eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
THE POTENTIAL USE OF SIAM WEED (Chromolaena odorata) LEAF EXTRACT AS AN ALTERNATIVE ANTIBACTERIAL COMPOUND TO TREAT Vibrio parahaemolyticus INFECTION IN PACIFIC WHITE SHRIMP (Litopenaeus vannamei)
Siam weed plant or Siam weed (Chromolaena odorata) is an herb commonly used as a medicinal plant in Asian countries, including Indonesia, particularly in Southeast Sulawesi. This study explores the effectiveness of different Siam weed leaf extract concentrations in treating Vibrio parahaemolyticus infection in Pacific white shrimp (Litopenaus vannamei). In this study, the infected shrimps were soaked in C. odorata leaf extract solution at 1, 2, and 3 ppt concentrations and no soaking of the extract (control). The parameters measured were recovery rate, survival rate, percentage of total haemocyte count (THC) and differential haemocyte count (DHC). The results showed that the V. parahaemolyticus-infected Pacific white shrimps soaked in 3 ppt C. odorata leaf extract had the highest recovery and survival rates compared to shrimp treated with C. odorata leaf extract at 1 and 2 ppt. Similarly, the shrimp group treated with 3 ppt of C. odorata leaf extract had better haemolymph profiles than those treated with the other concentrations of C. odorata leaf extract. This study concludes that C. odorata leaf extract enhances the immune response of L. vannamei by increasing the activity of semi-granular cells in eliminating the pathogenic cells of V. parahaemolyticus.Tanaman krinyuh (Chromolaena odorata) merupakan tanaman herbal yang umum digunakan sebagai tanaman obat di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, khususnya di Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas berbagai konsentrasi ekstrak daun tanaman krinyuh dalam mengobati infeksi Vibrio parahaemolyticus pada udang vaname (Litopenaus vannamei). Pada penelitian ini, udang yang terinfeksi direndam ke dalam larutan ekstrak daun C. odorata pada konsentrasi 1, 2, dan 3 ppt dan tanpa perendaman ekstrak (kontrol). Parameter yang diukur adalah tingkat kesembuhan, tingkat kelangsungan hidup, persentase jumlah hemosit total (JHT), dan jumlah hemosit diferensial (JHD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang vaname yang terinfeksi V. parahaemolyticus yang direndam dalam ekstrak daun C. odorata 3 ppt memiliki tingkat kesembuhan dan kelangsungan hidup tertinggi disbanding udang yang diobati dengan ekstrak daun C. odorata pada konsentrasi 1 dan 2 ppt. Demikian pula, kelompok udang yang diberi 3 ppt ekstrak daun C. odorata memiliki profil hemolim yang lebih baik daripada yang diberi konsentrasi ekstrak daun C. odorata lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak daun C. odorata meningkatkan respons imun L. vannamei dengan meningkatkan aktivitas sel semi-granular dalam menghilangkan sel patogen V. parahaemolyticus.
