Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
212 research outputs found
Sort by
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN LALU LINTAS PADA PENGENDARA SEPEDA MOTOR DI KABUPATEN INDRAMAYU
Accident cases in Indramayu Regency in 2019 there were 644 accident cases in Indramayu Regency, the accident cases were dominated by two-wheeled vehicles. The purpose of this study was to determine the effect of age, gender, education, SIM ownership and driving behavior with traffic accidents on motorcycle riders. The method in this study used an analytical research design with a cross sectional approach. Where the dependent variable in this study is a traffic accident and the independent variables are age, gender, education, driving license and driving behavior. The sampling technique used snowball with a population of 644 of the number of accident cases in 2019 and the sample in this study was 93 motorcycle riders in Indramayu Regency. Test the effect between the independent variable and the dependent variable using the Chi-Square Test and Multiple Logistics Regression. The results of this study indicate that there is no influence between age, gender, education, ownership and traffic accidents. There is an influence between driving behavior and traffic accidents. Of the five factors that have an influence on traffic accidents, namely driving behavior with a value of Exp(B) = 4.221, drivers who have poor driving behavior have a 4.22 times chance of traffic accidents. Conclusions in this study There is a relationship and influence of driving behavior with traffic accidents. For drivers who are not old enough and do not have a license.Kasus kecelakaan yang ada di Kabupaten Indramayu pada tahun 2019 kasus kecelakaan di Kabupaten Indramayu tercatat sebanyak 644 kasus kecelakaan, kasus kecelakaan tersebut didominasi oleh kendaraan roda dua. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh antara umur, jenis kelamin, pendidikan, kepemilikan SIM dan perilaku berekendara dengan kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor. Metode dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Dimana variabel dependen dala penelitian ini adalah kecelakaan lalu lintas dan variabel independenya adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, SIM dan perilaku berkendara. Teknik pengambilan sampel menggunakan snowball dengan jumlah populasi sebanyak 644 dari jumlah kasus kecelakaan pada tahun 2019 dan sampel pada penelitian ini sebanyak 93 pengendara sepeda motor di Kabupaten Indramayu. Uji pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat delakukan dengan Uji Chi-Square dan Regresi Logistik Ganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada pengaruh antara umur , jenis kelamin, pendidikan, kepemilikan dengan kecelakaan lalu lintas. Ada pengaruh antara perilaku berkendara dengan kecelakaan lalu lintas. Dari kelima faktor yang memiliki pengaruh terhadap kecelakaan lalu lintas adalah perilaku berkendara dengan nilai Exp(B) = 4,221, pengendara yang memiliki perilaku berkendara kurang baik memiliki peluang 4,22 kali terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas. Simpulan pada penelitian ini Ada hubungan dan pengaruh perilaku berkendara dengan kecelakaan lalu lintas. Bagi pengendara yang belum cukup umur dan tidak memiliki Surat Izin
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI RW 10 KELURAHAN CIBEUNYING KABUPATEN BANDUNG
Background. Dengue fever is one of the diseases that is a public health problem and is endemic. Bandung Regency is included in the top 5 regions with dengue cases in West Java Province. Poor environmental sanitation can cause various diseases, one of which is DHF disease.
Purpose. To analyze the relationship of knowledge and behavior of the community regarding environmental sanitation to the incidence of dengue fever in RW 10 Cibeunying Village.
Method. The research design used was descriptive quantitative with a population of 887 and a sample of 90 respondents. The calculation uses simple random sampling and data collection using accidental sampling techniques.
Result. The correlation test using chi square on knowledge variables against the distance and DHF obtained the results of the sig value. 0.580>0.05 means that there is no significant relationship between knowledge and the incidence of DHF. The correlation test using chi square on behavioral variables against the dhf and DHF obtained the results of the sig value. 0.000<0.05 means that there is a significant relationship between knowledge and the incidence of DHF.
Conclusion. There is no significant relationship between knowledge and dhf events, but there is a significant relationship between behavior and DHF events.
Suggestion. Create a dengue prevention program that is not only an increase in knowledge but there is real action as well as from health workers or from the community.
