Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
212 research outputs found
Sort by
RELATIONSHIP OF WORKING SHIFT WITH WORK FATIGUE IN PRODUCTION PART WORKERS IN PT X CIREBON CITY
work shift system is a way for companies to achieve production targets in meeting the increasingly rapid market demand, almost all industries implement a continuous production system so that companies impose work shifts, but with the implementation of work shifts it creates a work health problem that can affect the body\u27s psychology, including fatigue. The purpose of this study was to determine the relationship between work shift and work fatigue in production workers. This research method using analytic observational with cross sectional study approach. The total population in this study were 76 workers in the production department at PT X Cirebon City, in taking work fatigue data using the Reaction Timer tool. Data analysis in this study used t-test and mann-whitney test. The results of this study for fatigue in the morning work shift there were 14 (38.9%) respondents experiencing mild fatigue while on the night shift there were 21 (58.3%) respondents experiencing mild fatigue and 5 (13.9%) moderate fatigue. From the bivariate analysis, it was found that there was a relationship between work shift and fatigue p = 0.001. Suggestions for companies to make SOP related to the prevention of work fatigue, 24 hours off after the shift.Sistem shift kerja merupakan sebuah cara perusahaan untuk mencapai target produksi dalam memenuhi permintaan pasar yang semakin pesat, hampir semua industry menerapkan sistem produksi yang kontinyu sehingga perusahan memberlakukan shift kerja, namun dengan diberlakukanya shift kerja menimbulkan sebuah permasalahan kesehatan kerja yang dapat mempengaruhi psikologis tubuh diantaranya adalah kelelahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan shift kerja dengan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi di PT X Kota Cirebon. Metode penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Total populasi dalam penelitian ini sebanyak 76 pekerja di bagian produksi di PT X Kota Cirebon, dalam pengambilan data kelelahan kerja menggunakan alat Reaction Timer. Analisis data dalam dalam penelitian ini menggunakan uji t-tes dan mann-whitney test. Hasil dari penelitian ini untuk kelelahan pada shift kerja pagi ada 14 (38.9%) responden mengalami kelelahan ringan sedangkan pada shift malam ada 21 (58.3%) responden mengalami kelelahan ringan dan 5 (13.9%) kelelahan sedang. Dari analisis bivariate didapatkan ada hubungan shift kerja dengan kelelahan p =0.001. Saran pada perusahaan membuat SOP yang berkaitan dengan pencegahan kelelahan kerja, libur selama 24 jam setelah shift, Pemutaran musik berjenis industrial musik pada pertengahan jam kerja khususnya shift malam, Perubahan metode kerja menjadi lebih efisien dan efektif
ANALISIS DESKRIPTIF MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT PESISIR DESA KARANGSONG - INDRAMAYU
Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang rawan kemiskinan, dikarenakan pekerjaannya
sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan musim. Upaya Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat nelayan dibidang kesehatan adalah meningkatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan
jaringannya yang diarahkan pada upaya-upaya kesehatan promotif-preventif dengan focal point
keselamatan kerja dan disertai berbagai upaya lain. Untuk menilai permasalahan kesehatan, maka
dilakukanlah analisis deskriptif masalah kesehatan masyarakat pesisir desa Karangsong, guna melihat
gambaran beberapa masalah kesehatan yang ada. Penelitian merupakan penelitian deskriptif, dengan
sampel 384 kepala keluarga dengan teknik pengambilan secara proportional simple random sampling.
Hasil penelitian menujukkan bahwa masalah kesehatan masyarakat pesisir desa Karangsong, terutama
masih pada masalah kesehatan lingkungan, perilaku dan karakteristik individu. Masalah pelayanan
kesehatan relative lebih baik dan aksesibilitas mudah. Untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat
pesisir desa Karangsong, maka pemerintah daerah agar lebih meningkatkan pembangunan kesehatan
lingkungan. Bagi puskesmas Margadadi perlu meningkatkan upaya promosi. Sedangkan untuk peneliti,
perlu dilanjutkan studi analisis faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat dengan beberapa
kasus penyakit yang dominan terjadi di wilayah pesisir Karangsong.