RESPONS PERTUMBUHAN, PEMANFAATAN NUTRIEN, DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN IKAN TORSORO (Tor soro) YANG DIBERI PAKAN DENGAN SUPLEMENTASI GLUTAMIN
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi glutamin terhadap pertumbuhan dan aktivitas antioksidan pada ikan Torsoro (Tor soro). Ikan uji yang digunakan adalah juvenil ikan dengan berat awal rata-rata 5,21 ± 0,04 g. Perlakuan yang diberikan terdiri atas suplementasi glutamin bebas dengan dosis yang berbeda (0; 0,5; 1,0; 1,5; dan 2%) dan alanil-glutamin (0,84; 1,67; 2,51; dan 3,35%) pada pakan, setiap perlakuan memiliki lima kali ulangan. Perlakuan pakan diberikan tiga kali sehari sekenyangnya. Ikan uji dipelihara selama 60 hari. Parameter yang diamati meliputi performa pertumbuhan, pemanfaatan nutrisi, indeks biologis, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan yang disuplementasi glutamin bebas berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap performa pertumbuhan, pemanfaatan nutrisi, indeks biologis, dan aktivitas antioksidan ikan uji. Hasil uji lebih lanjut menunjukkan bahwa suplementasi alanil-glutamin dalam pakan sebesar 2,51% memberikan hasil terbaik terhadap bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik, retensi protein, rasio efisiensi protein, konversi pakan, rasio viseral somatik, rasio panjang usus, aktivitas superoksida dismutase, glutation peroksidase, dan katalase pada ikan Torsoro. Berdasarkan evaluasi keseluruhan terhadap parameter yang diamati, penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi alanil-glutamin dalam pakan pada tingkat 2,51% mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan, pemanfaatan nutrisi, indeks biologis, dan aktivitas antioksidan pada ikan Torsoro.This study aimed to evaluate the effects of glutamine supplementation on the growth of and antioxidant activity in Torsoro fish (Tor soro). The test fish used were Torsoro fish juveniles with an average initial weight of 5.21 ± 0.04 g. The treatments consisted of different supplementation levels of free glutamine (0; 0.5; 1.0; 1.5; and 2%) and alanyl-glutamine (0.84; 1.67; 2.51; and 3.35%) in feed, where each treatment had five replicates. The feed treatments were given three times a day ad satiation. The experimental fish were reared for 60 days. The parameters observed included growth performance, nutrient utilization, biological indices, and antioxidant activity. The results showed that free glutamine-supplemented feed significantly affects (p<0.05) the growth performance, nutrient utilization, biological indices, and antioxidant activity of the tested fish. Further test results showed that alanyl glutamine supplementation in feed at 2.51% produced the best results on the final weight, specific growth rate, protein retention, protein efficiency ratio, feed conversion, somatic visceral ratio, intestine length ratio, superoxide dismutase, glutathione peroxidase, and catalase activities of Torsoro fish. Based on the overall achievement of the observed parameters, this study determines that alanyl-glutamine supplementation in feed at 2.51% improves the growth performance, nutrient utilization, biological indices, and antioxidant activity of Torsoro fish
PENGARUH BAKTERI Lactobacillus casei FREEZE DRY TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN MAS (Cyprinus carpio)
Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu komoditas penting dalam budidaya perikanan air tawar. Kualitas pakan yang kurang optimal sering kali mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan mas. Peningkatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan ini dapat didukung oleh penggunaan Lactobacillus casei probiotik freeze dry dalam pakan. Teknologi freeze dry memperpanjang penyimpanan probiotik tanpa mengurangi efektivitas dan menjaga viabilitasnya dalam pakan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Lactobacillus casei probiotik freeze dry terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan mas. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan: PK1 (105 CFU/g), PK2 (106 CFU/g), PK3 (107 CFU/g), dan K (tanpa probiotik). Ikan mas yang digunakan berukuran 7-8 cm dengan padat tebar 10 ekor/20L air. Waktu pemeliharaan dilakukan selama 14 hari pada pemberian pakan dengan perlakuan dosis probiotik berbeda. Penambahan dosis probiotik L. casei pada pakan ikan mas menunjukkan peningkatan signifikan pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup, dengan dosis optimal 0,1 gr/100 gr pakan (105 CFU/g), yang menghasilkan bobot mutlak (2,8 ± 0,12g), panjang mutlak (1,1 ± 0,21cm), specific growth rate (SGR) (1,7 ± 0,06%/hari), feed conversion ratio (FCR) (1,5 ± 0,06), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) (65,3 ± 2,27%), dan survival rate (SR) (100 ± 0%).The common carp (Cyprinus carpio) is an important commodity in freshwater aquaculture. Suboptimal feed quality often affects the growth and survival of common carp. Growth and survival of this species can be enhanced by incorporating freeze-dried probiotic bacteria into their feed. Freeze-drying technology extends the storage of probiotics without reducing their effectiveness, while maintaining viability in fish feed. This study aims to evaluate the effectiveness of freeze-dried probiotic bacteria on the growth and survival of common carp. The experimental method used was a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates: PK1 (0.1 g probiotics/100 g feed, 10u CFU/g), PK2 (1 g probiotics/100 g feed, 10v CFU/g), PK3 (10 g probiotics/100 g feed, 10w CFU/g), and K (no probiotics). The common carp used were 7-8 cm in size with a stocking density of 10 fish/20 L of water. The feeding period lasted 14 days with probiotic doses applied. Adding Lactobacillus casei probiotic to the feed of carp significantly improved growth and survival, with the optimal dosage of 0.1 g/100 g of feed (105 CFU/g), resulting in absolute weight (2.8 ± 0.12g), absolute length (1.1 ± 0.21cm), specific growth rate (SGR) (1.7 ± 0.06%/day), feed conversion ratio (FCR) (1.5 ± 0.06), feed utilization efficiency (EPP) (65.3 ± 2.27%), and survival rate (SR) (100 ± 0%
Strategi Pengawasan Illegal Fishing dalam Upaya Menjaga Sumberdaya Perikanan di Perairan Barat Aceh
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pengawasan illegal fishing dalam upaya menjaga sumberdaya perikanan di perairan Barat Aceh. Metode analisis data yang digunakan adalah secara kuantitatif-deskriptif dengan tabulasi distribusi frekuensi dan metode analisis SWOT. Sampel yang terlibat dalam penelitian ini adalah sebanyak 40 orang responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat pengawasan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan terhadap illegal fishing dari tahun 2015 sampai 2020 mayoritas yang melakukan illegal fishing adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dibandingkan dengan Warga Negara Asing (WNA), b) pelanggaran yang bersifat adminitrasi mayoritas pelanggaran kasus pemalsuan dokumen dan jenis pelanggaran yang bersifat destructive fishing (bersifat alat tangkap terlarang) selebihnya adalah bersifat pelanggaran pengemboman. Sedangkan mengenai perkembangan pos pengawasan belum berjalan sesuai dengan tujuan dan sasaran pembanguna nasional dalam bidang kelautan dan perikanan, sedangkan sarana dan prasarana yang tersedia tidak sebanding dengan luas wilayah kerja bagi pihak pengawas. Selanjutnya,(2) Sumber Daya Kelautan dan Perikanan/SDI terhadap dampak illegal fishing menunjukkan pada tingkat penyusutan berupa ikan demersal dalam beberapa tahun terakhir yaitu sebesar 41 – 60 (%). (3) untuk strategi pengawasan terhadap illegal fishing dalam upaya menangani permasalahan illegal fishing menunjukkan bahwa nilai faktor internal (kekuatan dan kelemahan) pengawasan illegal fishing adalah sebesar 2.90 yaitu berada pada posisi dan strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi. Sedangkan nilai skor faktor eksternal (peluang dan ancaman) berada pada posisi yang kuat yaitu 3.47 dengan strategi yang dapat dilakukan adalah pihak pengawas illegal fishing ini adalah meminimalkan masalah internal sehingga dapat merebut peluang yang lebih baik untuk menjaga sumber daya kelautan dan perikanan bagi pelaku illegal fishing di wilayah perairan barat Aceh.
Studi Perbandingan Metode Konvensional dan Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam Identifikasi Salmonella sp. pada Tuna (Thunnus sp.)
