eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    EVALUASI EFEKTIVITAS PELATIHAN MITIGASI BENCANA LAUT PESISIR DALAM PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT KABUPATAN PANGANDARAN

    Full text link
    Kabupaten Pangandaran merupakan wilayah pesisir dengan potensi wisata bahari yang tinggi, namun juga memiliki tingkat kerentanan yang signifikan terhadap bencana laut pesisir, seperti tsunami, abrasi, dan banjir rob. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, pelatihan mitigasi bencana laut pesisir diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman serta keterampilan dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan melalui metode kualitatif deskriptif dengan analisis pre-test dan post-test, serta kuesioner Rapid Self-Assessment (RSA). Pelatihan ini melibatkan 28 peserta dari berbagai kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan serta berlangsung selama tiga hari dengan pendekatan interaktif yang mencakup pemaparan materi, simulasi, dan kunjungan lapangan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan dalam pemahaman peserta, terbukti dari rata-rata skor pre-test sebesar 55,3 yang meningkat menjadi 82,7 pada post-test. Selain itu, hasil kuesioner RSA menunjukkan bahwa sebelum pelatihan, 49% peserta berada dalam kategori "mengetahui" dan 28% dalam kategori cukup tahu", sementara setelah pelatihan, 56% peserta masuk dalam kategori "mengetahui" dan 49% dalam kategori "sangat mengetahui". Data ini mendukung temuan bahwa pelatihan berbasis simulasi dan pendekatan lokal lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Meski demikian, masih terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan anggaran dan belum adanya evaluasi jangka panjang. Peningkatan dukungan dari pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan program pelatihan serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Dengan strategi yang lebih sistematis dan partisipatif, diharapkan masyarakat Pangandaran lebih tangguh dalam menghadapi bencana pesisir di masa depan.  Pangandaran Regency is a coastal area with significant marine tourism potential but also has a high level of vulnerability to coastal disasters such as tsunamis, coastal erosion, and tidal flooding. To enhance community preparedness, a coastal disaster mitigation training program was conducted to improve understanding and disaster response skills. This study aims to evaluate the effectiveness of the training using a qualitative descriptive method through pre-test and post-test analysis, as well as a Rapid Self-Assessment (RSA) questionnaire. The training involved 100 participants from various community groups and stakeholders and was conducted over three days with an interactive approach, including lectures, simulations, and field visits.The evaluation results showed an increase in participants’ understanding, as evidenced by the average pre-test score of 55.3, which increased to 82.7 in the post-test. Additionally, the RSA questionnaire results indicated that before the training, 49% of participants were in the "knowledgeable" category and 28% in the "moderately knowledgeable" category, while after the training, 56% of participants were in the "knowledgeable" category and 49% in the "highly knowledgeable" category. These data support the finding that simulation-based training and a localized approach are more effective than conventional methods. However, challenges remain, such as budget constraints and the absence of long-term evaluation. The support from the government and stakeholders is needed to optimize the training program and develop a sustainable monitoring and evaluation system. With a more systematic and participatory strategy, the Pangandaran community is expected to become more resilient in facing coastal disasters in the future.

    THE ECONOMIC IMPACT OF SAND MINING ON COASTAL COMMUNITIES IN PANTAI HARAPAN VILLAGE, LINGGA REGENCY

    Full text link
    Sand mining activities can absorb labor and also be a source of pollution that causes damage in the form of mud and turbidity. Since its establishment in 2019 to 2024, there has been no clarity regarding the mining permits carried out. Sand mining activities involve taking river sand and causing environmental impacts that result in river water pollution around the mine and even into the sea. The purpose of the study was to calculate the income of coastal communities before and after sand mining, calculate the percentage change in income of coastal communities due to sand mining and calculate the percentage of labor absorption created from sand mining activities in Pantai Harapan Village, Lingga Regency. The research was conducted in March-April 2024 in Pantai Harapan Village, Selayar District using a quantitative descriptive method. The number of samples in the study was 42 respondents. The research uses income analysis, percentage changes in income and labor absorption with existing formulas using Microsoft Excel software. The results of the study showed that the average change in community income before mining was IDR 24,517,452/year, after mining it was IDR 37,297,230/year. The percentage change in income of the people of Pantai Harapan Village after mining is 20%. The absorption of labor due to sand mining is 4%

    Uji Efektivitas Antibiotik Cyprofloxacin, Enrofloxacin, Oxytetracycline Untuk Menghambat Bakteri Patogen Aeromonas Hydrophila Secara In Vitro Dan In Vivo

