Universitas Muhammadiyah Sorong: eJournal Collections
Not a member yet
2015 research outputs found
Sort by
Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility) Dinas Sosial PPPA Kabupaten Banjarnegara Berbasis Website
Coorporate Social Responsibility (CSR) merupakan kewajiban badan usaha. Dinas Sosial PPPA merupakan lembaga Pemerintah Daerah di Kabupaten Banjarnegara yang bertugas dan berwenang dalam memfasilitasi dan mensosialisasikan pelaksanaan kegiatan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Badan Usaha (TJSLBU) di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Pada tahun 2022-2024 tercatat ada 43 badan usaha yang melaksanakan program CSR. Perusahaan atau badan usaha tersebut memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan pelaporan kegiatan CSR baik pada fase perencanaan dan fase laporan pertanggungjawaban kepada Dinas Sosial PPPA Kabupaten Banjarnegara. Pada pelaksanaannya, Dinas Sosial PPPA Kabupaten Banjarnegara mengalami beberapa kendala diantaranya, sistem untuk menunjang pelaksanaan TJSLBU belum sistematis, belum memiliki sistem pelaporan yang dapat diakses secara online, masih ada badan usaha yang belum terdata, masih berkirim surat fisik ke badan usaha setiap akhir tahun, terdapat badan usaha yang sudah melaksanakan kegiatan TJSLBU (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Badan Usaha) tetapi tidak dilaporkan, dan pengelolaan laporan yang tidak tersistem dengan baik Tujuan penelitian ini adalah untuk membangun sistem yang digunakan untuk mengolah data dan laporan TJSLBU berbasis website. Sistem ini dibangun menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi digunakan sebagai metode pengumpulan data, waterfall untuk pengembangan sistem, serta menggunakan Framework Laravel. Dari hasil penelitian didapatkan skor rata-rata 89,72 persen yang masuk dalam kriteria sangat layak, sehingga disimpulkan bahwa sistem yang dibangun dapat di implementasikan untuk memudahkan pengelolaan dan pelaporan program TSJLBU.Coorporate Social Responsibility (CSR) merupakan kewajiban badan usaha. Dinas Sosial PPPA merupakan lembaga Pemerintah Daerah di Kabupaten Banjarnegara yang bertugas dan berwenang dalam memfasilitasi dan mensosialisasikan pelaksanaan kegiatan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Badan Usaha (TJSLBU) di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Pada tahun 2022-2024 tercatat ada 43 badan usaha yang melaksanakan program CSR. Perusahaan atau badan usaha tersebut memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan pelaporan kegiatan CSR baik pada fase perencanaan dan fase laporan pertanggungjawaban kepada Dinas Sosial PPPA Kabupaten Banjarnegara. Pada pelaksanaannya, Dinas Sosial PPPA Kabupaten Banjarnegara mengalami beberapa kendala diantaranya, sistem untuk menunjang pelaksanaan TJSLBU belum sistematis, belum memiliki sistem pelaporan yang dapat diakses secara online, masih ada badan usaha yang belum terdata, masih berkirim surat fisik ke badan usaha setiap akhir tahun, terdapat badan usaha yang sudah melaksanakan kegiatan TJSLBU (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Badan Usaha) tetapi tidak dilaporkan, dan pengelolaan laporan yang tidak tersistem dengan baik Tujuan penelitian ini adalah untuk membangun sistem yang digunakan untuk mengolah data dan laporan TJSLBU berbasis website. Sistem ini dibangun menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi digunakan sebagai metode pengumpulan data, waterfall untuk pengembangan sistem, serta menggunakan Framework Laravel. Dari hasil penelitian didapatkan skor rata-rata 89,72 persen yang masuk dalam kriteria sangat layak, sehingga disimpulkan bahwa sistem yang dibangun dapat di implementasikan untuk memudahkan pengelolaan dan pelaporan program TSJLBU
Deteksi Keretakan Permukaan Gedung Menggunakan Algoritma YOLO Berbasis Web
Keretakan permukaan gedung merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada bangunan, yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti bencana alam, perubahan temperatur, kelembaban tinggi, dan penggunaan bahan bangunan berkualitas rendah. Permasalahan ini dapat mengancam keselamatan dan kenyamanan pengguna bangunan jika tidak segera ditangani. Metode konvensional dalam mendeteksi keretakan pada bangunan sering kali melibatkan inspeksi manual yang memakan waktu dan berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem deteksi keretakan permukaan gedung menggunakan algoritma YOLO (You Only Look Once) berbasis web. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam mendeteksi keretakan dengan memanfaatkan teknologi pemrosesan citra dan pembelajaran mendalam (deep learning). Algoritma YOLO dipilih karena kemampuannya dalam melakukan deteksi objek secara dengan tingkat akurasi yang tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem deteksi keretakan permukaan gedung menggunakan algoritma YOLOv8 berbasis web berhasil mencapai tingkat akurasi sebesar 54,8%, dengan nilai precision sebesar 62,9%, recall sebesar 81,1%, F1-score sebesar 70,1%, dan nilai mAP sebesar 75,1%. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif dan efisien dalam memantau kondisi bangunan, mengurangi risiko kecelakaan kerja, dan meningkatkan keselamatan serta kenyamanan pengguna gedung.Keretakan permukaan gedung merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada bangunan, yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti bencana alam, perubahan temperatur, kelembaban tinggi, dan penggunaan bahan bangunan berkualitas rendah. Permasalahan ini dapat mengancam keselamatan dan kenyamanan pengguna bangunan jika tidak segera ditangani. Metode konvensional dalam mendeteksi keretakan pada bangunan sering kali melibatkan inspeksi manual yang memakan waktu dan berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem deteksi keretakan permukaan gedung menggunakan algoritma YOLO (You Only Look Once) berbasis web. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam mendeteksi keretakan dengan memanfaatkan teknologi pemrosesan citra dan pembelajaran mendalam (deep learning). Algoritma YOLO dipilih karena kemampuannya dalam melakukan deteksi objek secara dengan tingkat akurasi yang tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem deteksi keretakan permukaan gedung menggunakan algoritma YOLOv8 berbasis web berhasil mencapai tingkat akurasi sebesar 54,8%, dengan nilai precision sebesar 62,9%, recall sebesar 81,1%, F1-score sebesar 70,1%, dan nilai mAP sebesar 75,1%. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif dan efisien dalam memantau kondisi bangunan, mengurangi risiko kecelakaan kerja, dan meningkatkan keselamatan serta kenyamanan pengguna gedung
Supply Chain Risk Management untuk Strategi Pengelolaan Sampah Menggunakan House of Risk
Currently, the waste section of Manggala District, Makassar City, still encounters many risks that commonly occur in the waste management supply chain from the waste source to the Temporary Disposal Site (TPS) and then to the Final Disposal Site (TPA). This causes the volume of waste to increase every day due to the lack of segregation of waste from waste sources so that waste in the TPS is scattered due to the fact that the trash cans are no longer able to accommodate it and finally the TPA is over capacity without any effective handling to reduce the volume of waste. Therefore it is necessary to handle the risks that occur. This study aims to provide recommendations for sustainable mitigation strategies to reduce the impact of risks on waste management using the Delphi method to identify potential risks. Using the House of Risk (HOR) in the risk analysis and evaluation stages to determine mitigation strategies. Research data collection was carried out by observation, interviews, questionnaires, brainstorming, and focus group discussions (FGD). Based on the research results it is known that there are 18 risk events and 65 identified risk agents. Furthermore, a mitigation strategy for risk agents is carried out using 16 preventive actions that have been designed using HOR phase II, for further research it is hoped that it will be able to develop waste management in other sub-districts in Makassar City.Seksi persampahan Kecamatan Manggala Kota Makassar saat ini masih menemukan banyak risiko yang umum terjadi pada supply chain pengelolaan sampah dari sumber sampah menuju Tempat Pembuangan Sementara (TPS) selanjutnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal ini menyebabkan semakin meningkatnya volume sampah setiap hari karena kurangnya pemilahan sampah dari sumber sampah sehingga sampah di TPS berserakan akibat bak sampah tidak mampu lagi untuk menampung dan akhirnya TPA mengalami over kapasitas tanpa ada penangangan yang efektif untuk mengurangi volume sampah. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan pada risiko yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan usulan strategi mitigasi yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak risiko pada pengelolaan sampah dengan metode Delphi untuk mengidentifikasi potensial risiko. Menggunakan House of Risk (HOR) pada tahapan analisis dan evaluasi risiko untuk menentukan strategi mitigasi. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner, brainstorming, dan focus group discussion (FGD). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 18 risk event dan 65 risk agent yang teridentifikasi. Selanjutnya dilakukan strategi mitigasi pada risk agent menggunakan 16 preventive action yang telah dirancang menggunakan HOR fase II, untuk penelitian selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan pengelolaan sampah yang berada di kecamatan lainnya di Kota Makassa
