Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
    387 research outputs found

    Misi dan pertumbuhan gereja Pentakostal-Karismatik: Refleksi teologis praksis terhadap perkembangan Pentakostal-Karismatik di wilayah Tarutung, Tapanuli Utara

    No full text
    Artikel ini merupakan sebuah kajian teologis reflektif terhadap perkembangan gereja dari kelompok Pentakostal-Karismatik di wilayah Tarutung, Tapanuli Utara. Perkembangan kelompok ini termasuk yang paling dinamis di antara kelompok Kristen lainnya, sehingga memunculkan respons yang kompleks. Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis misi gereja dalam kelompok Pentakostal-Karismatik yang berkelindan dengan pertumbuhan gereja. Degnan menggunakan metode analisis deskriptif melalui data-data kualitatif berbasis pustaka dari berbagai referensi digital, diperoleh hasil bahwa misi kelompok Pentakostal-Karismatik mempengaruhi pertumbuhan gereja sehingga mengakibatkan perkembangannya yang signifikan

    Membaca dialog Yesus dan Nikodemus melalui lensa persahabatan

    No full text
    This study examines the dialogue between Jesus and Nicodemus in John 3:1-21 through the theological lens of friendship, offering a fresh perspective on this pivotal Gospel narrative. Using narrative hermeneutics in conjunction with biblical theological analysis, this research demonstrates that friendship functions not merely as an anthropological category but as a fundamental theological concept for understanding mission, soteriology, and ecclesiology. The analysis reveals that Jesus\u27 approach to Nicodemus embodies characteristics of authentic friendship: recognition, intellectual engagement, mutual respect, and transformative commitment. Drawing on contemporary friendship theology, particularly Jürgen Moltmann\u27s "open friendship" concept, this study shows how the dialogue presents a relational model for spiritual transformation that challenges traditional individualistic soteriological frameworks. The findings suggest that friendship-based approaches to mission and pastoral care are more effective in pluralistic contexts, offering practical implications for contemporary evangelism, discipleship, and interfaith engagement. This research contributes to Johannine scholarship by highlighting previously under-explored relational dimensions of the Fourth Gospel\u27s theology.   Abstrak Penelitian ini mengkaji dialog antara Yesus dan Nikodemus dalam Yohanes 3:1-21 melalui lensa teologis persahabatan, menawarkan perspektif baru terhadap narasi Injil yang sangat penting ini. Menggunakan hermeneutika naratif yang dikombinasikan dengan analisis teologi biblikal, penelitian ini mendemonstrasikan bahwa persahabatan berfungsi bukan hanya sebagai kategori antropologis tetapi sebagai konsep teologis fundamental untuk memahami misi, soteriologi, dan eklesiologi. Analisis mengungkapkan bahwa pendekatan Yesus kepada Nikodemus mewujudkan karakteristik persahabatan yang autentik: pengakuan, keterlibatan intelektual, rasa hormat mutual, dan komitmen transformatif. Berdasarkan teologi persahabatan kontemporer, khususnya konsep "persahabatan terbuka" Jürgen Moltmann, studi ini menunjukkan bagaimana dialog tersebut menyajikan model relasional untuk transformasi spiritual yang menantang kerangka soteriologis individualistik tradisional. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis persahabatan dalam misi dan pelayanan pastoral lebih efektif dalam konteks pluralistik, memberikan implikasi praktis untuk evangelisme, pemuridan, dan keterlibatan antaragama kontemporer

    Eksistensi Gereja Protestan Maluku sebagai Gereja Orang Basudara: Sebuah tawaran model misi gereja dalam konteks masyarakat plural

