Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
212 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS HYPNOBREASTFEEDING TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSLUSIF PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0 – 6 BULAN DI DESA BERONDONG KECAMATAN PASEKAN KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2017
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi di 6 bulan pertama usianya. United Nation Childrens Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) mengeluarkan rekomendasi tentang pemberian ASI saja (bayi hanya diberikan ASI tanpa cairan atau makanan lain, kecuali suplemen vitamin, mineral dan atau obat-obatan untuk keperluan medis) sampai bayi berusia 6 bulan. Seperti halnya proses persalinan, proses menyusui juga adalah proses yang alami. Walaupun demikian para ibu harus tetap mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya secara menyeluruh (body,mind, and soul) untuk dapat menyusui bayinya dengan nyaman. Teknik Hypnobreastfeeding telah disarankan sebagai salah satu cara untuk membantu mengatasi hambatan tersebut dan memberikan kenyamanan sehingga proses menyusui dapat berjalan dengan lancar.
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui efektifitas Hypnobreastfeeding terhadap pemberian ASI Ekslusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 0 – 6 bulan di Desa Berondong Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu.
Penelitian ini adalah jenis penelitian Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yaitu sebanyak 25 orang. Analisis data menggunakan tabulasi silang untuk mengetahui hubungan variabel yang diuji menggunakan Koefisiensi Kontingensi. Hasil penelitian menunjukan p value <0,05 sehingga kesimpulannya adalah Hypnobreastfeeding efektif terhadap pemberian ASI Ekslusif.Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi di 6 bulan pertama usianya. United Nation Childrens Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) mengeluarkan rekomendasi tentang pemberian ASI saja (bayi hanya diberikan ASI tanpa cairan atau makanan lain, kecuali suplemen vitamin, mineral dan atau obat-obatan untuk keperluan medis) sampai bayi berusia 6 bulan. Seperti halnya proses persalinan, proses menyusui juga adalah proses yang alami. Walaupun demikian para ibu harus tetap mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya secara menyeluruh (body,mind, and soul) untuk dapat menyusui bayinya dengan nyaman. Teknik Hypnobreastfeeding telah disarankan sebagai salah satu cara untuk membantu mengatasi hambatan tersebut dan memberikan kenyamanan sehingga proses menyusui dapat berjalan dengan lancar.
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui efektifitas Hypnobreastfeeding terhadap pemberian ASI Ekslusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 0 – 6 bulan di Desa Berondong Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu.
Penelitian ini adalah jenis penelitian Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yaitu sebanyak 25 orang. Analisis data menggunakan tabulasi silang untuk mengetahui hubungan variabel yang diuji menggunakan Koefisiensi Kontingensi. Hasil penelitian menunjukan p value <0,05 sehingga kesimpulannya adalah Hypnobreastfeeding efektif terhadap pemberian ASI Ekslusif
PERBANDINGAN KUALITAS KOMPRESI JANTUNG LUAR DENGAN TEKNIK KOMPRESI BERTUMPU DAN TIDAK BERTUMPU (MANNEQUIN STUDY)
Keberhasilan Cardio Pulmonary Resuscitation(CPR) dipengaruhi oleh kecepatandalam penanganan dan kualitas kompresi. Kualitas kompresi jantung luar dipengaruhi olehbeberapa faktor, salah satunya adalah teknik kompresi jantung luar. Tujuan penelitian iniadalah mengidentifikasi perbandingan kualitas kompresi jantung luar dengan teknik bertumpudan tidak bertumpu pada dada.Metode penelitian ini menggunakanQuasy Experiment denganCross Over Designmenggunakan simulator resusitasi yang melibatkan 88 responden mahasiswa Program ProfesiNers. Responden dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis bivariatmenggunakanDependent T-TestdanWilcoxon.Hasil Uji Bivariat menggunakan uji parametrik Dependent T-Test dan Wilcoxonmenunjukkan kualitas kompresi jantung luar dengan teknik tidak bertumpu pada dada lebihbaik dibandingkan teknik bertumpu pada dada denganp-value< 0.05 (p-valuekeberhasilankompresi = 0.000,p-valuerekoil dada = 0.000,p-value tekanan kedalaman = 0.038,p-valuekedalaman = 0.002,p-valuekecepatan = 0. 000)Kesimpulan penelitian ini adalah kualitas kompresi jantung luar dengan teknik tidak bertumpu lebih baik dibandingkan dengan teknik bertumpu yang dilakukan pada simulatorresusitasi. Peneliti merekomendasikan teknik tidak bertumpu pada dada dengan cara mengangkat tumit tangan selama melakukan kompresi jantung luar untuk meningkatkan kualitas kompresi.
