Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
212 research outputs found
Sort by
Evaluation Of The Complete Basic Immunization Program In The Working Area Of The Plumbon Community Health Center Indramayu Regency
Complete basic immunization coverage in Indramayu Regency in 2020 is 55.8% and the Plumbon Community Health Center which is a community health center with the lowest UCI Village coverage in Indramayu Regency, which is 66.7%. The purpose of the study was to evaluate the complete basic immunization program at the Plumbon Community Health Center, Indramayu Regency. This study uses a qualitative research method with a case study approach. The results of the study stated that there were limitations in logistical needs such as the lack of vaccine stock, resulting in program achievements not being achieved and the limitations of the organizers resulting in dual tasks for the organizers, the Covid-19 pandemic had an impact on immunization service activities, monitoring activities were only carried out by program managers because the Head of the Puskesmas responsible as medical personnel in the implementation of the immunization program. The conclusions in this study are seen from the planning, organization, implementation and supervision are still not optimal. Therefore, it is recommended to improve planning in the implementation of the immunization programCakupan imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Indramayu tahun 2020 sebesar 55,8% dan Puskesmas Plumbon yang merupakan puskesmas dengan cakupan Desa/Kelurahan UCI terendah di Kabupaten Indramayu yaitu sebesar 66,7%. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi program imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Plumbon Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menyatakan bahwa adanya keterbatsan kebutuhan logistik seperti kurangnya stok vaksin sehingga mengakibatkan capaian program tidak tercapai dan keterbatasan tenaga penyelenggara sehingga mengakibatkan rangkap tugas pada tenaga penyelenggara, pandemi covid-19 berdampak pada kegiatan pelayanan imunisasi, kegiatan pemantauan hanya dilakukan oleh pengelola program karena Kepala Puskesmas bertanggung jawab sebagai tenaga medis dalam pelaksanaan program imunisasi. Simpulan dalam penelitian ini dilihat dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan masih belum optimal. Oleh sebab itu disarankan agar dapat meningkatkan perencanaan dalam penyelenggaraan program imunisasi
Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Mutiara Barat Kecamatan Mutiara Kabupaten Pidie
Immunization is one of the essential public health efforts that is effective in providing specific immunity against diseases that can be prevented by immunization. Mothers have a very important role in providing immunizations to children. The aim of this research is to determine the factors related to Complete Basic Immunization Coverage for Toddlers in the Working Area of Mutiara Barat Health Center, Pidie Regency in 2023. Method: this research is descriptive analytical with a cross-sectional approach. The population in this study was mothers who had toddlers aged (12-23 months). The sample was taken as many as 67 respondents using proportional random sampling technique. Data collection was carried out on January 16-26 2023 by means of interviews using a questionnaire. Data were analyzed univariately and bivariately using the chi-square test via SPSS. Results: univariate analysis showed that 92.5% of immunizations were incomplete, 56.7% knowledge was poor, 50.7% had side effects, 46.3% families did not support, 50.7% the role of health workers was poor, 41 .8% access to health facilities is unaffordable. Bivariate analysis showed that there was a relationship between knowledge (p-value 0.008), side effects (p-value=0.018), family support (p-value=0.031), role of health workers (p-value=0.018) and provision of complete basic immunization. Conclusion: Knowledge, side effects, family support, the role of health workers are related to immunization. It is recommended that community health centers provide more health program guidance and training to health workers to increase housewives\u27 knowledge about the importance of complete basic immunization for toddlers.Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat esensial yang efektif untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Ibu memiliki peran yang sangat penting pada pemberian imunisasi pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Cakupan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita Diwiayah Kerja Puskesmas Mutiara Barat Kabupaten Pidie Tahun 2023. Winsgoal tidak hanya menyediakan kemudahan deposit qris, tetapi juga tersedia deposit idn slot pulsa tanpa potongan, e-wallet dan transfer bank yang tidak kalah menarik. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini ibu yang memiliki balita umur (12-23 bulan). Pengambilan sampel sebanyak 67 responden menggunakan teknik propotional random sampling. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 16-26 Januari Tahun 2023 dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square melalui SPSS. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa 92,5% pemberian imunisasi tidak lengkap, 56,7% pengetahuan kurang baik, 50,7% efek samping berpengaruh, 46,3% keluarga tidak mendukung, 50,7% peran petugas kesehatan kurang baik, 41,8% akses ke fasilitas kesehatan tidak terjangkau. Anaisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan (p-value 0,008), efek samping (p-value=0,018), dukungan keluarga (p-value=0,031), peran petugas kesehatan (p-value=0,018) dengan Pemberian Imunisasi dasar lengkap. Pengetahuan, efek samping, dukungan keluarga, peran petugas kesehatan berhubungan dengan pemberian imunisasi. Disarankan Kepada pihak puskesmas agar lebih banyak memberikan pembinaan dan pelatihan program kesehatan kepada petugas kesehatan guna meningkatkan pengetahuan ibu rumah tangga tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap untuk balita
Relationship Between Occupancy Density, Education, And Diet To The Incidence Of ARI Disease In Patients At The Medan Satria Public Health Center In Bekasi City In 2023
Acute Respiratory Infection (ARI) in Indonesia has increased with a prevalence of 1 million cases in 2018. West Java province occupies the 7th position with a percentage of 11.2% cases with the number continuing to grow. The high number of ARI cases is influenced by residential density, education, and a person\u27s diet. This study aims to determine the relationship between residential density, education, and diet with the incidence of ARI at the Medan Satria Health Center, Bekasi City in 2023. This research method is quantitative using a cross-sectional approach. The subjects in this study were patients of Puskesmas Medan Satria Bekasi City, the sampling technique used was accidental sampling of as many as 100 respondents who were targeted. The data used are primary and secondary data. Data analysis was carried out univariate and bivariate with the chi-square test. Based on statistical tests, there are two variables that show a relationship, namely education with a p-value = 0.011 with OR = 3.122, diet with a p-value = 0.023 with OR = 0.340, while there is one variable that does not show a relationship, namely residential density with a p-value = 1.000 with the incidence of ARI at the Medan Satria Health Center, Bekasi City. It is expected that the Medan Satria Health Center will conduct health promotion on the risk factors that cause ARI by activating cadres to provide education to the community in the Medan Satria area. This aims to reduce ARI cases in the Medan Satria Health Center area.Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia mengalami peningkatan dengan prevalensi sebanyak 1 juta kasus di tahun 2018. Provinsi jawa barat menempati posisi ke-7 dengan persentase kasus 11,2% dengan angka yang terus bertambah. Tingginya kasus ISPA dipengaruhi oleh kepadatan hunian, pendidikan, dan pola makan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepadatan hunian, pendidikan, dan pola makan dengan kejadian ISPA di Puskesmas Medan Satria Kota Bekasi tahun 2023. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien Puskesmas Medan Satria Kota Bekasi, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling sebanyak 100 responden yang dijadikan target. Data yang digunakan adalah data primer. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Berdasarkan uji statistik, terdapat dua variabel yang menunjukkan hubungan, yaitu pendidikan dengan nilai p-value = 0,011 dengan OR = 3,122, pola makan dengan nilai p-value = 0,023 dengan OR = 0,340, sedangkan terdapat satu variabel yang tidak menunjukkan hubungan yaitu kepadatan hunian dengan nilai p-value = 1,000 dengan kejadian ISPA di Puskesmas Medan Satria Kota Bekasi. Diharapkan kepada pihak Puskesmas Medan Satria untuk melakukan promosi kesehatan tentang faktor risiko penyebab ISPA dengan mengaktifkan kader guna memberikan edukasi kepada masyarakat di wilayah Medan Satria. Hal tersebut bertujuan untuk menurunkan kasus ISPA yang ada di Puskesmas Medan Satria