Keywords : Dengue Hemorrhagic Fever, Environmental Sanitation, Knowledge, Behavior.Latar Belakang. Penyakit demam berdarah adalah salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dan endemis. Kabupaten Bandung termasuk kedalam 5 besar daerah terbayak kasus DBD di Provinsi Jawa Barat. Sanitasi lingkungan yang buruk dapat menyebabkan berbagai macam penyakit salah satunya adalah penyakit DBD.
Tujuan. Untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan perilaku masyarakat mengenai sanitasi lingkungan terhadap kejadian DBD di RW 10 Kelurahan Cibeunying.
Metode. Desain peneitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan populasi 887 dan sampel sebanyak 90 responden. Perhitungan menggunakan simple random sampling dan pengambilan data mengunakan Teknik accidental sampling.
Hasil. Uji korelasi menggunakan chi square pada variabel pengetahuan terhadap kejadan DBD mendapatkan hasil nilai sig. 0,580>0,05 artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian DBD. Uji korelasi menggunakan chi square pada variabel perilaku terhadap kejadan DBD mendapatkan hasil nilai sig. 0,000<0,05 artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian DBD.
Simpulan. Tidak adahubugnan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian DBD, namun ada hubungan yang signifikan antara perilaku dengan kejadian DBD.
Saran. Membuat program pencegahan DBD yang bukan hanya penambahan pengetahuan tetapi ada aksi yang nyata maupun dari tenaga Kesehatan ataupun dari masyarakat.
Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue, Sanitasi Lingkungan, Pengetahuan, Perilaku
KESEHATAN MENTAL MATERNAL: APAKAH BERHUBUNGAN DENGAN TUMBUH KEMBANG ANAK USIA 0-36 BULAN?
Introduction: children are superior assets for a nation as their productive roles are expected to bring the supreme hope for the future generation. Because their growth and development are critical during golden age period (0-5 years) so that evitable risk factors should be identified to prevent delays in both aspects. This study aimed at examining the analytical correlation between maternal mental health and children growth and development age 0-36 months.
Methods: quantitative method with cross-sectional approach were used. A total of 24 mothers and their children at Posyandu Melati Bogor were recruited using purposive sampling technique. Instruments of KPSP, Z-score indexes, and PHQ-9 were used to measure the variables.
Results: the prevalence of maternal mental health disorders were 41.7%, children with growth (BB/TB and TB/U) and development delays were about 33.3% and 41.7%, respectively. There was a significant correlation between maternal mental health and children growth (TB/U) (p-value 0.0032) with Odds Ratio (OR) 9 (95% CI: 1.26 – 63.89).
Conclusions: a mother with mental health disorder symptoms are 9 times more likely to have children with growth delayed in TB/U (stunting) than a mother with no symptoms of mental health disorders.
Keywords: maternal mental health, growth, developmentPendahuluan: anak merupakan aset penting suatu bangsa karena perannya yang produktif akan menjadi harapan untuk melanjutkan generasi masa depan yang unggul. Maka status tumbuh kembang adalah aspek yang perlu menjadi prioritas kesehatan anak terutama pada masa periode emas (golden age period), yakni pada saat anak usia 0-5 tahun. Periode tersebut merupakan masa kritis sehingga peran ibu menjadi faktor esesnsial untuk mencapai tumbuh kembang anak yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesehatan mental ibu dengan tumbuh kembang anak usia 0-36 bulan.
Metode: penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian yaitu 24 ibu dan anaknya yang berusia 0-36 bulan di Posyandu Melati Kabupaten Bogor. Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Indikator tumbang anak diukur dengan Z-score dan KPSP, untuk menilai gejala gangguan mental ibu menggunakan kuesioner PHQ-9 (skor ≥5). Data dianalisis secara univariate dan bivariate dengan SPSS.
