Universitas Muhammadiyah Sorong: eJournal Collections
Not a member yet
2015 research outputs found
Sort by
Restitution Rights for Child Victims of Sexual Violence: Justice or Legal Certainty
The purpose of this study is to analyze the fulfillment of restitution rights for child victims of sexual violence from the perspective of justice and legal certainty, as well as to examine the obstacles that prevent these rights from being optimally fulfilled in legal practice.
The method used is a normative legal approach with descriptive analysis.
The novelty of this research is that it emphasizes the need for judges to automatically award compensation to child victims of sexual violence, without waiting for a request from the victim, in order to achieve justice and legal certainty.
The results of the study show that although the right to restitution for child victims of sexual violence is regulated in various laws and regulations, its implementation is still far from optimal. This is due to complicated application procedures, the victims' lack of knowledge about their right to restitution, and weak law enforcement, as there are no strict sanctions for law enforcement officials who neglect their duties. Restitution as a form of compensation aims to restore the condition of the victim. However, in practice, this is often ignored by judges in deciding a case, especially if there is no request from the victim. This study highlights the importance of the active role of law enforcement officials in ensuring the fulfillment of the right to restitution without having to wait for a request from the victim, as well as the need for harmonization and confirmation of sanctions in legislation in order to realize justice and legal certainty for child victims of sexual violence.
The conclusion is that even though there are various laws and regulations governing restitution, the fulfillment of the right to restitution for child victims of sexual violence still faces normative and practical obstacles in Indonesia. In practice, many judges do not consistently consider the right to restitution, so that victims do not receive adequate compensation, thereby hindering their recovery process. Legal uncertainty is also caused by weak sanctions for negligent law enforcement officials, which means that victim protection depends on individuals rather than the system. The state should make restitution a fundamental legal obligation rather than merely an option to ensure justice and legal certainty for victims
Pemanfaatan Microsoft Word Dan Excel Dalam Administrasi Kampung: Pelatihan Bagi Aparat Kampung Saonek
Pada era digital, penggunaan teknologi informasi di tingkat pemerintahan desa sangat diperlukan, terutama dalam pengelolaan administrasi yang melibatkan aplikasi seperti Microsoft Word dan Excel. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan aparat Kampung Saonek dalam menggunakan software tersebut, sehingga dapat mendukung tugas-tugas administratif seperti penyusunan dokumen dan pengelolaan data. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Aula Kantor Desa Saonek selama lima hari, dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Materi meliputi pengenalan antarmuka, pembuatan dokumen, pengaturan tabel, hingga penggunaan fungsi Excel untuk pengelolaan data. Peserta yang terdiri dari aparat desa dan pengurus kampung menunjukkan peningkatan keterampilan dalam mengoperasikan Microsoft Office. Pelatihan ini berhasil memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat dalam mendukung tugas administratif dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat Kampung Saonek. Diharapkan keterampilan ini dapat terus diterapkan dalam kegiatan pemerintahan desa untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih baik
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Pulau Dom Distrik Sorong Kepulauan
This community service program was carried out to enhance knowledge, awareness, and community engagement in waste management on Dom Island, Sorong Islands District. The primary issue faced by the local community is a limited understanding of the negative impacts of waste and the lack of household waste sorting and recycling practices. To address these challenges, the implementation team employed a participatory approach through a socialization session held on June 16, 2025. The activity involved active participation from district government officials, community leaders, religious figures, and local residents. The materials presented included an introduction to types of waste, the dangers of pollution, and the implementation of the 3R principles (Reduce, Reuse, Recycle). The outcomes of the activity indicated an increased level of community understanding and commitment to environmental management, alongside the emergence of initiatives such as the formation of environmental volunteer groups and plans to establish a local waste bank. The synergy between government and community has proven to be a crucial factor in fostering collective behavioral change toward a cleaner and more sustainable environmentPengabdian ini dilaksanakan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah di Pulau Dom, Distrik Sorong Kepulauan. Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat setempat adalah kurangnya pemahaman tentang dampak buruk sampah dan minimnya praktik pemilahan serta daur ulang sampah rumah tangga. Untuk menjawab hal tersebut, tim pelaksana menggunakan pendekatan partisipatif melalui metode sosialisasi yang dilaksanakan pada 16 Juni 2025. Kegiatan ini melibatkan peran aktif dari aparatur pemerintah distrik, tokoh masyarakat, pemuka agama, dan warga lokal. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan jenis sampah, bahaya pencemaran, serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan komitmen masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan, serta munculnya inisiatif pembentukan kader lingkungan dan rencana pembentukan bank sampah. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat terbukti menjadi kunci penting dalam menciptakan perubahan perilaku kolektif menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjuta
KLASIFIKASI MUTU KAYU DAMAR (AGATHIS LABILLADERI WARB) BERDASARKAN KUAT TEKAN
Kayu damar putih (Agathis Labilladeri Warb) sering digunakan sebagai bahan konstruksi di Papua, khususnya di Kampung Bariat, untuk pembuatan papan dan balok. Papan berfungsi sebagai dinding dan lantai, sementara balok berperan sebagai tiang, pintu, dan jendela dalam struktur bangunan. Sifat fisik dan mekanik kayu menjadi faktor kunci dalam desain konstruksi kayu. Fokus Penelitian ini pada pengujian kuat tekan sejajar serat kayu dan klasifikasi berdasarkan SNI 7973: 2013. Pengujian melibatkan variasi kering udara dan kering oven. Hasilnya menunjukkan bahwa kuat tekan sejajar serat kayu damar putih pada variasi kering udara di TPK Bintang Tiurma adalah 41,84 MPa dengan Nilai Desain Acuan 17,44 MPa dan Kode Mutu E20. Pada variasi kering oven, TPK Bintang Tiurma memiliki nilai kuat tekan sejajar serat rata-rata 44,63 MPa dengan Nilai Desain Acuan 18,60 MPa dan Kode Mutu E20. Studi ini memberikan wawasan tentang karakteristik mekanik kayu damar putih dan mendukung penggunaannya sebagai bahan konstruksi di Papua
The STRUCTURAL ANALYSIS BASED ON SNI 1726:2019 ON THE DORMITORY BUILDING IN PEDURUNGAN SEMARANG
Kota Semarang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang letaknya di wilayah rawan gempa, khususnya di Kecamatan Pedurungan yang mengalami pertumbuhan penduduk cukup pesat. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan pembangunan hunian vertikal yang aman dan tahan terhadap bencana. Penelitian ini bertujuan untuk merancang struktur gedung asrama 6 lantai yang mampu menahan beban vertikal dan beban gempa. Selain itu, hasil perencanaan ini diharapkan menjadi acuan teknis dalam pengembangan infrastruktur bangunan bertingkat yang memenuhi kriteria kekuatan, stabilitas, serta kenyamanan penghuni. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan berbasis standar nasional (SNI) dan pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak ETABS. Data diperoleh dari studi literatur, penyelidikan tanah, serta simulasi struktur. Analisis dilakukan pada elemen pelat, balok, kolom, dan dinding geser, serta sistem pondasi tiang pancang menggunakan metode Meyerhof. Hasil menunjukkan bahwa semua elemen struktur memenuhi persyaratan. Simpangan maksimum antar lantai sebesar 41,76 mm masih di bawah batas izin 53,846 mm. Partisipasi massa melampaui 99%, dan daya dukung pondasi sebesar 2552,183 kN lebih besar dari beban rencana 2517,542 kN. Struktur dinyatakan aman dan layak dibangun. dibangun.Kota Semarang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang letaknya di wilayah rawan gempa, khususnya di Kecamatan Pedurungan yang mengalami pertumbuhan penduduk cukup pesat. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan pembangunan hunian vertikal yang aman dan tahan terhadap bencana. Penelitian ini bertujuan untuk merancang struktur gedung asrama 6 lantai yang mampu menahan beban vertikal dan beban gempa. Selain itu, hasil perencanaan ini diharapkan menjadi acuan teknis dalam pengembangan infrastruktur bangunan bertingkat yang memenuhi kriteria kekuatan, stabilitas, serta kenyamanan penghuni. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan berbasis standar nasional (SNI) dan pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak ETABS. Data diperoleh dari studi literatur, penyelidikan tanah, serta simulasi struktur. Analisis dilakukan pada elemen pelat, balok, kolom, dan dinding geser, serta sistem pondasi tiang pancang menggunakan metode Meyerhof. Hasil menunjukkan bahwa semua elemen struktur memenuhi persyaratan. Simpangan maksimum antar lantai sebesar 41,76 mm masih di bawah batas izin 53,846 mm. Partisipasi massa melampaui 99%, dan daya dukung pondasi sebesar 2552,183 kN lebih besar dari beban rencana 2517,542 kN. Struktur dinyatakan aman dan layak dibangun. dibangun
ANALISIS NEGOSIASI KONTRAKTOR DAN KONSULTAN PENGAWAS DALAM PENYELESAIAN ISU LAPANGAN PADA PROYEK
Proyek konstruksi merupakan kegiatan yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan latar belakang dan tujuan berbeda, termasuk kontraktor dan konsultan pengawas. Kondisi tersebut menuntut mekanisme negosiasi yang efektif guna menghasilkan penyelesaian konstruktif tanpa mengorbankan kualitas, biaya, maupun waktu. Penelitian ini difokuskan untuk mengeksplorasi bentuk negosiasi yang dijalankan oleh kontraktor dan konsultan pengawas dalam menghadapi persoalan lapangan, mengidentifikasi strategi komunikasi yang paling dominan digunakan dalam mencapai kesepakatan. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, telaah dokumen kontrak serta laporan pengawasan, dan observasi langsung pada proses pelaksanaan proyek. Data diperoleh dianalisis secara non-numerik melalui tahapan reduksi, koding, dan analisis tematik untuk mengungkap pola negosiasi yang berlangsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi antara kontraktor dan konsultan pengawas umumnya diarahkan pada strategi kolaboratif yang mengedepankan kompromi serta penyelesaian berbasis win-win solution. Meski demikian, pada situasi tertentu muncul strategi dominasi atau akomodasi, khususnya ketika terdapat tekanan waktu maupun keterbatasan teknis yang tidak memungkinkan penundaan. Faktor kejelasan dokumen kontrak, pengalaman masing-masing pihak, serta keterbukaan komunikasi teridentifikasi sebagai elemen krusial dalam keberhasilan negosiasi. Kesimpulan penelitian menegaskan efektivitas penyelesaian isu lapangan ditentukan oleh pola negosiasi yang adaptif dan komunikatif. Negosiasi yang terkelola dengan baik tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara kontraktor dan konsultan pengawas dalam mendukung keberlanjutan proyek konstruksi.Proyek konstruksi merupakan kegiatan yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan latar belakang dan tujuan berbeda, termasuk kontraktor dan konsultan pengawas. Kondisi tersebut menuntut mekanisme negosiasi yang efektif guna menghasilkan penyelesaian konstruktif tanpa mengorbankan kualitas, biaya, maupun waktu. Penelitian ini difokuskan untuk mengeksplorasi bentuk negosiasi yang dijalankan oleh kontraktor dan konsultan pengawas dalam menghadapi persoalan lapangan, mengidentifikasi strategi komunikasi yang paling dominan digunakan dalam mencapai kesepakatan. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, telaah dokumen kontrak serta laporan pengawasan, dan observasi langsung pada proses pelaksanaan proyek. Data diperoleh dianalisis secara non-numerik melalui tahapan reduksi, koding, dan analisis tematik untuk mengungkap pola negosiasi yang berlangsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi antara kontraktor dan konsultan pengawas umumnya diarahkan pada strategi kolaboratif yang mengedepankan kompromi serta penyelesaian berbasis win-win solution. Meski demikian, pada situasi tertentu muncul strategi dominasi atau akomodasi, khususnya ketika terdapat tekanan waktu maupun keterbatasan teknis yang tidak memungkinkan penundaan. Faktor kejelasan dokumen kontrak, pengalaman masing-masing pihak, serta keterbukaan komunikasi teridentifikasi sebagai elemen krusial dalam keberhasilan negosiasi. Kesimpulan penelitian menegaskan efektivitas penyelesaian isu lapangan ditentukan oleh pola negosiasi yang adaptif dan komunikatif. Negosiasi yang terkelola dengan baik tidak hanya Proyek konstruksi merupakan kegiatan yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan latar belakang dan tujuan berbeda, termasuk kontraktor dan konsultan pengawas. Kondisi tersebut menuntut mekanisme negosiasi yang efektif guna menghasilkan penyelesaian konstruktif tanpa mengorbankan kualitas, biaya, maupun waktu. Penelitian ini difokuskan untuk mengeksplorasi bentuk negosiasi yang dijalankan oleh kontraktor dan konsultan pengawas dalam menghadapi persoalan lapangan, mengidentifikasi strategi komunikasi yang paling dominan digunakan dalam mencapai kesepakatan. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, telaah dokumen kontrak serta laporan pengawasan, dan observasi langsung pada proses pelaksanaan proyek. Data diperoleh dianalisis secara non-numerik melalui tahapan reduksi, koding, dan analisis tematik untuk mengungkap pola negosiasi yang berlangsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi antara kontraktor dan konsultan pengawas umumnya diarahkan pada strategi kolaboratif yang mengedepankan kompromi serta penyelesaian berbasis win-win solution. Meski demikian, pada situasi tertentu muncul strategi dominasi atau akomodasi, khususnya ketika terdapat tekanan waktu maupun keterbatasan teknis yang tidak memungkinkan penundaan. Faktor kejelasan dokumen kontrak, pengalaman masing-masing pihak, serta keterbukaan komunikasi teridentifikasi sebagai elemen krusial dalam keberhasilan negosiasi. Kesimpulan penelitian menegaskan efektivitas penyelesaian isu lapangan ditentukan oleh pola negosiasi yang adaptif dan komunikatif. Negosiasi yang terkelola dengan baik tidak hanya 
Pengaruh Kepemimpinan, Kompetensi, dan Disiplin Terhadap Kinerja dengan Motivasi Sebagai Variabel Mediasi Pada Guru SMP Kabupaten Tambrauw
This study aims to analyze the influence of principal leadership, teacher competence, and work discipline on teacher performance with work motivation as a mediating variable. The method used is quantitative with SEM-PLS analysis techniques. The population consists of 136 teachers, with a sample of 85 teachers. The results of the study indicate that teacher competence has a significant effect on teacher performance, while principal leadership, work discipline, and work motivation are not significant. Work motivation is also not proven to be a mediator. The implication is that it is recommended to focus on improving teacher competence.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi guru, dan disiplin kerja terhadap kinerja guru dengan motivasi kerja sebagai variabel mediasi. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik analisis SEM-PLS. Populasi berjumlah 136 guru, dengan sampel yang dapat diolah berjumlah 85 guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi guru memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja guru, sementara kepemimpinan kepala sekolah, disiplin kerja, dan motivasi kerja tidak signifikan. Motivasi kerja juga tidak terbukti sebagai mediasi. Implikasinya, disarankan fokus pada peningkatan kompetensi guru