Tuna (Thunnus sp.) merupakan komoditas perikanan unggulan Indonesia yang perlu mendapatkan penanganan yang tepat. Kontaminasi bakteri patogen pada produk perikanan perlu diperhatikan untuk mencegah foodborne diseases, seperti Salmonella. Identifikasi Salmonella sp. pada Tuna beku dilakukan dengan metode konvensional dan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Parameter yang dibandingkan adalah media, waktu pengujian, kapasitas alat pengujian, biaya dan pengguna. Hasil menunjukkan bahwa metode konvensional merupakan pengujian bakteri Salmonella yang tergolong sederhana, sedangkan metode PCR memerlukan reagen khusus dengan sensitivitas yang tinggi dan cepat. Metode konvensional memerlukan kesterilan yang baik dan waktu yang lama dalam persiapan media. Metode PCR memiliki prosedur yang kompleks dan membutuhkan keahlian khusus dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, pemilihan metode identifikasi Salmonella sp. pada tuna ditentukan berdasarkan kebutuhan pengguna
PENGARUH PENAMBAHAN BINDER TEPUNG RUMPUT LAUT (Eucheuma spinosum) DENGAN PERSENTASE BERBEDA TERHADAP KANDUNGAN NUTRISI PAKAN UDANG
Binder carboxy methyl cellulose (CMC) biasa digunakan dalam formulasi pakan udang, tetapi mempunyai harga mahal dan tidak memberi dampak terhadap penambahan nutrisi pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bahan binder pengganti CMC yang lebih murah dan memberi dampak penambahan nutrisi dalam pakan udang. Dosis perlakuan binder tepung rumput laut dalam pakan uji sebesar 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3), dan 20% (P4). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, antara lain (P0) binder CMC sebagai kontrol dan (P1-P4) binder tepung rumput laut. Pakan perlakuan diuji kadar air, protein, dan lemaknya dengan metode analisis proksimat. Hasil nilai kadar air pada P0 (3,3%), P1 (3,8%), P2 (4,2%), P3(6%), dan P4 (6,3%), kadar protein pada P0 (40,40%), P1 (28,43%), P2 (40,40%), P3 (32,90%), dan P4 (28,40%), kadar lemak pada P0 (9,97%), P1 (9,98%) dan P1-P4 (9,97%). Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan penambahan binder CMC dibandingkan dengan perlakuan penambahan binder tepung rumput laut tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap penambahan nutrisi pakan udang. Hasil tersebut membuktikan bahwa tepung rumput laut dapat menggantikan CMC sebagai binder dalam formulasi pakan udang.The binder, carboxy methyl cellulose (CMC), is commonly used in shrimp feed formulations, but it is expensive and has no impact on adding feed nutrition. This experiment aimed to find a binder substitute for CMC that is cheaper and has the effect of adding nutrients to shrimp feed. The doses of binder from seaweed meal treatment in the test feed were 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3), and 20% (P4). This study used a completely randomized design with five treatments and three replications, including (P0) CMC binder as a control and (P1-P4) seaweed meal binder. The test feed were tested for water, protein and fat content using the proximate analysis method. Results of water content in P0 (3.3%), P1 (3.8%), P2 (4.2%), P3 (6%), and P4 (6.3%), protein content in P0 (40 .40%), P1 (28.43%), P2 (40.40%), P3 (32.90%), and P4 (28.40%), lipid content in P0 (9.97%), P1 (9.98%) and P1-P4 (9.97%). This experiment showed that the treatment with the addition of CMC binder compared to the treatment with the addition of seaweed meal binder did not have a significant effect on the addition of nutrients to shrimp feed. These results proved that seaweed meal can replace CMC as a binder in shrimp feed formulations
