eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    ADMINISTRATION OF Curcuma spp. EXTRACT TO CONTROL Aeromonas hydrophila INFECTION IN STRIPED CATFISH (Pangasianodon hypophthalmus)

    Get PDF
    Curcuma spp. is a phytobiotic with potential application in fish farming. This study aimed to evaluate the potential of Curcuma zedoaria, Curcuma aeruginosa and Curcuma mangga extracts in striped catfish infected with Aeromonas hydrophila. The study used a complete randomized design (CRD) consisting of six treatments: KN (negative control), KP (positive control, fish infected without treatment), PE (C. zedoaria extract 6.25 g kg-1), HE (C. aeruginosa extract 6.25 g kg-1), ME (C. mangga extract 6.25 g kg-1) and KE (combination of C. zedoaria extract 2.1 g kg-1 + C. aeruginosa extract 2.1 g kg-1 + C. mangga extract 2.1 g kg-1). A total of 360 striped catfish, 10 ± 0.5 cm were kept in 18 aquariums measuring 50 × 40 × 35 cm3 and fed the treatment for 30 days. The challenge test was conducted on day 31 by injecting A. hydrophila suspension (106 colony-forming units (CFU) mL-1) intramuscularly into fish. The results showed that the treatment administered were able to stimulate the expression of interleukin-1â, interferon-ã 2a, 2b genes, increase the number of red and white blood cells, hematocrit, hemoglobin, phagocytosis activity, respiratory burst, reduce the population of A. hydrophila in the intestine, and reduce tissue damage in striped catfish. Striped catfish treated with the extracts showed significantly higher survival rates (p<0.05) compared to the positive control group. The survival rates were: KN (100.00 %), KP (53.33%), PE (93.33 %), HE (91.67 %), ME (93.33 %), and KE (88.33 %). In conclusion, the treatment administered were able to enhance the immune response and resistance of striped catfish infected with A. hydrophila

    Front Matter

    No full text

    ANALISIS PARAMETER OSEANOGRAFI DAN KAITANNYA DENGAN HASIL TANGKAPAN IKAN TENGGIRI (Scromeberomorus commerson) DI PERAIRAN TIMUR BINTAN

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan dari Maret hingga Agustus 2024 dengan validasi data pada musim peralihan I (28 Mei - 3 Juni 2024) di perairan Timur Bintan dan Sei Enam, Kijang, Bintan Timur. Metode kuantitatif deskriptif dan perhitungan menggunakan Generalized Additive Model (GAM) digunakan untuk menganalisis data perikanan dan oseanografi periode 2022-2023 serta melihat hubungan parameter oseanografi dengan hasil tangkapan ikan tenggiri (S. commerson). Hasil tangkapan menunjukkan puncak pada musim timur (Juni-Agustus) dan terendah pada musim barat (Desember-Februari). Pada 2022, tangkapan mencapai 37.026 kg (112 trip) di musim timur dan 5.426 kg (16 trip) di musim barat, sedangkan tahun 2023 meningkat menjadi 49.365 kg di musim timur dan 13.787 kg di musim barat. CPUE tertinggi tercatat di musim timur, yaitu 422,08 kg/trip pada 2022 dan 398,10 kg/trip pada 2023; terendah pada musim barat 2022 (350,00 kg/trip) dan peralihan I 2023 (293,86 kg/trip). Suhu permukaan laut berkisar antara 28,0°C – 29,7°C, dengan nilai tertinggi pada musim timur 2022 dan peralihan II 2023, sementara salinitas fluktuatif berkisar antara 32,1 – 32,6 psu, tertinggi di musim peralihan I dan terendah di musim barat. Klorofil-a bervariasi antara 0,24 – 0,54 mg/m³, dengan nilai tertinggi di musim timur 2022 dan terendah di peralihan I 2023. Kecepatan arus laut rata-rata berkisar antara 0,00 – 0,38 m/s, tertinggi pada musim timur dan terendah di peralihan I 2022 serta musim barat 2023. Analisis GAM digunakan untuk menentukan hubungan antara suhu permukaan laut, salinitas, klorofil-a, dan kecepatan arus dengan hasil tangkapan ikan tenggiri, di mana model terbaik (Model 12) menunjukkan pengaruh signifikan dari suhu permukaan laut (p = 0,002), salinitas (p = 0,004), klorofil-a (p = 0,001), dan kecepatan arus laut (p = 0,003). Hal ini mengindikasikan bahwa parameter-parameter tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan ikan tenggiri, sesuai dengan perhitungan model GAM yang digunakan