Analisis Pengukuran Overall Equipment Effectiveness (OEE) Mesin Rice Milling Unit di CV Fajar Samudra
CV Fajar Samudra is a company that manages rice in Sumbawa. The rice processing process per day can produce + 3 thousand tons of harvested dry grain (GKP) and also produce 50 tons of milled dry grain (GKG) which can later produce around 30 tons of rice. Based on the results of the interview, the problem with the rice grinding machine occurred because the v-belt of the machine broke/loose so that the machine stopped and did not operate for +4 hours. This research uses OEE (Overall Equipment Effectiveness) calculations, namely measuring the level of effectiveness of machine use by calculating machine availability, performance and quality of the products produced. OEE calculates availability, performance and quality. The calculation results from this research show that the availability value is 94.34%, performance 52.44% and quality 99.62%. The OEE value obtained was 47.79% (low). So it can be seen that the highest Losses of CV Fajar Samudra on the rice milling unit machine is the Reduce speed Losses of 39.33% in October 2023.CV Fajar Samudra merupakan perusahaan yang mengelolah padi di Sumbawa. Proses pengolahan padi perhari bisa menghasilkan + 3 ribu ton gabah kering panen (GKP) dan juga menghasikan 50 ton gabah kering giling (GKG) yang nantinya bisa menghasilkan beras sekitar 30 ton. Berdasarkan hasil wawancara permasalahan pada mesin pengiling beras ini terjadi karena diakibatkan v-belt mesin putus/kendor sehingga mesin berhenti dan tidak beroperasi + 4 jam. Penelitian ini mengunakan perhitungan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yakni mengukur tingkat efektivitas penggunaan mesin dengan menghitung ketersediaan mesin, performa, dan kualitas produk yang dihasilkan. OEE menghitung availability, performance dan quality. Hasil perhitungan dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai avaibility sebesar 94,34%, Performace 52,44% dan Quality 99,62%. Nilai OEE yang didapat yakni sebesar 49,28% (rendah). Sehingga dapat dilihat bahwa losses tertinggi CV Fajar Samudra pada mesin rice mlling unit yaitu Reduce speed Losses sebesar 39,33% pada bulan Oktober 202
Analisa Pengendalian Kualitas Produk Dengan Metode Six Sigma PT. XYZ
PT XYZ. Is an industrial company that produces galvalume toilet doors. August 2024. Successfully produced 11,147 non-coloring galvalume doors and 1,645 existing defective products. These problems are caused by a variety of factors including machines, people, and materials. To overcome this problem, the Six Sigma method was integrated with the DMAIC approach. The aim of this approach is to identify the causes of defects and provide solutions and preventive measures to reduce the occurrence of defective products. Types with broken rivets 49.06%, fast frame coming off 19.88%, loose 11.00%, loose 5.11%, black scratches 2.86%, rivets not up to 2.55%, brand, rust & scratches 2.43%, brands & scratches 1.52%, length 1.46%, dents & loose 1.22%, stains & scratches 0.97%, tilted 0.36%, black stains 0.30%, poor installation 0.30%, loose & loose connections 0.30%, scratches & dents 0.18%, rusted 0.12%, rust & scratches 0.12%, dents 0.12%, loose connections 0.06%, reversed 0.06%. Broken rivets are the most common cause of product defects. PT. XYZ. Measured using defects per million occurrences (DPMO) and shows that the quality of the door product is at a sigma level of 6.030 and a DPMO value of 4.676. Factors include galvalume and rivet nails that do not meet production standards, as well as worker negligence during the production process. Based on these findings, several suggestions were put forward, including the need for a control list to check good and bad raw materials.PT. XYZ merupakan perusahaan industri yang memproduksi pintu toilet galvalume. Bulan agustus 2024. Berhasil memproduksi pintu galvalume non coloring 11,147 dan 1,645 produk cacat yang ada. Masalah-masalah ini disebabkan oleh berbagai faktor termasuk mesin, orang, dan material. Untuk mengatasi masalah ini, metode Six Sigma diintegrasikan dengan pendekatan DMAIC. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab cacat dan memberikan solusi serta tindakan pencegahan untuk mengurangi terjadinya produk cacat. Jenis yang ada rivetan patah 49,06%, cepet kusen lepas 19,88%, renggang 11,00%, lepas 5,11%, goresan hitam 2,86%, rivetan tidak sampai 2,55%, merk, karat & goresan 2,43%, merk & goresan 1,52%, kepanjangan 1,46%, penyok & lepas 1,22%, noda & goresan 0,97%, miring 0,36%, noda hitam 0,30%, pemasangan kurang pas 0,30%, sambungan lepas & renggang 0,30%, goresan & penyok 0,18%, berkarat 0,12%, karat & goresan 0,12%, penyok 0,12%, sambungan lepas 0,06%, terbalik 0,06%. Rivetan patah merupakan penyebab paling umum cacat produk. Tingkat kualitas produk PT. XYZ. Diukur menggunakan cacat per satu juta kejadian (DPMO) dan menunjukkan bahwa kualitas produk pintu berada pada tingkat sigma 6,030 dan nilai DPMO 4,676. Faktor-faktor adalah galvalume dan paku rivet yang tidak memenuhi standar produksi, serta kelalaian pekerja saat proses produksi berlangsung Berdasarkan temuan tersebut, beberapa saran diajukan, termasuk perlunya daftar control untuk ceklist bahan baku yang baik dan buruk
Fish Farming Business Management Strategy Using the Business Model Canvas Method: An Islamic Economics Perspective
This study aims to analyze the management strategy of a fish farming business using the Business Model Canvas (BMC) approach and to review its practices from an Islamic economic perspective in Tanjung Rejo Village, Percut Sei Tuan District. The research employs a descriptive qualitative method, with data collected through interviews, observation, and documentation. As a novel contribution, this study integrates BMC and Islamic economics to provide a comprehensive analytical framework that connects business efficiency with ethical values. The findings indicate that while the existing BMC management is functional, there are significant weaknesses in the customer segments and distribution channels, leading to a strong dependence on middlemen (tengkulak). From an Islamic economics perspective, principles of justice, honesty, and social solidarity (tafakul ijtimāʿī) have been applied, but the primary challenge lies in the financing practices, which have the potential for riba. In conclusion, this research suggests that optimizing the business model and transitioning to equitable sharia financing are key to the sustainable development of the fish farming business. The practical implications of this study recommend diversifying products and markets, strengthening local partnerships like cooperatives, and providing access to sharia-compliant capital to support the independence of the fish farmers.This study aims to analyze the management strategy of a fish farming business using the Business Model Canvas (BMC) approach and to review its practices from an Islamic economic perspective in Tanjung Rejo Village, Percut Sei Tuan District. The research employs a descriptive qualitative method, with data collected through interviews, observation, and documentation. As a novel contribution, this study integrates BMC and Islamic economics to provide a comprehensive analytical framework that connects business efficiency with ethical values. The findings indicate that while the existing BMC management is functional, there are significant weaknesses in the customer segments and distribution channels, leading to a strong dependence on middlemen (tengkulak). From an Islamic economics perspective, principles of justice, honesty, and social solidarity (tafakul ijtimāʿī) have been applied, but the primary challenge lies in the financing practices, which have the potential for riba. In conclusion, this research suggests that optimizing the business model and transitioning to equitable sharia financing are key to the sustainable development of the fish farming business. The practical implications of this study recommend diversifying products and markets, strengthening local partnerships like cooperatives, and providing access to sharia-compliant capital to support the independence of the fish farmers
THE EFFECT OF FUNGICIDE (ANTRACOL) ON THE SURVIVAL OF NILA FISH
Aplikasi fungisida Antracol dalam praktik budidaya pertanian berpotensi menimbulkan konsekuensi yang mengkhawatirkan bagi keseimbangan ekosistem aquatik, terutama terhadap biota perairan. Studi ini dirancang untuk mengevaluasi dampak variasi dosis Antracol terhadap tingkat survivabilitas ikan nila (Oreochromis niloticus) serta karakteristik parameter lingkungan perairan. Metodologi penelitian mengimplementasikan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan mengaplikasikan 5 variasi tingkat konsentrasi (0,01; 0,1; 1; 10; 100 ppm) ditambah kelompok kontrol, dimana setiap perlakuan direplikasi sebanyak 2 kali. Temuan penelitian mengindikasikan terjadinya degradasi yang signifikan pada persentase kelangsungan hidup berbanding lurus dengan eskalasi konsentrasi Antracol, dengan persentase kematian puncak mencapai 85% pada aplikasi konsentrasi 100 ppm. Karakteristik parameter kualitas perairan mengalami