Jurnal Keperawatan Indonesia (JKI)
Not a member yet
    579 research outputs found

    The Relationship Between Socioecological Factors and Resilience Among Urban Workers During the COVID-19 Pandemic

    No full text
    The global outbreak occasioned by the coronavirus disease 2019 (COVID-19) has affected people of working age in urban communities, both socially and psychologically, making resilience an important aspect of efforts to cope with such a crisis. Against this backdrop, this study identified and investigated the socioecological factors associated with the resilience of employable urban residents against the COVID-19 pandemic as part of a conceptual framework that encompasses individual, family, and community resilience. This cross-sectional research involved 368 working-age individuals recruited via simple randomization from communities in seven areas in central Bangkok. Data were collected through a questionnaire survey and examined through path analysis run on AMOS. The hypothesized model was tested on the basis of real data (χ2 = 47.717, df = 10, p = .06, RMSEA = .03, RMR .097, GFI .978, CFI .99). The results showed that an individual’s mental resilience factors and those of their family were generally more highly correlated with community resilience than were the resilience of working-age people in urban regions (p < .01). However, the adaptability of working-age individuals in urban areas more strongly depended on family resilience and individual mental health than on community resilience. The results of this study will serve as a foundation for guiding community nurses in the design and implementation of interventions aimed at promoting mental health among working-age individuals and their families. Keywords: COVID-19, mental health, resilience, socioecological, working age   Abstrak Hubungan antara Faktor Sosioekologis dan Ketahanan di antara Pekerja Perkotaan Selama Masa Pandemi COVID-19. Wabah global yang disebabkan oleh penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) memberikan dampak pada pekerja di masyarakat perkotaan, baik secara sosial maupun psikologis, sehingga ketahanan menjadi aspek penting dalam upaya mengatasi krisis semacam ini. Studi ini mengidentifikasi dan meneliti faktor-faktor sosioekologis yang terkait dengan ketahanan penduduk perkotaan selama pandemi COVID-19 sebagai bagian dari kerangka konseptual yang mencakup ketahanan individu, keluarga, dan komunitas. Penelitian potong lintang ini melibatkan 368 individu usia produktif yang direkrut melalui randomisasi sederhana dari masyarakat di tujuh wilayah di pusat Bangkok. Data dikumpulkan melalui survei kuesioner dan dianalisis menggunakan path analysis pada AMOS. Model yang dihasilkan diuji berdasarkan data nyata (χ2 = 47,717, df = 10, p = 0,06, RMSEA = 0,03, RMR 0,097, GFI 0,978, CFI 0,99). Hasil menunjukkan bahwa faktor ketahanan mental individu dan keluarga umumnya lebih erat terkait dengan ketahanan komunitas dibandingkan dengan ketahanan individu usia kerja di daerah perkotaan (p < 0,01). Namun, kemampuan beradaptasi individu usia kerja di daerah perkotaan lebih bergantung pada ketahanan keluarga dan kesehatan mental individu daripada ketahanan komunitas. Hasil penelitian ini akan menjadi dasar bagi perawat komunitas dalam merancang dan melaksanakan intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental di kalangan individu usia kerja dan keluarganya. Kata Kunci: COVID-19, kesehatan mental, ketahanan, sosioekologis, usia kerj

    The Effect of Nursing Process Education on Students’ Perceptions of Nursing Diagnoses

