eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Kelayakan Dasar Pengolahan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Dalam Kaleng Dengan Media Saus Tomat di CV. IJP, Muncar-Jawa Timur
Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) merupakan komoditas perikanan pelagis yang bernilai ekonomis dikalangan masyarakat dan menjadi sumber protein penting bagi penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk menilai penerapan GMP dan SSOP pada proses produksi ikan lemuru dalam kaleng dengan media saus tomat. Metode penelitian melalui observasi dan wawancara. Metode kerja mengikuti penerapan GMP dan SSOP dari penerimaan bahan baku hingga pemuatan dengan menguji mutu organoleptik, bobot tuntas, kimia, pengukuran suhu. Penilaian Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) mengacu PermenKP No.17 Pada tahun 2019. Hasil penelitian GMP dan SSOP telah dilaksanakan dengan baik sesuai standar SNI. Hasil pengujian mutu organoleptik bahan baku adalah 7,9. Pengujian histamin bahan baku 35 ppm, produk lemuru kaleng 35 ppm. Bobot tuntas sebesar 59,75%. Penerapan suhu dilakukan dengan baik, yaitu penerimaan bahan baku segar adalah 3,7°C, penyimpanan dingin 3,7°C, penyiangan 5,3°C, pencucian 17,8°C, pengisian ikan dalam kaleng 21,3°C dan precooking 100°C. sterilisasi retort 117°C, pendinginan 40,2°C. Kelayakan dasar pengolahan lemuru dalam kaleng telah dilakukan sesuai persyaratan dasar. Pada kuiseioner meliputi GMP, SSOP, dan SKP terdapat klausul yang perlu diperhatikan lebih lanjut atau harus diperbaiki yaitu klausul III ”Bangunan pada lantai”, aspek yg dinilai yaitu adanya pecahan lantai di ruang proses dan klausul XIX “Peningkatan kemampuan/keterampilan SDM”. Karyawan masih ditemukan tidak menjalankan SOP dengan benar yaitu pencucian alat dan ikan yang jatuh. Karyawan banyak yang tidak mematuhi protokol seperti sering melepas masker saat produksi. Hasil penilaian hasil SKP menunjuk rating baik sekali (A). Data ini didapat berdasarkan 2 temuan minor
Penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) Dan Sanitation Standar Operating Procedure (SSOP) Pada Pengolahan Abon Ikan Bandeng (Chanos chanos) Di UMKM XXX
Penelitian ditujukan untuk menganalisis penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) proses pembuatan abon ikan bandeng (Chanos chanos) di UMKM. Subjek dalam penelitian ini adalah perusahaan pengolahan makanan laut yang memproduksi abon ikan bandeng, sementara objek yang diteliti mencakup penerapan GMP dan SSOP, serta evaluasi kelayakan dasar UMKM dalam proses produksi abon. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, yang melibatkan observasi langsung terhadap proses produksi, wawancara dengan petugas terkait, dan analisis dokumentasi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besasr prinsip GMP dan SSOP telah diterapkan oleh UMKM. Namun beberapa aspek perlu diperbaiki, seperti pengawasan terhadap kebersihan peralatan dan sanitasi karyawan yang masih kurang optimal. Meskipun penerapan GMP dan SSOP yang sudah cukup baik, masih diperlukan peningkatan untuk mencapai kualitas dan keamanan produk yang memenuhi standar. UMKM disarankan untuk memperbaiki pengawasan serta memberikan pelatihan lebih lanjut kepada karyawan mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan sanitasi selama proses produksi.