Kata Kunci: deskriptif, pesisir, kesehatan masyarakat
Fishermen are the vulnerable group to poverty, because his working is strongly influenced by
weather conditions and seasons. The Government\u27s efforts to improve the welfare of fishing communities
in the health sector is improve health services in health centers and their networks are directed at efforts
promotive-preventive safety with work safety focal points and complemented other efforts. To assess
health problems, conducted a descriptive analysis of health problem of coastal communities in
Karangsong village, in order to see the picture of some existing health problems. The research is a
descriptive study, with a sample of 384 heads of households with retrieval technique by proportional
simple random sampling. The results showed that the public health problem of coastal Kara ngsong
village, mainly still on environmental health problem, behavior and individual characteristics. Problem
of health services is relatively better and easy accessibility. For health status improvement of coastal
communities of Karangsong village, the local governments to further enhance of environmental health
development. For public health centers Margadadi need to increase health promotional efforts. For the
researcher, is necessary to continu the study for analyzes the factors that affect the degree of public health
with a few cases of disease that predominantly occurs in coastal areas Karangsong.
Keywords: descriptive, coastal, public healt
PENGARUH PERAN KELUARGA, PETUGAS KESEHATAN DAN MEDIA SEBAGAI SUMBER INFORMASI TERHADAP PENGETAHUAN LARANGAN MEROKOK DALAM RUMAH DI DESA UJUNGGEBANG KECAMATAN SUKRA TAHUN 2019
Smoking behavior in the Ujung Gebang Village community home is more than 50%, of the 200 households monitored by 74.5% smoking inside the house. The purpose of this study was to determine the effect of the role of family, health workers and the media as a source of information on knowledge of smoking bans in homes in Ujunggebang Village. The research uses survey method with Cross Sectional approach. The population of the study was 1321 heads of households, the determination of the sample was using the Slovin formula of 93 heads of households, the sampling technique used accidental sampling using a questionnaire, statistical tests using the Chi-Square Test. The results showed there was an influence between the role of family on knowledge with a value of p = 0.007, there was no effect between the role of health workers on knowledge with a value of p = 0.105, and there was no influence between the role of the media on knowledge with a value of p = 0.098. family role. So family members must be educated about the dangers of smoking and prohibit smoking in the housePerilaku merokok di dalam rumah masyarakat Desa Ujung Gebang lebih dari 50%, dari 200 Kepala Keluarga yang dipantau sebesar 74,5% merokok di dalam rumah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh peran keluarga, petugas kesehatan dan media sebagai sumber informasi terhadap pengetahuan larangan merokok dalam rumah di Desa Ujunggebang. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian sebanyak 1321 kepala keluarga, penentuan sampel menggunakan rumus slovin yaitu sebanyak 93 kepala keluarga, teknik pengambilan sampel menggunakan Acidental Sampling menggunakan kuesioner, uji statistik menggunakan Uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh antara peran keluarga terhadap pengetahuan dengan nilai p=0,007, tidak ada pengaruh antara peran petugas kesehatan terhadap pengetahuan dengan nilai p=0,105, dan tidak ada pengaruh antara peran media terhadap pengetahuan dengan nilai p=0,098.Kesimpulannya yang berpengaruh hanya peran keluarga. Sehingga anggota keluarga harus diberikan edukasi tentang bahayanya merokok dan melarang merokok di dalam ruma
THE EFFECTIVENESS OF COLD COMPRESSES AND STORY DISTRACTION TECHNIQUES TOWARDS INFUSED INSERTION PAIN
Installation of infusion is an action that is quite often done in the hospitalespecially at emergency room. The proceeding of infusion can cause pain that is felt by the client, so it requires non pharmacological therapy among them are cold compress therapy and storytelling distraction technique. The purpose of the research is to find out the effectiveness of cold compress and distractions storytelling about infusion insertion pain. The reseach design used is pre-experimental design with post test only design approach, sampling using purposive sampling technique with sample size of 25 respondents in the cold compress group and 25 respondents at distraction storytelling group. The instrument for collecting data uses an