    Full text link
    The aim of this study is to evaluate the effect of nursing process education on nursing students' perception of nursing diagnoses. This quasi-experimental study was conducted with the second-year students who took the course of internal medicine nursing. One hundred and eleven second-year students (91.72%) who were attending a nursing faculty were included in the pretest. Each of the training sessions given to the students lasted for 60 minutes, and a total of 12 sessions of training were applied as three sessions per week. The online training was given to students by an educator with a presentation and case discussion. Afterwards, the post-test was carried out with a total of 98 (73.68%) students. Data were collected by using a ‘Descriptive Characteristics Form’ and the ‘Perceptions of Nursing Diagnosis Survey’. In the statistical analysis of data, number, percentage, mean score and paired t-test were used. There was no statistical difference between the pretest and posttest total scores of the “Perceptions of Nursing Diagnosis Survey” before and after the online training for the nursing care plan process (p > 0.05). Students had a perception of nursing diagnoses at a moderate level. It was concluded that the case-based interventions had limited effects. The learning and use of the nursing diagnosis process by both nursing students and nurses facilitates its applicability in the field and makes it easier for nurses to provide more evidence-based care in the clinic. It is recommended that the teaching techniques used in the study be enriched and developed. Keywords: education, nursing diagnosis, nursing process, nursing students, perception   Abstrak Pengaruh Pendidikan Proses Keperawatan terhadap Persepsi Mahasiswa tentang Diagnosis Keperawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan proses keperawatan terhadap persepsi mahasiswa keperawatan tentang diagnosis keperawatan. Penelitian kuasi-eksperimental ini dilakukan pada mahasiswa tahun kedua yang mengambil mata kuliah keperawatan penyakit dalam. Seratus sebelas mahasiswa tahun kedua (91,72%) yang mengikuti pendidikan di fakultas keperawatan diikutsertakan dalam pre-test. Setiap sesi pelatihan yang diberikan kepada mahasiswa berlangsung selama 60 menit, dan total 12 sesi pelatihan diterapkan sebanyak tiga sesi per minggu. Pelatihan online diberikan kepada mahasiswa oleh seorang pendidik dengan presentasi dan diskusi kasus. Setelah itu, post-test dilakukan dengan total 98 (73,68%) mahasiswa. Data dikumpulkan dengan menggunakan 'Formulir Karakteristik Deskriptif' dan 'Survei Persepsi Diagnosis Keperawatan'. Dalam analisis statistik data, jumlah, persentase, skor rata-rata dan uji-t berpasangan digunakan. Tidak ada perbedaan statistik antara skor total pre-test dan post-test dari “Survei Persepsi Diagnosis Keperawatan” sebelum dan sesudah pelatihan online untuk proses rencana asuhan keperawatan (p > 0,05). Mahasiswa memiliki persepsi tentang diagnosis keperawatan pada tingkat sedang. Disimpulkan bahwa intervensi berbasis kasus memiliki efek yang terbatas. Pembelajaran dan penggunaan proses diagnosis keperawatan oleh mahasiswa keperawatan dan perawat memfasilitasi penerapannya di lapangan dan memudahkan perawat untuk memberikan perawatan yang lebih berbasis bukti di klinik. Disarankan agar teknik pengajaran yang digunakan dalam penelitian ini diperkaya dan dikembangkan. Kata Kunci: diagnosis keperawatan, mahasiswa keperawatan, pendidikan, persepsi, proses keperawata

    Evaluation of the Use of Structural Gamification-Based Applications by Users in Makassar City, Indonesia

    Full text link
    Structural gamification is a trending concept in today’s application landscape that leverages various elements and features from game design for nongame contexts. This concept has become increasingly common in various health applications today, such as Lose It!, Fat Secret, and Google Fit. This study aims to evaluate respondents’ use of structural gamification-based health applications. The research method employed in this study is quantitative and descriptive, involving data collection through questionnaires administered from July 2023 to September 2023 in Makassar City, Indonesia. The research results indicate that 90% of the respondents appreciated the ease of access and attractive interface of structural gamification-based health applications, while 35% disliked these apps’ high battery consumption. The majority rated them as 8 and as 8 or 9 on a scale of 1 to 10 in terms of usefulness and effectiveness, respectively. The findings of this study are expected to provide recommendations for nursing interventions that use technology to promote healthy lifestyle modifications in public health management. Keywords: gamification, goal-oriented, self-regulation   Abstrak Evaluasi Pemanfaatan Aplikasi berbasis Structural Gamification pada Pengguna di Kota Makassar, Indonesia. Structural gamification merupakan konsep aplikasi yang sedang tren saat ini, konsep ini memanfaatkan berbagai elemen dan fitur yang terdapat pada desain game untuk konteks aplikasi non-game. Konsep berbasis structural gamification semakin umum ditemukan dalam berbagai aplikasi kesehatan saat ini, seperti yang ada pada aplikasi Lose It!, Fat Secret, Google Fit. Riset ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan aplikasi kesehatan berbasis structural gamification terhadap pengguna. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah kuantitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang dilakukan pada bulan Juli-September 2023 di Kota Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% responden menyukai aspek kemudahan akses dan tampilan yang menarik, sedangkan 35% responden tidak menyukai kebutuhan baterai yang tinggi pada pengguna. Pada skala manfaat mayoritas menjawab pada skala 8 dari 10, dan pada skala efektivitas mayoritas menjawab pada skala 8 dan 9 dari 10. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi intervensi keperawatan yang memanfaatkan teknologi untuk modifikasi gaya hidup sehat dalam manajemen kesehatan masyarakat. Kata Kunci: gamifikasi, orientasi tujuan, regulasi-dir

