Jurnal Keperawatan Indonesia (JKI)
Not a member yet
    579 research outputs found

    Development of A Telenursing-Based Self-Assessment Questionnaire for Diabetic Foot Ulcer Risk

    No full text
    Development of a Telenursing-Based Self-Assessment Questionnaire for Diabetic Foot Ulcer Risk. Early identification of the risk of diabetic foot ulcers (DFU) is crucial in preventing ulcers. Caring for diabetic patients, including early detection of the risk of DFU with telenursing, will improve accessibility to health facilities and also help the work of nurses. Currently, there are many instruments or tools to detect the risk of DFU, but instruments that apply telenursing and can be used independently and easily by patients are still limited. This study aimed to develop a digital self-assessment questionnaire for DFU risk in type 2 Diabetes Mellitus (DM) patients and conduct validity and reliability tests. This study was carried out in three stages. The first stage was the planning stage by conducting a literature study; the second stage was the construction by determining the questionnaire items and testing the content validity index (CVI) by six experts; and the final stage was the validation stage by conducting a psychometric test in the form of a construct validity test with factor validity and internal consistency reliability with Cronbach-alpha on 40 respondents who had type 2 DM. The CVI score by the expert was 0.93, making it included in the very high validity category. The validity and reliability test results for the DM patients obtained a Cronbach alpha score of 0.83 and a validity of 0.43˗0.68. Two items were deleted due to invalid results. The self-assessment tool for DFU risk has good validity and reliability values. This questionnaire is simple and easy for DM patients to use independently. Keywords: diabetic foot, primary prevention, self-assessment, self-report, telenursing   Abstrak Pengembangan Instrumen Deteksi Dini Mandiri Berbasis Telenursing terhadap Risiko Ulkus Kaki Diabetes. Deteksi dini risiko ulkus kaki diabetes dapat memudahkan perawat dalam mencegah komplikasi ulkus pada pasien. Saat ini telah banyak instrumen atau alat untuk mendeteksi risiko ulkus kaki diabetes namun instrumen yang dapat diaplikasikan secara mandiri dengan mudah oleh pasien masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kuesioner deteksi dini mandiri risiko ulkus kaki diabetes berbasis digital pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dan melakukan uji validitas dan reliabilitas. Pengembangan kuesioner dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama yaitu perencanaan dengan melakukan studi literatur dan menentukan definisi operasional; tahap kedua yaitu konstruksi dengan menentukan item-item kuesioner dan uji content validity index (CVI) oleh enam orang pakar yang terdiri dari tiga perawat berpengalaman dalam merawat pasien diabetes, dua dosen keperawatan dengan area penelitian diabetes, dan dokter spesialis penyakit dalam yang berpengalaman mengobati pasien diabetes; tahap terakhir yaitu validasi dengan melakukan uji psikometrik berupa uji validitas dan reliabilitas konsistensi internal dengan Cronbach-alpha kepada pasien DMT2. Terdapat 13 item yang disusun berdasarkan studi literatur. Skor CVI yaitu 0,93 dan termasuk dalam kategori validitas sangat tinggi. Hasil uji validitas dan reliabilitas kepada pasien DM didapatkan skor Cronbach alpha sebesar 0,83 dan validitas sebesar 0,43-0,68. Dari total 13 item, dua item dihapus karena tidak valid. Self-Assessment Tool for DFU Risk memiliki nilai vailidtas dan relibilitas yang baik, sehingga dapat digunakan untuk deteksi dini secara mandiri risiko ulkus kaki diabetes. Kuesioner ini sederhana dan mudah digunakan secara mandiri oleh pasien DM. Kata Kunci: deteksi mandiri, laporan mandiri, pencegahan primer, telenursing, ulkus kaki diabete

    Effects of An Integrated Nutritional Health Intervention on Energy and Protein Intake in Under Five-Year Malnourished Children

