eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    THE EFFECT OF SHRIMP PROTEIN HYDROLYSATE FORTIFICATION (Acetes erythareus) ON THE QUALITY OF FARFALLE PASTA

    Full text link
    This study aims to determine the effect of rebon shrimp protein hydrolysate fortification (Acetes erythareus) on the quality of farfalle pasta which includes organoleptic aspects (appearance, texture, aroma, and taste) and chemical content (water content, ash, protein, fat, and carbohydrates). The method used was a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with four fortification concentration treatments, namely 0% (P0), 5% (P5), 10% (P10), and 15% (P15) of the weight of wheat flour. The results showed that the addition of rebon shrimp protein hydrolysate had a significant effect on all quality parameters tested. Treatment P10 was the best treatment based on a combination of organoleptic test results and nutritional content, with characteristics of bright yellow color, typical pasta aroma with a slight shrimp odor, dense and brittle texture, and delicious taste with a touch of shrimp flavor. Proximate values in P10 treatment included water content of 8.79%, ash 1.32%, protein 14.65%, fat 1.39%, and carbohydrate 73.85%. Fortification of rebon shrimp protein hydrolysate was proven to significantly improve the quality and nutritional value of farfalle pasta

    EFEKTIVITAS IMUNOSTIMULAN EKSTRAK Gracillaria sp. TERHADAP BAKTERI Aeromonas salmonicida SECARA IN VIVO

    Full text link
    This study was determining the effect of immunostimulant from Gracillaria sp. on Aeromonas salmonicida bacteria in vivo. The parameters were the survival rate, total leukocytes (Cyprinus carpio) and IC50 of Gracillaria sp. as an immunostimulant for koi that infected with Aeromonas salmonicida. Gracillaria sp. extract can improve the immune system, as seen from immune parameters such as leukoocytes and health. Gracillaria sp. extract with 70% ethanol has a flavonoid content of 1.9 mg QE/g. Flavonoids are antioxidant that can increase the immune system to against pathogen. The application of immunostimulant is given orally by mixing with the cellulase enzyme as much as 7.2 mg/g then added to koi feed at a dose based on IC50 Gracillaria sp. which is 18.6 mg/ml. he study was conducted using 6 treatments where the results showed that the highest total of leukocytes was in fish fed with immunostimulants at a dose of 2IC50 and infected with Aeromonas sp (P2) of 37.12 x 104 cells/mm3. While the lowest total leukocytes were in P5 fish, which was 16.08 x 104 cells/mm3. The lowest survival rate was in P5 (Fish fed commercial feed infected with Aeromonas salmonicida) 80% and in addition the survival value of the fish was 100%. In P5 fish, the fish fins became soft, the fish scales fell out, the surface of the fish skin produced a lot of mucus and there were wrinkles on the fish's tail fins.Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh pemberian imunostimulan dari Gracillaria sp. terhadap bakteri Aeromonas salmonicida secara in vivo. Parameter yang diuji adalah tingkat kelangsungan hidup, total leukosit ikan koi (Cyprinus carpio) serta dosis efektif dari ekstrak Gracillaria sp. sebagai immunostimulan untuk ikan koi yang terimfeksi bakteri Aeromonas salmonicida. Ekstrak Gracilaria sp. cukup efektif digunakan sebagai bahan imunostimulan untuk meningkatkan sistem imun ikan, terlihat dari parameter imun seperti lekosit dan kesehatan ikan. Ekstark Gracillaria sp.dengan pelarut etanol 70 % terbukti memiliki kandungan flavonoid sebesar 1,9 mg QE/g. Flavonoid merupakan senyawa bioaktif yang dapat meningkatkan sistem imun terhadap infeksi patogen. Aplikasi imunostimulan diberikan secara per oral dengan pemberian enzim selulase sebanyak 7,2 mg/g yang ditambahkan pada pakan ikan koi dengan dosis berdasarkan IC50 Gracillaria sp. yaitu 18,6 mg/ml. Penelitian dilakukan menggunakan 6 perlakuan dimana hasil menunjukkan bahwa jumlah total sel leukosit tertinggi adalah pada ikan yang diberikan pakan berimunostimulan dengan dosis 2IC50 dan diinfeksi dengan Aeromonas sp (P2) sebesar 37,12 x 104 sel/mm3. Sedangkan total leukosit terendah pada ikan P5 yaitu sebesar sebesar 16,08 x 104 sel/mm3. Tingkat kelangsungan hidup paling rendah adalah pada P5 (Ikan diberikan pakan komersil dengan diinfeksi Aeromonas salmonicida) 80% dan selain itu nilai kelangsungan hidup ikan adalah 100%. Pada ikan P5 mengalami kelembekan sirip ikan, kerontokan sisik ikan, permukaan kulit ikan mengeluarkan lendir yang banyak serta geripis pada sirip ekor ikan

