eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
ANALYSIS OF HEAVY METAL CONTENT IN WATER, SEDIMENT, AND FISH IN THE WATERS OF DUMAI CITY, RIAU PROVINCE
The waters of Dumai City, located in Riau Province and directly connected to the Malacca Strait, are highly accessible both locally and internationally. The coastal area is characterized by intensive human settlements and diverse industrial activities, including oil and gas, crude palm oil (CPO), and cement industries, which discharge wastes that may affect marine biota. Most of these wastes are transported to the sea through river flows, posing a serious threat to the ecological balance and aquatic organisms, particularly fish, with potential risks to human consumers. This study aimed to examine the physicochemical parameters of the waters and to determine the concentration and status of cadmium (Cd) and lead (Pb) in water, sediment, and fish. The research was conducted from April to June 2025 using survey, observation, and experimental methods in both field and laboratory settings. Data were analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) to measure the actual concentrations of heavy metals. The results were compared with the threshold values established by the Indonesian Ministry of Environment Decree No. 51/2004 concerning marine water quality standards for aquatic biota. The findings revealed that the physicochemical parameters, including water temperature, salinity, and dissolved oxygen (DO), remain supportive of aquatic life according to the standards. However, the concentrations of Pb and Cd in water, sediment, and fish samples exceeded the permissible limits, indicating pollution in Dumai waters
POTENSI BIJI DAN DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas) SEBAGAI SUMBER PROTEIN ALTERNATIF DAN IMUNOSTIMULAN DALAM MENDUKUNG AKUAKULTUR BERKELANJUTAN: KAJIAN PUSTAKA
Krisis pangan global dan tingginya kebutuhan protein hewani menuntut adanya sumber protein alternatif yang berkelanjutan dalam akuakultur. Ketergantungan pada tepung ikan sebagai bahan pakan utama menghadapi kendala berupa keterbatasan pasokan dan fluktuasi harga, sehingga diperlukan eksplorasi bahan nabati dengan potensi tinggi, antara lain jarak pagar (Jatropha curcas). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji potensi jarak pagar sebagai sumber protein alternatif dalam pakan akuakultur. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur atau kajian pustaka. Data diperoleh dengan mempelajari teori, konsep, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik. Sumber kajian berasal artikel jurnal bereputasi nasional, internasional dan prosiding yang diterbitkan dari tahun 2010-2025. Proses pengumpulan literatur dilakukan melalui berbagai basis data seperti Scopus, Web of Science, PubMed, MDPI, Springer Link dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci yang sesuai.Hasil kajian menunjukkan bahwa jarak pagar mengandung protein tinggi 56–64% dengan profil asam amino lengkap serta senyawa bioaktif (flavonoid 0,09–2,92%, saponin 0,092–3,5%, tanin 0.0049–0,395%, fenolik 0,48-38%, alkaloid 0,070-0,50% terpenoid 0,022%) yang berfungsi sebagai imunostimulan. Proses detoksifikasi mampu menurunkan kandungan antinutrisi hingga 85%. Aplikasinya dalam pakan mampu menggantikan tepung ikan dan kedelai sebesar 10–40%, meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan, respons imun, dan kelangsungan hidup organisme budidaya hingga 88,3%. Kajian ini menyimpulkan jarak pagar memiliki potensi sebagai sumber protein alternatif dalam pakan akuakultur karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan keberadaan senyawa bioaktif yang bermanfaat melalui metode pengolahan yang tepat. Namun, pemanfaatannya masih terbatas oleh kandungan senyawa toksik yang memerlukan proses detoksifikasi efektif dan aman. Tantangan riset ke depan mencakup optimalisasi teknologi detoksifikasi dan analisis kelayakan aplikasinya dalam skala industri.The global food crisis and the increasing demand for animal protein necessitate sustainable alternative protein sources in aquaculture. Dependence on fishmeal as the primary feed ingredient faces challenges due to limited supply and fluctuating prices, making it essential to explore high-potential plant-based materials such as Jatropha curcas. This article aims to review the potential of Jatropha curcas as a protein source alternative in aquaculture feed. The research employed a qualitative method through a literature review, analyzing theories, concepts, and previous studies relevant to the topic. The data sources were peer-reviewed national and international articles and conference proceedings published between 2010 and 2025. Literature