    Full text link
    Malnutrition is thought to be the cause of more than one third of all child deaths, despite being rarely cited as a cause. In Indonesia, 19.9% of the population is malnourished, which is a very high prevalence. To prevent and treat malnutrition in children, numerous strategies have been developed, including an integrated nutritional health intervention. This research aimed to determine the effectiveness of an integrated nutritional health intervention for the energy and protein intake of malnourished children under the age of five. This study had a quasi-experimental design with a pre- and post-test control group. The research took place in Padang City, West Sumatra Province, between August 2020 and February 2021. The study data were collected using a standardized questionnaire at baseline and six months after the intervention, utilizing a sample size of 140 people. The data were evaluated using dependent and independent t-tests between the study’s baseline and end line. The energy and protein intake variables showed a difference, indicating a significant increase in the score from the baseline to the end line (energy intake: difference-in-differences (DID) = 405.53, 95% confidence interval [CI] = 362.01–449.05, p = .000; protein intake: DID = 4.62, 95% CI = 3.79–5.45, p = .000). This study found that the integrated nutritional health intervention increased the energy and protein intake of malnourished children and had a substantial impact on reducing the prevalence of risk factors when adequate protein and energy intake was provided. Keywords: energy intake, integrated nutritional health intervention, malnourished, protein intake   Abstrak Pengaruh Intervensi Terpadu Kesehatan Gizi terhadap Asupan Energi dan Protein pada Anak Balita yang Mengalami Gizi Buruk. Malnutrisi diperkirakan menjadi penyebab lebih dari sepertiga kematian anak di dunia meskipun jarang dikategorikan sebagai penyebab utama. Di Indonesia, 19,9% anak mengalami malnutrisi. Angka ini merupakan angka prevalensi yang sangat tinggi. Untuk mencegah dan mengatasi malnutrisi pada anak, berbagai strategi telah dikembangkan, termasuk intervensi kesehatan gizi terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi kesehatan gizi terpadu terhadap asupan energi dan protein pada anak balita yang mengalami malnutrisi. Studi ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan kelompok kontrol pre-test dan post-test. Penelitian dilakukan di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, antara bulan Agustus 2020 hingga Februari 2021. Data penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner standar pada awal dan enam bulan setelah intervensi, dengan jumlah sampel sebanyak 140 orang. Data dianalisis menggunakan dependent dan independent t-test antara data awal dan akhir penelitian. Variabel asupan energi dan protein menunjukkan adanya perbedaan, yang mengindikasikan peningkatan skor yang signifikan dari awal hingga akhir penelitian (asupan energi: perbedaan selisih [difference-in-differences/DID]) = 405,53, confidence interval [CI] 95% = 362,01–449,05, p = 0,000; asupan protein: DID = 4,62, CI 95% = 3,79–5,45, p = 0,000). Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa intervensi kesehatan gizi terpadu meningkatkan asupan energi dan protein pada anak-anak yang mengalami malnutrisi dan memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi prevalensi faktor risiko ketika asupan energi dan protein yang memadai tersedia. Kata Kunci: asupan energi, asupan protein, intervensi kesehatan gizi terpadu, malnutris

