Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
    212 research outputs found

    HUBUNGAN USIA PERNIKAHAN PADA IBU YANG MEMPUNYAI BALITA DENGAN POLA ASUH ANAK DI DESA KARANGRESIK KECAMATAN JAMANIS KABUPATEN TASIKMALAYA

    Get PDF
    ABSTRAK Usia menikah yang terlalu muda mengakibatkan ibu belum siap dalam mengasuh balita karena kurangnya kematangan ibu dalam mengasuh balita, sehingga pola asuh anak juga sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Dampak dari pola asuh otoriter terhadap anak adalah anak menjadi penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, keperbadian yang lemah, cemas dan menarik diri. Dampak dari pola asuh permisif membuat anak-anak yang agresif tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, serta kurang percaya diri. Desa Karangresik merupakan desa yang paling tinggi angka kejadian pernikahan dini dari Desa yang lainnya di Kecamatan Jamanis. Hasil studi pendahuluan terhadap 5 ibu yang menikah muda di Desa Karangresik, terdapat 2 orang dengan pola asuh otoriter dan 3 orang menggunakan pola asuh permisif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pernikahan dini pada ibu yang mempunyai balita dengan pola asuh anak di Desa Karangresik Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan metode case control dan menggunakan pendekatan “retrospektifâ€. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita di Desa Karangresik Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya pada bulan Mei tahun 2016 sebanyak 45 responden. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa kejadian pernikahan usia muda di Desa Karangresik Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar berada pada kategori tidak menikah di usia dini sebanyak 35 orang (77,8%). Dan pola asuh anak sebagian besar menggunakan pola asuh demokratis sebanyak 27 orang (60%). Analisis bivariat diolah menggunakan Uji Chi Square dengan nilai p = 0,004 (p < 0,005), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pernikahan dini pada ibu yang mempunyai balita dengan pola asuh anak di Desa Karangresik Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu diadakannya penyuluhan kepada setiap para remaja agar tidak menikah di usia muda. Kata Kunci : Pernikahan Dini, Pola Asuh Ana

    HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANEMIA, STATUS GIZI IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ANEMIA DI DESA KENANGA KECAMATAN SINDANG KABUPATEN INDRAMAYU

    Get PDF
    Menurut WHO 4% kematian ibu di negara yang sedang berkembang berkaitan dengan anemia, dalam kehamilan kebanyakan anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya berinteraksi (Prawirohardjo, 2009). Berdasarkan Riskesdas 2013, terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%) (Riskesdas 2013). Angka prevalensi anemia ibu hamil di Jawa Barat adalah sebesar 51,7% (Dinkes Propinsi Jabar, 2012). Data Kabupaten Indramayu tahun 2012 menunjukan anemia pada ibu hamil sebanyak 14.8% cukup tinggi bila dibandingkan dengan Kabupaten Cirebon sebanyak 10,39%. Pada tahun 2016 jumlah kematian Ibu di Kabupaten Indramayu sebanyak 66 kasus. Penyebab kematian ibu tersebut masih didominasi oleh perdarahan, pre eklamsi dan infeksi. Memperhatikan fenomena tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai Hubungan antara Pengetahuan Ibu hamil tentang anemia dengan status gizi dan kejadian anemia di Desa Kenanga Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor Pengetahuan dan Gizi berpengaruh terhadap kejadian anemia terutama di Desa Kenanga. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan penelitian Cross Sectional, kemudian dianalisis dari univariat dan bivariatnya, sampel yang diambil adalah sejumlah 60 orang. Hasil analisis univariat pada penelitian ini menunjukkan bahwa ibu hamil yang anemia yang terjadi di Desa Kenanga adalah ibu hamil dengan umur 20-35 tahun, pendidikan yang rendah, tidak bekerja, preterm, primipara, berpengetahuan baik dan bergizi baik. Dari hasil perhitungan kejadian anemia yang terjadi hanya berhubungan dengan pengetahuannya. Dengan demikian perlu dicari faktor resiko lainnya yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil.Menurut WHO 4% kematian ibu di negara yang sedang berkembang berkaitan dengan anemia, dalam kehamilan kebanyakan anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya berinteraksi (Prawirohardjo, 2009). Berdasarkan Riskesdas 2013, terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%) (Riskesdas 2013). Angka prevalensi anemia ibu hamil di Jawa Barat adalah sebesar 51,7% (Dinkes Propinsi Jabar, 2012). Data Kabupaten Indramayu tahun 2012 menunjukan anemia pada ibu hamil sebanyak 14.8% cukup tinggi bila dibandingkan dengan Kabupaten Cirebon sebanyak 10,39%. Pada tahun 2016 jumlah kematian Ibu di Kabupaten Indramayu sebanyak 66 kasus. Penyebab kematian ibu tersebut masih didominasi oleh perdarahan, pre eklamsi dan infeksi. Memperhatikan fenomena tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai Hubungan antara Pengetahuan Ibu hamil tentang anemia dengan status gizi dan kejadian anemia di Desa Kenanga Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor Pengetahuan dan Gizi berpengaruh terhadap kejadian anemia terutama di Desa Kenanga. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan penelitian Cross Sectional, kemudian dianalisis dari univariat dan bivariatnya, sampel yang diambil adalah sejumlah 60 orang. Hasil analisis univariat pada penelitian ini menunjukkan bahwa ibu hamil yang anemia yang terjadi di Desa Kenanga adalah ibu hamil dengan umur 20-35 tahun, pendidikan yang rendah, tidak bekerja, preterm, primipara, berpengetahuan baik dan bergizi baik. Dari hasil perhitungan kejadian anemia yang terjadi hanya berhubungan dengan pengetahuannya. Dengan demikian perlu dicari faktor resiko lainnya yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil

    FAKTOR PENGETAHUAN YANG MEMPENGARUHI KETERATURAN IBU BALITA DALAM MENGUNJUNGI POSYANDU DI DESA CIPANGERAN KECAMATAN SAGULING KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2017

    Get PDF
    ABSTRAK Indikator D/S di wilayah kerja Puskesmas Saguling Desa Cipangeran pada tahun 2016 menunjukkan masih rendahnya kunjungan balita dalam kegiatan posyandu dengan rata-rata hanya memcapai 41,5%, sedangkan target standar palayanan kota jumlah D/S yaitu 85%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keteraturan ibu dalam mengunjungi Posyandu dari faktor pengetahuan di Desa Cipangeran Kecamatan Saguling Kabupaten Bandung Barat tahun 2017. Metode penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan adalah data primer. Populasi seluruh balita di wilayah kerja Puskesmas Saguling tahun 2016 sebanyak 424 ibu balita, besar sampel yang diambil 81 ibu balita, pengambilan sampel dengan menggunakan Sampel Random Sampling, pengumpulan data dengan hasil kuesioner berisi pertanyaan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan variabel yang diteliti. Hasil penelitian pengetahuan ibu balita didapatkan hampir setengah berada dikategori cukup yaitu 47 ibu balita (58%), namun masih ada ibu balita yang memiliki pengetahuan baik yaitu 18 ibu balita (22%), dan ibu balita yang memiliki pengetahuan kurang yaitu 16 ibu balita (20%). Kesimpulan dari penelitian didapatkan tingkat pengetahuan ibu balita yang tidak teratur dalam mengunjungi Posyandu di Desa Cipangeran Kecamatan Saguling Kabupaten Bandug Barat hampir setengah ibu balita berpengetahuan cukup. ABSTRACT The D / S indicator in the working area of ​​Saguling Public Health Center of Cipangeran Village in 2016 indicates that the low number of toddler visits in posyandu activities reaches an average of 41.5%, while the standard target for city / city is 85%. The purpose of this study is to determine the regularity of mothers in visiting Posyandu from knowledge factor in Cipangeran Village, Saguling District, West Bandung regency in 2017. This research method using analytical method with cross sectional approach. The data used is primary data.The population of all toddlers in the working area of Saguling Publich Health Center in 2016 were 424 mother, the sample size was 81 mother, using Random Sampling , data collection with questionnaires containing questions to obtain data related to the variables studied. The result of the research of the knowledge of the mother of the toddler is almost sufficient, namely 47 mothers (58%),but there are still mother who have good knowledge that is 18 mother of toddler (22%) and mother with less knowledge that is 16 mother of balita (20%). The conclusion of the research is the level of knowledge of irregular mother in visiting Posyandu in Cipangeran Village, Saguling, of West Bandung district, almost half of the toddler are knowledgeable enough

    PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT TB PARU KEPADA KONTAK SERUMAH TERHADAP DETEKSI DINI PENYAKIT TB PARU DI PUSKESMAS WILAYAH EKS KAWEDANAN INDRAMAYU KABUPATEN INDRAMAYU

    Get PDF
    Kesadaran anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru untuk deteksi dini rendah. Faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan dan persepsi, dan untuk meningkatkannya adalah penyuluhan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penyuluhan kepada kontak serumah terhadap deteksi dini penyakit TB paru. Dasar teori yang digunakan adalah health belief models. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen. Populasinya adalah seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru, dengan sampel total populasi. Analisis data menggunakan repeated anova dan Mc nemar. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan dan persepsi sebelum, sesudah dan setelah 1 bulan dilakukan penyuluhan (p &lt; 0,001 dan p = 0,004); tidak terdapat perbedaan perilaku deteksi dini penyakit TB paru sebelum dan setelah 1 bulan dilakukan penyuluhan (p = 0,508), dan anggota keluarga yang melakukan deteksi dini, didiagnosa tidak menderita penyakit TB paru. Simpulan, penyuluhan yang dilakukan secara kuantitas kurang hanya meningkatkan pengetahuan dan persepsi anggota keluarga tentang penyakit TB paru, dan belum dapat mendorong perilaku anggota keluarga untuk melakukan deteksi dini penyakit TB paruKesadaran anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru untuk deteksi dini rendah. Faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan dan persepsi, dan untuk meningkatkannya adalah penyuluhan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penyuluhan kepada kontak serumah terhadap deteksi dini penyakit TB paru. Dasar teori yang digunakan adalah health belief models. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen. Populasinya adalah seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru, dengan sampel total populasi. Analisis data menggunakan repeated anova dan Mc nemar. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan dan persepsi sebelum, sesudah dan setelah 1 bulan dilakukan penyuluhan (p &lt; 0,001 dan p = 0,004); tidak terdapat perbedaan perilaku deteksi dini penyakit TB paru sebelum dan setelah 1 bulan dilakukan penyuluhan (p = 0,508), dan anggota keluarga yang melakukan deteksi dini, didiagnosa tidak menderita penyakit TB paru. Simpulan, penyuluhan yang dilakukan secara kuantitas kurang hanya meningkatkan pengetahuan dan persepsi anggota keluarga tentang penyakit TB paru, dan belum dapat mendorong perilaku anggota keluarga untuk melakukan deteksi dini penyakit TB par

    EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM GIZI YANG BERKAITAN DENGAN KEJADIAN STUNTING (TUBUH PENDEK) DI KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2017: EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM GIZI YANG BERKAITAN DENGAN KEJADIAN STUNTING (TUBUH PENDEK) DI KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2017