was collected from various databases, including Scopus, Web of Science, PubMed, MDPI, Springer Link, and Google Scholar, using predetermined keywords. The findings indicate that Jatropha curcas contains high protein (56–64%) with a complete amino acid profile and bioactive compounds (flavonoids 0.09–2.92%, saponins 0.092–3.5%, tannins 0.0049–0.395%, phenolics 0.48–38%, alkaloids 0.070–0.50%, terpenoids 0.022%) that function as immunostimulants. Detoxification processes can reduce antinutritional factors by up to 85%. Its application in aquafeed can substitute 10–40% of fishmeal and soybean meal, improving growth, feed efficiency, immune response, and survival rate of cultured organisms up to 88.3%. This review concludes that Jatropha curcas has strong potential as an alternative protein source in aquaculture feed due to its high nutritional content and beneficial bioactive compounds when processed appropriately. However, its utilization remains constrained by toxic compounds that require effective and safe detoxification. Future research challenges include optimizing detoxification technologies and evaluating the plant feasibility for industrial-scale applications
PRODUKTIVITAS TANGKAPAN BENIH BENING LOBSTER (Panulirus spp.) PADA KEDALAMAN KOLEKTOR BERBEDA ALAT TANGKAP POCONGAN SISTEM RAKIT DI PERAIRAN PESISIR PRIGI, JAWA TIMUR
Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lobster duri (Panulirus spp.) melalui kegiatan budidaya perairan layak untuk direalisasikan guna memenuhi peningkatan permintaan ekspor. Akan tetapi kebutuhan Benih Bening Lobster (BBL) masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Penangkapan BBL di perairan pesisir Prigi menggunakan Alat Tangkap Pocongan (ATP) (Kode 10.8). Terkait dengan hal tersebut, permasalahan yang mendesak untuk dipecahkankan adalah pada kedalaman berapa posisi pemasangan kolektor ATP yang paling produktif menghasilkan tangkapan BBL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman pemasangan Kolektor Pocongan (KP) (A) pada Alat Tangkap Pocongan Sistem Rakit (ATPSR) terhadap jumlah tangkapan BBL (B). Penelitian menggunakan metode eksperimen, dengan menggunakan 2 unit ATPSR yang dioperasikan di perairan pesisir Teluk Prigi. Terdapat 3 macam kedalaman KP, yaitu KP di permukaan perairan (A1); di pertengahan perairan (A2); dan di dasar perairan (A3). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2022. Hasil penelitian menunjukkan rerata ± SD hasil tangkapan BBL per KP berturut-turut dari yang tertinggi adalah A3: 6,2 (± 5,0) ekor, A2: 0,9 (± 0,7) ekor, dan terakhir A1: 0,3 (± 0,3). Disimpulkan bahwa faktor kedalaman KP berpengaruh nyata (Sig. 0,00) terhadap jumlah tangkapan BBL. Perlakuan A1 dan A2 tidak berbeda nyata, sedangkan A3 berbeda nyata dengan A1 dan A2. Secara deskriptif, total hasil tangkapan BBL berdasarkan spesies tertinggi dalam persen adalah Lobster Pasir (Panulirus homarus) 59,3%, Lobster Mutiara (Panulirus ornatus) 27,6%, Lobster Bambu (Panulirus versicolor) 11,6%, dan Lobster Batu (Panulirus penicillatus) 1,5%. Peneliti menyarankan untuk melakukan kajian lebih lanjut mengenai rekayasa ATPSR untuk meningkatkan produktivitas hasil tangkapan BBL
EFISIENSI OPERASIONAL DAN DINAMIKA MANAJEMEN ABK PADA KAPAL PURSE SEINE KM SINAR HARAPAN 88 DI PPN SIBOLGA
This study aims to analyze the operational efficiency and crew management dynamics on the purse seine vessel KM Sinar Harapan 88, based at the Nusantara Fisheries Port (PPN) in Sibolga. The main issue addressed is how onboard organizational structure and internal factors influence the effectiveness of the fishing process, particularly during the hauling stage, which consumes the most time. The research employed a participatory observation method over a 19-day active fishing voyage, combined with structured interviews involving 15 crew members and the captain. Quantitative data were analyzed using multiple linear regression to assess the influence of the number of active crew, setting duration, and weather conditions on hauling time. The results indicate that a well-structured workflow, clear task distribution, and efficient coordination significantly contribute to smooth vessel operations. The average duration of one fishing cycle (setting–hauling–handling) is approximately 2.5 hours, with hauling accounting for the largest portion of time (±43%). Regression analysis revealed that both the number of active crew members and setting duration had a statistically significant effect on hauling time (p < 0.05), whereas weather conditions did not show a statistically significant impact. These findings emphasize that operational efficiency on purse seine vessels is more strongly influenced by human.