    Aset Mata Pencaharian dan Efisiensi Model Rantai Pasok-Rantai Nilai Perikanan Tangkap Pelagis Kecil Masyarakat Pesisir Pulau Saparua

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aset mata pencaharian dan efisiensi model rantai pasok dan rantai nilai perikanan tangkap pelagis kecil masyarakat pesisir Pulau Saparua. Penelitian ini memadukan metode kuantitatif dengan desain survei. Data primer dikumpulkan dari penelitian lapangan melalui wawancara mendalam dan focus group Discussion (FGD), sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait, jurnal, dan laporan. Data dianalisis menggunakan analisis aset penghidupan dan analisis kinerja rantai pasok. Hasilnya menunjukkan bahwa, masyarakat pesisir Pulau Saparua memiliki keberagaman aset matapencaharian, antara lain aset alam, aset manusia, aset fisik, aset sosial dan aset keuangan. Namun, diantara kelima aset matapencaharian tersebut yang memiliki kontribusi besar terhadap matapencahariannya adalah aset alam dan aset sosial. Sementara, efisiensi model rantai pasok-rantai nilai menunjukan bahwa, semakin pendek rantai pemasaran maka biaya pemasaran atau produksi, margin pemasaran, harga yang dibayar konsumen akan semakin rendah, namun harga yang diterima produsen akan semakin tinggi. Kegiatan pemasaran dapat dikatakan berhasil jika didukung oleh daya beli konsumen yang tinggi dan distribusi yang baik. Studi ini menyimpulkan bahwa terdapat dua rantai pemasaran pendek yang efisien dengan hanya dua pelaku (nelayan – pedagang pengumpul dan nelayan – pengecer/perempuan papalele). Namun kedua rantai pemasaran tersebut harus diperlakukan secara berbeda, dimana rantai pemasaran pertama memiliki nilai efektivitas yang lebih rendah dibandingkan rantai pemasaran berikutnya. Title: Livelihoods Assets and The Efficiency of Supply Chain-Value Chain Model of Small Pelagic Capture Fisheries of Coastal Communities of Saparua Island This study aims to investigate livelihoods assets and the effectiveness of supply chain and value chain model of small pelagic capture fisheries of coastal communities of Saparua Island. This study combined a quantitative method using a survey design. The primary data was collected from field research using in-depth interviews and focus group discussions (FGDs), while the secondary data was collected from related agencies, jurnals, and reports. The data was analyzed using livelihood asset analysis and supply chain performance analysis. The results show that the coastal communities of Saparua Island have a diversity of livelihood assets, including natural assets, human assets, physical assets, social assets and financial assets. However, among the five livelihood assets that have a major contribution to livelihoods are natural assets and social assets. Meanwhile, the effectiveness of the supply chain-value chain model shows that the lower the marketing or production costs, marketing margin, consumer prices paid, but the producer prices received would be higher. The marketing activities could be considered successful if they were supported by a high customer purchasing power and proper distribution. This study concludes that there were two effective short marketing chains with only two actors (fishermen – collecting traders and fishermen – retailers / papalele women). The two marketing chains, however, must be treated differently, with the former having a lower effectiveness value than the later

    Kesesuaian Lahan dan Pengaruh Tambak Plastik dan Semi Plastik Budidaya Udang Vaname (Penaeus vannamei) Intensif