    Assessment of Nurses’ Knowledge of Multiple Sclerosis in Morocco

    Full text link
    Nurses are essential in early detection, education, symptom management, treatment administration, and care coordination for patients with multiple sclerosis (MS). This role requires both theoretical and practical knowledge. This study evaluates the knowledge level among nurses regarding multiple sclerosis in Morocco. We conducted this cross-sectional study on 326 nurses in Morocco using a purposive sampling method, which involves selecting nursing specialties that have direct contact with patients with MS, aiming to target the most relevant professionals for the study. The data are collected using an anonymous questionnaire distributed individually to participants. We opted for multivariable logistic regression models to analyze the data. The results highlighted a significant deficit in nurses’ knowledge of MS. Only 28.8% recognized it as a chronic disease, while nearly half identified it as autoimmune, inflammatory, or neurodegenerative. Commonly reported symptoms included sphincter abnormalities (56.4%), visual disorders (44%), spasticity (27.6%), sexual problems (26%), and cognitive issues (23.9%). Concerning risk factors, 46% attributed MS primarily to genetics, while 40% were unaware of any factors. Nearly half (47%) believed MS therapy is symptomatic, and only 33% were familiar with disease-modifying therapies (DMTs). 90% of nurses lacked continuous MS training. The study found significant associations between nurses’ knowledge and variables such as department of work (p = 0.045), gender (p = 0.041), and profile (p = 0.039). Lack of knowledge about MS may negatively influence early diagnosis and management of MS. To address this issue, we recommend improving the foundational training of healthcare professionals and introducing continuous education programs. Keywords: knowledge, Morocco, multiple sclerosis, nurse   Abstrak Menilai Pengetahuan Perawat tentang Multiple Sclerosis di Maroko. Perawat berperan penting dalam deteksi dini, pendidikan, manajemen gejala, pemberian pengobatan, dan koordinasi perawatan untuk pasien dengan multiple sclerosis (MS). Peran ini membutuhkan pengetahuan teoritis dan praktis. Penelitian ini menilai pengetahuan perawat tentang MS di Maroko. Kami melakukan studi cross-sectional ini pada 326 perawat di Maroko dengan menggunakan metode purposive sampling, yang melibatkan pemilihan spesialisasi keperawatan yang kemungkinan memiliki kontak langsung dengan pasien MS, dengan tujuan untuk menargetkan profesional yang paling relevan untuk penelitian ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner anonim yang didistribusikan secara individual kepada peserta. Kami memilih model regresi logistik multivariabel untuk menganalisis data. Penelitian ini menyoroti kekurangan yang signifikan dalam pengetahuan perawat tentang MS. Hanya 28,8% yang mengenali MS sebagai penyakit kronis, sementara hampir separuhnya mengidentifikasinya sebagai autoimun, inflamasi, atau neurodegeneratif. Gejala yang umum dilaporkan termasuk kelainan sfingter (56,4%), gangguan penglihatan (44%), spastisitas (27,6%), masalah seksual (26%), dan gangguan kognitif (23,9%). Mengenai faktor risiko, 46% mengaitkan MS terutama dengan faktor genetik, sementara 40% tidak mengetahui faktor apapun. Hampir setengah (47%) meyakini terapi MS bersifat simtomatik, dan hanya 33% yang akrab dengan disease-modifying therapies (DMT). Lebih jauh lagi, 90% perawat tidak memiliki pelatihan MS berkelanjutan. Penelitian ini menemukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat dan variabel seperti departemen kerja (p = 0,045), jenis kelamin (p = 0,041), dan profil (p = 0,039). Kurangnya pengetahuan tentang MS dapat berdampak negatif pada diagnosis dini dan manajemen penyakit ini. Untuk mengatasi masalah ini, kami merekomendasikan untuk meningkatkan pelatihan dasar bagi para profesional kesehatan dan memperkenalkan program pendidikan berkelanjutan. Kata Kunci: Maroko, multiple sclerosis, pengetahuan, perawa

    Front Matter (Title Page, Table of Content, General Information, and Editorial Team)

    No full text

    Back Matter (Submission Guide, Author Guidelines, Subscription Form)

    No full text

    Front Matter (Title Page, Table of Content, General Information, and Editorial Team)

    No full text

    Effectiveness of Intradialytic Resistance Training on Muscle Mass and Strength in Patients on Hemodialysis

    No full text
    Hemodialysis (HD) patients with chronic kidney disease (CKD) lose muscle mass and strength due to protein energy wasting (PEW). The purpose of this study was to test the effectiveness of intradialytic resistance training (IRT) in increasing muscle mass and strength. It used a pre-experimental, one-group pretest-posttest design. Based on a sample size estimate using G*power software, 33 CKD patients undergoing HD at a private hospital in Bali were included. The patients were selected using purposive sampling. Muscle mass was measured using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), while muscle strength was measured using the Medical Research Council Muscle Scale. The Wilcoxon test evaluated IRT's efficacy on muscle strength, while the dependent samples t-test evaluated its impact on muscle mass. The results of this study found that IRT had no effect on muscle mass, with a mean difference of -0.330 (p = 0.274). On the contrary, IRT significantly improved muscle strength (p = 0.018). In conclusion, IRT proved beneficial for strengthening muscle but not for gaining muscle mass. Therefore, to improve muscle strength, patients with CKD undergoing HD are advised to actively perform IRT under supervision for a minimum of 30 minutes per day. Keywords: intradialytic resistance training, muscle mass, muscle strength, protein energy wasting   Abstrak Efektifitas Intradialytic Resistance Training Terhadap Massa dan Kekuatan Otot Pasien dengan Hemodialisis. Pasien hemodialisis (HD) dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) kehilangan massa dan kekuatan otot yang disebabkan oleh Protein Energy Wasting (PEW). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektifitas Intradialytic Resistance Training (IRT) terhadap peningkatan massa dan kekuatan otot. Penelitian ini menggunakan pre-experimental one-group pretest, post-test design. Berdasarkan perhitungan besar sampel menggunakan G*Power Software, 33 pasien PGK yang menjalani HD di sebuah rumah sakit swasta di Bali terlibat dalam penelitian ini. Pasien dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Massa otot diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), sedangkan kekuatan otot menggunakan Medical Research Council Muscle Scale. Uji efektifitas kekuatan otot menggunakan Wilcoxon test, sedangkan t-test digunakan untuk menguji efektifitas massa otot. Hasil penelitian menunjukan IRT tidak efektif dalam meningkatkan massa otot, dengan mean -0,330 (p = 0,274). Namun, IRT terbukti efektif dalam mening-katkan kekuatan otot, (p = 0,018). Kesimpulannya, IRT bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan otot, tetapi tidak untuk meningkatkan massa otot. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kekuatan otot, pasien PGK yang menjalani HD disarankan aktif melakukan IRT dengan pengawasan minimal 30 menit dalam sehari.  Kata Kunci: intradialytic resistance training, kekuatan otot, massa otot, protein energy wastin

