eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    Hasil Tangkapan Ikan pada Alat Tangkap Purse Seine dengan Durasi Penyinaran Lampu Berbeda di WPP-NRI 718 Laut Arafura

    Full text link
    Laut Arafura di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 718 merupakan salah satu daerah penangkapan ikan pelagis yang penting karena memiliki potensi sumber daya ikan yang melimpah. Salah satu teknik yang digunakan untuk meningkatkan hasil tangkapan dengan alat tangkap purse seine adalah pencahayaan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh dua durasi penyinaran cahaya, yaitu 500 menit dan 600 menit, terhadap hasil tangkapan ikan. Penelitian dilakukan selama tiga bulan (Desember 2023 – Februari 2024) di atas kapal KMN. Agung Sobrah yang beroperasi di WPP 718. Metode yang digunakan adalah eksperimen lapangan dengan masing-masing perlakuan diulang enam kali. Data dianalisis menggunakan uji-t dua sampel independen (α = 0,05) dan analisis deskriptif untuk komposisi jenis ikan. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan jumlah hasil tangkapan antara dua durasi penyinaran (P0,143<0.05). Namun, terdapat variasi jenis ikan yang tertangkap tiap bulan. Dengan demikian, durasi penyinaran 500–600 menit tidak memengaruhi jumlah tangkapan secara nyata, tetapi berpengaruh terhadap komposisi spesies. Penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan faktor lingkungan perairan.The Arafura Sea, located within Indonesia’s Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (WPPNRI) 718, is one of the key fishing grounds for pelagic fish species because it has abundant fish resource potential. One method used to enhance the effectiveness of purse seine fishing in this area is the application of artificial lighting. This study aimed to compare the effect of two different lighting durations—500 minutes and 600 minutes—on fish catch performance. The research was conducted over three months (December 2023– February 2024) aboard the KMN Agung Sobrah, operating in WPP 718. A field experiment approach was used, with each treatment replicated six times. Data were analyzed using an independent two-sample t-test (α = 0.05) and descriptive analysis to assess species composition. The results showed no significant difference in total catch between the two lighting durations (P = 0.143). However, variations in species composition were observed across months. Thus, while lighting duration between 500 and 600 minutes did not significantly affect total catch volume, it influenced the types of species caught. Further research should consider oceanographic and behavioral factors to better understand these outcomes

    POTENSI ANTIPARASITIK HERBAL EKSTRAK HERBAL TERHADAP LINTAH LAUT (ZEYLANICOBDELLA ARUGAMENSIS) PADA JUVENIL IKAN KERAPU HIBRIDA CANTANG (Epinephelus fuscoguttatus X E. lanceolatus)

    Full text link
    Lintah laut adalahektoparasit yang sangat merugikan bagbudidaya ikan kerapu di Bali Utara. Penelitian ini bertujuan menggali potensi antiparasitik jenis 76 tanaman dalam mengendalikan infeksi lintah laut (Zeylanicobdella arugamensis) pada juvenil ikan kerapu hibrida cantang (Epinephelus fuscoguttatus x E. lanceolatus). Sebanyak 76 jenis tanaman diekstrak menggunakan pelarut air laut steril untuk uji in vitro tahap 1 sebagai skrining awal, dilanjutkan dengan uji in vitro tahap 2 dan uji in vivo tahap 1 dan tahap 2. Uji in vivo dilakukan dengan merendam lintah laut dalam ektrak herbal 1000 ppm selama dua jam. Hasil uji in vitro tahap 1 mendapakan 11 tanaman berpotensi antiparasitik, yaitu lada putih, lada hitam, bunga cengkeh, lengkuas, cabai Jawa, jahe hitam, kulit buah manggis, daun sawo Manila, daun delima, daun brotowali dan batang brotowali. Berdasarkan uji tersebut dilakukan uji in vitro tahap 2 untuk mengetahui konsentrasi minimal yang melemahkan lintah laut. Uji in vitro tahap 2 menunjukkan bahwa konsentrasi minimum (500 ppm) hanya diperoleh dari tanaman lada putih. Uji in vivo dilakukan dengan menggunakan ikan kerapu cantang yang yang terinfeksi lintah laut. Uji in vivo tahap 1 menunjukkan bahwa sembilan (lada putih, lada hitam, bunga cengkeh, lengkuas, cabai Jawa, kulit buah manggis, daun sawo Manila, daun delima, daun brotowali) dari sebelas herbal tersebut belum mampu melepaskan lintah laut namun mematikan bagi ikan. Sedangkan uji in vivo tahap 2 menunjukkan sekaligus menyimpulkan bahwa ekstrak herbal, yaitu jahe hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) dan daun brotowali efektif (Tinospora cordifolia) dalam air laut konsentrasi 1000 ppm.Sea leeches are the major ectoparasites that infect grouper fish. This study explores the antiparasitic potential of 76 plants in controlling sea leech. The plants were extracted using sterile seawater and used in the in vitro test 1 (initial screening), followed by in vitro test 2 and in vivo test 1 and 2. The in vivo test was carried out by soaking sea leeches in 1000 ppm herbal extractsfor two hours. The results of the in vitro test 1 found that 11 plants had antiparasitic potential (white pepper, black pepper, clove flowers, galangal, Javanese chili, black ginger, mangosteen peel, Manila sapodilla leaves, pomegranate leaves, brotowali leaves and brotowali stems). Based on initial test, the in vitro test 2 was conducted to determine the minimum concentration. The in vitro test 2 showed that the minimum concentration (500 ppm) was obtained from white pepper . The in vivo test was conducted using infected fish. The in vivo test 2 showed that nine (white pepper, black pepper, clove flowers, galangal, Javanese chili, mangosteen peel, Manila sapodilla leaves, pomegranate leaves, brotowali leaves) herbals were not able to release leeches but deadly to the fish. Meanwhile, the in vivo test 2 concluded that black ginger (Curcuma aeruginosa Roxb.) and brotowali leaves (Tinospora cordifolia) in sea water at a concentration of 1000 ppm were effective in releasing leeches within 10 minutes and non toxic to fish

