eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Analisis Pengembangan Penghidupan Berkelanjutan Pada Komunitas Nelayan Gillnet di Pesisir Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
Kesejahteraan nelayan gillnet yang masih rendah akibat ketimpangan modal penghidupan dan tingginya kerentanan terhadap faktor eksternal masih menjadi permasalahan mendasar di pesisir Karangsong-Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan nelayan sebagai faktor yang memengaruhi kesejahteraan, mengidentifikasi kondisi modal penghidupan yang dimiliki, serta merumuskan strategi pengembangan penghidupan berkelanjutan di Pesisir Karangsong. Pengumpulan data dilakukan pada Januari 2025 dengan pendekatan Mixed Method, yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif melalui pengisian kuesioner, wawancara, serta observasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan beberapa kriteria tertentu, melibatkan 50 responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif, baik kuantitatif maupun kualitatif, dengan dukungan skala Likert untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi individu maupun kelompok nelayan. Penelitian ini berfokus pada dua aspek utama, yakni kerentanan dan modal penghidupan. Konteks kerentanan memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat, di mana rata-rata tingkat kerentanan nelayan di pesisir Karangsong mencapai 59,96%, yang tergolong signifikan. Sementara itu, modal penghidupan tertinggi ditemukan pada modal fisik dengan persentase 84,96% (kategori sangat baik), tetapi terdapat ketimpangan pada modal manusia yang hanya mencapai 57,85% (kategori cukup). Ketimpangan ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan formal dan terbatasnya pelatihan keahlian, sehingga sebagian besar nelayan masih mengandalkan keterampilan turun-temurun tanpa inovasi yang signifikan. Hal ini berdampak pada keterbatasan adaptasi terhadap teknologi serta diversifikasi usaha. Oleh karena itu, strategi utama yang diusulkan untuk mengatasi tantangan tersebut adalah diversifikasi usaha dan peningkatan program pelatihan, dengan fokus pada optimalisasi sumber daya alam, seperti pengembangan ekowisata mangrove. Title: Analysis of Sustainable Livelihood Development of Gillnet Fishermen Community In the Coastal Area of Karangsong, Indramayu Regency, West JavaThe persistent low welfare of gillnet fishers in Karangsong, Indramayu, is closely linked to unequal access to livelihood assets and heightened vulnerability to external factors. This study examines fisher vulnerability as a determinant of welfare, assesses the current condition of livelihood assets, and proposes strategies for sustainable livelihood development. Data were collected in January 2025 using a mixed-methods approach, combining questionnaires, interviews, and observations. A purposive sampling method was applied to select 50 respondents. Descriptive analyses, supported by Likert scale measurements, were used to interpret both qualitative and quantitative data. Results indicate a moderate-to-high level of vulnerability (average score: 59.96%), which significantly influences livelihood stability. Physical capital was the strongest asset (84.96%, "very good"), while human capital was weakest (57.85%, "fair"), mainly due to low formal education and limited skill training. These gaps restrict fishers' capacity for innovation, technological adaptation, and livelihood diversification. To address these challenges, the study recommends targeted training programmes and business diversification, particularly through the development of mangrove-based ecotourism
PENGENDALIAN MUTU PRODUK FILLET KAKAP MERAH CO DI SALAH SATU UNIT PENGOLAHAN IKAN SURABAYA
Ikan kakap merah memiliki kandungan nutrisi tinggi, menjadi komoditas penting industri pengolahan. Pengendalian mutu dalam pengolahan hasil perikanan memegang peran penting untuk dapat menghasilkan produk olahan yang aman dan layak untuk dikonsumsi. Produk fillet kakap merah CO memiliki nilai ekonomis tinggi yang telah menembus pasar luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian mutu fillet kakap merah CO melalui penerapan alur proses, pengujian organoleptik dan mikrobiologi, penerapan rantai dingin, dan rendemen yang dihasilkan. Penelitian dilakukan selama Januari – Mei 2024 bertempat di salah satu UPI di Surabaya melalui pendekatan observasi dan studi literatur. Proses pengolahan telah sesuai SNI 2696:2013 tentang fillet ikan beku dengan 20 alur proses. Mutu produk secara organoleptik telah memenuhi syarat regulasi keamanan pangan yang berlaku, demikian juga hasil uji mikrobiologi pada produk, air dan peralatan yang digunakan. Rantai dingin diterapkan dengan optimal dengan menjaga suhu pusat produk di bawah 5 oC. Rendemen yang dihasilkan selama proses dan akhir produksi telah memenuhi kriteria yakni berkisar antara 41-43% pada produk akhir
MARINE COPERNICUS OCEANOGRAPHIC DATA ANALYSIS: A COMPARATIVE STUDY WITH BUOY RAMA MEASUREMENTS
