukkan perbedaan genetik antara kedua populasi.Sumatra barb (Puntius tetrazona) had several strains, including tiger barb, green tiger barb, albino tiger barb, and balloon tiger barb. However, its genetic characteristics are not yet known using DNA barcoding in species from waters in South Sumatra. This study aimed to analyse similarity percentage, genetic distance, and phylogenetic construction of wild and cultured sumatra barb based on the sequence of cytochrome c oxidase subunit I (COI) gene on the mitochondrial DNA. The methods conducted in barcoding DNA were performed with several steps consisting of DNA isolations, DNA amplification based on polymerase chain reaction (PCR), electrophoresis, and sequencing of COI of mtDNA. The wild sumatra barb were obtained from Lematang River (n=2), Musi River (n=2), and those from commercial fish farming (n=7) were collected in Palembang. The mtDNA COI gene were acquired from PCR with an annealing temperature of 51℃ for 30 seconds in 35 cycles. The COI gene of sumatra barb had a nucleotide length of 604 bp. BLAST-N indicated that the wild sumatra barb (Lematang and Musi Rivers) had a lower similarity (94.56-95.16%) than the cultured samples (99.55-100%) to P. tetrazona obtained from Genbank database. The phylogenetic construction formed two separated subclusters between the wild and cultured sumatra barb with a genetic distance of 0.046 ± 0.001 indicated a genetic difference between two populations

    PEMANFAATAN KOMBINASI PREBIOTIK DAN PROBIOTIK ASAL RAWA UNTUK MENINGKATKAN KELANGSUNGAN HIDUP, PERTUMBUHAN, DAN STATUS KESEHATAN IKAN SELINCAH (Belontia hasselti)

    Get PDF
    Ikan selincah (Belontia hasselti) merupakan salah satu komoditas yang memiliki potensi untuk dibudidayakan, namun terdapat beberapa tantangan seperti kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang masih rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu menggunakan probiotik rawa berupa Bacillus sp. dan Streptomyces sp. yang dikombinasikan dengan prebiotik.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis kombinasi prebiotik dan probiotik asal rawa yang tepat untuk meningkatkan kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan status kesehatan ikan selincah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan, dengan jumlah probiotik yang sama pada setiap perlakuan yaitu sebanyak 5 mL kg-1 pakan dan jumlah prebiotik yang berbeda yaitu P0 tanpa prebiotik, P1 1%, P2 2%, dan P3 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis prebiotik yang terbaik saat dikombinasikan dengan probiotik asal rawa adalah 3% (P3) yang menghasilkan kelangsungan hidup sebesar 96% sebelum infeksi dan 91,33% setelah diinfeksi  dengan bakteri Aeromonas hydrophila, total eritrosit sebesar 1,08-2,57 x 106 sel mm-3, total leukosit sebesar 3,39-6,44 x 104 sel mm-3, total bakteri di usus sebesar 0,59-7,38 x 108 CFU mL-1, pertumbuhan bobot 4,15 g, dan pertumbuhan panjang sebesar 1,03 cm. Kombinasi probiotik rawa dan 3% prebiotik ubi jalar, dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan performa kesehatan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan selincah.Malay Combtail (Belontia hasselti) is a commodity that has the potential to be cultivated, but there are several challenges such as survival and growth which are still low. Efforts that can be made to overcome this problem are using swamp probiotics in the form of Bacillus sp. and Streptomyces sp. combined with prebiotic. The aim of this study was to determine the correct combination dose of prebiotic and probiotics from swamps to improve the survival, growth and health status of Malay combtail. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and three replications, with the same amount of probiotics in each treatment, namely 5 mL kg-1 feed and different amounts of prebiotic, namely P0 without prebiotics, P1 1%, P2 2 %, and P3 3%. The results showed that the best dose of prebiotics when combined with swamp probiotics was 3% (P3) which resulted in survival of 96% before infection and 91.33% after infection with Aeromonas hydrophila bacteria, total erythrocytes of 1.08-2,57 x 106 cells mm-3, total leukocytes of 3.39-6.44 x 104 cells mm-3, total bacteria in the intestine of 0.59-7.38 x 108 CFU mL-1, weight gain of 4.15 g, and length gain of 1.03 cm. The combination of swamp probiotics and 3% sweet potato prebiotic can be used to improve the health performance, growth and survival of Malay combtail