    Pola Regulasi Osmoionik dan Aspek Biologi Udang Jerbung (Penaeus merguiensis) di Perairan Tambak Lorok, Semarang

    No full text
    Perubahan salinitas dapat mempengaruhi adaptasi udang jerbung (Penaeus merguiensis) terhadap lingkungan tempat hidupnya. Udang memerlukan suatu mekanisme osmoregulasi dan regulasi ion dalam proses adaptasi. Hal ini akan mempengaruhi penggunaan energi udang untuk proses adaptasi dan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola regulasi osmoionik, pertumbuhan dan faktor kondisi udang jerbung yang hidup di perairan Tambak Lorok, Semarang. Penelitian dilakukan pada bulan September 2022. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik sampling purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan di bagan tancap dengan 3 stasiun berbeda, yaitu muara, area budidaya kerang dan Pelabuhan. Data osmolaritas dianalisis ke dalam rumus untuk mengetahui TKO, pola osmoregulasi dan salinitas isoosmotik, sedangkan data ion dianalisis ke dalam rumus untuk mengetahui pola regulasi ion. Data panjang dan berat digunakan untuk mengkaji pola pertumbuhan melalui analisis regresi linier, kemudian dimasukkan kedalam rumus untuk mengetahui faktor kondisi udang. Hasil pengukuran TKO udang jerbung berkisar antara 56 – 86 mOsm/kg H2O. Osmolaritas media berkisar antara 964 – 994 mOsm/kg H2O, sedangkan osmolaritas haemolymph sebesar 904 – 911 mOsm/kg H2O. Salinitas isoosmotik udang yaitu antara 30,99 – 31,22‰. Ion yang mendominasi perairan dan haemolymph adalah Na+ dan Cl-. Nilai b yang didapatkan sebesar 1,430 – 2,917. Nilai K, yaitu 0,801 – 1,227. Kesimpulan yang didapatkan, yaitu pola osmoregulasi udang bersifat hipoosmotik dengan pola regulasi ion hipoionik. Pola pertumbuhan udang jerbung adalah allometrik negatif, sedangkan faktor kondisi udang tergolong dalam kategori kurus

    Analisis Nilai Tambah dan Manajemen Industri Pengolahan Bandeng Isi Tanpa Duri di UMKM Global Pangan Sadulur