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jenis antibiotik dan dosis terbaik dalam menghambat bakteri patogen Aeromonas hydrophila (AHA). Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB Sukabumi. Penelitian menggunakan metode tunggal dengan dua ulangan dan 10 perlakuan, yaitu: kontrol (K), P1 ciprofloxacin dosis 0,01 ppm, P2 ciprofloxacin dosis 0,02 ppm, P3 ciprofloxacin dosis 0,03 ppm, P4 enrofloxacin dosis 10 ppm, P5 enrofloxacin dosis 15 ppm, P6 enrofloxacin dosis 20 ppm, P7 oksitetrasiklin dosis 40 ppm, P8 oksitetrasiklin dosis 50 ppm, dan P9 oksitetrasiklin dosis 60 ppm. Pada metode kombinasi, digunakan dua ulangan dengan empat perlakuan, yaitu tiga perlakuan terbaik dari metode tunggal dan satu kontrol: K (kontrol), P1 ciprofloxacin dosis 3000 ppm + oksitetrasiklin dosis 60 ppm, P2 enrofloxacin dosis 10 ppm + ciprofloxacin dosis 0,003 ppm, dan P3 oksitetrasiklin dosis 60 ppm + enrofloxacin dosis 10 ppm. Sementara itu, pada metode ko-kultur digunakan dua ulangan dengan empat perlakuan, yaitu: P0 (kontrol/AHA), P2 enrofloxacin dosis 10 ppm, P3 ciprofloxacin dosis 3000 ppm, dan P4 oksitetrasiklin dosis 60 ppm. Parameter yang diamati meliputi zona hambat dan total jumlah bakteri patogen. Berdasarkan hasil penelitian, antibiotik ciprofloxacin pada dosis tunggal 0,003 ppm menunjukkan efektivitas paling tinggi terhadap bakteri patogen Aeromonas hydrophila, dengan zona hambat sebesar 18,4 mm. Pada metode kultur gabungan, ciprofloxacin juga terbukti paling efektif terhadap bakteri AHA, dengan hasil total plate count (TPC) terendah sebesar 5,7 × 10⁵ CFU/ml. Uji in vivo dengan ciprofloxacin dosis 3000 ppm menghasilkan tingkat kelangsungan hidup (SR) sebesar 55%.This study aimed to determine the most effective type and dose of antibiotics to inhibit the pathogenic bacterium Aeromonas hydrophila. The research was conducted at the Health and Environmental Laboratory of the Fish Hatchery Technology and Management Study Program, IPB Sukabumi Vocational School. The study used a single-treatment method with two replications and ten treatments, namely: control (K), P1 ciprofloxacin at a dose of 0.01 ppm, P2 ciprofloxacin at 0.02 ppm, P3 ciprofloxacin at 0.03 ppm, P4 enrofloxacin at 10 ppm, P5 enrofloxacin at 15 ppm, P6 enrofloxacin at 20 ppm, P7 oxytetracycline at 40 ppm, P8 oxytetracycline at 50 ppm, and P9 oxytetracycline at 60 ppm. In the combination method, two replications were used with four treatments: three best treatments from the single method and one control, namely: K (control), P1 ciprofloxacin at 3000 ppm + oxytetracycline at 60 ppm, P2 enrofloxacin at 10 ppm + ciprofloxacin at 0.003 ppm, and P3 oxytetracycline at 60 ppm + enrofloxacin at 10 ppm. Meanwhile, in the coculture method, two replications and four treatments were applied: P0 (control/AHA), P2 enrofloxacin at 10 ppm, P3 ciprofloxacin at 3000 ppm, and P4 oxytetracycline at 60 ppm. The observed parameters included the inhibition zone and total pathogenic bacterial count. Based on the results, ciprofloxacin at a single dose of 0.003 ppm was the most effective against Aeromonas hydrophila, with an inhibition zone of 18.4 mm. In the combination culture method, ciprofloxacin also proved to be the most effective against AHA bacteria, with the lowest total plate count (TPC) result of 5.7 × 10⁵ CFU/ml. The in vivo test using ciprofloxacin at a dose of 3000 ppm resulted in a survival rate (SR) of 55%

    Implementasi Program Fish Apartment Untuk Jadikan Laut Sehat, Nelayan Hebat Dan Mandiri (Fuji Lestari) Sebagai Upaya Konservasi