    Full text link
    Budidaya udang di Indonesia mengalami perkembangan pesat dan menjadi unggulan dalam menghasilkan devisa.  Salah satu faktor yang berpengaruh dalam budidaya udang adalah  konstruksi wadah pemeliharaan tambak.  Tujuan penelitian ini adalah  menganalisis kesesuaian lahan dan pengaruh tambak plastik dan semi palstik budidaya udang vaname di tambak intensif serta kesesuaian lahan. Lokasi Penelitian di tambak budidaya udang PT Suma Mariana Probolinggo, Jawa Timur. Metoda pengumpulan data adalah observasi. Jumlah ulangan 4 kali dan dua perlakuan. Luas petakan 3360 m2. Analisa data deskriptif dan kuantitatif. Analisa data  menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPPS) dan excel.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan tambak sesuai untuk budidaya udang vaname. Uji selanjutnya adalah penggunaan plastik pada  wadah pemeliharaan di tambak. Petakan tambak plastik memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 79,79%. Selain itu, berdasarkan hasil uji independent sampel t-test memperoleh hasil nilai signifikansi (2.tailed) sebesar 0,003 <0,005 artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara petakan semi plastik dengan petakan plastik terhadap produktivitas. Berdasarkan hal ini, penggunaan petakan dengan konstruksi plastik layak digunakan

    Analisis Tingkat Kerapatan dan Perubahan Lahan Vegetasi Mangrove Melalui Pemetaan Citra Sentinel 2 Multitemporal di Kabupaten Cilacap

    Full text link
    Citra sentinel 2 merupakan citra satelit yang biasa digunakan dalam menentukan nilai vegetasi, untuk menentukan nilai vegetasi menggunakan indeks yang paling umum digunakan adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Citra sentinel mempunyai beberapa saluran band, namun yang biasa digunakan dalam menghitung nilai NDVI yaitu band merah (RED) dan band Near-Infrared (NIR). Metode yang digunakan adalah deskriptif bersifat eksploratif, bertujuan untuk menggambarkan keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada. Hasil penelitian menunjukkan kesehatan mangrove melalui nilai indeks vegetasi pada lokasi pengamatan tergolong sangat padat dimana area mangrove pada lokasi pengamatan termasuk kategori sangat sehat. Hasil dari pengolahan data tutupan kanopi  dengan metode hemispherical photography pada lokasi pengamatan tergolong padat secara keseluruhan dengan persentase >75%. Pada tahun 2018 mangrove yang ada di Kabupaten Cilacap memiliki luasan sebesar 8790 Ha namun mengalami perubahan luas yaitu menurun pada tahun 2021 seluas 131,556 Ha. Pada tahun 2021 ke tahun 2024 mengalami peningkatan sekitar 10 hektar

    CONTROL OF VIBRIOSIS BY USING TURMERIC-KALMEGH EXTRACT WITH DIFFERENT PERIOD TREATMENTS IN WHITELEG SHRIMP IN THE FLOATING NET-CAGES

    Full text link
    Whiteleg shrimp Penaeus vannamei cultured in marine floating net-cage systems are highly susceptible to stress and diseases caused by Vibrio harveyi. This study aimed to evaluate the effect of turmeric Curcuma longa and kalmegh Andrographis paniculata on the growth performance and immune system of whiteleg shrimp against V. harveyi infection. The study utilized a completely randomized design with treatments including control (C), one week (1W), two weeks (2W), and four weeks (4W) of supplementation. The challenge test consisted of C+, C-, 1W, 2W, and 4W treatments. Parameters observed included growth performance, immune response, and resistance to V. harveyi. Results showed that the combination of turmeric and kalmegh significantly improved final biomass, weight gain, specific growth rate, and feed conversion ratio compared to the control. Survival rates after challenge tests revealed the highest survival in the C- group (93.33 ± 5.77%), followed by treatment 4W (86.67 ± 11.55%), 2W (76.67 ± 20.82%), 1W (46.67 ± 35.12%), and the lowest in C+ (33.33 ± 26.46%) with significant differences (P < 0.05) across treatments. Immune responses, including total hemocytes, phagocytosis activity, phenoloxidase activity, and respiratory burst, were also significantly improved in the treatment groups compared to the positive control. In conclusion, the combination of turmeric and kalmegh (2:1 ratio, 6 mL/kg of diet) significantly enhances both growth and immune responses of whiteleg shrimp, offering a potential alternative to antibiotics for controlling vibriosis in shrimp aquaculture

