eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
FUNGSI FISH SHELTER SEBAGAI PERLINDUNGAN HABITAT SUMBAR DAYA IKAN KARANG DI KABUPATEN BREBES
Fish Shelter atau hunian ikan merupakan struktur bangunan bawah air yang dibuat secara permanen dan dirancang untuk berperan sebagai tempat berlindung bagi ikan, terutama ikan-ikan demersal dan karang. Fungsi dari fish shelter ini sebagai alat untuk mengembalikan kesuburan dari habitat dan ekologi sekitar pesisir pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah pemulihan stok sumberdaya ikan melalui tempat perlindungan ikan (fish shelter) untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Metodologi pengumpulan data dilakukan pencatatan langsung hasil tangkapan di sekitar fish shelter oleh nelayan sebagai enumerator, selama 8 bulan dari bulan Maret – Oktober 2023. Semenjak fish shelter ditempatkan tahun 2015 lokasi tersebut selalu ada kegiatan penangkapan ikan. Fungsi fish shelter menjadi tempat mencari makan (nursery ground) dan perlindungan (shelter) yang baik untuk beberapa ikan demersal, seperti kakap, kerapu, kuro dan lain-lain. Frekuensi penangkapan menjadi lebih banyak, dan dalam waktu 1 jam dapat di tangkap 5 – 8 kg ikan. Jumlah ikan ekonomis penting yang ditangkap nelayan adalah yang terbanyak disekitar fish shelter ikan kakap sebanyak 1.729 kg, kerapu 165 kg, cracas 1.234 kg, layang 726 kg, dan kuro (senangin) 125 kg. Komposisi berat ikan demersal 54,80 % dan ikan pelagis 45,20 %. Fish shelter yang di perairan Brebes, sangat bermanfaat untuk mengembangkan perikanan karang atau demersal ditandai dengan hasil tangkapan nelayan jenis ikan ekonomis penting disekitar fish shelter. A fish shelter is a permanently constructed underwater structure designed to act as a refuge for fish, especially demersal and reef fishes. The function of this fish shelter is as a tool to restore the fertility of the habitat and ecology around the coast. The aim of this study is the recovery of fish stocks through fish shelters for sustainable utilisation. The methodology for data collection was direct recording of catches around the fish shelter by fishermen as enumerators, for 8 months from Maret to November 2023. Since 2015 the fish shelter the location has any fishing activities. However, the fish shelter fungsion provides a good nursery ground and shelter for several demersal fish, such as kuro, snapper, grouper and others. The frequency of fishing becomes more, and within 1 hour, 5 - 8 kg of fish can be caught. The number of economically important fish caught by fishermen was the highest around the fish shelter with 1.729 kg of snapper, 165 kg of grouper, 19 kg, 1.234 kuwe, 726 kg layang and 125 kg of kuro (senangin) fish. The weight composition of demersal fish was 54.80 % and pelagic fish was 45.20 %. Fish shelters in Brebes waters are very useful for developing reef or demersal fisheries, indicated by the catch of economically important fish species around fish shelters
Transformasi Konsep Tata Kelola Penyelenggaraan Keamanan Laut Indonesia: Sebuah Tinjauan dari Perspektif Badan Keamanan Laut
Keamanan maritim merupakan salah satu isu keamanan yang menonjol dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebagai negara kepulauan, Indonesia harus mampu mengakomodasi kepentingan internasional sehingga keamanan dan keselamatan di laut yang menjadi tuntutan masyarakat internasional dapat terpenuhi. Kepentingan nasional Indonesia sebagai negara maritim harus diturunkan menjadi kebijakan dan strategi maritim, dalam hal ini yaitu terkait dengan tata kelola penyelenggaraan keamanan laut. Saat ini, tata kelola keamanan laut di Indonesia masih menerapkan konsep multiagency single task yang masih berjalan secara parsial berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh masing-masing instansi terkait, termasuk Bakamla di dalamnya. Dalam skala Nasional, Bakamla dibentuk untuk mewujudkan harmonisasi dan sinergitas dalam komunikasi antar pemangku kepentingan di laut dalam upaya penegakan hukum di laut secara ideal dan holistik. Pertanyaanya, “apakah konsep dan sistem tata Kelola penyelenggaraan keamanan maritim saat ini telah berjalan dengan baik?”