Hasil: sebanyak 41.7% ibu memiliki gejala gangguan mental, 33.3% anak mengalami gangguan pertumbuhan (BB/TB dan TB/U), serta 41.7% anak menunjukkan hasil KPSP meragukan. Tidak ada hubungan antara kesehatan mental maternal dengan perkembangan anak (p-value 1.000) dan pertumbuhan dengan indikator BB/TB (p-value 0.67), namun terdapat hubungan statistik yang signifikan dengan pertumbuhan anak (status TB/U) dengan p-value 0.0032 dan nilai OR 9 (95% CI: 1.26 – 63.89).
Simpulan: ibu dengan gejala gangguan mental memiliki kemungkinan 9 kali lebih besar anaknya mengalami pertumbuhan tidak normal pada indeks tinggi badan/umur (pendek/sangat pendek) dibandingkan ibu yang tidak ada gejala gangguan mental. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis kedua variable tersebut.
Kata kunci: kesehatan mental, maternal, tumbuh kembang
 
EFEKTIVITAS PIJAT TUINA UNTUK MENINGKATKAN BERAT BADAN BALITA USIA 1-5 TAHUN
Growth disorders can increase the risk of malnutrition; the World Health Organization (WHO) reported that the prevalence of malnutrition in the world has increased from 17.6% in 2015 to 25.0% in 2020. Government efforts to prevent nutritional problems in toddlers strart from pregnancy time to todfletjood itself, such as giving 90 tablets of Fe tablets during pregnancy. Growth stimulation requires efforts to handle nutritional problems in toddlers, which can be done by non-pharmacological methods. It is called acupuncture/herbal massage. One therapy to overcome the problem of weight gain is tuina massage. This study aims to determine the effectiveness of tuina massage to increase the weight of toddlers aged 1-5 years. This study used the literature study method, so an analysis of the results of the search for journals and articles with a theoretical review of 10 journals and 2 books has been reviewed. The results of this study were how to do tuina massage, the most effective massage is using 8 movements with massage techniques sliding, massaging, friction, pulling, rotating, shaking and moving certain points. This, it would affect the flow of body energy by holding and pressing certain parts of the body. The effective tuina massage frequency is once a day for at least 15 minutes using 8 movements for 6 consecutive days. Tuina massage is effective for increasing the weight of toddlers aged 1-5 years, and there is effectiveness before and after doing tuina massage to increase the weight of toddlers aged 1-5 years. From the literature review, it is concluded that tuina massage is effective in increasing the weight of toddlers. This can be used as an alternative for toddlers aged 1-5 years who have problems gaining weight.Gangguan pertumbuhan dapat meningkatkan resiko gizi kurang menurut World Health Organization (WHO) melaporkan privalensi gizi kurang di dunia meningkat dari 17,6% pada tahun 2015 menjadi 25,0% pada tahun 2020. Stimulasi pertumbuhan butuh upaya penanganan masalah gizi pada balita dapat di lakukan dengan cara non farmokologi yaitu pijat akupuntur/herbal. Salah satu terapi mengatasi masalah kenaikan berat badan yaitu pijat tuina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pijat tuina untuk meningkatkan berat badan balita usia 1-5 tahun. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur maka dilakukan analisis terhadap hasil jurnal dan artikel dengan tinjauan teori pada jurnal yang telah di review sebanyak 10 jurnal dan 2 buku. Hasil penelitian ini terdapat cara melakukan pijat tuina, pijat yang paling efektif yaitu menggunakan 8 gerakan sehingga akan mempengaruhi aliran energi tubuh dengan memegang dan menekan tubuh bagian tertentu. Frekuensi pijat tuina yang efektif yaitu satu kali sehari minimal selama 15 menit dengan menggunakan 8 gerakan selama 6 hari berturut-turut. Pijat tuina efektif untuk meningkatkan berat badan balita usia 1-5 tahun, dan terdapat efektifitas sebelum dan sesudah di lakukannya pijat tuina untuk meningkatkan berat badan balita usia 1-5 tahun. Dari literatur riview disimpulkan bahwa pijat tuina efektif meningkatkan berat badan balita
PENGEMBANGAN ASUHAN KOMUNITAS PADA LANSIA DENGAN PENDEKATAN KOMPLEMENTER PENGGUNAAN REBUSAN DAUN ALPUKAT DALAM PENURUNAN HIPERTENSI
Chronic high blood pressure (hypertension) is a prevalent ailment among the elderly. One of the most prevalent causes of mortality is hypertension.Hypertension is one of the difficulties in the elderly since it produces and is a factor in heart failure and coronary heart disease. Both pharmacological and non-pharmacological methods may be used to treat hypertension. Non-pharmacological avocado leaf decoction has been used in research for years and is readily available. In this research, an avocado leaf decoction is used as a supplemental treatment for the elderly with hypertension.