    Get PDF
    The pluralistic life of Indonesian society and memories of religious conflict, especially in Maluku, has greatly influenced the journey of the Maluku Protestant Church (Gereja Protestan Maluku) so that it calls itself Gereja Orang Basudara. The philosophy of Orang Basudara emerged within GPM to fight for the mission of peace amid the contestation of religious life after the 1999 conflict in Maluku, which left trauma and wounds. Through Alan Rathe\u27s approach regarding participation in ecclesiastical liturgy towards the existence of Gereja Orang Basudara, we examine this article using Joas Adiprasetya\u27s idea of diaclesia to propose a mission of generous hospitality for the GPM\u27s missioecclesiae in a diverse and pluralistic public space with memories of conflicts that have occurred. AbstrakKehidupan Masyarakat Indonesia yang plural dan kenangan konflik beragamanya, terkhusus di Maluku sangat memengaruhi perjalanan Gereja Protestan Maluku (GPM) sehingga menamakan dirinya Gereja orang basudara. Falsafah hidup orang basudara ini menumbuh dalam diri GPM untuk memperjuangkan misi perdamaian di Tengah-tengah kontestasi kehidupan beragama pascakonflik tahun 1999 di Maluku yang menyisakan trauma dan luka. Melalui pendekatan Alan Rathe tentang partisi-pasi dalam liturgi gerejawi terhadap eksistensi Gereja orang basudara, maka artikel ini kami kaji dan uji menggunakan gagasan diaklesia Joas Adiprasetya untuk mengupayakan usulan misi hospitalitas kemurahatian demi mission ecclesiae GPM di ruang public yang majemuk dan plural dengan kenangan konflik yang pernah terjadi

    Jalan spiritualitas Johannes Leimena dan implikasinya bagi pelayanan sosial gereja: Suatu kajian spiritualitas Kristen dengan pendekatan hermeneutik fenomenologi

    Get PDF
    This study explores the experience and spirituality of Johannes Leimena. The approach used in this study is hermeneutic phenomenology, which is done through the interpretation and analysis of life experiences, ideas, and social work of Johannes Leimena utilizing the perspective of Dale Canon (Six Paths of Spirituality). The results of interpretation and analysis obtained the constructions of social spirituality, namely an integrative effort going to self-transcendence with God. All that manifested through social solidarity, empowerment, advocacy, and human development, ending the quality of life transformation. The path of social spirituality is obtained, in turn, providing innovation and inspiration for the church to organize the development of social services because the church\u27s current context tends to be oriented towards rites, liturgical services, infrastructure development, and organizational management so that ignores social service as the essence of service church. Thus, this article contributes to the field of Christian spirituality to develop church social service.   Abstrak Kajian ini mengeksplorasi pengalaman spiritualitas Johannes Leimena. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah hermeneu-tik fenomenologi yang dilakukan melalui intepretasi dan analisis pengalaman hidup, gagasan, dan karya sosial Johannes Leimena menggunakan prespektif enam jalan spiritualitas Dale Canon. Lewat hasil interpretasi dan analisis tersebut diperoleh konstruksi spiritualitas sosial, yakni suatu upaya integratif menuju transendensi diri dengan Allah. Kesemuanya itu termanifestasikan melalui solidaritas sosial, pemberdayaan, advokasi, dan pembangunan manusia yang bermuara pada transformasi kualitas hidup. Jalan spiritualitas sosial yang diperoleh pada gilirannya memberikan inovasi dan inspirasi bagi gereja untuk menata kembangkan pelayanan sosial, sebab konteks bergereja masa kini cenderung berorientasi pada ritus, pelayanan liturgis, pembangunan infrastruktur dan manejerial organisasi, sehingga mengabaikan pelayanan sosial sebagai esensi dari pelayanan gereja. Demikian tulisan ini menjadi kontribusi bidang spiritualitas Kristen bagi pengembangan pelayanan sosial gereja

    Misi dan rekonsiliasi: Merevitalisasi fungsi gereja di tengah konflik sosial

    Get PDF
    This article aims to revitalize the church\u27s function as a bearer of the mission of reconciliation amid social conflict, especially in Indonesia. Since the era of reform, which was considered to bring fresh air of change to the nation\u27s life, horizontal conflicts have escalated. The church\u27s presence, which cannot be separated from God\u27s mission, is more often associated with the mission of evangelism. Through descriptive analysis of various literature, it was found that the mission built on the paradigm of the Triune God and the incarnation of Christ resulted in a reconciliatory mission. Therefore, the concept of a "missionary church" must also have implications for the mission of reconciliation.   Abstrak  Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah revitalisasi fungsi gereja sebagai pengemban misi rekonsiliasi di tengah konflik sosial, khususnya di Indonesia. Sejak bergulirnya era reformasi, yang dianggap akan membawa angin segar perubahan bagi kehidupan berbangsa di tanah air, konflik horizontal justru semakin meningkat eskalasinya. Kehadiran gereja yang tidak dapat dilepaskan dari misi Allah lebih sering dikaitkan dengan misi penginjilan. Melalui analisis deskriptif berbagai literatur didapatkan, bahwa misi yang dibangun pada paradigma Allah Trinitas dan inkarnasi Kristus menghasilkan misi yang rekonsiliatif. Oleh karena itu, konsep "gereja yang misioner" haruslah juga berimplikasi pada misi rekonsiliasi

    Berteologi dalam krisis: Pembacaan hermeneutik trauma terhadap metafora gender Allah dalam kitab Yeremia

    Get PDF
    This study examines the use of gender metaphors for God in the book of Jeremiah through the lens of trauma hermeneutics and contemporary gender theory. In situations of crisis, gender metaphors play a crucial role in describing the relationship between God and his people, enabling traumatized communities to articulate their suffering and seek healing. The analysis reveals how traumatic experiences shape the way people talk about God and open up space for more inclusive language. This approach is relevant to contemporary theology, offering a more transformative perspective for addressing global challenges. This study invites us to critique binary gender constructions and develop a more complex and inclusive understanding of God.   Abstrak Penelitian ini mengkaji penggunaan metafora gender untuk Allah dalam kitab Yeremia melalui lensa hermeneutik trauma dan teori gender kontemporer. Dalam situasi krisis, metafora gender memainkan peran penting dalam menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya, memungkinkan komunitas yang mengalami trauma untuk mengartikulasikan penderitaan mereka dan mencari pemulihan. Analisis ini mengungkapkan bagaimana pengalaman traumatis membentuk cara orang berbicara tentang Tuhan dan membuka ruang bagi bahasa yang lebih inklusif. Pendekatan ini relevan untuk konteks teologi kontemporer, menawarkan perspektif yang lebih kaya dan transformatif untuk menghadapi tantangan global. Penelitian ini mengajak kita untuk mengkritisi konstruksi biner gender dan mengembangkan pemahaman yang lebih kompleks dan inklusif tentang Tuhan

    Integritas kristiani: Keseimbangan dalam hidup menggereja pada ruang eklesial-sosial

    Get PDF
    Christian integrity faces the challenges of church life in social and ecclesial spaces; both reflect one standard. Presence in social spaces, especially in the digital world, presents a dramaturgical lifestyle or, like, playing a role so that it tends to be manipulative. This article aims to build a theological concept of Christian integrity reflected through church life in ecclesial and social spaces. Using a literature study approach, through published research articles, we find that church life must always display the same face of Christ in all spaces or dimensions of life. This means that Christian integrity is the spirit of church life in the ecclesial-social sphere.   Abstrak Integritas kristiani diperhadapkan pada tantangan hidup menggereja pada ruang sosial dan eklesial; apakah keduanya mereleksikan satu standar. Kehadiran pada ruang sosial, khususnya di dunia digital, menghadirkan gaya hidup yang dramaturgis atau seperti bermain peran sehingga cenderung manipulatif. Artikel ini bertujuan untuk membangun konsep teologis tentang integritas kristiani yang tercermin melalui hidup menggereja pada ruang eklesial dan sosial. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, melalui artikel hasil riset yang dipublikasi, kami mendapatkan bahwa kehidupan gereja harus selalu menampilkan wajah Kristus yang sama di segala ruang atau dimensi kehidupan. Ini berarti, integritas kristiani selalu menjadi spirit dalam hidup menggereja di ruang eklesial-sosia

    Digital storytelling: Menstimulasi minat spiritualitas pada anak Generasi Alfa di era posdigital

    Get PDF
    The issue of the spirituality of Generation Alpha children must start by mapping their digital-based interests. One way to increase interest in the process of learning Christian education is through a storytelling approach. This article offers digital-based storytelling to build and develop the spiritual interests of Generation Alpha children. This article uses a literature study through descriptive searches on various research references on storytelling and Generation Alpha in the post-digital era. Research shows the power of storytelling in improving the abilities of Generation Alpha children. We conclude that the spirituality of Generation Alpha begins with the interest in spirituality itself, which can be stimulated through digital storytelling.   Abstrak Persoalan spiritualitas anak generasi Alfa harus dimulai dari memetakan minat mereka yang berbasis digital. Salah satu cara untuk meningkatkan minat dalam proses belajar pendidikan kristiani adalah dengan pendekatan storytelling. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan penggunaan storytelling bebasis digital guna membangun hingga mengembangkan minat spiritualitas anak generasi Alfa. Artikel ini menggunakan studi pustaka, melalui penelusuran secara deskriptif pada berbagai referensi hasil riset tentang storytelling dan generasi Alfa di era posdigital. Penelusuran riset memperlihatkan kekuatan storytelling dalam meningkatkan kemampuan anak generasi Alfa. Kami menyimpulkan bahwa spiritualitas generasi Alfa dimulai dari minat spiritualitas itu sendiri, yang dapat distimulasi melalaui digital storytelling