Kata Kunci: CPR, Kualitas Kompresi Jantung Luar, Teknik bertumpu pada dada, Teknik tidak bertumpu pada dada,Sudden Cardiac Arrest. The success of Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR) is influenced by speed in handling and quality of chest compression. The Quality Of Chest Compression is influenced by several factors, one of them is chest compression technique. The purpose was to identify the comparison of quality chest compression using leaning and not leaning technique.
This research method uses Quasy Experiment with resuscitation simulator based Cross Over Design which involves 88 Ners Professional Program Student respondents. Respondents were selected by using simple random sampling technique. Bivariate data analysis techniques using Dependent T-Test and Wilcoxon.
Bivariate test result using parametric test Dependent T-Test and Wilcoxon showed that quality of chest compression using not leaning technique is better than leaning technique with p-value < 0.05 ((P-value compression success = 0.000, p-value chest recoil = 0.000, p-value depth pressure = 0.038, p-value depth = 0.002, p-value speed = 0.000)
The conclusion is quality of chest compression using not leaning technique is better than leaning technique performed on resuscitation simulators. Researchers recommend that not leaning technique by lifting the heel on the hand during chest compression to improve quality of chest compression.
Keywords: CPR, Quality Chest Compression, Leaning Technique, Not Leaning Technique, Sudden Cardiac Arrest
DESCRIPTION OF BABY BLUES SYMPTOMSIN POSTPARTUM MOTHER BASED ON CHARACTERISTICS IN dr. SLAMET GARUT HOSPITAL IN 2018
The phenomenon of the murder case carried out by a mother, 27 years old for her child, which is 4 months old on October 23, 2017 in Karangpawitan Garut, The research design is descriptive. Univariate data analysis. The population postpartum mothers who gave birth at Dr. Slamet Garut in June 2018 as many as 68 people. The sampling was purposive sampling.samples made by respondents was 41 people. The results showed that mothers who experienced baby blues symptoms based on the age of <20 years 53.8%, primiparous parity as 61.5%, the types of labor with the action 69.2%,the working mothers 92.3%, The baby blues were seen from the age of <20 years because not ready mentally, primipara parity because did not have experience, labored with action because felt unable to give birth to a normal baby and working mothers who thought too much about the burden at home and on workplace. Conclusion that mothers with age <20 years, primiparous parity, childbirth with action and mothers who work at high risk experience baby blues. Suggestions for health workers to be able to provide health counseling regarding maternal and infant care at home and mothers can discuss with friends or health workers.Fenomena yang terjadi adanya kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ibu, berusia 27 tahun pada anaknya yaitu usia 4 bulan tanggal 23 Oktober 2017 di Karangpawitan Garut Jawa Barat,ibu berusia 28 tahun di Cengkareng Jakarta Barat setahun yang lalu,Dua tahun sebelumnya, seorang ibu post partum berusia 38 tahun di Padalarang Kabupaten Bandung diindikasikan terjadi karena baby blues. Rancangan penelitian adalah deskriptif. Analisa data secara univariat. Populasi pada adalah ibu nifas yang melahirkan di Rumah Sakit Dr. Slamet Garut pada bulan Juni 2018 yaitu 68 orang.pengambilan sampel adalah purposive sampling, jumlah sampel sebanyak 41 orang. Hasil penelitian didaptkan bahwa ibu yang mengalami gejala baby blues lebih dari setengahnya umur <20 tahun sebanyak 53,8%, lebih dari setengahnya paritas primipara sebanyak 61,5%, lebih dari setengahnya jenis persalinan dengan tindakan yaitu sebanyak 69,2%, sebagian besar ibu yang bekerja yaitu sebanyak 92,3%. Kejadian baby blues dilihat dari umur <20 tahun ibu belum siap mental, paritas primipara ibu belum memiliki pengalaman, persalinan dengan tindakan ibu merasa tidak mampu melahirkan bayi secara normal dan ibu yang bekerja yang terlalu memikirkan antara beban di rumah dan di tempat kerja. Simpulan bahwa ibu dengan usia <20 tahun, paritas primipara, pesalinan dengan tindakan dan ibu yang bekerja berisiko tinggi mengalami baby
FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SEKSUAL LELAKI SEKS DENGAN LELAKI (LSL) PADA REMAJA DI KABUPATEN INDRAMAYU
Perilaku seksual lelaki seks dengan lelaki (LSL) sudah menjadi permasalahan di Indonesia berkaitan dengan penularan HIV, terlebih karena perilaku seks tersebut dilakukan pada usia dini yaitu remaja. Perilaku tersebut pada remaja bisa berdampak negatif, baik dari segi kesehatan reproduksi maupun kehidupan sosial. Mengingat belum diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena perilaku seksual LSL, maka dilakukanlah penelitian dengan pendekatan kualitatif untuk menggali faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku LSL pada remaja di kabupaten Indramayu. Subyek dalam penelitian adalah pelaku LSL yang terdampak HIV, dimana pernah melakukan perilaku seksual LSL pada usia 10-20 tahun. Jumlah populasi penelitian tercatat di RS Bhayangkara sejumlah 25 klien. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling. Jumlah informan yang berhasil ditemui dan diberi informasi dari sebanyak 25 klien, hanya sebanyak 17 klien yang bersedia menjadi responden, namun yang bersedia diwawancarai sebanyak 8 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dan data dianalisis mengunakan analisis tematik. Melalui penelitian ini, terungkap beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku LSL pada remaja di Kabupaten Indramayu, yaitu berkaitan karena sejak kecil telah memiliki perasaan suka terhadap sesama jenis, diasuh dalam lingkungan feminis, kurangnya kedekatan dengan ayah, kurangnya bimbingan religi, migrasi desa kota, pergaulan kota, dan peran internet khusunya media sosial. Rekomendasi dari hasil penelitian, kepada orang tua agar lebih memperhatikan lingkungan bermain anak laki-laki dari sejak kecil, berilah mainan/permainan yg sesuai jenis kelamin, jalin komunikasi yg baik antara anak dengan ayah, perkuat landasan religi, awasi dan batasi pergaulan sesama jenis, serta bijaksana menggunakan internet.Perilaku seksual lelaki seks dengan lelaki (LSL) sudah menjadi permasalahan di Indonesia berkaitan dengan penularan HIV, terlebih karena perilaku seks tersebut dilakukan pada usia dini yaitu remaja. Perilaku tersebut pada remaja bisa berdampak negatif, baik dari segi kesehatan reproduksi maupun kehidupan sosial. Mengingat belum diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena perilaku seksual LSL, maka dilakukanlah penelitian dengan pendekatan kualitatif untuk menggali faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku LSL pada remaja di kabupaten Indramayu. Subyek dalam penelitian adalah pelaku LSL yang terdampak HIV, dimana pernah melakukan perilaku seksual LSL pada usia 10-20 tahun. Jumlah populasi penelitian tercatat di RS Bhayangkara sejumlah 25 klien. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling. Jumlah informan yang berhasil ditemui dan diberi informasi dari sebanyak 25 klien, hanya sebanyak 17 klien yang bersedia menjadi responden, namun yang bersedia diwawancarai sebanyak 8 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dan data dianalisis mengunakan analisis tematik. Melalui penelitian ini, terungkap beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku LSL pada remaja di Kabupaten Indramayu, yaitu berkaitan karena sejak kecil telah memiliki perasaan suka terhadap sesama jenis, diasuh dalam lingkungan feminis, kurangnya kedekatan dengan ayah, kurangnya bimbingan religi, migrasi desa kota, pergaulan kota, dan peran internet khusunya media sosial. Rekomendasi dari hasil penelitian, kepada orang tua agar lebih memperhatikan lingkungan bermain anak laki-laki dari sejak kecil, berilah mainan/permainan yg sesuai jenis kelamin, jalin komunikasi yg baik antara anak dengan ayah, perkuat landasan religi, awasi dan batasi pergaulan sesama jenis, serta bijaksana menggunakan internet
TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RUANG ZAMRUD RSUD Dr. SLAMET GARUT
Dampak tuberkulosis paru diantaranya dapat menyebabkan kecemasan bagi pasien yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, khawatir dengan keadaanya, takut tidak bisa menuntaskan pengobatannya dan takut menularkan penyakitnya pada orang lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien tuberkulosis paru di Ruang Zamrud RSUD Dr. Slamet Garut.
Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik total sampling, yaitu dengan mengambil semua pasien tuberkulosis paru di Ruang Zamrud RSUD Dr. Slamet Garut sebanyak 31 responden. Pengumpulan data menggunakan Kuesioner HARS-A (Hamilton Rating Scale For Anxiety). Analisa data dalam penelitian ini, yaitu: univariat dan penyajian data menggunakan distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien tuberkulosis paru sebagian kecil tidak mengalami kecemasan sebanyak 5 responden (15.6%), yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 6 responden (18.8%), hampir setengahnya mengalami kecemasan sedang sebanyak 14 responden (43.8%), dan sebagian kecil mengalami kecemasan berat sebanyak 6 responden (18.8%). Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu: tingkat kecemasan pada pasien tuberkulosis paru di Ruang Zamrud RSUD dr.Slamet Garut adalah hampir setengahnya mengalami kecemasan sedang dengan persentase 43.8%. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi data dasar untuk peneliti selanjutnya, seperti hubungan tingkat kecemasan dengan lama pengobatan. Dampak tuberkulosis paru diantaranya dapat menyebabkan kecemasan bagi pasien yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, khawatir dengan keadaanya, takut tidak bisa menuntaskan pengobatannya dan takut menularkan penyakitnya pada orang lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien tuberkulosis paru di Ruang Zamrud RSUD Dr. Slamet Garut.
Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik total sampling, yaitu dengan mengambil semua pasien tuberkulosis paru di Ruang Zamrud RSUD Dr. Slamet Garut sebanyak 31 responden. Pengumpulan data menggunakan Kuesioner HARS-A (Hamilton Rating Scale For Anxiety). Analisa data dalam penelitian ini, yaitu: univariat dan penyajian data menggunakan distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien tuberkulosis paru sebagian kecil tidak mengalami kecemasan sebanyak 5 responden (15.6%), yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 6 responden (18.8%), hampir setengahnya mengalami kecemasan sedang sebanyak 14 responden (43.8%), dan sebagian kecil mengalami kecemasan berat sebanyak 6 responden (18.8%). Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu: tingkat kecemasan pada pasien tuberkulosis paru di Ruang Zamrud RSUD dr.Slamet Garut adalah hampir setengahnya mengalami kecemasan sedang dengan persentase 43.8%. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi data dasar untuk peneliti selanjutnya, seperti hubungan tingkat kecemasan dengan lama pengobatan
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PREEKLAMSIA WILAYAH KERJA PUSKESMAS JUNTINYUAT KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2019
Jumlah kematian ibu di Kabupaten Indramayu tahun 2017 terdapat 45 kasus dengan penyebab kematian karena perdarahan 11 kasus, hipertensi dalam kehamilan 15 kasus, Infeksi 4 kasus, gangguan sistem peredaran darah 7 kasus, gangguan metabolik 1 kasus dan penyebab lain-lain 7 kasus. Penyebab kematian ibu karena kasus Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab paling banyak di kabupaten Indramayu. Data Puskesmas Juntinyuat selama 6 bulan terakhir yaitu dari bulan Juli-Desember 2018 terdapat 305 Ibu hamil dengan resiko tinggi, dengan penyebab tertinggi karena Preeklamsi sebanyak 43 kasus dan hipertensi dalam kehamilan sebanyak 8 kasus. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, di harapkan dengan pengetahuan ibu hamil yang baik akan terbentuknya kesadaran tindakan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya.