Identifikasi Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja di RW 09 Kelurahan Kelapa Dua Wetan Kecamatan Ciracas Jakarta Timur
Adolescent reproductive health problems can generally be caused by peer influence and lack of knowledge about reproductive health issues such as maturing age at marriage, the Youth Reproductive Health Triad (KRR), which includes sexuality, HIV/AIDS, and drugs. This study aims to identify adolescent reproductive health problems that may be experienced by adolescents in RW 09 Kelapa Dua Wetan Village, Ciracas District, East Jakarta. The research methodology employed is qualitative. Data was collected by using in-depth interviews with seven teenagers who were selected as samples. The results of the study found that the sexual behavior of adolescents in RW 09 was not at a risky stage. Teenagers\u27 knowledge of HIV/AIDS was quite good, such as knowing the causes of HIV/AIDS. Teenagers also already had a good picture of young marriage. A description of the smoking behavior of young men in RW 09 should be appreciated because, even though they have smoked, teenagers are motivated to stop smoking. Teenagers in RW 09 still need to be cared for and accompanied during their growth and development period even though, in general, they do not have significant reproductive health problems. Parents and the community, especially regional leaders and community leaders, can jointly take a role in supporting youth to carry out positive activities such as routine counseling programs on adolescent reproductive health, sports and religious studies.Masalah kesehatan reproduksi remaja umumnya dapat disebabkan oleh pengaruh teman sebaya dan pengetahuan yang kurang tentang materi-materi kesehatan reproduksi seperti pendewasaan usia perkawinan, Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang meliputi seksualitas, HIV/AIDS dan Napza. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan reproduksi remaja yang mungkin dialami oleh remaja di RW 09 Kelurahan Kelapa Dua Wetan Kecamatan Ciracas Jakarta Timur. Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam terhadap 7 remaja yang terpilih menjadi sampel. Hasil penelitian ditemukan bahwa perilaku seksual remaja di RW 09 belum pada tahap beresiko, pengetahuan tentang HIV/AIDS sudah cukup baik seperti remaja mengetahui penyebab HIV/AIDS, remaja juga sudah memiliki gambaran yang baik mengenai menikah muda, gambaran perilaku merokok remaja pria di RW 09 patut di apresiasi karena meskipun pernah merokok namun remaja termotivasi untuk berhenti merokok. Remaja di RW 09 masih perlu diperhatikan dan didampingi selama masa tumbuh kembangnya meskipun secara umum tidak memiliki permasalahan kesehatan reproduksi yang sangat berarti. Orangtua dan masyarakat khususnya pimpinan wilayah dan para tokoh masyarakat dapat bersama-sama mengambil peran untuk mendukung remaja melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti program rutin penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja, olahraga dan kajian keagamaan
GAMBARAN PELAYANAN ANC DI PUSKESMAS KOTA SUKABUMI
The high MMR in a country shows that the country has not succeeded in improving public health status. Efforts to protect and minimize the increase in MMR and ensure protection for pregnant women and the fetus through ANC visits according to time standards and components that include 10T. The purpose of this study was to determine the factors that influence ANC services at the Sukabumi City Health Center. The design of this study used a cross-sectional descriptive method. The population in this study were all pregnant women who received complete ANC services in Sukabumi City with a sample of 362 respondents from the PWS-KIA Health Office of Sukabumi City using a simple random sampling technique. The instruments in this study were adopted and modified from previous studies. The results of univariate analysis showed that 227 respondents (62.7%) had the full category of antenatal care services, the majority of pregnant women aged 20 to 35 years were 315 people (87%), had parity 2 children, 353 (97.5%) ), 282 people (77.9%) were unemployed, 236 people (65.19%) considered the quality of health workers good, and 211 people had good knowledge of ANC. To be able to improve ANC services by developing skills and knowledge through various formal education training and developmentTingginya AKI di suatu negara menunjukkan bahwa negara tersebut belum berhasil dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya perlindungan serta meminimalisir peningkatan AKI dan menjamin perlindungan untuk ibu hamil dan janin melalui kunjungan ANC sesuai dengan standar waktu dan komponen yang mencakup 10T. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan ANC Puskesmas Kota Sukabumi. Rancangan penelitian ini menggunakan metode deskriptif cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mendapat pelayanan ANC secara lengkap di Kota Sukabumi dengan sampel dalam PWS-KIA Dinas Kesehatan Kota Sukabumi sebanyak 362 responden menggunakan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Instrumen pada penelitian ini diadopsi dan dimodifikasi dari penelitian sebelumnya. Hasil analisis univariat didapatkan variabel pelayanan antenatal care dengan kategori lengkap sebanyak 227 responden (62,7%), sebagian besar ibu hamil berusia 20 sampai 35 tahun sebanyak 315 orang (87%), memiliki paritas £ 2 anak sebanyak 353 (97,5%), berstatus tidak bekerja sebanyak 282 orang (77,9%), memandang kualitas petugas Kesehatan dengan kategori baik sebanyak 236 orang (65,19%), dan memiliki pengetahuan tentang ANC yaitu baik sebanyak 211 orang. Untuk dapat meningkatkan pelayanan ANC dengan cara mengembangkan keterampilan dan penegtahuan melalui berbagai pelatihan dan pengembangan pendidikan secara forma
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN BAYI USIA 3-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGWUNGU
The period of development of the child in the first year of life is an important period for the formation of the basis of the personality of a child. Many factors can affect the development of a child, one of which is the role of a mother including knowledge and education that contributes to achieving optimal development. This study aims to determine the relationship between the level of education and knowledge of mothers with the development of babies aged 3-12 months. The type of research used is cross sectional. The population in this study were mothers who had babies aged 3-12 months in the Kedungwungu Health Center Working Area. Purposive Sampling sampling technique with 84 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Data collection for education and knowledge is taken by questionnaires. Developmental tests are carried out using a developmental pre-screening questionnaire (KPSP). Aspects of development assessed include gross motor, fine motor, language, speech, social and independence. The results of the study were that mothers who had basic education as many as 41 (85.4%) of their baby\u27s development were normal and mothers who had sufficient knowledge as much as 37 (90.2%) of their baby\u27s development was normal. The results of the bivariate analysis obtained p value 0.537 (≥ 0.5) showed that there was no relationship between the level of maternal education and the development of the baby and for knowledge obtained a p value of 0.111 (≥0.05) showed that there was no relationship between maternal knowledge and the development of the baby. The influence of knowledge on child development is very important because mothers who have sufficient knowledge and higher education will pay more attention to the development of their children. Parents are expected to always monitor the child\u27s development such as gross motor, fine motor, language and social.Pendahuluan: Masa perkembangan anak pada tahun pertama kehidupan adalah masa penting untuk pembentukan dasar kepribadian seorang anak. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak, salah satunya peran seorang ibu meliputi pengetahuan dan pendidikan yang berkontribusi untuk mencapai perkembangan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu dengan perkembangan bayi usia 3-12 bulan. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi usia 3-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwungu. Teknik pengambilan sampel Purposive Sampling dengan 84 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekulsi. Pengumpulan data untuk pendidikan dan pengetahuan diambil dengan kuesioner. Tes perkembangan dilakukan menggunakan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP). Aspek perkembangan yang dinilai meliputi motorik kasar, motorik halus, bahasa, bicara, sosial dan kemandirian. Hasil penelitian ibu yang memiliki pendidikan dasar sebanyak 41 (85,4%) perkembangan bayi nya normal dan ibu yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 37 (90.2%) perkembangan bayi nya normal. Hasil analisa bivariat di dapatkan p value 0,537 (≥ 0,5) menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan perkembangan bayi dan untuk pengetahuan didapatkan nilai p value 0, 110 (≥0,05) menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan perkembangan bayi. Kesimpulan dan Saran: Hubungan pengetahuan terhadap perkembangan anak sangat penting sebab ibu yang mempunyai cukup pengetahuan dan pendidikan yang tinggi akan lebih memperhatikan perkembangan anaknya. Orangtua diharapkan selalu memantau perkembangan anak seperti motorik kasar, motorik halus, bahasa dan sosial
