eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Pemetaan Spasial Hasil Tangkapan Tuna Untuk Mendorong Program Pemerintah Tepat Sasaran (Studi Kasus: Maluku Utara)
Data produksi tuna Tahun 2019, 2020, dan 2021 di Provinsi Maluku Utara (Malut) dapat dipetakan secara spasial sehingga terlihat bahwa penambahan jumlah kapal dengan jenis dan ukuran tertentu akan menyebabkan peningkatan atau penurunan hasil produksi tuna. Jenis dan ukuran kapal merupakan variabel penjelas dengan kecenderungan memiliki pengaruh besar terhadap hasil produksi tuna berdasarkan nilai R-square dan CP Mallow’s. Selain jenis dan ukuran kapal, variabel penjelas lainnya adalah alat tangkap dan lokasi pendaratan ikan. Hasil pemetaan spasial menggunakan pendekatan Geographically Weighted Regression (GWR) ini menunjukkan pola yang berbeda setiap tahunnya. Kecuali, pada beberapa kabupaten seperti Halmahera Barat, Kepulauan Sula, dan Pulau Morotai yang cukup konsisten menunjukkan bahwa peningkatan produksi tuna terjadi jika ada penambahan kapal penangkap ikan ukuran di bawah 10 GT. Daerah-daerah ini merupakan produsen tuna tertinggi di Prov Malut. Penambahan produksi tuna tertinggi mencapai 450 ribu ton pada Tahun 2019 di Kepulauan Sula, 350 ribu ton pada 2020 di Pulau Morotai, dan 400 ribu ton pada 2021 di Halmahera Barat. Potensi tuna yang melimpah ini harus dijaga dan didukung dengan tata kelola yang baik oleh Pemerintah. Hasil analisis spasial tentang potensi produksi tuna ini dapat menjadi rekomendasi dalam menentukan daerah tujuan bantuan kapal perikanan beserta alat tangkapnya sehingga bantuan tersebut lebih efektif dan tepat sasaran. Daerah tujuan bantuan alat tangkap dan kapal perikanan paling direkomendasikan adalah daerah yang produksi tunanya paling melimpah, dengan catatan memperhatikan kebijakan Penangkapan Ikan Terukur. Title: Spatial Mapping of Tuna Catch Productionsto Encourage Targeted Government Aid (Case Study: Maluku Utara) una production data for 2019, 2020, and 2021 in North Maluku (Malut) Province can be mapped spatially so that it will be showed that the increase of the number of a certain fishing vessel type and size will lead to the increase or decrease of tuna.Fishing vessel type and size which are as the explanatory variables tend to have more influence on tuna production based on the R-square and CP Mallow’s. Apart from vessel type and size, other explanatory variables are fishing gear and fish landing sites. The results of spatial mapping using the Geographically Weighted Regression (GWR) approach show a different pattern each year. However, several regencies such as Halmahera Barat, Sula Islands, and Morotai Island are the potential areas if the number of operations of fishing vessels under 10 GT size is added. Additional tuna production could reach 450 thousand tons in 2019 in the Sula Islands, 350,000 tons in 2020 on Morotai Island, and 400 thousand tons in 2021 on Halmahera Barat. The abundant tuna potential of Malut Province has to be maintained and supported by a good governance by the Government. This spatial mapping information about tuna production can be used as a recommendation in determining the government aid target areas of fishing vessel and its fishing gear so that will lead to be more effective and targeted. The recommended target area of fishing gear and vessels are the area with the most abundant tuna production. The abundance of tuna production take the measured fishing policy into account
ANALISIS KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN TRAMMEL NET DI PERAIRAN WEDUNG KABUPATEN DEMAK
Demak memiliki wiliayah pantai dengan panjang 58 km dari Kecamatan Sayung, Karangtengah, Bonang, dan Wedung. Sebagian masyarakat di kecamatan tersebut berprofesi sebagai nelayan dengan beragam alat tangkap yang digunakan. Trammel net adalah alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan termasuk nelayan Desa Wedung untuk menangkap spesies target dan non target. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan trammel net, nilai Catch per Unit Effort (CPUE), dan biaya operasional untuk setiap trip nelayan Wedung, Demak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dilakukan dari bulan Desember 2023- Februari 2024. Pengambilan sampel ikan dilakukan dengan metode sensus yang diambil secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan belanak (Chelon planiceps) adalah ikan yang mendominasi hasil tangkapan trammel net. Ikan belanak yang diperoleh selama penelitian sebesar 52% dari keseluruhan hasil tangkapan. Hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis penting adalah udang putih (Penaeus merguiensis). Udang putih yang diperoleh selama penelitian sebesar 3% dari keseluruhan tangkapan. Nilai Catch per Unit Effort (CPUE) yang diperoleh selama penelitian menunjukkan hasil yang rendah yaitu 5,2 kg/trip. Biaya operasional yang dikeluarkan untuk sekali tripnya sebesar Rp 40.000,00 yang meliputi pembelian gas, rokok, dan makanan. Rentang keuntungan bersih yang diperoleh nelayan setiap trip berkisar antara Rp 10.000,00 – Rp 110.000,00
