Jurnal Kesehatan Lingkungan (Politeknik Kesehatan Kemenkes Banjarmasin)
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Absorbsi Antosianin Buah Anggur (Vitis vinifera) Pada Kertas Saring Whatmann No. 41 Dan Whatmann No. 42 Untuk Identifikasi Boraks
Borax detection can be done using the flame test method, volumetric titration, spectrophotometric analysis, and qualitatively using natural materials such as curcumin and anthocyanins. The high content of anthocyanins in grapes has the potential to be utilized in acid-base titrations as an indicator of natural acid-base. The research objective was to determine the potential of anthocyanins in the flesh and skin of grapes in detecting natural borax which is absorbed on filter paper, Whatmann paper no. 41 and Whatmann paper no. 42. Then it was tested on samples of meatballs from 5 sellers in Samarinda Seberang to Mangkupalas village. The research method used is a quantitative analysis of the color changes that occur. Based on the research results, filter paper can have a better absorption that is shown with a dark color on Whatmann No. 41 and Whatmann No.42. Grape skin extract can detect borax more clearly than flesh by forming a dark purple ring when reacting with borax. In testing using meatball samples, the overall results showed that the samples contained borax. It was concluded that the filter paper from the absorption of grape skin anthocyanins could be used as an alternative in quantitatively testing the borax content in food.Deteksi boraks dapat dilakukan dengan menggunakan metode uji nyala api, titrasi volumetrik, analisis spektrofotometri serta secara kualitatif menggunakan bahan alam seperti kurkumin dan antosianin. Kandungan antosianin di dalam anggur yang cukup tinggi memiliki potensi pemanfaatan dalam titrasi asam basa sebagai indikator asam basa alami. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui potensi antosianin pada daging dan kulit buah anggur dalam mendeteksi boraks secara alami yang diabsorpsikan pada kertas saring biasa, kertas Whatmann no. 41 dan kertas Whatmann no.42. Kemudian diujicobakan pada sampel pentol bakso dari 5 penjual yang berada di sekitar Samarinda Seberang hingga ke Mangkupalas. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis secara kuantitatif perubahan warna yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian kertas saring bisa memiliki daya absorbsi yang lebih baik ditandai dengan warna yang pekat dibandingkan Whatmann no. 41 dan Whatmann no.42. Ekstrak kulit anggur dapat mendeteksi boraks lebih jelas dibandingkan dengan buah anggurnya dengan terbentuknya cincin berwarna ungu tua jika direaksikan dengan boraks. Pada pengujian menggunakan sampel pentol bakso dari 5 penjual, diperoleh hasil keseluruhan sampel menggandung boraks. Disimpulkan bahwa kertas saring dari absorbsi antosianin kulit anggur dapat digunakan sebagai alternatif dalam menguji kandungan boraks pada makanan secara kuantitatif
Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Masyarakat Kota Tasikmalaya Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Masa Pandemi Covid-19
Household waste is the largest producer of waste from total waste in Indonesia. Waste production in Tasikmalaya City is 156 tons of waste/day and 75% of it is household waste. Awareness of household waste management < 1%, which affects the landfill which is predicted to only leave space for 4-5 more years. In the middle of the Covid-19 pandemic, there is an increase in household waste. The aim of this study was to determine the factors related to the behavior of the people of Tasikmalaya City in managing household waste during the Covid-19 pandemic. This type of research is quantitative research with a cross-sectional approach. The study population was all residents of the City of Tasikmalaya aged > 15 years. The research sample is the residents of the City of Tasikmalaya who are > 15 years old and are willing to fill out an online questionnaire. The sampling technique was accidental sampling, with a minimum number of samples (n). The dependent variable is household waste, the independent variables are age, gender, education level, family income, daily expenses for food, activity base from home, online shopping habits, and the availability of trash bins. The results showed 56.9% of