EVALUASI SOLUSI DAN RENCANA AKSI UNTUK PERMASALAHAN LOGISTIK DI PT. PERINDO
Distribusi hasil perikanan yang tidak efisien menjadi penyebab utama menurunnya kinerja operasional PT Perikanan Indonesia (Persero). Penelitian ini bertujuan merancang model logistik yang efisien menggunakan pendekatan Soft Systems Methodology (SSM) tahap 3 hingga 7. Permasalahan dianalisis melalui diagram fishbone dan pendekatan CATWOE untuk empat aspek utama logistik: pengadaan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi distribusi dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi baru dan cool system dalam pengadaan, sistem pemantauan suhu berbasis IoT dalam penyimpanan, sistem penjadwalan digital dalam transportasi, serta penerapan sistem ERP dalam distribusi. Rencana aksi juga mencakup pembentukan KUB, penambahan cold storage portable, dan peningkatan koordinasi mitra. Lokasi optimal fasilitas distribusi ditentukan dengan metode Centre of Gravity dan divalidasi melalui metode AHP, menghasilkan lokasi rekomendasi di Pergudangan Pantai Indah Dadap. Hasil ini menunjukkan perlunya integrasi teknologi dan penguatan inßastruktur untuk membangun sistem distribusi hasil perikanan yang efisien, berkelanjutan, dan mendukung pemulihan kinerja perusahaan.TITLE: EVALUATION OF SOLUTION AND ACTION PLANS FOR LOGISTICS PROBLEMS AT PT. PERINDODistribusi hasil perikanan yang tidak efisien menjadi penyebab utama menurunnya kinerja operasional PT Perikanan Indonesia (Persero). Penelitian ini bertujuan merancang model logistik yang efisien menggunakan pendekatan Soft Systems Methodology (SSM) tahap 3 hingga 7. Permasalahan dianalisis melalui diagram fishbone dan pendekatan CATWOE untuk empat aspek utama logistik: pengadaan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi distribusi dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi baru dan cool system dalam pengadaan, sistem pemantauan suhu berbasis IoT dalam penyimpanan, sistem penjadwalan digital dalam transportasi, serta penerapan sistem ERP dalam distribusi. Rencana aksi juga mencakup pembentukan KUB, penambahan cold storage portable, dan peningkatan koordinasi mitra. Lokasi optimal fasilitas distribusi ditentukan dengan metode Centre of Gravity dan divalidasi melalui metode AHP, menghasilkan lokasi rekomendasi di Pergudangan Pantai Indah Dadap. Hasil ini menunjukkan perlunya integrasi teknologi dan penguatan infrastruktur untuk membangun sistem distribusi hasil perikanan yang efisien, berkelanjutan, dan mendukung pemulihan kinerja perusahaan
IMPLEMENTATION OF A WEB-BASED REAL-TIME MONITORING SYSTEM FOR VIBRATION, TEMPERATURE, AND NOISE OF REFRIGERATION MACHINES WITH MICROCONTROL
Real-time monitoring of vibration, temperature, and noise in refrigeration machines using microcontrollers is still rarely discussed, although it plays a crucial role in maintaining machine performance and supporting decision-making for predictive maintenance. This research aims to design and implement a microcontroller-based monitoring system capable of measuring and recording machine operational parameters in real-time with adequate accuracy. The system uses an accelerometer sensor for vibration detection, an infrared thermometer for temperature measurement, and an electret microphone for noise monitoring. The data is processed by a microcontroller equipped with an SD card module for storage and a WiFi connection for remote access via the web. The test results show that this device can detect changes in vibration with an Mean Absolute Error value of 0.34 m/s², temperature with a Mean Absolute Percentage Error value of 1.35%, and provides real-time data that can be accessed wirelessly through other devices connected to the WiFi network. The contribution of this research lies in providing a monitoring solution that improves operational efficiency, minimizes the risk of downtime, and supports the optimal management and maintenance of refrigeration machines.