    Front Matter (Title Page, Table of Content, General Information, and Editorial Team)

    No full text

    Psychological Distress and Quality of Life Among Infertility Couples Undergoing Infertility Treatment in Malaysia

    No full text
    Infertility often leads to stress, anxiety, and depression, significantly affecting the quality of life of affected couples. This study explored the sociodemographic and psychological factors influencing the quality of life among infertile couples undergoing in vitro fertilization (IVF) treatment in Malaysia, using a cross-sectional design. A total of 126 infertile couples were purposively sampled from three public hospitals offering IVF treatment. The Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS-21) measured psychological distress levels, while the Fertility Quality of Life (Ferti-QoL) scale assessed fertility-related quality of life. Data collection adhered to strict ethical standards, with confidentiality ensured. Participants provided informed consent and completed surveys independently in private settings to ensure unbiased responses. Statistical analyses, including t-tests, chi-square tests, and multiple linear regression, were employed to identify significant patterns and predictors. Results revealed that wives had significantly lower FertiQoL scores compared to husbands (p < 0.001). Wives also experienced higher levels of stress, anxiety, and depression as indicated by DASS-21 scores (p < 0.001). Regression analysis identified stress (p < 0.001), anxiety (p = 0.04), depression (p < 0.001), and gender (p = 0.02) as significant predictors of quality of life. Elevated levels of psychological distress were associated with a notable decline in quality of life, particularly among wives. These findings emphasize the importance of addressing mental health needs among couples undergoing IVF. Healthcare providers should focus on emotional preparedness and develop targeted strategies to reduce psychological distress, ultimately enhancing the overall quality of life during treatment. Keywords: infertility, psychological distress, quality of life.   Abstrak Tekanan Psikologis dan Kualitas Hidup Pasangan Tanpa Anak yang Menjalani Pengobatan Infertilitas di Malaysia. Infertilitas sering kali menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi, yang secara signifikan memengaruhi kualitas hidup pasangan yang terdampak. Studi ini mengeksplorasi faktor sosiodemografi dan psikologis yang memengaruhi kualitas hidup pasangan tidak subur yang menjalani perawatan IVF di Malaysia, menggunakan desain cross-sectional. Sebanyak 126 pasangan tidak subur dipilih secara purposive sampling dari tiga rumah sakit umum yang menyediakan layanan IVF. Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS-21) digunakan untuk mengukur tingkat tekanan psikologis, sementara skala Fertility Quality of Life (Ferti-QoL) menilai kualitas hidup terkait kesuburan. Pengumpulan data dilakukan mengikuti standar etik penelitian dengan menjaga kerahasiaan data dan privasi peserta. Peserta memberikan persetujuan tertulis dan menyelesaikan survei secara mandiri dan terisolasi untuk memastikan jawaban yang tidak bias. Analisis statistik, termasuk uji t, chi-square, dan regresi linier berganda, digunakan untuk mengidentifikasi pola dan prediktor yang signifikan. Hasil menunjukkan bahwa skor FertiQoL pada istri secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan suami (p < 0,001). Istri juga mengalami tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi seperti yang ditunjukkan oleh skor DASS-21 (p < 0,001). Hasil analisis regresi mengidentifikasi stres (p < 0,001), kecemasan (p = 0,04), depresi (p < 0,001), dan jenis kelamin (p = 0,02) sebagai prediktor signifikan kualitas hidup. Tingginya tingkat tekanan psikologis berbanding lurus dengan penurunan kualitas hidup yang nyata, terutama pada istri. Temuan ini menekankan pentingnya menangani kebutuhan kesehatan mental pada pasangan yang menjalani IVF. Penyedia layanan kesehatan harus lebih mengutamakan kesiapan emosional dengan mengembangkan strategi yang ditargetkan untuk mengurangi tekanan psikologis guna meningkatkan kualitas hidup selama perawatan. Kata Kunci: infertilitas, kualitas hidup, tekanan psikologi