. Lalu, “bagaimana kosep tata Kelola penyelenggaraan keamanan maritim yang ideal dan mampu mewujudkan gagasan dan visi Pemerintah Indonesia di bidang kemaritiman secara keseluruhan?” Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Tinjauan literatur akan dilakukan untuk mengetahui aspek-aspek yang menjadi pembahasan penting dalam penelitian ini. Studi komparatif akan digunakan untuk menemukan solusi dalam upaya memecahkan masalah penelitian. Analisis SWOT juga akan digunakan untuk mengidentifikasi faktor- faktor dan strategi, memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman, dalam upaya menghasilkan transformasi tata Kelola penyelenggaraan keamanan laut Indonesia yang lebih baik Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konsep tata Kelola penyelenggaraan keamanan maritim Indonesia yang ideal dan holistik melalui perspektif Bakamla yang memiliki kewenangan dalam penegakan hukum di laut. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menghasilkan konsep strategis yang bersifat adaptif dalam menghadapi potensi ancaman dan permasalahan di laut yang bersifat dinamis dan sulit untuk diprediksi. Transformasi konsep tata kelola keamanan maritim di Indonesia dihadapkan dengan aktivitas nasional yang holistic dan memerlukan pendekatan berpikir sistem triple helix dan penerapan konsep single agency multitask. Hasil dari paradigma sistem ini meliputi tata kelola keamanan maritim dan strategi pengelolaan wilayah yurisdiksi dan wilayah perairan Indonesia yang berbasis kesadaran wilayah maritim atau Maritime Domain Awareness (MDA) meliputi Indonesian Maritime Information Center (IMIC), Alur Pelayaran Tol Laut (APTL), Seabed Sonar Surveillance (S3), dan Electronic Maritime Law Enforcement (EMLE)
Pemanfaatan Metoda Machine Learning untuk Meningkatkan Akurasi Penentuan Potensi Lahan Tambak Garam di Kecamatan Kapetakan dan Suranenggala Kabupaten Cirebon
Kabupaten Cirebon berada di sepanjang pantai utara laut jawa dan memiliki potensi pengembangan usaha tambak garam dengan garis pantai sepanjang +77,97 km. Kesiapan lahan garam cukup luas yaitu sebesar 1.557,75 Ha. Potensi ini sesuai dengan program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yaitu Sentra Ekonomi Garam Rakyat (SEGAR). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi lahan garam di Kecamatan Kapetakan sebagai kecamatan yang diprioritaskan sebagai lokasi pengembangan SEGAR dan Kecamatan Suranenggala sebagai Kecamatan yang bersebelahan. Metode penelitian yang digunakan adalah Algoritma Machine Learning Random Forest dengan menggunakan aplikasi Google Earth Engine dan Citra Satelit Sentinel 2A. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi lahan garam di Kecamatan Kapetakan diperkirakan sebesar 2.002,44 ha atau 30% dari luas total kecamatan dan potensi lahan garam di Kecamatan Suranenggala diperkirakan sebesar 417,02 ha atau 16% dari luas total kecamatan. Hal lain yang mendukung potensi pengembangan garam di Kecamatan Kapetakan adalah adanya sejumlah gudang garam yang dikelola swasta dan masyarakat, kecocokan kesesuaian tata ruang dengan RTRW Kabupaten Cirebon, rata-rata petak lahan kepemilikan petambak garam lebih besar dari 5 ha sehingga memudahkan proses konsolidasi lahan dan aspek sosial masyarakat yang mendukung program pemerintah daerah, seperti masyarakat yang partisipatif, dan komunikatif
Manajemen Pembesaran Udang Vaname (Penaeus vannamei) di PT. Semeru Teknik Bangka Selatan Kepulauan Bangka Belitung