Oceanographic data such as Sea Surface Temperature (SST), Sea Surface Salinity (SSS), and Sea Surface Height (SSH) have a significant role in understanding ocean related studies, such as fisheries and ocean biology. This study analyzed the accuracy of Marine Copernicus datasets by comparing with data from buoy RAMA in the Indian Ocean. The results show a strong correlation for SST (r=0.988, R2=0.976, bias -0.020, RMSE 0.110) and SSS (r=0.960, R2=0.921, bias -0.001, RMSE 0.119). For SSH, after correction also has strong correlation with lower bias (r=0.934, R2=0.872, bias -0.000, RSME 0.032). The seasonal trend analysis shows SST peaks in April-May and declines to its lowest in September, while salinity increases from April to July-August before decreasing. SSH has a rising trend from January to June and declines afterward. These findings suggest that Marine Copernicus data provide reliable SST, SSS, and SSH estimates
PENILAIAN RISIKO PENANGANAN DAN TRANSPORTASI IKAN LAYANG (DECAPTERUS SP.) DI PASAR IKAN MODERN MUARA BARU JAKARTA
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun Pasar Ikan Modern (PIM) Muara Baru untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan ikan berkualitas, dengan mengadopsi konsep dari Pasar Tsukiji di Tokyo, Jepang. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, yang terletak 2 km dari PIM Muara Baru, sebagai rute transportasi terdekat dengan ikan layang sebagai jenis ikan yang paling dominan dijual. Namun, saat observasi, kualitas ikan yang tiba di PIM Muara Baru ditemukan kurang baik, disebabkan oleh penggunaan mobil pick-up untuk pengiriman yang tidak memenuhi standar penanganan dan persyaratan rantai dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses penanganan dan transportasi ikan layang serta menilai risiko yang mempengaruhi kualitas ikan. Pengujian organoleptik dilakukan di dua titik lokasi: Dermaga PPS Nizam Zachman dan saat pembongkaran di PIM Muara Baru. Dua metode transportasi diidentifikasi, dengan sembilan aktivitas berpotensi berbahaya, dan kedua metode transportasi menunjukkan tingkat kejadian yang tinggi. Meskipun terdapat aktivitas yang memiliki potensi bahaya sering terjadi, pengujian sensorik organoleptic menunjukkan skor rata-rata 8, yang menunjukkan ikan tetap dalam batas yang dapat diterima. Penelitian ini menyarankan perlunya penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP), kepatuhan terhadap keselamatan, penegakan sanksi bagi pelanggar, dan evaluasi oleh lembaga berwenang setiap satu tahun sekali
KAJIAN EFEKTIVITAS PENAMBAHAN PROBIOTIK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) SISTEM BIOFLOK DI KOLAM BUNDAR
Budidaya udang sangat dipengaruhi oleh kondisi kualitas air. Hal ini menjadi tantangan utama dalam peningkatan produksi udang vaname. Salah satu solusi terhadap problematika kualitas air yaitu dengan penerapan budidaya sistem flok dan pemberian probiotik. Saat ini, kajian efektivitas penambahan probiotik dalam sistem bioflok selama pemeliharaan udang vaname masih terbatas. Terbatasnya kajian efektivitas penambahan probiotik dalam sistem bioflok selama pemeliharaan udang vaname menunjukan perlunya kajian lebih mendalam mengenai pengaruh penambahan probiotik pada budidaya udang vaname dengan sistem bioflok. Tujuan kajian pustaka ini adalah untuk mengetahui efektivitas penambahan probiotik dalam budidaya udang vaname dengan menggunakan sistem bioflok. Aspek yang digunakan untuk mengetahui efektivitas penambahan probiotik berupa jenis dan dosis probiotik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif. Metode ini menggunakan teknik studi penelaahan terhadap jurnal nasional maupun internasional yang diperoleh melalui media online seperti Google Scholar. Tinjauan literatur dilaksanakan pada bulan Maret-April 2025. Penambahan probiotik pada teknologi bioflok jenis Lactobacillus sp dan Bacillus sp mampu meningkatkan pertumbuhan dan sintasan udang vaname sebesar 8%.Shrimp farming is greatly influenced by water quality conditions. This presents a major challenge in increasing vannamei shrimp production. One solution to the water quality problems is the implementation of a biofloc culture system and the addition of probiotics. Currently, studies on the effectiveness of adding probiotics in biofloc systems during the rearing of vannamei shrimp are still limited. The limited research on the effectiveness of adding probiotics in biofloc systems during vannamei shrimp rearing indicates the need for more in-depth studies regarding the effects of adding probiotics in vannamei shrimp farming using biofloc systems. The purpose of this literature review is to determine the effectiveness of adding probiotics in vannamei shrimp farming using a biofloc system. The aspects used to assess the effectiveness of adding probiotics include the type and dosage of probiotics. The method used is an exploratory descriptive method. This method employs a literature review technique of national and international journals obtained through online media such as Google Scholar. The literature review was conducted in March – April 2025. The addition of probiotics in biofloc technology of Lactobacillus sp and Bacillus sp types can increase the growth and survival rate of vannamei shrimp by 8%