    No full text
    Stunting (tubuh pendek) adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku WHO MGRS tahun 2005. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu pada tahun 2016 terdapat 11.173 jiwa kasus stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi proses pelaksanaan program gizi yang terkait dengan kejadian stunting (Tubuh Pendek)di Kabupaten Indramayu. Metode yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan melihat aspek Process yang meliputiPlanning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC). Hasil penelitian menunjukan bahwa pembuatan perencanaan didasarkan cakupan, pemantauan dan evaluasi lalu dibuatkan RKA dan DPA. Pengkordinasian dengan lintas sektor dan lintas program. Pelaksanaan penanganan stunting berupa kegiatan Bulan penimbangan balita, pemberian Vit.A, Fe, PMT, MP-ASI. Pengawasan diadakan pada saat rapat, dilakukan setiap triwulan, dan setahun sekali. Simpulan dalam penelitian ini dilihat dari pelaksanaan yang berupa aspek (POAC) masih kurang maksimal dan belum spesifik. Oleh sebab itu disarankan agar dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan program untuk mendapatkan hasil yang sesuai target dengan pemenuhan SDM, sarana dan membuat perencanaan yang lebih spresifikasi untuk stunting. Abstract Stunting (short body) is a toddler with nutritional status in accordance with standard WHO MGRS standard in 2005. Based on annual report of District Health Office Indramayu in 2016 there are 11,173 soul stunting case. This study aims to determine and evaluate the implementation of nutrition programs associated with short bodies in Indramayu District. The method used is a qualitative method by looking at aspects of the process consisting of Planning, Organizing, Actuation and Control (POAC). The results showed that the making of arrangement, space and evolution was then made RKA and DPA. Coordinate with cross-sector and cross-program. Implementation of stunting handling in the form of activity of balancing month of toddler, giving Vit.A, Fe, PMT, MP-ASI. Supervision is done at the meeting, done every quarter, and cycling once. Conclusions in the study as the impact of POAC is still less than the maximum and not specific. It can therefore be used to improve the quality of program implementation to get results that are in line with the fulfillment of human resources, and make better planning for stunting.Stunting (tubuh pendek) adalah balita dengan status gizi yang berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umurnya bila dibandingkan dengan standar baku WHO MGRS tahun 2005. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu pada tahun 2016 terdapat 11.173 jiwa kasus stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi proses pelaksanaan program gizi yang terkait dengan kejadian stunting (Tubuh Pendek)di Kabupaten Indramayu. Metode yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan melihat aspek Process yang meliputiPlanning, Organizing, Actuating dan Controlling (POAC). Hasil penelitian menunjukan bahwa pembuatan perencanaan didasarkan cakupan, pemantauan dan evaluasi lalu dibuatkan RKA dan DPA. Pengkordinasian dengan lintas sektor dan lintas program. Pelaksanaan penanganan stunting berupa kegiatan Bulan penimbangan balita, pemberian Vit.A, Fe, PMT, MP-ASI. Pengawasan diadakan pada saat rapat, dilakukan setiap triwulan, dan setahun sekali. Simpulan dalam penelitian ini dilihat dari pelaksanaan yang berupa aspek (POAC) masih kurang maksimal dan belum spesifik. Oleh sebab itu disarankan agar dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan program untuk mendapatkan hasil yang sesuai target dengan pemenuhan SDM, sarana dan membuat perencanaan yang lebih spresifikasi untuk stunting. Abstract Stunting (short body) is a toddler with nutritional status in accordance with standard WHO MGRS standard in 2005. Based on annual report of District Health Office Indramayu in 2016 there are 11,173 soul stunting case. This study aims to determine and evaluate the implementation of nutrition programs associated with short bodies in Indramayu District. The method used is a qualitative method by looking at aspects of the process consisting of Planning, Organizing, Actuation and Control (POAC). The results showed that the making of arrangement, space and evolution was then made RKA and DPA. Coordinate with cross-sector and cross-program. Implementation of stunting handling in the form of activity of balancing month of toddler, giving Vit.A, Fe, PMT, MP-ASI. Supervision is done at the meeting, done every quarter, and cycling once. Conclusions in the study as the impact of POAC is still less than the maximum and not specific. It can therefore be used to improve the quality of program implementation to get results that are in line with the fulfillment of human resources, and make better planning for stunting