observation sheet. The results of this research indicate the average pain in the group of respondents who received cold compress treatment during infusion 1,20, whereas in the group that gets distraction tells the average value is 2,56. The statistical test results are used Mann Whitney’s test obtained value P (0,000) < ά (0,05) that is, there are significant differenees between cold compress pain storytelling to infusion insertion pain. Therefore it can be concluded that cold compress are more effective at reducing infusion insertion pain than storytelling distraction technique.Pemasangan infus merupakan tindakan yang cukup sering dilakukan di Rumah Sakit terutama di Unit Gawat Darurat. Tindakan Pemasangan infus dapat menimbulkan nyeri yang dirasakan oleh klien, sehingga membutuhkan terapi non farmakologi diantaranya terapi kompres dingin dan teknik distraksi bercerita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas kompres dingin dan distraksi bercerita terhadap nyeri insersi infus. Desain penelitian yang digunakan adalah Pre eksperemental design dengan pendekatan post test only design, pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan besar sampel sebesar 25 responden pada kelompok kompres dingin dan 25 responden pada kelompok distraksi bercerita. Intrumen pengambilan data menggunakan lembar observasi. Hasil Penelitian ini menunjukkan rata-rata nyeri pada kelompok responden yang mendapatkan perlakuan kompres dingin saat pemasangan infus 1,20, sedangkan pada kelompok yang mendapatkan distraksi bercerita nilai rata-ratanya 2,56. Hasil uji statistik menggunakan uji Mann Whitney didapatkan nilai P value (0,000) < α (0,05) yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara nyeri kompres dingin dan distraksi bercerita terhadap nyeri insersi infus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kompres dingin lebih efektif menurunkan nyeri insersi infus dibandingkan teknik distraksi bercerita
PENGARUH PEMBERIAN INHALASI LEMON TERHADAP PENGURANGAN MUAL MUNTAH PADA IBU HAMIL TRIMESTER I DI PMB LESTARI CILEUNGSI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019
Management of nausea and vomiting in pregnancy consists of non-pharmacological pharmacology, and complications. Non-pharmacological therapy is a type of complementary nursing therapy that can be used as an intervention to treat nausea including lemon aromatherapy. The purpose of this study is to prove the effect of lemon aromatherapy inhalation on the reduction of nausea and vomiting in first trimester pregnant women in PMB Lestari in 2019. This quantitative study uses an approach pre experimental one group pre test and post test. The study population was the total number of trimester I pregnant women who experienced nausea and vomiting by 22 people. The sampling technique of this research was purposive sampling. Statistical tests using the Wilcoxon Test. The results of the analysis showed that there was no increase in nausea and vomiting (0b), and persistent nausea and vomiting did not exist (0c). The conclusion of the study is a decrease and there is an effect after inhalation of lemon aromatherapy on nausea and vomiting in first trimester pregnant women. Suggestions in the study are expected that health workers can provide lemon aromatherapy inhalation as a complementary care for first trimester pregnant women who experience nausea and vomiting.
Penatalaksanaan mual dan muntah pada kehamilan terdiri atas farmakologi non farmakologi, dan komplemeter. Terapi non farmakologi merupakan jenis terapi keperawatan komplementer yang dapat digunakan sebagai intervensi untuk mengatasi mual diantaranya aromaterapi lemon.Tujuan penelitian membuktikan pengaruh pemberian inhalasi aromaterapi lemon terhadap pengurangan mual dan muntah pada ibu hamil trimester I di PMB Lestari tahun 2019. Penelitian ini jenis kuantitatif menggunakan pendekatan pre eksperimental one grup pre test and post test. Populasi penelitian adalah jumlah keseluruhan ibu hamil trimester I yang mengalami mual muntah 22 orang. Teknik sampling penelitian ini purposive sampling. Uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon.Hasil Analisis menunjukkan yang mengalami kenaikan mual muntah tidak ada (0b), serta yang menetap mual muntah tidak ada (0c).Hasil nilai signifikansi p=0,000 berarti ada pengaruhnya. Simpulan penelitian adalah terjadi penurunan dan terdapat pengaruh setelah pemberian inhalasi aromaterapi lemon terhadap mual muntah pada ibu hamil trimester I. Saran pada penelitian diharapkan agar petugas kesehatan dapat memberikan inhalasi aromaterapi lemon sebagai asuhan komplementer pada ibu hamil trimester I yang mengalami mual muntah .