EVALUASI KESESUAIAN KUALITAS AIR TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANAME SUPRAINTENSIF DENGAN STANDAR OPTIMUM (STUDI KASUS DI DESA JALANGE, KECAMATAN MALLUSETASI, KABUPATEN BARRU, SULAWESI SELATAN)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian parameter kualitas air pada tambak udang vaname (Litopenaeus vannamei) sistem supraintensif di Desa Jalange, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Pengamatan dilakukan selama satu siklus pemeliharaan (104 hari) pada kolam berukuran 900 m² dengan padat tebar 600 ekor/m². Parameter kualitas air yang diamati meliputi fisika (suhu, kecerahan, ketinggian air, warna air, dan cuaca), kimia (pH, salinitas, oksigen terlarut, amonium, amonia, nitrit, nitrat, fosfat, hidrogen sulfida dan total bahan organik), dan biologi (total bakteri dan bakteri Vibrio). Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil pengukuran terhadap kisaran optimal yang direkomendasikan oleh Permen KP No. 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air masih berada pada rentang yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang, meskipun terdapat beberapa kondisi yang perlu diantisipasi, seperti peningkatan pH pada sore hari. Sementara itu, hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi amonium (NH4), amonia bebas (NH3), nitrit (NO2), dan nitrat (NO3) mengalami fluktuasi selama masa pemeliharaan, dengan beberapa nilai berada di atas ambang optimal. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa sebagian besar kualitas air tambak masih sesuai untuk budidaya. Namun peningkatan pengawasan dan pengendalian terhadap amonium, nitrat, dan nitrit direkomendasikan untuk mencegah akumulasi senyawa toksik yang berpotensi menghambat performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname.This study aimed to analyze the suitability of water quality parameters in a super-intensive white shrimp (Litopenaeus vannamei) pond system located in Jalange Village, Mallusetasi District, Barru Regency, South Sulawesi. Observations were conducted over one production cycle (104 days) in a 900 m² pond stocked at a density of 600 individuals m-2. The monitored water quality parameters included physical variables (temperature, water transparency, water depth, water color, and weather conditions), chemical variables (pH, salinity, dissolved oxygen, ammonium, unionized ammonia, nitrite, nitrate, phosphate, hydrogen sulfide, and total organic matter), and biological variables (total bacterial count and Vibrio spp.). The data were analyzed descriptively by comparing the measured values with the optimal ranges recommended by the Regulation of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries (Permen KP) No. 75 of 2016. The results showed that most water quality parameters remained within ranges that support shrimp growth and survival, although certain conditions required attention, such as elevated pH levels during the afternoon. Furthermore, the concentrations of ammonium (NH4), unionized ammonia (NH3), nitrite (NO2), and nitrate (NO3) fluctuated throughout the culture period, with several measurements exceeding the optimal thresholds. In conclusion, the overall water quality of the pond was generally suitable for shrimp culture. However, enhanced monitoring and control of ammonium, nitrite, and nitrate are recommended to prevent the accumulation of toxic compounds that may adversely affect the growth performance and survival of white shrimp