transformasi yang substantial, meliputi reduksi kandungan oksigen terlarut hingga mencapai level 1,5 mg/L, variabilitas nilai pH dalam rentang 7,49-8,18, serta elevasi temperatur yang mencapai 30,5°C. Evaluasi statistik mengungkapkan adanya hubungan korelasi positif yang sangat kuat (r > 0,95) antara tingkat konsentrasi Antracol dengan persentase mortalitas, menunjukkan pola respon yang bersifat eksponensial. Hasil investigasi ini mengkonfirmasi bahwa Antracol memiliki potensi toksisitas yang substantial terhadap ikan nila bahkan ketika diaplikasikan dalam konsentrasi yang relatif rendah, sehingga menekankan urgensi implementasi sistem manajemen yang lebih rigorous dalam penggunaan fungisida di kawasan pertanian yang berdekatan dengan habitat perairan.The use of Antracol fungicide in agricultural activities can have serious impacts on aquatic ecosystems, especially on aquatic organisms. This study aims to analyze the effect of various concentrations of Antracol on the survival of tilapia (Oreochromis niloticus) and water quality parameters. Using a Completely Randomized Design (CRD) with 5 concentration treatments (0.01; 0.1; 1; 10; 100 ppm) and control, each with 2 replications. The results showed a significant decrease in survival rate as the concentration of Antracol increased, with the highest mortality rate of 85% at a concentration of 100 ppm. Water quality parameters experienced substantial changes, including a decrease in dissolved oxygen to 1.5 mg/L, pH fluctuations between 7.49-8.18, and an increase in temperature reaching 30.5°C. Statistical analysis revealed a strong positive correlation (r > 0.95) between Antracol concentration and mortality rate, with an exponential response pattern. These findings indicate that Antracol has significant toxic effects on tilapia even at low concentrations, emphasizing the importance of stricter management of fungicide use in agricultural areas near water bodies
Implications of Halal Product Certification For Small and Medium Enterprises in the Food Sector in Angkola Barat District, South Tapanuli Regency
This research investigates the implications of halal product certification for micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in the food and beverage sector across West Angkola and South Tapanuli Regencies. Using a qualitative case study approach, data was gathered from key informants, including the District Secretary, the Head of the Religious Affairs Office, a Halal Product Certification Process Facilitator (P3H), and MSME business owners, both certified and non-certified.The findings reveal that while MSMEs have a deep conceptual understanding of “halal,” which includes both Shariah principles and the concept of thayyib (good and clean), there is a significant gap between this understanding and the formal procedural knowledge required for certification. Despite government socialization efforts, many MSMEs are reluctant to apply for certification due to a lack of information, a perception of high costs, and time constraints.In contrast, proactive MSMEs are motivated by direct support from P3H facilitators, whose role proves crucial in bridging this knowledge gap. Halal certification brings tangible benefits to MSMEs: it boosts consumer trust and loyalty by serving as a mark of credibility and quality assurance, expands market access locally, regionally, and nationally, and indirectly encourages business owners to improve their business quality and professionalism.The study concludes that socialization alone is insufficient without intensive, personalized facilitation and assistance from parties like P3H. This direct support is essential for helping MSMEs overcome practical barriers and encouraging them to take proactive steps toward obtaining halal certification.This research investigates the implications of halal product certification for micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in the food and beverage sector across West Angkola and South Tapanuli Regencies. Using a qualitative case study approach, data was gathered from key informants, including the District Secretary, the Head of the Religious Affairs Office, a Halal Product Certification Process Facilitator (P3H), and MSME business owners, both certified and non-certified.The findings reveal that while MSMEs have a deep conceptual understanding of “halal,” which includes both Shariah principles and the concept of thayyib (good and clean), there is a significant gap between this understanding and the formal procedural knowledge required for certification. Despite government socialization efforts, many MSMEs are reluctant to apply for certification due to a lack of information, a perception of high