Karakteristik Mutu Pengolahan Lemuru (Sardinella Lemuru) dengan Media Saus Tomat dalam Kaleng Di PT. STP, Negara - Bali
Ikan lemuru merupakan salah satu komoditas yang banyak diolah sebagai produk ikan kaleng karena bernilai ekonomis tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik proses pengolahan ikan lemuru kaleng dalam media saos tomat, yang meliputi alur proses pengolahan, pengujian mutu bahan baku dan produk akhir. Data primer dilakukan dengan cara ikut serta melakukan proses produksi, observasi dan melakukan wawancara pada karyawan sedangkan data sekunder diperoleh dari arsip/dokumentasi perusahaan. Pengolahan ikan lemuru kaleng meliputi 17 tahapan proses mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengiriman. Nilai organoleptik mutu bahan baku adalah 9 dan nilai sensori produk akhir adalah 8,67. Nilai bobot tuntas kaleng untuk ukuran 202 x 308 (155) rata rata 56,67% dan kaleng ukuran 300 x 407 (425) rata-rata 59.75%. Hasil uji histamin bahan baku ikan segar dan produk akhir lemuru kaleng adalah 7,4 ppm dan 13.75 ppm. Hasil uji kadar logam berat pada bahan baku ikan segar dan produk akhir lemuru kaleng meliputi Timbal (Pb) sebesar 0,02 mg/kg dan 0,3 mg/kg; Kadmium (Cd) sebesar 0,01 mg/kg dan 0,02 mg/kg; Merkuri (Hg) sebesar 0,03 mg/kg dan 0,03 mg/kg. Nilai ALT bahan baku ikan segar sebesar 2,6 x 103koloni/g, E.coli, Coliform dan Vibrio parahaemolyticus dengan hasil <3,0 APM/g, Salmonella dan Vibrio cholerae dengan hasil negatif
Pengamatan Sistem Rantai Dingin, Pengujian Mutu, Rendemen, Produktivitas dan Kelayakan Dasar Pengolahan Fillet Ikan Lemadang (Coryphaena hippurus) Beku
Ikan lemadang (Coryphaena hippurus) merupakan hasil tangkapan sampingan (by catch), walaupun jumlah produksi masih relatif kecil, namun permintaan pasar ikan lemadang cukup tinggi, sehingga memberikan peluang besar bagi Indonesia sebagai produsen untuk ekspor dalam bentuk segar maupun beku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem rantai dingin, mutu, rendemen, produktivitas dan kelayakan dasar pada pengolahan fillet ikan lemadang (Coryphaena hippurus) beku. Pengujian mutu bahan baku dan produk akhir meliputi dari pengujian organoleptik mengacu SNI 4110:2020 ikan beku, SNI 2696:2013 fillet ikan beku, pengujian produk akhir meliputi pengujian mikrobiologi Angka Lempeng Total (ALT), E. coli mengacu SNI 01-2332.1-2015, pengujian Salmonella berdasarkan SNI ISO 6579-1.2017, pengujian Vibrio cholerae berdasarkan SNI 01-2332.4-2006. Pengamatan penerapan rantai dingin dilakukan pada produk, air dan suhu ruang selama proses produksi, pengamatan rendemen, produktivitas dilakukan 8 kali pengamatan dengan masing-masing 3 kali ulangan, penerapan dan penilaian kelayakan dasar diamati pada penerapan GMP dan SSOP di unit pengolahan berdasarkan Permen KP No. 17 Tahun 2019. Hasil penerapan rantai dingin pada produk, air dan ruangan sudah diterapkan dengan baik. Hasil uji organoleptik bahan baku dan produk akhir mendapatkan nilai rata-rata 8. Hasil uji mikrobiologi pada produk fillet ikan lemadang beku pada ALT yaitu 2,2x103 Koloni/g, E. coli <1,8 MPN/g, Salmonella dan V. cholerae negatif. Hasil rata-rata rendemen fillet 66,05%, skinning dan trimming 42,76%. Hasil rata-rata produktivitas skinning dan trimming 90,37 kg/jam/orang. GMP dan SSOP telah dilaksanakan dengan baik sesuai Permen KP No.17 Tahun 2019, namun terdapat 2 temuan minor sehingga mendapatkan nilai SKP dengan predikat “A”. Secara keseluruhan produk fillet lemadang beku telah memenuhi standar SNI 2696:2013 tentang fillet ikan beku