    HUBUNGAN ANTARA FAKTOR PENYEBAB DENGAN KEKAMBUHAN PADA PENYALAHGUNA NARKOBA DI YAYASAN MAHA KASIH KUNINGAN

    Get PDF
    Penyalahgunaan Narkoba terjadi akibat penggunaan zat yang disalahgunakan pemakaiannya, sehingga menimbulkan efek ketergantungan. Penyalahguna Narkoba dapat direhabilitasi dan dilakukan upaya pemulihan. Penyalahguna Narkoba yang telah direhabilitasi maupun masa pemulihan memungkinkan kembali menggunakan Narkoba (kambuh). Yayasan Maha Kasih telah mampu mengubah perilaku negatif 509 pemakai Narkoba ke perilaku positif (hidup sehat tanpa Narkoba), namun hasilnya 55% clean dan 45% relapse. Penyebab kekambuhan dapat disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor individu, keluarga dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor penyebab dengan kekambuhan pada penyalahguna Narkoba di Yayasan Maha Kasih Kuningan. Metode: Penelitian termasuk jenis analitik, dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penyalahguna Narkoba yang berada di Yayasan Maha Kasih Kuningan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling yaitu sebanyak 61 orang. Data penelitian diambil melalui kuesioner. Data diolah dan dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman Test dengan standar signifikan 0,05. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukan bahwa sebanyak 54,1% individu penyalahguna Narkoba memiliki kepribadian yang melanggar, sebanyak 85,2% sikap keluarga terhadap penyalahguna Narkoba mendukung, dan sebanyak 78,7% masyarakat dapat menerima penyalahguna Narkoba berada di lingkungannya. Uji hipotesis menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif dalam derajat kuat (r = 0,777) antara faktor individu dengan terjadinya kekambuhan, terdapat hubungan yang positif dalam derajat kuat (r = 0,651) antara faktor keluarga dengan terjadinya kekambuhan, dan terdapat hubungan positif dalam derajat sedang (r = 0,533) antara faktor lingkungan dengan terjadinya kekambuhan pada penyalahguna Narkoba di Yayasan Maha Kasih Kuningan. Kesimpulan: Sebagian besar penyalahguna narkoba di Yayasan Maha Kasih Kuningan mengalami relapse dimana kepribadian individu merupakan faktor penyebab yang paling berpengaruh. Penyalahguna Narkoba diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan berusaha terus untuk hidup sehat tanpa Narkoba, serta dapat mencegah terjadinya kekambuhan, dengan mengalihkan perhatian pada kegiatan-kegiatan positif. Kata Kunci : Faktor Penyebab, Kekambuhan (relapse), Penyalahguna Narkob

    GAMBARAN FAKTOR RISIKO STROKE PADA PASIEN STROKE DI POLIKLINIK SARAF RSUD INDRAMAYU

    Get PDF
    Stroke is one of the main causes of death and neurological disability in Indonesia and is a medical emergency that must be handled promptly, precisely, and meticulously. This study aims to determine the description of stroke risk factors in stroke patients in polyclinic nerve of regional public hospital 2017. This type of research is quantitative with the research method used is descriptive method. Population in this study were all stroke patients who underwent treatment at polyclinic nerve of regional public hospital Indramayu and sampling using quota sampling so that got sample which amounted to 67 respondents. The result of research shows the highest percentage for age is as many as 35(52,2%) respondents aged 57 years, female 35 (52,2%) respondents, had family history of disease 56 (83,6%) respondents, all the respondent (100%) had a history of hypertension, 42 (62,7%) had a history of diabetes mellitus, had no a history of heart disease 66 (98,5%) respondents, and 35 (52,2%) respondents never smoked.Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama di Indonesia dan merupakan kegawatdaruratan medis yang harus ditangani secara cepat, tepat dan cermat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko stroke pada pasien stroke di Poliklinik Saraf RSUD Indramayu tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien stroke yang menjalani pengobatan di Poliklinik Saraf RSUD Indramayu dan pengambilan sampel dengan menggunakan quota sampling sehingga didapatkan sampel yang berjumlah 67 responden. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat.Hasil penelitian menunjukan persentase terbanyak untuk umur adalah sebanyak 35 (52,2%) responden berusia 57 tahun, berjenis kelamin perempuan 35 (52,2%) responden, memiliki riwayat penyakit keluarga 56 (83,6%) orang, seluruh responden memiliki riwayat hipertensi (100%), memiliki riwayat diabetes mellitus 42 (62,7%) responden, tidak memiliki riwayat penyakit jantung 66 (98,5%) responden, dan tidak pernah merokok 35 (52,2%) responden