    Factors Affecting Nurse Retention in A Private Healthcare System in Malaysia

    Full text link
    Nurse retention has become increasingly challenging in the post-pandemic era, particularly for private hospitals. This study aimed to identify the significant predictors of nurse retention in selected private hospitals in Malaysia. A quantitative, descriptive, cross-sectional design was employed. A pre-validated, self-administered questionnaire, distributed via Google Forms, was used for data collection. The respondents included 532 registered nurses employed at three private hospitals in Malaysia. Data analysis was conducted using descriptive statistics and correlation studies, including Spearman’s rho and multiple regression analysis. Among the participants, 54% reported good job satisfaction, 27.37% expressed organizational commitment, 25.97% were satisfied with human resource practices, and 48.41% intended to remain with their current organization. The findings revealed a strong positive correlation between nurse retention, organizational commitment, human resource practices, and job satisfaction. Multiple regression analysis indicated that job satisfaction was the most significant predictor of nurse retention (F (1) = 285.334, p (.000) < .05, R2 = 0.354), followed by human resource practices and organizational commitment. These results suggest that job satisfaction is the primary factor influencing nurse retention in private healthcare settings. Therefore, hospitals must implement strategies to enhance employees’ job satisfaction. Human resource management must also establish clear policies on remuneration, career development, and employee promotion to improve nurse retention.  Keywords: intent to leave, job satisfaction, nurses, nurse retention, organizational commitment, quality of care   Abstrak Faktor-Faktor yang Memengaruhi Retensi Perawat dalam Sistem Layanan Kesehatan Swasta di Malaysia. Retensi perawat menjadi hal yang semakin menantang di pasca pandemi, khususnya di rumah sakit swasta. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi prediktor signifikan retensi perawat di rumah sakit swasta terpilih di Malaysia. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, cross-sectional. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner yang telah divalidasi sebelumnya, didistribusikan melalui Google Forms untuk dikerjakan secara mandiri oleh responden. Responden terdiri dari 532 perawat terdaftar yang bekerja di tiga rumah sakit swasta di Malaysia. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan studi korelasi, yaitu Spearman's rho dan analisis regresi berganda. Ditemukan sebanyak 54% melaporkan kepuasan kerja yang baik, 27,37% menyatakan komitmen organisasi, 25,97% puas dengan praktik kepegawaian yang ditetapkan, dan 48,41% berkomitmen untuk tetap bekerja di organisasi mereka saat ini. Temuan tersebut mengungkapkan korelasi positif yang kuat antara retensi perawat, komitmen organisasi, praktik sumber daya manusia, dan kepuasan kerja. Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa kepuasan kerja merupakan prediktor paling signifikan terhadap retensi perawat (F (1) = 285,334, p (.000) < .05, R2 = 0,354), diikuti oleh praktik sumber daya manusia dan komitmen organisasi. Hasil ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja merupakan faktor utama yang memengaruhi retensi perawat di lingkungan layanan kesehatan swasta. Oleh karena itu, rumah sakit harus menerapkan strategi untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawannya. Manajemen sumber daya manusia juga harus menetapkan kebijakan yang jelas tentang remunerasi, pengembangan karir, dan promosi jabatan untuk meningkatkan retensi perawat. Kata Kunci: keinginan untuk mengundurkan diri, kepuasan pekerjaan, komitmen organisasi, kualitas perawatan, perawat, retensi perawa

    Enhancing Patient Satisfaction Among Coronary Heart Disease Patients Through Islamic Spiritual Care with Murottal in Nursing Practice