    Pengembangan pendidikan kristiani berwawasan pluralis dan multikultural: Studi kasus di Universitas Halmahera

    Get PDF
    Pluralism and multiculturalism often present significant challenges in societal life. As a result, education emerges as a powerful tool for addressing the realities of pluralistic and multicultural societies while bridging the gap between social realities and pedagogical perspectives. Using a qualitative research method, this study provides an in-depth understanding of how Christian Education at the University of Halmahera accommodates and integrates the values of pluralism and multiculturalism into its curriculum and teaching practices. With a pluralistic and multicultural perspective, this article analyzes how students at the University of Halmahera build their understanding of religious and cultural diversity through a learning process based on reflection, social interaction, and real-life experiences. This research indicates that Christian education with a pluralistic and multicultural perspective can significantly promote tolerance and understanding of diversity, thereby supporting the creation of a more harmonious and peaceful society at the University of Halmahera and its surroundings.   Abstrak Pluralisme dan multikulutural seringkali menjadi persoalan serius dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Oleh karenanya, pendidikan menjadi salah satu alat yang dapat digunakan untuk mendialogkan realitas pluralis-multikultural sekaligus menjadi jembatan penghubung antara realitas sosial dengan wawasan pedagogis. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menyajikan pemahaman mendalam tentang bagaimana pendidikan kristiani di Universitas Halmahera mengakomodasi dan mengintegrasikan nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme dalam kurikulum dan praktik pengajaran. Dengan perspektif pluralis dan multikultural, artikel ini menganalisis bagaimana mahasiswa Universitas Halmahera membangun pemahaman mereka tentang keberagaman agama dan budaya melalui proses pembelajaran yang berbasis pada refleksi, interaksi sosial, dan pengalaman nyata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kristiani dengan wawasan pluralis dan multikultural dapat berkontribusi signifikan dalam membentuk sikap toleransi dan pengertian terhadap keberagaman, sehingga mendukung terciptanya masyarakat yang lebih harmonis dan damai di Universitas Halmahera dan sekitarnya

    Semua berharga di mata Tuhan: Konstruksi nilai spiritual pelayanan gerejawi bagi anak berkebutuhan khusus melalui pembacaan Matius 10:30-31

    Get PDF
    Children with special needs have characteristics that are not the same as most other children, thus demanding special treatment in carrying out the responsibilities of church ministers. This difference shows that every child is God\u27s special creation, and the church\u27s responsibility to serve them also varies. Some churches accept and are open to the privileges of these children, especially for the development of spirituality and religious religiosity. Still, some churches make them objects for the people around them. This study aims to offer the value of ecclesial service to children with special needs through a reading of Matthew 10:30-31. With a qualitative research approach and using the method of interpretive analysis of scriptural texts, I obtained a foundational value of ecclesial ministry, that is, "all are valuable in God\u27s eye". Finally, based on the conclusions of this article, I recommend the cultivation of spiritual values in serving children with special needs through the internalization approach of "all are valuable in God\u27s eye".   Abstrak Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang tidak sama dengan kebanyakan anak lainnya, sehingga menuntut perlakuan yang khusus termasuk dalam melaksanakan tanggung jawab pelayan gereja. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa setiap anak merpakan ciptaan Tuhan yang istimewa, dan tanggung jawab gereja untuk melakukan pelayanan terhadap mereka juga beragam. Ada gereja yang menerima dan terbuka terhadap hak istimewa anak-anak ini terutama untuk pengembangan spiritualitas dan religiositas keagamaan, tetapi ada juga gereja yang menjadikan mereka objek bagi orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan sebuah nilai pelayanan gerejawi terhadap anak berkebutuhan khusus melalui pembacaan Matius 10:30-31. Dengan pendekatan riset kualitatif dan menggunakan metode analisis interpretatif teks kitab suci, dihasilkan sebuah fondasi nilai pelayanan gerejawi “semua berharga di mata Tuhan”. Akhirnya, berbasis pada simpulan artikel ini, saya merekomendasikan penanaman nilai spiritual dalam melayani anak berkebutuhan khusus melalui pendekatan internalisasi "semua berharaga di mata Tuhan"

    319

    full texts

    387

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