Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
    212 research outputs found

    FACTORS RELATED TO BEHAVIOR THE COMMUNITY IN DISPOSING OF GARBAGE IN THE VILLAGE OF BANGUNTAPAN

    No full text
    According to the American Public Health Association, the junk is defined as something that is not used, unused, unwanted or something disposed of, derived from human activities and does not happen by itself. Based on data from the Department of Environment Bantul Regency Year Of 2018 Producing the biggest waste there is in the District of Banguntapan by 264,49 m3/day while the lowest was 77,64 m3/day are in the District of Kretek. The results of the interviews in the community, it was found that as much as 45% of citizens have yet to separate or distinguish organic and inorganic waste. The purpose of this study was to determine the factors associated with the behavior of the community in disposing of garbage the Village of Banguntapan. This research uses descriptive quantitative with cross sectional approach. The sampling technique used is accidental sampling with a total sample of 76 respondents. The analysis used is the analysis of univariate and bivariate with Chi Square statistical test. The results of this research is on the analysis of the chi square showed no relationship between the factors with the behavior of the community in disposing of garbage as follows education with behavior sig. 0,002 (p<0,05), the income with the behavior of the sig. 0,037 (p < 0.05), availability of infrastructure gis. 0.000 (p<0.05). The conclusion obtained that there is significant relationship between education, income, availability of infrastructure to the behavior of the community in disposing of garbage in the Village of Banguntapan.Menurut American Public Health Association, sampah diartikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul Tahun 2018 Penghasil sampah terbesar ada di Kecamatan Banguntapan sebesar 264,49 m³/hari sedangkan terendah sebesar 77,64 m³/hari terdapat  di Kecamatan Kretek. Hasil wawancara pada masyarakat, didapatkan bahwa sebanyak 45% warga belum memisahkan atau membedakan sampah organik dan anorganik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam membuang sampah Desa Banguntapan. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah sampel 76 responden. Analisis yang digunakan yaitu analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi Square. Hasil penelitian ini yaitu pada analisis chi square menunjukkan ada hubungan antara faktor-faktor dengan perilaku masyarakat dalam membuang sampah sebagai berikut pendidikan dengan perilaku sig. 0,002 (p<0,05), pendapatan dengan perilaku sig. 0,037 (p < 0,05), ketersediaan sarana prasarana sig. 0,000 (p<0,05). Kesimpulan yang didapatkan yaitu ada hubungan yang signifikan antara pendidikan, pendapatan, ketersediaan sarana prasarana dengan perilaku masyarakat dalam membuang sampah di Desa Banguntapan

    RELATIONSHIP OF THERAPEUTIC COMMUNICATION WITH ANXIETY OF FIRST ACTIVE PHASE LABOR PATIENTS IN DR. SOEKARDJO TASIKMALAYA’S HOSPITAL

