Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
212 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET FE PADA IBU HAMIL DI PMB HUSNIYATI KOTA PALEMBANG
According to the World Health Organization (WHO), it was estimated 33% of people worldwide suffering from anemia, with iron deficiency identified as its primary cause, and Anemia is also recognized as a significant contributor to disability, with an annual prevalence rate of 9%. The purpose of this study is to determine the relationship between knowledge, family support, and the role of health workers simultaneously with adherence to taking Fe tablets in pregnant women at PMB Husniyati Palembang in 2024. This type of research was quantitative using analytic survey method with cross-sectional approach. The population in this study included all pregnant women who visited PMB Husniyati for antenatal care during the study period. The sample was obtained through accidental sampling. Data were analyzed with the chi-square statistical test. The results of univariate analysis showed that from 50 respondents, mothers with good knowledge were 42 respondents, mothers with poor knowledge were 8 respondents (16.0%), 32 mothers (64.0%) received positive family support, and 18 mothers (36.0%) received negative support, 40 respondents (80%) reported a good role of health workers, and 10 respondents (20%) who reported a poor role of health workers. The results of the bivariate analysis of the chi- square test showed that knowledge (p-value 0.014), family support (p-value 0.036), and the role of health workers (p- value 0.046). In conclusion, knowledge, family support, and the role of health workers were significantly associated with adherence to Fe tablet consumption among pregnant women at PMB Husniyati in 2024. The findings suggest that health workers should consider implementing Fe tablet monitoring cards to enhance adherence among pregnant women receiving these supplements.Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan sekitar 33% orang di seluruh dunia menderita anemia, dengan kekurangan zat besi diyakini sebagai penyebab utamanya, dan anemia merupakan salah satu masalah kecacatan utama setiap tahunnya 9% per tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan secara simultan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe pada ibu hamil di PMB Husniyati Palembang Tahun 2024. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan motode survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini semua ibu hamil yang ditemui atau kebetulan ada berkunjung untuk periksa kehamilannya di PMB Husniyati. Sampel pada penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Data di analisis dengan uji statistik chi-square. Hasil analisi univariat yang peneliti dapat berjumlah 50 responden, ibu yang pengetahuan baik sebanyak 42 responden dan ibu yang pengetahuan kurang baik sebanyak 8 responden (16,0%), ibu yang keluarganya positif mendukung sebanyak 32 responden (64,0%) dan ibu yang negatif mendapatkan dukungan sebanyak 18 responden (36,0%), dan ibu dengan peran tenaga kesehatan baik 40 responden (80,0%) dan ibu dengan peran tenaga kesehatan tidak baik 10 responden (20,0%). Hasil analisa bivariat uji chi-square diperoleh Pengetahuan (p-value 0,014), Dukungan Keluarga (p-value 0,025), dan Peran Tenaga Kesehatan (p-value 0,046). Bahwa dapat di simpulkan bahwa benar ada hubungan antara pengetahuan, dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe pada ibu hamil di PMB Husniyati tahun 2024. Hasil penelitian ini diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk menerapkan penggunaan kartu pemantauan tablet Fe bagi Ibu hamil yang menerima tablet Fe di PM
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPAN MASYARAKAT PESISIR DALAM MELAKUKAN TINDAKAN BANTUAN HIDUP DASAR
The prevalence of heart disease in Indonesia in 2018 was reported at 1,017,290 cases. Heart disease can trigger heart attacks and even cardiac arrest. Providing basic life support (BLS) by the bystander can have an impact on the victim\u27s outcome. BLS skills in the public tend to be low, as evidenced by less than 40% of out-of-hospital cardiac arrest victims receiving cardiopulmonary resuscitation (CPR) from the general public, and less than 12% receiving an automated external defibrillator (AED) before the arrival of the ambulance. Other studies also show that less than 1% of the public can perform BLS effectively. This study aims to identify factors that influence