eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Abon Rumput Laut (Ulva lactuca)
Abon rumput laut merupakan produk yang dibuat dari rumput laut yang dikeringkan lalu diolah dengan campuran tepung dan bumbu sehingga menghasilkan rasa yang gurih dan sedikit asin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat modal usaha, keuntungan dan analisis kelayakan usaha pengolahan abon rumput laut. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2024. Berlokasi di UMKM Ulva-Q, Jalan pantai Karapyak, Desa bagolo, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Teknik observasi digunakan langsung mengikuti alur proses pengolahan abon rumput laut, mulai dari mencari bahan baku, mengolah, mengemas produk hingga menjual abon rumput laut dalam waktu tiga bulan. Metode analisis data yang meliputi analisis biaya, penerimaan, keuntungan, analisis efisiensi dan analisis risiko usaha. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengolahan abon rumput laut dapat menjadi peluang bisnis. Modal usaha sebesar Rp 9.695.000 dengan jumlah produksi abon rumput laut per hari adalah 80 kemasan toples seberat 45 gram dengan harga jual Rp 12.500. Maka dalam satu bulan produksi dengan 15 kali proses menghasilkan sebanyak 1.194 toples dengan pendapatan Rp 14.925.000, akan menghasilkan keuntungan Rp 5.229.000 per bulan. Dengan tingkat harga jual Rp 12.500, nilai R/C yang didapat adalah 1,5 dengan ini analisa usaha abon rumput laut bisa dikatakan menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan
Konfigurasi dan Uji Visual Kamera pada Rancang Bangun Remotely Operated Vehicle (ROV)
Teknologi yang dapat digunakan dalam proses pemantauan kondisi bawah air adalah Remotely Operated Vehicle (ROV). Alat ini merupakan sebuah robot penjelajah bawah air yang dikendalikan oleh operator menggunakan sistem remote control. ROV dapat dilengkapi dengan modul kamera untuk memantau kondisi bawah air dan kemudian dikirimkan ke monitor komputer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan kamera pada rancang bangun ROV. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kamera pada ROV dapat memberikan informasi kondisi bawah air. Untuk melihat kamera pada ROV berfungsi dengan baik dilakukan beberapa pengujian didalam air. Pengujian visual kamera dilakukan dengan empat kali percobaan dari jarak 25 cm sampai jarak 100 cm. Jarak pandang kamera terhadap objek pada jarak 25 cm hingga 50 cm masih terlihat jelas, pada jarak 75 cm objek nampak tidak jelas dan pada jarak 100 cm objek tidak terlihat
INOVASI FORMULASI BUBBLE TEA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SENSORIS DAN DAYA TARIK KONSUMEN
Bubble tea is a food that is rich in antioxidants. Antioxidants are compounds that have many important benefits for the body because of their ability to fight free radicals. Free radicals are unstable molecules that can damage body cells and contribute to various diseases. The purpose of this study was to determine the best formulation of a combination of sodium alginate and calcium chloride based on the level of preference and nutritional content in it. This study used 9 treatments, namely the addition of sodium alginate with a concentration of 0,8%; 1% and 1,2% combined with calcium chloride with a concentration of 1%; 1,2% and 1,5%. The parameters tested included hedonic tests, water content tests, ash content tests, protein content tests and antioxidant activity tests. The results showed that the combination of sodium alginate and calcium chloride additions had an effect on consumer acceptance. The best formulation in treatment X2Y3 was with a sodium alginate concentration of 10 g and a calcium chloride concentration of 15 g taken from the results of the highest hedonic test based on consumer acceptance of products with a water content of 90,93 ± 0,0173%; ash content 0,39 ± 0,0004%; protein content 0,25 ± 0,0007% and antioxidant 8,719.33 ± 146,11 µmol Fe2/g. Bubble tea merupakan makanan yang kaya akan kandungan antioksidan di dalamnya. Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai banyak manfaat penting bagi tubuh karena kemampuannya yang dapat melawan radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil yang dapat merusak sel-sel tubuh dan berkontribusi pada berbagai macam penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan formulasi terbaik kombinasi antara natrium alginat dan kalsium klorida berdasarkan tingkat kesukaan dan kandungan nutrisi didalamnya. Penelitian ini menggunakan 9 perlakuan yaitu penambahan natrium alginat dengan konsentrasi 0,8%; 1% dan 1,2% yang dikombinasikan dengan kalsium klorida dengan konsentrasi 1%; 1,2% dan 1,5%. Parameter yang diuji meliputi uji hedonik, uji kadar air, uji kadar abu, uji kadar protein dan uji aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi penambahan natrium alginat dan kalsium klorida berpengaruh terhadap penerimaan konsumen. Formulasi terbaik pada perlakuan X2Y3 yaitu dengan konsentrasi natrium alginat 10 g dan konsentrasi kalsium klorida 15 g yang diambil dari hasil pengujian hedonik tertinggi berdasarkan penerimaan konsumen terhadap produk dengan kadar air 90,93 ± 0,0173%; kadar abu 0,39 ± 0,0004%; kadar protein 0,25 ± 0,0007% dan antioksidan 8.719,33 ± 146,11 µmol Fe2/g
