Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
    212 research outputs found

    Implementation Of Safe Operation Forklift Based On OSHA 2016 At PT X

    No full text
    When operating a forklift, there is a risk of injury, even death. Therefore, it is important to operate forklifts safely by paying attention to various factors, such as operator skills, forklift conditions, work environment, and safety rules. OSHA 2016 is a forklift operating procedure document that applies very complex operating standards which consist of requirements related to operator training, daily checks before use, maintenance and routine repairs, use of seat belts, specified haulage capacity, and the use of all types of trucks. The purpose of this study was to determine suitability in the implementation of safe operation forklifts based on the 2016 OSHA standard procedures at PT X. This research is a qualitative descriptive research with a phenomenological approach, data collection techniques in the form of observation, documentation and in-depth interviews with assessment sheets. The results of this study indicate that in the implementation of safe operating forklifts, the results of conformity with OSHA related to Pre-operation are 90%, traveling and maneuvering are 90%, load handling are 92%, and work area are 100%. From this research, it can be concluded that the implementation of safe operation of forklifts at PT X is not fully compliant with OSHA 2016.Dalam pengoperasian forklift, terdapat risiko cedera, bahkan kematian. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pengoperasian forklift secara aman dengan memperhatikan berbagai faktor, seperti keterampilan operator, kondisi forklift, lingkungan kerja, dan aturan keselamatan. OSHA 2016 merupakan dokumen prosedur operasi forklift yang menerapkan standar pengoprasian yang sangat kompleks dimana didalamnya terdiri dari persyaratan terkait dengan pelatihan operator, pemeriksaan harian sebelum penggunaan, pemeliharaan dan perbaikan rutin, penggunaan sabuk pengaman, kapasitas angkut yang ditentukan, dan penggunaan segala macam jenis truk. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian dalam Implementasi safe operation forklift berdasarkan standar prosedur OSHA 2016 di PT X. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam dengan lembar penilaian yang dilakukan pada bulan Juli-Agustus di PT X. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam implementasi safe operation forklift didapatkan hasil kesesuaian dengan OSHA terkait dengan, Pra operasi sebesar 90% , traveling dan maneuver sebesar 90%, load handling sebesar 92%, serta area kerja sebesar 100%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa implementasi safe operation forklift di PT X belum sepenuhnya sesuai dengan OSHA 2016

    Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Hamil Dalam Pencegahan Preeklampsia Di Wilayah Kerja Puskesmas Kandanghaur Kabupaten Indramayu Tahun 2023

    No full text
    The Maternal Mortality Rate is an indicator to see the success of maternal health efforts. The main complications that cause mothers to die in almost 75%      of all maternal deaths are bleeding, high blood pressure (preeclampsia and eclampsia), and infection. Based on the Indramayu District Health Profile in 2021, the highest maternal mortality is caused by hypertension in pregnancy (preeclampsia/eclampsia). Preeclampsia can occur due to unfavorable behavior of pregnant women. The purpose of this study was to determine the factors associated with the behavior of pregnant women in the prevention of preeclampsia. This study used an analytic method with a cross-sectional approach, population in this study was 734 pregnant women, and the sample 85 respondents, was taken using an accidental sampling technique. The instrument used is a questionnaire. Test the hypothesis using the Chi-square test. The results showed that the variables related to the behavior of pregnant women in preventing preeclampsia were knowledge (P=0.0001), attitude (P=0.0001), support from health workers (0.0001), and husband support (P= 0.020) ). Meanwhile, the variable that was not related to the behavior of pregnant women in preventing preeclampsia was access to health services (P=0.108). Conclusion There is a relationship between the variables of knowledge, attitudes, support from health workers, and husband\u27s support with the behavior of pregnant women in preventing preeclampsia. This research suggestion is aimed at pregnant women so they can increase their knowledge by participating in counseling and increasing positive behavior by carrying out routine pregnancy checks.Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. Komplikasi utama yang menyebabkan ibu meninggal hampir 75% dari semua kematian ibu adalah perdarahan, tekanan darah tinggi (preeklampsia dan eklampsia) dan infeksi. Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Indramayu pada tahun 2021, kematian ibu tertinggi disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan(preeklampsia/eklampsia). Preeklampsia dapat terjadi karena perilaku ibu hamil yang kurang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu hamil dalam pencegahan preeklampsia. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional dengan populasi dalam penelitian ini sebanyak 734 ibu dan 85 responden, diambil menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Uji hipotesis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan perilaku ibu hamil dalam pencegahan preeklampsia adalah pengetahuan (P = 0,0001), sikap (P = 0,0001), dukungan petugas kesehatan (0,0001) dan dukungan suami (P= 0,020). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan perilaku ibu hamil dalam pencegahan preeklampsia adalah akses pelayanan kesehatan (P = 0,108). Kesimpulan penelitian ini antaralain Terdapat hubungan dari variabel pengetahuan, sikap, dukungan petugas kesehatan dan dukungan suami dengan perilaku ibu hamil dalam pencegahan preeklampsia. Saran penelitian ini dutujukan untuk ibu hamil agar dapat meningkatkan pengetahuan dengan cara mengikuti kegiatan penyuluhan dan lebih meningkatkan perilaku positif dengan cara melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin

    HUBUNGAN SELF CARE MANAGEMENT DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD KABUPATEN INDRAMAYU

    No full text
    Introduction: Diabetes Mellitus is a chronic disease that is difficult to cure and causes complications. These complications can be prevented by self-care independently (self care management). Self care management includes eating or dieting, increasing physical activity, controlling blood sugar, and effective medication. The purpose of this study was to determine the relationship between self care management and blood sugar levels in patients with diabetes mellitus. Methods: This research is a quantitative research, with analytical descriptive method and cross sectional approach. The population is 78 respondents. The sample is 65 respondents. The research instrument used a Diabetes Self Care Management Questionnaire (DSMQ) and a laboratory to check blood sugar levels. Results: the results of this study found that most respondents have a good level of self care management 34 (52.3%). There are still many respondents whose blood sugar levels are not controlled 56 (86.2%). In this study, the p value 0.028 < = 0.05. Conclusion: self care management is associated with blood sugar levels in patients with diabetes mellitus. Suggestions are intended for nurses to carry out health promotion directly as well as conducting periodic health education tailored to the characteristics of the respondents, so that it is easy to understand in order to control blood sugar levels and increase awareness to do self care management.Pendahuluan: Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang sulit disembuhkan dan menyebabkan komplikasi. Komplikasi tersebut dapat dicegah dengan perawatan diri secara mandiri (Self Care Management). Self care management DM meliputi pengaturan makan atau diet, peningkatan aktivitas fisik, mengontrol gula darah, dan pengobatan yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Self Care Management dengan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus. Metode: penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan metode deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 78 responden. Sampel sebanyak 65 responden. Instrument penelitian ini menggunakan kuesioner Diabetes Self Management Questionnaire (DSMQ) dan laboratorium untuk mengecek kadar gula darah. Hasil: hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat self care management dengan baik 34 (52,3%) responden. Masih banyak responden yang kadar gula darahnya tidak terkontrol 56 (86,2%) responden. Pada penelitian ini didapatkan nilai p value 0,028 (α = 0,05). Kesimpulan: Self Care Management berhubungan dengan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus. Saran ditujukan untuk perawat agar melakukan promosi kesehatan secara langsung maupun melakukan penyuluhan kesehatan secara berkala disesuaikan dengan karakteristik responden, agar mudah dipahami guna mengontrol kadar gula darah dan meningkatkan kesadaran untuk melakukan self care management

    FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN TRIAGE DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD KABUPATEN INDRAMAYU DAN RSUD M.A SENTOT PATROL INDRAMAYU