the readiness of coastal communities to perform BLS actions. This study is a descriptive-analytical study with a cross-sectional method involving 106 respondents. Data were analyzed using the Kendal Tau test because the data is categorical. The results of the study showed that there was a relationship between knowledge factors and the readiness of coastal communities to perform BLS actions (p = 0.009). There is a relationship between the BHD training factor and the preparedness of coastal communities to perform BHD actions (p = 0.005). There is no relationship between the BHD experience factor and the readiness of coastal communities to perform BHD actions (p = 0.376). The increasing number of emergency conditions in the community, as well as the lack of community knowledge regarding BHD, requires a BHD campaign and training in the community because most emergency conditions occur outside the hospital.Prevalensi penyakit jantung di Indonesia tahun 2018 dilaporkan sebanyak 1.017.290 kasus. Penyakit jantung dapat memicu serangan jantung dan bahkan henti jantung. Pemberian bantuan hidup dasar (BHD) oleh masyarakat yang pertama kali menemukan korban (bystander) dapat berdampak terhadap outcome korban. Keterampilan BHD pada masyarakat awam cenderung masih rendah yang dibuktikan dengan kurang dari 40% korban henti jantung di luar rumah sakit mendapatkan resusitasi jantung paru (RJP) dari masyarakat awam, serta kurang dari 12% mendapatkan automated external defibrillator (AED) sebelum kedatangan petugas ambulans. Hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa kurang dari 1% masyarakat awam mampu melakukan BHD dengan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kesiapan masyarakat pesisir dalam melakukan tindakan BHD. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode cross sectional yang melibatkan 106 responden. Data dianalisis menggunakan uji Kendal Tau karena data bersifat kategorik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor pengetahuan dengan kesiapan masyarakat pesisir dalam melakukan tindakan BHD (p=0.009). Terdapat hubungan antara faktor pelatihan BHD dengan kesiapan masyarakat pesisir dalam melakukan tindakan BHD (p=0.005). Tidak terdapat hubungan antara faktor pengalaman melakukan BHD dengan kesiapan masyarakat pesisir dalam melakukan tindakan BHD (p=0,376). Semakin banyaknya kondisi kegawatdaruratan di masyarakat, serta minimnya pengetahuan masyarakat terkait BHD, maka perlu dilakukan kampanye dan pelatihan BHD di masyarakat, karena kondisi kegawatdaruratan sebagian besar terjadi di luar rumah sakit
HUBUNGAN VENTILASI RUMAH, STATUS GIZI DAN KELENGKAPAN IMUNISASI DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN (PMB) JUNAEDAH DESA MUARABARU KECAMATAN MAKARTI JAYA KABUPATEN BANYUASIN
Acute Respiratory Infection or what is usually called (ARI). When an infection occurs, bacteria and microorganisms enter the human body and also cause symptoms of disease. Acute infection is an infection that lasts for approximately 14 days. The aim of this study was to determine the relationship between house ventilation, nutritional status and completeness of immunization with the incidence of acute respiratory infections in toddlers. This research uses a cross section approach using univariate and bivariate analysis. The results obtained from the 42 respondents studied were 19 respondents 45.2 who experienced ISPA and 23 respondents 54.8 who did not experience ISPA. most of the 18 respondents 42.9 did not meet the requirements for ventilation, 10 respondents 23.8 had poor nutrition and 16 respondents 38.1 had incomplete immunization. Sample determination was taken using total sampling technique. Based on the results of research using the chi-square statistical test, it is known that there is a significant relationship between house ventilation and the incidence of acute respiratory infections (ARI) in children under five, with a P value of 0.001, there is no significant relationship between nutritional status and the incidence of acute respiratory infections ( ARI) in toddlers obtained a p value of 0.143, there was a significant relationship between the completeness of immunization and the incidence of acute respiratory infections (ARI) in toddlers obtained a p value of 0.007. So it can be concluded that there is no relationship between house ventilation, nutritional status and completeness of immunization simultaneously with the incidence of acute respiratory infections (ARI). It is recommended that parents, especially mothers, take better care of the health of their toddlers and the surrounding environment, so that toddlers can avoid ISPAInfeksi Saluran Pernapasan Akut atau yang biasa disebut dengan (ISPA). Saat terjadi infeksi, bakteri dan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh manusia dan juga menimbulkan gejala penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahui hubungan ventilasi rumah, status gizi dan kelengkapan imunisasi dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada balita. Metode penelitian menggunakan kuantitatif desain deskriptif analitik melalui pendekatan cross section. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita usia 1-5 tahun. Penentuan Sempel di ambil dengan menggunakan teknik total sampling. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara ventilasi rumah dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di peroleh P value 0,001, tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di peroleh p value 0,143, ada hubungan yang signifikan antara kelengkapan imunisasi dan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di peroleh p value 0,007. Disarankan kepada orang tua khususnya ibu agar lebih menjaga kesehatan balita dan lingkungan sekitar, agar balita dapat terhindar dari ISP
EVALUASI PEDIATRIC TOTAL QUALITY MANAGEMENT DALAM MENINGKATKAN LAYANAN KESEHATAN ANAK DI RSUD JARAGA SASAMEH KALIMANTAN TENGAH
Total Quality Management (TQM) is a comprehensive approach in quality management that involves all members of the organization in efforts to improve quality. Implementation of TQM in hospitals can be an effective solution to improve quality Management, especially in Pediatric patient services at Jaraga Sasameh Regional Hospital. It is necessary to strengthen quality Management in Pediatric services by increasing staff training and education on Pediatric care, providing special facilities and equipment for Pediatric patients, developing special protocols and guidelines for Pediatric patient care, implementing a child-friendly approach in services, increasing supervision, reporting, and analysis of adverse events involving patients. A summary of these activities and a series of program systems formed in Pediatric Total Quality Management in efforts to improve quality Management, improve services and satisfaction of Pediatric patients at Jaraga Sasameh Regional General Hospital. The purpose of this study was to evaluate Pediatric Total Quality Management in improving Pediatric health services at Jaraga Sasameh Regional Hospital, Central Kalimantan. The design of this study was descriptive observational in the form of interviews about Pediatric Total Quality Management in health services. Interviews were conducted with 8 health workers who worked in the children\u27s and infant rooms of Jaraga Sasameh Regional Hospital. The conclusion of this study is that the implementation of Pediatric Total Quality Management in terms of quality, quantity, timeliness, effectiveness, and work commitment has been running well, but there are some things that still need to be improved such as the availability of drugs, medical devices and medical calm training to support better patient services.Total Quality Management (TQM) merupakan pendekatan yang komprehensif dalam manajemen kualitas yang melibatkan semua anggota organisasi dalam upaya peningkatan mutu. Implementasi TQM di rumah sakit dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kendali mutu, khususnya pada pelayanan pasien anak di RSUD Jaraga Sasameh. Perlu memperkuat kendali mutu dalam pelayanan anak dengan cara peningkatan pelatihan dan pendidikan staf tentang perawatan anak, pemenuhan fasilitas dan peralatan khusus untuk pasein anak, pengembangan protokol dan pedoman khusus untuk perawatan pasien anak, penerapan pendekatan yang ramah anak dalam pelayanan, peningkatan pengawasan, pelaporan, dan analisis kejadian tidak diinginkan yang melibatkan pasien. Rangkuman kegiatan tersebut dan rangkaian sistem program yang di bentuk pada Pediatric Total Quality Management dalam upaya peningkatan kendali mutu, peningkatan pelayanan dan kepuasan pasien anak di Rumah Sakit Umum Daerah Jaraga Sasameh. Tujuan dari penelitain ini adalah untuk evaluasi Pediatric Total Quality Management dalam meningkatan pelayanan kesehatan anak di RSUD Jaraga Sasameh Kalimantan Tengah. Desain penelitian ini dengan observasional deskriptif berupa wawacara tentang Pediatric Total Quality Management dalam pelayanan kesehatan. Wawancara dilakukan kepada 8 orang tenaga kesehatan yang bertugas di ruang anak dan bayi RSUD Jaraga Sasameh. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan Pediatric Total Quality Management dilihat dari segi kualitas, kuantitas, ketepatan waktu, efektivitas, dan komitmen kerja sudah berjalan dengan baik, namun ada beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan seperti pada ketersedian obat, alat medis dan pelatihan tenang medis untuk mendukung pelayanan pasien yang lebih baik