Analisis Faktor-Faktor Penerimaan Pengguna Aplikasi STIKez Peduli Berbasis Android
All walks of life, of course, prioritize the availability of information technology today. Availability of technology is necessary to complete every task or job in all aspects of human labour. According to information gathered, the residents of Sukosari Hamlet are still not aware of the importance of health, especially amid the current Covid pandemic. As a result, the "STIKez Peduli" health information system application was developed for Android. In addition to disease information regarding the definition, symptoms, prevention, and treatment, this application also contains information on disease trends that are most common in Malang Regency. The0extent0to0which users0can accept0and understand a technology is very important for the success rate in implementing the system, and user acceptance is always related to the implementation of new systems. By using the Technology Acceptance Model (TAM) method and three variables of Perceived Usefulness, Perceived User Ease, and Application Acceptance, this research examines the acceptability of the STIKez Peduli application. Questionnaires distributed via social media were used for data collection. with samples taken as many as thirty0respondents. From0testing the hypothesis it is known that each of the TAM variables used, namely Acceptance of IT, Perceived Ease of Use, and Perceived Usefulness have a positive influence, with a significant p-value <0.01.Semua lapisan masyarakat tentunya sangat mengutamakan ketersediaan teknologi informasi saat ini. Ketersediaan0teknologi diperlukan untuk menyelesaikan setiap tugas atau pekerjaan dalam semua aspek tenaga kerja manusia. Menurut informasi yang dihimpun, warga Dusun Sukosari masih belum sadar0akan0pentingnya kesehatan, 0apalagi di tengah pandemi Covid saat ini. Hasilnya, aplikasi sistem informasi kesehatan "STIKez Peduli" dikembangkan untuk Android. Selain informasi penyakit tentang pengertian, gejala, pencegahan, dan pengobatan, aplikasi ini juga memuat informasi tren penyakit yang paling banyak terjadi di Kabupaten Malang. Sejauh mana pengguna dapat menerima dan memahami suatu teknologi sangat penting untuk tingkat keberhasilan dalam mengimplementasikan sistem, dan penerimaan pengguna selalu terkait dengan implementasi sistem baru. Dengan menggunakan0metode Technology Acceptance Model (TAM) dan tiga variabel Perceived Usefulness, Perceived User Ease, dan Application Acceptance, penelitian ini menguji keberterimaan Aplikasi STIKez Peduli. Kuesioner yang disebarkan melalui media sosial digunakan untuk pengumpulan data. dengan sampel yang diambil sebanyak tiga puluh responden. Dari pengujian hipotesis diketahui bahwa masing-masing variabel TAM yang digunakan yaitu Acceptance of IT, Perceived Ease of Use, dan Perceived Usefulness memiliki pengaruh positif, dengan nilai signifikan p-value <0,01
Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Pada Remaja Di SMK PGRI 1 Wilayah Kerja Puskesmas Tipar Kota Sukabumi
Bullying behavior is an act of intimidation that is carried out repeatedly by a strong party against a weaker party, one of which influences it is parenting. The research objective was to determine the relationship between parenting parents and bullying behavior in adolescents at SMK PGRI 1, Tipar Health Center, Sukabumi City. Parenting is the relationship that is established between parents and children in the process of parenting, in other words, parents educate, guide and direct children. Bullying is a form of oppression used to hurt the victim. This type of correlational research. The population is SMA Pgri 1 students in grades 10 and 11 with a sample of 200 respondents. Sampling using Proportional Stratified Random Sampling. Data collection technique with a questionnaire. Data analysis using the Contingency Coefficient. The results showed that most of the respondents had authoritarian parenting styles (5 3.0%). And high bullying behavior (56.0%). The contingency coefficient test results obtained a p-value of 0.000 (p-value <0.05). This means that there is a significant relationship between parenting style and bullying behavior in adolescents at SMA Pgri 1. The conclusions show that there is a relationship between parenting style and bullying behavior in adolescents at SMA Pgri 1, Sukabumi City. It is hoped that this research will become input for the school to pay more attention to students related to bullying behavior.Perilaku bullying merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan berulang-ulang oleh pihak yang kuat terhadap pihak yang lebih lemah, salah satu yang mempengaruhinya adalah pola asuh orang tua. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada remaja di SMK PGRI 1 Wilayah Kerja Puskesmas Tipar Kota Sukabumi. Pola asuh orang tua adalah hubungan yang dijalin antara orang tua dan anak dalam proses mengasuh dengan kata lain orang tua mendidik, membimbing serta mengarahkan anak. Bullying adalah bentuk penindasan yang dilakukan untuk menyakiti korbannya. Jenis penelitian korelasional. Populasi adalah siswa smk pgri 1 kelas 10 dan 11 dengan sampel sebanyak 200 responden. Sampling menggunakan Proporsional Stratified Random Sampling. Teknik pengambilan data dengan kuesioner. Analisis data menggunakan Koefisien Kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mendapatkan pola asuh otoriter (53,0%). Dan perilaku bullying tinggi (56,0%). Hasil uji Koefisien Kontingensi didapatkan p-value 0,000 (p-value < 0,05). Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada remaja di smk pgri 1. Simpulan menunjukkan ada hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada remaja di smk pgri 1 Kota Sukabumi. Diharapkan penelitian ini menjadi masukan bagi pihak sekolah untuk lebih memperhatikan siswa berkaitan dengan perilaku bullying
Implementasi Patient Safety Menggunakan Indikator Instrument Akreditasi JCI (Joint Comission International) Di Rumah Sakit Di Kabupaten Salatiga
Keselamatan pasien merupakan isu penting saat ini di dunia perumahsakitan yang sesuai dengan Permenkes RI No. 1691/ MENKES/ PER/ VIII/ 2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Tidak hanya pada standar akreditasi nasional, JCI (Joint Commission International) juga telah menetapkan sasaran keselamatan pasien yang menjadi tujuan penting diterapkan di pelayanan kesehatan. Dalam optimalisasi pelaksanaan keselamatan pasien perlu adanya penilaian implementasi dari keselamatan pasien dapat terlaksana dengan lebih optimal dan efektif. di rumah sakit di Kabupaten Salatiga telah melaksanakan keselamatan pasien, namun perlu adanya penilaian implementasi agar upaya perbaikan bisa lebih baik untuk menyongsong akreditasi JCI (Joint Comission International). Penelitian ini bertujuan mengetahui implementasi Patient Safety menggunakan indikator instrument akreditasi JCI (Joint Comission International). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dilakukan di rumah sakit di Kabupaten Salatiga. Populasi pada penelitian ini adalah Tenaga Kesehatan. Sampling pada penelitian menggunakan total sampling. Dengan sejumlah 100 responden. Instrumen yang digunakan adalah ceklis observasi. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi. Penelitian dilakukan pada 10-20 mei 2023. Hasil observasi dari implementasi Patient safety yang diambil dari 100 responden yang tersebar dari berbagai unit di rumah sakit di Kabupaten Salatiga dengan enam sasaran menunjukkan semua elemen penilaian mayoritas 100% terlaksana dan yang terendah 85% terlaksana. Sudah seharusnya keselamatan pasien adalah terlaksana 100% karena menjadi indicator penting dalam akreditasi rumah sakit JCI, namun apabila masih terdapat yang belum terlaksana sepenuhnya, maka sebaiknya rumah sakit memiliki strategi untuk dapat meningkatkan kepatuhan nakes dalam mengimplementasikan keselamatan pasien.Patient safety is an important issue at this time in the hospital world in accordance with RI Minister of Health No. 1691/ MENKES/ PER/ VIII/ 2011 concerning Hospital Patient Safety. Not only on national accreditation standards, JCI (Joint Commission International) has also set patient safety goals which are important goals to be implemented in health services. In optimizing the implementation of patient safety, it is necessary to evaluate the implementation of patient safety so that it can be carried out more optimally and effectively. in hospitals in Salatiga Regency have implemented patient safety, but there is a need for an implementation assessment so that improvement efforts can