Evaluasi Usaha Perikanan Jaring Insang di Waduk Cacaban, Kabupaten Tegal
Waduk Cacaban merupakan salah satu perairan darat di Kabupaten Tegal yang memiliki potensi sumber daya ikan untuk menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Catch per Unit Effort (CPUE), Revenue per Unit Effort (RPUE), serta melakukan evaluasi terhadap kelayakan usaha perikanan tangkap menggunakan jaring insang di perairan umum daratan Waduk Cacaban. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Jumlah responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, dari populasi nelayan jaring insang sebanyak 99 orang, sehingga diperoleh 80 responden. Jaring insang merupakan alat tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan di Waduk Cacaban. Hal ini ditunjukkan oleh nilai CPUE tertinggi dibandingkan alat tangkap lainnya setelah dilakukan standarisasi. Berdasarkan data penangkapan bulanan selama satu tahun, nilai rata-rata CPUE pada tahun 2023 mencapai 10,01 kg/trip, sedangkan nilai RPUE sebesar Rp250.309,00/trip. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan menggunakan jaring insang memiliki NPV sebesar Rp33.304.637,00/10 tahun, IRR sebesar 80%, R/C ratio sebesar 1,27, dan payback period selama 2 tahun 3 bulan 29 hari. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap di Waduk Cacaban layak dan menguntungkan untuk dilanjutkan. Namun demikian, ketersediaan sumber daya ikan di lokasi ini masih bergantung pada kegiatan restocking oleh pemerintah daerah yang tidak selalu dilakukan setiap tahun. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.Title: Evaluation of Gillnet Fishing Business in the Cacaban Reservoir, Tegal RegencyCacaban Reservoir is one of the inland waters in Tegal Regency that possesses fish resources capable of supporting the livelihoods of surrounding communities. This study aims to analyze the Catch per Unit Effort (CPUE), Revenue per Unit Effort (RPUE), and to evaluate the feasibility of the gillnet fishing business in the inland public waters of the Cacaban Reservoir. The research employed a quantitative descriptive method with a purposive sampling technique. The number of respondents was determined using the Slovin formula with a 5% margin of error, resulting in 80 fishermen from a total population of 99 gillnet fishers. Gillnet is the most commonly used fishing gear among fishermen in Cacaban Reservoir, as indicated by the highest CPUE value compared to other standardized fishing gears. Based on monthly catch data for 2023, the average CPUE value was 10.01 kg/trip, and the RPUE value was IDR 250,309/trip. Financial analysis showed an NPV of IDR 33,304,637/10 years, an IRR of 80%, an R/C ratio of 1.27, and a payback period of 2 years 3 months 29 days. These findings indicate that the gillnet fishing business in the Cacaban Reservoir is financially feasible and profitable to continue. Nevertheless, the availability of fish resources in the area still depends on restocking activities by the local government, which are not conducted annually. Therefore, this study can serve as a reference for local policymakers in formulating sustainable fisheries management strategies.EVALUATION OF GILLNET FISHING BUSINESS IN THE CACABAN RESERVOIR, TEGAL REGENC
Indikator Komposit Potensi Wilayah Untuk Investasi Sektor Perikanan
Ketimpangan spasial dalam potensi investasi sektor perikanan di Indonesia memerlukan instrumen pengukuran yang komprehensif dan multidimensional. Penelitian ini mengembangkan indikator komposit untuk menilai potensi wilayah investasi sektor perikanan dengan mengintegrasikan prinsip ekonomi biru dan pendekatan pembangunan berbasis wilayah (place-based development). Menggunakan data sekunder periode 2016-2020 dari 33 provinsi di Indonesia, penelitian ini menerapkan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi dan membobot 19 indikator strategis yang dikategorikan dalam enam dimens, yang terdiri dari ekonomi, finansial, infrastruktur-logistik, lingkungan, sosial-kependudukan, dan kelembagaan. Hasil penelitian mengungkapkan ketimpangan spasial yang signifikan, dengan skor indikator komposit berkisar 0,056 (Jambi) hingga 0,742 (Jawa Timur). Dimensi sosial-kependudukan (bobot 0,286) dan kelembagaan (bobot 0,273) merupakan faktor kunci daya saing wilayah. Novelty penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan multi-dimensional berbasis PCA dengan prinsip ekonomi biru dalam konteks spasial Indonesia, serta identifikasi paradoks “potensi-kinerja” dimana provinsi dengan kekayaan sumber daya alam perikanan tinggi justru memiliki skor indikator komposit rendah. Implikasi kebijakan menekankan perlunya reformasi kelembagaan, peningkatan kapasitas SDM, dan penguatan infrastruktur pada provinsi berpotensi tinggi namun berkinerja rendah, dengan penerapan model place-based development yang adaptif terhadap karakteristik regional.title: Composite Indicator of Regional Potential for Investment in the Fisheries SectorSpatial disparities in fisheries investment potential across Indonesia necessitate comprehensive and multidimensional measurement instruments. This study develops a composite indicator to assess regional fisheries investment potential by integrating blue economy principles and place-based development approaches. Utilizing