KEANEKARAGAMAN JENIS HASIL TANGKAPAN PADA ALAT TANGKAP GILLNET DI PERAIRAN HINAKO KABUPETAN NIAS BARAT PROVINSI SUMATRA UTARA
Provinsi Sumatra Utara terletak di bagian barat Indonesia, dan memiliki wilayah laut yang sangat luas sehingga potensi kelautan dan perikanannya sangat besar. Perairan Hinako yang merupakan salah satu pulau di Provinsi Sumatra Utara memiliki potensi perikanan yang tinggi, namun belum banyak diketahui komposisi keanekaragaman jenis hasil tangkapan pada alat tangkap yang digunakan nelayan tradisional seperti gillnet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis hasil tangkapan jaring insang di Perairan Hinako, Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatra Utara, untuk merencanakan strategi penangkapan yang tepat. Alat tangkap yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tangkap jaring insang. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan analisis indeks komposisi, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H'), indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi (C). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 spesies ikan, dengan tangkapan utama tertinggi adalah ikan tongkol (Euthynnus affinis) sebanyak 31 ekor dan indeks keanekaragaman tergolong sedang (H'=2,45), keseragaman tinggi (E=0,88), dan dominansi rendah (C=0,10). Temuan ini menunjukkan kondisi ekosistem perairan yang stabil dan beragam. North Sumatra Province is located in the western part of Indonesia and has a very large sea area, so its marine and fisheries potential is very large. Hinako waters, which is one of the islands in North Sumatra Province, have high fisheries potential, but not much is known about the composition of the diversity of catch species in fishing gear used by traditional fishermen such as gillnets. The purpose of this study was to determine the diversity of gillnet catch species in Hinako Waters, West Nias Regency, North Sumatra Province. The fishing gear used in this study was gillnet fishing gear. The method used was a survey method with analysis of the composition index, Shannon-Wiener diversity index (H'), uniformity index (E), and dominance index (C). The results showed that there were 16 fish species, with the highest main catch being tuna (Euthynnus affinis) with 31 individuals and a diversity index classified as moderate (H'=2.45), high uniformity (E=0.88), and low dominance (C=0.10). These findings indicate a stable and diverse aquatic ecosystem.
TEKNIK PEMBENIHAN IKAN WADER PARI (Rasbora argyrotaeni) DI LABORATORIUM KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN UMBULAN KABUPATEN PASURUAN JAWA TIMUR
Wader fish, as one of the endemic species that has great potential to be developed, requires intensive cultivation efforts to ensure its sustainable existence and be able to meet market demand. One method to ensure the continuous availability of Wader fry is through spawning. This activity aims to increase the production of pari Wader fry at the Fish Health and Environment Laboratory of Umbulan, Pasuruan Regency, East Java. The spawning method uses a natural spawning method with a ratio of male and female fish 2:1. Female fish weigh 7-10 grams with a length of 5-6 cm, while males weigh 4-6 grams with a length of 4-5cm. The results showed a fecundity value of 2,100 grains/brood fish. Fertilization Rate (FR) 84%, Hatching Rate (HR) 82% and Survival Rate (SR) 79%. Spawning of Pari Wader fish is expected to encourage the development of a sustainable Wader fish farming industry and maintain the sustainability of the Wader fish species itself.Ikan Wader, sebagai salah satu spesies endemik yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, memerlukan upaya budidaya yang intensif agar keberadaannya tetap terjamin secara berkelanjutan dan mampu memenuhi permintaan pasar. Salah satu metode untuk memastikan ketersediaan benih ikan Wader secara kontinyu adalah melalui pemijahan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan produksi benih ikan Wader Pari di Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Umbulan Pasuruan, Jawa Timur. Metode pemijahan menggunakan metode pemijahan secara alami dengan perbandingan ikan jantan dan betina 2:1. Ikan betina memiliki berat 7-10 gram dengan panjang 5-6 cm, sedangkan pada jantan mempunyai berat 4-6 gram dengan panjang 4-5cm. Hasil penelitian menunjukkan nilai fekunditas 2.100 butir/induk. Fertilization Rate (FR) 84 %, Hatching Rate (HR) 82 % dan Survival Rate (SR) 79%. Pemijahan ikan Wader Pari diharapkan dapat mendorong perkembangan industri budidaya ikan Wader yang berkelanjutan dan menjaga kelestarian spesies ikan Wader itu sendiri.
