Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
    387 research outputs found

    Meneroka kesetaraan dan keadilan gender dalam gereja dan masyarakat Toraja

    Get PDF
    Toraja society, which has a bilateral kinship system, accommodates matriarchal and patriarchal systems. This system has elements of equality. However, church and community life phenomena are still less visible, especially regarding leadership. This paper will further explore the existence of women in broader leadership through the historical experience of leadership in the Toraja Church. The method used is qualitative descriptive by presenting various realities of injustice from multiple surveys in general and the history of the leadership of the Toraja Church itself in accepting women as church officials. The discussion results are various causes of injustice, namely the influence of theological understanding from Zending, who came to Toraja, and the influence of patriarchal ideology. The conclusion is that it is necessary to continuously carry out gender literacy to the church and community regarding equality.   Abstrak Masyarkat Toraja yang sistem kekerabatannya bilateral, mengakomodasi baik sistem matriarkar maupun patriarkar. Sistem ini sejatinya memiliki unsur kesetaraan. Namun melihat fenomena dalam kehidupan gereja dan masyarakat, masih kurang terlihat, khususnya terkait kepemimpinan. Tulisan ini akan meneroka lebih jauh keberadaan perempuan dalam kepemimpinan yang lebih luas melalui pengalaman sejarah kepemimpinan dalam Gereja Toraja. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan mengemukakan berbagai realitas ketidakadilan dari berbagai survei secara umum dan realitas dalam sejarah kepemimpinan Gereja Toraja sendiri dalam menerima perempuan menjadi pejabat gerejawi. Hasil pembahasan adalah ditemukan berbagai sebab ketidakadilan yaitu pengaruh pemahaman teologi dari Zending yang datang ke Toraja dan pengaruh ideologi patriarkalisme. Riset ini menyimpulkan, perlunya terus-menerus melakukan literasi gender kepada gereja dan masyarakat terkait kesetaraan.

    Kejahatan dan penderitaan: Studi psiko-teologis berdasarkan konsep kejahatan John Culp

    Get PDF
    Evil and suffering are phenomena often central to the studies of theology and psychology, particularly given the high prevalence of these aspects across various world regions, including Indonesia. This research aims to integrate insights from theology and psychology through John Culp\u27s reciprocal approach to addressing and understanding evil and suffering to support the recovery and growth of individuals experiencing trauma. The research method employed is qualitative, involving the analysis of the concept of reciprocity in theology according to John Culp and psychological research on evil and suffering, which are then integrated into the Psycho-theological Reciprocal model. The findings indicate that this integrative approach enriches the understanding and response to evil and suffering, offering a holistic and practical framework for supporting individual recovery, which considers not only theological and psychological aspects but also social and spiritual ones, enabling sustainable and transformative growth for affected individuals. AbstrakKejahatan dan penderitaan merupakan fenomena yang sering menjadi fokus dalam studi teologi dan psikologi, terutama mengingat prevalensi tinggi kedua aspek ini di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengintegrasikan wawasan dari teologi dan psikologi melalui pendekatan resiprokal ala John Culp dalam menangani dan memahami kejahatan dan penderitaan, dengan tujuan mendukung pemulihan dan pertumbuhan individu yang mengalami trauma. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, melibatkan analisis konsep resiprokalitas dalam teologi menurut John Culp dan penelitian psikologis tentang kejahatan dan penderitaan, yang kemudian diintegrasikan dalam model psiko-teologi Resiprokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan integratif ini memperkaya pemahaman dan respons terhadap kejahatan dan penderitaan, menawarkan kerangka kerja yang holistik dan efektif dalam mendukung pemulihan individu, yang tidak hanya memperhatikan aspek teologis dan psikologis, tetapi juga sosial dan spiritual, memungkinkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan transformatif bagi individu yang terdampak. Â

    Dari upper room ke open heart: Evolusi kepemimpinan Pentakostal-Karismatik kontemporer

    Get PDF
    This article explores the paradox of the early church that simultaneously displays resilient and fragile characteristics in its development. Through the lens of contemporary Pentecostal theology, this study examines how the early Christian community persisted and flourished amidst external challenges such as persecution and internal pressures exemplified by identity conflicts. The analysis demonstrates that the early church\u27s resilience was rooted precisely in its acknowledgment of fragility. This ecclesiological model offers valuable insights for the contemporary church in confronting an increasingly complex world. This article proposes that Pentecostal theology can provide a fresh interpretive framework for understanding the dynamics of strength-in-weakness that characterizes the apostolic church by integrating pneumatological readings of the book of Acts and the Pauline epistles.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi transformasi paradigma kepemimpinan dalam tradisi Pentakostal modern, dengan fokus pada pergeseran dari model kepemimpinan karismatik-hierarkis menuju pendekatan hospitalitas yang lebih inklusif. Melalui analisis teologis dan sosiologis, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana kepemimpinan Pentakostal kontemporer menggabungkan elemen karismatik tradisional dengan nilai-nilai hospitalitas yang menekankan keterbukaan, penerimaan, dan pemberdayaan komunitas. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis literatur untuk memetakan evolusi kepemimpinan ini dalam konteks global dan Indonesia