secondary data from 2016-2020 covering 33 Indonesian provinces, this research employs Principal Component Analysis (PCA) to identify and weight 19 strategic indicators categorized into six dimensions: economic, financial, infrastructure-logistics, environmental, socio-demographic, and institutional. The findings reveal significant spatial inequalities, with composite indicator scores ranging from 0.056 (Jambi) to 0.742 (East Java). The socio-demographic dimension (weight 0.286) and institutional dimension (weight 0.273) emerged as key determinants of regional competitiveness. The novelty of this research lies in integrating PCA-based multidimensional approaches with blue economy principles in Indonesia’s spatial context, and identifying the “potential-performance paradox” where provinces with abundant fisheries resources demonstrate low composite indicator scores. Policy implications emphasize institutional reforms, human resource capacity building, and infrastructure strengthening in high-potential but low-performing provinces, through adaptive place-based development models responsive to regional characteristics
COMPARATIVE STUDY OF DRYING ON THE PHYSICOCHEMICAL CHARACTERISTICS OF XYLOCARPUS GRANATUM FRUIT SCRUB AS A SKIN CARE PRODUCT
Lulur berbahan dasar buah Xylocarpus granatum berpotensi dikembangkan sebagai produk kosmetik alami karena mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kulit. Namun, mutu fisikokimia lulur sangat dipengaruhi oleh metode pengeringan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik fisikokimia lulur buah X. granatum yang dikeringkan dengan metode sinar matahari dan oven. Penelitian dilakukan melalui tahapan pembuatan simplisia, pengolahan menjadi serbuk, serta formulasi lulur. Parameter uji meliputi rendemen, pH, kadar air, dan viskositas. Rendemen dihitung dengan perbandingan bobot serbuk terhadap bahan segar, pH diukur menggunakan pH meter, kadar air ditentukan dengan metode oven, sedangkan viskositas diuji menggunakan Brookfield Viscometer sesuai SNI 06-6989.23-2005 dan ASTM D2196-20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan oven menghasilkan rendemen lebih tinggi (28,4 ± 0,05%) dibandingkan pengeringan sinar matahari (6,13 ± 0,28%). Nilai pH keduanya masih sesuai dengan kisaran pH kulit, yaitu 6,53 ± 0,05 (oven) dan 6,13 ± 0,28 (sinar matahari). Kadar air lulur sinar matahari lebih rendah (9,34 ± 0,43%) dibanding oven (11,66 ± 0,38%), sedangkan viskositas lulur sinar matahari lebih tinggi (11.833,33 ± 763,76 cP) daripada oven (9.833,33 ± 152,75 cP). Dapat disimpulkan bahwa metode pengeringan memengaruhi mutu fisik lulur mangrove. Pengeringan oven lebih efisien dalam meningkatkan rendemen dan kestabilan pH, sedangkan pengeringan sinar matahari menghasilkan kadar air lebih rendah dan viskositas lebih tinggi sehingga memberikan tekstur lebih kental. Hasil ini menunjukkan bahwa pemilihan metode pengeringan perlu disesuaikan dengan tujuan formulasi produk lulur
DEVELOPMENT STRATEGY FOR ALLANG ASAUDE BEACH TOURISM, HUAMUAL BELAKANG DISTRICT, WEST SERAM REGENCY
Coastal areas play a crucial role in supporting tourism, local economies, and the conservation of natural resources; therefore, sustainable management based on suitability and environmental carrying capacity data is essential. This study aims to analyze the level of suitability and carrying capacity of the coastal tourism area at Allang Asaude Beach, Huamual Belakang District, West Seram Regency, Maluku Province. Data was collected through direct observation and open-ended interviews. The assessment of coastal tourism suitability employed ten parameters, including beach type, beach width, substrate material, water depth, clarity, current velocity, beach slope, land cover, presence of hazardous biota, and availability of freshwater. The results showed that the coastal tourism suitability index at three observation stations fell into the highly suitable category, with an Index of Tourism Suitability (ITS) value of 2.99. The supporting biophysical conditions such as clear waters, calm currents, and white sandy beaches were the main determinants of this classification. Meanwhile, the Carrying Capacity (CC) calculation indicated that the Allang Asaude coastal tourism area could accommodate up to 1,363 visitors per day, remaining within the safe ecological threshold. These findings suggest that Allang Asaude Beach has excellent potential to be developed as a sustainable marine tourism destination, provided that environmental management, conservation principles, and local community participation are effectively implemented
OPTIMIZATION OF MUSTIKA COMMON CARP CULTURE TO INCREASE FISH FARMERS’ INCOME IN BANGKINANG, KAMPAR: A PRODUCTIVITY AND ECONOMIC ANALYSIS