    DISCHARGE PLANNING PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI GARUT

    Get PDF
    Tuberkulosis Paru merupakan penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan bagi individu. Penderita tuberkulosis beberapa harus dilakukan perawatan untuk menangani penyakitnya. Selama perawatan di rumah sakit pasien dengan tuberkulosis membutuhkan discharge planning sebagai bentuk pemberian informasi agar penyampaian informasi dapat meningkatkan status kesehatan dan pengetahuan pasien. Sehingga perlu diketahui gambaran pelaksanaan discharge planning pada pasien tuberculosis paru sebagai bahan evaluasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu desain kuantitatif dengan studi desain analisis. Pada penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran secara objektif pelaksanaan discharge planning di RSUD dr Slamet Garut, Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan discharge planning dilakukan dengan baik menurut pasien (66,67%) dan perawat (86,67%). Pendokumentasian discharge planning rata-rata cukup baik (53,33%) dan masih ada yang kurang baik (13,33%). Kesimpulan dalam penelitian menunjukan bahawa sebagian besar pelaksanaan discharge planning sebagian besar sangat baik dan cukup optimal untuk mempersiapkan kepulangan pasien tuberkulosis paru walaupun belum sepenuhnya setiap detail kebutuhan pasien berbeda-beda. Discharge planning memerlukan perencanaan yang matang untuk memastikan kesinambungan perawatan. Kata Kunci : Discharge Planning, Tuberkulosis Paru.Tuberkulosis Paru merupakan penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan bagi individu. Penderita tuberkulosis beberapa harus dilakukan perawatan untuk menangani penyakitnya. Selama perawatan di rumah sakit pasien dengan tuberkulosis membutuhkan discharge planning sebagai bentuk pemberian informasi agar penyampaian informasi dapat meningkatkan status kesehatan dan pengetahuan pasien. Sehingga perlu diketahui gambaran pelaksanaan discharge planning pada pasien tuberculosis paru sebagai bahan evaluasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu desain kuantitatif dengan studi desain analisis. Pada penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran secara objektif pelaksanaan discharge planning di RSUD dr Slamet Garut, Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan discharge planning dilakukan dengan baik menurut pasien (66,67%) dan perawat (86,67%). Pendokumentasian discharge planning rata-rata cukup baik (53,33%) dan masih ada yang kurang baik (13,33%). Kesimpulan dalam penelitian menunjukan bahawa sebagian besar pelaksanaan discharge planning sebagian besar sangat baik dan cukup optimal untuk mempersiapkan kepulangan pasien tuberkulosis paru walaupun belum sepenuhnya setiap detail kebutuhan pasien berbeda-beda. Discharge planning memerlukan perencanaan yang matang untuk memastikan kesinambungan perawatan. Kata Kunci : Discharge Planning, Tuberkulosis Paru

    DETERMINAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD INDRAMAYU KABUPATEN INDRAMAYU PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2016

    Get PDF
    ABSTRAK Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2012 menunjukan bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) berjumlah 355 per 1.000 keahiran hidup. (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2012).Berdasarkan data kasus jumlah kematian neonatal pada tahun 2014 berjumlah 257 kasus dengan BBLR 40,07 % kasus, asfiksia 23,73 % kasus, tetanus 0,77 % kasus, sepsis 5,83 % kasus, kelainan kongenital 11,67 % kasus, ikterus 1,55 % kasus dan lain-lain 16,34 kasus. Dan pada tahun 2015 dari bulan januari- Agustus 2015 jumlah kematian neonatal berjumlah 160 kasus dengan BBLR 42,5 % kasus, asfiksia 26,87 % kasus, sepsis 2,5 % kasus, kelainan kongenital 6,8 % kasus, ikterus 1,25% kasus, dan lain-lain 20 % kasus.Desain penelitian case control dengan perbandingan 1 : 2, populasi pada penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan bayi yang melahirkan di RSUD Indramayu. sampel penelitian adalah sebagian ibu yang melahirkan bayi berat lahir rendah periode Januari – Maret 2016 sebanyak 58 kasus dan kontrol 116. Pengolahan data menggunakan analisis univariat, uji chi-square dan multivariat (regresi logistik sederhana).Hasil penelitian yang dilakukan dengan melihat data rekam medic (data sekunder) pada 58 kasusdan 116 kontrol dengan metode acak sederhana, ditemukan bahwa factor dominan yang mempengaruhi kejadian BBLR di RSUD Indramayu adalah usia kehamilan dengan p value 0,000 dengan nilai OR 348,327 yang berarti bahawa usia kehamilan mempengaruhi kejadian BBLR sebanyak 348,3327 kali lebih beresiko setelah di control dengan variable lain

    DETERMINAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINDANG KECAMATAN SINDANG KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2016

    Get PDF
    ABSTRAK Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi disebabkan kandungan gizi yang terkandung dalam ASI tersebut sesuai dengan kebutuhan bayi yang diperlukan untuk masa pertumbuhannya. ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sampai umur 6 bulan tanpa tambahan cairan apapun kecuali obat-obatan dengan alasan medis.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuai determinan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja puskesmas Sindang Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu. Penelitian menggunakan study analitik dengan pencekatan cross sectional, melalui wawancara dari rumah kerumah menggunakan data kuesioner dari total populasi ibu 324 yang mempunyai bayi umur 7-12 bulan, dengan sampel 197 responden dengan pengambilan secara acak proporsional. Sedangkan analisa statistik yang digunakan yaitu analisa univariat, analisa bivariat dan analisa multivariat. Variabel yang diteliti antara lain : umur, pendidikan, pengetahuan, paritas, pekerjaan, dukungan suami, dukungan petugas kesehatan, dukungan keluarga, akses menuju fasilitas kesehatan dan pemberian ASI eksklusif. Hasil dari penelitian ini berdasarkan analisa statistik diperoleh variabel pengetahuan, pekerjaan dan dukungan suami ( p ≤ 0,05) terdapat hubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan variabel umur, pendidikan, paritas, dukungan tenaga kesehatan, dukungan keluarga dan akses menuju fasilitas kesehatan (p ˃ 0,05) tidak terdapat hubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Disimpulkan bahwa variabel paling dominan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan suami (OR = 14,121 : CI 95%) setelah dikontrol oleh variabel pengetahuan, pekerjaan. Diharapkan adanya upaya-upaya untuk mengubah mitos dan cara berpikir yang kurang baik tentang ASI dan menyusui kepada ibu hamil maupun menyusui agar pemberian ASI eksklusif dapat menjadi suatu budaya yang harus dilakukan oleh seorang ibu kepada bayinya Kata kunci: ASI, eksklusif, dukungan suami, pekerjaan, pengetahuan ABSTRACT Mother\u27s Milk ( ASI ) is the best food for babies due to the nutrients contained in the breast milk to baby\u27s needs necessary for future growth. Exclusive breastfeeding is breastfeeding until the age of 6 months without any additional liquids except medications with medis.Tujuan reason this research is to mengetahuai determinants of exclusive breastfeeding in the region of Sub-district health centers Sindang Sindang Indramayu Regency. The study uses an analytical study with cross sectional, through interviews from home home using questionnaire data from a total population of 324 mothers who had infants aged 7-12 months, with a sample of 197 respondents to a random proportion. While the statistical analysis used is univariate, bivariate analysis and multivariate analysis. Variables examined include: age, education , knowledge, parity, job, husband support, support health care workers, family support, access to health facilities and exclusive breastfeeding. Results from this study is based on statistical analysis of the variables acquired knowledge, work and husband support ( p ≤ 0.05 ) correlation with exclusive breastfeeding. As for age, education, parity, support health workers, family support and access to health facilities ( p ˃ 0.05 ) there was no correlation with exclusive breastfeeding. It was concluded that the most dominant variables of exclusive breastfeeding is the support of her husband ( OR = 14.121 : CI 95 % ) after being controlled by the variable knowledge, work. It is hoped their efforts to change the myths and ways of thinking that are less good about breastfeeding and breastfeeding to pregnant and lactating mothers so that exclusive breastfeeding can be a culture that must be done by a mother to her baby Keywords: ASI, breastfeeding, exclusive, supporthusband, job, knowledg

    56

    full texts

    212

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Indra Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