To begin, the process of evaluation, examination, and provision of complementary care treatments is used in conjunction with a case study approach with a descriptive design.
There was a significant drop in blood pressure in the elderly with hypertension following the avocado leaf decoction intervention compared to the pre intervention average of 171/101mmHg and the postintervention average of 148/89mmHg. The mean decrease was 23/12 mmHg.
Avocado leaf decoction helps lower blood pressure in older patients with hypertension This avocado leaf decoction is anticipated to be used as an antihypertensive and as self-medication to decrease blood pressure through future investigations on this avocado leaf decoction in the medical field.
Keywords: Hypertension, Elderly, Avocado leaf decoctionTekanan darah tinggi kronis (hipertensi) adalah penyakit yang umum di kalangan lansia. Salah satu penyebab kematian yang paling umum adalah hipertensi. Hipertensi merupakan salah satu kesulitan pada lansia karena menimbulkan dan merupakan faktor gagal jantung dan penyakit jantung koroner. Baik metode farmakologis dan non-farmakologis dapat digunakan untuk mengobati hipertensi. Rebusan daun alpukat non-farmakologis telah digunakan dalam penelitian selama bertahun-tahun dan sudah tersedia. Dalam asuhan ini, rebusan daun alpukat digunakan sebagai pengobatan tambahan untuk lansia dengan hipertensi.
Untuk memulai, proses evaluasi, pemeriksaan, dan pemberian perawatan komplementer digunakan bersama dengan pendekatan studi kasus dengan desain deskriptif.
Terdapat penurunan tekanan darah pada lansia setelah intervensi rebusan daun alpukat dibandingkan dengan rata-rata sebelum intervensi 171/101mmHg dan rata-rata pasca intervensi 148/89mmHg. Penurunan rata-rata adalah 23/12 mmHg. Rebusan daun alpukat membantu menurunkan tekanan darah.
Rebusan daun alpukat ini diharapkan dapat digunakan sebagai antihipertensi dan sebagai pengobatan sendiri untuk menurunkan tekanan darah melalui penelitian selanjutnya pada rebusan daun alpukat ini di bidang medis.
 
HUBUNGAN KEBIASAAN OLAHRAGA DENGAN KEJADIAN DISMINORE PADA MAHASISWI ILMU KEPERAWATAN
Around the world, dysmenorrhea cases have already reached the high level. Data from WHO showed that there were 1,769,425 women (90%) suffering from dysmenorrhea. In the meantime, regular exercise has been known to be able to decrease the risks of dysmenorrhea since it could trigger the secretion of endorphin hormone, which could ease the pains. It is expected that doing regular exercises could decrease the number of dysmenorrhea sufferers. This study aimed at finding out the correlations between exercise habits and dysmenorrhea of nursing science students of Health Science Faculty of Musi Charitas Catholic University Palembang. Analytic survey was used with cross sectional approach. The respondents were 57 nursing science students, out of 131 total populations. They were selected by stratified random sampling method. The data from univariate statistic test showed: 42.1% (24) of respondents had good exercise habits, 57.9% (33) did not have good exercise habits, 61.4% (35) suffered from dysmenorrhea, and 38.6% (22) did not suffer from dysmenorrhea. The result of bivariate statistic test by chi square showed p value 0.001 < 0.05, which meant there were correlations between exercise habits and dysmenorrhea. As a result, the female students were suggested to do exercise regularly to avoid the pains of menstruation.Kejadian disminore cukup tinggi di dunia, menurut data dari (WHO) wanita yang mengalami disminore sebesar 1.769.425 jiwa (90%) olahraga secara teratur bermanfaat untuk mengurangi disminore karena akan memicu keluarnya hormon endorphin yang mampu menghilangkan rasa nyeri. Dengan olahraga yang teratur diharapkan angka kejadian disminore dapat menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai hubungan kebiasaan olahraga dengan kejadian disminore pada mahasiswi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas Palembang. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi Ilmu Keperawatan sebanyak 131 populasi dengan menggunakan teknik sratified random sampling dengan jumlah 57 responden. Hasil penelitian didapatkan kebiasaan olahraga baik 24 responden (42,1%) dan memiliki kebiasaan olahraga kurang baik 33 responden (57,9%), respoden yang mengalami disminore 35 responden (61,4%), yang tidak mengalami disminore 22 responden (38,6%). Hasil analisa chi square didapatkan p value 0,001 < 0,05 menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan olahraga dengan kejadian disminore. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan mahasiswi melakukan olahraga secara rutin dan teratur untuk mencegah dan mengurangi nyeri pada saat menstruasi
SOCIODEMOGRAPHIC ASPECTS OF CONTRACEPTION USE IN KAMPUNG KB KOTA YOGYAKARTA
Background: One of the government\u27s efforts to control the population growth rate is to reduce the birth rate through the family planning program by utilizing the contraceptive method.This study aims to analyze the factors that influence contraceptive use at Kampung KB in Yogyakarta
Method: It belongs to obsvational research with cross sectional layout using quantitative approach. Sampling was performed using Accidental Random Sampling.Collecting data using online quitioner that was shared to women in reproductive years in all Kampung KB. Data processing using STATA version 14. The data analysis was performed gradually covering univariable analysis, bivariable.
Result: Age, education, desire to have children, parity, knowledge and attitudes have the pto increase contraceptive use, while economic level is not positively related to contraceptive use.The reasons for not using contraception are lack of permission from a partner and external environmental pressure.
Conclusion: Sociodemographic aspects have the opportunity to increase contraceptive use at Kampung KB in Kota Yogyakarta.Latar Belakang: Salah satu upaya pemerintah dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan menurunkan angka kelahiran melalui program KB dengan memanfaatkan metode kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek sosiodemografi yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi di Kampung KB Kota Yogyakarta.
Metode:Penelitian ini termasuk jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Accidental Random Sampling. Pengumpulan data kuantitatif melalui kuesioner online yang dibagikan kepada wanita usia subur di semua Kampung KB Kota Yogyakarta. Data hasil penelitian diolah dengan bantuan software statistik STATA versi 14 dengan model analisa data bertahap yang meliputi analisis univariabel, bivariabel.
Hasil:Usia, pendidikan, keinginan memiliki anak, paritas, pengetahuan dan sikap berpeluang meningkatkan penggunaan kontrasepsi sedangkan tingkat ekonomi tidak berhubungan positif dengan penggunaan kontrasepsi. Alasan wanita usia subur tidak menggunakan kontrasepsi adalah tidak ada ijin dari pasangan dan tekanan pihak eksternal.