    Agama dan dehumanisasi: Mengembangkan spiritualitas humanis melalui hidup menggereja di era disrupsi digital

    Get PDF
    Virtual space or the digital world has become integral to postmodern life. With the development of digital technology, the influence of religion in the digital space is also getting stronger. Indications of violence in the name of religion are a reality that triggers a spirit of dehumanization in religious practices, especially in the digital space. This article offers the construction of humanized spirituality in church life as a spiritual principle in the era of digital disruption, which various acts of de-humanism have stigmatized. This research uses a descriptive analysis method with a literature study approach through multiple references to the results of previous studies on similar topics. The research results show that religion has a very humanistic essential nature, so advances in digital technology, which tend to be disruptive, can become a friendly space for labeling religion as the core that builds human values.   Abstrak Ruang virtual atau dunia digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan posmodern; dengan semakin berkembangnya teknologi digital, pengaruh agama dalam ruang digital juga semakin menguat. Indikasi kekerasan atas nama agama menjadi realitas yang memicu sebuah spirit dehumanisasi dalam praktik beragama, terutama di ruang digital. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konstruksi spiritualitas humanisasi dalam hidup menggereja sebagai prinsip beragama di era disrupsi digital yang selama ini terstigma dengan beragam aksi dehumanisme. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan studi literatur melalui beragam referensi hasil kajian terdahulu pada topik serupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama sejatinya memiliki sifat esensial yang sangat humanis, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi digital yang cenderung mendisrupsi dapat menjadi ruang yang ramah pada pelabelan agama sebagai core yang membangun nilai-nilai kemanusiaan

    Berteologi bersama anak korban radikalisme agama di Indonesia: Studi kasus di Gereja Kristen Pasundan, jemaat Dayeuhkolot

    Get PDF
    This article focuses on the narratives of children, members of the Pasundan Christian Church in Dayeuhkolot, who were victims of religious radicalism. These children have experienced certain acts of violence, such as verbal and physical violence, that have affected their lives, specifically their minds and behavior toward others who are different from them. As a result, these children did not have enough space to express and discuss what they had experienced. In this research, we have conducted interviews with three children to get the narratives about their experiences of intolerance and violence. At the same time, we do a literature review to explore the concept of theologizing with children. The results show that children\u27s experiences of violence influence their theological perspective and understanding of God, others, and their relationships with others. By adopting the making meaning model proposed by Tanya Marie Eustace Campen, we argue that the four stages of this model, namely engage, recognize, claim, and respond, can be used as a model of doing theology with (victimized) children. AbstrakArtikel ini berfokus pada narasi warga jemaat anak Gereja Kristen Pasundan Jemaat Dayeuhkolot yang menjadi korban radikalisme agama. Anak-anak ini mengalami tindakan kekerasan verbal dan fisik yang memengaruhi kehidupan mereka, terutama pola pikir dan perilaku mereka terhadap orang lain yang berbeda dari mereka. Akibatnya, anak-anak tersebut tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan dan mendiskusikan apa yang mereka alami. Dalam penelitian ini kami melakukan wawancara dengan tiga anak untuk mendapatkan narasi tentang pengalaman intoleransi dan kekerasan yang dialami oleh mereka dan juga melakukan studi literatur untuk mendalami konsep berteologi bersama anak. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengalaman intoleransi dan kekerasan yang dialami anak-anak memengaruhi pemahaman teologis mereka tentang Tuhan, manusia, dan hubungan antarmanusia. Dengan mengadopsi model making meaning yang dikemukakan oleh Tanya Marie Eustace Campen, kami beragumen bahwa empat tahap dari model ini, yakni: terlibat (engage), mengenali (recognize), mengklaim (claim), dan menanggapi (respond), dapat dipakai sebagai model berteologi bersama anak korban radikalisme agama

    Resiliensi mental perempuan: Sebuah konstruksi teologis melalui pembacaan 1 Samuel 25 dengan pendekatan hermeneutik feminis Asia