    Full text link
    Pengolahan hasil perikanan merupakan mata rantai penting dalam sektor perikanan yang bertujuan untuk memberikan nilai tambah dan memperluas akses pasar produk perikanan.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai tambah dan manajemen industri pengolahan bandeng isi tanpa duri di UMKM Global Pangan Sadulur, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.  Bandeng isi tanpa duri merupakan salah satu produk diversifikasi olahan ikan bandeng (Chanos chanos). Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2025, dan menggunakan pendekatan studi kasus dan metode deskriptif - kuantitatif.  Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.  Nilai tambah dianalisis dengan metode Hayami, sedangkan manajemen industri dianalisis melalui aspek sarana dan prasarana, pengadaan bahan baku, proses produksi, pengelolaan tenaga kerja, strategi pemasaran, distribusi produk, dan sistem pencatatan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan bandeng isi tanpa duri memiliki nilai tambah yang tinggi dan dikelola dengan sistem manajemen industri yang baik. Nilai tambah yang dihasilkan sebesar Rp30.000/kg dengan rasio 31,58%.  Pengelolaan sarana dan prasarana secara efisien dan disesuaikan dengan proses produksi yang sistematis untuk menjaga mutu dan efisiensi usaha. Pengelolaan tenaga kerja menerapkan sistem kerja terorganisir dengan pembagian jadwal dan tugas yang jelas. Strategi pemasaran mencakup segmentasi pasar yang tepat, penetapan harga berjenjang, promosi digital, dan saluran distibusi multikanal. Produk telah menjangkau pasar lokal maupun luar daerah, dan pencatatan produksi menggunakan sistem komputerisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi data empiris mengenai nilai tambah dan manajemen industri produk olahan ikan skala UMKM. Temuan ini diharapkan menjadi referensi dalam pengembangan strategi peningkatan efisiensi produksi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan daya saing UMKM berbasis pengolahan hasil perikananFishery product processing is an important link in the fisheries sector, aiming to add value and expand market access. This study aims to analyze the added value and industrial management of the boneless stuffed milkfish processing at Global Pangan Sadulur, an MSME in Margaasih District, Bandung Regency, West Java Province. Boneless stuffed milkfish is one of the diversified processed milkfish (Chanos chanos) products. The study was conducted in May 2025 using a case study approach and descriptive-quantitative methods. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Added value was analyzed using the Hayami method, while management was analyzed in terms of facilities and infrastructure, raw material procurement, production processes, workforce management, marketing strategy, product distribution, and production recording systems. The results show that boneless stuffed milkfish processing yields high added value and is managed with a good industrial management system. The added value generated is IDR 30,000/kg with a ratio of 31.58%. Facilities and infrastructure are managed efficiently through a systematic production process to maintain quality and efficiency. The workforce is organized with clear schedules and task division. Marketing strategies include segmentation, tiered pricing, digital promotion, and multi-channel distribution. Products are marketed locally and to other regions, and production is recorded with a computeriized system. This study provides empirical data on the added value and management of the fish processing at the MSME scale. These findings are expected to serve as a reference for developing strategies to increase production efficiency, create jobs, and strengthen the competitiveness fish processing-based MSMEs

    TANTANGAN DAN STRATEGI KEBIJAKAN PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK DI PELABUHAN PERIKANAN INDONESIA

    Full text link
    Pengelolaan sampah plastik di pelabuhan perikanan nasional menghadapi permasalahan sistemik dan multidimensi. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan utama dalam pelaksanaan kebijakan pengelolaan sampah di pelabuhan perikanan berdasarkan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan lima isu krusial yang saling berkaitan: (1) kurangnya infrastruktur dan fasilitas dasar, (2) lemahnya koordinasi lintas kelembagaan, (3) rendahnya partisipasi dan kesadaran pelaku perikanan, (4) keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia, dan (5) inkonsistensi serta lemahnya penegakan hukum. Sebagai contoh, di beberapa pelabuhan, meskipun tersedia kebijakan nasional seperti Perpres No. 83 Tahun 2018, ketidakhadiran SOP yang jelas, kurangnya anggaran, dan minimnya keterlibatan pelaku usaha menyebabkan kebijakan tersebut tidak dapat dijalankan secara efektif. Visualisasi data melalui bubble chart dan network mapping memperkuat temuan bahwa hambatan tersebut saling terhubung dan memerlukan pendekatan kebijakan yang holistik dan kolaboratif. Oleh karena itu, beberapa strategi kebijakan pengelolaan sampah plastik pelabuhan perikanan seperti penguatan struktur kelembagaan, pemberian insentif ekonomi, peningkatan kapasitas teknis, dan reformasi penegakan aturan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah pelabuhan perikanan yang berkelanjutan.Plastic waste management in Indonesia’s fishing ports is facing a serious systemic crisis that not only threatens the sustainability of the marine environment but also disrupts the long-term viability of the national marine and fisheries sector. As the world’s second-largest contributor of plastic waste to the ocean, Indonesia generates a staggering 1.29 million tons of plastic waste annually. Fishing ports, which serve as key hubs for capture fisheries activities and seafood distribution, have become critical points in the waste management chain that urgently require rapid, targeted, and comprehensive policy interventions. A gap analysis of policy implementation reveals five interrelated and mutually reinforcing problems. First, waste management infrastructure in ports remains limited, with only around 30% of ports equipped with adequate Temporary Waste Storage (TPS) facilities. Second, waste management institutions remain fragmented and lack synergy, as evidenced by overlapping authorities among at least 12 related agencies. Third, stakeholder participation remains low. Fourth, there is a significant budget deficit, amounting to approximately 70% of the minimum required funding for effective waste management. Fifth, law enforcement is still suboptimal, with compliance rates for waste management regulations at only 40%. In response to the complexity of these challenges, the “Integrated Waste Management System” policy has been selected as the most feasible strategic solution, based on William N. Dunn’s  criteria analysis. This system integrates four main pillars: strengthening a coordinative institutional framework capable of harmonizing inter-agency roles; developing environmentally friendly, technology-based waste management infrastructure; enhancing the active participation of coastal communities and fishing groups; and enforcing laws firmly and consistently through incentive and disincentive mechanisms.