    No full text
    Anxiety during childbirth without a solution will increase of anxiety to a high level and increase the risk of injury and will affect contractions to be hypotonic. One of the factors influence anxiety during childbirth is therapeutic communication less. Research purposes is to determine relationship of therapeutic communication with anxiety level of patients during active phase labor in dr. Soekardjo Tasikmalaya’s hospital. The research method used descriptive correlational. The population in this study are patient of first active phase on labor in delivery room. Research sample is 30 people by accidental sampling for 3 weeks. Instrument research used a standardized therapeutic communication and anxiety questionnaire. Hypothesis testing used Rank Spearman test. The results showed that the highest percentage of therapeutic communication is "less" category is 13 people (43.33%), The highest level of anxiety is "heavy" category as many as 20 people (66.66%). hypothesis test show that there is a relationship between therapeutic communication and anxiety level of patients during the first active phase labor with P-value = 0.026, the correlation coefficient value is 0.463, which means that the strength of the relationship is sufficient. Based on this research results is suggested that midwives can provide the best service to patients by improving therapeutic communication to reduce anxiety mothers in labor.Kecemasan menjelang persalinan akan mengakibatkan peningkatan kecemasan ke level yang lebih tinggi dan meningkatkan resiko cedera dan akan mempengaruhi kontraksi menjadi hypotonic. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan persalinan yaitu kurangnya komunikasi terapeutik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien persalinan kala 1 fase aktif di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya. Metoda penelitian yang digunakan deskriptif korelasional. Populasinya adalah pasien bersalin kala 1 fase aktif, di  ruang  bersalin. Sampel 30 orang secara accidental sampling selama 3 minggu. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner komunikasi terapeutik dan kecemasan yang sudah baku. Uji hipotesis menggunakan uji Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukan persentasi komunikasi terapeutik paling tinggi pada kategori “kurang” sebanyak 13 orang (43.33%), untuk tingkat kecemasan paling tinggi kategori “berat” sebanyak 20 orang (66.66%). Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa ada hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien persalinan kala 1 fase aktif dengan P-value = 0,026, nilai koefisien korelasi 0.463 artinya kekuatan hubungannya cukup. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar bidan dapat memberikan pelayanana yang terbaik terhadap pasien dengan meningkatkan komunikasi terapeutik untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin

    EVALUASI PELAKSANAAN INTERVENSI GIZI SPESIFIK PENURUNAN STUNTING PADA SASARAN REMAJA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS JATIBARANG KABUPATEN BEBES

    No full text
    The problem of stunting shows the influence of chronic nutritional problems starting from the condition of the mother/prospective mother, fetal period and infancy/toddler, as well as various diseases felt by children during toddlerhood. Therefore, it is necessary to make improvements such as in terms of prevention and direct reduction of disorders, namely with specific nutrition interventions and sensitive nutrition interventions. This type of research is descriptive analytic. The population is female teenagers totaling 140 people. The sampling technique used accidental sampling of 40 respondents. Data were obtained using a closed questionnaire. Analyzed using frequency distribution  It was found that 40 young women (100%) had received information about the youth Posyandu but there were 26 young women (65%) who regularly attended the Posyandu. 25 young women (62.5%) did not take blood supplement tablets regularly. 37 young women (92.5) said they received counseling materials but 34 young women (85%) still consumed snacks like food sold on the roadside. Adolescent knowledge about anemia and stunting is good (85%) but 31 young women (77.5%) do not know that anemia can cause stunting. It is recommended that teenagers, especially young women, routinely consume blood-added tablets and participate in Youth Posyandu activities in order to avoid anemia and stuntingPermasalahan stunting menunjukkan adanya pengaruh masalah gizi kronis mulai dari kondisi ibu/calon ibu, masa janin dan masa bayi/balita, juga berbagai penyakit yang dirasakan anak selama masa balita. Karena itu perlu dilakukan perbaikan seperti dalam hal pencegahan dan pengurangan gangguan secara langsung yaitu dengan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Jenis penelitian ini adalah deskiptif analitik. Populasinya adalah remaja wanita berjumlah 140 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling sejumlah 40 responden. Data diperoleh menggunakan kuesioner tertutup. Dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi. Didapatkan hasil 40 remaja putri (100%) sudah mendapatkan informasi tentang Posyandu remaja akan tetapi ada 26 remaja putri (65%) yang rutin mengikuti posyandu tersebut. 25 remaja putri (62.5%) tidak konsumsi tablet tambah darah rutin. 37 remaja putri (92,5) mengatakan mendapatkan materi penyuluhan akan tetapi 34 remaja putri (85%) masih mengkonsumsi jajan sembarangan seperti makanan yang dijual dipinggir jalan. Pengetahuan remaja tentang pengertian anemia dan stunting sudah baik (85%) tetapi 31 remaja putri (77.5%) tidak mengetahui bahwa anemia dapat beresiko menyebabkan stunting. Disarankan remaja khususnya remaja putri supaya rutin mengkonsumsi tablet tambah darah serta mengikuti kegiatan Posyandu Remaja agar bisa terhindar dari anemia dan Stunting

    RELATIONSHIP OF KNOWLEDGE, NUTRITION INTAKE AND OTHER FACTORS RELATED TO THE EVENT OF ANEMIA IN ADOLESCENTS XII CLASS PRINCESS AT KANDANGHAUR VOCATIONAL SCHOOL, 2020

    No full text
    This study aims to determine the relationship between knowledge, nutritional intake and other factors related to the incidence of anemia in XII grade girls at SMK Kandanghaur in 2020. The research method used is a type of survey research using a cross-sectional approach. The population of all female adolescents in grade XII at SMK Kandanghaur is 300 students. Sampling with sampling using random sampling amounted to 75 respondents. The results of the research from the univariate analysis showed that 71 respondents or 94.7% had good knowledge of anemia, 52 respondents or 69.3% with normal nutritional status, 73 respondents or 97.3% with a regular diet, 72 respondents or 96% whose father\u27s job is temporary workers, and 45 respondents or 60% who do not have anemia. Based on the bivariate analysis, it is known that there is no significant relationship between knowledge and the incidence of anemia, there is a significant relationship between nutritional status and the incidence of anemia, there is no significant relationship between diet and the incidence of anemia and there is no significant relationship between father\u27s work and anemia in XII grade girls at SMK Kandanghaur in 2020.                                    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  hubungan pengetahuan, asupan gizi dan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri kelas XII di SMK Kandanghaur tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian survey menggunakan pendekatancrosssectional. Populasi semua remaja putri kelas XII di SMK Kandanghaur sebanyak 300 siswa. Pengambilan sampel dengan pengambilan sampel menggunakan random sampling berjumlah 75 responden. Hasil penelitian dari analisis univariat diperoleh bahwa dari seluruh responden terdapat sebanyak 71 responden atau 94,7% mempunyai pengetahuan baik tentang anemia, 52 responden atau 69,3% dengan status gizi normal, 73 responden atau 97,3% dengan pola makan teratur, 72 responden atau 96% dengan pekerjaan ayah adalah pekerja tidak tetap, dan 45 responden atau 60% yang tidak mengalami anemia.Berdasarkan analisis bivariat diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian anemia, terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian anemia, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian anemia dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ayah dengan kejadian anemia pada remaja putrid kelas XII di SMK Kandanghaur tahun 2020

    THE EFECT OF ACUPRESSURE ON DECREASING NAUSEA AND VOMITING IN THE FIRST TRIMESTER OF PREGNANCY IN THE WORK AREA OF THE SUKAHURIP HEALTH CENTER, GARUT REGENCY, WEST JAVA, 2020