The relationship between the level of knowledge, parental attitudes and accessibility of health services with compliance in providing complete basic immunization to infants at Posyandu Mawar, Makarti Jaya District, Banyuasin
Immunization is a way to prevent infectious diseases, especially diseases that can be prevented by immunization (PD31), low immunization coverage in infants can inhibit the formation of immunity and has the potential to cause disease outbreaks. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of knowledge, parental attitudes and accessibility of health services with compliance in providing complete basic immunization to infants. This type of research was quantitative with a cross-sectional approach. The population of the study were all mothers who had 9-month-old babies who visited Posyandu Mawar in January-July, totaling 56 respondents. Sampling used total sampling technique. The results of univariate analysis were obtained from 56 respondents who were compliant in providing complete basic immunization. as many as 26 respondents (46.4%), respondents with a good level of knowledge were 27 respondents (48.2%), respondents with a positive attitude were 23 respondents (41.1%), respondents who had easy accessibility to health services were 23 respondents (41.1%). Based on the results of the study using the chi-square statistical test, the variable level of knowledge P value was 0.034 (a => 0.05), parental attitudes obtained a p value of 0.037 (a => 0.05), accessibility of health services obtained a p value of 0.009 (a =>0.05). The conclusion that there was a relationship between the level of knowledge, parental attitudes and accessibility of health services simultaneously with compliance in providing complete basic immunization to infants at Posyandu Mawar, Makarti Jaya District, Banyuasin Regency. Suggestions for posyandu workers in improving immunization compliance at Posyandu Mawar by conducting intensive socialization to parents, involving the community, and giving awards for families who comply with the immunization schedule so that they can create a healthier generation at Posyandu Mawar.Imunisasi merupakan cara pencegahan penyakit menular, terutama penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), rendahnya cakupan imunisasi pada bayi dapat menghambat pembentukan kekebalan tubuh dan berpotensi menyebabkan wabah penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, sikap orang tua dan aksesibilitas layanan kesehatan dengan kepatuhan dalam pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi. Jenis penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian yaitu seluruh ibu yang mempunyai bayi usia ≥ 9 bulan yang berkunjung di Posyandu Mawar pada bulan Januari-Juli yang berjumlah 56 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil analisis univariat diperoleh dari 56 responden patuh dalam pemberian imunisasi dasar lengkap sebanyak 26 responden (46,4%), responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 27 responden (48,2%), responden yang bersikap positif sebanyak 23 responden (41,1%), responden yang memiliki aksesibilitas layanan kesehatan yang mudah sebanyak 23 responden (41,1%). Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square variabel tingkat pengetahuan nilai P value sebesar 0,034 (α= >0,05), sikap orang tua diperoleh nilai p value 0,037 (α=>0,05), aksesibilitas layanan kesehatan diperoleh nilai p value 0,009 (α=>0,05). Kesimpulan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan, sikap orang tua dan aksesibilitas layanan kesehatan secara simultan dengan kepatuhan dalam pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi di Posyandu Mawar Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin. Saran untuk petugas posyandu dalam meningkatkan kepatuhan imunisasi di Posyandu Mawar dengan melakukan sosialisasi intensif kepada orang tua, melibatkan komunitas, dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang mematuhi jadwal imunisasi sehingga dapat mewujudkan generasi yang lebih sehat di Posyandu Mawar