    BACK MATTER

    No full text

    Back Matter April 2024

    No full text
    Back Matter April 202

    PENDARATAN IKAN PARI (BATOIDEA) PADA MUSIM BARAT DI PPI UJUNG BAROH, ACEH BARAT

    Get PDF
    Penangkapan dan Tingkat reproduksi yang rendah merupakan ancaman terbesar bagi populasi hiu dan pari (selanjutnya disebut sebagai elasmobranch), hampir sepertiga jenis dalam status terancam. Populasi pari mengalami tekanan yang lebih tinggi dibanding hiu, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Meskipun begitu, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pendaratan hiu dan pari yang dominan bagin ditingkat global maupun regional. Kondisi tersebut dapat dicegah dengan pengelolaan perikanan untuk menjamin berkelanjutan populasi pari. Salah satu informasi yang diperlukan adalah pemetaan penangkapan dan musim penangkapan sebagai indikasi habitat kritis pari. Tujuan penelitian adalah menyediakan informasi jenis, jumlah, ukuran dan sebaran daerah penangkapan pari saat musim barat. Penelitian ini dilaksanakan bulan Desember 2022 hingga Februari 2023 di PPI Ujong Baroh, Aceh Barat. Informasi dikumpulkan dengan survei onboard perikanan jaring insang tetap dan pukat hela, enumerasi di lokasi pendaratan dan pemetaan sebaran daerah penangkapan. Sebanyak 2.232 individual pari didaratkan selama periode studi. Pendaratan didominasi 10 jenis yakni Maculabatis macrura (91,44%), Neotrygon caeruleopunctata (2,11%), Taeniurops meyeni (1,97%), Gymnura zonura (1,88%), Pateobatis uarnacoides (0,94%), Himantura undulata (0,63%), Rhynchobatus australiae (0,45%), Aetomylaenus nichofii (0,45%), Himantura leoparda australiae (0,09%) dan Mobula kuhlii australiae (0,04%). Pari yang didaratkan umumnya belum matang gonad 94,08%. Daerah penangkapan pari umumnya berjarak 2.16 mil  atau nmil dari PPI Ujung Baroh

    Mekanisme dan Kunci Keberhasilan Pengelolaan Kolaborasi Ekowisata Bahari di Kawasan Konservasi Raja Ampat

    Get PDF
    Tantangan pengembangan pariwisata di kawasan konservasi muncul ketika kepentingan pembangunan ekonomi tidak selaras dengan pembangunan ekologi. Raja Ampat memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Di sisi lain, keanekaragaman hayati tersebut menjadi potensi wisata yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menetapkan Kawasan Perairan Raja Ampat sebagai zona semiintensif, yakni kawasan yang dirancang untuk menerima kunjungan wisatawan dalam skala kecil dengan aktivitas wisata yang terbatas. Kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam pemanfaatan potensi wisata diperlukan untuk menghindari berbagai konflik kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan mekanisme dan hubungan dinamis yang kompleks antarpemangku kepentingan dan mengungkapkan kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di Kampung Wisata Arborek, Yenbuba dan Sawinggrai Kabupaten Raja Ampat pada bulan Oktober 2020. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif dan focus group discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pengelolaan kolaborasi dilakukan melalui sinergi peran antara pemerintah, masyarakat, LSM, akademisi, dan swasta mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dengan tipe konsultatif. Tipe konsultatif ini ditandai dengan adanya mekanisme dialog antara pemerintah dan masyarakat, tetapi pengambilan keputusan masih dilakukan oleh pemerintah. Kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi meliputi (1) koordinasi antarpemangku kepentingan; (2) keterlibatan masyarakat lokal; (3) kesadaran dan komitmen bersama; (4) aturan pengelolaan disepakati bersama; (5) pembentukan kebijakan sesuai dengan kondisi lokal; (6) adanya pembagian kekuasaan dan tanggung jawab; (7) adanya mekanisme penyelesaian konflik; dan (8) berlakunya sanksi. Title: Mechanism and Keys to Successful Collaboration Management of Marine Ecotourism in The Raja Ampat Conservation Area   The challenge of developing tourism in conservation area arises when the interests of economic development are not aligned with ecological development. Raja Ampat has a biodiversity that needs to be protected. On the other hand, this biodiversity is a tourism potential utilized for economic interests. The Raja Ampat Regency Government has designated the Raja Ampat Waters Area as a semi-intensive zone, namely an area designed to receive tourist visits on a smaller scale with limited tourist activities. Collaboration among stakeholders in utilizing tourism potential is required to avoid various conflicts of interest. This research aims to elucidated complex dynamic mechanisms and relationships between stakeholders and revealed the keys to successful collaborative ecotourism management in conservation areas. This research used a qualitative approach with a case study method. Research was conducted in Arborek, Yenbuba, and Sawinggrai Tourism Villages, Raja Ampat Regency in October 2020. Data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and focus group discussion. The study results showed that the mechanism collaborative management was carried out through the synergy of multi-party, namely government, communities, NGOs, academics, and the private sector, by forming a collaborative management strategy from planning to monitoring with a consultative type. This consultative type is characterized by the existence of a dialogue mechanism between the government and the community, but decision making is still carried out by the government. The keys to successful collaborative management of ecotourism in conservation areas include (1) coordination between stakeholders; (2) involvement of local communities; (3) awareness and commitment among stakeholders; (4) mutually agreed management rules; (5) local based policies and regulations; (6) a division of power and responsibility; (7) a conflict resolution mechanism; and (8) sanctions apply

