eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
PHYTOPLANKTON (Skeletonema costatum) DENSITY ON LABORATORY SCALE USING DIFFERENT DOSES OF SILICATE FERTILIZER
Silicate fertilizer is a micronutrient that is widely used by phytoplankton in its growth and development process. One type of microalgae that utilizes this nutrient is Skeletonema costatum. The growth of Skeletonema costatum is strongly influenced by the availability of nutrients, especially silicate, which functions in the formation of diatom cell walls. This research aims to determine the density level of Skeletonema costatum when applying silicate fertilizer at different doses on a laboratory scale. This research used an experimental method with four doses of silicate fertilizer, namely 3 ppm, 5ppm, 10ppm, 15ppm and 20ppm. The S. costatum culture was observed for 10 days under controlled laboratory conditions. The parameters observed were cell growth and density which were calculated every day using a hemocytometer. This research shows that applying silicate fertilizer at optimum doses can increase the growth of S. Costatum phytoplankton which is useful as natural food in aquaculture. The results of this study show that administration of silicate at a dose of 20 ppm was able to produce a cell density of 1.946.250 cells/ml. The growth of S. Costatum showed a significant increase in number, marked by the addition of 7-12 filaments. The most appropriate harvest time is in the exponential growth phase. Meanwhile, the results of measuring water quality parameters show values that are still within the optimal range for the growth of S. Costatum
WATER QUALITY AND VIBRIO DYNAMICS IN VANNAMEI SHRIMP HATCHERY AT PT DELTA WINDU PURNAMA, SITUBONDO
Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) is a high-value aquaculture commodity. However, during the post-larval rearing phase, fluctuations in water quality and high abundance of Vibrio can cause stress and larval mortality. Therefore, evaluation of rearing practices and water quality is important to support successful juvenile shrimp production. This study aims to evaluate water quality, health, and growth of vannamei shrimp juveniles during the post-larval rearing period. Rearing was conducted from PL4–5 to PL10–11 using three tanks measuring 6 x 4 x 2 meters (water volume 40 tons), each labeled A6, B4, and B11. The fry quality results showed that all tanks achieved grade A, with optimal stadia development and gut muscle ratio. Observations on juvenile shrimp health revealed no necrosis, low Vibrio infection, and high stress resistance. Observations on post-larval growth showed an average length of 7.76–9.27 mm and an average survival rate of 88%, exceeding the minimum standard of SNI 7311:2009. Therefore, effective water quality management and control of Vibrio abundance during the rearing period of shrimp post-larvae can significantly improve the survival rate and quality of vannamei shrimp post-larvae
Faktor-faktor yang Memengaruhi Nilai Ekonomi Kawasan Wisata Pantai Jumiang Kabupaten Pamekasan
Kabupaten Pamekasan merupakan daerah yang berpotensi dalam pembangunan pariwisata yang layak untuk dikembangkan. Wisata Pantai Jumiang merupakan salah satu wisata dengan intensitas pengunjung yang relatif meningkat setiap tahunnya. Keberadaan wisata tersebut memberikan dampak positif pada peningkatan pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kegiatan usaha. Permasalahan yang terjadi pada Wisata Pantai Jumiang adalah pengelolaan wisata yang belum maksimal dan pada kenyataannya keindahan alam yang alami tidak mempunyai harga pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik pengunjung wisata serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekonomi wisata Pantai Jumiang. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan, yaitu bulan September sampai Oktober 2024 dengan menggunakan metode Individual Travel Cost Method (ITCM) dalam rangka mengetahui nilai ekonomi dengan perhitungan surplus konsumen dan metode analisis regresi linier berganda untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi nilai ekonomi wisata Pantai Jumiang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pendapatan berpengaruh siginifikan dan bersifat positif terhadap nilai ekonomi dengan nilai signifikansi sebesar 0,013, sedangkan variabel jarak tempat tinggal ke tempat wisata, umur, pendidikan, lama perjalanan, fasilitas pendukung dan kepuasan pengunjung tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai ekonomi. Rekomendasi ditujukan kepada pengelola wisata untuk mengevaluasi penggunaan fasilitas wisata sehingga dapat dimanfaatkan secara layak dan meningkatkan kebersihan wisata untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi pengunjung. Dengan demikian pengunjung akan berpeluang untuk melakukan kunjungan kembali sehingga berpengaruh terhadap peningkatan nilai ekonomi wisata
Kesediaan Membayar Masyarakat dalam Upaya Mitigasi Bencana Banjir di Pesisir Pasuruan
Wilayah pesisir Pasuruan adalah wilayah yang rentan terjadi bencana banjir karena banjir terjadi hampir setiap tahun. Hal itu berdampak pada terganggunya aktivitas masyarakat dan kerugian harta benda sehingga diperlukan upaya mitigasi. Dalam upaya mitigasi, peran serta masyarakat terdampak sangat diperlukan yang salah satunya dapat diukur melalui kesediaan membayar. Hal itu menunjukkan harga yang diberikan masyarakat terhadap manfaat tindakan pencegahan atau penanggulangan bencana. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesediaan membayar masyarakat dalam upaya mitigasi bencana serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, baik data primer maupun sekunder. Analisis menggunakan pendekatan contingent valuation method (CVM) dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besaran WTP masyarakat yang diperoleh rata-rata sebesar Rp18.729,00 setiap bulan untuk setiap kepala keluarga (KK) dalam upaya mitigasi, tetapi dapat meningkat ataupun menurun sesuai dengan beberapa faktor yang menyertainya. Selanjutnya, dana WTP akan dikelola oleh karang taruna yang bekerja sama dengan pengurus desa untuk pengelolaan lingkungan, seperti perbaikan drainase dan pembangunan infastruktur pengendali banjir. Jika ditinjau dari faktor yang memengaruhi WTP, terdapat tiga faktor yang berpengaruh signifikan terhadap sembilan faktor yang dianalisis, antara lain, banyak kejadian, tinggi genangan, dan dampak banjir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kesediaan membayar masyarakat dalam upaya mitigasi bencana cukup rendah jika dibandingkan dengan kerugian yang terjadi akibat banjir. Hal itu dapat disebabkan oleh, salah satunya, pemahaman yang rendah akan pentingnya upaya mitigasi bencana sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana untuk meminimalkan dampak/kerugian akibat banjir yang sering terjadi
Dampak Delimitasi Maritim Terhadap Masyarakat Pesisir di Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat
Penelitian ini membahas dampak delimitasi maritim yang belum disepakati terhadap masyarakat pesisir, khususnya nelayan di Tanjung Datu, Kalimantan Barat, Indonesia. Topik ini dipilih karena lautan, sebagai kekayaan berharga bagi negara-negara maritim, sering menjadi pusat ketegangan dan konflik, terutama terkait wilayah delimitasi maritim yang belum disepakati antara negara tetangga. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dampak delimitasi maritim terhadap hak dan mata pencaharian nelayan di Tanjung Datu serta menyoroti ancaman terhadap tradisi, mata pencaharian, dan ekonomi masyarakat pesisir di wilayah ini akibat ketidakjelasan batas maritim antara Indonesia dan Malaysia. Metode penelitian yang digunakan menggabungkan pendekatan hukum normatif dan empiris. Pendekatan hukum normatif menganalisis kerangka hukum internasional dan nasional terkait delimitasi maritim, sementara pendekatan hukum empiris melibatkan studi kasus di Tanjung Datu. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen, dengan fokus pada dampak ekonomi, sosial, dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak utama delimitasi maritim adalah pada aspek ekonomi, dengan perubahan hak akses dan ketidakpastian ekonomi; dampak sosial berupa ancaman terhadap keamanan masyarakat pesisir; serta dampak budaya terkait kekhawatiran terhadap pelestarian budaya dan tradisi. Konflik antara Indonesia dan Malaysia juga menimbulkan ketidakpastian hukum wilayah perairan tangkap ikan nelayan. Urgensi penyelesaian delimitasi maritim yang adil dan berkelanjutan untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat pesisir, menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal, serta menciptakan kondisi stabil dan sejahtera bagi komunitas pesisir yang bergantung pada sumber daya laut. Title: Impact of Maritime Delimitation on Coastal Communities at the Indonesia-Malaysia Border in West Kalimantan This study examines the impact of unresolved maritime delimitation on coastal communities, particularly fishermen in Tanjung Datu, West Kalimantan, Indonesia. The topic was chosen because oceans, as valuable assets for maritime countries, often become centers of tension and conflict, especially regarding unresolved maritime boundaries between neighboring countries. The purpose of this research is to identify the impact of maritime delimitation on the rights and livelihoods of fishermen in Tanjung Datu and to highlight threats to the traditions, livelihoods, and economies of coastal communities in this region due to the unclear maritime boundaries between Indonesia and Malaysia. The research methodology combines normative legal and empirical approaches. The normative legal approach analyzes the international and national legal frameworks related to maritime delimitation, while the empirical legal approach involves a case study in Tanjung Datu. Data were collected through interviews, observations, and document analysis, focusing on economic, social, and cultural impacts. The research findings indicate that the primary impact of maritime delimitation is economic, with changes in access rights and economic uncertainty; the social impact includes threats to the security of coastal communities; and the cultural impact relates to concerns about preserving cultural heritage and traditions. The conflict between Indonesia and Malaysia also creates legal uncertainty regarding the fishing waters of fishermen. There is an urgency to resolve maritime delimitation fairly and sustainably to accommodate the needs of coastal communities, preserve their cultural heritage, and create stable and prosperous conditions for coastal communities that rely on marine resources
Analisis Dampak Pemberlakuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.18/Permen-KP/2021 Terhadap Kegiatan Perikanan Purse Seine di Kabupaten Indramayu.
Penerbitan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.18 Tahun 2021 (Permen KP No. 18/2021) bertujuan untuk menghadirkan regulasi pengaturan dan pengelolaan alat penangkapan ikan (API) dan alat bantu penangkapan ikan (ABPI) agar terciptanya manfaat yang optimal serta memberi perlindungan pada lingkungan hidup. Pada kebijakan tersebut, alat tangkap dogol kembali dilarang penggunaannya, dan menghadirkan Jaring Tarik Berkantong (JTB) sebagai solusi pengganti alat tangkap dogol yang sudah banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh pemberlakuan Permen KP No. 18/2021 dengan membandingkan produktivitas hasil tangkapan dan pendapatan nelayan purse seine di Kandanghaur, Indramayu, serta persepsi stakeholder perikanan di Indramayu terhadap penerapan peraturan menteri tersebut. Asumsi yang dibangun adalah dengan dilarangnya dogol maka produktivitas dan pendapatan nelayan purse seine akan meningkat. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method (Kualitatif dan Kuantitatif) dengan menggunakan sensus sampling sebagai teknik pengumpulan data. Analisis data menggunakan pendekatan Mc Nemar guna membandingkan produktivitas dan pendapatan nelayan sebelum dan sesudah pemberlakuan kebijakan, dan skala likert dalam mengukur persepsi setiap pihak terkait pemberlakuan kebijakan tersebut. Hasil penelitian menunjukan hal yang sebaliknya, bahwa terjadi penurunan produktivitas hasil perikanan purse seine yang mana pada tahun 2020 sebesar 20.035 kg/trip menjadi 13.193 kg/trip pada tahun 2022, serta penurunan hasil lelang pada tahun 2020 sebesar Rp. 2.509.061.000 menjadi Rp. 1.661.266.580 pada tahun 2022. Persepsi yang diperoleh dari stake holder perikanan di Indramayu terkait implementasi Permen KP No. 18 tahun 2021 khususnya pada poin pelarangan dogol menunjukan bahwa kebijakan tersebut belum optimal. Hal tersebut ditunjukan karena masih tingginya aktivitas penggunaan alat tangkap dogol yang semestinya telah beralih menjadi alat tangkap JTB. Ditambah lagi dengan penegakan hukum yang kurang efektif.Kata kunci: Permen KP No. 18 Tahun 2021, Purse seine, Dogol, JTBAnalysis Of The Impact Of Implementation Of Minister Of Marine And Fisheries Regulation No.18/Permen-Kp/2021 On Purse Seine Fishery Activities In Indramayu DistrictMinister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation No. 18 of 2021 (Permen KP No. 18/2021) was introduced to regulate and manage fishing equipment (API) and fishing aids (ABPI) to maximize benefits and ensure environmental protection. The policy specifically prohibits the use of dogol fishing gear and introduces the Pocket Towing Net (JTB) as an alternative. This study analyzes the impact of this regulation on the productivity and income of purse seine fishermen in Kandanghaur, Indramayu, and assesses the perceptions of fisheries stakeholders in Indramayu. The assumption is that by banning dogol, the productivity and income of purse seine fishermen would increase. The research employs a mixed-method approach, utilizing census sampling. Mc Nemar's approach is applied to compare the productivity and income of fishermen before and after policy implementation, and a Likert scale measures stakeholders' perceptions. Results reveal a decrease in purse seine fishery productivity from 20,035 kg/trip in 2020 to 13,193 kg/trip in 2022, along with a decline in auction results from Rp. 2,509,061,000 in 2020 to Rp. 1,661,266,580 in 2022. Fisheries stakeholders in Indramayu express dissatisfaction with the policy's effectiveness, citing continued high usage of dogol fishing gear instead of transitioning to JTB gear. Additionally, enforcement of the regulation appears to be lacking. Keywords: Minister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation No. 18 of 2021, Purse seine, Dogol, JT
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPAN PESERTA LELANG MENGGUNAKAN APLIKASI PELELANGAN IKAN: STUDI SEM (STRUCTURAL EQUATION MODELING) FACTORS INFLUENCING AUCTION PARTICIPANTS' READINESS TO USE FISH AUCTION APPLICATIONS: SEM STUDY
Aplikasi pelelangan ikan terintegrasi merupakan salah satu model dan inovasi penting bagi pelabuhan perikanan dalam menghadapi perkembangan teknologi yang pesat di sektor pelelangan ikan. Dalam konteks ini, kemampuan literasi digital peserta lelang perlu dilatih untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel-variabel yang memiliki hubungan signifikan antara kesiapan peserta lelang terhadap variabel internal dari peserta lelang dengan menggunakan metode Partial Least Square Structural Equation Model (PLS-SEM). Penelitian dilakukan di Pelabuhan Muara Angke dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 30 responden. Variabel internal terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan modalitas. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif menggunakan alat pengolahan data yaitu SPSS, sedangkan analisis inferensial menggunakan software Smart PLS. Hasil studi menemukan bahwa terdapat pengaruh positif antara variabel pengetahuan terhadap kesiapan peserta lelang. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik dibawah 1,96 dan nilai p dibawah 0,5, yang menguatkan hipotesis tersebut. Selain itu Modalitas terbukti memiliki efek positif dan berpengaruh secara signifikan terhadap keterampilan. Namun variabel lain seperti Modalitas tidak mempengaruhi faktor kesiapan peserta lelang secara signifikan.The integrated fish auction application is an important model and innovation for fishing ports in light of rapid technological developments in the fish auction sector. In this context, the digital literacy skills of auction participants need to be trained to adapt to information technology advancements. This study aimed to determine the variables that have a significant relationship between the readiness of auction participants and the internal variables of auction participants using the Partial Least Square Structural Equation Model (PLS-SEM) method. The research was conducted at Muara Angke Port with a total of 30 respondents. Internal variables include knowledge, skills, and modalities. The data analysis of this study involves descriptive and inferential analysis. Descriptive analysis utilizes SPSS for data processing, while inferential analysis uses Smart PLS software. The results of the study indicate a positive influence of knowledge variables on the readiness of auction participants supported by statistical value below 1.96 and a p value below 0.5, reinforcing the hypothesis. Additionally,, Modalities have a positive and have significant effect on skills. However, other variables such as Modality do not significantly affect the readiness factor of auction participants
Kelayakan Dasar Pengolahan Pasteurisasi Rajungan (Portunus pelagicus) Dalam Kaleng di BMI, Lampung Selatan, Lampung
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan produk perikanan yang . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan dasar penerapan GMP dan SSOP pengolahan pasteurisayang dikemas dalam bentuk segar, beku maupun kaleng dan di eskpor ke berbagai negara. si rajungan kaleng. Metodologi penelitian melalui observasi dan wawancara terhadap narasumber. Metode kerja dilakukan dengan mengikuti langsung proses penerapan GMP dan SSOP, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pemuatan, melakukan pengujian mutu sensorik, mikroba, antibiotik. Penilaian Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) mengacu pada PermenKP No. 17 Tahun 2019. Analisa data dengan deskriptif. Penilaian GMP dan SSOP pengolahan rajungan dilakukan sesuai SNI. Penerapan suhu dilakukan dengan baik, yaitu suhu penerimaan bahan baku 4,4°C, sizing 4,4°C, picking 16°C, sortasi 10 °C, darkroom checking 10°C, final checking 10°C, mixing 10°C, filling and weighing 10 °C, seaming 10°C. Hasil pengujian mutu organoleptik bahan baku dan produk akhir sebesar 8, dan 9. Hasil uji mikrobiologi memenuhi standar SNI 6929:2023 yaitu ALT produk akhir 1,4x102 kol/g. E.coli, Salmonella, S. aureus, V. cholerae adalah negative, serta tidak ada temuan benda asing.. Hasil uji Klorampenikol (CAP) bahan baku dan produk akhir adalah No detected ppb. Bobot tuntas untuk Jumbo 98,6 % ± 0,68, Lump 98,3% ± 0,84, special 98,5% ± 0,77, Claw Meat 98,2% ± 0,95 dan Collosal 98,1 % ± 0,41. Kelayakan pengolahanpasteurisasi rajungan kaleng dilakukan dengan baik. Berdasarkan hasil penilaian SKP jumlah penyimpangan 2 minor mendapatkan rating A (sangat baik)
Analisis Bibliometrik Trend Penelitian Dengan Tema “Ekonomi Biru Terhadap Pembangunan Berkelanjutan”
Penelitian ini menganalisis perkembangan topik ekonomi biru dalam konteks pembangunan berkelanjutan dengan menggunakan metode analisis bibliometrik. Data diambil dari database Scopus yaitu 18 artikel yang relevan dipilih menggunakan proses identifikasi, penyaringan, dan inklusi. Analisis dengan VOSviewer menunjukkan bahwa Amerika Serikat, Inggris, dan Australia adalah negara-negara dengan kontribusi terbesar dalam penelitian ini, ditandai oleh kolaborasi intensif di antara mereka. Fokus penelitian terbagi menjadi tiga kluster utama: keberlanjutan lingkungan, ekonomi biru, dan ekonomi lingkungan, dengan tema baru seperti energi terbarukan dan ekonomi laut mulai berkembang. Publikasi pada tahun 2024 mendominasi dengan 6 artikel, sementara kutipan terbanyak terjadi pada tahun 2020 dengan 140 kutipan. Temuan ini menggambarkan tren dan pola jaringan penelitian serta mengidentifikasi area-area baru untuk penelitian lebih lanjut yang relevan dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan