Jurnal Kesehatan Lingkungan (Politeknik Kesehatan Kemenkes Banjarmasin)
Not a member yet
    245 research outputs found

    Tingkat Pengetahuan PHBS Guru Wali Dan Pola PHBS Murid: (Studi di SD Inpres 60 Klamono, Kabupaten Sorong)

    No full text
    Healthy and Clean Behavior (HCB) is an endeavor to promote individual’s consciousness to improve their health. HCB components include proper hand washing, adequate fruits and vegetables intake, adequate physical activity, and clean environment maintenance. Teachers have their own portion in HCB. They can directly transfer their knowledge about HCB to their students or they can become role models to the students in their action. This study aimed to assess whether teachers’ knowledge is sufficient and how it impacts their students’ behavior. This observational study used a cross-sectional design. A total of 38 students and 3 teachers from Klamono 60 Inpres Elementary School, Sorong Regency were involved in this study. Questionnaires on HCB knowledge and HCB practice were used to evaluate both the teachers and students. All teachers (n= 3) had a good HCB knowledge while 74% of students had poor attitude towards Healthy and Clean Behavior. The knowledge of Healthy and Clean Behavior of all teachers were good while HCB practices among students were mostly poor.Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya yang bertujuan meningkatkan kesadaran individu dalam kesehariannya sehingga derajat kesehatannya baik. Komponen dalam PHBS mencakup cara mencuci tangan, konsumsi buah dan sayur, kebiasaan berolahraga dan menjaga kebersihan lingkungan. Guru memiliki peran tersendiri dalam PHBS. Seorang guru dapat membagikan pengetahuannya tentang PHBS kepada muridnya atau dapat menjadi panutan secara langsung dalam perilaku PHBS-nya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menilai apakah pola pengetahuan guru tentang PHBS cukup dan bagaimana dampaknya terhadap perilaku siswa di sekolah yang sama. Penelitian observasi ini dilakukan secara potong lintang di Distrik Klamono, Kabupaten Sorong pada Januari 2019. Sebanyak 38 murid dan 3 guru wali kelas (IV, V dan VI) di SD INPRES 60 Klamono diminta kesediaannya untuk mengisi kuesioner pengetahuan PHBS dan kuesioner perilaku PHBS pada murid kelas IV, V, dan VI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan PHBS guru wali kelas baik (100%) namun pola perilaku PHBS murid sebagian besar kurang baik (74%). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pengetahuan PHBS semua guru wali kelas baik sedangkan pola perilaku PHBS murid sebagian besar kurang baik

    Keluhan Carpal Tunnel Syndrome Pada Pengrajin Purun

    No full text
    Carpal Tunnel Syndrome includes disorders of the muscles, nerves, tendons, and blood vessels caused by repetitive activities for a long time. One of the informal sectors that always works using hands and wrists is the purun craftsman in Palam, Cempaka, Banjarbaru City. The purpose of this study was to determine the relationship between length of service and tenure with complaints of CTS on Purun craftsmen. One of the sampling techniques used is purposive sampling using inclusion and exclusion criteria. The number of samples collected is 53 respondents. Data analysis using the chi-square test. The results of the research test on the variable length of work, the Pearson chi-square sig value of 0.002 (<0.05) indicates a relationship between length of work and complaints of carpal tunnel syndrome in craftsmen. Although the results of the time-of-use survey test vary, the results of the research test on the variable period of service, the value of sig pearson's chi-square sig 0.002 (etlt; 0.05), which means that there is a relationship between years of service and complaints of carpal tunnel syndrome of purun craftsmen in Palam, Cempaka, Banjarbaru City.Carpal Tunnel Syndrome termasuk gangguan  pada otot, saraf, tendon, dan pembuluh darah yang disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang lama. Salah satu sektor informal yang bekerja selalu menggunakan tangan dan pergelangan tangan yaitu pengrajin purun di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama kerja danmasa kerjal dengan keluhan CTS pada pengrajin purun. Salah satu teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah Purposive Sampling dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel yang dikumpulkan adalah 53 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil dari uji penelitian pada variabel lama kerja, nilai sig Pearson chi-square 0,002 (< 0,05) menunjukkan adanya hubungan antara lama kerja dengan keluhan pengrajin carpal tunnel syndrome. Meskipun hasil uji survey time-of-use bervariasi, hasil uji penelitian pada variabel masa kerja , nilai sig  pearson's chi-square sig 0,002 (etlt; 0,05), yaitu artinya adanya hubungan  masa kerja dan keluhan carpal tunnel syndrome  pengrajin purun di Kelurahan  Palam, Kecamatan Cempaka, Kota  Banjarbaru