Analysis of Tilapia (Oreochromis niloticus) Production Management at the Freshwater Fish Seed Center, Bontomanai Village, Bontomarannu District, Gowa Regency
One of the areas for the development of Nile fish cultivation activities is the Fish Seed Center in Bontomarannu District, Bontomanai Village, Gowa Regency. The potential in this area is very high due to geographical, social, and demographic factors. This study aims to understand the application of management functions in Nile fish production at the Fish Seed Center conducted by the respondents. This research was conducted from March to April 2025. The collected data includes observations, namely direct observations at the Freshwater Fish Seed Center, covering activities from breeding, maintenance, to the distribution of tilapia. This is followed by direct interviews with involved parties such as the head of the center and field staff, which are then analyzed descriptively qualitatively. The research results show that the Production Management at the Bontomanai Fish Seed Center is performed well and is based on several stages including the receipt of raw materials, pond construction, land preparation, and harvesting. The planning conducted includes the drying of the base soil, processing of the base soil, pond embankment, pond depth, liming, fertilizing, filling water, selecting Nile Tilapia broodstock, spawning the broodstock, mass spawning, harvesting, and marketing. In terms of organizing function, detailed tasks have been outlined for each existing worker. The supervision process is carried out in feeding and monitoring for diseases
Analisis Finansial Usaha Perikanan Tangkap Bagan Apung: Studi Kasus Di Kelurahan Batu Putih Atas, Kota Bitung
The majority of fishermen in Batu Putih Atas Subdistrict, Bitung City, use lift nets (bagan apung) as their primary fishing gear. The uncertainty of fishing operations due to seasonal changes highlights the need for a thorough economic feasibility analysis. This study aims to evaluate the economic viability of lift net fishing activities. Data were collected through surveys and interviews, and analysed using a descriptive quantitative approach based on financial data. The results show that lift net fishing in Batu Putih Atas is financially profitable. The annual total revenue reached IDR 432,000,000, with a net profit of IDR 334,550,000. The total annual catch amounted to 1,440 buckets (equivalent to 72 metric tons), with anchovies comprising 65% of the catch. Based on the analysis of the Revenue-Cost Ratio (R/C ratio), Break-Even Price, Break-Even Production, and Payback Period, lift net fishing is considered economically feasible and viable for continued operation..
Analisis Kelengkapan Dokumen dan Alur Perizinan Kapal Perikanan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan Jawa Timur
Kesyahbandaran memiliki peran penting dalam menjamin keamanan dan keselamatan operasional kapal perikanan, salah satunya melalui pengecekan kelengkapan dokumen kapal sebagai syarat berlayar. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelengkapan dokumen dan alur perizinan kapal perikanan saat kapal tiba, berangkat, serta manifest kapal di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan. Penelitian dilakukan pada Juni–Juli 2022 dengan metode observasi dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 dokumen utama yang wajib dimiliki kapal perikanan. Pemetaan alur perizinan memperlihatkan bahwa proses kedatangan dan keberangkatan telah terintegrasi secara digital melalui aplikasi Teman SPB untuk verifikasi dokumen dan pemeriksaan teknis–nautis oleh syahbandar. Namun, ditemukan kesenjangan kepatuhan terhadap dokumen operasional serta kendala efisiensi akibat lambatnya kinerja server aplikasi. Hasil observasi lapangan juga menunjukkan banyak kapal berukuran di bawah 30 GT memiliki Surat Kelaikan dan Pengawakan yang telah melewati masa berlaku. Secara akademis, penelitian ini menegaskan bahwa kepatuhan dalam sektor perikanan tidak semata dipengaruhi oleh sanksi, tetapi juga berkaitan langsung dengan kualitas sistem layanan digital pelabuhan. Temuan ini menjadi acuan empiris bagi syahbandar dan instansi terkait untuk meningkatkan efisiensi perizinan kapal serta memperkuat pengawasan dokumen operasional guna mendukung aktivitas perikanan yang tertib dan aman.Title: Analysis of Documents Completeness