    KARAKTERISTIK GENETIK DAN FILOGENETIK SPESIES IKAN LAYANG (Decapterus sp) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN BITUNG

    Get PDF
    Sumberdaya kelompok ikan Layang di perairan Bitung memiliki nilai ekonomis sehingga perlu dilakukan pengelolaan berdasarkan nama spesies ikan yang valid. Salah satu ciri khusus perikanan tangkap di Indonesia adalah multispesies dan multigear dan dalam pencatatan ikan hasil tangkapan hanya menggunakan nama kelompok ikan, sehingga untuk satu nama kelompok ikan dapat terdiri dari beberapa spesies ikan. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi spesies ikan layang yang tertangkap di perairan Bitung secara genetik untuk mendapatkan spesies yang valid. Untuk mendapatkan karakteristik genetik dan filogenetik dari 4 sampel ikan layang dilakukan ekstraksi DNA, Polymerase Chain Reaction (PCR), penyuntingan DNA dan analisis filogenetik dan evolusi molekuler menggunakan program MEGA versi X. Hasil penelitian mendapatkan bahwa secara genetik ikan layang anggur Bitung merupakan spesies Decapterus smithvanizi dan ikan layang biru dengan ukuran kecil, sedang dan besar merupakan spesies Decapterus macarellus. Filogenetik D. smithvanizi Bitung memiliki jarak kekerabatan yang dekat dengan jenis yang sama dari perairan Philipina, sedangkan D. macarellus Bitung memiliki kekerabatan yang dekat dengan jenis yang sama dari perairan Vietnam. Perlu dilakukan kajian aspek biologi D. smithvanizi untuk melengkapi informasi yang belum tersedia saat ini

    STRATEGI PENANGKAPAN TUNA (Thunnus spp.) DAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) PADA AREAL RUMPON UNTUK MENDAPATKAN UKURAN LAYAK TANGKAP MENGGUNAKAN PANCING ULUR

    Get PDF
    Pengetahuan tentang perilaku kelompok jenis tuna dan cakalang pada areal rumpon merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai strategi penangkapan optimal untuk mendapatkan ukuran ikan layak tangkap. Pengumpulan data di mulai tahun 2020-2024 dengan mengacu pada Prosedur Protokol Sampling untuk Pancing Tuna Artisanal Indonesia yang dikembangkan oleh United States Agency for International Development – Indonesia Marine and Climate Support (USAID-IMACS) bekerjasama dengan enumerator dari Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Kriteria ukuran tuna layak tangkap dianalisis berdasarkan length at first maturity (Lm). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosentase hasil tangkapan dan ukuran layak tangkap pada areal rumpon menggunakan pancing ulur didominasi oleh tuna madidihang (Thunnus albacares) 76,32% dengan ukuran yang layak tangkap sebesar 44,27%, tuna mata besar (Thunnus obesus) 10,05% dengan ukuran layak tangkap 55,60%, dan cakalang (Katsuwonus pelamis) 5,09%  dengan ukuran layak tangkap 48,40%.  Sedangkan hasil tangkapan pancing ulur tanpa menggunakan rumpon atau di luar area rumpon berbeda jauh prosentase proporsi ukuran layak tangkapnya, yaitu 87,7%  untuk tuna madidihang; 97,65 %  tuna mata besar; dan cakalang layak tangkap sebesar 90,00%. Untuk mengurangi prosentase tertangkapnya ikan ukuran tidak layak tangkap, selain dengan strategi tanpa menggunakan rumpon juga dapat menerapkan metode pengaturan kedalaman penurunan alat tangkap, pengaturan waktu penangkapan, dan pengaturan ukuran mata pancing. Informasi ini sangat dibutuhkan dalam pengelolaan spesies tuna dan cakalang secara berkelanjutan khusunya untuk penangkapan pada areal rumpon

    IMPRESI MAHASISWA TERHADAP PROGRAM MAGANG BIDANG RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN DI LOKA RISET SUMBER DAYA DAN KERENTANAN PESISIR