    No full text
    Physical and psychological changes that afect complaints of nausea and vomiting or even hyperemesis, especially in the first trimester. Data at the Sukahurip Health Center, pregnant women who experience emesis in the first trimester is still high, namely in January-March 2020, which is as much as 70.7%. One of the non-pharmacological treatments for hyperemesis is acupressure massage. The purpose of this study was to determine the effect of acupressure on reducing nausea and vomiting (emesis) in the first trimester of pregnancy. The design of this research is quantitative research, pre-experimental approach using pre-test and post-test one-group design. The sample in this study were pregnant women in the first trimester who experienced nausea and vomiting. The data were obtained using an observation format, then analyzed by using the Paired Test. The results of this study showed that the frequency of nausea and vomiting before acupressure massage was 17.41 points, then after acupressure massage decreased to 10.47 points. The results of statistical tests using Paired test showed that there was an effect of acupressure on reducing complaints of nausea and vomiting in pregnant women with a p value of 0.000. The conclusion of this study is acupressure massage has an effect on reducing nausea and vomiting in first trimester pregnant women. Therefore, midwives can apply acupressure massage techniques to pregnant women to reduce nausea and vomiting as an effort to improve maternity services.Perubahan fisik dan psikologis mempengaruhi keluhan mual dan muntah atau bahkan hiperemesis terutama pada trimester I. Data di Puskesmas Sukahurip, ibu hamil yang mengalami emesis trimester I  masih  tinggi,  yakni  pada  bulan  Januari-Maret  Tahun  2020  yaitu  sebanyak  70.7%. Salah  satu penanganan non farmakologi pada hiperemesis yaitu dengan pijatan akupresur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh akupresur terhadap penurunan mual muntah (emesis) pada kehamilan trimester I. Rancangan penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, pendekatan pre-eksperimental menggunakan pre test dan post test one-group design. Sampel dalam penelitian ini yaitu ibu hamil trimester I yang mengalami mual muntah. Data diperoleh dengan menggunakan format observasi, kemudian dianalisis dengan uji Paired Test. Hasil penelitian ini diperoleh frekuensi mual  muntah sebelum dilakukan pijat akupresur sebanyak 17.41 point, kemudian setelah pijat akupresur mengalami penurunan yaitu menjadi 10.47 poin. Hasil uji statistik menggunakan Paired test didapatkan ada pengaruh akupresur terhadap penurunan keluhan mual muntah pada ibu hamil dengan p value 0,000. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pijat akupresur berpengaruh terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil trimester pertama. Oleh karena itu bidan dapat menerapkan teknik pijat akupresur tersebut kepada ibu hamil untuk menurunkan mual muntah sebagai upaya peningkatan pelayanan kebdianan. &nbsp

    FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 DI RSUD dr. H. IBNU SUTOWO BATURAJA TAHUN 2021

    No full text
    Introduction: Personal protective equipment is a tool that serves to protect workers against exposure to hazards that cause illness and death in workers in the work environment. The purpose of this study was to determine the factors related to Nurse Compliance in the Use of Personal Protective Equipment (PPE) During the COVID-19 Pandemic Period at Hospital. Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja in 2021. Method: This research uses Quantitative research design with cross sectional analytic survey method. The population in this study were employees at RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja in 2021. The sampling of this research was determined by purposive sampling, namely the employees of the RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja each as many as 76 respondents. Data collection by using a questionnaire. Results: There is a significant relationship for the variables Knowledge (p value 0.03) and motivation (p value 0.03). From the results of the multivariate statistical test, the dominant factor was obtained, the knowledge variable (p value 0.03) with an OR value (5.79). Conclusion: Knowledge is the dominant factor in nurse compliance in the use of PPE. Keywords: Personal Protective Equipment, Compliance and HospitalPendahuluan: Alat pelindung diri merupakan alat yang berfungsi untuk melindungi pekerja terhadap pemaparan resiko bahaya yang menyebabkan kesakitan dan kematian pada pekerja di lingkungan pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan Kepatuhan Perawat Dalam Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) Selama Masa Pandemi COVID-19 di RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja Tahun 2021. Metode: Cuanbet88 merupakan salah satu portal link slot gacor 777 resmi untuk generasi muda, cukup dengan situs slot777 pasti gampang menang 2025. Desain penelitian kuantitatif dengan metode survey analitik Desain penelitian ini menggunakan Cross Sectional, Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai di RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja Tahun 2021. pengambilan sampel penelitian ini ditentukan secara Purposive sampling yaitu pegawai Rumah Sakit RSUD Dr. H. Ibnu Sutowo Baturaja masing-masing sebanyak 76 responden.  Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Menunjukan ada hubungan bermakna untuk variabel Pengetahuan (p value 0,03) dan motivasi (p value 0,03). Dari hasil uji statistik multivariat diperoleh faktor yang dominan yaitu variabel pengetahuan (p value 0,03) dengan nilai OR (5,79). Kesimpulan: Pengetahuan merupakan faktor dominan kepatuhan perawat dalam pemakaian APD. Kata kunci: Alat Pelindung Diri, Kepatuhan dan Rumah Saki