Prediksi Hasil Tangkapan Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang Didaratkan di PPN Prigi
Cakalang merupakan salah satu ikan pelagis yang penting dalam perikanan Indonesia, terutama sebagai komoditas ekspor. Salah satu penyumbang cakalang terbesar adalah PPN (Pelabuhan Perikanan Nusantara) Prigi. Namun, ancaman overfishing menjadi tantangan serius. Prediksi hasil tangkapan membantu menentukan kuota penangkapan yang aman agar stok ikan tetap lestari di masa depan. Maka dari itu, tujuan penelitian ini untuk menganalisis tren prediksi hasil tangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di Prigi. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari-Mei 2024 di PPN Prigi. Data yang diolah adalah data primer (hasil tangkapan pertrip) dan sekunder (data produksi perikanan di PPN Prigi). Keseluruhannya dianalisis menggunakan metode kuadrat terkecil (least square method). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai produksi yang fluktuatif mulai tahun 2018 hingga 2023. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 2021 dan terendah pada tahun 2019. Nilai regresinya dalah y = 85.1753+2.332x dan determinasi (R2) sejumlah 1. Prediksi hasil tangkapan cakalang yang didaratkan di PPN Prigi mulai 2024 hingga 2029. Setiap tahun diprediksi mengalami kenaikan sebesar 2.332 kg. Kondisi ini disebut dengan up trend. Hasil prediksi digunakan untuk pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan
Pengaruh PNBP Pasca Produksi Terhadap Pendapatan Nelayan Prigi
Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) bertujuan untuk mencapai keberlanjutan sumber daya perikanan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Namun, salah satu titik kritis yang menimbulkan ketidaksetujuan di kalangan nelayan adalah dampak finansial yang signifikan terhadap pendapatan mereka, terutama karena penerapan kebijakan ini tanpa subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan penerapan PNBP pasca produksi bagi kapal migrasi perijinan ke pusat, yang menjadi beban tambahan bagi nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pembayaran PNBP pasca produksi terhadap pendapatan dan produktivitas nelayan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung pada KM. Tresna, kapal yang berdomisili di PPN Prigi, dan dianalisis menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan PPN Prigi yang telah memiliki izin pusat atau melakukan migrasi menjadi kapal pasca produksi merasakan dampak finansial dari penerapan kebijakan PIT, terutama saat harga ikan rendah dan kualitas hasil tangkapan menurun. Perbedaan keuntungan antara masa pra produksi dan pasca produksi cukup mencolok, di mana pada masa pra produksi keuntungan mencapai Rp6.559.726.643, sedangkan pada masa pasca produksi turun menjadi Rp1.583.033.298. Musim penangkapan juga mempengaruhi produktivitas, di mana selama masa transisi dari pra produksi ke pasca produksi pada Agustus-Desember 2023, kapal hanya beroperasi sebanyak 4 trip dengan total tangkapan rata-rata 3.657 kg, dibandingkan dengan 9 trip dan total tangkapan rata-rata 11.733 kg pada periode yang sama di tahun 2022
Inventarisasi Perubahan Luas Mangrove Berbasis Webgis Di Kabupaten Karawang
WebGIS merupakan pengembangan sistem informasi geografi berbasis web yang terintegrasi dan bisa diakses melalui laman internet. Penelitian ini bertujuan untuk membuat WebGIS luas mangrove di Kabupaten Karawang pada tahun 2020 - 2024 menggunakan Sentinel 2A dengan metode Mangrove Vegetation Index (MVI). MVI merupakan indeks mangrove yang disederhanakan menggunakan band NIR, SWIR1, dan hijau untuk memetakan mangrove dengan cepat dan akurat. Penelitian ini dilakukan di 9 Kecamatan dan 19 Desa pesisir Kabupaten Karawang. Alat dan bahan yang digunakan yaitu Sentinel 2A yang di download dari Copernicus, dan software ArcMap, ArcGIS Online, dan ArcGIS Instant Apps. Terdapat 3 tahap prosedur kerja yaitu 1) tahap persiapan, dengan mempelajari software dan studi literatur, 2) tahap pengumpulan dan pengolahan data, 3) tahap akhir dengan menganalisis data dengan lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas mangrove pada tahun 2020 adalah 1632.16 Ha, yang kemudian mengalami kenaikan menjadi 2322.56 Ha pada tahun 2021 (terjadi penambahan luas mangrove sebesar 690,4 Ha). Sedangkan luas mangrove pada tahun 2021 ke 2022 menurun tajam hingga 510,92 Ha (tahun 2022 seluas 1811.64 Ha) Namun, pada tahun 2022 ke 2023 bertambah lagi sebesar 612,87 Ha (tahun 2023 seluas 2424.51 Ha), dan pada tahun 2023 ke 2024 terjadi penurunan luas mangrove lagi sebesar 366,15 Ha (tahun 2024 seluas 2058.36 Ha). Peningkatan dan penurunan luasan mangrove terjadi secara rutin tiap 1 tahun. Hal ini disebabkan oleh keberhasilan konservasi mangrove, maupun dampak buruk alam dan faktor antropogenik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penentuan arah pengelolaan mangrove di Kabupaten Karawan