    Hubungan Pengetahuan Mengemudi Aman dan Masa Kerja dengan Perilaku Mengemudi Aman pada Sopir Bus PO. X Kutoarjo

    No full text
    There was an increase in traffic accident cases at 5.13% from 2015 (96,233 cases) to 2016 (106,644 cases) (BPS, 2019). Those  traffic accidents could be prevented with the high knowledge of safety driving and period of service of the bus driver. The driver can be more skilled and know the risks of his job so that he is more careful and adopts safe driving behavior. This study aims to determine the relationship between safe driving knowledge and period of service with safety driving behavior. This was an analytic-observational research which utilized the cross sectional research design. Respondents are 93 bus driver of PO.  X Kutoarjo. The sampling technique used is simple random sampling. The instruments used in this research were questionnaires to determine the safety driving knowledge, period of service and safety driving behavior. Then the analysis was carried out using the somers’d test and multiple ordinal regression test. Somers'd test result found that there was a significant relation between knowledge of safety driving and safety driving behavior (p = 0.000; r = 0.683). With the same test, there is a significant relation between period of service and safety driving behavior (p = 0.000; r = 0.606). The result of the multiple ordinal regression test shows that knowledge of safety driving and period of service both have an effect on safety driving behavior, and it is known that knowledge of safety driving has a greater impact than period of service on the safety driving behavior. (p = 0.000; OR = 7.677; p = 0.001; OR = 6.060), it means there is a relation of safety driving knowledge and period of service with safety driving behavior. Knowledge is a precursor factor in a person behavior. Drivers who have good knowledge of safety driving will have a high awareness of the importance of driving safely. The period of service have relation with safety driving behavior, the longer drivers period of service have better safety driving behavior.Terjadi kenaikan kasus kecelakaan lalu lintas 5,13% dari tahun 2015 (96.233 kasus) ke 2016 (106.644 kasus)(BPS, 2019). Kecelakaan lalu lintas tersebut dapat dicegah dengan pengetahuan mengemudi aman yang tinggi dan masa kerja lama yang dimiliki oleh sopir bus. Sopir tersebut dapat lebih terampil dan mengetahui risiko dari pekerjaanya sehingga lebih berhati-hati dan menerapkan perilaku mengemudi aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan mengemudi aman dan masa kerja dengan perilaku mengemudi aman.  Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Responden merupakan sopir bus PO. X Kutoarjo sejumlah 93 orang. Teknik sampling yang digunakan yaitu simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner untuk mengetahui pengetahuan mengemudi aman, masa kerja, dan perilaku mengemudi aman. Kemudian dilakukan analisis menggunakan uji Somers’d dan uji regresi ordinal berganda. Hasil uji somers’d diketahui terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan mengemudi aman dengan perilaku mengemudi aman (p= 0,000; r=0,683), dan terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan perilaku mengemudi aman (p= 0,000; r=0,606). Hasil uji regresi ordinal berganda menunjukkan bahwa pengetahuan mengemudi aman dan masa kerja sama-sama berpengaruh terhadap perilaku mengemudi aman, dan diketahui pengetahuan mengemudi aman memiliki kekuatan pengaruh yang lebih besar dibandingkan masa kerja terhadap perilaku mengemudi aman (p=0,000 ; OR=7,677 ; p=0,001 ; OR=6,060), artinya terdapat hubungan pengetahuan mengemudi aman dan masa kerja dengan perilaku mengemudi aman. Pengetahuan merupakan faktor pendahulu dalam perilaku seseorang. Pengemudi yang memiliki  pengetahuan mengemudi aman yang baik akan memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya mengemudikan kendaraan dengan aman. Masa kerja berhubungan dengan perilaku mengemudi aman, semakin lama masa kerja pengemudi maka semakin baik perilaku mengemudi aman yang dimiliki