Model Kolaborasi Dalam Pemberdayaan Pembudi Daya Ikan di Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui model kolaborasi dalam pemberdayaan pembudi daya ikan di Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Desa Panembangan memiliki potensi lahan usaha budi daya ikan seluas 26,5 Ha dengan jumlah pembudi daya ikan 313 orang. Namun demikian, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, yaitu kompetensi pembudi daya ikan dalam melakukan usaha mina padi masih rendah, pembudi daya ikan belum menerapkan Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB), harga pakan mahal, terjadinya serangan penyakit pada budi daya Ikan Gurame, sulitnya memperoleh pinjaman modal usaha, dan beberapa area usaha budi daya ikan tidak terdapat jaringan seluler. Sehingga diperlukan kolaborasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, mulai 1 Maret 2024 sampai 31 Mei 2024 dengan pendekatan kualitatif studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kolaborasi pentahelix dalam pemberdayaan pembudi daya ikan yang melibatkan Pemerintah, bisnis, masyarakat, akademisi dan media. Kolaborasi pentahelix terlaksana karena adanya inisiator, insentif yang diperoleh aktor kolaborasi, dasar hukum pelaksanaan, kepemimpinan fasilitatif, Kepala Desa yang proaktif, dan keberadaan Penyuluh Perikanan yang kompeten. Sehingga memberikan dampak adanya perubahan perilaku keterampilan dan sikap pembudi daya ikan, peningkatan produksi, peningkatan pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja
Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) Pada Proses Pengalengan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Dengan Media Saus Tomat di PT SMS, Muncar, Banyuwangi
Ikan lemuru (Sardinella lemuru), dencis ini cocok untuk dihidangkan dengan saus cabe atau saus tomat, banyak diproduksi didalam dan luar negeri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mutu dan suhu, serta menerapkan GMP dan SSOP pada proses pengalengan ikan lemuru dengan media saus tomat. Metode ini dilakukan dengan observasi dan survey langsung dari seluruh proses pengalengan. Metode ini juga mencakup pengukuran suhu dan pengamatan penerapan GMP dan SSOP. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan komparatif. Hasil uji mutu nilai organoleptik lemuru adalah 8 dan nilai sensori lemuru kaleng adalah 8,8. Penerapan suhu telah berhasil dilakukan pada tahap-tahap berikut: Penerimaan bahan baku: 3,98°C, Pencucian 13,53°C, Penyiangan: 9,75°C, Pencucian 2: 67,17°C, Filling: 14,45°C, Precooking: 67,44°C, Penirisan: 66,89°C. Tahapan pengolahan telah memenuhi standar SNI 8222:2016 dan telah ditambahkan tahapan baru pencucian ll atau pencucian kaleng di dalam bak penampung dan proses penggosokan (2) tahapan baru, sehingga totalnya menjadi 18 proses tahapan. Penerapan GMP meliputi: seleksi bahan baku, penanganan dan pengolahan, persyaratan bahan pembantu dan kimia, pengemasan, teknik penyimpanan, dan distribusi. Penerapan SSOP melibatkan: Keamanan air dan es, Peralatan dan pakaian kerja, Pencegahan kontaminasi silang, Toilet dan tempat cuci tangan. Bahan kimia dan sanitasi, Syarat label dan penyimpanan, Kesehatan karyawan, Pengendalian hama, seharusnya menjadi praktik standar dalam setiap industri makanan untuk memastikan produk yang aman untuk dikonsumsi serta menjaga kebersihan fasilitas produksi. Dengan menjalankan GMP dan SSOP dengan benar, perusahaan dapat meminimalkan risiko kontaminasi dan memastikan kualitas produk yang konsisten. Penting bagi semua perusahaan pangan untuk mematuhi pedoman ini demi keamanan dan mutu produk