    PENGARUH TINGKAT DAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN DAN PEMANFAATAN PAKAN PADA PEMELIHARAAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)

    Full text link
    Pakan komersial menyumbang hingga 85% dari biaya produksi dalam pembenihan ikan gurami, dengan kenaikan harga yang berdampak pada efisiensi produksi. Optimalisasi feeding rate (FR) dan feeding frequency (FF) sangat penting dalam pengelolaan pakan. Penelitian ini menganalisis pengaruh kombinasi FR dan FF terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan pada benih ikan gurami. Rancangan acak lengkap faktorial digunakan dengan dua tingkat FR (3% dan 6%) serta tiga tingkat FF (1, 2, dan 3 kali per hari), menghasilkan enam kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan. Ikan gurami (0,81 ± 0,02 g; 3,79 ± 0,17 cm) dipelihara selama 60 hari dalam unit dengan volume 20 L dengan kepadatan 1 ekor L⁻¹ dan pergantian air yang seragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi FR 6% dengan FF tiga kali per hari menghasilkan kinerja pertumbuhan terbaik, dengan bobot akhir (5,74 g), laju pertumbuhan spesifik (3,25% hari⁻¹), pertambahan bobot harian (82,17 mg hari⁻¹), koefisien pertumbuhan termal (4,74), dan faktor kondisi (1,91). Kombinasi FR 6% dengan FF dua kali per hari menghasilkan panjang akhir (6,96 cm), biomassa akhir (113,75 g), hasil bersih (4,87 g L⁻¹), total konsumsi pakan (120,07 g), dan tingkat kelangsungan hidup (100%) tertinggi. Rasio konversi pakan terbaik (0,83) dan efisiensi pakan tertinggi (82,46%) ditemukan pada FR 3% dengan FF tiga kali per hari, meskipun tidak meningkatkan pertumbuhan. Secara keseluruhan, FR 6% dengan FF tiga kali per hari merupakan kombinasi paling efektif untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan pemanfaatan pakan (rasio konversi pakan 1,05; efisiensi pakan 81,87%) dan direkomendasikan dalam manajemen pembenihan ikan gurami.Commercial feed accounts for up to 85% of production costs in giant gourami hatcheries, with rising prices impacting production efficiency. Optimizing feeding rate (FR) and feeding frequency (FF) is crucial for managing feed use. This study analyzed effects of different FR and FF combinations on growth performance and feed utilization in giant gourami fry. A factorial completely randomized design was used with two FR (3% and 6%) and three FF levels (1, 2, and 3 times per day), totaling six treatment combinations with three replicates. Giant gourami (0.81 ± 0.02 g, 3.79 ± 0.17 cm) were reared for 60 days in 20 L units at a density of 1 fish L-1, with uniform water exchange. Results showed that FR 6% with FF three times per day yielded the best growth performance, with final weight (5.74 g), specific growth rate (3.25% day-1), daily weight gain (82.17 mg day-1), thermal growth coefficient (4.74), and condition factor (1.91). The FR 6% with FF twice per day combination resulted in the highest final length (6.96 cm), biomass (113.75 g), net yield (4.87 g L-1), total feed consumption (120.07 g), and survival rate (100%). The best feed conversion ratio (0.83) and feed efficiency (82.46%) were observed in FR 3% with FF three times per day, though it did not enhance growth. Overall, FR 6% with FF three times per day was the most effective for optimizing growth and feed utilization (feed conversion ratio 1.05; feed efficiency 81.87%) and is recommended for giant gourami hatchery management