Metode :Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan ibu hamil yang tinggal diwilayah Puskesmas Juntinyuat yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi sebanyak 27 ibu hamil. Waktu penelitian bulan Januari 2019.
Hasil :Hasil penelitian menunjukan frekuensi responden paling banyak adalah usia ibu hamil 20-35 tahun, paritas adalah dua, pendidikan terakhir adalah SMP, perkerjaan ibu hamil adalah tidak bekerja, pola makan ibu hamil adalah makan ikan, buah dan sayur, Kategori pengetahuan ibu hamil mengenai preeklamsi adalah kategori cukup.Jumlah kematian ibu di Kabupaten Indramayu tahun 2017 terdapat 45 kasus dengan penyebab kematian karena perdarahan 11 kasus, hipertensi dalam kehamilan 15 kasus, Infeksi 4 kasus, gangguan sistem peredaran darah 7 kasus, gangguan metabolik 1 kasus dan penyebab lain-lain 7 kasus. Penyebab kematian ibu karena kasus Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab paling banyak di kabupaten Indramayu. Data Puskesmas Juntinyuat selama 6 bulan terakhir yaitu dari bulan Juli-Desember 2018 terdapat 305 Ibu hamil dengan resiko tinggi, dengan penyebab tertinggi karena Preeklamsi sebanyak 43 kasus dan hipertensi dalam kehamilan sebanyak 8 kasus. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, di harapkan dengan pengetahuan ibu hamil yang baik akan terbentuknya kesadaran tindakan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya.
Metode :Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan ibu hamil yang tinggal diwilayah Puskesmas Juntinyuat yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi sebanyak 27 ibu hamil. Waktu penelitian bulan Januari 2019.
Hasil :Hasil penelitian menunjukan frekuensi responden paling banyak adalah usia ibu hamil 20-35 tahun, paritas adalah dua, pendidikan terakhir adalah SMP, perkerjaan ibu hamil adalah tidak bekerja, pola makan ibu hamil adalah makan ikan, buah dan sayur, Kategori pengetahuan ibu hamil mengenai preeklamsi adalah kategori cukup
FAKTOR RISIKO PENDERITA HIV AIDS DI KABUPATEN GONDANG LEGI MALANG
HIV/AIDS adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya. Prevalensi dan insidensi penyakit ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Penemuan ARV, peningkatan aktivitas seksual tidak aman,meluasnya penggunaan narkotika suntik adalah beberapa hal yang menjadi pemicu meluasnya penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penderitaHIV/AIDS di Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif observasional. Data yang digunakan adalah data sekunder dan dianalisa menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini adalah mayoritas penderita HIV/AIDS berusia antara 20-29, berjenis kelamin perempuan, bekerja dalam sektor informal dan terkena HIV/AIDS karena aktivitas seksual tidak aman.HIV/AIDS adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya. Prevalensi dan insidensi penyakit ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Penemuan ARV, peningkatan aktivitas seksual tidak aman,meluasnya penggunaan narkotika suntik adalah beberapa hal yang menjadi pemicu meluasnya penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penderitaHIV/AIDS di Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif observasional. Data yang digunakan adalah data sekunder dan dianalisa menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini adalah mayoritas penderita HIV/AIDS berusia antara 20-29, berjenis kelamin perempuan, bekerja dalam sektor informal dan terkena HIV/AIDS karena aktivitas seksual tidak aman
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN KEPATUHAN DIET PADA PENDERITA HIPERTENSI