    Get PDF
    Mental health is both a personal and structural issue in Indonesia. In the context of the increasingly critical issue of women\u27s mental health, particularly when faced with social, cultural, and psychological challenges, the story of Abigail in 1 Samuel 25 provides insights into the wisdom and resilience of women in overcoming challenges and difficulties. Asian feminist hermeneutics is utilized because this perspective offers an analysis from the viewpoint of women, addressing a research gap due to the limited studies in feminist hermeneutics in Asia that specifically explore the theology of women\u27s mental health through biblical narratives. This article aims to construct an Old Testament theology regarding women\u27s mental health in Indonesia. Thus, the story of Abigail in 1 Samuel 25 can be constructed as a theology of mental health that emphasizes personal wisdom with therapeutic potential, where women can assume the role of resilient figures amid mental health issues. AbstrakPermasalahan mental di Indonesia merupakan permasalahan yang personal namun juga strukturral. Dalam konteks isu kesehatan mental perempuan yang semakin penting, terutama dihadapkan pada tantangan sosial, budaya, dan psikologis, kisah Abigail di 1 Samuel 25 menawarkan wawasan tentang kebijaksanaan dan ketahanan perempuan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Hermeneutik feminis Asia dipakai karena perspektif ini menawarkan suatu analisis dari perspektif perempuan, yang mana di sisi lain gap penelitian terletak pada keterbatasan studi hermeneutik feminis di Asia yang khusus mengkaji teologi kesehatan mental perempuan melalui narasi Alkitab. Artikel ini bertujuan  untuk mengonstruksi teologi Perjanjian Lama terhadap kesehatan mental perempuan di Indonesia. Maka kisah Abigail dalam 1 Samuel 25 dapat dikonstruksi sebagai teologi kesehatan mental yang menekankan pada hikmat personal yang terapeutik di mana perempuan dapat mengambil peran sebagai sosok yang resilien di tengah pemasalahan menta

    Kedewasaan digital: Sebuah konstruksi formasi spiritual dalam meminimalisir sikap adiktif internet pada remaja Kristen

    Get PDF
    This study reveals the impact of excessive internet use on Christian vocational high school students and then offers digital maturity through spiritual formation to minimize their addictive attitude. The research approach was quantitative-qualitative (mixed), using a survey method among 169 Christian students at one of the SMKs in North Tapanuli Regency, North Sumatra, and using some research literature to offer the concept of digital maturity. The results showed that there were negative impacts such as lack of sleep, sore/blurred eyes, weight gain/loss; cognitive distortion, foul or abusive language, decreased achievement; conflict with/scolded by parents, lack of interaction with parents, lying to parents, lack of interaction with peers, anxiety, anger, depression, aggressive behavior; procrastination in worship. This study also highlights the importance of spirituality formation in helping SMK students overcome the negative impact of excessive internet use. Wise and ethical use of the internet per Christian values can help students achieve life balance, in addition to the role of parents in monitoring internet use. This study recommends digital maturity as the digital spirituality of vocational students using the internet.   Abstrak Penelitian ini mengungkapkan dampak penggunaan internet yang berlebihan pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang beragama Kristen, yang kemudian menawarkan kedewasaan digital melalui formasi spiritual demi meminimalisir sikap adiktif mereka. Pendekatan penelitian adalah kuantitatif-kualitatif (mixed), menggunakan metode survei pada 169 siswa beragama Kristen di salah satu SMK, di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, selain menggunakan beberapa literatur hasil riset untuk menawarkan konsep kedewasaan digital. Hasil penelitian menunjukkan adanya dampak negatif yang ditemukan akibat penggunaan internet secara adiktif. Penelitian ini juga menyoroti peran penting formasi spiritualitas dalam membantu siswa SMK mengatasi dampak negatif dari penggunaan internet yang berlebihan. Penggunaan internet yang bijak dan etis sesuai dengan nilai-nilai kristiani dapat membantu siswa mencapai keseimbangan hidup, selain peran orang tua dalam memantau penggunaan internet. Penelitian ini merekomendasikan kedewasaan digital sebagai spiritualitas digital para siswa SMK dalam penggunaan internet

    Spiritualitas kolaboratif dan integrasi teknologi dalam pendidikan: Sebuah tawaran inovatif manajemen pendidikan kristiani melalui studi pada sekolah menengah di Sulawesi Utara

    Get PDF
    This study explores technology-based learning management strategies in senior high schools in North Sulawesi Province to address the challenges of 21st-century educational disruption. The primary focus of this research is to identify the planning, implementation, and evaluation steps of learning in the post-digital era, as well as the supporting and inhibiting factors during the implementation process. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through observations, interviews, and documentation from seven public and three private senior high schools. The findings indicate that schools successfully integrating technology possess adequate infrastructure, strong leadership from principals, and continuous training for teachers. Key supporting factors include collaboration with the Department of Education and external stakeholders, while challenges involve limited infrastructure and teachers\u27 digital competencies. This study underscores that integrating technology through the frameworks of the Technology Acceptance Model (TAM) and Task-Technology Fit (TTF) can enhance learning quality and prepare students for the post-digital era.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi strategi manajemen pembelajaran berbasis teknologi di SMA Provinsi Sulawesi Utara dalam menghadapi tantangan disrupsi pendidikan abad ke-21. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada era posdigital, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam proses implementasinya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dari tujuh SMA Negeri dan tiga SMA Swasta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah yang berhasil mengintegrasikan teknologi memiliki infrastruktur memadai, dukungan kepala sekolah, serta pelatihan berkelanjutan bagi guru. Faktor utama yang mendukung adalah kolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak eksternal, sementara tantangan meliputi keterbatasan infrastruktur dan kompetensi digital guru. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi teknologi melalui kerangka Technology Acceptance Model (TAM) dan Task-Technology Fit (TTF) dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan siswa menghadapi era posdigital

    "Aku mengandung": Meninjau pernyataan Batsyeba dalam 2 Samuel 11:5 melalui kajian teologi feminis

    Get PDF
    Something is fascinating about Bathsheba\u27s passivity in 2 Samuel 11. She spoke and said, "I am Pregnant". This statement is important to review because it describes Bathsheba\u27s feelings and actions, considering that she has often interpreted them with a negative label. The author is interested in examining this statement according to feminist theological studies by considering its socio-cultural, religious, and economic context. It employs a qualitative research technique with a descriptive approach. The research results show that Bathsheba\u27s statement is the strength and courage of a woman who can "step outside" her zone. He is a victim, but his statement is a victory even though Batsyeba appeared as a woman who enters the messianic lineage.   Abstrak Ada hal yang menarik dari kepasifan Batsyeba dalam narasi 2 Samuel 11, ia berbicara dan mengatakan “Aku Mengandungâ€. Pernyataan tersebut penting untuk ditinjau karena menggambarkan perasaan dan tindakan Batsyeba mengingat selama ini ia kerap diinterpretasikan dengan label negatif. Penulis tertarik ingin meninjau pernyataan ini menurut kajian teologi feminis dengan mempertimbangkan konteks sosial budaya, agama dan ekonomi yang melatarbelakanginya. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernyataan Batsyeba adalah sebuah kekuatan dan keberanian seorang perempuan yang mampu “melangkah ke luar†dari zonanya. Ia adalah korban tapi pernyataannya adalah kemenangan bahkan Batsyeba tampil sebagai seorang perempuan yang masuk ke dalam garis keturunan mesiani

    Keberpihakan Yesus kepada si kaya atau si miskin: Sebuah kajian biblis pada injil-injil kanonik

    Get PDF
    Rich and poor are an ancient enigma as old as humanity. The Bible contains many narratives about the problem of the rich and poor. Jesus was very often in touch with the issue of rich and poor. The four canonical gospels provide many accounts of Jesus\u27 response to the question of rich and poor. Therefore, a study of the canonical records is necessary to reveal Jesus’ partisanship, whether to the poor or the rich. This paper demonstrates this partisanship, i.e., embracing both groups where He is the meeting point. As the new body of Christ, the church continues the role of Jesus as a bridge for both groups to meet and make peace. A more extraordinary task is given to the rich to help the poor out of their poverty. Jesus offers a third way.   Abstrak Persoalan kaya dan miskin adalah persoalan yang sangat tua, setua kemanusiaan itu sendiri. Alkitab berisikan banyak narasi mengenai persoalan kaya dan miskin. Yesus sendiri sangat sering bersentuhan dengan persoalan kaya dan miskin. Keempat injil kanonik memberikan banyak catatan mengenai respons Yesus mengenai persoalan kaya dan miskin. Karenanya mempelajari catatan-catatan kanonik diperlukan untuk menyingkap keberpihakan Yesus, apakah kepada kelompok orang yang miskin atau kelompok orang yang kaya. Makalah ini menunjukkan keberpihakan tersebut, yang mana adalah merangkul kedua kelompok di mana diri-Nya adalah titik temu. Gereja sebagai tubuh Kristus melanjutkan peranan Yesus tersebut yaitu menjadi jembatan bagi kedua kelompok tersebut, bukan hanya untuk bertemu tetapi berdamai. Tugas lebih besar diberikan kepada mereka yang kaya untuk membantu yang miskin keluar dari kemiskinannya. Yesus menawarkan jalan ketiga

    319

    full texts

    387

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