eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
ANALISIS KONDISI TERUMBU KARANG SEBAGAI HABITAT IKAN DI PULAU PRAMUKA – PULAU SERIBU, INDONESIA
Ekosistem terumbu karang adalah salah satu daya dukung sumberdaya yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan. Ekosistem terumbu karang memiliki fungsi ekologis diantaranya: nutrien bagi biota perairan laut, tempat pemijahan, tempat bermain dan asuhan bagi biota laut, sedangkan fungsi ekonomi sebagai habitat dari ikan karang, udang karang dan algae. Kerusakan terumbu karang umumnya diakibatkan oleh aktivitas manusia. Untuk mengetahui kerusakan terumbu karang, diperlukan pemantauan kondisi terumbu karang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi terumbu karang yang dihubungkan dengan habitat ikan di Pulau Pramuka, kepulauan Seribu. Metode yang digunakan adalah kombinasi transek yaitu Metode Point Intercept Transect dan Belt Transect. Dari hasil pengukuran dan pengamatan diketahui kondisi tutupan terumbu karang di Pulau Pramuka tergolong dalam kategori baik, bentuk koloni yang ditemukan adalah Acropora branching, Coral folliose dan Coral massive. Keragaman terumbu karang mempunyai kriteria sedang dengan jenis terumbu karang didominasi oleh spesies Acropora formosa dan Acropora aspera. Indeks keanekaragaman terumbu karang dipengaruhi tingginya distribusi spesies, keragaman terumbu karang. Keterkaitan terumbu karang dengan habitat ikan adalah untuk ikan dengan ukuran yang beragam dicirikan dengan kemiripan coral encrusting dan dead coral with algae, sedangkan untuk ikan dengan ukuran kecil dicirikan dengan kemiripan acropora digitate, coral submassive dan karang lunak
PREVALENCE OF IRIDOVIRUS AND VIRAL NERVOUS NECROSIS IN CANTANG GROUPER (Ephinephelus fuscogottatus x Ephinephelus lanceolatus)
Cantang grouper is a leading commodity, especially hatchery centers, namely East Java and Bali which is Indonesia's flagship. The growth of cantang grouper fish is hampered by one of the diseases caused Iridovirus and Viral Nervous Necrosis (VNN). These two diseases attacks the seed stage which causes high mortality, so that early detection is needed for preventive action. This study aims to detect and inventory of Iridovirus and VNN in cantang grouper. This research was carried out at BPBAP Situbondo, Irodovirus was detected using conventional PCR and VNN using rRT-PCR. Cantang grouper samples measuring 2,5-12 cm came from Situbondo and its surroundings, Bali and Lombok with a total of 23 samples. The test results showed that all samples were negative for Iridovirus, while the VNN examination showed 3 positive samples and 20 negative samples. Observation of clinical symptoms showed that the cantang grouper were in good health, swimming actively and did not show symptoms of Iridovirus and VNN infection. The prevalence of VNN infection in cantang grouper 13,04% which was included in the category of frequent infections
DETEKSI MOLEKULER VIRAL NERVOUS NECROSIS (VNN) PADA NENER IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI BULELENG, PROVINSI BALI
Berbagai penyakit baru ditemukan merebak di Indonesia menjadi kendala dalam keberlangsungan usaha budidaya perikanan, termasuk budidaya nener bandeng yang penyebarannya telah menjangkau pasar nasional hingga pasar Asia. Dampak yang dapat timbul akibat infeksi penyakit pada budidaya ikan dapat ditekan dengan penerapan praktik cara budidaya ikan yang baik (CBIB) dan biosekuriti. Analisis resiko skala laboratorium perlu dilakukan sebelum proses distribusi, untuk mendeteksi infeksi Viral Nervous Necrosis (VNN) pada nener bandeng dari hatchery di wilayah Buleleng, Bali. Data pada kajian ini di kumpulkan dari Laboratorium Pengujian Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (Balai