and Flow of Fishing Vessel Licences at Coastal Fishing Port (CFP) Mayangan East Java The harbor master plays a vital role in ensuring the safety and operational security of fishing vessels, particularly through the verification of vessel documents required for sailing. This study aims to analyze the completeness of fishing vessel documents and the licensing procedures for vessel arrival, departure, and manifest management at the Coastal Fisheries Port (CFP) Mayangan. The research was conducted from June to July 2022 using observation and interview methods, followed by descriptive qualitative analysis. The findings reveal that fishing vessels are required to possess 12 essential documents. The licensing workflow indicates that arrival and departure processes have been digitally integrated through the Teman SPB application, which facilitates document verification and technical–nautical inspection by the harbor master. However, the study also identifies gaps in compliance with operational documents and efficiency issues arising from slow server performance. Field observations further show that many vessels under 30 gross tons (GT) possess expired seaworthiness and manning certificates. Academically, this study highlights that compliance in the fisheries sector is influenced not only by sanctions but also by the quality of the port’s digital service system. The findings provide empirical insights for harbor authorities and related agencies to enhance the efficiency of vessel licensing and strengthen the supervision of operational documentation to ensure orderly and safe fishing activities
Reorientasi Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan
Program pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia menghadapi tantangan kompleks dalam mencapai efektivitas yang berkelanjutan di tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pemberdayaan masyarakat dan partisipasi sebagai determinan utama dalam meningkatkan efektivitas program pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif melalui metode studi kasus di tiga kabupaten pesisir, antara lain Indramayu, Pati, dan Lombok Utara, penelitian ini menelaah keterkaitan antara tingkat partisipasi masyarakat, model pemberdayaan yang diterapkan, dan capaian program pembangunan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 45 informan kunci yang terdiri atas aparatur pemerintah daerah, pengelola program, dan perwakilan masyarakat pesisir, serta melalui observasi partisipatif dan analisis dokumen kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas program pembangunan kelautan dan perikanan sangat bergantung pada kombinasi partisipasi aktif masyarakat dan model pemberdayaan yang kontekstual serta adaptif terhadap kondisi lokal. Model pemberdayaan partisipatif menghasilkan efektivitas 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan model paternalistik (82% vs. 35%). Analisis lanjutan menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas program (β = 0,67, p < 0,01), dengan partisipasi masyarakat berperan sebagai variabel mediasi (β = 0,35, p < 0,01). Empat faktor kunci yang menentukan efektivitas meliputi kapasitas kelembagaan masyarakat, kesesuaian teknologi dengan karakteristik lokal, akses terhadap sumber daya ekonomi dan informasi, serta dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten. Temuan ini menegaskan perlunya pergeseran paradigma dari pendekatan top-down menuju tata kelola partisipatif (bottom-up participatory governance) dalam perencanaan dan implementasi program. Untuk meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan, penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat pesisir, pembentukan mekanisme partisipasi yang inklusif dan berbasis kebutuhan lokal, serta integrasi pemberdayaan berbasis pengetahuan lokal dalam desain kebijakan dan program pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia.Title: Reorientation of Community Empowerment Policies in Sustainable Marine and Fisheries Development Marine and fisheries development programs in Indonesia face complex challenges in achieving sustainable effectiveness at the local level. This study aims to analyze the roles of community empowerment and participation as key determinants in enhancing the effectiveness of marine and fisheries development programs. Using an exploratory qualitative approach and a case study method conducted in three coastal districts, Indramayu, Pati, and North Lombok. This research examines the interrelationship between the level of community participation, the empowerment models applied, and the outcomes of development programs. Data was collected through in-depth interviews with 45 key informants, including local government officials, program managers, and representatives of coastal communities, complemented by