costs, and time constraints.In contrast, proactive MSMEs are motivated by direct support from P3H facilitators, whose role proves crucial in bridging this knowledge gap. Halal certification brings tangible benefits to MSMEs: it boosts consumer trust and loyalty by serving as a mark of credibility and quality assurance, expands market access locally, regionally, and nationally, and indirectly encourages business owners to improve their business quality and professionalism.The study concludes that socialization alone is insufficient without intensive, personalized facilitation and assistance from parties like P3H. This direct support is essential for helping MSMEs overcome practical barriers and encouraging them to take proactive steps toward obtaining halal certification
Evaluation of 100 Meter Sprint Running Skills for Grade X Students of Tunas Bangsa Vocational School
This study aims to evaluate the 100-meter sprint running skills of class X students of SMK Tunas Bangsa. The type of research is descriptive. The method used in this study is a survey method with data collection techniques using observation sheets. The population in this study were class X students of SMK Tunas Bangsa. The data collection technique in the study used the total sampling technique, so the number of samples in this study was 30 students. Data analysis used quantitative descriptive which was expressed in the form of a percentage. The results of the study showed that the analysis of the 100-meter sprint running learning outcomes of class X students of SMK Tunas Bangsa was in the "very poor" category of 6.67% (2 students), the "poor" category of 20% (6 students), the "moderate" category of 46.67% (14 students), the "good" category of 26.67% (8 students), and the "very good" category of 0% (0 students). Based on the average value of 79.33, the 100-meter sprint running learning outcomes of class X students of SMK Tunas Bangsa were in the "moderate" category.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keterampilan lari sprint 100 meter pada siswa kelas X SMK Tunas Bangsa. Jenis penelitian adalah deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Tunas Bangsa. Teknik pengambilan data dalam penelitian menggunakan teknik total sampling, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 30 siswa Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif yang dituangkan dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis Hasil belajar lari sprint 100 meter pada siswa kelas X SMK Tunas Bangsa berada pada kategori "sangat kurang" sebesar 6,67% (2 siswa), kategori "kurang" sebesar 20% (6 siswa), kategori "sedang" sebesar 46,67% (14 siswa), kategori "baik" sebesar 26,67% (8 siswa), dan kategori "sangat baik" sebesar 0% (0 siswa). Berdasarkan nilai rata-rata yaitu 79,33, hasil belajar lari sprint 100 meter pada siswa kelas X SMK Tunas Bangsa masuk dalam kategori "sedang"
Sacred Justice: The Autonomy of Traditional Villages in Resolving Customary Disputes in Bali
The aim of this study is a fundamental part of Indonesia's state structure, as it has existed since Indonesia's independence and has been recognized within the legal framework. This recognition is enshrined in Article 18B of the 1945 Constitution and reinforced by Law No. 6 of 2014 on Villages. In Bali, customary law communities, known as krama desa, have special rights, including autonomous governance over local affairs. This study focuses on the autonomy of customary villages in Bali, particularly in resolving customary disputes.
The study method used is normative legal research with a legislative approach, analyzing the legal provisions governing customary villages and their dispute resolution mechanisms.
The novelty of this research contributes to the discourse on legal certainty and justice for customary law communities by clarifying the extent of the authority of customary villages in resolving customary law violations.
The results of the study indicate that customary villages in Bali have legal authority to resolve customary law violations, as stipulated in Article 104(d) of the Village Law and Article 24(l) of the Bali Customary Village Regulation. This affirms their role in maintaining order through customary law traditions.
In conclusion traditional villages in Indonesia, including in Bali, are constitutionally recognized and granted autonomy in governance and dispute resolution. To enhance legal certainty, traditional villages should establish clear procedural guidelines (awig-awig) for resolving disputes through traditional deliberative assemblies (paruman adat). This approach can ensure justice while maintaining environmental and social harmony within the customary legal system