KIPM) Denpasar selama rentang waktu 2022-2023. Metode molekuler yang digunakan untuk mendiagnosis VNN yaitu metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Metode analisis data yang digunakan yaitu penghitungan prevalensi. Berdasarkan data hasil analisis infeksi VNN, prevalensi VNN menunjukkan hasil nol atau tidak ada kasus positif nener terjangkit VNN. Sampel bandeng yang diperiksa tidak menunjukkan gejala klinis, yang mengindikasikan bahwa bandeng bukan merupakan inang spesifik penyebaran virus VNN. Prosedur biosekuriti yang dilakukan yaitu sterilisasi peralatan, sterilisasi lingkungan pemeliharaan, treatment biota, dan sterilisasi area pembenihan. Manajemen pakan dan lingkungan yang terkontrol menjamin kualitas benih yang dihasilkan berkualitas baik sehingga memenuhi standar ekspor. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nener dari hatchery di Bali aman terjangkit VNN sebagai dampak dari penerapan prosedur biosekuriti yang baik
THE IMPACT OF THE CARBONETIC FOUNDATION MANGROVE RESTORATION PROGRAMME ON THE INCOME OF COASTAL COMMUNITIES IN DOMPAK ISLAND
Dompak Island is a mangrove area that has great potential in the Tanjungpinang urban area. However, the area of mangrove land decreases every year due to excessive mangrove logging. So a mangrove restoration program was formed by the CarboEthics Foundation. Apart from having an ecological impact, it also has an economic impact on society. The aim of the research is to estimate community income before and after the mangrove restoration program on Dompak Island. This research was conducted in March-April 2024 in the Tanjung Siambang Tourism Village which is located on Dompa Island. The research uses data analysis by calculating income. The results of the research are that the average income for the restoration worker program is IDR 52,356,333. The percentage change in income is an average of 60%
Perbandingan Kelimpahan Zooplankton Berdasarkan Mesh Size di Sekitar Areal Pertambakan Kecamatan Marana Kabupaten Maros
Kajian mengenai kelimpahan zooplankton secara parsial selama ini adalah menggunakan ukuran plankton net tertentu untuk jenis zooplankton tertentu, sehingga dibutuhkan kajian secara simultan yang membandingkan antara berbagai mesh zise dalam sebuah lokasi, untuk mengetahui mesh size yang paling tepat digunakan dalam pengambilan sampel zooplankton. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan jumlah jenis dan kelimpahan zooplankton yang tersaring antar mesh size plankton net yang berbeda di areal pertambakan. Penelitian dilakukan pada musim barat yaitu bulan Maret 2023 hingga Mei 2023 bertempat di kawasan Instalasi Tambak Percobaan Marana Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP), Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Propinsi Sulawesi Selatan yang dibagi atas 6 stasiun. Pengukuran parameter lingkungan dilakukan secara in-situ dan ex-situ. Plankton net yang digunakan sebagai perlakuan yaitu 25µm, 40µm 60µm. Pengukuran kualitas air in-situ dan pengambilan sampel plankton dilakukan per dua minggu. Analisis statistik yang digunakan adalah Analisis One Way Anova, Uji lanjut Post-Hoc Test menggunakan metode Tukey untuk membandingkan rata-rata kelimpahan dan jumlah spesies antar mesh size. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah spesies yang tersaring berdasarkan mesh size plankton net yaitu plankton net size 60 µm berbeda jumlah spesies yang tersaring dengan mesh size 25µm dan 40µm, tetapi 25µm dan 40µm tidak berbeda. Rata rata kelimpahan zooplankton pada mesh size 25 µm (255 ind/l) berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kelimpahan zooplankton pada mesh size 60 µm (60 ind/l). Rata-rata kelimpahan 40 µm (106 ind/l) tidak berbeda dengan 25 µm maupun 60 µm.