participatory observation and policy document analysis. The findings reveal that the effectiveness of marine and fisheries development programs largely depends on the combination of active community participation and empowerment models that are contextually grounded and locally adaptive. The participatory empowerment model demonstrated 2.3 times higher effectiveness compared to the paternalistic model (82% vs. 35%). Further analysis indicates that community empowerment has a positive and significant influence on program effectiveness (β = 0.67, p < 0.01), with community participation acting as a mediating variable (β = 0.35, p < 0.01). Four key factors influencing program effectiveness include community institutional capacity, the appropriateness of technology to local characteristics, access to economic and informational resources, and consistent government policy support. The study underscores the need for a paradigm shift from a top-down approach toward bottom-up participatory governance in program planning and implementation. To enhance effectiveness and sustainability, this study recommends strengthening the institutional capacity of coastal communities, establishing inclusive and locally responsive participatory mechanisms, and integrating locally based knowledge empowerment into the design of marine and fisheries development policies and programs in Indonesia
DIETARY CHITOSAN AND NANO-CHITOSAN OF BLACK SOLDIER FLY LARVAE FOR IMPROVING GROWTH AND PHYSIOLOGICAL INDICES OF Clarias gariepinus
This research examined the effect of nutritional supplementation of 5% chitosan and nano-chitosan sourced from black soldier fly larvae exuviae on the growth and physiological profile of Clarias gariepinus (initial weight: 2.054 ± 0.02 g) over a period of 30 days. The feed treatments consisted of chitosan-supplemented, nano-chitosan-supplemented, and control feed, arranged in triplicate. In each trial unit, 30 fish were reared in plastic tanks (60 L capacity, filled with 50 L of freshwater). Growth, hematological profiles, and antioxidant activities were assessed after 30 days. The findings indicated that nano-chitosan markedly improved growth performance, as shown by increased final weight, body weight gain (BWG), and feed efficiency (FE), in comparison to chitosan and control diets. Specifically, nano-chitosan-fed fish exhibited a final weight of 2.878 ± 0.16 g ind-1 and a feed conversion ratio (FCR) of 1.376 ± 0.15, outperforming the chitosan group (2.660 ± 0.12 g ind-1; 1.267 ± 0.12) and the control group (2.344 ± 0.04 g ind-1; 1.857 ± 0.05). Additionally, nano-chitosan significantly increased activities of antioxidant enzymes, including those of superoxide dismutase (SOD) and catalase (CAT), while reducing malondialdehyde (MDA) levels, indicating reduced oxidative stress. The hematologicalprofile remained stable across the groups, confirming the safety of these feed additives. This research emphasizes nano-chitosan as a viable sustainable food additive for improving growth rate and oxidative resistance in C. gariepinus. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh suplementasi diet dengan 5% kitosan dan nano-kitosan dari cangkang pupa lalat tentara hitam terhadap pertumbuhan serta indeks fisiologis Clarias gariepinus (berat awal: 2,054 ± 0,02 g) selama 30 hari. Perlakuan pakan terdiri atas pakan yang disuplementasi nano-kitosan, disuplementasi kitosan, dan kontrol yang diulang tiga kali. Pada masing-masing unit percobaan, 30 ekor ikan dipelihara di wadah plastik (kapasitas 60 L, diisi dengan air sebanyak 50 L). Setelah 30 hari pemeliharaan, pertumbuhan, profil hematologi, dan aktivitas antioksidan dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nano-kitosan meningkatkan kinerja pertumbuhan, yang ditunjukkan dengan peningkatan berat akhir, pertambahan bobot tubuh (PBT), dan efisiensi pakan (EP), dibanding dengan pakan kitosan dan kontrol. Secara khusus, ikan yang diberi pakan nano-kitosan menunjukkan bobot akhir 2,878 ± 0,16 g ekor-1 dan rasio konversi pakan (RKP) 1,376 ± 0,15, lebih tinggi dari kelompok kitosan (2,660 ± 0,12 g ekor-1; 1,267 ± 0,12) dan kelompok kontrol (2,344 ± 0,04 g ekor-1; 1,857 ± 0,05). Selain itu, nano-kitosan secara signifikan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan, termasuk superoksida dismutase (SOD) dan katalase (CAT), sekaligus menurunkan kadar malondialdehida (MDA), yang mengindikasikan berkurangnya stres oksidatif. Parameter hematologi tetap stabil di seluruh kelompok, yang menegaskan keamanan bahan tambahan pakan ini. Penelitian ini menyoroti nano-kitosan sebagai suplemen pakan berkelanjutan yang menjanjikan untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan ketahanan oksidatif pada C. gariepinus.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI SENYAWA FITOKIMIA EKSTRAK DAUN Avicennia marina DAN Avicennia alba TERHADAP ISOLAT BAKTERI Vibrio sp. DARI TAMBAK UDANG INTENSIF