the people of Tasikmalaya City stated that the volume of their household waste during the pandemic was the same as before the Covid-19 pandemic. The results also found a significant relationship between online shopping/buying food habits and the volume of household waste during the pandemic (p=0.018; OR 1.830; 95% CI: 1.106-3.027). People who have the habit of shopping/buying food online during the pandemic have a 1,830 greater tendency to generate more volume of waste compared to people who are not accustomed to buying food online during the pandemic.Sampah rumah tangga adalah produsen sampah terbesar dari total sampah di Indonesia. Produksi sampah di Kota Tasikmalaya sebanyak 156 ton sampah/hari dan 75%-nya adalah sampah rumah tangga. Kesadaran pengelolaan sampah rumah tangga < 1%, yang berpengaruh terhadap TPA sampah yang diprediksi hanya menyisakan ruang 4-5 tahun lagi. Di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi, terjadi peningkatan sampah rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat Kota Tasikmalaya dalam pengelolaan sampah rumah tangga di masa pandemi Covid-19. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk Kota Tasikmalaya yang berusia > 15 tahun. Sampel penelitian adalah penduduk Kota Tasikmalaya yang berusia >15 tahun dan bersedia mengisi kuesioner yang disebarkan secara online. Teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling, dengan perhitungan jumlah sampel minimal (n). Variabel terikat adalah sampah rumah tangga, variabel bebas adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, pengeluaran harian untuk makan, basis aktivitas dari rumah, kebiasaan belanja online, serta ketersediaan sarana tempat sampah. Hasil penelitian menunjukkan 56,9% masyarakat Kota Tasikmalaya menyatakan bahwa volume sampah rumah tangga mereka selama pandemi sama dengan sebelum terjadi pandemi Covid-19. Hasil penelitian juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan belanja/membeli makanan secara online dengan volume sampah rumah tangga saat pandemi (p=0,018; OR 1,830; 95% CI: 1,106-3,027). Orang yang memiliki kebiasaan belanja/membeli makanan secara online selama pandemi memiliki kecenderungan 1,830 lebih besar untuk menghasilkan volume sampah yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak terbiasa membeli makanan secara online saat pandemi
Faktor Iklim Dengan Kejadian Pneumonia Di Kota Jakarta Pusat Periode 2016-2020
The environment is one factor that can cause health problems. One aspect of the environment that plays a role in the pattern of disease transmission is climate change. This can be seen in the frequency of respiratory and cardiovascular disease events such as pneumonia. This study aimed to determine the relationship between climate, including temperature, humidity, and rainfall, and the incidence of pneumonia in Central Jakarta in 2016–2020. The method used is quantitative research with a descriptive study design. This study used secondary data where climate data was obtained from the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency. Climate data is daily data which is converted into monthly data. While pneumonia data is monthly data for all pneumonia cases recorded at the DKI Jakarta Health Office, which can be accessed online. The data was processed univariately with descriptive analysis and bivariate with correlation analysis. The results showed that the lower the temperature, the higher the pneumonia cases (r = -0.238). However, the higher the humidity (0.145) and the rainfall (0.158), the higher the pneumonia cases. The local government should increase vigilance against the transmission of pneumonia, especially when humidity and rainfall are high and the ambient temperature is low.Lingkungan merupakan salah satu factor yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan. Salah satu aspek dari lingkungan yang berperan dalam pola penularan penyakit yaitu perubahan iklim. Hal tersebut dapat terlihat pada frekuensi peristiwa penyakit pernapasan dan kardiovaskular seperti penyakit pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara iklim meliputi suhu, kelembaban udara, dan curah hujan dengan kejadian pneumonia di Jakarta Pusat pada tahun 2016-2020. Metode yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain studi deskriptif. Penelitian ini menggunakan data sekunder dimana data iklim diperoleh dari Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika. Data iklim merupakan data harian yang dikonversi mejnadi data bulanan. Sedangkan data pneumonia merupakan data bulanan seluruh kasus pneumonia yang tecatat pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dapat diakses secara online. Data diolah secara univariat dengan analisis deskriptif dan bivariate dengan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin rendah suhu maka semakin tinggi kasus pneumonia (r = -0.238). Namun, semakin tinggi kelembaban udara (0.145) dan curah hujan (0.158) maka semakin tinggi pula kasus pneumonia. Pemerintah setempat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit pneumonia terutama ketika kelembaban dan curah hujan tinggi serta suhu lingkungan rendah
Identifikasi Cacing Dan Telur Cacing Pada Sayuran Lalapan Di Pasar Tradisional Kota Semarang
Vegetables are an important type of food for humans. Lack of vegetable consumption can increase the risk of developing degenerative diseases such as obesity, coronary heart disease, kidney failure, diabetes, hypertension, and cancer. Fresh vegetables are vegetables that are usually served raw, so it is estimated that they are the source of Soil-Transmitted Helminth (STH) infection in humans. Some examples of fresh vegetables include cabbage, lettuce, basil, leeks, celery, and mustard greens. The purpose of this study was to determine the results of the identification of worm eggs and adult worms in fresh vegetables sold in traditional markets in Semarang City. This type of research is called descriptive qualitative research. The subjects of this study were all fresh vegetables sold in the traditional markets of Semarang City. The research sample was taken by random sampling from all areas of Semarang City, covering the areas of Central Semarang (Johar Market), North Semarang (Purwogondo Market), East Semarang (Langgar Indah Market), West Semarang (Karang Ayu Market), and Semarang South (Peterongan Market). The results showed that the vegetables sold in the Peterongan Market and Purwogondo Market were not found to be contaminated. Meanwhile, fresh vegetables sold at Langgar Market, Johar Market, and Karang Ayu Market were found to be contaminated. Contamination that occurs in fresh vegetables in the traditional market of Semarang City is caused by Oxyuris vermicularis worm eggs, hookworm eggs, Ascaris lumbricoides worm eggs, hookworm larvae, and adult hookworms.Sayuran merupakan jenis makanan penting bagi manusia untuk menjaga kesehatan. Kurangnya konsumsi sayur dapat meningkatkan resiko terkena penyakit degenerative di kemudian hari seperti obesitas, jantung coroner, gagal ginjal, diabetes, hipertensi, dan kanker. Sayuran lalapan adalah sayuran yang biasanya dihidangkan dalam keadaan mentah sehingga diperkirakan dapat berperan menjadi salah satu sumber infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) pada manusia. Beberapa contoh sayur lalapan, antara lain kubis, selada, kemangi, daun bawang, seledri, dan sawi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil identifikasi jenis telur cacing dan cacing dewasa pada sayuran lalapan yang dijual di pasar tradisional Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh sayuran lalapan yang dijual di pasar tradisional Kota Semarang. Adapun pengambilan sampel penelitian dilakukan secara random sampling yang diambil dari seluruh wilayah Kota Semarang, meliputi wilayah Semarang Tengah (Pasar Johar), Semarang Utara (Pasar Purwogondo), Semarang Timur (Pasar Langgar Indah), Semarang Barat (Pasar Karang Ayu), dan Semarang Selatan (Pasar Peterongan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sayuran yang dijual di Pasar Peterongan dan Pasar Purwogondo tidak ditemukan adanya kontaminasi cacing maupun telur cacing. Sedangkan untuk sayuran lalapan yang dijual di Pasar Langgar, Pasar Johar, dan Pasar karang Ayu ditemukan adanya kontaminasi cacing dan telur cacing. Cemaran yang terjadi pada sayuran lalapan di pasar tradisional Kota Semarang disebabkan oleh telur cacing Oxyuris vermicularis, telur cacing tambang, telur cacing Ascaris lumbricoides, larva cacing tambang, dan cacing tambang dewasa
Uji Beda Jenis Umpan Dalam Penggunaan Fly Trap Warna Kuning
Flies are the main nuisance insects and mechanical vectors which in their bodies can carry various diseases such as diarrhea, myiasis, helminthiasis, and anthrax. Generally, flies have an affinity for lighter, darker colors, and flies like things that have used various baits with pungent odors. Therefore, this study used a yellow fly trap and used various baits with strong odors. This study aims to determine differences in the effectiveness of bait types in the use of yellow fly traps. This research is an experimental study with a quasi-experimental design. The research was carried out at a chicken farm located on Penangkaran Buaya street, Makroman Urban Village, Sambutan District, Samarinda City. Research in the field lasted for 4 days start at 08.00 – 12.00 WITA. The results showed that there were differences in the effectiveness of bait types in the use of yellow fly traps in chicken coops located on Penangkaran Buaya street, Makroman Village. There was a significant difference between shrimp bait - control (0.04 < 0.05), between squid bait - beef offal (0.016 < 0.05), between feed of beef offal - control 0.001 and between fish gills - control 0.02 < 0 ,05. The most effective in attracting flies was the bait of cow offal by an average of 47 flies per day. Controlling flies by using various baits on fly traps is quite easy, inexpensive, and, certainly, can be applied by the community. The control must be carried out especially for residential areas that are not far from the breeding sites of flies.Lalat merupakan serangga pengganggu utama serta vektor mekanis yang pada tubuhnya dapat membawa berbagai penyakit seperti diare, myiasis, kecacingan dan anthrax. Umumnya lalat memiliki ketertarikan terhadap warna yang lebih cerah dan pekat serta lalat menyukai sesuatu yang memiliki bau menyengat. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan fly trap berwarna kuning dan menggunakan berbagai umpan dengan bau menyengat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas jenis umpan dalam penggunaan fly trap warna kuning. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan quasi eksperimen. Penelitian dilaksanakan di peternakan ayam yang berada di Jalan Penangkaran Buaya, Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda. Penelitian di lapangan berlangsung selama 4 hari mulai pukul 08.00 – 12.00 WITA. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan efektivitas jenis umpan dalam penggunaan fly trap warna kuning di kandang ayam yang berlokasi di Jalan Penangkaran Buaya, Kelurahan Makroman. Terdapat perbedaan bermakna antara umpan udang - kontrol (0,04 < 0,05), antara umpan cumi - jeroan sapi (0,016 < 0,05), antara umpan jeroan sapi - kontrol 0,001 dan antara insang ikan - kontrol 0,02 < 0,05. Yang paling efektif menarik lalat adalah umpan jeroan sapi dengan rata-rata 47 lalat per hari. Pengendalian lalat dengan menggunakan berbagai umpan pada fly trap cukup mudah, murah dan tentunya bisa diaplikasikan oleh masyarakat. Pengendalian harus dilakukan terutama untuk daerah permukiman yang letaknya tidak jauh dari lokasi tempat perkembangbiakan lalat
Variasi Warna Fly Grill Dan Pengaruhnya Terhadap Kepadatan Lalat Rumah (Musca domestica)
Garbage is something that is no longer needed, used and needed anymore. Trash that is buried and decayed will become a breeding ground for flies. The fly density level is the number of flies measured using a fly grill and can be used as a parameter to determine the success of waste management at the TPA or TPS. At the temporary disposal site on Jalan Brigjend Katamso, Yogyakarta City, there was an increase in the volume of waste and no previous measurements of fly density had been carried out. The purpose of this study was to determine differences in the density of house flies (Musca domestica) on various fly grill colors at the Temporary Disposal Site of Jalan Brigjend Katamso Yogyakarta. The type of research in this study is quantitative with an experimental analytical design using a post test only control group design approach. Based on the results of the study, there were differences in the density of house flies (Musca domestica) on red, orange, blue, purple and unpainted fly grills in temporary shelters on Brigjend Katamso Street, Yogyakarta City with the highest density of house flies (Musca domestica) on fly the red grille with an average value of 10 and the lowest average on the blue fly grill with an average value of 3.4. There is a significant difference between the red fly grill and the blue fly grill with a significance value of 0.041 < 0.05. Based on the results of the study, it can be concluded that the red fly grill is the preferred color for flies with the highest fly density level and the blue fly grill is the disliked color for flies with the lowest fly density level.Sampah adalah hal yang sudah tidak diperlukan,digunakan dan di butuhkan lagi. Sampah yang tertimbun dan mengalami pembusukan akan menjadi tempat perkembang biakan yang disukai lalat. Tingkat kepadatan lalat adalah jumlah lalat yang diukur menggunakan fly grill dan dapat di jadikan parameter untuk mengetahui keberhasilan dalam pengelolaan sampah di TPA atau TPS. Di tempat pembuangan sementara Jalan Brigjend Katamso Kota Yogyakarta terjadi kenaikan volume sampah dan belum dilakukan pengukuran kepadatan lalat sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kepadatan lalat rumah (Musca domestica) pada berbagai warna fly grill di Tempat Pembuangan Sementara Jalan Brigjend Katamso Yogyakarta. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain analitik eksperimental menggunakan pendekatan post test only control group design. Berdasakan hasil penelitian terdapat perbedaan kepadatan lalat rumah (Musca domestica) pada fly grill warna merah, jingga, biru, ungu dan fly grill yang tidak dicat dengan kepadatan lalat rumah (Musca domestica) tertinggi pada fly grill warna merah dengan nilai rata-rata 10 dan rata-rata terendah pada fly grill warna biru dengan nilai rata-rata 3,4. Terdapat perbedaan bermakna antara fly grill warna merah dan fly grill warna biru dengan nilai signifikansi 0,041<0,05. Fly grill merah adalah warna yang disukai lalat dengan tingkat kepadatan lalat tertinggi dan fly grill warna biru adalah warna yang tidak disukai lalat dengan tingkat kepadatan lalat terendah
Faktor Risiko Kejadian Sick Building Syndrome Pada Pegawai Dinas Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Based on initial observations, 60% of the employees of the Environment and Forestry Office of Central Java Province experienced symptoms of Sick Building Syndrome (SBS). The purpose of this study was to identify the symptoms of SBS and individual characteristics (age, sex, years of service, and smoking habits), measure the physical environmental air quality (temperature, humidity, lighting, and ACH), and also analyze the individual characteristics and physical environmental air quality with the occurance of SBS. This study used an analytic observational study design with a cross-sectional study approach. The number of samples in this study was 28. Data analysis includes univariate, bivariate and statistical tests using chi-square. The results showed that 60.7% of employees experienced SBS (17 people) and 39.3% of respondents did not experience SBS (11 people). There was no relationship between temperature (p value = 0.688), humidity (p value = 0.396), age (p value = 0.937), and years of service (p value = 0.159) with the incidence of SBS. Meanwhile, gender (p value = 0.038) and smoking habits (p value = 0.001) were associated with the incidence of SBS. SBS symptoms are felt in the form of dry skin, nosebleeds, sneezing, itching, and itchy eyes. The conclusion of this study is that there is a relationship between gender and smoking habits with the incidence of SBS, and there is a relationship between sex and smoking habits with the incidence of SBS in employees of the Environment and Forestry Service of Central Java Province.Berdasarkan hasil studi pendahuluan, sebanyak 60% pegawai Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah mengalami gejala SBS. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kualitas lingkungan fisik udara dan karakteristik responden dengan kejadian SBS. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 28 orang. Analisis data mencakup univariat, bivariat dan uji statistik menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,7% pegawai mengalami kejadian SBS (17 orang) dan 39,3% responden tidak mengalami kejadian SBS (11 orang). Tidak ada hubungan antara suhu (p value=0,688), kelembaban (p value=0,396), umur (p value=0,937), dan masa kerja (p value=0,159) dengan kejadian SBS. Sedangkan jenis kelamin (p value=0,038) dan kebiasaan merokok (p value=0,001) berhubungan dengan kejadian SBS . Gejala SBS yang dirasakan berupa kulit kering, hidung berair, bersin, dan gatal, serta mata gatal. Dapat disimpulkan bahwa variabel jenis kelamin dan kebiasaan merokok berpengaruh terhadap kejadian SBS pada pegawai Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Metode Analytic Hierarchy Process Untuk Mendukung Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Cokro Malang