    No full text
    Spiritual care is essential in nursing, especially for patients with chronic or palliative conditions such as coronary heart disease. Although medical intervention is crucial, Islamic spiritual therapy using murottal has a significant impact on patient satisfaction. This study aims to evaluate the effectiveness of murottal in enhancing patient satisfaction among individuals with coronary heart disease. A quasi-experimental pretest-posttest design was used with 52 participants at Siti Khadijah Islamic Hospital, Palembang, Indonesia. Total sampling was applied, and data were analyzed using the paired sample t-test. Patient satisfaction was measured using a Likert-scale questionnaire to assess the impact of murottal spiritual care. The results showed that the control and intervention groups had a mean age of 54 ± 6.33 and 56 ± 8.65 years, with a disease duration of 10 ± 6.38 and 9 ± 4.33 years, respectively. Most participants were male (78.8% -control, 73.1% -intervention), had low education levels, and were unemployed. Before the intervention, dissatisfaction was reported by 84.6% of the intervention group and 88.5% of the control group. Afterward, 80.8% of the intervention group expressed satisfaction, while 76.9% of the control group remained dissatisfied. The t-test yielded a p-value of < 0.05 (0.000), indicating that murottal significantly increases patient satisfaction. Integrating murottal into nursing can enhance spiritual well-being and improve patient satisfaction, particularly in chronic and palliative care settings. Keywords: coronary heart disease, murottal, nursing care, patient satisfaction, spiritual care   Abstrak Peningkatan Kepuasan Pasien Jantung Koroner melalui Pelayanan Spritual Islami dengan Murottal dalam Praktik Keperawatan. Perawatan spiritual sangat penting dalam keperawatan, terutama bagi pasien dengan kondisi kronis atau paliatif seperti penyakit jantung koroner. Meskipun intervensi medis sangat krusial, terapi spiritual Islam menggunakan murottal memiliki dampak yang signifikan terhadap kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas murottal dalam meningkatkan kepuasan pasien pada individu dengan penyakit jantung koroner. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pretest-posttest pada 52 partisipan di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah, Palembang, Indonesia. Teknik total sampling diterapkan, dan data dianalisis menggunakan paired sample t-test. Kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner skala Likert untuk menilai dampak dari perawatan spiritual Murottal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi dan kontrol memiliki rata-rata usia 54 ± 6,33 dan 56 ± 8,65 tahun, dengan durasi penyakit masing-masing 10 ± 6,38 dan 9 ± 4,33 tahun. Sebagian besar partisipan berjenis kelamin laki-laki (78,8% kontrol, 73,1% intervensi), memiliki tingkat pendidikan rendah, dan tidak bekerja. Sebelum intervensi, ketidakpuasan dilaporkan oleh 84,6% kelompok intervensi dan 88,5% kelompok kontrol. Setelah intervensi, 80,8% kelompok intervensi menyatakan puas, sementara 76,9% kelompok kontrol tetap tidak puas. Uji t menghasilkan nilai p < 0,05 (0,000), yang menunjukkan bahwa murottal secara signifikan meningkatkan kepuasan pasien. Integrasi Murottal dalam praktik keperawatan dapat meningkatkan kesejahteraan spiritual dan kepuasan pasien, terutama dalam perawatan kronis dan paliatif. Kata Kunci: kepuasan pasien, murottal, pelayanan keperawatan, pelayanan spiritual, penyakit jantung korone