    ANALISIS PENGELOLAAN PELABUHAN PERIKANAN UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI IKAN DI PPI KALIANDA LAMPUNG SELATAN

    No full text
    Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kalianda Lampung Selatan memiliki permasalahan dalam hal pengelolaan yaitu fasilitas Pelabuhan Perikanan yang belum dikelola dengan baik, keamanan Pelabuhan yang kurang dimana masih adanya oknum yang meminta secara paksa hasil tangkapan Ikan kepada Nelayan. Hal ini berimbas pada produksi Ikan. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis aktivitas dan fasilitas di PPI Kalianda serta menganalisis strategi yang dapat digunakan untuk peningkatan pengelolaan guna meningkatkan produksi Ikan di PPI Kalianda Lampung Selatan. Pengelolaan Pelabuhan Perikanan ini juga dilakukan untuk membantu perekonomian masyarakat terutama nelayan melalui peningkatan jumlah produksi Ikan. Penelitian ini dilakukan dengan Metode deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa PPI Kalianda belum memenuhi dalam standar operasional karena PPI Kalianda hanya menghasilkan tangkapan dan memasarkan Ikan rata-rata dibawah 1 ton dalam setahun. Sedangkan, dari hasil analisis Strenght Weaknees Opportunity Threat (SWOT) didapatkan hasil penerapan strategi S-O (Strength-Opportunity) yaitu penerapannya menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan suatu peluang dengan mengoptimalkan waktu penangkapan dan pelelangan agar dapat menjual ikan dengan harga terjangkau lebih banyak sehingga produksi ikan meningkat

    POTENSI EKOWISATA WILAYAH PESISIR DESA PARANGTRITIS, KABUPATEN BANTUL

    No full text
    Wilayah pesisir Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi ekowisata yang besar. Konsep ekowisata penting untuk untuk mempertahankan konservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekowisata di wilayah pesisir Desa Parangtritis berdasarkan nilai Parameter Fisik (PF) dan nilai Parameter Kelembagaan, Sosial-Budaya, Ekonomi, dan Lingkungan (PKSEL). Penentuan lokasi titik pengamatan adalah dengan mengambil sepuluh objek wisata yang tersebar di sepanjang pesisir Desa Parangtritis memanfaatkan citra satelit dari Google Earth. Pada lokasi tersebut dilakukan pengumpulan data melalui observasi langsung secara in situ, wawancara, dan kuesioner. Data dianalisis dengan merata-ratakan PF dan PKSEL untuk mendapatkan nilai akhir potensi wisata. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan hasil bahwa mayoritas 70% dari sepuluh objek wisata yang diamati menunjukkan memiliki potensi tinggi untuk terus dikembangkan. Hal ini dikarenakan tempat-tempat wisata tersebut sudah didukung oleh aspek-aspek dari PF dan PKSEL yang telah lengkap dan baik. Namun, sebanyak 30% masih dalam status potensi sedang dan tidak menutup kemungkinan akan meningkat potensinya jika aspek-aspek pada seluruh parameter terus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Secara umum, Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul dan masyarakat setempat, sudah cukup berhasil dalam mendukung pengembangan ekowisata khususnya di wilayah Desa Parangtritis.The coastal area of Parangtritis Village, Kretek District, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta, holds significant ecotourism potential. The ecotourism concept is crucial for environmental conservation and improving local community welfare. This study aims to analyze the ecotourism potential in Parangtritis Village's coastal area based on Physical Parameters (PF) and Institutional, Socio-Cultural, Economic, and Environmental Parameters (PKSEL). Observation points were determined by selecting ten tourist sites along the Parangtritis coast using Google Earth satellite imagery. Data collection involved in situ observations, interviews, and questionnaires. The data were analyzed by averaging the PF and PKSEL values to obtain the final tourism potential score. The analysis revealed that 70% of the ten observed tourist sites show high development potential, supported by comprehensive and well-maintained PF and PKSEL aspects. However, 30% have moderate potential, which could improve if all parameters' aspects are enhanced in quality and quantity. Overall, the Bantul Regency Government and local community have successfully supported ecotourism development, particularly in Parangtritis Village