THE INFLUENCE OF WOTON (Sterculia shillinglawii) LEAVES MEAL SUPPLEMENTATION ON THE GROWTH AND DIGESTIBILITY PERFORMANCES OF TILAPIA (Oreochromis niloticus) JUVENILES
This study aimed to evaluate the effect of Woton (Sterculia shillinglawii) leaves meal supplementation on the growth performance and digestibility of tilapia (Oreochromis niloticus) juveniles. The treatments consisted of Woton leaves meal at inclusion levels of 0% (A), 5% (B), 10% (C), 15% (D), and 20% (E), with each treatment replicated three times. The observed parameters included average daily growth (ADG), average body weight (ABW), growth rate (GR), specific growth rate (SGR), survival rate (SR), feed conversion ratio (FCR), and feed efficiency (FE), as well as protein digestibility and total digestibility. Analysis of variance showed no significant differences in ADG, ABW, GR, and SR among the treatments. However, Treatment B recorded a relatively higher SGR (2.73 ± 0.44% day-1) compared to the other treatments (P < 0.05). The analysis of digestibility revealed significant differences. Treatment C (15% inclusion level) resulted in the highest protein digestibility (99.39 ± 0.02%) and total digestibility (99.37 ± 0.01%), while a lower FCR (1.76 ± 0.24) and a higher FE (57.59 ± 7.85%) were found in Treatment B (P<0.05). This study highlighted that despite Woton leaves meal improving fish digestibility and feed efficiency, its supplementation in fish feed should be limited to 5-10% due to the adverse effects of its flavonoid compounds. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi tepung daun Woton (Sterculia shillinglawii) terhadap kinerja pertumbuhan dan kecernaan juvenil ikan nila (Oreochromis niloticus). Perlakuan terdiri atas tepung daun Woton pada tingkat inklusi 0% (A), 5% (B), 10% (C), 15% (D), dan 20% (E), dengan setiap perlakuan diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi rata-rata pertumbuhan harian (RPH), rata-rata bobot tubuh (RBT), laju pertumbuhan (LP), laju pertumbuhan spesifik (LPS), tingkat kelangsungan hidup (TKH), rasio konversi pakan (RKP), dan efisiensi pakan (EP) serta kecernaan protein dan kecernaan total. Analisis varians tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada RPH, RBT, LP, dan TKH di antara perlakuan. Namun, Perlakuan B menunjukkan LPS yang relatif lebih tinggi (2,73 ± 0,44% hari-1) dibanding dengan perlakuan lainnya (P<0,05). Analisis kecernaan mengungkapkan perbedaan yang signifikan. Perlakuan C (tingkat inklusi 15%) menghasilkan kecernaan protein tertinggi (99,39 ± 0,02%) dan kecernaan total tertinggi (99,37 ± 0,01%), sedangkan RKP yang lebih rendah (1,76 ± 0,24) dan EP yang lebih tinggi (57,59 ± 7,85%) ditemukan pada Perlakuan B (P<0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tepung daun Woton meningkatkan kecernaan dan efisiensi pakan ikan, suplementasinya pada pakan ikan sebaiknya dibatasi hingga 5-10% karena dampak negatif senyawa flavonoid yang dikandungnya
PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK KUNYIT DAN TEMULAWAK PADA MEDIA KULTUR TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS CACING SUTERA (Tubifex sp.)