Kesimpulan:Aspek sosiodemografi berpeluang meningkatkan penggunaan kontrasepsi di kampung KB Kota Yogyakarta
THE EFFECT OF PREGNANT WOMEN CLASSES ON THE IMPROVEMENT OF KNOWLEDGE OF PREGNANT WOMEN IN SEGERAN KIDUL VILLAGE
Currently, maternal and child health education is generally still carried out through counseling, individual consultations or on a case-by-case basis, which is given when a mother is checking her womb or during posyandu activities. To overcome these various weaknesses, a learning method for pregnant women was developed.This activity is designed face-to-face by discussing the material in the MCH Handbook accompanied by discussions and sharing of experiences between pregnant women/husbands/families and health workers. This study group activity is named the class of pregnant women as a form of preventive and promotive efforts based on the Regulation of the Minister of Health No. 97 of 2014.Mothers who have attended the Pregnant Women Class are expected to have a change in behavior or an increase in knowledge so that they are aware of the importance of coming to health services. Research Purposes: This is to determine the effect of the class of pregnant women on increasing the knowledge of pregnant women in Segeran Kidul villages. Research Methods: The type of research used is analytical research, with a pre-experimental design, with a one group Pre-Post Design approach. In this study, researchers used a total sampling of 32 people. Data collection was in the form of a questionnaire that was filled in by pregnant women before and after the implementation of the class for pregnant women. Univariate and bivariate data analysis techniques used paried t-test.Research Results: The results showed that the mean score of pre-test knowledge was 16.88, and post-test knowledge increased by an average of 21.59, which means that there was an increase of 4.719. The results of statistical calculations obtained the t value of -8.354 and the p value of 0.000 so that the p value<0.05 means that there is an influence of the class of pregnant women on the increase in knowledge.Dewasa ini pendidikan kesehatan ibu dan anak pada umumnya masih banyak dilakukan melalui penyuluhan, konsultasi perorangan atau kasus per kasus yang diberikan pada waktu ibu memeriksakan kandungan atau pada waktu kegiatan posyandu. Untuk mengatasi bermacam kelemahan tersebut, maka dikembangkan metode pembelajaran kelas ibu hamil. Kegiatan ini dirancang dalam bentuk tatap muka dengan membahas materi yang ada di dalam Buku KIA disertai diskusi dan tukar pengalaman antar ibu hamil/suami/keluarga dan petugas kesehatan. Kegiatan kelompok belajar ini diberi nama kelas ibu hamil sebagai bentuk upaya preventif dan promotif berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 97 tahun 2014. Ibu yang telah mengikuti Kelas Ibu Hamil diharapkan akan terjadi perubahan prilaku atau terjadi peningkatan pengetahuan sehingga sadar pentingnya datang ke pelayanan kesehatan.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan ibu hamil di desa segeran kidul.
Metode Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitan analitik, dengan desian menggunakan Pre-experiment, dengan pendekatan one group Pre –Post Design. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan total sampling sebanyak 32 orang. Pengumpulan data berupa kuesioner yang di isi oleh ibu hamil sebelum dan setelah pelaksanaan kelas ibu hamil. Teknik analisis data univariat dan bivariate dengan uji paried t-test.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukan rata-rata skor pengetahuan pre-test 16,88, dan pengetahuan post-test meningkat dengan rata-rata 21,59 yang artinya ada peningkatan sebesar 4,719. Hasil penghitungan statistik diperoleh nilai t hitung sebesar -8,354 dan p value sebesar 0,000 sehingga p value < 0,05 berarti bahwa terdapat pengaruh kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN DIKELAS XI SMA 1 PGRI BREBES TAHUN 2020
Remaja putri merupakan salah satu bagian dari populasi yang beresiko terkena keputihan dan perlu perhatian khusus. Penyebab keputihan antara lain disebabkan oleh jamur, bakteri, atau parasit. Personal Hygiene merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting untuk menghindari terjadinya infeksi yang dapat menyebabkan keputihan, infeksi bahkan mengakibatkan kemandulan dan hamil diluar kandungan serta kanker leher rahim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan.
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang dilakukan adalah analitik dan rancangan penelitiannya dengan cross secional, adapun populasinya yaitu siswi kelas XI SMA 1 PGRI Brebes yang berjumlah 103 siswi, yang menjadi sampelnya adalah 82 siswi. Pengambilan sampel secara random sampling, adapun variabel penelitian variabel bebas adalah pengetahuan tentang personal hygiene dan variabel terikatnya adalah kejadian keputihan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian dari 82 responden menunjukan bahwa tingkat pengetahuan buruk pada remaja yang menderita keputihan 45,1%, lebih banyak dibandingkan dengan remaja yang tidak menderita keputihan yakni hanya 3,7%. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai ρ = 0,043 dan OR = 3,385 dengan CI 95% = 0,975<OR<15,232. Nilai ρ < 0,05 dapat diinterpretasikan secara statistik bahwa ada hubungan yang signifikan antar tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan.