    DESAIN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE CARLSON SURGE DEVICE (CSD) UNTUK BUDIDAYA KARANG HIAS

    Get PDF
    As the interest in marine aquariums increases, so does the demand for ornamental corals. One of the parameters needed for coral growth is water flow. The Carlson Surge Device (CSD) is a tool that can generate water currents similar to natural sea currents found in coral reefs. This research aims to create a CSD that is easy and inexpensive to produce, so it can be widely applied in ornamental coral cultivation tanks by the community. By optimizing the cultivation of ornamental corals, it is hoped that the damage to coral reef ecosystems caused by illegal coral harvesting in nature can be minimized. This research uses an experimental method by testing PVC pipe diameters of 1 inch, 1.5 inches, 2 inches, and 2.5 inches. The CSD design created has reservoir dimensions with a diameter of 36 cm and a height of 35 cm, and uses PVC pipes with an inner pipe length of 20 cm and an outer pipe length of 44 cm. The results of this study show that the use of 2.5-inch diameter PVC pipes can produce a water flow rate of 0.28 m/s, which is suitable for coral growth, while the water flow produced by other pipe diameters is still too strong. These results indicate that the CSD prototype that has been made is suitable for application in ornamental coral cultivation tanks

    SISTEM PENGELOLAAN AKUAKULTUR BERKELANJUTAN BERBASIS SMART FISHERIES VILLAGE (SFV)

    Get PDF
    Keberhasilan akuakultur berkelanjutan adalah sistem pengelolaan akuakultur yang bergerak dari hulu ke hilir. Smart Fisheries Village (SFV) adalah program baru dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mempunyai konsep menyinergikan antara hasil riset dan teknologi dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) perikanan melalui pelatihan dan teaching factory untuk mewujudkan kegiatan usaha perikanan yang terhubung dari hulu ke hilir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan program SFV baik di Unit Pelaksana Teknis (UPT) maupun di Kampung ikan/Desa inovasi. Kegiatan SFV UPT dilaksanakan di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) dari bulan Juli-Desember 2022. Tahapan pelaksanaan kegiatan SFV sebagai berikut: identifikasi potensi, identifikasi dan penetapan jenis usaha, penjalinan kerjasama dengan mitra, pelaksanaan usaha kelautan dan perikanan, peningkatan kapasitas tenaga pelatihan dan penyuluhan, serta melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi, monitoring dan evaluasi. Hasil identifikasi potensi, BRPI mempunyai sumber daya fisik atau sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Penilaian mandiri menunjukkan bahwa aspek smart governance dan smart people mencapai nilai 100 diikuti smart economy dan mobility masing-masing sebesar 80. Kegiatan SFV berhasil menjalin mitra kerjasama dengan berbagai pihak dan tahun 2022 BRPI berhasil berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem SFV dengan mengadopsi skema inti-plasma. SFV UPT BRPI telah berhasil menyinergikan antara hasil riset dan teknologi dengan peningkatan SDM perikanan melalui pelatihan dan teaching factory serta mewujudkan usaha perikanan yang terhubung dari hulu ke hilir sehingga harapan terciptanya perikanan yang berkelanjutan dapat terwujud. Adapun konsep pola pengembangan yang diterapkan di BRPI adalah melalui skema inti-plasma, yaitu BRPI sebagai inti sedangkan kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) mitra yang dibina oleh penyuluh perikanan menjadi plasma

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