    Full text link
    FUJI LESTARI (Fish-Apartment untuk Jadikan Laut Sehat, Nelayan Hebat dan Mandiri) merupakan program pemberdayaan masyarakat berupa pemberian bantuan, pendampingan, dan bimbingan / pelatihan teknis terhadap kelompok nelayan di Indonesia. Fish-apartment merupakan salah satu inovasi Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang. Inovasi ini mendukung SDGs ke-14 yaitu manfaat untuk kehidupan bawah laut dan telah diakui pemerintah untuk menjadi program prioritas nasional. Fish-apartment merupakan suatu struktur di bawah air dari bahan Polypropylene (PP) yang dirangkai menjadi 1 modul. Sebanyak +10.000 modul telah ditenggelamkan di 34 provinsi mulai tahun 2011 – 2023. Terdapat +200 kelompok yang terdiri dari +8000 nelayan telah dilibatkan dan merasakan dampak dari fish-apartment di Indonesia. Salah satu daerah percontohan yang sukses memanfaatkan fish-apartment adalah Bangsring Underwater, Kab. Banyuwangi. Fish-apartment berhasil memulihkan ekosistem perairan yang rusak / terdegradasi dan meningkatkan hasil tangkapan  nelayan  hingga  80%.  Secara  nasional,  fish-apartment  telah  menyumbang  dampak  ekonomi mencapai 1,2 triliun rupiah per tahun. Keberhasilan FUJI LESTARI merupakan bentuk nyata dari pelayanan publik yang dilakukan BBPI. Salah satu tugas dan fungsinya adalah melakukan uji terap teknologi tepat guna pada masyarakat dengan terus berkolaborasi bersama stake holder perikanan tangkap. BBPI berkomitmen akan terus melaksanakan FUJI LESTARI untuk mewujudkan Laut Sehat, Nelayannya Hebat dan Mandiri. Kata Kunci: Fuji Lestari, Fish Apartment, Nelayan, Bangsring

    Kebijakan Optimalisasi PNBP Pelabuhan Perikanan Berbasis Indeks Komposit

    Full text link
    Penelitian ini menilai kontribusi pelabuhan perikanan terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP) perikanan tangkap pascaproduksi dengan pendekatan indeks komposit. Data sekunder tahun 2023 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk memilih indikator penting dan menentukan bobot dimensi. Hasil penelitian menunjukkan dimensi ekonomi dan sarana prasarana paling berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi, sedangkan kelembagaan berperan besar dalam memastikan tata kelola PNBP berjalan efektif. Dimensi lingkungan masih perlu diperkuat agar pelabuhan berfungsi tidak hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai penjaga keberlanjutan sumber daya ikan. PPS Nizam Zachman Jakarta memperoleh skor indeks komposit tertinggi (0,892), menegaskan potensinya sebagai model percontohan kebijakan. Rekomendasi kebijakan menekankan investasi pada fasilitas inti, penguatan tata kelola kelembagaan, serta integrasi aspek lingkungan ke dalam evaluasi berbasis indeks. Dengan demikian, indeks komposit tidak hanya menjadi alat ukur objektif, tetapi juga panduan strategis untuk mengoptimalkan kontribusi pelabuhan perikanan terhadap PNBP pascaproduksi secara berkelanjutan.Title: Policy on Optimizing Fishery Port Non-Tax State Revenue Based on A Composite Index This study assesses the contribution of fishing ports to Non-Tax State Revenue (PNBP) from post-production capture fisheries using a composite index approach. Secondary data from 2023, provided by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries, were analyzed with Principal Component Analysis (PCA) to select key indicators and assign dimension weights. The findings reveal that economic and infrastructure dimensions have the greatest impact on productivity and value creation, while institutional governance ensures effective PNBP implementation. The environmental dimension requires strengthening so that ports can act not only as economic hubs but also as stewards of fishery resources. The Nizam Zachman Jakarta Oceanic Fishing Port achieved the highest composite index score (0.892), highlighting its role as a policy model. Policy recommendations focus on investing in core facilities, reinforcing governance, and integrating environmental aspects into index-based evaluations. Thus, the composite index serves both as an objective measurement tool and a strategic guide to optimize the sustainable contribution of fishing ports to post-production PNBP