Sehingga tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene menjadi faktor risiko kejadian keputihan pada remaja putri.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan di SMA 1 PGRI Brebes. Saran bagi sekolah diharapkan pihak sekolah dapat memperbanyak kegiatan dengan sasaran kesehatan reproduksi pada remaja.
Remaja putri merupakan salah satu bagian dari populasi yang beresiko terkena keputihan dan perlu perhatian khusus. Penyebab keputihan antara lain disebabkan oleh jamur, bakteri, atau parasit. Personal Hygiene merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting untuk menghindari terjadinya infeksi yang dapat menyebabkan keputihan, infeksi bahkan mengakibatkan kemandulan dan hamil diluar kandungan serta kanker leher rahim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan.
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang dilakukan adalah analitik dan rancangan penelitiannya dengan cross secional, adapun populasinya yaitu siswi kelas XI SMA 1 PGRI Brebes yang berjumlah 103 siswi, yang menjadi sampelnya adalah 82 siswi. Pengambilan sampel secara random sampling, adapun variabel penelitian variabel bebas adalah pengetahuan tentang personal hygiene dan variabel terikatnya adalah kejadian keputihan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian dari 82 responden menunjukan bahwa tingkat pengetahuan buruk pada remaja yang menderita keputihan 45,1%, lebih banyak dibandingkan dengan remaja yang tidak menderita keputihan yakni hanya 3,7%. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai ρ = 0,043 dan OR = 3,385 dengan CI 95% = 0,975<OR<15,232. Nilai ρ < 0,05 dapat diinterpretasikan secara statistik bahwa ada hubungan yang signifikan antar tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan.
Sehingga tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene menjadi faktor risiko kejadian keputihan pada remaja putri.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene dengan kejadian keputihan di SMA 1 PGRI Brebes. Saran bagi sekolah diharapkan pihak sekolah dapat memperbanyak kegiatan dengan sasaran kesehatan reproduksi pada remaja. 
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN AMENORRHEA PADA WANITA USIA SUBUR
Setiap wanita sering mengalami gangguan dalam siklus haidnya. Gangguan siklus haid antara lain tidak teraturnya siklus haid atau amenorrhea. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian amenorrhea.
Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah wanita usia subur berjumlah 431. Teknik pengambilan sampel dengan purpossive sampling 76 responden. Data diperoleh menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan analisis korelasi Chi Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar status gizi responden adalah gemuk sebanyak 36 responden (47,4%), responden menggunakan obat KB sebanyak 48 responden (63,2%) dan responden mempunyai tingkatan stres sedang sebanyak 37 responden (48,7%). Analisis bivariat dengan chi-square menunjukkan ada hubungan positif antara status gizi dengan kejadian amenorrhea, ada hubungan positif antara stres dengan kejadian amenorrhea serta ada hubungan positif antara penggunaan obat KB dengan kejadian amenorrhea.
Disarankan bagi responden untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga kesehatan khususnya bagi responden dengan status gizi gemuk dan obesitas perlu melakukan olah raga teratur dan melakukan diet sehat.Setiap wanita sering mengalami gangguan dalam siklus haidnya. Gangguan siklus haid antara lain tidak teraturnya siklus haid atau amenorrhea. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian amenorrhea.
Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah wanita usia subur berjumlah 431. Teknik pengambilan sampel dengan purpossive sampling 76 responden. Data diperoleh menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan analisis korelasi Chi Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar status gizi responden adalah gemuk sebanyak 36 responden (47,4%), responden menggunakan obat KB sebanyak 48 responden (63,2%) dan responden mempunyai tingkatan stres sedang sebanyak 37 responden (48,7%). Analisis bivariat dengan chi-square menunjukkan ada hubungan positif antara status gizi dengan kejadian amenorrhea, ada hubungan positif antara stres dengan kejadian amenorrhea serta ada hubungan positif antara penggunaan obat KB dengan kejadian amenorrhea.
Disarankan bagi responden untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga kesehatan khususnya bagi responden dengan status gizi gemuk dan obesitas perlu melakukan olah raga teratur dan melakukan diet sehat