eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Cara Cepat (Panduan) Praktik Dasar Pengujian Mikrobiologi
Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok hidup manusia, karena dari makanan manusia mendapatkan zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Zat gizi dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan, mempertahankan dan memperbaiki jaringan tubuh, mengatur proses dalam tubuh, dan menyediakan energi bagi fungsi tubuh. Bahan makanan yang dibutuhkan tubuh adalah bahan makanan yang sehat dan aman. Keamanan makanan atau pangan menurut Undang-undang RI No. 7 tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat. Aman yang dimaksud disini mencakup bebas dari pencemaran biologis, mikrobiologis, kimia, dan logam berat. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia. Mikroorganisme dalam industri pangan dapat menguntungkan, tetapi dapat pula merugikan. Salah satu penyebab kejadian keracunan pangan adalah adanya cemaran biologis mikroba. Penyakit ini menjadi penyebab kematian terbesar pada anak-anak dan dewasa. Penyakit infeksi atau penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri merupakan penyakit yang banyak ditemukan dalam masyarakat.Analisis mikrobiologi di industri pangan sangat penting sebagai jaminan keamanan dari pangan yang diproduksi. Analisis mikrobiologi diharapkan dapat membantu industri dalam meningkatkan mutu dan keamanan pangan, baik selama proses maupun sampai tahap akhir produksi. Selain itu, analisis mikrobiologi diperlukan pula untuk kontrol kualitas produk pangan yang telah beredar di pasaran
Identifikasi Potensi Wilayah dan Usaha Perikanan di Kampung Nelayan Desa Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
Kampung Nelayan Desa Pasir merupakan salah satu sentra aktivitas perikanan di Kabupaten Kebumen. Identifikasi potensi wilayah perikanan dilakukan untuk mengetahui masalah dan kebutuhan pelaku usaha perikanan sebagai acuan penentuan program kegiatan penyuluhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi wilayah perikanan meliputi sistem produksi perikanan, sistem usaha dan bisnis perikanan serta sistem penyuluhan perikanan di Kampung Nelayan Desa Pasir. Metode penelitian dilakukan melalui analisis deskriptif berdasarkan data hasil wawancara dan observasi dengan masyarakat menggunakan borang dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan Kampung Nelayan Desa Pasir memiliki potensi perikanan yang cukup besar karena kondisi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya pendukung yang saling bersinergi dalam menunjang kegiatan perikanan
Identifikasi Permasalahan Usaha Pendederan Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus) di UPTD Perikanan Air Payau dan Laut Wilayah Utara Karawang, Jawa Barat
Ikan nila salin (Oreochromis niloticus) merupakan komoditi ikan yang memiliki keunggulan pertumbuhan yang relatif cepat, adaptif terhadap lingkungan, dan rasa dagingnya lebih gurih, manis dan tidak ada rasa bau lumpur serta secara ekonomis cukup menjanjikan karena relatif mudah dibudidayakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alur proses usaha pendederan ikan nila salin dan mengidentifikasi setiap permasalahan pada alur proses usaha pendederan ikan nila salin serta merekomendasikan solusi alternatif yang dapat dilakukan untuk memperbaiki permasalahan yang muncul saat pemeliharaan usaha pendederan ikan nila salin di UPTD PAPLWU. Identifikasi permasalahan dalam penelitian ini disusun berdasarkan pengamatan pada tahapan kegiatan praproduksi, produksi hingga pasca produksi dengan penentuan prioritas masalah menggunakan diagram pareto yang kemudian dilakukan analisis akar permasalahan dengan menggunakan Fishbone Diagram dan Root Cause Analysis (RCA). Penelitian ini memberikan hasil bahwa permasalahan usaha pendederan ikan nila salin pada tahap produksi ialah jumlah tebar larva ikan nila tidak dilakukan berdasarkan hitungan SNI. Kemudian pada tahap praproduksi, pencegahan hama dan penyakit tidak dilakukan secara berkelanjutan. Kemudian pada tahap pasca produksi ialah proses panen tidak dilakukan secara berhati-hati. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa rekomendasi solusi yang dapat dilakukan diantaranya perlu memberikan pembekalan khusus kepada teknisi mengenai tebar benih yang baik berstandar SNI, mengadakan pelatihan bagi teknisi mengenai manajeman produksi dan pasca produksi yang baik serta perlu dibuatkan SOP kegiatan budidaya mulai dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi
Mutu dan Pengolahan Produk Keong Mas dari Ikan Malong (Muraenesox cinerus) di Kota Tegal, Jawa Tengah: Studi Kasus pada UKM Ranafra Food
Produk-produk olahan ikan berbasis surimi dan lumatan daging sangat digemari dan memiliki diversifikasi yang tinggi. Diversifikasi meliputi jenis ikan sebagai bahan baku dan jenis produk yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis mutu bahan baku daging lumatan, proses pengolahan, analisis mutu produk akhir dan analisis finansial. Mutu bahan baku dan produk akhir di uji komposisi proksimat sesuai dengan SNI dan dilakukan di laboratorium Politeknik AUP. Proses pengolahan produk Keong Mas meliputi penerimaan bahan baku, pelelehan (thawing), penggilingan kasar, pengadonan, pencetakan, pengukusan, pendinginan, pengemasan dan pelabelan, dan penyimpanan. Mutu bahan baku dengan nilai organoleptik pada rentang 8 hingga 9 sedangkan kompoisi proksimat pada kadar air, protein, abu, dan lemak masing-masing 66,56±0,1%, 6,01±0,1%, 2,24±0,1%, dan 0,43±0,2%. Selanjutnya, Mutu sensori produk akhir produk Keong Mas mencapai 8 dan kompoisi proksimat yaitu kadar air 66,56±0,1%, kadar abu 2,24±0,1%, kadar lemak 0,43±0,2%, kadar protein 6,01±0,1% dan karbohidrat kasar sebesar 24,76±0,4%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengolahan produk Keong Mas dengan menggunakan ikan Malong menghasilkan produk yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sehingga termasuk produk makanan bergizi
Proses Pengolahan Fillet Ikan Kerapu (Epinephelus spp.) Beku di PT. Sukses Lautan Indonesia, Probolinggo – Jawa Timur
Indonesia telah memiliki kesadaran untuk mengkonsumsi ikan sebagai sumber untuk mendapatkan protein selain dari hasil peternakan. Pengolahan fillet ikan kerapu (Epinepheluss spp.) beku merupakan salah satu upaya meningkatkan jaminan mutu dan keamanan pangan produk. Tujuan penelitian untuk mengetahui alur proses, mutu, penerapan rantai dingin, rendemen, produktivitas, penerapan kelayakan dasar dan pengelolaan limbah. Metode pengambilan data yaitu data primer dan data sekunder. Hasil penelitian meliputi pengolahan fillet ikan kerapu beku terdapat 25 tahapan proses. Mutu uji organoleptik bahan baku ikan segar dan produk akhir fillet beku memenuhi standar yaitu 8. Nilai uji mikrobiologi produk akhir fillet kerapu telah memenuhi standar yaitu ALT 8,3 X 104 koloni/g, E.coli <3 APM/g, dan Salmonella adalah negatif. Penerapan rantai dingin tercatat suhu ikan saat pengolahan antara 3,42 °C, dan suhu produk fillet beku <-18 °C. Hasil perhitungan rendemen telah sesuai dengan standar perusahaan yaitu tahap pemfilletan 43-47% dan rendemen perapihan 29-35%. Hasil perhitungan produktivitas telah memenuhi standar yang ditetapkan. Terdapat satu klausul yang mendapatkan nilai mayor yaitu lantai retak pada ruang proses, namun masih mendapatkan predikat sangat baik (A) dan memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah dimana limbah padat ditangani oleh pihak internal dan limbah cair di proses di IPAL perusahaan
Penerapan GMP dan SSOP Proses Pasteurisasi Rajungan (Portunnus pelagicus) Dalam Kaleng di PT. PSI, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung
Pengalengan merupakan salah satu bentuk pengolahan dan pengawetan ikan secara modern yang dikemas secara hermetis dan disterilkan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proses pengalengan rajungan pasteurisasi dalam kaleng. Metode dilakukan dengan observasi dan survey, mengikuti langsung seluruh proses pengalengan, mulai penerimaan bahan baku hingga pemuatan. Pengujian mutu dilakukan dengan organoleptik dan sensori, pengukuran suhu serta pengamatan penerapan GMP dan SSOP. Analisa data dilakukan deskriptif dan komparatif. Analisa data dilakukan secara deskriptif-komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur proses pengolahan ranjungan terdiri dari 14 tahapan, masih sesuai dengan SNI, yaitu Penerimaan bahan baku, Sortasi, Dark room checking, Metal detecting, Pencampuran (Mixing), Pengisian (Filling), Penimbangan (Weighing), Penutupan kaleng (Seaming), Pengkodena (Coding), Pasteurisasi, Pendinginana (Chilling), Pengepakan dan Pelabelan, Penyimpanan dingin dan Pemuatan (Stuffing). Hasil uji nilai sensori daging rajungan rebus dingin rata-rata 8, dan sensori rajungan kaleng pasteurisasi nilai rata-rata 8,08. Bobot tuntas untuk Jumbo Black can 97,41 %± 0,19, Lump Black Can 97,79 %± 0,35, Lump Seawings 97, %± 0,21, Claw Meat 97,85% ± 0,38 dan Cocktail 98,69% ± 0,13. Penerapan suhu telah dilakukan dengan baik pada suhu penerimaan bahan baku 1,53°C ±0,25, sortasi 3,28°C ±0,16, Darkroom checking 3,36°C ±0,18, pencampuran 6,35°C ±0,25, pengisian dan penimbangan 6,25°C ±0,71 dan penutupan kaleng 10,61°C ±0,23. Pengamatan GMP meliputi penerimaan bahan baku, penanganan dan pengolahan, persyaratan bahan pembantu dan bahan kimia, pengemasan, penyimpanan dan stuffing. Penerapan SSOP meliputi : keamanan air dan es, peralatan dan pakaian kerja dan pencegahan kontaminasi silang, toilet dan tempat cuci tangan, bahan kimia dan saniter, syarat label dan penyimpanan, kesehatan karyawan dan pengendalian pest. Kesimpulan yaitu penerapan GMP dan SSOP telah di lakukan dengan baik oleh perusahaan dan dapat mengurangi adanyan kontaminasi didalam proses produksi
KLASIFIKASI TINGKAT KEMATANGAN GONAD DAN PEMIJAHAN IKAN TONGKOL KOMO BETINA (EUTHYNNUS AFFINIS (CANTOR, 1849)) YANG DIDARATKAN DI KEDONGANAN- BALI
Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia di Samudera Hindia dengan kode WPP-RI 572 dan 573 kaya akan potensi sumber daya ikan yang didominasi oleh ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis (Cantor, 1849). Pemanfaatan ikan Tongkol Komo telah melampaui batas optimal dengan tekanan penangkapan yang tinggi. Biologi reproduksi Tongkol Komo perlu diketahui untuk memastikan keberadaannya di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah Tahap Kematangan Gonad (TKG) dan pemijahan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari, April, Juni hingga Desember 2020. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kedonganan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive stratified sampling. Analisis histologi di Laboratorium Penelitian Perikanan Tuna, Denpasar. Hasil yang diperoleh bahwa pola pertumbuhan tuna komo didominasi oleh pola alometrik positif dengan sebaran panjang 20-65cmFL. Ukuran pertama kali matang gonad (Lm) untuk betina 44,07 cmFL. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada klasifikasi makroskopis dan mikroskopis perkembangan gonad didominasi oleh ikan yang belum matang gonad. Musim pemijahan pada bulan Agustus dan Desember
FISHING GROUND DAN POLA DISTRIBUSI SPASIAL TEMPORAL IKAN PELAGIS KECIL DI JMF TRIANGLE
Potensi perikanan pelagis di JMF triangle (Java sea-Makassar strait-Flores sea) salah satu yang terbesar di Indonesia, untuk itu perlu didukung informasi akurat mengenai lokasi fishing ground dan pola distribusinya agar stakeholder perikanan dapat mengelola dan memanfaatkan lebih baik. Penelitian ini bertujuan memetakan fishing ground dan pola distribusi ikan pelagis kecil di JMF triangle. Data yang digunakan: 1) hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan perikanan Pekalongan, Paotere dan Batu Licin; 2) citra satelit AQUA-MODIS dan SNPP-VIIRS. Analisis klorofil-a dan SPL menggunakan ArcGis, uji korelasi dan regresi sederhana untuk mengetahui hubungan sebaran ikan pelagis kecil dengan SPL dan klorofil-a, selanjutnya dipertajam dengan teknik overlay untuk menentukan pola sebaran. Informasi disajikan dalam peta tematik spasial-temporal dan info grafis. Hasil penelitian menunjukkan tangkapan ikan pelagis kecil menurut jumlahnya adalah Layang dengan total 77.288,16 ton (54,48 %), Lemuru 32.612,77 ton (22,99 %), Banyar 25.339,36 ton (17,86 %), dan Bentong 6.619,22 ton (4,67 %). Pola distribusi pada Musim Barat menunjukkan ikan pelagis kecil tersebar dengan konsentrasi tinggi di Lumu-lumu, Matasiri dan Aura yang didominasi Layang dan Lemuru, pada Musim Peralihan I masih tersebar dengan konsentrasi tinggi di Lumu-lumu dan Aura yang didominasi Lemuru, pada Musim Timur tersebar dengan konsentrasi tinggi di Matasiri yang didominasi Layang, dan pada Musim Peralihan II masih tersebar dengan konsentrasi tinggi di Matasiri dengan dominasi Layang. Lokasi fishing ground di JMF triangle tergambar dari lokasi yang paling tinggi sebaran ikan dan yang paling dominan menghasilkan tangkapan, yaitu Matasiri, Lumu-lumu dan Aura
ALYSIS OF MICROBIAL CONTAMINATION IN RED SNAPPER (Lutjanus sp.) AS EXPORT COMMODITY IN TARAKAN CITY
Red snapper (Lutjanus sp.) is one of the most popular fish species because of its delicious taste with thick and dense meat and high nutritional content such as protein, omega 3 fatty acids, vitamins, and minerals known to be very productive for heart health, brain, bones, and endurance. Red snapper (Lutjanus sp.) as a fishery product is perishable and requires good handling to maintain the quality standards of the fish. Fish quality is an important requirement in the export process based on predetermined standards to prevent biological, chemical, and physical hazards. One of the fish quality testing processes carried out is microbiological testing by looking at the Total Plate Number (ALT) of bacteria. The calculation is carried out based on the SNI 2332:2015 (How to tet microbiology-part 3: Determination of total plate count). Testing was carried out in the laboratory of the Fish Quarantine Centre, Quality Control and Safety of Fishery Products (BKIPM) in Tarakan City. The results showed that the tested red snapper samples contained 3,3 x 103 colonies/g and were still below the maximum limit of 5x105 colonies/g. Red snapper (Lutjanus sp.) in Tarakan City is considered safe and suitable for export in accordance with SNI fresh fish quality requirements in SNI 2729: 2021 and SNI 7388:2009 on the maximum limit of microbial contamination in food
Pengaruh Penambahan Probiotik Terhadap Pertumbuhan dan Konversi Pakan pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan probiotik dengan dosis berbeda yang diaplikasikan pada pakan buatan terhadap pertumbuhan, konversi pakan, serta kelangsungan hidup ikan Nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilaksanakan selama 30 hari di Loka Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Ngrajek, Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Sebanyak 360 ekor ikan uji dengan berat awal 2,29 ± 0,18 gr dan panjang awal 4,39 ± 0,24 cm diberi pakan buatan pada masing-masing perlakuan. Dosis pakan buatan sebanyak 5%/hari ditambahkan dengan probiotik sebanyak 0 ml (perlakuan A atau kontrol), 2 ml (perlakuan B), 4 ml (perlakuan C), dan 6 ml (perlakuan D) yang diberikan selama 30 hari pemeliharaan. Perlakuan pemberian dosis probiotik 4 ml menunjukkan pengaruh yang signifikan (p < 0,05) terhadap pertumbuhan dan konversi pakan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada tingkat kelangsungan hidup di seluruh perlakuan (p > 0,05).The study aimed to evaluate the effects of probiotics in different doses applied to artificial feed on tilapia's growth, feed conversion, and survival (Oreochromis niloticus). The study was conducted 30 days, at Ngrajek Freshwater Fish Hatchery and Cultivation Workshop, Central Java. The research employed a completely randomised design (CRD) with four treatments and three replications. A total of 360 test fish, with an initial weight of 2.29 ± 0.18 g and an initial length of 4.39 ± 0.24 cm, were administered artificial food in each treatment. The dosage of artificial feed was 5% day-1 , supplemented with 0 ml of probiotics (treatment A or control), 2 ml (treatment B), 4 ml (treatment C), and 6 ml (treatment D), administered throughout a 30-day maintenance period. The 4 ml probiotic dosage demonstrated a statistically significant effect (p < 0.05) on growth and feed conversion relative to the control group. No notable variation in survival rates was seen among treatments (p > 0.05).