 
FAKTOR RISIKO KECELAKAAN KERJA NELAYAN
In carrying out fishing activities, fishermen often face the risk of work accidents. Two factors cause accidents, which are unsafe actions and unsafe conditions. The work activities of Pantura fishermen did not escape the risk of workplace accidents. From 2013-June 2014 in the port of Karangsong Indramayu recorded 29 cases of accidents with 39 victims lost/died. Research is needed to analyze risk factors for the work accident of Pantura fishermen. The study population was Pantura fishermen, with 116 cases and control samples. The dependent variable was the accident event, the independent variable consisted of action and condition . Design a case-control study with a questionnaire as a data collection tool. Analysis with multiple linear regression statistical tests. The results of the study found that there was a significant relationship (α=5%) between unsafety action with a work accident (p=0,000) with an odds ratio of 8.25. Some risk factors for unsafety action after calculating the effect together are sub-variables: using a damaged safety device with an odds ratio of 6.577, and joking in the workplace with an odds ratio of 6.33. The research found that joking in the workplace is 6 times the risk for accidents compared to non-jokes in the workplace.Dalam menjalankan kegiatan melaut, nelayan kerapkali berhadapan dengan risiko kecelakaan kerja. Secara umum, dua faktor penyebab kecelakaan yaitu tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman. Aktifitas kerja nelayan Pantura Indramayu, tidak luput dari risiko kecelakaan kerja. Dari tahun 2013 sampai Juni 2014 di pelabuhan Karangsong Indramayu tercatat 29 kasus kecelakaan dengan korban 39 hilang/meninggal dunia. Studi dilakukan guna menganalisis faktor risiko terjadinya kecelakaan kerja nelayan Pantura. Populasi penelitian adalah nelayan Pantura, dengan jumlah sampel kasus dan control sebanyak 116. Variabel terikat adalah kejadian kecelakaan, varibel bebas terdiri dari action dan condition. Desain studi kasus kontrol dengan alat pengumpul data kuesioner. Analisis dengan uji statistic regresi linier ganda. Hasil studi diperoleh terdapat hubungan yang bermakna (α=5%) antara unsafety action dengan kecelakaan kerja (p=0,000) dengan odds ratio 8,25. Beberapa factor risiko unsafety action setelah menghitung pengarunya secara bersama-sama adalah sub variable: menggunakan alat keselamatan yang rusak dengan odds ratio 6,577, dan bergurau ditempat kerja dengan odds ratio 6,331. Hal menarik dari penelitian didapat bahwa, bergurau ditempat kerja berisiko 6 kali untuk terjadinya kecelakaan dibandingkan yang tidak bergurau ditempat kerja
TINGKAT STRES PADA MAHASISWA KEPERAWATAN YANG MENYUSUN SKRIPSI
ABSTRACT
Students are vulnerable to stress when composing a thesis. The stress on students who compose a thesis if it is not immediately addressed will have an impact on the obstruction of the preparation of the thesis, the decline in academic value, and the graduation not on time. The purpose of this study was to determine the stress level of student who compose thesis. This study used quantitative design with a descriptive approach. Sampling technique used total population counted 63 students. The results showed that 28 respondents (44.4%) experienced severe stress, 25 respondents (39.4%) experienced moderate stress, and 10 respondents (15.9%) experienced mild stress. The conclusions in this study indicate that as many as 44.4% of students composing a thesis experience severe stress. This research is expected to become information for educational institutions in an effort to prevent and carry out handling in dealing with student stress so as to prevent students from passing on time.
Keywords: Nursing Students, Thesis, Stress LevelABSTRAK
Mahasiswa rentan mengalami stres ketika menyusun skripsi. Stres pada mahasiswa yang menyusun skripsi jika tidak segera ditangani akan berdampak pada terhambatnya penyusunan skripsi, menurunnya nilai akademik, dan lulus tidak tepat waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat stress mahasiswa yang menyusun skripsi. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 63 mahasiswa dengan menggunakan teknik teknik total populasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 28 responden (44.4%) mengalami stress berat, 25 responden (39,4%) mengalami stress sedang, dan 10 responden (15,9%) mengalami stress ringan. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 44,4% mahasiswa yang menyusun skripsi mengalami stres berat. Penelitian ini diharapkan menjadi informasi untuk institusi pendidikan dalam upaya melakukan pencegahan dan melaksanakan penangananan dalam mengatasi stres mahasiswa sehingga mencegah mahasiswa lulus tidak tepat waktu.