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manajemen kinerja, mengidentifikasi permasalahan serta mengkaji aspek finansial pembesaran udang vaname (Penaeus vannamei), di PT Semeru Teknik Bangka Selatan. Kinerja budidaya meliputi: Average Body Weight (ABW), Average Daily Growth (ADG), Survival Rate (SR) dan Feed Conversion Ratio (FCR). Identifikasi masalah menggunakan metode fishbone 4M (Man, Machine, Methode, Material). Analisis finansial meliputi: Laba/Rugi, Revenue Cost Ratio (RC/Ratio) dan Break Even Poin (BEP). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif menggunakan, SOP perusahaan dan SNI No.01-7246 Tahun 2006 tentang produksi udang vaname di tambak dengan teknologi intensif. Berdasarkan hasil pengamatan, kinerja budidaya diperoleh seperti ABW 5 - 7 g/ekor, ADG 0,04 - 0,39 g/hari, FCR 1,02 – 3,23 dan SR 23 % – 72 %. Nilai FCR dan SR belum mencapai target produksi Ditemukan penyakit Vibriosis yang mengakibatkan rendahnya nilai SR serta pendeknya waktu pemeliharaan. Ditemukan masalah berupa kurangnya pengetahuan pekerja, sumber air laut tercemar, tidak adanya SOP tertulis, dan kurangnya jumlah alat kualitas air. Berdasarkan analisa finansial, kerugian sebesar Rp. -278.619.417 dalam siklus ini, R/C Ratio 0.65 yang menandakan usaha ini tidak layak untuk dilanjutkan dan BEP harga sebesar Rp. - 6.811.604.348. Disimpulkan bahwa kegiatan produksi udang vaname di PT Semeru Teknik dapat dikategorikan kurang layak dan merugikan
ANALISA PERBANDINGAN PENGARUH HEATER TERHADAP PROSES DEFROST PADA EVAPORATOR
Evaporator is one of the main components in the refrigeration system that functions to absorb heat from the cold room (cold storage) to maintain the temperature according to needs. This study aims to analyze the comparative effect of using a heater on the evaporator on electricity costs, evaporator conditions, cold storage temperatures, and evaporator maintenance. The comparison is focused on Evaporator 1 (inactive heater) with Evaporator 2 (active heater). The results showed that Evaporator 1 experienced a temperature increase of 0.7oC with a time of 18 minutes, while Evaporator 2 experienced an increase of 0.3oC with a time of 14,33 minutes. Likewise, the return to normal temperature, Evaporator 1 took 16 minutes, while Evaporator 2 only took 12.5 minutes. The time required also affects the operational costs during the defrost process until it returns to normal temperature with the calculation of electricity consumption on the defrost water pump, heater, evaporator, evaporator fan motor, and compressor. The operational cost of Evaporator 1 is Rp. 1.319.560 while Evaporator 2 is only Rp. 1.038.019. The accumulation of evaporator ice also affects maintenance. The maintenance cost of Evaporator 1 is Rp. 333.956 while Evaporator 2 is only Rp. 47.708. Evaporator adalah salah satu komponen utama dalam sistem refrigerasi yang berfungsi menyerap panas dari ruangan dingin (cold storage) untuk menjaga suhu sesuai dengan kebutuhan. Dalam proses operasionalnya, pembentukan es pada evaporator dapat mempengaruhi suhu cold storage, sehingga dengan adanya metode defrost di evaporator tetap stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pengaruh penggunaan heater pada evaporator terhadap biaya listrik, kondisi evaporator, suhu cold storage, dan pemeliharaan evaporator. Perbandingan difokuskan pada Evaporator 1 (heater tidak aktif) dengan Evaporator 2 (heater aktif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Evaporator 1 mengalami kenaikan suhu 0,7oC dengan waktu 18 menit, sedangkan Evaporator 2 mengalami kenaikan 0,3oC dengan waktu 14,33 menit. Begitu juga kembalinya ke suhu normal, Evaporator 1 membutuhkan waktu 16 menit, sedangkan Evaporator 2 hanya 12,5 menit. Waktu yang diperlukan tersebut juga berpengaruh pada biaya operasional selama proses defrost sampai kembalinya ke suhu normal dengan perhitungan konsumsi listrik pada pompa air defrost, heater, evaporator, motor kipas evaporator, dan kompresor. Biaya operasional Evaporator 1 sebanyak Rp. 1.319.560 sedangkan Evaporator 2 hanya Rp. 1.038.019. Penumpukan es evaporator juga berpengaruh pada pemeliharaan. Biaya pemeliharaan Evaporator 1 sebanyak Rp. 333.956 sedangkan Evaporator 2 hanya Rp. 47.708
PENGARUH PDRB PERIKANAN TERHADAP PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN DI SULAWESI