Inventarisasi Keanekaragaman Biota Asosiasi Mangrove di Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove Kabupaten Simeuleu sebagai Informasi Publik
Salah satu fungsi ekologis mangrove adalah sebagai habitat berbagai biota perairan. Penelitian dilaksanakan pada Januari 2022 di Pusat Pembelajaran dan Restorasi Mangrove Kabupaten Simeulue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan dan keanekaragaman jenis biota asosiasi di Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove Kabupaten Simeulue. Data biota asosiasi dikumpulkan dengan metode sensus dengan mengidentifikasi setiap biota yang ditemukan di empat stasiun pengamatan. Parameter kondisi lingkungan yang diamati adalah jumlah sampah, jumlah penebangan, pH, suhu, salinitas, dan DO. Berdasarkan hasil identifikasi, biota asosiasi yang ditemukan di lokasi penelitian berjumlah 6 famili yang terdiri dari 6 spesies yaitu Terebralia palustris, Uca sp., Neritina gagates, Turritella duplikat, Rhizoprionodon acutus, dan Vanarus salvator. Biota asosiasi yang dominan ditemukan adalah Terebralia palustris dari kelas Gastropoda. Hasil pengamatan kualitas lingkungan ditemukan 12 bekas tebangan kayu dan 19 sampah plastik, namun dari segi kualitas perairan masih tergolong baik bagi biota perairan dan sesuai dengan parameter baku mutu lingkungan perairan laut berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004
PENGARUH PENAMBAHAN Cinnamomum burmanii DALAM PAKAN UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN JAMBAL SIAM (Pangasius hypophthalmus)
Motile Aeromonas septicemia (MAS) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila dan sering menyerang ikan jambal siam (Pangasius hypophthalmus). Kayu manis merupakan tanaman yang memiliki senyawa aktif, seperti minyak atsiri yang mengandung cinnamaldehyde dan berperan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas penambahan larutan kayu manis dalam mencegah infeksi A. hydrophila penyebab penyakit MAS pada ikan jambal siam. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL), lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah sebagai berikut: Kn (kontrol negatif), Kp (kontrol positif), dan (P1; P2; dan P3 penambahan larutan kulit kayu manis dengan dosis 15; 30; dan 45 mL kg-1 pakan). Ikan (10 ± 2 cm) dipelihara dalam akuarium berukuran 40 x 30 x 30 cm3 dengan kepadatan 10 ekor per akuarium. Pada hari ke-32 pemeliharaan, ikan diuji tantang dengan menginfeksikan A. hydrophila sebanyak 0,1 mL per ekor dengan kepadatan 108 CFU mL-1 yang dilakukan secara intramuskular. Ikan dipelihara selama 14 hari hingga hari ke-46. Parameter yang diamati adalah kadar kalsium, magnesium, dan fosfor dalam serum darah, aktivitas lisozim, tingkat kelulushidupan, dan relative percent survival 91,07 ±7,78%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan larutan kayu manis yang terbaik adalah dosis 30 mL kg-1 pakan yang ditandai dengan angka kelulushidupan pascauji tantang (93,33%) dan profil biokimia darah (kadar kalsium 9,33 mg dL-1, magnesium 3,10 mg dL-1, dan fosfor 3,93 mg dL-1) serta aktivitas lisozim (285 unit mL-1) tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan larutan kulit kayu manis pada pakan efektif untuk mencegah penyakit MAS pada ikan jambal siam.Motile Aeromonas septicemia (MAS) is a disease caused by Aeromonas hydrophila and often attacks Siamese catfish (Pangasius hypophthalmus). Cinnamon is a plant that has active compounds, such as essential oil which contains cinnamaldehyde and acts as an antibacterial. The aim of this study was to determine the effectiveness of cinnamon solution addition in preventing A. hydrophila infection which causes MAS disease in Siamese catfish. The study used an experimental trial consisting of five treatments with three replicates arranged in a completely randomized design (CRD), five treatments and three replications. The treatments applied were as follows: Nc (negative control), Pc (positive control), and (P1; P2; and P3 cinnamon bark solution addition at doses of 15; 30; and 45 mL kg-1 feed). Fish (10 ± 2 cm) were reared in aquariums with a dimension of 40 x 30 x 30 cm3 at a density of 10 fish per aquarium. On the 32nd day of rearing, each fish were challenged with A. hydrophila through the injection of 0.1 mL solution containing A. hydrophila at a density of 108 CFU mL-1 through intramuscular route. The fish were reared for 14 days until the 46th day. The parameters observed were levels of calcium, magnesium and phosphorus in blood serum, lysozyme activity, survival rate, and relative percent survival 91.07 ± 7.78%. The results of the study showed that the best addition of cinnamon solution was a dose of 30 mL kg-1 feed, which was characterized by better post-challenge survival rate (93.33%) and blood biochemical profile (calcium level 9.33 mg dL-1, magnesium 3.10 mg dL-1, and phosphorus 3.93 mg dL-1) and the highest lysozyme activity (285 units mL-1). These findings showed that the addition of cinnamon bark solution to feed was effective in preventing MAS disease in Siamese catfish
PEMBERIAN FUCOIDAN SECARA ORAL DARI HASIL EKSTRAKSI Sargassum sp. UNTUK MENANGGULANGI MOTILE AEROMONAS SEPTICEMIA PADA IKAN LELE (Clarias sp.)