Kata Kunci: Mahasiswa Keperawatan, Skripsi, Tingkat Stres.
 
PENGARUH FUNGSI PENGARAHAN KETUA TIM TERHADAP KINERJA PERAWAT DI KABUPATEN INDRAMAYU
Kinerja perawat akan mempengaruhi lama hari rawat pasien, tingkat kepuasan pasien, juga citra rumah sakit. Pengelolaan pelayanan keperawatan dapat dioptimalkan salah satunya melalui fungsi pengarahan dari ketua tim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungsi pengarahan ketua tim terhadap kinerja perawat di salah satu RS di Kabupaten Indramayu.Penelitian ini menggunakan metode korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di instalasi rawat inap salah satu RS di Kabupaten Indramayu. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 70 perawat. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner untuk variabel pengarahan dan lembar observasi untuk variabel kinerja. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square.Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi pengarahan ketua tim sebanyak 52,9 % masih dikategorikan kurang baik dan kinerja perawat sebanyak 57,1 % kurang baik.Kesimpulan: Terdapat pengaruh fungsi pengarahan ketua tim terhadap kinerjaperawat (P value 0,000).Saran: diharapkan ketua tim dapat meningkatkan pengarahan terhadap perawat.Kinerja perawat akan mempengaruhi lama hari rawat pasien, tingkat kepuasan pasien, juga citra rumah sakit. Pengelolaan pelayanan keperawatan dapat dioptimalkan salah satunya melalui fungsi pengarahan dari ketua tim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungsi pengarahan ketua tim terhadap kinerja perawat di salah satu RS di Kabupaten Indramayu.Penelitian ini menggunakan metode korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di instalasi rawat inap salah satu RS di Kabupaten Indramayu. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 70 perawat. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner untuk variabel pengarahan dan lembar observasi untuk variabel kinerja. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square.Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi pengarahan ketua tim sebanyak 52,9 % masih dikategorikan kurang baik dan kinerja perawat sebanyak 57,1 % kurang baik.Kesimpulan: Terdapat pengaruh fungsi pengarahan ketua tim terhadap kinerjaperawat (P value 0,000).Saran: diharapkan ketua tim dapat meningkatkan pengarahan terhadap perawat
PENGARUH TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)
Kecemasan merupakan suatu masalah yang sering dialami oleh pasien Congestive Heart Failure (CHF). Masalah ini dikaitkan dengan adanya tekanan psikologis dan masalah fisik yang dihadapi oleh pasien Congestive Heart Failure (CHF) yang akan berdampak pada penurunan Health-Related Quality of Live (HRQoL). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan pada pasien Congestive Heart Failure (CHF). Desain yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan melibatkan 40 orang responden yang dipilih dengan menggunakan teknik consecutive sampling yang dibagi menjadi dua kelompok. Hasil uji bivariat dengan menggunakan uji parametrik yakni independent t test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penurunan kecemasan yang bermakna antara kedua kelompok (p value =0,0001). Disimpulkan bahwa terapi SEFT berpengaruh terhadap penurunan kecemasan pada pasien Congestive Heart Failure (CHF). Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan untuk diterapkan sebagai upaya mengatasi kecemasan pada pasien Congestive Heart Failure (CHF).Kecemasan merupakan suatu masalah yang sering dialami oleh pasien Congestive Heart Failure (CHF). Masalah ini dikaitkan dengan adanya tekanan psikologis dan masalah fisik yang dihadapi oleh pasien Congestive Heart Failure (CHF) yang akan berdampak pada penurunan Health-Related Quality of Live (HRQoL). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian terapi SEFT terhadap tingkat kecemasan pada pasien Congestive Heart Failure (CHF). Desain yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan melibatkan 40 orang responden yang dipilih dengan menggunakan teknik consecutive sampling yang dibagi menjadi dua kelompok. Hasil uji bivariat dengan menggunakan uji parametrik yakni independent t test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penurunan kecemasan yang bermakna antara kedua kelompok (p value =0,0001). Disimpulkan bahwa terapi SEFT berpengaruh terhadap penurunan kecemasan pada pasien Congestive Heart Failure (CHF). Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan untuk diterapkan sebagai upaya mengatasi kecemasan pada pasien Congestive Heart Failure (CHF)