be better to welcome JCI (Joint Commission International) accreditation. This study aims to determine the implementation of Patient Safety using JCI (Joint Commission International) accreditation instrument indicators. This research is a quantitative research conducted in a hospital in Salatiga Regency. The population in this study is Health Workers. Sampling in research using total sampling. With a number of 100 respondents. The instrument used is the observation checklist. The data analysis used is the frequency distribution. The research was conducted on May 10-20, 2023. The results of observations on the implementation of patient safety were taken from 100 respondents spread from various units in hospitals in Salatiga Regency with six targets showing that all elements of the assessment were the majority 100% implemented and the lowest 85% implemented. Patient safety should be implemented 100% because it is an important indicator in JCI hospital accreditation, but if there is still something that has not been fully implemented, then the hospital should have a strategy to be able to increase compliance of health workers in implementing patient safety
EVALUASI PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TERISI KABUPATEN INDRAMAYU
Tuberculosis is an infectious disease caused by infection
Mycobacterium tuberculosis bacteria. Discovery of tuberculosis cases in the District
Indramayu from 2019 to 2021 shows a declining trend for three
year of observation, but the TB cure rate in 2019 was 91.9%
decreased when compared to 2020 which was reported as many as
70.8%. In 2021 the number of TB cases in Indramayu Regency will be found
as many as 1,647 cases. The implementation of the P2TB program has several obstacles
including TB program holders who concurrently serve, reporting from
Health Center to the Health Service which is not optimal, counseling from the parties
Puskesmas related to the TB program are not optimally carried out, and Supervisors
Taking Medicines (PMO) that are not functioning optimally. This research method
using qualitative research methods with a case study approach.
There were 8 informants in this research. The results of this study show
that health promotion activities are still not optimal. Human Resources
according to standards, the availability of logistics and funds is sufficient. Recording
and reporting is still hampered by the network and mastery of health workers
to information systems. The participation of the community has not been carried out thoroughly
optimal. In the process of implementing the P2TB program, it shows that
Program planning at the Puskesmas is good. Implementation of the P2TB Program
carried out by visiting contacts at home with TB sufferers and visits
independent practice, and the supervision carried out is optimal. Achievement results
This shows that the detection of sufferers has not reached the target set.
In 2021 the set target is 175, the achievements are only
51 cases found.Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tubercolusis. Penemuan kasus tuberkulosis di Kabupaten Indramayu dari tahun 2019 sampai 2021 menunjukan trend menurun selama tiga tahun pengamatan, tetapi angka kesembuhan TB tahun 2019 sebanyak 91,9% menurun bila dibandingkan dengan tahun 2020 yang terlaporkan tercatat sebanyak 70,8%. Pada tahun 2021 jumlah kasus TB di Kabupaten Indramayu ditemukan sebanyak 1.647 kasus. Pelaksanaan program P2TB terdapat beberapa kendala diantaranya yaitu pemegang program TB yang merangkap tugas, pelaporan dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan yang belum optimal, penyuluhan dari pihak Puskesmas terkait program TB kurang maksimal dilakukan, dan Pengawas Minum Obat (PMO) yang belum berfungsi secara optimal. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan penelitian ini berjumlah 8 informan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan Promosi kesehatan masih belum optimal. Sumber daya manusia sudah sesuai standar, ketersedian logistik dan dana sudah mencukupi. Pencatatan dan pelaporan masih terhambat oleh jaringan dan penguasaan petugas kesehatan terhadap sistem informasi. Peran serta masyarakat belum dilakukan secara optimal. Pada proses pelaksanaan program P2TB menunjukan bahwa Perencanaan program di Puskesmas sudah baik. Pelaksanaan Program P2TB dilakukan dengan kunjungan kontak serumah penderita TB dan Kunjungan praktik mandiri, dan Pengawasan yang dilakukan sudah optimal. Hasil capaian menunjukan bahwa penemuan penderita belum mencapai target yang ditetapkan