    Determining Factors for Long Term Use of Gadget by Preschool Children

    No full text
    In the digital era, preschoolers spent more time playing on their gadgets than with their peers. The excessive use of gadgets (including laptops, cellphones, tablets, and similar electronic devices) can have negative impacts on preschool-age children. This study analyzes the determining factors that influence the duration of gadget use in preschool children. The study used a correlational design with a cross-sectional approach involving 318 parents who were selected using cluster sampling. The results showed that there was a significant relationship between the duration of gadget use and the gender of the parents (p = 0.001), parental education (p = 0.035), family economic status (p = 0.018), educational media (p = 0.039), distraction media (p = 0.029), and psychosocial development (p = 0.001). The factors that most influence the duration of gadget use in children are family economic status with lower income adjusted odds ratio (AOR) (0.327) 95% CI (0.106–0.947), educational media is to add information AOR (0.367) 95% CI (0.183–-0.736), distraction media so that the child doesn't fuss AOR (0.392) 95% CI (0.203–0.758) and children do not have psychosocial disorders AOR (0.348), 95% CI (0.189–0.638). The results of the study can offer a basis for developing the latest nursing interventions in providing education and support to parents and children when using gadgets. Keywords: factors of gadget use, parents, preschool age   Abstrak Faktor Penentu Lama Penggunaan Gawai pada Anak Usia Prasekolah. Pada era digital, anak prasekolah lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain gawai daripada dengan teman sebayanya. Penggunaan gawai yang berlebihan (termasuk laptop, telepon genggam, tablet, dan alat elektronik sejenis) dapat memberikan dampak negatif terhadap anak-anak usia prasekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penentu yang memengaruhi lamanya penggunaan gawai pada anak usia prasekolah. Desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional dengan melibatkan 318 orang tua yang dipilih menggunakan cluster sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lamanya penggunaan gawai dengan jenis kelamin orang tua (p value= 0,001), pendidikan orangtua (p = 0,035), status ekonomi keluarga (p = 0,018), media edukasi (p = 0,039), media distraksi (p = 0,029) dan perkembangan psikososial (p = 0,001). Faktor yang paling memengaruhi lama penggunaan gawai pada anak yaitu status ekonomi keluarga dengan penghasilan ≤ upah minimum kabubaten/kota AOR (0,327) CI 95% (0,106–0,947), sebagai media edukasi yaitu menambah informasi AOR (0,367) CI 95% (0,183–-0,736), sebagai media distraksi supaya anak tidak rewel AOR (0,392) CI 95% (0,203–0,758), dan anak yang tidak mengalami gangguan psikososial AOR (0,348), CI 95% (0,189–0,638). Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun intervensi keperawatan yang terbaru dalam memberikan edukasi dan pendampingan bagi orantua dan anak saat menggunakan gawai.  Kata Kunci: anak usia prasekolah, faktor penggunaan gawai, orang tu

    Promoting Competence and Confidence: Simulation-Based Basic Life Support Training for Jordanian Nurses

    No full text
    Cardiopulmonary arrest is a major health issue that affects healthcare providers. The COVID-19 pandemic has added a new risk to rescuers who may be attempting to resuscitate victims. It is essential to strike a balance between resuscitation and the need to protect oneself from infection. The study aims to evaluate the effectiveness of simulation training in enhancing the Basic Life Support (BLS) knowledge, skills, and confidence levels of newly employed nurses. The study employed a single-masked, prospective, randomized controlled trial design, which consisted of three phases: a pre-test, an immediate post-test, and a post-test conducted three months later. The American Heart Association’s BLS test was used to assess knowledge and practical skills of 102 nurses who were randomly assigned to two groups. The nurses' con-fidence was evaluated through a self-evaluation questionnaire. The control group received the brochure, and the inter-ventional group received a seven-hour BLS training using simulation. Both arms were homogenous in their characteris-tics, according to Mann-Whitney analysis. Independent T-test reflected homogenous pre-test results in knowledge, prac-tice, and confidence between both arms. The result also showed significant differences between both groups in the post-test-1 in knowledge (p < 0.001), practice (p < 0.001) and confidence (p = 0.024); and significant differences in the post-test-2 between both groups in knowledge (p < 0.001), practice (p = 0.002) and confidence (p < 0.001). BLS training using simulation is an efficient method that enables participants to become more knowledgeable and skilled in BLS, resulting in a high level of confidence. Frequent, short BLS training using simulation helps maintain competence and confidence, ensuring readiness for CPR in case of cardiopulmonary arrest. Keywords: basic cardiac life support, confidence, knowledge, practice, simulation training   Abstrak Mempromosikan Kompetensi dan Kepercayaan Diri: Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Berbasis Simulasi bagi Perawat Jordania. Henti jantung paru adalah masalah kesehatan utama yang memengaruhi penyedia layanan kesehatan. Pandemi COVID-19 menambah risiko bagi tim penyelamat yang berupaya menyadarkan korban. Penting menyeimbangkan kebutuhan resusitasi dengan perlindungan diri dari infeksi. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas pelatihan simulasi dalam meningkatkan pengetahuan, praktik, dan kepercayaan diri perawat baru. Studi ini menggunakan desain single-masked prospective randomized control trial yang terdiri dari tiga fase: pre-test, post-test segera setelah intervensi, dan post-test yang dilakukan tiga bulan kemudian. Tes Basic Life Support (BLS) dari American Heart Association digunakan untuk menilai pengetahuan dan keterampilan praktik. Selain itu, kepercayaan diri perawat dievaluasi melalui kuesioner evaluasi diri. Seratus dua perawat didistribusikan acak ke dua kelompok; kontrol menerima brosur, intervensi menerima pelatihan BLS tujuh jam menggunakan simulasi. Kedua kelompok memiliki karakteristik homogen dengan analisis Mann-Whitney. Uji-T independen menunjukkan hasil pra-tes homogen dalam pengetahuan (p = 0,324), praktik (p = 0,887) dan kepercayaan diri (p = 0,304). Hasil menunjukkan perbedaan signifikan pada post-test-1 dalam pengetahuan (p < 0,001), praktik (p < 0,001) dan kepercayaan diri (p = 0,024); serta post-test-2 dalam pengetahuan (p < 0,001), praktik (p = 0,002) dan kepercayaan diri (p < 0,001). Pelatihan BLS dengan simulasi adalah metode efisien yang meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri peserta dalam BLS. Pelatihan BLS singkat dan sering menggunakan simulasi membantu menjaga kompetensi dan kepercayaan diri, memastikan kesiapan untuk CPR jika terjadi henti jantung dan paru. Kata Kunci: bantuan hidup jantung dasar, kepercayaan diri, pelatihan simulasi, pengetahuan, prakti

    Back Matter (Acknowledgement & Index, Submission Guide, Author Guidelines, Subscription Form)

    No full text

    The Strategies and Interventions for Interprofessional Collaboration to Improving Patient Safety in Hospitals: A Systematic Review

    Full text link
    Interprofessional collaboration strategies and interventions are carried out to improve patient safety in hospitals. This study aimed to analyze the strategies and interventions used in interprofessional collaboration to improve patient safety. Interprofessional collaboration strategies and interventions were searched using five English-language databases, eligible studies were extracted, and the risk of bias was independently evaluated by two authors. The literature search yielded a total of 10,729 registered papers. We conducted an analysis on 3,793 health professionals. The following articles were included: 1) articles that described an intervention interprofessional collaboration to improve patient safety; 2) those focused on interprofessional collaboration in hospitals; and 3) the research sample included of health care professionals (doctors, nurses, nutritionists, and pharmacists). Interventions that combine lectures, skills practice, and discussions are carried out using an online format and case study practice. The strategies and interventions identified inductively were categorized into four items: 1) team acceptance and readiness for interprofessional collaboration; 2) acting as a team and not as individuals; 3) developing protocols or guidelines for health professionals; and 4) integrating elements of interprofessional collaboration by health professionals in providing health services. The principles of interprofessional collaboration include the need to prioritize structures, processes, and tools that enable interprofessional collaboration to be established in hospitals. Interprofessional collaboration strategies and interventions in hospitals are effective in being able to make changes to improve patient safety and the quality of service. Keywords: hospitals, interprofessional collaboration, patient safety   Abstrak Strategi dan Intervensi Kolaborasi Interprofesional untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit: Suatu Tinjauan Sistematis. Strategi dan intervensi kolaborasi antarprofesional dilakukan untuk meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan intervensi yang digunakan dalam kolaborasi interprofesional untuk meningkatkan keselamatan pasien. Strategi dan intervensi kolaborasi interprofesional dicari menggunakan lima basis data berbahasa Inggris, studi yang memenuhi syarat diekstraksi, dan risiko bias dievaluasi oleh dua penulis secara independen. Pencarian literatur menghasilkan total 10.729 makalah yang telah terdaftar. Kami melakukan analisis pada 3.793 profesional kesehatan. Artikel disertakan jika: 1) menggambarkan kolaborasi interprofesional intervensi untuk meningkatkan keselamatan pasien; 2) berfokus pada kolaborasi antarprofesional di rumah sakit; 3) sampel penelitian termasuk profesional perawatan kesehatan (dokter, perawat, ahli gizi, apoteker). Intervensi yang menggabungkan perkuliahan, praktik keterampilan, dan diskusi dilakukan dengan menggunakan format online dan praktik studi kasus. Strategi dan intervensi yang diidentifikasi secara induktif dikategorikan menjadi empat item: 1) penerimaan tim dan kesiapan untuk kolaborasi antarprofesional; 2) bertindak sebagai tim dan bukan sebagai individu; 3) mengembangkan protokol atau pedoman untuk profesional kesehatan; dan 4) mengintegrasikan elemen-elemen kolaborasi antarprofesional oleh profesional kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan. Prinsip-prinsip kolaborasi antarprofesional perlu memprioritaskan struktur, proses, dan alat yang memungkinkan kolaborasi interprofesional terjalin di rumah sakit. Strategi kolaborasi dan intervensi interprofesional di rumah sakit efektif dalam dapat melakukan perubahan untuk meningkatkan keselamatan pasien untuk kualitas layanan yang lebih baik. Kata Kunci: keselamatan pasien, kolaborasi interprofesional, rumah saki

    Effects of Incremental Shuttle Walk Test on Maximal Oxygen Consumption and Comfort in Patients with Coronary Artery Disease Undergoing Phase 3 Cardiac Rehabilitation

    Full text link
    Coronary artery disease (CAD) is a condition characterized by impaired cardiac function due to a reduced blood supply to the myocardial tissue, resulting from narrowing or obstructing of the coronary arteries. This condition can negatively impact the physical, psychological, and social dimensions of the patient’s life, often leading to a decline in maximal oxygen consumption (VO2max) and perceived comfort. One solution for increasing the decreased VO2max is cardiac rehabilitation. Cardiac rehabilitation is an effective preventive and recovery intervention that includes assessments of VO2max, and the effects of the incremental shuttle walk test (ISWT) on the VO2max and comfort of CAD patients. This is a quasi-experiment with a pre-post control group design. Consecutive sampling was used to recruit 60 respondents, who were then divided into a control and an intervention group, with 30 respondents in each group. VO2max was measured using the distance achieved in the ISWT, and comfort was assessed using the Shortened General Comfort Questionnaire (SGCQ). Data were analyzed using a paired t test to determine whether the mean pretreatment VO2max and comfort levels significantly changed after the treatment. VO2max and comfort showed significant improvements after the ISWT (p = 0.001 for both variables), confirming the effectiveness of ISWT in CAD patients undergoing phase 3 cardiac rehabilitation. Therefore, ISWT should be considered an integral part of cardiac rehabilitation for the management of CAD patients after hospital discharge. Keywords: comfort, coronary artery disease, incremental shuttle walk test, VO2max   Abstrak Pengaruh Incremental Shuttle Walk Test terhadap Konsumsi Oksigen Maksimal dan Kenyamann Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner yang Menjalani Rehabilitasi Jantung Fase 3. Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan gangguan fungsi jantung akibat berkurangnya suplai darah ke jaringan miokardium yang disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan arteri koroner. Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap aspek fisik, psikologis, dan sosial dalam kehidupan pasien, yang sering kali menyebabkan penurunan konsumsi oksigen maksimal (VO2max) serta kenyamanan yang dirasakan. Salah satu solusi untuk meningkatkan VO2max yang menurun adalah melalui rehabilitasi jantung. Rehabilitasi jantung merupakan intervensi yang efektif dalam pencegahan dan pemulihan, yang mencakup penilaian terhadap VO2max serta pengaruh Incremental Shuttle Walk Test (ISWT) terhadap VO2max dan kenyamanan pasien PJK. Penelitian ini merupakan kuasi-eksperimen dengan desain pre-post control group. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling terhadap 60 responden yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi, masing-masing terdiri dari 30 responden. VO2max diukur berdasarkan jarak yang dicapai dalam pelaksanaan ISWT, sedangkan kenyamanan dinilai menggunakan Shortened General Comfort Questionnaire (SGCQ). Analisis data dilakukan dengan paired t-test untuk mengetahui apakah terdapat perubahan yang signifikan pada nilai rata-rata VO2max dan tingkat kenyamanan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada VO2max dan kenyamanan setelah intervensi ISWT (p = 0,001 untuk kedua variabel), yang menegaskan efektivitas ISWT pada pasien PJK yang menjalani rehabilitasi jantung fase 3. Oleh karena itu, ISWT sebaiknya dipertimbangkan sebagai bagian integral dalam program rehabilitasi jantung untuk penatalaksanaan pasien PJK pasca perawatan rumah sakit. Kata Kunci: incremental shuttle walk test, kenyamanan, penyakit jantung koroner, VO2ma

    502

    full texts

    579

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keperawatan Indonesia (JKI)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