Bakteri Vibrio sp. merupakan kelompok bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit vibriosis, sehingga memicu tingginya potensi kematian dan kegagalan panen budidaya udang intensif. Salah satu upaya untuk mengendalikan prevalensi penyakit ini adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan senyawa metabolit sekunder dari daun mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak daun Avicennia marina dan Avicennia alba terhadap bakteri Vibrio sp. dari tambak udang intensif di sekitar Selat Madura. Ekstraksi daun mangrove dilakukan menggunakan metode maserasi. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi cakram pada konsentrasi 10.000 ppm, 40.000 ppm, dan 80.000 ppm. Penelitian ini dirancang dengan model rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ekstrak mangrove mengandung senyawa saponin, tanin, dan triterpenoid. Zona hambat bakteri pada ekstrak A.marina berkisar 1,43 ± 0,72-4,31 ± 1,80 mm, sedangkan zona hambat pada A. alba berkisar 1,43 ± 0,72-4,71 ± 0,01 mm. Zona hambat yang terbentuk juga menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri kedua ekstrak daun mangrove pada konsentrasi 10.000 ppm dan 40.000 ppm tergolong lemah, sedangkan 80.000 ppm tergolong sedang. Pemberian konsentrasi ekstrak yang berbeda berpengaruh nyata terhadap zona hambat bakteri yang dihasilkan, namun jenis ekstrak secara signifikan tidak terdapat interaksi nyata terhadap konsentrasi ekstrak mangrove yang digunakan. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun A. marina dan A. alba dari Selat Madura berpotensi sebagai agen antibakteri alami terhadap bakteri Vibrio sp. pada budidaya udang intensif.Vibrio sp. bacteria are a group of pathogenic bacteria that can cause vibriosis, leading to high mortality rates and crop failure in intensive shrimp farming. One of the efforts to control the prevalence of this disease is by optimizing the use of secondary metabolites from mangrove leaves. This study aimed to determine the phytochemical content and antibacterial activity of Avicennia marina and Avicennia alba leaves extracts against Vibrio sp. bacteria from intensive shrimp ponds around the Madura Strait. Mangrove leaves extraction was carried out using the maceration method. Antibacterial activity was tested using the disc diffusion method at concentrations of 10,000 ppm, 40,000 ppm, and 80,000 ppm. The study was designed using a factorial completely randomized design (CRD). The results showed that both mangrove extracts contained saponins, tannins, and triterpenoids. The inhibition zone of bacteria in A. marina extract ranged from 1.43 ± 0.72 to 4.31 ± 1.80 mm, while in A. alba extract, it ranged from 1.43 ± 0.72 to 4.71 ± 0.01 mm. The inhibition zones also indicated that the antibacterial activity of both mangrove leaves extracts at concentrations of 10,000 ppm and 40,000 ppm was categorized as weak, while at 80,000 ppm it was categorized as moderate. Different extract concentrations had a significant effect on the bacterial inhibition zones produced; however, the type of extract showed no significant interaction with the concentrations of mangrove extract used. Overall, the results indicate that A. marina and A. alba leaves extracts from the Madura Strait have potential as natural antibacterial agents against Vibrio sp. in intensive shrimp farming
PRODUCTION PERFORMANCE AND FINANCIAL ANALYSIS OF GLASS EEL (Anguilla bicolor) NURSERY AT DIFFERENT STOCKING DENSITIES USING RAS
Eel aquaculture remains dependent on wild-caught glass eels, whose supply fluctuates seasonally and peaks during the rainy season. Improving nursery efficiency through optimized stocking density is therefore essential. This study evaluated the effects of three stocking densities (1, 2, and 3 g L-¹) on the production performance and financial feasibility of glass eel (Anguilla spp.) nursery operations in recirculating aquaculture systems (RAS). Stocking density significantly affected survival, biomass yield, and profitability (p < 0.05). The highest density (3 g L-¹) resulted in the lowest survival rate (35.69 ± 3.70%), which was significantly lower than both 1 g L-1 and 2 g L-¹, yet produced the greatest biomass (11.42 ± 0.57 g L-¹). Financial analysis showed that all treatments were viable, with 3 g L-¹ yielding the highest profit (IDR 378,035,622 ± 45,089,672). Despite reduced survival, profitability remained relatively stable across treatments, indicating that biomass gain compensated for mortality-related losses. These findings demonstrate that a stocking density of 3 g L-1 provides the most advantageous balance between production output and economic return for glass eel nursery operations in RAS