A trial of common carp culture using a selected population was conducted in Bangkinang, Kampar Regency, Riau Province. This research aims to develop the socio-economic aspects of rural society, especially among common carp farmers in this area. The main material used was the Mustika common carp, a selected common carp population renowned for its disease resistance and fast growth. A local common carp population obtained from local hatcheries was used for comparison. The individual size of fish stocked was 10-15 grams. A total of six units of static net cages in the Kampar River and six units of floating net cages in the Kotopanjang Reservoir were used for triplicate culturing fish. The trial culture was conducted for 12 weeks. The results showed that Mustika common carp performed significantly better than local common carp, as indicated by high survival rates, growth rates, and individual harvested weights. The harvested yield, FCR, and productivity of Mustika common carp were also better than those of the local common carp. From an economic perspective, the used of Mustika common carp in both trial sites yielded higher margins and benefit-cost (B/C) ratios, faster in term of returns on investment (RoI) and payback periods (PP), and potentially increasing fish production by approximately 4.45% annually than local common carp. These results suggest that cultivating the Mustika common carp was more feasible for farmers in the area. The study highlights the need for high-quality fish seeds and advocates for collaboration between the government and private sectors to enhance common carp farming and improve the socio-economic levels of rural communities
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN DISTRIBUSI UKURAN CUMI-CUMI (Loligo chinensis, Gray 1849) DENGAN MENGGUNAKAN ATRAKTOR DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR
Squid is one of the marine fishery commodities that is widely used by the public, causing increasing demand. This research aims to determine the composition and size distribution of squid catches based on attractor color. The research used three attractor colors, namely white, black and blue and operated in the waters of the Makassar Strait for 12 trips on a squid fishing boat using hand lines. The results of the research showed that the catch was 149 individuals with a composition of 16.11% caught on white attractors, 32.21% caught on black attractors and 51.68% caught on blue attractors. Weight distribution of squid using white attractor ranges from 10-55 g (29.75 ± 12.86 g), tentacle length 6-15.3 cm (8.94 ± 2.35 cm), black attractor 15-99 g (36.58 ± 17.63 g) tentacle length 7.5-20 cm (10.33 ± 2.34 cm) and blue attractor 15-95 g (46.62 ± 21.93 g) tentacle length 7-19 .2 cm (11.39 ± 2.84 cm). The composition of the catch, the distribution of mantle length and the largest weight were obtained from the blue attractor
STRATEGI PENINGKATAN EKSPOR HASIL LAUT MELALUI KEBIJAKAN PERIKANAN TERUKUR MENGGUNAKAN RANDOM FOREST ALGORITHM
Penelitian ini bertujuan menyusun strategi dalam menerapkan eco-preservation fishing dalam kerangka kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) di PPN Pemangkat, Kabupaten Sambas. Dengan menggunakan data sekunder mengenai produksi ikan tahun 2020, peneliti mengidentifikasi faktor-faktor penting yang perlu dijadikan dasar dalam penyusunan kebijakan agar penerapan eco-preservation fishing dapat berjalan efektif sekaligus mendukung kinerja ekspor setelah masa pandemi. Variabel yang dianalisis mencakup berat hasil tangkapan (Y), ukuran kapal/gross tonnage (X1), jenis alat penangkapan (X2), waktu pembongkaran (X3), jumlah hari perjalanan (X4), jumlah ABK (X5), dan frekuensi penangkapan (X6). Algoritma random forest digunakan untuk mengklasifikasikan serta mengevaluasi tingkat pengaruh masing-masing variabel. Model yang dihasilkan memiliki akurasi prediksi sebesar 81,32% (kategori baik). Frekuensi penangkapan (X6) menunjukkan penurunan rataan Gini terbesar, sehingga menjadi variabel yang paling berpengaruh, diikuti oleh ukuran kapal (X1), jenis alat (X2), dan hari perjalanan (X4). Dari temuan tersebut, ditemukan strategi prioritas, yaitu : (1) penetapan kuota berdasarkan effort (per trip/kapal) dan ukuran kapal, (2) pembatasan serta penggantian alat tangkap yan glebih ramah lingkungan, (3) pengaturan durasi dan jumlah hari operasi, serta (4) peningkatan kepatuhan melalui pengawasan waktu bongkar. Hasil penelitian ini memberikan strategi untuk penerapan eco-preservation fishing dalam skema PIT di PPN Pemangkat yang didasarkan pada bukti empiris dari data tahun 2020. Measured fisheries management (PIT) is a policy of capturing marine products accompanied by control over its quotas and areas. Compliance with this policy should be increased along with the sustainability of the marine product exports sector amidst the decline in the economic sector due to the covid-19 pandemic. Eco-preservation fishing is one of the solutions that can be offered. This study uses secondary data on marine products production in 2020 obtained from Archipelago Fishing Port (AFP) of Pemangkat, Sambas Regency. Random forest algorithm is used to classify randomly selected subsets of the sample and training variables to produce several decision trees. The results of the data testing test show the predicted value of 81.32% and is included in the good category. The variable in this research is weight of catches (Y), gross tonnage (X1), fishing gear type (X2), ship unloading time (X3), number of travel days (X4), number of crew members (X5), and the number of catches (X6). X6 has the largest mean decrease gini value than the other variables, so it has the biggest contribution in classifying the causes of catches in Pemangkat AFP as per 2021