    Analisis Pengembangan Usaha Pengolahan Bakso Ikan Lele (Clarias sp) Melalui Perbaikan Strategi Pemasaran di Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur (Studi Kasus di Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur)

    Full text link
    Sektor perikanan memiliki potensi penggerak perekonomian baik secara makro maupun mikro.  Secara makro sebagai penyumbang devisa, sedangkan secara mikro memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha di bidang perikanan.  Salah satu usaha tersebut adalah pengolahan bakso Ikan Lele (Clarias sp). Menurut  https://efishery.com/2024, Ekspor Ikan Lele Indonesia keluar negeri mencapai 20.000 ton.  Jumlah tersebut menunjukkan bahwa produksi Ikan Lele di Indonesia mengalami kelebihan dibandingkan dengan jumlah permintaannya. Oleh karena itu anggota Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) di Kecamatan Kedopok memanfaatkan Ikan Lele sebagai bahan baku olahan bakso, mengingat selama ini bahan baku bakso hanya mengandalkan daging sapi atau daging ayam yang harganya terbilang cukup mahal. Penelitian dilakukan di Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur.  Penelitian dilakukan pada Bulan Pebruari sampai dengan Mei 2024. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan berdasarkan  wawancara (interview) dan pengamatan  (observation) terhadap 17 orang responden yaitu pengolah dan pemasar bakso Ikan Lele yang tergabung dalam Kelompok Mina Cipta Lestari dan Kelompok Usaha Maju Bersama.  Data sekunder dikumpulkan dari literature, internet, Dinas Perikanan, dan lembaga lainnya. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, sedangkan pegolahan dan analisa datanya dilakukan dengan menggunakan  Metode Deskriptif dan Studi Kasus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:1).Penyebab rendahnya pendapatan yang diperoleh Kelompok Mina Cipta Lestari dan Kelompok Usaha Maju Bersama, 2). Strategi pemasaran untuk mengembangkan usaha pengolahan bakso Ikan Lele (Clarias sp) Poklahsar Mina Cipta Lestari dan Kelompok Usaha Maju Bersama.Adapun hasil penelitian ini adalah 1). Penyebab rendahnya pendapatan yang diperoleh Poklahsar Mina Cipta Lestari dan Kelompok Usaha Maju Bersama adalah karena penggunaan kemasan bakso Ikan Lele (Clarias sp) yang masih sederhana yaitu menggunakan plastik biasa (plastik klip) ataupun  plastik mika dan lokasi pemasaran yang kurang strategis, 2). Strategi untuk mengembangkan usaha pengolahan bakso Ikan Lele (Clarias sp) adalah dengan  mengganti kemasan plastik klip/mika dengan plastik standing pouch serta pemilihan lokasi pemasaran yang strategi