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN POSYANDU LANSIA

    No full text
    Elderly is someone who has reached the age of 60 years and over. Posyandu for the elderly is a health service to serve the elderly. According to WHO data (2018), the world\u27s elderly population aged 60 years and over will increase from 900 million to 2 billion in 2050. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge, family support and the role of cadres in utilizing the posyandu for the elderly. This type of research uses a systematic literature review with the literature review method. The results of the study found that there was a relationship between the level of knowledge, family support and the role of cadres with the use of posyandu for the elderly. The process of searching for articles using a search engine in the form of Google Scholar. The analysis of articles uses a compare technique or looks for similarities between several literatures which are then drawn conclusions. The conclusion of this study is that the variables of knowledge, family support and the role of cadres have a relationship with the use of posyandu for the elderly. Suggestions are expected that the role of cadres can provide counseling to the elderly about the benefits of the elderly posyandu so that the elderly can participate in the activities of the elderly posyandu.Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Posyandu lansia merupakan pelayanan kesehatan untuk melayani lansia. Menurut Data WHO (2018) menyatakan bahwa populasi penduduk lansia di dunia yang berusia 60 tahun ke atas akan meningkat dari 900 juta sampai 2 milyar pada tahun 2050. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, dukungan keluarga dan peran kader dalam memanfaatkan posyandu lansia. Jenis penelitian ini menggunakan systematic literature review dengan metode literature review. Hasil penelitian di dapatkan ada hubungan antara tingkat pengetahuan, dukungan keluarga dan peran kader dengan pemanfaatan posyandu lansia. Proses pencarian artikel menggunakan search engine berupa google scholar. Analisis artikel menggunakan teknik compare atau mencari kesamaan diantara beberapa literature yang selanjutnya di ambil kesimpulan.  Simpulan dari penelitian ini yaitu variabel pengetahuan, dukungan keluarga dan peran kader memiliki hubungan dengan pemanfaatan posyandu lansia. Saran yang diharapkan agar peran dari kader dapat memberikan penyuluhan kepada lansia mengenai manfaat posyandu lansia sehingga lansia dapat berpartisipasi dalam kegiatan posyandu lansia

    FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA KEHAMILAN TRIMESTER III DI RSU SUNDARI MEDAN

    Full text link
    Hipertensi dalam kehamilan yaitu hipertensi yang terjadi karena atau pada saat kehamilan, dapat memengaruhi kehamilan itu sendiri biasanya terjadi pada usia kehamilan memasuki 20 minggu. Menurut data WHO tahun 2018, terdapat 303.000 wanita yang mengalami AKI. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2015, Tinggi nya AKI mencapai  359 per 100.000 kelahiran hidup. Menurut profil Kesehatan Sumatra Utara tahun 2018, AKI berjumlah 185 orang. Menurut profil Kesehatan kota Medan tahun 2016, dengan angka AKI sebesar 6 per 100.000 kelahiran hidup.Tujuannya untk mengtahui faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada kehamilan trimester III. Desain penelitian ini menggunakan survei analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi perencanaan pada penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan cross sectional. Hasil penelitian ini ada hubungan antara berat badan dengan kejadian hipertensi pada kehamilan nilai p value 0,018, ada hubungan antara riwayat hipertensi dengan kejadian hipertensi pada kehamilan nilai p value 0,009, ada hubungan antara paritas dengan kejadian hipertensi pada kehamilan nilai p value 0,019. Kesimpulan dan saran dari hasil penelitian ini adalah di harapkan tenaga pelayan kesehatan di RSU Sundari tetap memberikan ibu dukungan dan menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya pada dokter secara rutin untuk membantu memantau kesehatan ibu dan janin

    RELATIONSHIP BETWEEN AGE, DURATION OF USE AND PREGNANCY POST-ACCEPTORS OF PROGESTIN CONTRACEPTION IN GUWOSARI VILLAGE, PAJANGAN, BANTUL, YOGYAKARTA