The agricultural industry and fisheries subsector can contribute to improving the economy in Indonesia, specially on the island of Sulawesi. This research aims to analyze trends in agricultural GRDP in the fisheries subsector and its influence on the sustainable livelihood of the community. The method applied in this research is descriptive analysis and panel data regression analysis which is carried out by testing data normality using the e-views 9 testing tool. Data collection techniques include observation, documentation, and literature study. The results of this research show 1). The GDP trend in the agricultural and fisheries sectors on Sulawesi Island shows a positive increase which supports the region's economy. Although both sectors experienced fluctuations due to the COVID-19 pandemic in 2020, the fisheries sector recovered significantly in 2021 with a growth rate of 6.23%, which was driven by the recovery of export markets and government support, while the agricultural industry remains stable thanks to modernization and infrastructure improvements, 2). Its influence on community welfare, as measured through life expectancy (AHH), also shows positive results; around 73.42% of the variation in AHH in Sulawesi is influenced by changes in GRDP in the fisheries sector, which reflects that the increase in this sector is in line with improvements in the quality of life of the community. Both of these results show positive results, so increasing the contribution of agricultural GDP to the fisheries subsector plays an important role in community welfare.Sektor pertanian dan subsektor perikanan mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan perekonomian di Indonesia khususnya Pulau Sulawesi. Penelitian ini bertujuan menganalisis trend PDRB pertanian subsektor perikanan dan pengaruhnya terhadap penghidupan keberlanjutan masyarakat. Metode yang di aplikasikan dalam penelitian ini yakni analisis deskriptif dan analisis regresi panel data yang dilakukan dengan uji normalitas data menggunakan alat pengujian e-views 9. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan 1). Trend PDRB sektor pertanian dan perikanan di Pulau Sulawesi menunjukkan peningkatan positif yang mendukung perekonomian wilayah ini. Walaupun kedua sektor mengalami fluktuasi akibat pandemi COVID-19 pada tahun 2020, sektor perikanan pulih secara signifikan pada 2021 dengan tingkat pertumbuhan 6,23%, yang didorong oleh pemulihan pasar ekspor dan dukungan pemerintah, sementara sektor pertanian tetap stabil berkat modernisasi dan perbaikan infrastruktur, 2). Pengaruhnya terhadap kesejahteraan masyarakat, yang diukur melalui penghidupan berkelanjutan (AHH) juga menunjukkan hasil positif; sekitar 73,42% variasi AHH di Sulawesi dipengaruhi oleh perubahan PDRB sektor perikanan, yang mencerminkan bahwa peningkatan sektor ini sejalan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian, optimalisasi subsektor perikanan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan
Analisis Kesuburan Perairan Laut Berdasarkan Keberadaan Fitoplankton, Nitrat, dan Fosfat: Studi Kasus pada Kawasan Perairan Bongkar Muat Batu Bara Kabupaten Aceh Barat
Perubahan terhadap kualitas perairan mempunyai keterkaitan yang erat dengan potensi perairan dapat dilihat dari Kelimpahan dan komposisi fitoplanklon. Fitoplankton dapat dijadikan sebagai indikator atau parameter tingkat kesuburan suatu perairan. Perairan laut ceh Barat merupakan daerah yang diperuntukkan sebagai wilayah bongkar muat batu bara. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui kesuburan perairan berdasarkan itu fitoplankton dan indeks saprobik. Metode yang digunakan ialah metode purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada tujuh stasiun yang berbeda selama satu kali pengambilan data dimana stasiun 1, stasiun 4, dan stasiun 7 merupakan perairan yang kurang terjadi aktivitas manusia maupun industri sedangkan stasiun 3 merupakan muara sungai dan stasiun 2, stasiun 5 dan stasiun 6 merupakan tempat industri. Jenis fitoplankton yang ditemukan pada perairan laut Aceh Barat selama pengamatan terdiri dari tiga kelas yaitu Bacillariaphyceae, dinophyceae dan choloraphyceae. Kelimpahan fitoplankton di perairan laut Aceh Barat berkisar antara 6,29-167,45 ind/l. Hasil kesuburan perairan didapati nilai 0,6 dikategorikan kedalam perairan β-mesosaprobik dengan pencemaran ringan sampai sedang.hasil pengelompokan stastus trofik perairan Nitrat tegolong katagori oligotrofik dengan nilai 0,07 – 0,9 mg/l sedangkan fosfat tergolong kedalam mesotrofik dengan nilai 0,09 – 0,19. Hasil analisis regresi berganda didapati pengaruh fosfat dan nitrat terhadap fitoplankton adalah sebesar 40,2% hal ini dikategorikan sangat lemah sedangkan 59,8% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain
Penentuan Karakteristik Salinitas Menggunakan Conductivity Temperature Depth (CTD) Di Perairan Pulau Sumba
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam yang terlarut dalam air, yaitu jumlah gram garam yang terlarut untuk setiap liter larutan. Pengukuran salinitas secara berkala akan memberikan dampak yang positif terhadap suatu lingkungan karena salinitas adalah salah satu faktor penting dalam menilai kondisi suatu perairan. Pengukuran salinitas dapat menggunakan alat Conductivity Temperature Depth (CTD, alat ini digunakan juga untuk mengukur parameter air lainnya seperti suhu, tekanan, kedalaman dan densitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik salinitas dan pola sebaran salinitas pada berbagai kedalaman di perairan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat Conductivity Temperature Depth (CTD yang dilaksanakan bersama dengan Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil pengolahan dan analisa data diperoleh di perairan Pulau Sumba salinitas tertinggi terdapat pada kedalaman 200m dengan nilai 34,57 psu dan nilai salinitas terendah terdapat pada kedalaman 5m dengan nilai 34,02 psu. Adapun salinitas rata-rata di perairan Pulau Sumba adalah salinitas maksimum adalah 34,54 psu dan salinitas minimum adalah 34,14 psu
DIETARY PROBIOTICS AND ITS EFFECT ON GROWTH RATE, SURVIVAL RATE, AND FEED CONVERSION RATIO OF Clarias gariepinus
The applications of probiotics in aquaculture show wide range of potential benefits. If fish consume probiotics in sufficient and accurate amounts, it can have a beneficial impact on the health of catfish. The study aimed to identify the effect of dietary probiotics supplementation of artificial diet at different doses on the African catfish (Clarias gariepinus) parameters such as specific growth rate, survival rate, and feed conversion ratio. The experiment was performed at the Faculty of Agriculture, Bosowa University, Makassar, and lasted for 2 months. The experiment employed a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and three replicates. The EM4 probiotics were selected as the probiotic supplement and divided into four different doses including treatment: A (5 mL per 100 g feed), B (10 mL per 100g feed), C (15 mL per 100g feed), and D (control). A total of 120 African catfish fingerlings were fed twice every 07:00 a.m. and 06:00 p.m. with a feeding rate of 5% of the body weight. Sampling was performed every week to record catfish body weight and length. The analysis of variance indicated a significant effect of dietary EM4 probiotics supplementation on specific growth rate and feed conversion ratio of African cathfish. However, the result of the experiment revealed 15 mL per 100 g feed did not promote absolute growth rate and survival rate significantly. This study concluded that supplementation of probiotics at a dose of 15 mL per 100 g feed in diet could improve the growth of catfish.Penerapan probiotik dalam budidaya perikanan menunjukkan berbagai manfaat potensial. Jika ikan mengonsumsi probiotik dalam jumlah yang cukup dan tepat, maka dapat memberikan dampak yang menguntungkan bagi kesehatan ikan lele dumbo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian probiotik pada pakan buatan dengan dosis berbeda terhadap laju pertumbuhan spesifik, sintasan, dan rasio konversi pakan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Eksperimen dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa, Makassar, dan berlangsung selama 2 bulan. Eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Probiotik EM4 dipilih sebagai suplemen