Cacing sutera (Tubifex sp.) merupakan organisme akuatik yang memiliki peran strategis dalam sektor akuakultur sebagai pakan alami bagi ikan. Kualitas organisme ini sangat memengaruhi efektivitas budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan serbuk kunyit (Curcuma longa) dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dalam pakan terhadap produktivitas dan kualitas Tubifex sp. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan: P0 (tanpa tambahan), P1 (2,5 g kunyit + 7,5 g temulawak), P2 (5 g kunyit + 5 g temulawak), dan P3 (7,5 g kunyit + 2,5 g temulawak), masing-masing per 100 g pakan. Pemberian pakan dilakukan setiap 3 hari sebanyak 1140 g m-² selama 21 hari. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa suplementasi serbuk kunyit dan temulawak secara signifikan meningkatkan pertumbuhan bobot dan produktivitas Tubifex sp., dengan P2 memberikan hasil terbaik (317,54 ± 13,16 g dan 2646,18 ± 109,74 g m-² siklus-1) (P<0,05). Penyerapan kurkumin tertinggi tercatat pada P2 sebesar 44,32 ± 11,30 mg kg-1 (P<0,05). Uji mikrobiologis menunjukkan bahwa semua perlakuan bebas dari kontaminasi Salmonella sp. dan Escherichia coli. Penelitian ini mengindikasikan bahwa penambahan serbuk kunyit dan temulawak dalam pakan dapat meningkatkan mutu dan keamanan Tubifex sp. dalam budidaya. Culturing Silkworms (Tubifex sp.) as a highly nutritious natural feed for farmed fish has been limited due to reliance on wild supply and limitation on reliable growth medium. This study aimed to assess the effects of addition of turmeric (Curcuma longa) and Javanese turmeric (Curcuma xanthorrhiza) powders in culture media on the productivity and quality of Tubifex sp. The study was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) with four treatments: P0 (no addition), P1 (2.5 g turmeric + 7.5 g Javanese turmeric), P2 (5 g turmeric + 5 g Javanese turmeric), and P3 (7.5 g turmeric + 2.5 g Javanese turmeric), per 100 g of feed for each treatment. Feeding was done every 3 days at a dose of 1140 g m-² for 21 days. Data were analyzed using ANOVA and Duncan's test. Results showed that turmeric and Javanese turmeric powders supplementation significantly increased Tubifex sp. weight growth and productivity, with P2 giving the best results (317.54 ± 13.16 g and 2646.18 ± 109.74 g m-² cycle-1) (P<0.05). The highest curcumin absorption was recorded in P2 at 44.32 ± 11.30 mg kg-1 (P<0.05). Microbiological tests showed that all treatments were free from Salmonella sp. and Escherichia coli contamination. This study indicated that addition of turmeric and Javanese turmeric powders in feed could improve the quality and safety of Tubifex sp. in aquaculture
Keanekaragaman Makrozoobentos pada Ekosistem Padang Lamun di Karimunjawa
Ekosistem lamun pada Perairan Pulau Menjangan Kecil dan Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa merupakan habitat untuk komunitas makrozoobentos. Makrozoobentos adalah organisme yang hidup pada dasar perairan yang merupakan bagian dari rantai makanan. Makrozoobentos dapat digunakan sebagai bio-indikator untuk menentukan kualitas suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas makrozoobentos di Pulau Menjangan Kecil dan Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa. Metode yang digunakan yaitu metode purposive pada bulan Oktober. Terdapat 2 stasiun penelitian yaitu stasiun 1 di Pulau Menjangan Kecil dan stasiun 2 di Pulau Menjangan Besar. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lamun pada kedua stasiun penelitian yaitu Thalassia hempricii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata dan Halophila ovalis. Berdasarkan hasil perhitungan tutupan lamun, kepadatan lamun pada Pulau Menjangan Kecil lebih tinggi yaitu 45,27% dibandingkan dengan Pulau Menjangan Besar dengan nilai 31,7%. Indeks ekologi yaitu indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi pada Pulau Menjangan Kecil berturut-turut yaitu H’ = 2,4 ; E = 1 dan C = 0,11, sedangkan pada Pulau Menjangan Besar memperoleh hasil H’ = 2,2 ; E = 0,85 dan C = 0,14. Kondisi tutupan lamun kedua pulau memiliki kategori sedang. Struktur komunitas makrozoobentos pada kedua stasiun tergolong dalam kondisi yang baik karena kondisi perairan tersebut tidak tercemar. Berdasarkan perhitungan indeks ekologi, keanekaragaman makrozoobentos pada Pulau Menjangan Kecil lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Menjangan Besar. Kata Kunci: Lamun ; Makrozoobentos ; Struktur Komunitas ; Pulau Menjanga