    No full text
    ABSTRACT Introduction:The most important activity before taking action in the Emergency Room is Triage. Inaccurate determination of triage can increase morbidity and mortality. It’s necessary to identify factors related to the implementation of triage. Purpose: The purpose of this study was to determine the factors related to the implementation of triage Method: This study used an analytical descriptive method with a croos sectional approach. The population of this study was 41 respondents, sampling using total sampling. Data collection tools use questionnaires and observation sheets. Data analysis using Chi-Square.Result: In this study p-value was 0.000 for the level of education with the implementation of triage, P-value 1,000 for the length of work with triage implementation. P-value constant for training with triage implementation and p value 0,663 for knowledge with triage implementation. Conclusion: The conclusion of this study is that there is a relationship between education and the implementation of triage and there is no relationship between long work, knowledge, training with the implementation of triage. Suggestions for this research are aimed at nurses in order to improve the quality of services in the emergency room by increasing education to a higher level, so as to increase the professionalism of nurses in knowledge of triage implementationABSTRAK Pendahuluan: Kegiatan terpenting sebelum melakukan tindakan di ruang IGD adalah triage. Ketidakakuratan penentuan triage dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien IGD. Perlu adanya identifikasi faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan triage. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan triage Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak  41 responden, pengambilan sampel menggunakan total sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisa data menggunakan Chi-Square.Hasil: Hasil penelitian didapatkan nilai p-value 0,000 (α = 0,05) untuk tingkat pendidikan dengan pelaksanaan triage. P-value 1,000 (α = 0,05) untuk lama kerja dengan pelaksanaan triage. P-value constant  untuk pelatihan dengan pelaksanaan triage dan P-value 0,663 (α = 0,05) untuk  pengetahuan dengan pelaksanaan triage.Kesimpulan: Terdapat hubungan pendidikan dengan pelaksanaan triage dan tidak terdapat hubungan lama kerja, pengetahuan, pelatihan dengan pelaksanaan triage. Saran penelitian ini ditujukan kepada perawat agar meningkatkan kualitas layanan di Instalasi Gawat Darurat dengan meningkatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,sehingga dapat meningkatkan keprofesionalan perawat dalam pengetahuan pelaksanaan triage

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN REMAJA PUTRI MENGKONSUMSI TABLET FE DI DESA JANEGARA KECAMATAN JATIBARANG TAHUN 2021

    No full text
    Background: The high incidence of anaemia is closely related to the adherence of adolescent girls in taking Fe tablets, where 8.3 million out of 12.1 million adolescent girls do not take Fe tablets which puts them at risk of anaemia. Anaemia in adolescent girls who experience pregnancy is associated with an increased risk of premature birth, low birth weight babies, maternal and newborn deaths. This study aims to determine the factors that influence the adherence of adolescent girls to consume Fe tablets, Methods: descriptive analytic, with a cross sectional approach, Results: Based on analytical tests, the results showed that there was no significant relationship between education (p value: 0.118) with adherence to taking Fe tablets, there was a significant relationship between knowledge (p value: 0.000) with adherence to taking Fe tablets, there was no significant relationship between attitude education (p value: 0.35) with adherence to taking Fe tablets and there was a significant relationship between support (p value: 0.000) with adherence to taking Fe tablets. Conclusion: Knowledge and support of Fe tablets are closely related to adherence in taking Fe tablets. Adherence by adolescent girls in taking Fe tablets regularly will reduce the risk of anaemia in adolescents. Keywords: factors, Adolescent Girls, Adherence   &nbsp

    HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKRA KABUPATEN INDRAMAYU

    No full text
    There are currently 600 million hypertension sufferers worldwide, while in Indonesia there are 713,783 cases. The number of patients who experience relapse and undergo treatment in hospital shows that there is still a lack of adherence to treatment, medication adherence is very important in treatment to achieve controlled blood pressure. The progression of hypertension can be reduced by several factors, one of which is family support which has a positive effect on disease control. The purpose of this study was to determine the relationship between family support and medication adherence in patients with hypertension. This research is a quantitative research, with analytical descriptive method with cross sectional approach. The population in this study were all hypertensive patients in the working area of the Sukra Public Health Center, Indramayu Regency. The sample of this study was 91 respondents who were taken using random sampling technique. This instrument uses a questionnaire sheet. The analysis used is univariate and bivariate. The results showed that 51 (56%) respondents received family support and as many as 39 (56.0%) respondents were obedient in taking medication. The results of the bivariate test showed that the P- value = 1000 (α = 0.01). Result : There is no significant relationship between family support and medication adherence in the working area of Sukra Public Health Center, Indramayu Regency. Suggestions for further researchers to examine other factors that affect drug adherence.Penyakit hipertensi pada saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, Adapun di seluruh Indonesia sebanyak 713.783 kasus. Banyaknya pasien yang mengalami kekambuhan dan menjalani perawatan di rumah sakit menunjukan bahwa masih kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan, kepatuhan pengobatan adalah sangat penting dalam perawatan untuk mencapai tekanan darah yang terkontrol. Progresivitas hipertensi dapat diturunkan dengan beberapa faktor salah satunya dukungan keluarga yang berpengaruh positif dalam pengendalian penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sukra Kabupaten Indramayu. Sampel penelitian ini sebanyak 91 responden yang diambil dengan menggunakan teknik random sampling. Instrument ini menggunakan lembar kuesioner. Analisa yang digunakan adalah univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa 51 (56%) responden mendapat dukungan keluarga dan sebanyak 39 (56.0%) responden patuh dalam minum obat. Hasil uji bivariate didapatkan nilai P-value = 1.000 (α = 0,01). Hasil : Tidak terdapat hubungan bermakna antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat di wilayah kerja Puskesmas Sukra Kabupaten Indramayu. Saran untuk peneliti selanjutnya agar meneliti tentang faktor-faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan minum obat

    Peer Friends, Social Media And Parenting Patterns On The Incident Of Mental Emotional Disorders In Adolescents Of SMA X Depok City

    No full text
    Basic Health Research in 2018 stated that more than 19 million people in Indonesia aged >15 years had experienced emotional mental disorders. Other data also states that the percentage of teenagers in Indonesia aged 13-15 years who seriously attempt suicide has increased, with a percentage value of 4.8% increasing to 6.2%. The aim of this research is to determine the relationship between peers, social media and parenting patterns on the incidence of emotional mental disorders in adolescents at SMA X Depok City in 2023. This research is a non-experimental quantitative research with a cross-sectional study design. The research results showed that there was a significant relationship between the peer variable with a p-value = 0.000 (PR=2.036), the social media variable with a p-value = 0.000 (PR=6.941), and the parenting pattern variable with a p-value. value = 0.000 (PR=2.131) on the incidence of emotional mental disorders in these adolescents. Apart from that, the variable that has a greater chance of mental emotional disorders occurring in teenagers at SMA X Depok City is the variable related to social media with a PR value of 6.941. It is hoped that the school can provide education that focuses on promotive and preventive efforts for students and female students, as well as involving both parents about the importance of emotional mental disorders in teenagers.RISKESDAS tahun 2018 menyebutkan, lebih dari 19 juta penduduk di Indonesia dengan usia >15 tahun telah mengalami masalah gangguan mental emosional. Data lain juga menyebutkan, bahwa remaja di Indonesia dengan rentang usia 13-15 tahun, yang serius melakukan percobaan bunuh diri persentasenya mengalami peningkatan, dengan nilai persentase sebesar 4,8% meningkat menjadi 6,2%. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan yang terjadi antara teman sebaya, media sosial dan pola asuh orang tua terhadap kejadian gangguan mental emosional pada remaja di SMA X Kota Depok tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental dengan desain studi cross-sectional. Hasil penelitian didapatkan terdapat hubungan yang signifikan pada variabel teman sebaya dengan nilai p-value = 0,000 (PR=2,036), variabel media sosial dengan nilai p-value = 0,000 (PR=6,941), serta variabel pola asuh orang tua dengan nilai p-value = 0,000 (PR=2,131) terhadap kejadian gangguan mental emosional pada remaja. Selain itu, variabel yang memiliki peluang lebih besar terhadap terjadinya gangguan mental emosional pada remaja di SMA X Kota Depok yaitu variabel terkait media sosial dengan nilai PR sebesar 6,941. Diharapkan, pihak sekolah dapat melakukan edukasi yang difokuskan dengan upaya promotif serta preventif kepada para siswa maupun siswi, serta melibatkan kedua orang tua tentang pentingnya gangguan mental emosional pada remaja

