Jurnal Kesehatan Indra Husada
Not a member yet
212 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KONSUMSI MINUMAN MANIS DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS INDEKS MASSA TUBUH PADA REMAJA DI KOTA MEDAN
Adolescents\u27 nutritional status is impacted by changes in their lifestyle in metropolitan regions, such as a greater intake of sugary drinks and less physical exercise. The purpose of this study was to examine the relationship between the body mass index (BMI) of adolescents in Medan City and their consumption of sugary drinks and physical activity. 200 female undergraduate students who were chosen via incidental sampling were the subjects of the quantitative, cross-sectional study. An online survey couducted to collect the data, and Spearman\u27s rho and chi-square tests were used for analysis. The results of curren study show that, the majority of respondents was in moderate physical activity (94.5%) and consumed few sugar-filled beverages (65.7%). The nutritional status of 59.2% of respondents was considered normal. Consumption of sugar-filled beverages and physical exercise were significantly correlated with nutritional status (p = 0.001). These results highlight the value of physical activity promotion and nutrition education in preventing nutritional issues in teenagers.Status gizi remaja dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup di wilayah perkotaan, seperti peningkatan konsumsi minuman manis dan berkurangnya aktivitas fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara konsumsi minuman manis dan aktivitas fisik dengan status Indeks Massa Tubuh (IMT) pada remaja di Kota Medan. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dan melibatkan 200 mahasiswi yang dipilih melalui teknik sampling insidental. Data dikumpulkan melalui survei daring dan dianalisis menggunakan uji Spearman\u27s Rho dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki aktivitas fisik sedang (94,5%) dan konsumsi minuman manis rendah (65,7%). Sebanyak 59,2% responden memiliki status gizi normal. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi minuman manis dan aktivitas fisik dengan status gizi (p = 0,001). Hasil ini menunjukkan pentingnya promosi aktivitas fisik dan edukasi gizi dalam mencegah masalah gizi pada remaj
EVALUASI PENERAPAN TRIASE ATS (AUSTRALIAN TRIAGE SCALE) MODIFIKASI TERHADAP PASIEN TRAUMADI IGD RSUD TIDAR MAGELANG
Emergency conditions can occur anywhere, anytime, and can be experienced by anyone. The Aim: This study aims to evaluate the implementation of ATS triage in the ER in patients with trauma. Method: This study used a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. The population was 36 nurses. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 36 nurses. Data collection was carried out by observation. Data analysis used descriptive analysis with the help of computerization. Results: As many as 63.9% respondents were aged 25-35 years, male, had a Diploma 3 education, had a work period of ≥ 6 years and all had attended training such as BT and CLS. The implementation of ATS Triage on service waiting time, vital signs, and ATS examinations in patients with trauma showed that each triage category was in accordance with the SOP. In the implementation of vital signs due to several conditions, blood pressure and pulse examinations, especially in fussy children aged <12 years who were sometimes missed and only respiration, respiratory rate, temperature, VAS pain response, and GCS were checked. Conclusion: The application of ATS to trauma patients based on service waiting time, vital signs, and the application of ATS examination showed appropriate results and all were carried out according to SOP.Kondisi kegawatdaruratan bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan bisa diamalami oleh siapapun. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan triase ATS di IGD pada pasien dengan trauma. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi sebanyak 36 perawat. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel 36 perawat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan bantuan komputerisasi Hasil: Sebanyak 63.9% responden berusia 25-35 tahun, berjenis kelamin laki- laki, berpendidikan Diploma 3, memiliki masa kerja ≥ 6 tahun dan semua pernah mengikuti pelatihan seperti BT and CLS. Penerapan Triase ATS pada waktu tunggu pelayanan, vital sign, dan pemeriksaan ATS pada pasien dengan trauma menunjukkan bahwa setiap kategori triase semuanya sesuai dengan SOP. Pada penerapan vital sign karena beberapa kondisi, pemeriksaan tekanan darah dan nadi terutama pada pasien anak- anak usia <12 tahun yang rewel kadang terlewat dan hanya diperiksa respirasi, frekuensi napas, suhu, respon nyeri VAS, dan GCS. Kesimpulan: Penerapan ATS pada pasien trauma berdasarkan waktu tunggu pelayanan, vital sign, dan penerapan pemeriksaan ATS menunjukkan hasil sesuai dan semua dilakukan sesuai SOP
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA BURNOUT SYNDROME PERAWAT DI RUANG CRITICAL CARE
Burnout syndrome is a collection of physical, psychological and mental symptoms that are destructive due to monotonous and stressful work fatigue. The part of nurses who are prone to burnout syndrome is nurses who handle emergency patients. Nurses who handle emergency patients include ICU (Intensive care unit), HCU (high care unit), and IGD (emergency room), due to higher job demands than nurses in other inpatient rooms. This study aims to get an idea of the incidence of burnout syndrome in nurses in the Critical Care Room and see the factors that influence it. This type of research is quantitative research with descriptive design. This study involved 38 respondents who were nurses who served in the critical care room. The results showed that the majority of respondents experienced low category burnout as many as 18 people (47.4%). Statistical test results showed a meaningful relationship between individual factors and organizational factors with nurse burnout syndrome. The most dominant factor to the occurrence of burnout syndrome can be seen from the results of multivariate analysis that the value of OR the largest and significant value is the organizational factor with a value of OR 5.907. This shows that organizational factors are the most influential factors 5,907 times to the occurrence of burnout syndrome nurse than other factors.