    Front Matter

    No full text

    PENGARUH DOSIS BOSTER GROTOP TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN GURAMI DALAM SISTEM RESIRKULASI

    Full text link
    Penelitian ini dimaksudkan guna mengidentifikasi dosis boster Grotop yang paling efektif dalam merangsang pertumbuhan ikan gurami (Osphronemus goramy) yang dibudidayakan menggunakan sistem resirkulasi. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan November 2024 hingga Januari 2025, bertempat di Laboratorium Teknologi Budidaya, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau. Desain eksperimen yang diterapkan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari lima perlakuan dengan masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan yang dimaksud mencakup penambahan boster Grotop dalam pakan dengan dosis 0 g kg-1, 40 g kg-1, 45 g kg-1, 50 g kg-1, dan 55 g kg-1. Sebanyak 300 ekor benih gurami berukuran 5–7 cm digunakan dalam penelitian ini, dengan kepadatan 20 ekor per akuarium berukuran 60 × 40 × 40 cm. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan dosis boster Grotop berpengaruh nyata (P<0,05) dibandingkan kontrol tanpa grotop terhadap pertambahan bobot dan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi penggunaan pakan, rasio konversi pakan, serta tingkat kecernaan pakan. Sementara itu, pengaruh terhadap kelulushidupan benih gurami tidak signifikan (P>0,05). Perlakuan dengan dosis 50 g kg-1 pakan memberikan hasil terbaik, dengan bobot mutlak sebesar 9,35±0,04 g, panjang mutlak 3,87±0,14 cm, laju pertumbuhan spesifik 3,73±0,02%, efisiensi pakan 66,94±12,58%, rasio konversi pakan 1,52±0,26, tingkat kelulushidupan 83,33±2,88%, serta kecernaan pakan sebesar 64%.This study aimed to determine the most effective dosage of Grotop booster in stimulating the growth of giant gourami (Osphronemus goramy) reared in a recirculating aquaculture system. The experiment was conducted from November 2024 to January 2025 at the Aquaculture Technology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Riau. A Completely Randomized Design (CRD) was employed, consisting of five treatments with three replications each. The treatments involved the supplementation of Grotop booster in feed at dosages of 0 g kg-1, 40 g kg-1, 45 g kg-1, 50 g kg-1, and 55 g kg-1. A total of 300 juvenile gourami, measuring 5–7 cm in length, were used with a stocking density of 20 fish per aquarium (60 × 40 × 40 cm). Statistical analysis revealed that variations in Grotop booster dosage had a significant effect (P<0.05) on absolute weight and length gain, specific growth rate, feed efficiency, feed conversion ratio, and feed digestibility. However, no significant effect (P>0.05) was observed on the survival rate of the gourami juveniles in the recirculating system. The optimal performance was observed at the 50 g/kg feed dosage, yielding an absolute weight gain of 9.35±0.04 g, absolute length gain of 3.87±0.14 cm, specific growth rate of 3.73±0.02%, feed efficiency of 66.94±12.58%, feed conversion ratio of 1.52±0.26, survival rate of 83.33±2.88%, and a feed digestibility rate of 64%

    CORAL BOND: STRATEGI PENDANAAN UNTUK KEBERLANJUTAN TERUMBU KARANG

    Full text link
    Indonesia memiliki ekosistem terumbu karang terluas di dunia dengan perkiraan sekitar 51.020 km² atau sekitar 17,95% dari total terumbu karang dunia. Namun faktanya, 71,2% terumbu karang Indonesia berada dalam kondisi buruk hingga cukup akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Coral bond merupakan instrumen pendanaan inovatif berbasis pasar yang dirancang untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan (financing gap) konservasi terumbu karang. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dan analisis komparatif terhadap berbagai publikasi ilmiah, laporan kebijakan, serta studi kasus internasional terkait penerapan coral bond dan instrument blue finance lainnya. Melalui metode ini, dilakukan gap analysis untuk mengidentifikasi tantangan utama dalam penerapan mekanisme pendanaan berkelanjutan bagi konservasi terumbu karang di Indonesia. Berdasarkan hasil kajiam dirumuskan solusi konseptual dan usulan kebijakan yang berfokus pada penguatan tata kelola blue financing, pengembangan kerangka regulasi yang mendukung, dan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam implementasi instrumen keuangan berbasis hasil (outcome-based financing). Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia Coral Bond dengan nilai US10jutadapatmenjadiinstrumennonsovereigndannondebtyangefektifuntukmendukungtargetpencapaian3010 juta dapat menjadi instrumen non-sovereign dan non-debt yang efektif untuk mendukung target pencapaian 30% kawasan konservasi laut pada 2045. Strategi implementasi memerlukan penguatan baseline data, kapasitas kelembagaan, dan keterlibatan multi-stakeholder dengan menggunakan standar verifikasi IUCN Green List dan outcome-based payment mechanism.Indonesia possesses the largest coral reef ecosystem in the world, covering approximately 51,020 km², or around 17.95% of global coral reef coverage. However, 71.2% of Indonesia’s coral reefs are in fair to poor condition due to climate change and anthropogenic pressures. The coral bond is an innovative market-based financing instrument designed to address the financing gap in coral reef conservation efforts. This study employs a literature review and comparative analysis, drawing on scientific publications, policy reports, and international case studies on the implementation of coral bonds and other blue finance instruments. Through a gap analysis, the research identifies the main challenges and limitations in applying sustainable financing mechanisms for coral reef conservation in Indonesia. Based on the findings, the study proposes conceptual solutions and policy recommendations to strengthen blue finance governance, develop a supportive regulatory framework, and enhance institutional capacity to implement innovative, outcome-based financing mechanisms. The analysis indicates that an Indonesia Coral Bond valued at US10 million could serve as an effective non-sovereign and non-debt instrument to support the national target of achieving 30% marine protected areas by 2045. The proposed implementation strategy emphasizes strengthening baseline data, institutional capacity-building, and multi-stakeholder engagement, using the IUCN Green List verification standard and an outcome-based payment mechanism