KEBIJAKAN PENGELOLAAN SAMPAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA KARANGANTU
Pengelolaan pelabuhan perikanan semakin berkaitan dengan isu lingkungan akibat meningkatnya aktivitas operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas kebijakan pengelolaan sampah di pelabuhan perikanan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan dan analisis deskriptif di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu belum memiliki regulasi yang mengatur pengelolaan sampah secara spesifik. Selain itu, terbatasnya sumber daya dan rendahnya partisipasi masyarakat menyebabkan pengelolaan sampah masih dilakukan secara konvensional. Tingginya volume sampah dari aktivitas nelayan, pedagang ikan, dan masyarakat pengguna jasa, menuntut penerapan pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis kemitraan guna mengurangi limbah di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu.The management of fishing ports is increasingly associated with environmental issues due to an increased in operational activities. This research aims to review the waste management policies in fishing ports. The method used is a qualitative approach through field observations and descriptive analysis at the Karangantu Nusantara Fishing Port. The research results indicate that the Karangantu Nusantara Fishing Port has not yet established specific regulations governing waste management. In addition, limited resources and low community participation have resulted in waste management still carried out using conventional methods. The high volume of waste generated by fishermen, fish traders, and service users necessitates the implementation of sustainable waste management through partnerships to reduce waste at Karangantu Nusantara Fishing Port
Innovation Caulerpa spp Cultivation in Controlled Tank Supporting the Blue Economy Program
One type of seaweed that has economic potential with very large market opportunities and tends to increase is Caulerpa spp. This type of macroalgae has many benefits and benefits besides being able to be consumed directly, processed as a side dish or snack and as a raw material for medicines, cosmetics and biostimulants so that in its development it has high economic value. Caulerpa cultivation technology in ponds has been popularized since 2011 by the Takalar Brackish Water Aquaculture Fisheries Center, but there are still many obstacles that affect the success of it. Including the limitations of the pond land environment, climate and water quality, so that aquaculture technology innovation is needed to be found in overcoming these problems. Cultivationin controlled tubs (indoor). The system is controlled for climate and environmental problems that affect production can be overcome and the availability of stock can be controlled. From the study of cultivation in controlled tubs, it resulted in an average daily specific growth of 15.57+1.79% with a multiple of production to the average planting weight of 4.19+0.82. The technical data shows that the cultivation of Caulerpa spp seaweed in controlled tubs can maintain the sustainability of cultivation and is profitable so that it is developed even more to support the government's program in succeeding the marine and fisheries Blue Economy concept
Implementasi Program Fish Apartment Untuk Jadikan Laut Sehat, Nelayan Hebat Dan Mandiri (FUJI LESTARI) Sebagai Upaya Konservasi Lingkungan Di Desa Bangsring, Banyuwangi
FUJI LESTARI (Fish-Apartment untuk Jadikan Laut Sehat, Nelayan Hebat dan Mandiri) merupakan program pemberdayaan masyarakat berupa pemberian bantuan, pendampingan, dan bimbingan / pelatihan teknis terhadap kelompok nelayan di Indonesia. Fish-apartment merupakan salah satu inovasi Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang. Inovasi ini mendukung SDGs ke-14 yaitu manfaat untuk kehidupan bawah laut dan telah diakui pemerintah untuk menjadi program prioritas nasional. Fish-apartment merupakan suatu struktur di bawah air dari bahan Polypropylene (PP) yang dirangkai menjadi 1 modul. Sebanyak +10.000 modul telah ditenggelamkan di 34 provinsi mulai tahun 2011 – 2023. Terdapat +200 kelompok yang terdiri dari +8000 nelayan telah dilibatkan dan merasakan dampak dari fish-apartment di Indonesia. Salah satu daerah percontohan yang sukses memanfaatkan fish-apartment adalah Bangsring Underwater, Kab. Banyuwangi. Fish-apartment berhasil memulihkan ekosistem perairan yang rusak / terdegradasi dan meningkatkan hasil tangkapan nelayan hingga 80%. Secara nasional, fish-apartment telah menyumbang dampak ekonomi mencapai 1,2 triliun rupiah per tahun. Keberhasilan FUJI LESTARI merupakan bentuk nyata dari pelayanan publik yang dilakukan BBPI. Salah satu tugas dan fungsinya adalah melakukan uji terap teknologi tepat guna pada masyarakat dengan terus berkolaborasi bersama stake holder perikanan tangkap. BBPI berkomitmen akan terus melaksanakan FUJI LESTARI untuk mewujudkan Laut Sehat, Nelayannya Hebat dan Mandir