    Assessing Community Readiness and Benefits of a Nursing Program: Implications for Healthcare and Education

    No full text
    In response to recent policy shifts allowing the establishment of new nursing programs in the Philippines, this study assesses the perceived readiness of Sorsogon, a geographically underserved province, to implement a bachelor of science in nursing program. It also explores the anticipated benefits that such a program may offer to students and the local community. A cross-sectional survey of 375 stakeholders, selected through purposive sampling, was conducted using a validated instrument developed through expert consultation. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics, while qualitative responses were examined through thematic analysis. The findings reveal widespread support for the proposed program, emphasizing its potential to enhance clinical competence, promote holistic health, and expand access to healthcare services in the region. However, respondents also cited institutional limitations, including inadequate infrastructure and a shortage of qualified faculty. While limited by its reliance on self-reported data and geographically concentrated sampling, the study offers timely, place-based insights that can inform educational planning and equitable health workforce development in rural Philippine settings. The findings highlight the need for faculty and infrastructure investments, offering a basis for policymakers and institutions to implement nursing programs that address regional healthcare gaps. Keywords: community health, educational access, healthcare needs, nursing education, perceived benefits, professional growth   Abstrak Menilai Kesiapan Komunitas dan Manfaat Program Pendidikan Keperawatan: Implikasi bagi Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan. Sejalan dengan perubahan kebijakan terbaru yang memungkinkan pendirian program pendidikan keperawatan baru di Filipina, studi ini mengobservasi persepsi tentang kesiapan Provinsi Sorsogon sebagai wilayah yang kurang diperhatikan secara geografis untuk menyelenggarakan program sarjana keperawatan. Studi ini juga mengeksplorasi manfaat yang diharapkan dari program tersebut bagi mahasiswa dan komunitas lokal. Survei cross-sectional menggunakan instrumen tervalidasi yang dikembangkan melalui konsultasi pakar, kemudian disebarkan kepada 375 pemangku kepentingan yang dipilih melalui purposive sampling. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, sedangkan respons kualitatif ditelaah melalui analisis tematik. Hasil menunjukkan adanya dukungan luas terhadap program yang diusulkan, dengan penekanan pada potensinya untuk meningkatkan kompetensi klinis, mempromosikan kesehatan holistik, dan memperluas akses terhadap layanan kesehatan di wilayah tersebut. Namun, responden juga menyoroti keterbatasan institusional, termasuk infrastruktur yang tidak memadai dan kurangnya tenaga pengajar berkualifikasi. Meskipun penelitian ini bergantung pada data yang dilaporkan sendiri dan pengambilan sampel yang terkonsentrasi secara geografis, studi ini menawarkan hasil penelitian berbasis lokal untuk mendukung perencanaan pendidikan dan pengembangan tenaga kesehatan yang berkeadilan di wilayah pedesaan Filipina. Temuan ini menegaskan perlunya investasi pada tenaga pengajar dan infrastruktur sebagai langkah awal bagi pembuat kebijakan dan institusi untuk menerapkan program keperawatan yang mampu menjawab kesenjangan layanan kesehatan regional. Kata Kunci: akses pendidikan, kebutuhan layanan kesehatan, kesehatan masyarakat, manfaat yang dirasakan, pendidikan keperawatan, pengembangan profesiona

    502

    full texts

    579

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keperawatan Indonesia (JKI)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