Pencegahan komplikasi penderita hipertensi dapat dilakukan dengan aktif melaksanakan diet. Keberhasilan perilaku kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah efikasi diri. Penelitian ini berjenis deskriptif korelatif dengan 155 responden yang menderita Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Guntur Kabupaten Garut. Variabel yang diteliti meliputi efikasi diri dan diet pada penderita hipertensi. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan 70,3 % (109 orang), berusia 46-65 tahun 52,3% (81 orang), dan berpendidikan SD 79,4% (123 orang). Selain itu, sejumlah 38,7% (60 orang) responden memiliki efikasi diri yang rendah dan tidak patuh untuk menjalankan diet hipertensi 42,6% (66 orang). Uji chi-square menunjukan hubungan positif antara efikasi diri dengan kepatuhan diet hipertensi pada penderita hipertensi (p= 0,013). Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,296. Diharapkan, tenaga medis terutama perawat, dapat membantu klien untuk patuh terhadap dietnya, dengan meningkatka efikasi diri.Pencegahan komplikasi penderita hipertensi dapat dilakukan dengan aktif melaksanakan diet. Keberhasilan perilaku kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah efikasi diri. Penelitian ini berjenis deskriptif korelatif dengan 155 responden yang menderita Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Guntur Kabupaten Garut. Variabel yang diteliti meliputi efikasi diri dan diet pada penderita hipertensi. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan 70,3 % (109 orang), berusia 46-65 tahun 52,3% (81 orang), dan berpendidikan SD 79,4% (123 orang). Selain itu, sejumlah 38,7% (60 orang) responden memiliki efikasi diri yang rendah dan tidak patuh untuk menjalankan diet hipertensi 42,6% (66 orang). Uji chi-square menunjukan hubungan positif antara efikasi diri dengan kepatuhan diet hipertensi pada penderita hipertensi (p= 0,013). Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,296. Diharapkan, tenaga medis terutama perawat, dapat membantu klien untuk patuh terhadap dietnya, dengan meningkatka efikasi diri
PENGARUH ASYNCHRONOUS BLENDED PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP PENGETAHUAN MAHASISWA KEBIDANAN
Peran Institusi pendidikan dalam menghasilkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan khususnya bidan salah satunya dengan metode problem based learning (PBL). Metode PBL merupakan metode pembelajaran yang mendorong proses belajar yang lebih aktif melalui pengenalan kasus yang realistik dan kontekstual sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis, berdaya analisis dan mampu memecahkan masalah dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini. Metode asyncronous blended problem based learning (ABLE-PBL) merupakan inovasi pembelajaran PBL yang dapat digunakan pada institusi pendidikan kebidanan yang memiliki keterbatasan jumlah tenaga pendidik namun tetap ingin mengoptimalkan proses pembelajaran dan menghasilkan kualitas lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tujuan Penelitian untuk mengetahui pengaruh ABLE-PBL dan PBL terhadap pengetahuan mahasiswa diploma kebidanan.
Penelitian kuantitatif dengan metode cross over. Sampel yang digunakan seluruh mahasiswa diploma IV kebidanan Universitas Padjadjaran yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi sebanyak 37 mahasiswa. Waktu penelitian bulan Maret-Juni 2018.
Tidak ada perbedaan skor pengetahuan antara kelompok intervensi (ABLE-PBL) dan kelompok kontrol (PBL) dengan uji mann-whitney (p>0,05).