    Get PDF
    Program magang dan pelatihan oleh mahasiswa perguruan tinggi di suatu instansi bertujuan untuk pengembangan kapasitas dan kualitas pendidikan. Tingkat keberhasilan kegiatan magang dan pelatihan diukur berdasarkan evaluasi impresi mahasiswa terhadap instansi lokasi magang. Tujuan dari penelitian terhadap tingkat impresi mahasiswa terhadap program magang bidang riset kelautan dan perikanan di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) adalah untuk mengetahui keberhasilan program magang yang disediakan KKP terhadap peserta magang. Penentuan impresi tersebut menggunakan survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Responden terdiri dari peserta magang (mahasiswa) dan pengguna (pembimbing serta staf pelayanan teknis KKP). Tingkat kepuasan mahasiswa dinilai menggunakan empat dimensi aspek, meliputi aspek tangibles, reliability, assurance dan transparency, sedangkan tingkat kepuasan pengguna menggunakan tiga parameter penilaian yaitu kompetensi profesional, personal dan sosial. Seluruh parameter penentuan tingkat impresi berdasarkan pengisian beberapa pertanyaan melalui kanal googleform. Seluruh hasil pengisian diolah secara statistik dengan metode regresi linear. Tingkap impresi mahasiswa pada aspek tangibles, reliability dan assurance secara umum masuk kategori sangat puas dengan persentase 43,75%, 61,90% dan 53,57%. Pada aspek transparency, responden tertinggi 46,87% memilih kategori puas. Berdasarkan tingkat impresi pengguna magang terlihat bahwa kategori cukup puas mendominasi dari tiga kompetensi yang dinilaikan dengan persentase 60% (kompetensi profesional dan personal), dan 55% pada kompetensi sosial. Variabel kendala pelaksanaan program magang dan pelatihan (X2) dan solusi mengatasi kendala magang dan pelatihan (X3) memiliki peran penting dan berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan dan keberhasilan kegiatan magang mahasiswa di Loka Riset Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP). Workshop and internship programs performed by university students in an institution aim to develop their capacity and quality. The success standard for these programs can be evaluated from students’ impressions of the host institution. Research on the impression level of the internship students in the Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF) becomes an effective method to determine the triumph of the programs. A survey with a descriptive qualitative approach has been performed. The respondent comprises of internship participants and users. The student satisfaction level was examined based on tangibles, reliability, assurance, and transparency aspects and for determining user satisfaction, professional, personal, and social aspects were assessed. A Google form survey was used and the data was then analyzed statistically. Generally, students are very satisfied, with a percentage of 43.75%, 61.90%, and 53.57% for tangibles, reliability, and assurance parameters, respectively. Furthermore, for the transparency parameter, students are satisfied, with 46.87%. On the other hand, based on the users, they are sufficiently satisfied, with 60% for professional and personal competencies and 55% for social competency. The “obstacles” (X2) and “solution” (X3) variables played a significant role in the satisfaction of internship and workshop programs at the Coastal Resources and Vulnerability Research Center RICRV

    Dampak Ekonomi Ekowisata Mangrove Bagi Masyarakat Lokal di Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat

    Get PDF
    Pengembangan ekowisata mangrove di Kecamatan Tarumajaya, Bekasi, Jawa Barat merupakan salah satu upaya pengelolaan kawasan mangrove yang memperhatikan aspek ekologi, ekonomi dan sosial. Penurunan jumlah kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun mengancam keberlanjutan ekowisata. Penelitian dilakukan pada bulan September—Desember 2024 dengan tujuan untuk menganalisis presepsi masyarakat terhadap kondisi, fungsi, dan manfaat ekosistem mangrove serta daya dukung ekowisata dan mengestimasi kontribusi ekonomi ekowisata terhadap pendapatan serta kecukupannya dalam memenuhi pengeluaran rumah tangga pelaku usaha dan tenaga kerja ekowisata. Wawancara dilakukan dengan 56 orang responden yang terdiri dari 52 pelaku usaha perahu wisata dan warung serta empat orang tenaga kerja sebagai petugas tiket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki persepsi yang baik terhadap kondisi, fungsi dan pengelolaan ekosistem mangrove melalui pengembangan ekowisata. Kontribusi ekonomi ekowisata bagi pelaku usaha berupa share pendapatan sebesar 44,90% dari total pendapatan, dengan nilai rataan pendapatan dari ekowisata sebesar Rp2Ẹ157.736,00 pertahun dan hanya memenuhi 49,43% dari pengeluaran rumah tangganya. Sedangkan kontribusi bagi tenaga kerja berupa share pendapatan 69,04% dari nilai rataan pendapatan dari sektor wisata senilai Rp18.735.750,00 pertahun, serta dapat memenuhi 78,71% dari pengeluaran rumah tangga. Tingkat persepsi yang baik menjadi faktor pendukung strategi pengembangan ekowisata sehingga dapat mengoptimalkan kontribusi ekonomi bagi masyarakat dengan tetap menjaga prinsip pengelolaan berkelanjutan. Pengelola ekowisata perlu menjadikan kedua ekowisata terpadu dalam satu tata kelola. Pemerintah Desa, Pemerintah Daerah, Perusahaan Umum Perhutani dan sektor swasta perlu bersinergi untuk membangun kembali ekowisata dengan perbaikan fasilitas, promosi wisata, dan pendampingan pengelolaan. Title: The Economic Impact of Mangrove Ecotourism in Tarumajaya District, Bekasi, West Java ProvinceThe development of mangrove ecotourism in Tarumajaya District, Bekasi, West Java, represents an effort to manage mangrove areas by integrating ecological, economic, and social considerations. However, the continued decline in tourist visits over the years poses a threat to the sustainability of this ecotourism initiative. This study, conducted from September to December 2024, aimed to analyze public perceptions regarding the condition, functions, and benefits of mangrove ecosystems, assess the carrying capacity of the ecotourism site, and estimate the economic contribution of ecotourism to household income, including its adequacy in covering the expenditures of business actors and ecotourism workers. Data were collected through interviews with 56 respondents, comprising 52 boat operators, food stall entrepreneurs, and four individuals working in ticketing. The findings indicate that respondents hold positive perceptions of the condition, function, and management of the mangrove ecosystem through ecotourism development. For business actors, ecotourism contributes an average of 44.90% to their total annual income, amounting to IDR24,157,736.00, although this only covers 49.43% of their household expenditures. For ecotourism workers, the sector contributes 69.04% of their total income, with an average of IDR18,735,750.00 annually, which covers 78.71% of household expenses. The generally favorable public perception serves as a supportive factor in formulating strategies for ecotourism development that enhance economic benefits while upholding sustainable management principles. To strengthen the sustainability and economic impact of ecotourism, integrated governance is essential. Collaboration among Village Governments, Regency, Perhutani (the state forestry company), and the private sector is necessary to revitalize ecotourism through improvements in infrastructure, promotional activities, and management support

    Formulasi dan Karakterisasi ‘Kecap Samud’ di Kabupaten Pulau Morotai

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah membuat kecap jeroan ikan tuna dengan penambahan sari buah nanas dan karakterisasi cita rasa kecap yang dihasilkan. Kecap hasil fermentasi jeroan ikan tuna dengan penambahan sari buah nanas ini kemudian diberi nama Kecap Samud. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2023 bertempat di Laboratorium Dasar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pasifik Morotai. Alat yang digunakan antara lain: baskom, blender, talenan, pisau, toples, sarung tangan, gelas ukur, spatula, kompor, wajan, penyaring, dan kertas saring. Bahan yang digunakan terdiri dari jeroan ikan tuna (jantung, hati, dan usus), sari buah nanas matang, dan garam. Pembuatan ‘Kecap Samud’ dilakukan dengan menambahkan sari buah nanas dengan konsentrasi yang berbeda yakni 0% (kontrol), 10%, 15%, dan 20% dengan jeroan ikan tuna, kemudian ditambah dengan garam sebanyak 30 gram. Kecap difermentasi selama 8 hari dalam wadah yang tertutup rapat di suhu ruangan. Setelah 8 hari, sampel direbus dengan suhu 600C selama 7 menit. Setelah 7 menit Saring hasil rebusan dan diamkan selama 12 jam untuk memastikan tidak ada endapan dalam kecap. Apabila masih terdapat endapan kecap disaring Kembali. Karakterisasi kecap dilakukan pada 30 panelis tidak terlatih, hasil penilaian dideskripsikan dalam gambar serta studi literatus sebagai pembanding. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kecap jeroan tuna dengan penambahan sari buah nanas berhasil dibuat dan diberi nama Kecap Samud. Karakteristik Kecap Samud dilihat secara hedonik atau tingkat kesukaan konsumen terhadap warna, rasa, aroma, dan kenampakan pada penambahan konsentrasi sari buah nanas 20% lebih tinggi dibandingkan yang lain

    Prototipe Instrumen Pengukur Kualitas Air Lepas Pasang pada Unmanned Surface Vehicle (USV)