Perceptions of Stunting: Negotiating Local and Medical Knowledge in Jeneponto, South Sulawesi
The problem of stunting is still a complex social and health issue in Indonesia, including in Jeneponto Regency, South Sulawesi, which has the highest prevalence of stunting in the province. People in this region have a different understanding of the concept of stunting compared to the medical definition used by the government. This research aims to analyze how the people of Jeneponto build an understanding of stunting through negotiations between local knowledge and medical knowledge. The research uses a qualitative approach with phenomenological design. A total of 15 informants were selected purposively, consisting of parents of children under five, health workers, posyandu cadres, community leaders, and local government officials. Data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and documentation studies, then analyzed inductively using manual coding techniques. The results of the study show that people do not view stunting as a health problem, but as a social opportunity to obtain nutritional assistance and economic support. The label "stunting" is interpreted as a survival strategy in a formal policy structure that provides access to resources. The conclusion of the study emphasizes that the stunting phenomenon in Jeneponto is the result of a social construction that reflects the adaptation of the community to state policies, so that efforts to handle it need to pay attention to the social context and local rationality of the community
The Power of Progressive Islamic Identity in Managing Charitable Activities in the Field of Education at Muhammadiyah University Malang
This study discusses the role of Progressive Islam identity in the management of educational charitable activities at Muhammadiyah University Malang (UMM). Since its establishment, Muhammadiyah has emphasized the idea of progressive Islam, which is reflected in various charitable activities, including education. UMM, as a leading Muhammadiyah university, plays an important role in implementing Progressive Islam values in the field of education. This study aims to explore how this identity is applied in the management of education at UMM and the relationship between ideology and managerial practices. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and documentation related to education management policies and practices. The results show that Progressive Islam identity is the foundation for curriculum development, educational policy, and academic culture at UMM, despite challenges in consistent implementation. This identity strengthens the university's moral legitimacy, curriculum innovation, management integrity, and social reputation, making it a transformational force in educational management.pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sejak didirikan, Muhammadiyah menekankan gagasan Islam progresif yang tercermin dalam berbagai amal usaha, termasuk pendidikan. UMM, sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah terkemuka, memainkan peran penting dalam mengimplementasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan di bidang pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana identitas tersebut diterapkan dalam pengelolaan pendidikan di UMM serta hubungan antara ideologi dan praktik manajerialnya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terkait kebijakan dan praktik pengelolaan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Islam Berkemajuan menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum, kebijakan pendidikan, dan budaya akademik di UMM, meski dihadapkan pada tantangan konsistensi penerapan. Identitas ini memperkuat legitimasi moral, inovasi kurikulum, integritas manajemen, dan reputasi sosial universitas, menjadikannya kekuatan transformasional dalam pengelolaan pendidikan
The Influence of Hedonic Motivation on Online Purchase Intention: The Mediating Role of Information Availability Among University Student in Bandung
This study aims to examine the effect of hedonic motivation on online purchase intention (OPI) among university students in Bandung who represent a large segment of digital natives, while also analyzing the mediating role of information availability. Data were collected through an online questionnaire consisting of 18 indicators and obtained 228 valid responses. The analysis was conducted using Partial Least Squares Structural Equation Modeling with SmartPLS 4. The results of the measurement model confirmed that all constructs met the requirements for convergent validity, discriminant validity, and reliability. Among the dimensions of hedonic motivation, gratification shopping emerged as the strongest predictor, while social shopping showed weaker influence. These findings highlight the importance of emotional satisfaction and enjoyable shopping experiences in shaping students’ online purchase behavior. This study contributes to the literature on digital consumer behavior and provides practical implications for e-commerce platforms to strengthen hedonic values, particularly through strategies that integrate social interaction to increase purchase intention among young consumers. Future research is encouraged to include other constructs such as utilitarian motivation, e-service quality, and electronic word of mouth, as well as broader samples to improve external validity