Pengaruh Penambahan Tepung Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Pada Biskuit Sebagai Sumber Serat
Biskuit merupakan salah satu produk roti kering yang dipanggang dari adonan tepung terigu dan umumnya disukai oleh semua lapisan masyarakat, serta banyak dikonsumsi oleh anak-anak dan orang dewasa. Rumput laut Eucheuma cottonii memiliki kandungan serat yang mencapai 65.5%. Penambahan tepung rumput laut jenis Eucheuma cottonii pada biskuit sebagai sumber serat pangan alami merupakan salah satu diversifikasi produk dengan harga terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi terbaik penambahan tepung rumput laut yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk pembuatan biskuit yang kaya akan serat. Penambahan tepung rumput laut menggunakan konsentrasi 0, 3, 6, dan 9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung rumput laut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan serat dari biskuit, dimana rata-rata kadar serat tiap konsentrasi 2.40±0.06 (0%), 2.75±0.02 (3%), 3.55±0.01 (6%), dan 4.52±0.04 (9%). Kadar serat tertinggi diperoleh pada penambahan tepung rumput laut dengan konsentrasi 9%. Semakin tinggi konsentrasi tepung rumput laut, semakin tinggi kadar serat yang didapatkan pada biskuit.
IMPROVED DESIGN AND ACCURACY OF REAL-TIME WATER QUALITY AND FILTERING SYSTEMS FOR APPLICATION IN IOT-BASED AQUACULTURE
Maintaining optimal water quality is essential in fish farming, as fluctuations in key parameters, such as pH, turbidity, and dissolved compounds, can lead to stress, disease, and even fish death. This study aimed to design and develop an Internet of Things (IoT)-based water quality monitoring and filtration system that can operate in real-time to support the sustainability of aquaculture. This system integrated pH, turbidity, total dissolved solids (TDS), and ultrasonic sensors with Arduino Uno and ESP32 microcontrollers. Sensor data was transmitted in real-time to an Android application, which displayed it on an LCD, allowing users to monitor water quality and receive alerts when parameters deviated from optimal thresholds. The test results demonstrated a high level of sensor accuracy, specifically 96.51% for pH, 98.19% for TDS, and 97.03% for turbidity, as determined through comparisons with laboratory equipment, commercial devices, and manual measurements. The effectiveness of the filtration system was also proven to be significant: turbidity was reduced by an average of 58.87%, TDS decreased by 26.80%, and pH values became more stable within the optimal range for aquaculture with an improvement of 7.3%. This system was able to maintain the variation of the main water quality parameters within the ranges for raw and drinking water stipulated in Indonesian Government Regulation No. 22 of 2021 and Regulation of the Minister of Health No. 492 of 2010. This improved design is arguably more efficient than conventional methods because it reduces the need for labor and provides early warning of changes in water quality. Menjaga kualitas air yang optimal sangat penting dalam budidaya ikan, karena fluktuasi parameter utama seperti pH, kekeruhan, dan kandungan zat terlarut dapat menyebabkan stres, penyakit, hingga kematian pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan sistem pemantauan dan penyaringan kualitas air berbasis internet of things (IoT) yang dapat beroperasi secara real-time untuk mendukung keberlanjutan akuakultur. Sistem ini mengintegrasikan sensor pH, turbiditas, total dissolved solids (TDS), dan sensor ultrasonik dengan mikrokontroler Arduino Uno dan ESP32. Data sensor ditransmisikan secara real-time ke aplikasi Android dan ditampilkan melalui LCD, memungkinkan pengguna memantau kualitas air dan menerima peringatan ketika parameter menyimpang dari ambang batas optimal. Hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi sensor yang tinggi, yaitu 96,51% untuk pH, 98,19% untuk TDS, dan 97,03% untuk kekeruhan, berdasarkan perbandingan dengan alat laboratorium, perangkat komersial, dan pengukuran manual. Efektivitas sistem filtrasi juga terbukti signifikan: kekeruhan berkurang rata-rata 58,87%, TDS menurun sebesar 26,80%, dan nilai pH menjadi lebih stabil dalam kisaran optimal untuk akuakultur dengan perbaikan sebesar 7.3%. Sistem ini telah memenuhi ketentuan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 untuk kualitas air baku dan minum. Sistem ini terbukti lebih efisien dibanding metode konvensional karena mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan memberikan peringatan dini terhadap perubahan kualitas air