    DISTRIBUTION OF LENGTH, LENGTH-WEIGHT RELATIONSHIP, AND CATCHABLE SIZE OF ALBACORA IN BENOA PORT

    Full text link
    Albacore (Thunnus alalunga) is one of the most economically important tuna species in tropical waters, including Indonesia. High levels of tuna exploitation can be minimized through fisheries management that requires stock and biological data.  The purpose of this study was to analyze the size distribution, percentage of fish suitable for capture, and the relationship between length and weight of Albakora (Thunnus alalunga) landed at Benoa Port. The study was conducted from January to April 2024 by taking 200 samples of Albakora (Thunnus alalunga) landed at Benoa Port. The analysis methods used were length distribution, length and weight relationships, and catchable size of Albacore (Thunnus alalunga). The analysis results showed that the frequency distribution of Albacore (Thunnus alalunga) length was highest in the range of 100 cm – 106 cm, with 66 fish. A total of 85% of Albacore (Thunnus alalunga) were in the catchable category, while 15% were in the non-catchable category. Albacore growth is negatively allometric (b<3), meaning that fish length grows faster than weight. The condition of Albacore fisheries in the Indian Ocean is classified as overfishing, thus requiring proper management..

    KINERJA PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA SULTANA (Oreochromis niloticus) YANG DIBERIKAN PROBIOTIK KOMERSIAL

    Full text link
    Penyakit ikan merupakan salah satu permasalahan pada usaha budidaya ikan nila karena memengaruhi pertumbuhan ikan dan produktivitas panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian probiotik komersial terhadap pertumbuhan ikan nila sultana Oreochromis niloticus. Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Ikan (BBI) Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dengan tiga ulangan diantaranya K (tanpa probiotik), A (probiotik A 15 mL kg-1) dan B (2 mL kg-1). Probiotik komersial yang digunakan yaitu A (Bacillus subtilis 106 CFU mL-1) dan B (Bacillus subtilis 106 CFU mL-1, Bifidobacterium bifidum 106 CFU mL-1, Bifidobacterium longum 106 CFU mL-1, Saccharomyces cerevisiae CFU mL-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa probiotik komersial B merupakan hasil terbaik dengan nilai pertumbuhan bobot mutlak 7,4 g, pertumbuhan panjang mutlak 3,5 cm, specific growth rate (SGR) 4,3% hari-1 dan sintasan 90%.Fish diseases are one of the challenges in Nile tilapia farming as they affect fish growth and harvest productivity. This study aims to evaluate the administration of commercial probiotics on the development of sultana Nile tilapia (Oreochromis niloticus). The research was conducted at the West Java Sukabumi Fish Hatchery Center (BBI). This study used a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments and three replications: K (without probiotics), A (probiotic A at 15 mL kg-1), and B (probiotic B at 2 mL kg-1). The commercial probiotics used were A (Bacillus subtilis 10v CFU mL-1) and B (Bacillus subtilis 106 CFU mL¹, Bifidobacterium bifidum 106 CFU mL-1, Bifidobacterium longum 106 CFU mL-1, and Saccharomyces cerevisiae CFU mL-1. The results showed that commercial probiotic B produced the best outcome: an absolute weight gain of 7,4 g, an absolute length increase of 3,5 cm, a specific growth rate (SGR) of 4,3% per day, and a survival rate (SR) of 90%

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