The Cokro River is a tributary of the Amprong River whose river flows through several villages in Pakis District, Malang Regency, including Sumberpasir village and Pakiskembar village. Cokro River is located between residential areas and agricultural land and several industries. Industries in the Cokro river area are the leather industry, paper industry, and tofu factories. Anthropogenic activities result in river water pollution. The purpose of this study was to analyze the water quality and quality status of the Cokro River and to formulate a strategy to control water pollution in the Cokro River. This type of research is a mix method of qualitative and quantitative. Sampling was done by purposive sampling method, for pollution control strategies using the AHP method. The results of the water quality analysis show that the BOD and COD parameters exceed the class II and III quality standards at all points, the DO parameters are below the quality standard at points 3 and 5. The quality status at all points is lightly polluted on the quality criteria for class 2, while for class III quality criteria there is one point that is in good condition, that is point 4. AHP results show that the main priority is the social – institution aspect with the highest alternative solution value is to increase the role of the community in controlling river water pollution.Sungai Cokro merupakan anak sungai dari Kali Amprong yang aliran sungainya melewati beberapa desa di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang diantaranya adalah desa Sumberpasir dan desa Pakiskembar. Sungai Cokro terletak diantara pemukiman warga dan lahan pertanian serta beberapa industri. Industri yang berada di area sungai Cokro yaitu industri kulit, industri kertas, dan pabrik tahu. Aktivitas antropogenik mengakibatkan terjadinya pencemaran air sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas air dan status mutu sungai Cokro serta rumusan strategi pengendalian pencemaran air di Sungai Cokro. Jenis penelitian adalah mix method kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, untuk strategi pengendalian pencemaran menggunakan metode AHP. Hasil analisa kualitas air menunjukan parameter BOD dan COD melebihi baku mutu kelas II dan III pada semua titik, parameter DO dibawah standar mutu pada titik 3 dan 5. Status mutu pada semua titik tercemar ringan pada kriteria mutu kelas 2, sedangkan pada kriteria mutu kelas III terdapat satu titik yang dalam kondisi bagus yaitu titik 4. Hasil AHP menunjukan bahwa prioritas utama adalah aspek sosial kelembagaan dengan nilai alternatif solusi tertinggi adalah peningkatan peran masyarakat dalam pengendalian pencemaran air sungai
Gambaran Sanitasi Dasar Di Desa Meranti Kabupaten Asahan
Basic sanitation efforts include the provision of clean water, disposal of human waste (latrines), waste management and sewerage.The purpose of this research is to see the description of basic sanitation conditions as an effort to improve environmental health in the village. The type of research used is descriptive observational research with a cross-sectional approach. The population in this study were people aged 18 years and over who lived and settled in Meranti Village. The total sample in this study was 145 samples with random sampling. The survey results found that there was still a lot of open public bathroom waste water disposal, namely (37.2%) of which (22.1%) disposed of groundwater infiltration or without drainage. There are (96.6%) respondents already using latrines, (88.3%) managing household waste by burning, and almost all of them have good sources of clean water (96%). In conclusion,the provision of waste disposal facilities and waste management has not been carried out properly, this is a big risk for the 10 highest types of diseases in Meranti Village.Upaya sanitasi dasar meliputi penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia (jamban), pengelolaan sampah dan saluran pembuangan air limbah Tujuan dilakukannya penelitian ini ialah untuk melihat gambaran kondisi sanitasi dasar sebagai upaya untuk penyehatan lingkungan di desa. Jenis penelitian yang digunakan ialah peneltian deskriptif obervasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat dengan usia ≤18 tahun keatas yang tinggal dan menetap di Desa Meranti. Total sampel pada penelitian ini sebanyak 145 sampel dengan pengambilan sampel dilakukan secara random sampling. Hasil survey temukan masih banyak pembuangan air limbah kamar mandi masyarakat yang terbuka yaitu sebesar (37,2%) yang mana (22,1%) yang membuang air limbah keresapan tanah atau tanpa saluran. Terdapat (96,6%) responden sudah menggunakan jamban, (88,3%) mengelola sampah rumah tangga dengan cara dibakar, dan hampir seluruhnya memiliki sumber air bersih yang baik yakni sebanyak (96%). Kesimpulannya, penyediaan sarana pembuangan limbah dan pengelolaan sampah belum terlaksana dengan baik, hal tersebut berisiko besar terhadap adanya 10 macam penyakit tertinggi yang ada di Desa Meranti
Analisis Penerapan Laik Higiene Sanitasi Pada Depot Air Minum (DAM): (Studi pada DAM di Daerah Kerja Puskesmas Sugio Lamongan Tahun 2021)
DAM managers have to make sure the protection of water ate up via way of means of the network meets first-rate standards. Sanitary hygiene rules on DAM manufacturing water remedy have to consist of premises, equipment, fisherizers and uncooked water. The implementation of dam manufacturing water first-rate supervision serves to save you the onset of fitness risks. This studies objectives to research the Application of Sanitary Hygiene Laik on the Drinking Water Depot (DAM) withinside the Sugio Lamongan Health Center Work Area in 2021. Research is analytical via a pass sectional method to the populace taken on this take a look at of 30 DAM. The pattern from this take a look at amounted to 24 DAM In The Sugio Lamongan Health Center Work Area. The approach of taking samples is easy random sampling. Data evaluation strategies use statistical evaluation software. The outcomes of calculations withinside the take a look at acquired a cost of p = 0.013 (α<0.05) withinside the thing of vicinity, equipment (p = 0.013), toucher (p = 0.031) and uncooked water (p = 0.013) in order that it could be concluded that the thing of the vicinity influences the content material of coliform micro organism consuming water DAM manufacturing withinside the Sugio Lamongan Health Center In 2021. The neighborhood Health Office / Health Center is suggested to behavior counseling sports, schooling on dam sanitation hygiene and dam owners / fishermen are anticipated to enforce DAM sanitation hygiene sports primarily based totally on Permenkes RI Number forty three of 2014.Pengelola DAM harus memastikan keamanan air yang dikonsumsi masyarakat mencukupi standar mutu. Peraturan higiene sanitasi pada pengolahan air produksi DAM wajib mencakup tempat, peralatan, penjamah dan air baku. Penerapan pengawasan kualitas air produksi DAM berfungsi mencegah timbulnya risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan buat menganalisis Penerapan Laik Higiene Sanitasi di Depot Air Minum (DAM) di Daerah Kerja Puskesmas Sugio Lamongan Tahun 2021. Penelitian bersifat analitik melalui pendekatan cross sectional degan populasi yang diambil pada penelitian ini sebesar 30 DAM. Sampel dari penelitian ini sebesar 24 DAM Di Daerah Kerja Puskesmas Sugio Lamongan. Teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Teknik analisis data memakai software analisis statistik. Hasil perhitungan dalam penelitian didapatkan nilai p=0,013 (α<0,05) pada aspek tempat, peralatan (p=0,013), penjamah (p=0,031) dan air baku (p=0,013) sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek tempat berpengaruh pada kandungan bakteri coliform air minum produksi DAM di Daerah Kerja Puskesmas Sugio Lamongan Tahun 2021. Dinas Kesehatan/Puskesmas setempat disarankan melakukan kegiatan penyuluhan, pelatihan mengenai higiene sanitasi DAM dan pemilik/penjamah DAM diharapkan menerapkan kegiatan higiene sanitasi DAM berlandaskan Permenkes RI Nomor 43 Tahun 2014