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI ARE TAHUN 2024
In Indonesia, the Maternal Mortality Rate (MMR) remains high. Hypertension during pregnancy frequently occurs and is one of the leading causes of maternal mortality. In Indonesia, hypertension in pregnancy ranks second as the leading cause of maternal death after hemorrhage. This study aims to examine the relationship between maternal factors and the incidence of hypertension in pregnant women in the working area of Sungai Are Public Health Center in 2024. The study employed an observational analytical design with a cross-sectional approach in Simpang Luas Village, Sungai Are District. The population consisted of 120 pregnant women in Sungai Are Public Health Center. Using purposive sampling techniques, a total sample of 30 was obtained. Data analysis included univariate distribution and bivariate analysis using the ChiSquare test with a significance level of 5% (a = 0.05). The results showed significant relationships between age (p = 0.000), obesity (p = 0.013), history of hypertension (p = 0.000), and the incidence of hypertension among pregnant women in the working area of Sungai Are Public Health Center in 2024.Di Indonesia Angka Kematian ibu (AKI) masih tergolong tinggi. Hipertensi dalam kehamilan sering terjadi dan merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Di Indonesia, hipertensi dalam kehamilan menduduki peringkat kedua tertinggi penyebab kematian ibu setelah perdarahan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara faktor-faktor Ibu dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sungai Are Tahun 2024. Penelitian menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan Desa Simpang Luas, Kecamatan Sungai Are. Populasi adalah seluruh ibu hamil dengan jumlah 120 orang di Puskesmas Sungai Are Dengan menggunakan teknik purposive sampling yang memenuhi kriteria Analisis datanya meliputi analisi sinklusi didapatkan sampel sebanyak 30 orang. Univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariatnya uji chi square. Analisis data dilakukan secara bivariat dengan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan sebesar 5% (a=0,05). pengaruh antara umur (p=0,000), obesitas (p=0,013) riwayat hipertensi (p=0,000), Dari hasil pengujian Chi-Square Didapatkan hubungan faktor-faktor Ibu dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di Wilayah Kerja antara Puskesmas Sungai Are Tahun 202
PENERAPAN PERAWATAN LUKA ULKUS DIABETIKUM DENGAN PEMBERIAN POWDER IODOSORB TERHADAP GANGGUAN INTEGRITAS KULIT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS : A CASE REPORT
Pendahuluan: Perawatan luka yang tepat pada ulkus diabetikum dilakukan guna mencegah komplikasi yang dapat terjadi seperti prosedur amputasi. Dalam perawatan ulkus diabetikum terdapat berbagai macam terapi topikal yang digunakan, salah satunya powder iodosorb. Powder iodosorb memiliki kandungan iodine yang terbukti efektif dalam pengelolaan luka kronis dengan cara mengontrol bakteri tanpa mempengaruhi jaringan sehat. Deskripsi Kasus: Klien Ny.I (57 tahun) memiliki diagnosa ulkus diabetikum stage 3A, dengan keluhan utama adanya luka pada kaki bagian kiri. Sebelumnya klien telah memiliki riwayat penyakit diabetes ± 5 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif case report yang dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan, instrumen yang digunakan dalam menilai luka ulkus diabetikum yaitu Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) dengan 13 parameter penilaian. Pembahasan: Analisis penggunaan powder iodosorb menunjukkan penurunan skor BWAT menjadi 34 dan 23 pada pertemuan ketiga. Kondisi luka bagian plantar menunjukkan penurunan jumlah slough menjadi 10%, peningkatan jaringan epitelisasi menjadi 30%, dan jaringan granulasi 60%. Pada bagian tibia tampak perubahan ukuran luas luka dimana pada pertemuan ketiga luas luka menjadi 24 cm², serta tampak adanya penambahan jaringan epitelisasi di area tepi luka menjadi 25%. Kesimpulan: Penggunaan powder iodosorb terbukti efektif dalam membantu proses penyembuhan luka dengan mengurangi ukuran luka, serta meningkatkan jaringan granulasi
MASALAH DAN ISU KEBIJAKAN KESEHATAN DI INDONESIA