    Kajian Komoditas Unggulan Aquaculture Kabupaten Sumenep Jawa Timur

    Full text link
    Penentuan komoditas unggulan merupakan salah satu langkah awal dalam mewujudkan pembangunan perekonomian secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komoditas unggulan sub sektor perikanan budi daya di Kabupaten Sumenep yang mempunyai prospek dan daya saing yang tinggi untuk di kembangkan guna peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya. Metode analisis data menggunakan analisis Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Typlogi Klassen dan Analisis Shift Share (SS). Data yang digunakan adalah data sekunder, meliputi data time series produksi komoditas perikanan budi daya Kabupaten Sumenep dan Provinsi Jawa Timur tahun 2019-2022. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumput laut merupakan satu-satunya komoditas basis dengan nilai LQ >1, Analisis DLQ menunjukkan bahwa sebagian besar komoditas perikanan budi daya di Kabupaten Sumenep memiliki prospek pengembangan di masa depan kecuali ikan kerapu. Typologi Klassen mengindikasikan perlunya perhatian lebih pada komoditas yang tedapat pada kuadran II, yakni pada komoditas yang memilik pertumbuhan cepat namun kontribusi rendah, seperti lele, nila, bandeng, udang, dan ikan lainnyaAnalisis shift-share menunjukkan bahwa komoditas rumput laut, bandeng, dan ikan lainnya termasuk dalam kategori pertumbuhan lamban, sementara komoditas gurame, lele, nila, kerapu, dan udang memiliki pertumbuhan progresif meskipun nilai Location Quotient (LQ) rendah. Penelitian ini merekomendasikan Upaya pemerintah Kabupaten Sumenep untuk meningkatkan kebijakan pembiayaan dan investasi yang dapat memengaruhi laju pertumbuhan perikanan budi daya agar mampu mempunyai daya saing yang tinggi melalui kebijakan seperti revitalisasi, industrialisasi, dan standarisasi. Title: A Study on Leading Commodities in the Aquaculture Subsector in Sumenep Regency, East Java Determining superior commodities is one of the first steps in realizing sustainable economic development. This research aims to determine the superior commodities of the aquaculture sub-sector in Sumenep Regency which have high prospects and competitiveness to be developed in order to improve the economy and welfare of the community. The data analysis method uses Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Klassen Typology and Shift Share (SS) analysis. The data used is secondary data, including time series data on the production of aquaculture commodities in Sumenep Regency and East Java Province for 2019-2022. The analysis results show that seaweed is the only basic commodity with an LQ value >1. DLQ analysis shows that most of the aquaculture commodities in Sumenep Regency have future development prospects except grouper. The Klassen typology classifies commodities based on growth rate and contribution to the regional economy, indicating the need for more attention to commodities found in quadrant II which have fast growth but low contribution, such as catfish, tilapia, milkfish, shrimp and other fish. Hift-share analysis shows that seaweed, milkfish and other fish commodities are in the slow growth category, while gourami, catfish, tilapia, grouper and shrimp commodities have progressive growth even though the Location Quotient (LQ) value is low. This research recommends efforts by the Sumenep Regency government to improve financing and investment policies that can influence the growth rate of aquaculture so that it is able to have high competitiveness through policies such as revitalization, industrialization, and standardization

    DIFFERENT LED LIGHT EFFECT ON GONAD MATURATION AND GENE EXPRESSION IN FEMALE SYNODONTIS BROODSTOCKS (Synodontis sp.)

    Full text link
    The study investigated the influence of the different LED light spectrums on the maturation of the gonads in female synodontis broodstock and examined the maturation-related gene expression levels. Female synodontis were exposed to four different LED light spectra, specifically: white, blue, green, and red, for a continuous period of 120 days rearing. This study employed a completely randomized design, consisting of four treatments and five individual fish as replication for each treatment. An analysis was conducted on the gonadosomatic index (GSI), hepatosomatic index (HSI), gonad histology, estradiol levels, kiss2 and gnrh2 mRNA expression levels. The utilization of blue LED light treatment is highly effective in enhancing the reproductive parameters in female synodontis fish. The results show that brain and gonad kiss2 mRNA expression levels are not significantly different (P<0.05), while gnrh2 mRNA expression levels were significantly different (P<0.05) and had the highest expression in the gonads. The results suggest that light exposure can induce changes in the expression levels of kiss2 and gnrh2 mRNA, as well as control reproduction

    Isolasi Kitosan dari Limbah Kulit Udang Vaname

    Full text link
    ABSTRAKUdang Indonesia diekspor dalam bentuk segar, beku maupun dikeringkan. Proses ini menghasilkan limbah dan hasil samping berupa kepala (carapace) dan kulit (peeled) sehingga menimbulkan permasalahan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui isolasi kitosan dari limbah kulit udang vaname.   Metode pembuatan kitosan dengan eksprimen dengan 3 tahapan  yaitu  demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi. Tahap demineralisasi dengan larutan HCl 1 N, perbandingan 1:10 dipanaskan pada suhu suhu ±70°C selama 1 (satu) jam. tahap deproteinasi dengan larutan NaOH 3,5 %, perbandingan 1:10, suhu ±65°C selama 2 (dua) jam serta tahap deasetilasi dilakukan dengan NaOH 60%, perbandingan 1:20, dipanaskan dengan suhu ±100°C selama 4 (empat) jam.  Hasil uji mutu bahan baku kulit udang kering diperoleh hasil kadar air 9,19%, kadar abu 20,11%, lemak 1,09%, protein 32,24% dan karbohidrat (by difference) 37,37%.  Mutu kitosan  adalah warna putih kecokelatan berbentuk serbuk dengan rendemen kitosan 23,96%, kadar air 1,93%, kadar abu  0,38%, kadar lemak 0,34%, kadar protein  0,04%, total nitrogen 0,01%, viskositas 35,75%, derajat deasetilasi 80,09%, kelarutan terlarut sempurna

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