    No full text
    Background: Myths about contraception discourage some women from doing family planning programs. In fact, family planning is presented so that husbands and wives have the opportunity to do careful planning before finally having children, such as financial planning to education. Myth: Contraceptive use causes difficulty getting pregnant (CNN Indonesia, 2019). Methods: cross sectional study design. sample of pregnant with post-Progestin contraception, 32 respondents. Results: There is a relationship between age and pregnancy of post-acceptor progestin (p = 0.001), there is no relationship between duration of use and pregnancy (p = 0.237). Progestin injection for 3 months had an average pregnancy of 20.6 months, implant acceptors had an average time of 14.6 months, and reproductive age of 20-35 years the minimum pregnancy was 1 month waiting. Conclusion: pregnancy is related to age and not related to the length of contraceptive use. Keywords: Pregnancy, Duration of Use, Post acceptor Progestin, AgePendahuluan: Mitos tentang kontrasepsi membuat sejumlah wanita enggan melakukan program KB (Keluarga Berencana). Padahal, KB dihadirkan agar suami istri memiliki kesempatan untuk melakukan perencanaan matang sebelum akhirnya memiliki anak, seperti perencanaan keuangan hingga pendidikan. Mitos: Penggunaan kontrasepsi sebabkan sulit hamil (CNN Indonesia, 2019). Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cros sectional. Sampel penelitian ibu hamil dengan riwayat post kontrasepsi hormonal Progestin, 32 responden. Hasil: ada hubungan usia dengan perolehan kehamilan ibu post akseptor kontrasepsi  progestin nilai p=0,001, tidak ada hubungan lama penggunaan dengan perolehan kehamilan nilai p=0,237. Akseptor progestin suntik 3 bulan rata-rata mendapatkan kehamilan 20,6 bulan, akseptor implant rata-rata waktu 14,6 bulan, dan pada usia reproduksi sehat 20-35 th minimal perolehan kehamilan waktu tunggu 1 bulan. Kesimpulan : Perolehan kehamilan berhubungan dengan usia dan tidak berhubungan dengan lama penggunaan kontrasepsi.   Kata Kunci : Kehamilan, Lama Penggunaan, Post Akseptor Kontrasepsi Progestin, Usi

    PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN PENDEKATAN MODEL INFORMATION MOTIVATION BEHAVIOR SKILL TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN PERSONAL HYGIENE PADA SANTRI DI PESANTREN BARKATUL HUDA

    No full text
    Scabies paling tinggi terjadi di negara tropis, salah satunya Indonesia. Prevalensi scabies di Indonesia sebesar 4.60%-12.95%, penyakit ini menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Timbulnya scabies erat kaitannya dengan kebersihan personal dan lingkungan. Perilaku personal menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dalam penularan penyakit scabies. Oleh karena itu perlu diberikan edukasi tentang pentingnya personal hygiene, salah satunya melalui pendekatan Model Information Motivation Behavior Skill (IMB). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan Pendekatan Model Information Motivation Behavior Skill (IMB) terhadap peningkatan pengetahuan tentang personal hygiene pada santri di pesantren Barkatul Huda. Jenis penelitian ini adalah pre-eksperiment dengan teknik one group pre-test and post-test design. Populasi penelitian adalah seluruh santri sebanyak 250 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 154 orang. Intsrumen penelitian menggunakan SAP, leaflet dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan P value = 0,000 < a = 0.05, maka Ho ditolak yang artinya bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan pendekatan Model Information Motivation Behavior Skill (IMB) terhadap peningkatan pengetahuan santri tentang personal hygiene di pesantren Barkatul Huda Kabupaten Tasikmalaya. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan acuan agar terlaksana kegiatan-kegiatan yang menunjang kesadaran masyarakat pesantren akan pentingnya personal hygiene

    56

    full texts

    212

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Indra Husada
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