    Analisis Biaya Manfaat dan Kontribusinya dalam Pengelolaan Ekowisata Bahari Berkelanjutan: Studi Kasus Pada Pengelolaan Dewi Bahari Mangrove Sari di Kabupaten Brebes – Jawa Tengah

    Full text link
    Ekowisata mangrove di Dewi Bahari Mangrove Sari, Kabupaten Brebes, memiliki potensi besar untuk mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, pengelolaannya menghadapi tantangan, seperti konflik kepentingan, degradasi ekosistem, dan minimnya pendekatan berbasis bukti dalam pengambilan keputusan. Sementara itu, potensi ekonomi, sosial, dan ekologis belum sepenuhnya dioptimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai biaya dan manfaat yang diperluas dari pengelolaan ekowisata pada Kawasan Dewi Mangrove Sari yang komprehensif baik dari segi ekonomi, ekologi, maupun sosial, guna mendukung kelestarian sumber daya ekosistem mangrove dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Juli 2024 dengan studi kasus Dewi Bahari Mangrove Sari Kabupaten Brebes dengan metode penelitian literature review. Data sekunder yang diperoleh berasal berbagai sumber ilmiah berupa jurnal, hasil penelitian maupun laporan kegiatan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis keuangan yang membandingkan antara analisis biaya manfaat klasik dan analisis biaya manfaat diperluas yang sudah memasukan nilai ekonomi mangrove sebagai jasa ekosistem. Indikator yang digunakan meliputi: Nilai Bersih Sekarang (NPV), Tingkat Pengembalian Internal (IRR), Rasio Manfaat Biaya Bersih (Net B/C), Periode Pengembalian (Payback Period), dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekowisata Dewi Bahari Mangrove Sari layak untuk dikembangkan berdasarkan kedua analisis biaya manfaat. Namun dberdasarkan analisis sensitivitas kegiatan ekowisata Dewi Mangrove Sari lebih sensitif terhadap penurunan manfaat daripada kenaikan biaya. Oleh karena itu, pengelola wisata harus bisa meningkatkan jumlah pengunjung melalui penambahan spot atau area tracking mangrove serta menambah aktivitas wisata lain

    Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), dan Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) Pengalengan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Dalam Media Palm Oil di CV. PH, Muncar, Banyuwangi

    Full text link
    Pengendalian penjaminan mutu produk di Unit Pengolahan Ikan (UPI) dilakukan dengan persyaratan operasional yaitu GMP dan SSOP.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui penerapan GMP dan SSOP pada tahapan produksi pengalengan ikan Lemuru (Sardinella lemuru) dalam minyak palm oil.  Penelitian ini menggunakan metode survey, wawancara, observasi, dokumentasi, serta partisipasi langsung dalam kegiatan proses pengalengan ikan lemuru. Pengujian mutu dilakukan pada mutu bahan baku, produk akhir, bobot tuntas, pengukuran suhu serta pengamatan penerapan GMP dan SSOP. Analisa data dilakukan deskriptif dan komparatif. Hasil pengamatan bahwa proses pengolahan ikan lemuru (Sardinellalemuru) dengan media palm oil sesuai dengan SNI. Tahapan proses pengolahan ikan lemuru kaleng dimulai dari penerimaan bahan baku, pelelehan, penyiangan, pencucian ikan, pendeteksi fragmen logam, pengisian ikan ke dalam kaleng, pemasakan awal, penirisan, pengisian media palm oil, penutupan kaleng, pencucian produk kaleng pada can washer, sterilisasi, pendinginan, pencucian dan pengeringan pada mesin can washing & drying, pelabelan, inkubasi dan sortasi, pengepakan, penyimpanan dan pengiriman.  Hasil pengujian nilai organoleptik bahan baku 8 dan nilai sensori produk akhir 8.  Standar pengujian histamin bahan baku maksimal 50 ppm. Penerapan suhu telah dilakukan dengan baik pada penerimaan bahan baku ikan beku -10,82±1,6°C dan ikan segar 3,97±1,2, pelelehan 2,37±2,0°C, penyiangan 4,96±2,6°C, pencucian ikan 6,60±0,9°C, pengisian ikan ke dalam kaleng 6,98±0,9°C, pemasakan awal 93,90±2,8°C, penirisan 87,56±1,6°C, pengisian media palm oil 83,21±2,2°C, penutupan kaleng, pencucian produk kaleng pada can washer >70°C, sterilisasi 118±0°C, pendinginan 40±0°C, pencucian dan pengeringan pada mesin can washing & drying, pelabelan, inkubasi dan sortasi, pengepakan, penyimpanan dan pengiriman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan sterilisasi dalam kaleng sudah dilakukan dengan baik sesuaiSNI. Penerapan GMP dan SSOP telah dilaksanakan dengan baik untuk mengurangi kontaminasi produk akhir dan telah sesuai dengan standar prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan

    Penggunaan Plastik Mika Sebagai Umpan Tiruan Ikan Tuna (Thunnus Sp)

    Full text link
    Ikan tuna merupakan jenis ikan yang masuk dalam famili scombroidae, beberapa jenis ikan yang masuk dalam famili scombroidae adalah ikan tuna, cakalang, tongkol dan tenggiri. Jenis-jenis ikan tersebut termasuk dalam ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tantangan terbesar bagi para nelayan tradisional dalam menangkap ikan tuna, salah satunya adalah susahnya  mendapatkan umpan  ikan (hidup) seperti ikan selar (Selar crumenophthalmus) dan ikan malalugis (Decapterus macarellus) yang biasa digunakan untuk menangkap ikan tuna, sehingga para nelayan tradisional cenderung menggunakan umpan tiruan untuk menangkap ikan tuna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan hasil tangkapan ikan tuna dengan menggunakan umpan ikan (hidup) dan umpan tiruan (plastik mika) sebagai pengganti umpan ikan (hidup) . Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan jumlah sebanyak 4 (empat) responden yang melakukan penangkapan dengan  2 jenis umpan, yaitu umpan hidup dan umpan tiruan di hari yang sama dengan 5 kali trip sebagai pengulangan nya.Hasil penelitian menunjukkan perbedaan hasil tangkapan ikan tuna antara umpan hidup berupa ikan selar dan malalugis dengan umpan tiruan berbahan plastik mika, dimana total tangkapan dengan umpan hidup sebanyak 37 ekor sedangkan umpan tiruan (plastik mika) sebanyak 33 ekor. Umpan tiruan lebih efektif dan efisien sebagai alternatif umpan dalam menangkap ikan tuna menggantikan umpan hidup dikarenakan selain hasil tangkapan yang mampu bersaing dengan hasil umpan hidup, bahan yang digunakan pun relatif terjangkau dan mudah untuk diperoleh

    Performance of The Histamine Level During Tuna Steak Processing

    Full text link
    This research aims to observe the suitability of tuna processing with the Indonesian National Standards and analyze the increase of histamine levels during the processing steps of steak tuna at tuna processing plant located in Medan, North Sumatra. This research was conduct with observation using a questionnaire. The questionnaire was created referring to the Indonesian National Standards regarding to frozen tuna steak processing steps. Testing for histamine levels was carried out using the ELISA method. Data was analyzed using gap analysis and the increase in histamine levels was analyzed using Microsoft Excel to see the trend of increasing histamin e levels during the tuna fish processing steps. The research results show that the level of suitability of the processing steps at processing plant is 98.37%, with a gap level of 1.73%. This mean that processing of frozen tuna steak products has been carried out well. The histamine at four steps  showed that there was increasing of histamine levels from receiving raw materials to the final product up to 800%. The highest increase occurred in the loining proccess to the steak cutting steps which is up to 200%; followed by the steak cutting to the final product increased up to 80%; and receiving raw materials to loining steps increased up to 66,7%. Although the increasing of the histamine was high (up to 800% from the histamine levels of the raw materials), the histamine of the final product was still low (only 2.7 ppm) and still meets the Processing Unit requirements (max 30 ppm), as well as the Indonesian National Standard

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