KARAKTERISTIK IBU YANG MELAHIRKAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI PUSKESMAS WILAYAH PANTURA KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2017
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara karena dianggap menjadi salah satu faktor penyebab kematian bayi. BBLR juga dapat berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang karena dapat memperlambat pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga berpengaruh terhadap penurunan kecerdasan. Masalah BBLR di Indramayu masih menjadi sorotan yang serius, dimana kejadian BBLR sangat tinggi, salah satu faktor penyebabnya yaitu faktor dari ibu. Tujuan Penelitian ini adalah Untuk mengetahui Karakteristik ibu yang melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Jenis penelitian adalah Deskriptif, yaitu menggambarkan karakteristik ibu yang melahirkan BBLR di Puskesmas wilayah Pantura Kabupaten Indramayu tahun 2017. Sampel dalam penelitian ini adalah total sampel yaitu seluruh rekam medik dari ibu yang melahirkan BBLR di Puskesmas wilayah Pantura Kabupaten Indramayu sebanyak 43 kasus. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang didapat dari Puskesmas di wilayah Pantura Kabupaten Indramayu tahun 2017 yaitu Puskesmas Kandanghaur, Puskesmas Sukra, dan Puskesmas Kertawinangun.
Hasil Penelitian ini didapatkan bahwa karakteristik ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR di Puskesmas Wilayah Pantura Kabupaten Indramayu, adalah sebagian besar dari seluruh responden berumur 20-35 tahun (65,1%), sebagian besar tingkat pendidikan SD (44,2%). sebagian besar jumlah kelahiran (paritas) adalah multigravida (55,8%), sebagian besar usia kehamilannya adalah preterm (65,1%), sebagian besar penyebabnya adalah tidak diketahui penyebabnya (55,8%).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpilkan bahwa melahirkan bayi dengan BBLR di Puskesmas Wilayah Pantura Kabupaten Indramayu, adalah berumur 20-35 tahun, memiliki tingkat pendidikan SD, status paritas multigravida, dengan usia kehamilan preterm, dan tidak diketahui penyebabnya.Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara karena dianggap menjadi salah satu faktor penyebab kematian bayi. BBLR juga dapat berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang karena dapat memperlambat pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga berpengaruh terhadap penurunan kecerdasan. Masalah BBLR di Indramayu masih menjadi sorotan yang serius, dimana kejadian BBLR sangat tinggi, salah satu faktor penyebabnya yaitu faktor dari ibu. Tujuan Penelitian ini adalah Untuk mengetahui Karakteristik ibu yang melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Jenis penelitian adalah Deskriptif, yaitu menggambarkan karakteristik ibu yang melahirkan BBLR di Puskesmas wilayah Pantura Kabupaten Indramayu tahun 2017. Sampel dalam penelitian ini adalah total sampel yaitu seluruh rekam medik dari ibu yang melahirkan BBLR di Puskesmas wilayah Pantura Kabupaten Indramayu sebanyak 43 kasus. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang didapat dari Puskesmas di wilayah Pantura Kabupaten Indramayu tahun 2017 yaitu Puskesmas Kandanghaur, Puskesmas Sukra, dan Puskesmas Kertawinangun.
Hasil Penelitian ini didapatkan bahwa karakteristik ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR di Puskesmas Wilayah Pantura Kabupaten Indramayu, adalah sebagian besar dari seluruh responden berumur 20-35 tahun (65,1%), sebagian besar tingkat pendidikan SD (44,2%). sebagian besar jumlah kelahiran (paritas) adalah multigravida (55,8%), sebagian besar usia kehamilannya adalah preterm (65,1%), sebagian besar penyebabnya adalah tidak diketahui penyebabnya (55,8%).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpilkan bahwa melahirkan bayi dengan BBLR di Puskesmas Wilayah Pantura Kabupaten Indramayu, adalah berumur 20-35 tahun, memiliki tingkat pendidikan SD, status paritas multigravida, dengan usia kehamilan preterm, dan tidak diketahui penyebabnya