    No full text
    Hadirnya wahana Unmanned Surface Vehicle (USV) membuat survei kualitas air pada wilayah perairan yang luas menjadi lebih mudah dan cepat serta dapat meminimalkan risiko pada pengambilan data di wilayah yang berbahaya. Namun, dikarenakan USV sering mengalami kerusakan terutama pada bagian propulsinya dan sulit dalam melakukan perawatan sensor maka diperlukan instrumen pengukur kualitas air yang dapat dilepas pasang. Penelitian ini bertujuan prototipe instrumen pengukur kualitas air yang dapat dilepas pasang pada USV dan mengukur seberapa efektifnya kinerja sensor pada instrumen tersebut. Pengukuran suhu menggunakan sensor suhu DS18B20, pH Module 4502C, TDS Meter DFRobot, dan GPS Ublox Neo-8M. Sedangkan, sistem komunikasi datanya menggunakan modul Long Range (LoRA) Ebyte E32 433T20D sebagai sistem dengan frekuensi gelombang radio 433 MHz. Hasil pengukuran menunjukkan tingkat akurasi sensor sudah sangat baik bahkan melebihi tingkat akurasi pada spesifikasi teknisnya namun untuk akurasi GPS masih rendah karena pengambilan data dilakukan pada kondisi cuaca berawan, Bagitu juga dengan kekuatan transmisi sinyal hanya optimal pada jarak <1.300 m. Di sisi lain, tingkat presisi sensor masih kurang baik sehingga pengukuran data menjadi tidak stabil dan berubah-ubah. Hasil olahan data kualitas air mampu divisualisasikan secara spasial karena terdapat data koordinat untuk setiap parameter kualitas air yang diukur

    Kinerja Produksi Ikan Nila Salin dengan Sistem Budidaya Bioflok pada Kolam Terpal di Daerah Istimewa Yogyakarta

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja pertumbuhan ikan nila salin yang dibudidaya dengan sistem bioflok. Karena sistem bioflok dinilai dapat menghemat penggunaan pakan, meningkatkan produktivitas budidaya, menghemat penggunaan air, dan dapat dilakukan dengan menggunakan kolam terpal atau kolam bulat. Ikan nila salin yang digunakan memiliki bobot rata-rata 10,6±0,48 gram. Penelitian ini dilakukan selama 90 hari. Penelitian ini dilakukan dengan 2 perlakuan, yaitu perlakuan A (pemeliharaan nila salin dengan sistem bioflok) dan perlakuan B (pemeliharaan nila salin tanpa sistem bioflok). Masing masing perlakuan memiliki 7 ulangan. Data yang diperoleh selama penelitian selanjutnya diuji statistika mengunakan SPSS versi 16.1 sedangkan uji T-Test digunakan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara perlakuan yang diberikan. Berdasarkan uji statisika diketahui bahwa laju pertumbuhan bobot rata-rata ikan antara perlakuan A dan B adalah tidak berbeda nyata. Sedangkan untuk rasio konversi pakan dan tingkat kelangsungan hidup memiliki hasil yang bebeda nyata, dimana perlakuan A lebih baik dari pada perlakuan B dengan nilai rasio konversi pakan perlakuan A sebesar 1,06 dan tingkat kelangsungan hidup 98%. Berdasarkan hasil penelitian ini maka budidaya nila salin sebaiknya dilakukan dengan sistem bioflok agar dapat menghemat pengunaan pakan dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik.This study aims to analyze the growth performance of saline tilapia fish cultivated with the biofloc system. Because the biofloc system is considered to be able to save feed usage, increase cultivation productivity, save water usage, and can be done using tarpaulin ponds/circular ponds. The saline tilapia fish used had an average weight of 10.6 ± 0.48 grams. This study was conducted for 90 days. This study was conducted with 2 treatments, namely treatment A (maintenance of saline tilapia fish with a biofloc system) and treatment B (maintenance of saline tilapia fish without a biofloc system). Each treatment has 7 replications. The data obtained during the study were then tested statistically using SPSS version 16.1, while the T-Test was used to determine whether there was an effect between the treatments. This indicates that the growth performance of saline tilapia fish in treatment A and treatment B was not significantly different. Meanwhile, for the feed conversion ratio and survival rate, the results were significantly different, where treatment A was better than treatment B with a feed conversion ratio value of treatment A of 1.06 and a survival rate of 98%. Based on the results of this study, saline tilapia cultivation should be carried out with a biofloc system to save feed usage and achieve a better survival rate

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