Health problems in Indonesia are still considered complex, especially related to disparities in access and quality of health services. This research aims to analyze health policy in Indonesia, especially the implementation of National Health Insurance (JKN), as well as identifying challenges and opportunities for improvement. The method used is a literature study by analyzing various sources related to health policy in Indonesia. The research results show that the implementation of JKN has expanded the reach of medical services to make them more accessible to various levels of society, but there are still gaps in the quality and distribution of services in various regions. Key challenges include limited resources and lack of coordination between institutions. Health policy reform has brought positive changes, but still requires continuous improvement. Multisector collaboration has proven effective in addressing social determinants of health. This research recommends strengthening the referral system, developing an integrated health information system, and implementing policies that are more responsive to specific regional needs. For further research, it is recommended to focus on evaluating the JKN program and the effectiveness of cross-sector collaboration in improving public health status.Masalah kesehatan di Indonesia tergolong masih kompleks, terutama terkait disparitas akses dan kualitas layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan kesehatan di Indonesia, khususnya implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta mengidentifikasi tantangan dan peluang perbaikan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber terkait kebijakan kesehatan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi JKN telah memperluas jangkauan layanan medis agar lebih mudah dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat, namun masih terdapat kesenjangan dalam kualitas dan pemerataan layanan di berbagai daerah. Tantangan utama meliputi keterbatasan sumber daya dan kurangnya koordinasi antar institusi. Reformasi kebijakan kesehatan telah membawa perubahan positif, tetapi masih memerlukan penyempurnaan berkelanjutan. Kolaborasi multi-sektor terbukti efektif dalam mengatasi determinan sosial kesehatan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem rujukan, pengembangan sistem informasi kesehatan terintegrasi, dan implementasi kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan spesifik daerah. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan fokus pada evaluasi program JKN dan efektivitas kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat
ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN DAERAH NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DI KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2021 (STUDI KASUS TAHUN 2016-2021)
The prevalence smoking in Indramayu Regerency 10 year old is 28.87% for daily smokers, 3.56% for occasional smokers. Purpose the study was to determine implementation of Regional Regulation No. 8 of 2016 about no smoking area in Indramayu District (Case Study 2016-2021). This study uses a qualitative method with a case study approach. There were 12 informants in this study, the main informants were the chairman of the DPRD, Head of Health Promotion Section of the Health Office, and Head of Community Development for Satpol PP, triangulation informants namely NGOs and 8 people in charge of KTR places. The results of the study stated that the dissemination of information had been conveyed to other agencies and executives, the socialization was not uniform and not consistent. The provision of special smoking room facilities is still not all provided, the allocation comes from the APBD and BOK, "no smoking" signs have been implemented which do not apply in public transportation and terminals. Ashtrays are provided in places of worship, workplaces and other places, cross-sectoral cooperation has been carried out, the application of KTR has not run optimally because there are still areas that do not have a Task Force and SOP. The conclusions in this study are seen from the factors of communication, resources, disposition and bureaucratic structure are still not optimal. Therefore, it is suggested to increase the factors that can influence the process of implementing public policy.Prevalensi merokok di Kabupaten Indramayu kelompok umur ≥ 10 tahun sebesar 28,87% untuk yang perokok setiap hari, dan 3,56% untuk perokok kadang-kadang. Tujuan penelitian untuk mengetahui implementasi Kebijakan Perda No 8 Tahun 2016 tentang KTR di Kabupaten Indramayu (Studi Kasus Tahun 2016-2021). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian ini berjumlah 12, Informan Utama yaitu Ketua DPRD, Kasie Promkes Dinkes, dan Kasie Bina Masyarakat Satpol PP, Informan Triangulasi yaitu LSM dan 8 penanggungjawab tempat KTR. Hasil penelitian menyatakan bahwa penyebaran informasi sudah disampaikan kepada dinas-dinas dan eksekutif lain, sosialisasi belum mertata dan belum secara konsisten. Penyediaan fasilitas ruangan khusus merokok masih belum semua menyediakan, alokasi berasal dari APBD dan BOK, Rambu "dilarang merokok" sudah diterapkan yang tidak menerapkan di angkot dan terminal. Penyediaan asbak di lakukan di tempat ibadah, tempat kerja dan tempat lainnya, kerja sama lintas sektor sudah dilakukan, penerapan KTR belum berjalan optimal dikarenakan masih terdapat kawasan yang belum mempunyai Satgas dan SOP. Simpulan dalam penelitian ini dilihat dari faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi masih belum optimal. Oleh sebab itu disarankan agar meningkatkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses implementasi kebijakan publik
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA VIDEO DALAM PENYULUHAN KESEHATAN GIZI TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG ANEMIA
Based on 2018 basic health research data, it was found that there was an increase in the prevalence of anemia at the age of 15-24 years, namely 32% or 14.7 million people, which means 3 out of 10 children experience anemia. The aim of this research is to determine the effect of using video media in nutritional health education on adolescent girls\u27 knowledge about anemia at SMAN 1 Pebayuran. This research uses an experimental method using quasi-experimental techniques, a one group pre and posttest design approach. The population of this study were all female teenagers from SMAN 1 Pebayuran class X aged 15-17 years. The sampling technique was proportional random sampling, the number of samples was 30 students. Research data was collected using a questionnaire. The research results obtained were that before being given counseling using videos, the majority of young women\u27s knowledge level had a mean value of 54.14 and after providing counseling using videos, the majority of young women\u27s knowledge levels increased with a mean value of 93.31. The results of the T-test obtained a p value of 0.000 < α 0.05, which means that there is an influence of the use of video media in nutritional health education on the knowledge of young women. The conclusion of this study was that it was proven to significantly increase adolescent girls\u27 knowledge about anemia after being given counseling using videos. Therefore, health workers are expected to see the opportunity to use educational videos as an appropriate alternative media in providing health and nutrition education as an effort to increase teenagers\u27 knowledge about anemiaBerdasarkan data Riset Kesehatan dasar tahun 2018 ditemukan peningkatan prevalensi anemia pada usia 15-24 tahun yakni 32% atau 14,7 juta jiwa yang artinya 3 dari 10 orang anak mengalami anemia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penggunaan media video dalam penyuluhan kesehatan gizi terhadap pengetahuan remaja putri tentang anemia di SMAN 1 Pebayuran. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen menggunakan tehnik quasi eksperimen, pendekatan one grup pre and posttest design. Populasi penelitian ini adalah seluruh remaja putri SMAN 1 Pebayuran kelas X dengan usia 15-17 tahun. Tehnik pengambilan sampel yaitu proportional random sampling, adapun jumlah sampel yaitu 30 siswa. Pengambilan data penelitian menggunakan kuisioner. Hasil penelitian yang diperoleh, sebelum diberikan penyuluhan dengan video mayoritas tingkat pengetahuan remaja putri memiliki nilai mean sebesar 54.14 serta setelah pemberian penyuluhan menggunakan video mayoritas tingkat pengetahuan remaja putri meningkat dengan nilai mean sebesar 93.31. Hasil dari uji T-Tes diperoleh p value 0,000 < α 0,05 yang diartikan ada pengaruh penggunaan media video dalam penyuluhan kesehatan gizi terhadap pengetahuan remaja putri. Kesimpulan pada penelitian ini terbukti signifikan meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang anemia setelah diberikan penyuluhan dengan menggunakan video. Oleh karena itu tenaga kesehatan diharapkan untuk melihat peluang penggunaan video edukasi sebagai salah satu alternatif media yang tepat dalam memberikan penyuluhan kesehatan gizi sebagai upaya peningkatan pengetahuan remaja tentang anemia