probiotik dan dibagi menjadi empat dosis perlakuan yang berbeda meliputi perlakuan A (5 mL per 100 g pakan), perlakuan B (10 mL per 100 g pakan), perlakuan C (15 mL per 100 g pakan), dan perlakuan D (kontrol). Sebanyak 120 ekor benih ikan lele dumbo diberi pakan dua kali setiap pukul 07.00 dan 18.00 dengan dosis pemberian pakan sebanyak 5% dari bobot tubuh ikan lele. Pengambilan sampel dilakukan setiap minggu untuk mencatat bobot dan panjang tubuh ikan lele. Analisis varians menunjukkan pengaruh yang signifikan dari suplementasi probiotik EM4 pada laju pertumbuhan spesifik dan rasio konversi pakan ikan lele dumbo. Namun, hasil percobaan menunjukkan bahwa 15 mL per 100 g pakan tidak meningkatkan laju pertumbuhan mutlak dan sintasan secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa suplementasi probiotik 15 mL per 100 g pakan dalam pakan dapat meningkatkan pertumbuhan ikan lele dumbo
ANALISIS DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN FOSFOR DAN DAMPAK KERAMBA JARING APUNG DI DANAU LAUT TAWAR, ACEH TENGAH
Danau Laut Tawar di Kabupaten Aceh Tengah, Indonesia, memiliki luas permukaan 5.862 ha, garis pantai 49,75 km, kedalaman maksimum 84,23 m, kedalaman rata-rata 25,19 m, dan daerah tangkapan air seluas 18.877 ha. Danau ini merupakan danau tektonik dan bersifat multiguna seperti berperan sebagai sumber plasma nutfah, air baku air minum dan pertanian, perikanan, dan sumber pembangkit listrik tenaga air. Aktivitas antropogenik akibat pemanfaatan sumber daya di daerah tangkapan air dan perairan meningkatkan pemuatan fosfor ke perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kapasitas beban fosfor dan dampak kegiatan keramba jaring apung terhadap pencemaran fosfor di Danau Laut Tawar. Data primer dan sekunder dikumpulkan dan dianalisis menggunakan berbagai pendekatan seperti studi literatur, pemodelan, pengukuran in-situ serta ex-situ, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi fosfor di perairan Danau Laut Tawar sebesar 34,00 mg m-3. Beban fosfor dari daerah tangkapan air sebesar 5,19 mg m-3, dengan alokasi beban fosfor sebesar 0,74 mg m-3. Baku mutu fosfor ditetapkan sebesar 40,00 mg m-3, sehingga daya tampung beban pencemaran fosfor mencapai 1,04 ton tahun-1. Keramba jaring apung pada danau memiliki luas 4,46 ha dan menghasilkan limbah fosfor sebanyak 5,25 ton tahun-1 yang terlarut ke perairan danau. Nilai tersebut lebih tinggi dari daya tampung beban pencemaran fosfor pada danau dan memengaruhi kondisi alaminya serta aktivitas yang dilakukan di sekitar danau. Lake Laut Tawar in Central Aceh, Indonesia, covers an area of 5,862 ha with a coastline length of 49.75 km, a maximum depth of 84.23 m, an average depth of 25.19 m, and a catchment area of 18,877 ha. The lake is a tectonic-formed water body and serves various biological and economic functions such as biodiversity resources, water sources for drinking water and agriculture, fisheries, and hydroelectricity. Anthropogenic pressures from economic activities around and within the lake have increased phosphor loading in the water body. This study aimed to determine the phosphor loading capacity and the contribution of floating net cage operation on phosphor pollution in Lake Laut Tawar. Primary and secondary data were collected and analyzed using various approaches such as documents, modeling, in-situ and ex-situ measurements, and interviews. The results showed that the phosphor concentration in the Lake Laut Tawar waters reached 34.00 mg m-3. The phosphor load from the catchment area was 5.19 mg m-3, with the phosphor load allocation of 0.74 mg m-3. The maximum threshold for phosphor concentration in a lake is set at 40.00 mg m-3, bringing the phosphor pollution load capacity of the lake to 1.04 tons year-1. However, the floating net cages in the lake covered an area of 4.46 ha and produced 5.25 tons year-1 of phosphorus waste which dissolved into the lake waters. This value exceeds the phosphorus load capacity of the lake and subsequently affects the lake's natural state and the ecosystem services it provides