    Pengembangan Model Perilaku Mencuci Tangan Pada Mahasiswa Untuk Pemulihan Kesehatan Lingkungan Kampus Pasca Pandemi Covid-19

    No full text
    The face-to-Face teaching-learning process required several preparations to prevent the re-emergence of Covid-19. Students are the majority of campus inhabitants involved in the teaching-learning process, so compliance in implementing healthy protocols is very important. Hand washing is one of the health protocols which must be carried out because it is an important activity. This research aimed to develop a model of handwashing behaviour and examine the effects of knowledge variables (Z1), attitudes (Z2), and the facilities of soap, water, and hand sanitiser (Z3) on the handwashing behaviour (Y). Model examine used a set of empirical data collected from 101 chemical engineering students randomly. Then, the writers collected, sorted, and analysed the data statistically using descriptive statics, multiple linear regression test, T-test, and F test. Data representation, validation, and data correlation were conducted in MS Excel and SPSS 20. Multiple linear regression test produced the equation of Y = 3.722 + 0.035Z1 + 0.142Z2 + 0.269Z3 + e. The T-test showed that knowledge was not partially affecting handwashing behaviour; both attitude and facilities, each behaviour affected handwashing behaviour partially. The F test explained that knowledge, attitudes, and facilities simultaneously affected hand wash behaviour. Determination coefficient testing of the model showed that knowledge, attitudes, and facilities of soap, water, and hand sanitiser gave 48.3% contribution from all variables which influenced handwashing behaviour. The development of handwashing behaviour could be conducted by providing the stimuli like socialising the importance of handwashing (through posters, banners, and counselling between lecturing) and providing soap, water, and hand sanitiser facilities on campus corners. It involved the students in the socialisation and provided the handwashing facilities.Pembelajaran tatap muka memerlukan beberapa persiapan untuk mencegah berkembangnya kembali Covid-19. Mahasiswa adalah mayoritas dari penghuni kampus yang terlibat dalam proses pembelajaran sehingga kepatuhan mahasiswa dalam melaksanakan protokol kesehatan sangatlah penting. Protokol kesehatan mengharuskan cuci tangan sebagai bagian aktifitas penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model perilaku mencuci tangan dan menguji pengaruh variabel pengetahuan (Z1), sikap (Z2), dan sarana sabun, air, hand sanitizer (Z3) terhadap perilaku mencuci tangan (Y). Pengujian model menggunakan satu set data empiris yang dikumpulkan dari 101 mahasiswa jurusan teknik kimia secara acak. Selanjutnya data dikumpulkan, diurutkan, dan dianalisa secara statisik menggunakan statistik deskriptif, uji regresi linier berganda, uji T, dan uji F. Representasi data, validasi dan korelasi data dilakukan dalam MS Excel dan SPSS 20. Uji regresi linier berganda menghasilkan persamaan Y = 3,722 + 0,035 Z1 + 0,142 Z2 + 0,269 Z3 + e. Uji T menunjukkan bahwa pengetahuan tidak mempengaruhi secara parsial perilaku mencuci tangan; baik sikap maupun sarana, masing-masing mempengaruhi secara parsial perilaku mencuci tangan. Uji F menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, dan sarana mempengaruhi secara serentak perilaku mencuci tangan. Pengujian koefisien determinasi dari model menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, dan sarana sabun, air, hand sanitizer memberikan kontribusi 48,3% dari seluruh variabel yang mempengaruhi perilaku mencuci tangan. Pengembangan perilaku mencuci tangan dapat dilakukan dengan pemberian stimulus, antara lain sosialisasi pentingnya mencuci tangan (melalui poster, banner, penyuluhan di sela perkuliahan), penyediaan sarana sabun, air, dan hand sanitizer di sudut-sudut kampus, dan pelibatan mahasiswa dalam kegiatan sosialisasi maupun penyediaan sarana cuci tangan

    Program Eco-Pesantren Dalam Pelestarian Lingkungan

    No full text
    Research has been carried out using the literature study method related to the eco-pesantren program in environmental conservation which aims to interpret the concept of eco-pesantren and educational values ​​in preserving the environment. Islam as rahmatan lil'alamin regulates human relations with the environment both through the verses of the Qur'an and as-Sunnah which are integrated in the form of regulations by the Ministry of the Environment packaged into one as the eco-pesantren program. The form of cooperation between the Ministry of Environment and the Ministry of Religion in addition to establishing the first eco-pesantren in Indonesia is the formulation of objectives, benefits, and indicators that identify the application of eco-pesantren in an educational institution. The eco-pesantren program uses the concept of environmental awareness in implementing and revitalizing it. Increased environmental awareness due to the success of socializing and supported by Islamic values ​​and spiritual life creates an ecological atmosphere both now and in the future.Telah dilakukan penelitian menggunakan metode studi pustaka terkait program eco-pesantren dalam pelestarian lingkungan yang bertujuan mamaknai konsep eco-pesantren dan nilai-nilai edukasi dalam melestarikan lingkungan. Islam sebagai rahmatan lil’alamin mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya baik melalui ayat al-Qur’an maupun as-Sunnah yang terintegrasikan dalam bentuk aturan oleh Kementerian Lingkungan Hidup terkemas menjadi satu dengan sebutan program eco-pesantren. Bentuk kerja sama antara Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementrian Agama selain mendirikan eco-pesantren yang pertama di Indonesia yakni dirumuskannya tujuan, keuntungan, serta indicator yang teridentifikasinya penerapan eco-pesantren pada suatu Lembaga Pendidikan. Program eco-pesantren menggunakan konsep kesadaran terhadap lingkungan hidup dalam mengimplementasikan dan merevitalisasikannya. Kesadaran lingkungan yang meningkat karena keberhasilan melakukan sosialisasi serta didukungnya oleh nilai-nilai Islam dan kehidupan spiritual mewujudkan suasana ekologis baik pada masa kini maupun masa mendatang

    Pemanfaatan Film Animasi Dengue Hemorrhagic Fever Selama Masa Pandemi Covid-19

    No full text
    The number of cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Malang Raya during the COVID-19 pandemic has increased. This is due to the Large-Scale Social Restriction Program (PSBB), so that efforts to tackle the spread of DHF cannot run optimally. This study aims to create an animated film that facilitates education to the people of Malang Raya regarding efforts to prevent and control dengue outbreaks in the pandemic period and in the future. The research methodology is carried out using research and development methods which are divided into two major parts, namely product design and product design in the form of animated films. Research respondents consisted of 16 respondents with an age range of 15-21 years. The results showed that most of the respondents had never watched a DHF animated film. Respondents' responses indicated that there was a potential increase in dengue fever sufferers during the COVID-19 pandemic caused by low self-awareness such as ignoring the quality of their health when studying at home. Suggestions for the DHF animated film are to add information on how to drain the bathtub properly on a regular basis, bury used items that are no longer used, plant mosquito repellent plants, use insect repellent, and create posters or content about dengue fever.Angka kasus Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di Malang Raya pada kondisi pandemi COVID-19 mengalami lonjakan. Hal ini disebabkan oleh adanya Program Pembatasan Social Berskala Besar (PSBB), sehingga usaha untuk menanggulangi penyebaran DHF pun tidak dapat berjalan maksimal. penelitian yang bertujuan untuk membuat film animasi yang mempermudah edukasi kepada masyarakat Malang Raya mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan wabah DBD di masa pandemi dan masa yang akan datang. Metodologi penelitian yang dilakukan dengan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu desain produk dan produk berupa film animasi. Responden penelitian terdiri dari 16 responden dengan rentang usia 15-21 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum pernah menonton film animasi DHF. Tanggapan responden menunjukkan adanya potensi kenaikan penderita demam berdarah di masa pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh kesadaran diri yang rendah seperti mengabaikan kualitas kesehatannya saat pembelajaran di rumah. Saran untuk film animasi DHF adalah dengan menambahkan informasi tentang cara menguras bak mandi dengan baik secara rutin, mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, menanam tanaman pengusir nyamuk, menggunakan obat nyamuk, dan membuat poster atau konten mengenai demam berdarah

    Paparan Endotoksin Sebagai Faktor Risiko Penurunan Fungsi Paru Pada Pekerja Di Industri Tekstil Berbahan Baku Kapas: (Literatur Review)

    No full text
    Dust particles that enter the body through inhalation and into the lungs can cause disturbances in the respiratory tract. Dust particles produced from cotton fibers can contain endotoxin biological agents, inhalation of endotoxins can also cause other diseases namely, flu, bronchitis, chronic obstructive pulmonary and decreased lung function. This study was conducted for the analysis of endotoxin exposure in cotton dust as a risk factor for decreasing lung function of workers in the textile industry. The method used in writing this article is a literature review using ten scientific articles to analyze the level of endotoxins in cotton dust, the characteristics of workers and the decline in lung function in workers. The study found that the highest levels of endotoxins were found in cotton mills in Shanghai with annual endotoxin levels of 1,730-65,204 EU/m3. Endotoxins in cotton dust are found most abundantly in spinning and weaving units. Factors such as age, length of service and smoking status are risk factors for workers experiencing a decrease in lung function, while the influence of Personal Protective Equipment (PPE) still needs to be studied further.Partikel debu yang masuk ke tubuh melalui inhalasi dan kedalam paru-paru dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernafasan. Partikel debu yang dihasilkan dari serat kapas dapat mengandung agen biologi endotoksin, menghirup endotoksin juga dapat dapat menyebabkan penyakit lain yaitu flu, bronchitis,paru obstruktif kronik serta penurunan fungsi paru. Penelitian ini dilakukan untuk analisis paparan endotoksin dalam debu kapas sebagai faktor risiko penurunan fungsi paru pekerja di industri tekstil. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah literature review menggunakan sepuluh artikel ilmiah untuk menganalisis kadar endotoksin dalam debu kapas, karakteristik pekerja dan penurunan fungsi paru pada pekerja. Studi ini menemukan bahwa kadar endotoksin yang paling tinggi ditemukan pada pabrik kapas di Shanghai dengan kadar endotoksin pertahun yaitu 1.730-65.204 EU/m3. Endotoksin dalam debu kapas ditemukan paling banyak pada unit spinning dan weaving. Faktor usia, masa kerja dan status merokok adalah faktor risiko pada pekerja mengalami penurunan fungsi paru, sedangkan pengaruh Alat Pelindung Diri (APD) masih perlu dikaji lebih lanjut

    Ekstrak Lidah Mertua (Sansevieria sp.) Efektif dalam Mereduksi Volatile Organic Compound (VOC)-Benzena Dalam Ruang

    No full text
    Extract of Snake Plant (Sansevieria sp.) As a Reducer of Indoor Air Pollution, Volatile Organic Compounds (VOC) -Benzene. The quality of the indoor environment has become a health concern, as city dwellers spend 80-90% of their time indoors, where outdoor air pollution is several times higher. Indoor potted plants can remove airborne contaminants such as volatile organic compounds (VOCs), more than 300 of which have been identified in indoor air. and a very wide range of light, and is resistant to pollutants. This plant is also able to absorb more than 107 harmful pollutants in the air, this is due to Sansevieria sp. contains the active ingredient Pregnane glycosides. These active ingredients function to reduce pollutants into organic acids, sugars and amino acids so that these pollutants are no longer harmful to humans3. This study aims to see the extract of the tongue-in-law in reducing Volatile Organic Compounds (VOCs) in the room. The method used in this research is true experimental design with pre and post-test design without control design. Based on the results of the study, the decrease in benzene levels was done by using the sansevieria extract concentration with the average reduction proportions, namely: 10 ppm concentration; 98.24%, 20 ppm; 98.47%; 30 ppm; 98.73%. The results of statistical tests using the Mann Whitney U test showed that the results were 0.000 <0.05 so that there was a relationship, namely that there was a difference in the concentration of the extract of Sansevieria sp. against decreased levels of benzene. The most effective level of Sansevieria extract in reducing benzene levels in the air was 30 ppm with an average reduction proportion of 98.73%.Kualitas lingkungan dalam ruangan telah menjadi pertimbangan dalam kesehatan, karena penduduk kota menghabiskan 80-90% waktu mereka di dalam ruangan, dimana polusi udara bisa beberapa kali lebih tinggi daripada di luar ruangan. Tanaman pot dalam ruangan dapat menghilangkan kontaminan yang ditularkan melalui udara seperti senyawa organik menguap (VOC), lebih dari 300 diantaranya telah diidentifikasi di udara dalam ruangan.1 Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) mempunyai banyak kelebihan, seperti mampu bertahan hidup pada rentang waktu suhu dan cahaya yang sangat luas, dan resisten terhadap polutan. Tanaman ini dapat mereduksi sekitar 107 jenis polutan yang  berbahaya di udara, hal ini disebabkan bahan aktif preganane glikosid yang terkandung dalam tanaman Sansevieria sp. yang berfungsi untuk mereduksi polutan menjadi senyawa  asam organik, gula dan asam amino, sehingga kandungan dalam polutan tersebut menjadi aman dan tidak membahayakan kesehatan manusia . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak lidah mertua dalam mereduksi Volatile Organic Compounds (VOCs) dalam ruangan. Metode dalam penelitian ini adalah true experimental design dengan menggunakan desain pre and post-test without control design. Berdasarkan hasil penelitian penurunan kadar benzena dengan menggunakan konsentrasi ekstrak sansevieria dengan rata-rata persentase penurunan, yaitu : Konsentrasi 10 ppm; 98,24%, 20 ppm; 98,47%; 30 ppm; 98,73%. Hasil uji statistik menggunakan Mann Whitney U Test adalah 0,000 < 0,05, maka terdapat hubungan yang bermakna perbedaan konsentrasi ekstrak Sansevieria sp. terhadap pernurunan kadar benzena. Kadar ekstrak Sansevieria yang paling efektif dalam menurunkan kadar benzena di udara adalah 30 ppm dengan persentase rata-rata penurunan adalah sebesar 98,73%

    Analisis Pencemaran Air Pasca Penerapan Sanksi Terhadap Tindak Perusakan Konservasi Sumber Daya Air Di Sungai Silandak Kecamatan Ngaliyan Semarang

    No full text
    Changes in river quality can reduce the optimal use of rivers for residents. The rapid development of industry in Indonesia, which is not balanced with a sense of responsibility towards the environment, can trigger water pollution. Liquid waste containing toxic materials that is flowed into rivers without being neutralized first can damage marine ecosystems and even kill aquatic biota. The study was conducted to find out the comparison between before and after sanctions were applied to water pollution in the Silandak River. The research procedure uses field observations of water conditions such as color, turbidity, aroma, amount of water, and current by taking pictures using a smartphone camera and recording observations using ATK. In addition, interviews were conducted with local residents. The results showed that there was a comparison between before and after handling. The color indicator was light brown, the level of turbidity was low, there was no foul smell, and the river flow was heavier than before. The existence of handling or efforts to overcome environmental problems so that the community is not disturbed again due to waste disposal without being processed first.Berubahnya kualitas sungai dapat mengurangi keoptimalam pemanfaatan sungai bagi warga. Pesatnya perkembangan industri di Indonesia yang tidak diimbangi dengan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dapat memicu pencemaran air. Limbah cair yang mengandung bahan beracun yang dialirkan ke parit atau sungai tanpa dilakukan netralisir terlebih dahulu dapat merusak ekosistem laut bahkan membunuh biota air. Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran perbandingan antara sebelum dan sesudah diterapkan sanksi terhadap tindak pencemaran air di Sungai Silandak. Prosedur penelitian dengan pengamatan lapangan terhadap kondisi air dari warna, kekeruhan, aroma, jumlah air serta arus dengan mengambil gambar menggunakan kamera smartphone dan mencatat hasil pengamatan menggunakan ATK. Selain itu dilakukan wawancara kepada warga sekitar. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbandingan antara sebelum dan pasca penanganan indicator warna air coklat muda, tingkat kekeruhan rendah, tidak timbul aroma busuk, dan aliran sungai lebih deras dari sebelumnya. Adanya penanganan ataupun upaya dalam mengatasi permasalahan lingkungan sehingga masyarakat tidak terganggu kembali akibat pembuangan limbah tanpa diproses terlebih dahulu

    Perbandingan Efektivitas Larutan Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix) Dan Daun Kemangi (Ocimum sanctum) Sebagai Larvasida Aedes spp

    No full text
    Nowadays, the cases of dengue hemorrhagic fever are progressively increasing and necessitating control. One of the easiest controls in breaking the life cycle of Aedes spp. mosquitoes is to kill mosquito larvae using plants as natural larvacides are environmentally friendly. One of them is using purut lime leaves and basil leaves. The study aims to determine the effectiveness comparison of solution purut lime leaves and basil leaves toward Aedes spp. larvae mortality. This research method is a true experiment with a Post-Test Only Control Group design. It is also followed by concentration at control (0%), 1,5%, 2,5%, 3,5%, 4,5%, and 5,5% with 4 repetitions. The sample was 1.200 instar Aedes spp. III larvae. The results showed the effectiveness of the kaffir lime leaf solution was at the lowest concentration of 3.5% with the mortality of 18 Aedes spp. larvae and the effective concentration of basil leaves was 4.5% with 15 larvae mortality. From an economic and availability perspective, basil leaves are easier to find, making it easier to apply. This makes it easier to apply. Water reservoirs are difficult to clean outside the home.Kasus Demam Berdarah Dangue semakin meningkat sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian. Salah satu upaya pengendalian yang paling mudah dalam memutus siklus hidup nyamuk Aedes spp adalah dengan membunuh jentik nyamuk menggunakan tanaman sebagai larvasida alami yang ramah lingkungan, salah satunya yaitu daun jeruk purut dan daun kemangi. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui perbandingan efektivitas antara larutan daun jeruk purut dan daun kemangi pada kematian larva Aedes spp. Metode penelitian ini bersifat True eksperimental dengan rancangan post- test only group design. Variasi konsentrasi yang digunakan yaitu kontrol (0%), 1,5%, 2,5%, 3,5%, 4,5% dan 5,5% dengan 4 kali pengulangan. Sampel dan populasi yang digunakan adalah 1.200 ekor larva Aedes spp instar III yang berisi 25 ekor larva pada setiap kontainer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas larutan daun jeruk purut ada pada konsentrasi 3,5% dengan jumlah kematian larva Aedes spp 18 ekor dan pada larutan daun kemangi didapatkan konsentrasi yang efektif yaitu 4,5% dengan jumlah kematian larva 15 ekor. dari segi ekonomi dan ketersediaan bahan daun kemangi lebih sering dijumpai sehingga memudahkan penggunaannya dan dapat diaplikasikan pada penampungan air yang sulit dibersihkan diluar rumah

    116

    full texts

    245

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Lingkungan (Politeknik Kesehatan Kemenkes Banjarmasin)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