Motile aeromonas septicemia (MAS) adalah salah satu penyakit yang sering menyebabkan kematian pada ikan, dan disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Salah satu cara untuk menanggulangi penyakit bakteri yang menyerang ikan adalah dengan menggunakan imunostimulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian fucoidan secara oral terhadap perkembangan gejala penyakit ikan lele yang diinfeksi A. hydrophila. Penggunaan metode asam digunakan untuk mengekstraksi fucoidan dari Sargassum sp. Penelitian ini melibatkan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan P1, P2, P3, dan P4, masing-masing meliputi kontrol, 2, 4, dan 6 g fucoidan per kilogram pakan. Pakan diberikan kepada ikan dalam jumlah 5% dari berat kering pakan terhadap biomassa ikan. Setelah itu, dilakukan uji tantang dengan memberikan dosis 0,1 mL per ikan dari A. hydrophila dengan kepadatan 2,77 x 107 sel per ml secara intraperitonial satu minggu setelah pemberian fucoidan secara oral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian fucoidan secara oral dengan dosis 2, 4, dan 6 g fucoidan per kilogram pakan tidak menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam sintasan (P>0,05) dan tidak mampu menunda MTD pada ikan yang terinfeksi A. hydrophila KP1 jika infeksi dilakukan di bawah LD50. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menambahkan dosis fucoidan pada pakan ikan lele untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.Motile aeromonas septicemia (MAS) is a disease that often causes death in fish, and is caused by Aeromonas hydrophila. One of ways to overcome bacterial diseases that attack fish is to use immunostimulants. The aim of this study was to determine the effect of oral administration of fucoidan on the development of disease symptoms in catfish infected with A. hydrophila. The acid method was used to extract fucoidan from Sargassum sp. This experiment involved four treatments and three replications. Treatments P1, P2, P3, and P4, respectively, included control, 2, 4, and 6 g of fucoidan per kilogram of feed. Feed was given to fish in an amount of 5% of the dry weight of the feed to fish biomass. After that, a challenge test was carried out by giving a dose of 0.1 mL per fish of A. hydrophila with a density of 2.77 x 107 cells per mL intraperitoneally one week after oral administration of fucoidan. The results showed that oral administration of fucoidan at doses of 2, 4, and 6 g of fucoidan per kilogram of feed did not result in a significant increase in survival (P>0.05) and was unable to delay MTD in fish infected with A. hydrophila KP1 if infection carried out below LD50. Further study needs to be done by adding a dose of fucoidan to catfish feed to get better results.
THE GROWTH KINETICS AND TOTAL LIPID CONTENT OF Thalassiosira sp. (BACILLARIOPHYCEAE) UNDER MIXOTROPHIC CONDITIONS
Conventional microalgae culture is challenged by issues of light limitation and cell self-shading. This study aims to evaluate the impact of different cultivation modes on the growth and lipid content of Thalassiosira sp. The diatom, Thalassiosira sp., was grown in autotrophic, mixotrophic-suspended, and mixotrophic-biofilm conditions until the stationary phase was reached. After four (4) days of culture, analysis of the cell densities revealed a significant difference between groups, with cell densities of 7.3×105 cells mL-1 for control, 1.1×106 cells mL-1 for mixotrophic-suspended, and 1.9×106 cells mL-1 for mixotrophic-biofilm cultures. Both treatments are significantly higher than the control. However, mixotrophic-biofilm culture achieved the highest cell density among all cultivation modes, 161.81% higher than the control. The specific growth rate (SGR) of Thalassiosira sp. in mixotrophic-biofilm culture was highest among treatments, while the doubling time was significantly highest in the control. Moreover, mixotrophic-biofilm culture attained the highest biomass at 56 mg 100 mL-1. Thalassiosira sp. cultured under mixotrophic-biofilm also recorded the highest lipid content at 9.89%. It is both significantly higher than the control (3.06%) and the mixotrophic-suspended culture (6.15%). The cell density, algal biomass, and lipid content of Thalassiosira sp. under mixotrophic-biofilm culture highlight this culture strategy’s promising potential in improving microalgae growth and lipid content, ridding of light as an indispensable growth factor