Keywords: burnout syndrome, nurses, critical careBurnout syndrome adalah suatu kumpulan gejala fisik, psikologis dan mental yang bersifat destruktif akibat dari kelelahan kerja yang bersifat monoton dan menekan. Bagian perawat yang mudah mengalami burnout syndrome adalah perawat yang menangani pasien gawat darurat. Perawat yang menangani pasien gawat darurat diantaranya adalah ICU (intensif care unit), HCU (high care unit), dan IGD (instalasi gawat darurat), dikarenakan tuntutan pekerjaan yang lebih tinggi dibanding perawat di ruang rawat inap lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kejadian burnout syndrome pada perawat di Ruang Critical Care dan melihat faktor yang mempengaruhinya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Penelitian ini melibatkan 38 responden yang merupakan perawat yang bertugas di ruang critical care. Hasil dari penelitian menunjukkan mayoritas responden mengalami burnout kategori rendah sebanyak 18 orang (47,4%). Hasil uji statistik menunjukkan diperoleh hubungan yang bermakna antara faktor individu dan faktor organisasi dengan burnout syndrome perawat. Faktor yang paling dominan terhadap terjadinya burnout syndrome dapat dilihat dari hasil analisis multivariat yaitu nilai OR yang paling besar dan signifikan nilainya adalah Faktor Organisasi dengan nilai OR 5,907. Hal ini menunjukkan bahwa Faktor Organisasi merupakan faktor yang paling berpengaruh 5,907 kali terhadap terjadinya burnout syndrome perawat dibanding faktor yang lain.
 
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DYSMENORRHEA PADA SANTRI PUTRI DI PESANTREN MA’HAD IZZATUNA PUTRI KOTA PALEMBANG
Dysmenorrhea is one of the problems in adolescent reproductive health. The factors that influence dysmenorrhea are the factors that cause dysmenorrhea including age of menarche, stress and fast food consumption behavior (Sulfa Dianal, Hedy Herdiana2, 2023), nutritional status, menstrual patterns and family history (Hayati et al., 2020), knowledge and nutritional status (Septi et al, 2021), duration of menstruation (Mouliza, 2020), physical activity (Sugiyanto & Luli, 2020), sleep quality (Cahyaningsih et al., 2021) and cigarette smoke (Akbar et al., 2023). The purpose of the study was to determine the relationship between duration of menstruation, physical activity and diet (fast food) with dysmenorrhea. The research method used quantitative with an analytical survey design through a Cross Sectional approach. The population. in the study were all female senior high school students at the Ma\u27had Izzatuna Putri Islamic Boarding School, totaling 47 people. The sample determination was taken using the total sampling technique, the research sample were all female senior high school students at the Ma\u27had Izzatuna Putri Islamic Boarding School. The results of the chi-square test showed that there was a relationship between the duration of menstruation and dysmenorrhea in female students with a p-value of 0.040, there was no relationship between physical activity and dysmenorrhea with a p-value of 0.137, and there was a relationship between diet (fast food) and dysmenorrhea with a p-value of 0.025. Based on the results of the study, it is recommended to schools in order that can provide information related to adolescent reproductive health, especially about dysmenorrhea.Dysmenorrhea adalah salah satu masalah pada kesehatan reproduksi remaja. adapun faktor yang mempengaruhi dysmenorrhea yaituusia menarche, stress dan perilaku konsumsi fast food (Sulfa Diana1,Hedy Herdiana2, 2023), status nutrisi, pola menstruasi dan riwayat keluarga (Hayati et al., 2020), pengetahuan dan status gizi (Septi et al,.2021), lama menstruasi (Mouliza, 2020), aktivitas fisik (Sugiyanto & Luli, 2020), kualitas tidur (Cahyaningsih et al., 2021) dan asap rokok (Akbar et al., 2023). Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui hubungan antara lama menstruasi, aktivitas fisik dan pola makan (fast food) dengan dysmenorrhea. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain survey analitik melalui pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh santri putri tingkat SMA di Pesantren Ma’had Izzatuna Putri yang berjumlah 47 orang. Penentuan sampel di ambil dengan Teknik total sampling, sampel pelitian adalah seluruh santri putri SMA di Pesantren Ma’had Izzatuna Putri. Hasil dari uji chi-square didapatkan ada hubungan antara lama menstruasi dengan dysmenorrhea pada santri putri diperoleh p-value 0,040, tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan dysmenorrhea didapatkan p-value 0,137, dan ada hubungan antara pola makan (fast food) dengan dysmenorrhea didapatkan p-value 0,025. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk sekolah-sekolah agar dapat memberikan informasi terkait kesehatan reproduksi remaja terutama tentang dysmenorrhea
PROSES KEPERAWATAN: TAHAP INTERVENSI DALAM UPAYA PENCEGAHAN KOMPLIKASI PADA PASIEN HIPERTENSI
Hypertension is a chronic non-communicable disease with an increasing global and national prevalence. It is often referred to as a silent killer because it typically shows no symptoms until complications arise. Preventing complications in hypertensive patients can be achieved through nursing interventions that are not only procedural but also foster awareness, motivation, and active patient involvement. However, the effectiveness of such interventions in changing patient behavior remains relatively low. This study aims to examine the nursing intervention process as an effort to prevent complications in patients with hypertension. This research used a literature review design with data collected from Google Scholar, PubMed, and Semantic Scholar. The keywords used were “Hypertension,” “Complication prevention,” and “Nursing intervention.” Article selection was guided by the PRISMA framework and included articles written in English or Indonesian, relevant to the topic, full-text, open-access, and published within the last five years. The findings identified five main categories of nursing interventions: education and lifestyle modification, physical activity, non-pharmacological relaxation therapy, complementary therapies such as herbal remedies and acupuncture, and regular monitoring and evaluation. Comprehensive and integrated interventions have been shown to improve patient knowledge, adherence, and quality of life, while also reducing the risk of complications. Conclusion: Holistic nursing interventions play a critical role in preventing hypertension-related complications. Nurses hold a strategic position in designing and implementing effective interventions to improve patient health outcomes.Hipertensi merupakan penyakit kronis tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat secara global maupun nasional. Kondisi ini dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala hingga terjadi komplikasi serius. Pencegahan komplikasi pada pasien hipertensi dapat dilakukan melalui intervensi keperawatan yang tidak hanya bersifat prosedural, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, motivasi, dan keterlibatan aktif pasien. Namun, efektivitas intervensi keperawatan dalam mengubah perilaku pasien masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses intervensi keperawatan dalam upaya pencegahan komplikasi pada pasien hipertensi. Metode yang digunakan adalah literature review dengan sumber data dari Google Scholar, PubMed, dan Semantic Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian adalah “Hipertensi,” “Pencegahan komplikasi,” dan “Intervensi Keperawatan.” Seleksi artikel dilakukan menggunakan panduan PRISMA dengan kriteria inklusi berupa artikel berbahasa Indonesia atau Inggris, relevan, full-text, open access, dan terbit dalam lima tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori utama, yaitu edukasi dan perubahan gaya hidup, aktivitas fisik, terapi relaksasi non-farmakologis, terapi tambahan (herbal dan akupuntur), serta monitoring dan evaluasi berkala. Intervensi yang dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi terbukti meningkatkan pengetahuan, kepatuhan, dan kualitas hidup pasien serta menurunkan risiko komplikasi. Simpulan: Intervensi keperawatan yang menyeluruh memiliki peran penting dalam pencegahan komplikasi hipertensi. Perawat berperan strategis dalam merancang dan melaksanakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan hasil kesehatan pasien
DAMPAK LAMA PENGGUNAAN PERANGKAT DIGITAL TERHADAP PROGRESI MIOPIA ANAK
The increasing use of digital devices in children has been associated with the progression of myopia. This literature review aims to analyze the relationship between screen time duration and myopia acceleration in children. The study was conducted by reviewing 12 journals published between 2019 to 2024, using prospective and retrospective observational methods. The results showed that children who spent more than 3-4 hours per day in front of the screen experienced more significant axial elongation and refractive changes than those with lower duration of use. In addition, online learning during the COVID-19 pandemic has been a major factor in the increase in the duration of digital device use, contributing to the accelerated progression of myopia. The literature research involved searching online scientific databases such as Pubmed, Google Scholar, Semantic Scholar and ProQuest. This study emphasizes the importance of reducing screen time and increasing outdoor activities to reduce the risk of myopia in children.Penggunaan perangkat digital yang semakin meningkat pada anak-anak telah dikaitkan dengan progresi miopia. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi screen time dengan percepatan miopia pada anak-anak. Studi dilakukan dengan meninjau 12 jurnal yang dipublikasikan antara tahun 2019 hingga 2024, menggunakan metode observasional prospektif dan retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih dari 3-4 jam per hari di depan layar mengalami elongasi aksial dan perubahan refraksi yang lebih signifikan dibandingkan mereka dengan durasi penggunaan yang lebih rendah. Selain itu, pembelajaran daring selama pandemi COVID-19 menjadi faktor utama dalam peningkatan durasi penggunaan perangkat digital, yang berkontribusi terhadap percepatan progresi miopia. Riset literatur melibatkan penelusuran pada basis data ilmiah daring seperti Pubmed, Google Scholar, Semantic Scholar dan ProQuest. Studi ini menekankan pentingnya pengurangan screen time serta peningkatan aktivitas luar ruangan untuk mengurangi risiko miopia pada anak-anak
HUBUNGAN PENGETAHUAN, JARAK KEHAMILAN DAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANC DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH PUSKESMAS 7 ULU KOTA PALEMBANG TAHUN 2024
Chronic Energy Deficiency (CED) is the condition where a pregnant woman is deprived of nutrition for a long period of time which is characterized by a LILA size less than 23,5 cm. The aim of this study is to determine the relationship among knowledge, pregnancy spacing, frequency of ANC visits, and the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) among pregnant women. Factors that influence Chronic Energy Deficiency include: age, education, knowledge, economy, pregnancy spacing, ANC frequency, history of illness, parity, husband’s support and the role of health workers. This study used a cross-sectional approach which was conducted at Tujuh Ulu Community Health Centre Palembang on June 25, 2024 – June 29, 2024 by using univariate and bivariate analysis. The results obtained from the 81 respondents studied were 16 (19,8) respondents experienced CED, and 65 (80,2) respondents did not experience CED. Additionally, 21 respondents (25,9%) had less knowledge, 29 respondents (35,8%) had high risk pregnancy spacing, and 10 respondents (12,3%) had less frequency of ANC visits. The chi-square test revealed significant relationships between knowledge and the incidence of CED, with a p-value of 0.000, and between pregnancy spacing and the incidence of CED, with a p-value of 0.028. However, no significant relationship was found between the frequency of ANC visits and the incidence of CED, with a p-value of 0.102. It can be concluded that there is no relationship among knowledge, pregnancy spacing, and frequency of ANC visits simultaneously with the incidence of CED among pregnant women at 7 Ulu Community Health Centre in Palembang City. It is suggested that health workers at 7 Ulu Community Health Centre should increase counselling regarding the danger of CED and how to solve it so that the incidence of CED could be reducedKekurangan Energi Kronik (KEK) adalah dimana keadaan ibu hamil kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang lama yang ditandai dengan ukuran LILA kurang dari 23,5 cm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, jarak kehamilan dan frekuensi kunjungan ANC dengan kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Faktor yang mempengaruhi Kekurangan Energi Kronik meliputi: usia, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, jarak kehamilan, frekuensi ANC, riwayat penyakit, paritas, dukungan suami dan peran tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan crosss sectional yang dilakukan di Puskesmas Tujuh Ulu Kota Palembang pada tanggal 25 Juni 2024 - 29 Juni 2024 dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil yang didapatkan dari 81 responden yang diteliti ada 16 responden (19,8) yang mengalami kejadian KEK dan 65 responden (80,2) yang tidak mengalami KEK. Sebagian besar 21 responden (25,9%) dengan pengetahuan kurang, 29 responden (35,8%) jarak kehamilan risiko tinggi dan 10 responden (12,3%) frekuensi kunjungan ANC kurang. Berdasarkan uji chi-square diketahui bahwa ada hubungan pengetahuan dengan kejadian KEK diperoleh p value 0,000, ada hubungan jarak kehamilan dengan kejadian KEK diperoleh p value 0,028 dan tidak ada hubungan frekuensi kujungan ANC dengan kejadian KEK diperoleh p value 0,102. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan, jarak kehamilan dan frekuensi kunjungan ANC secara simultan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah Puskesmas 7 Ulu kota Palembang. Saran untuk tenaga kesehatan di Puskesmas 7 Ulu agar dapat meningkatkan penyuluhan mengenai bahaya KEK dan cara mengatasinya kepada ibu hamil, sehingga kejadian KEK dapat diturunka
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA KEBIDANAN UNIVERSITAS KADER BANGSA PALEMBANG TAHUN 2024
Berdasarkan data WHO (World Health Organization) Prevelensi gangguan kualitas tidur didunia bervariasi mulai dari 15,3% hingga 39,2%. Sebanyak 86% orang di seluruh dunia mengalami masalah gangguan pola tidur, sementara Negara Indonesia kualitas tidur pada remaja belum tercapai yaitu sebanyak 63%, gangguan tidur di yakini mempengaruhi 10% orang di Negara Indonesia. Menggunakan metode IMPAD Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor–faktor apa saja yang mempengaruhi secara simultan dengan kualitas tidur pada mahasiswa kebidanan di universitas kader bangsa Palembang tahun 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang bersifat survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa S1 dan D3 kebidanan semester akhir berjumlah 35 orang di Universitas Kader Bangsa Palembang pada bulan Juni-Juli 2024. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah 35 orang. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-Square diketahui bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kualitas tidur diperoleh p value = 1,000 (>0,05), ada hubungan yang signifikan antara pengguna smartphone dengan kualitas tidur diperoleh p value = 0,020 (≤0,05), tidak ada hubungan yang signifikan antara Tingkat Kecemasan dengan kualitas tidur diperoleh p value = 1,000 (>0,05). Maka disimpulkan bahwa ada hubungan penggunaan smartphone dan tidak ada hubungan tingkat stres dan tingkat kecemasan secara parsial maupun simultan dengan kualitas tidur pada mahasiswa kebidanan di universitas kader bangsa Palembang tahun 2024. Hasil penelitian ini diharapkan mahasiswa untuk lebih peduli pada jam tidur mereka agar kualitas tidur lebih baik dengan cara sholat terlebih dahulu biar tidur terasa lebih nyenyakBased on WHO (World Health Organization) data, the prevalence of sleep quality disorders in the world varies from 15.3% to 39.2%. There are 86% of people around the world experiencing problems with sleep patterns, while in Indonesia 63% of adolescents fail to achieve good sleep quality. Additionally, sleep disorders are estimated to affect 10% of the Indonesian population. Using the IMPAD method, the purpose of this study is to determine what factors simultaneously influence the sleep quality of midwifery students at the University of Kader Bangsa Palembang in 2024. The research design was quantitative research, particularly an analytic survey with a cross-sectional approach. The population in this study consisted of final-semester undergraduate (S1) and diploma (D3) midwifery students at University of Kader Bangsa, Palembang, totaling 35 students in June-July 2024. The study employed a total sampling technique, including all 35 participants. Based on the results of the Chi-square statistical test, it was figured out that there was no significant relationship between stress levels and sleep quality with obtained p value = 1.000 (>0.05), there was a significant relationship between smartphone users and sleep quality with obtained p value = 0.020 (≤0.05), there was no significant relationship between anxiety levels and sleep quality with obtained p value = 1.000 (>0.05). Therefore, it was concluded that smartphone use was related to sleep quality, while stress and anxiety levels had no partial or simultaneous relationship with sleep quality among midwifery students at University of Kader Bangsa Palembang, in 2024. The findings of this study highlight the importance of students being more mindful of their sleep schedules to improve sleep quality, including practicing relaxation techniques such as praying before sleep for a more restful experience
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MINAT AKSEPTOR MENGGUNAKAN KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS MUARA KUANG TAHUN 2024
Population problems have been a problem for many years in both developed and developing countries, including Indonesia. There are 10 countries with the largest population in the world, where the first rank is India with a population of 1.44 billion, second is China with a population of 1.43 billion, followed by the United States with a population of 341.03 million, and Indonesia is ranked fourth with a total of 278.82 million. The prevalence of modern contraceptive use or mCPR has increased, where in 2022 contraceptive use will be 58.7% (WHO, 2022). The aim of this research was to determine the relationship between knowledge, reproductive age and husband\u27s support on acceptors\u27 interest in using IUD contraception at the Muara Kuang Community Health Center. This type of research uses a quantitative analytical survey with a Cross Sectional research design. The population in this study were all mothers who used contraception. The sample in this study used the Slovin formula to obtain a sample of 56 respondents with a sampling technique using incidental sampling. Data were analyzed using the Chi-Square test. Univariate analysis found that there were 8 (14.3%) fewer mothers who were interested in using IUD contraception compared to 48 respondents (85.7%) who did not use IUD contraception. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between maternal knowledge where the value was (P-Value = 0.014), there was a significant relationship between reproductive age where the value was (P-Value = 0.023), and there was a significant relationship between husband\u27s support where (P-Value = 0.035) on acceptor interest in using IUD contraception at the Muara Kuang Health Center. The conclusion is that there is a relationship between knowledge, reproductive age and husband\u27s support on interest in using IUD contraception. Permasalahan kependudukan telah menjadi permasalahan selama bertahun-tahun baik di negara maju maupun berkembang, termasuk Indonesia. Terdapat 10 negara terbanyak dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia dimana peringkat pertama yaitu India dengan jumlah penduduk 1,44 miliar, kedua yaitu negara China dengan jumlah penduduk berjumlah 1,43 miliar, disusul oleh Ameriksa serikat berjumlah 341,03 juta, dan Indonesia menduduki peringkat ke empat dengan jumlah 278, 82 juta. Prevalensi penggunaan kontrasepsi modern atau mCPR mengalami peningkatan dimana pada tahun 2022 penggunaan kontrasepsi berjumlah 58,7% (WHO, 2022). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, usia reproduktif dan dukungan suami terhadap minat akseptor menggunakan kontrasepsi IUD di Puskesmas Muara Kuang. Jenis penelitian ini menggunakan survey analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang menggunakan kontrasepsi. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin sehingga mendapatkan sampel berjumlah 56 responden dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan acidental sampling. Data dianalisis dengan uji Chi-Square. Analisa univariat didapatkan bahwa ibu yang minat menggunakan kontrasepsi IUD berjumlah 8 (14.3%) responden lebih sedikit dibandingkan dengan responden yang tidak menggunakan kontrasepsi IUD berjumlah 48 responden (85.7%). Hasil analisa bivariat didapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan ibu nilai (P-Value = 0.014), ada hubungan bermakna antara usia reproduktif nilai (P-Value = 0.023), dan ada hubungan bermakna antara dukungan suami dimana (P-Value = 0.035) terhadap minat akseptor menggunakan kontrasepsi IUD di Puskesmas Muara Kuang. Kesimpulan ada hubungan pengetahuan, usia reproduktif dan dukungan suami terhadap minat penggunaan kontrtasepsi IUD. Diharapkan kepada ibu untuk menggunakan kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan
PERBANDINGAN TINGKAT KECEMASAN SEBELUM DAN SETELAH INTERVENSI EFFLURAGE MASSAGE DAN SUPPORT SYSTEM SUAMI SAAT KEHAMILAN TRIMESTER III SAMPAI SETELAH PROSES INTRANATAL PADA IBU PRIMIGRAVIDA DI KLINIK BIDAN MUTIARA PURWAKARTA
Kecemasan merupakan masalah psikologi yang sering dan banyak dialami oleh ibu hamil terutama primigravida trimester III sebetulnya kecemasan ini bersifat fisiologis namun jika tidak teratasi dapat berdampak buruk baik pada kesehatan ibu maupun janin, oleh karena itu perlu ada intervensi yang dapat mencegah serta mengatasi kecemasan. Intervensi yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengatasi kecemasan adalah intervensi farmakologi dan non farmakologi. Intervensi non farmakologi yang sering digunakan adalah pijat, latihan nafas, aromaterapi, kompres hangat, terapi musik dan dukungan suami. Teknik non farmakologi yang dipilih dalam penelitian ini adalah pijat dan dukungan suami. intervensi ini dipilih karena menurut penelitian sebelumnya sangat efektif, mudah, murah, tidak memerlukan sertifikasi khusus dan masuk ke dalam program pemerintah “asuhan sayang ibu”. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi. Metode penelitian yang di gunakan Pre-Experimental dengan one group pretest and posttest design. Subjek penelitian adalah ibu hamil trimester III. Subjek intervensi adalah seluruh subjek penelitian dan suami. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Jumlah sampel 25 (n=25). Pengambilan data dilakukan April sampai September 2025. Pengukuran kecemasan dengan menggunakan kuisioner PASS (Perinatal Anxiety Screnning Scale). Hasil uji validitas p<0,05 dan reliabilitas 0,06. Analisa data, menggunakan Wilcoxon. Hasil Penelitian menunjukkan tingkat kecemasan sebelum intervensi, mengalami kecemasan berat sebanyak 20 orang (80%) dengan skor nilai 28-41 sedangkan setelah dilakukan intervensi mengalami kecemasan ringan sebanyak 21 orang (84%) dengan skor 14-20, menunjukan adanya penurunan skor kecemasan sebesar 10,2 (95% IK 8–12). Terdapat perbedaan signifikan rerata tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p value 0,001.Kecemasan merupakan masalah psikologi yang sering dan banyak dialami oleh ibu hamil terutama primigravida trimester III sebetulnya kecemasan ini bersifat fisiologis namun jika tidak teratasi dapat berdampak buruk baik pada kesehatan ibu maupun janin, oleh karena itu perlu ada intervensi yang dapat mencegah serta mengatasi kecemasan. Intervensi yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengatasi kecemasan adalah intervensi farmakologi dan non farmakologi. Intervensi non farmakologi yang sering digunakan adalah pijat, latihan nafas, aromaterapi, kompres hangat, terapi musik dan dukungan suami. Teknik non farmakologi yang dipilih dalam penelitian ini adalah pijat dan dukungan suami. intervensi ini dipilih karena menurut penelitian sebelumnya sangat efektif, mudah, murah, tidak memerlukan sertifikasi khusus dan masuk ke dalam program pemerintah “asuhan sayang ibu”. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi. Metode penelitian yang di gunakan Pre-Experimental dengan one group pretest and posttest design. Subjek penelitian adalah ibu hamil trimester III. Subjek intervensi adalah seluruh subjek penelitian dan suami. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Jumlah sampel 25 (n=25). Pengambilan data dilakukan April sampai September 2025. Pengukuran kecemasan dengan menggunakan kuisioner PASS (Perinatal Anxiety Screnning Scale). Hasil uji validitas p<0,05 dan reliabilitas 0,06. Analisa data, menggunakan Wilcoxon. Hasil Penelitian menunjukkan tingkat kecemasan sebelum intervensi, mengalami kecemasan berat sebanyak 20 orang (80%) dengan skor nilai 28-41 sedangkan setelah dilakukan intervensi mengalami kecemasan ringan sebanyak 21 orang (84%) dengan skor 14-20, menunjukan adanya penurunan skor kecemasan sebesar 10,2 (95% IK 8–12). Terdapat perbedaan signifikan rerata tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p value 0,001