    PENGARUH INTENSITAS KEBISINGAN DAN LAMA PAPARAN PERHARI DENGAN KEJADIAN NOISE INDUCED HEARING LOSS (NIHL)

    No full text
    WHO (2007) revealed that the prevalence of deafness in Indonesia reached 4.2%. Countries in the world have determined that Noise Induced Hearing Loss (NIHL) is the biggest occupational disease suffered. The scope of this research is noise-induced hearing loss (NIHL) in workers at the Utilities Unit of PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan, and aims to determine the effect of noise and the length of exposure per day on the incidence of Noise Induced Hearing Loss (NIHL).The research design was a cross sectional study, and data collection was carried out by distributing questionnaires, measuring and examining. The population and sample in this study were all workers in the Utilities unit, namely 83 people. This study used the chi-square test to determine the factors that influence NIHL. The results showed the effect of noise intensity > 85 dBA (74.7%), the effect of daily exposure ≥6-8 hours (4.8%). After the chi-square test was carried out, the results were that there was an effect of intensity with NIHL (p=0.035), there was an effect of length of exposure per day with NIHL (p=0.001). The conclusion in this study is that there is an influence between factors with NIHL potential.To minimize the potential for NIHL, it is necessary to carry out regular audiometric examinations, namely once every 6 months, increase supervision of the use of ear protection devices and organize special counseling about NIHL.WHO (2007) mengungkapkan bahwa prevalensi ketulian di Indonesia mencapai  4,2%. Negara-negara di dunia telah menetapkan bahwa Noise Induced Hearing Loss (NIHL) merupakan penyakit kerja yang terbesar diderita. Ruang lingkup penelitian ini adalah gangguan pendengaran akibat bising (NIHL) pada pekerja di unit Utilities PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan, dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebisingan dan lama paparan perhari dengan kejadian  Noise Induced Hearing Loss (NIHL). Rancangan penelitian adalah studi cross sectional, dan pengumpulan data dilakukan dengan pembagian kuesioner, pengukuran dan pemeriksaan. Pupolasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja di unit Utilities yaitu sebanyak 83 orang. Penelitian ini menggunakan uji chi-square unutk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi NIHL.  Hasil penelitian menunjukan pengaruh intensitas kebisingan >85 dBA (74,7%), pengaruh paparan perhari ≥6-8 jam (4,8%). Setelah dilakukan uji chi-square, mendapatkan hasil yaitu ada pengaruh intensitas dengan NIHL (p=0,035), ada pengaruh lama paparan perhari dengan NIHL (p=0,001). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh antara faktor-faktor dengan potensi NIHL. Untuk meminimalisir potensi terjadinya NIHL perlu dilaksanakan pemeriksaan audiometri secara berkala yaitu 6 bulan sekali, meningkatkan pengawasan penggunan alat pelindung telinga dan menyelenggarakan penyuluhan khusus mengenai NIHL

    HUBUNGAN USIA, GRAVIDA, DAN PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS

    No full text
    Background: Maternal Mortality Rate in Indonesia is still high, one of the causes is abortion with a prevalence of 5%. This study aims to determine the relationship between age, gravida, and occupation with the incidence of abortion. Method: This type of research uses observational analytic with a cross sectional design. The sampling technique is total sampling, with a total sample of 46 respondents. Data were taken by retrospective observation of respondents\u27 medical records. The analysis technique uses the Chi-Square test. Results: Statistical test results showed that there was a significant relationship between age and abortion (pv=0.035), there was no significant relationship between gravida and abortion (pv=0.071), there was a significant relationship between work and abortion (pv=0.017) Conclusion: Maternal factors attached to the mother such as age and employment status need to be monitored. This monitoring can be done when the mother is on an ANC visit. Therefore, it is recommended that mothers who are at a high risk age and have work outside the home to be diligent in ANC, especially when they are old gestation < 20 weeks.Latar Belakang: Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi, salah satu penyebabnya adalah abortus dengan prevalensi 5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, gravida, dan pekerjaan dengan kejadian abortus. Metode: Jenis penelitian menggunakan obsevasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel total sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 46 responden. Data diambil dengan observasi data retrospektif catatan medis responden. Teknik analisa menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Hasil uji statistik ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian abortus (pv=0.035), tidak ada hubungan yang signifikan antara gravida dengan kejadian abortus (pv=0.071), ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan kejadian abortus (pv=0.017) Kesimpulan: Faktor maternal yang melekat pada ibu seperti status umur dan pekerjaan perlu di monitoring, pemantauan ini dapat dilakukan pada saat ibu melakukan kunjungan ANC, karena disarankan ibu yang berada pada usia resiko tinggi, dan memiliki pekerjaan diluar rumah untuk rajin ANC terutama ketika usia kehamilan < 20 minggu

    KESIAPAN MANTAN PENGGUNA NARKOBA KEMBALI KE MASYARAKAT PASCA REHABILITASI

    No full text
    Drug users are victims who must be saved. Rehabilitation is the right solution to save victims of drug abuse. The rehabilitation process frees clients from drug addiction back to being normal human beings without drug addiction. This study aims to describe the readiness of residents (clients) to return to the community after undergoing rehabilitation. The study used a descriptive analytic approach with 40 residents as respondents who were undergoing rehabilitation at a rehabilitation center in Kuningan Regency. Data analysis uses percentage frequency distribution. The results showed that 62.5% of former drug users were not ready to return to society. The main reason is the fear of society\u27s stigmatization of drug addicts. The conclusion of this study is that more than half of the residents undergoing rehabilitation are not ready to return to the community due to trauma from the negative stigma of society. It is suggested that the rehabilitation process be strengthened on social soft skills.Pengguna narkoba merupakan korban yang harus diselamatkan. Rehabilitasi menjadi solusi yang tepat untuk menyelamatkan para korban penyalahgunaan narkoba. Proses rehabilitasi membebaskan klien dari ketergantungan narkoba kembali menjadi manusia normal tanpa ketergantungan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesiapan para residen (klien) kembali ke masyarakat pasca menjalani rehabilitasi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan responden sebanyak 40 residen yang sedang menjalankan rehabilitasi di panti rehabilitasi di Kabupaten Kuningan. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi persentase. Hasil penelitian menunjukkan 62,5% mantan pengguna narkoba tidak siap kembali ke lingkungan masyarakat. Alasan yang utamanya adalah ketakutan terhadap stigmatisasi masyarakat kepada para pecandu narkoba.   Kesimpulan penelitian ini lebih dari setengahnya residen yang menjalani rehabilitasi tidak siap ke,bali ke masyarakat karena trauma dengan stigma negative masyarakat. Disarankan agar proses rehabilitasi lebih dikuatkan pada soft skill sosial

    56

    full texts

    212

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Indra Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