Metode ABLE-PBL dan metode PBL tidak memilki perbedaan dalam mempengaruhi pengetahuan mahasiswa diploma kebidanan.Peran Institusi pendidikan dalam menghasilkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan khususnya bidan salah satunya dengan metode problem based learning (PBL). Metode PBL merupakan metode pembelajaran yang mendorong proses belajar yang lebih aktif melalui pengenalan kasus yang realistik dan kontekstual sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis, berdaya analisis dan mampu memecahkan masalah dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini. Metode asyncronous blended problem based learning (ABLE-PBL) merupakan inovasi pembelajaran PBL yang dapat digunakan pada institusi pendidikan kebidanan yang memiliki keterbatasan jumlah tenaga pendidik namun tetap ingin mengoptimalkan proses pembelajaran dan menghasilkan kualitas lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tujuan Penelitian untuk mengetahui pengaruh ABLE-PBL dan PBL terhadap pengetahuan mahasiswa diploma kebidanan.
Penelitian kuantitatif dengan metode cross over. Sampel yang digunakan seluruh mahasiswa diploma IV kebidanan Universitas Padjadjaran yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi sebanyak 37 mahasiswa. Waktu penelitian bulan Maret-Juni 2018.
Tidak ada perbedaan skor pengetahuan antara kelompok intervensi (ABLE-PBL) dan kelompok kontrol (PBL) dengan uji mann-whitney (p>0,05).
Metode ABLE-PBL dan metode PBL tidak memilki perbedaan dalam mempengaruhi pengetahuan mahasiswa diploma kebidanan
PENERAPAN REHABILITASI JANTUNG FASE 1 PADA PASIEN SINDROMA KORONER AKUT (SKA) DI RUMAH SAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH HARAPAN KITA JAKARTA
Cardiac rehabilitation is all actions taken to optimally improve physical, mental and social functioning to restore functional capacity in patients with life-threatening acute coronary or post-invasive patients. Phase I cardiac rehabilitation is an immediate initiation to carry out cardiac rehabilitation in the acute phase. This study aims to identify the application of phase 1 cardiac rehabilitation in ACS patients. Research using quantitative design with descriptive approach. The research sample consisted of 12 respondents using purposive sampling technique. The results of phase 1 to level 1 to 3 day 5 cardiac rehabilitation studies in patients with ACS obtained Chest Pain, Dyspnea and ECG images whose values were constant or the same for all respondents both at the beginning, exercise and end. It can be concluded that during phase 1 level 1 heart rehabilitation to level 3 days 5 there were no changes in Chest Pain, Dyspnea and ECG in SKA patients. While the difference in heart rate and blood pressure values statistically showed significant, but clinically not significant. Suggestion phase 1 cardiac rehabilitation is a safe action and can be done independently by nurses and therefore must be applied to ACS patients.
Keywords: Phase 1 Cardiac Rehabilitation, Acute Coronary SyndromeRehabilitasi jantung merupakan semua tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan fungsi fisik, mental, dan lingkungan sosial secara optimal untuk mengembalikan kapasitas fungsional pada pasien dengan acute coronary yang mengancam jiwa atau pasien pasca tindakan invasif. Rehabilitasi jantung fase I merupakan inisiasi segera untuk melakukan rehabilitasi jantung pada fase akut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penerapan rehabilitasi jantung fase 1 pada pasien SKA. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel berjumlah 12 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian penerapan rehabilitasi jantung fase 1 level 1 sampai level 3 hari ke 5 pada pasien SKA didapatkan data Chest Pain, Dispnea dan Gambaran EKG yang nilainya konstan atau sama pada semua responden baik pada awal, latihan maupun akhir. Dapat disimpulkan bahwa pada saat dilakukan rehabilitasi jantung fase 1 level 1 sampai level 3 hari ke 5 tidak ada perubahan Chest Pain, Dispnea dan Gambaran EKG pada pasien SKA. Sedangkan perbedaan nilai heart rate dan tekanan darah secara uji statistik menunjukkan signifikan, namun secara klinis tidak bermakna. Sebagai saran rehabilitasi jantung fase 1 merupakan tindakan yang aman dan dapat dilakukan secara mandiri oleh perawat oleh karena itu harus diterapkan pada pasien SKA.
Kata Kunci : Rehabilitasi Jantung Fase 1, Sindrom Koroner Akut