Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Dialog Sebagai Cara Hidup Menggereja di Kultur Indonesia
Dialogue is not a mere empty term or theory; it is evident in religious life and even becomes a necessity in the attitude of participation as a knot of kenosis thought (A. Pieris) and Asian theology (C.S. Song). The ideal dialogue model has been narrated in the story of Emmaus\u27 journey which also became a model of the Lord\u27s Supper. Thus, the ideal of dialogue is the story of the Eucharist. Indonesia as part of Asia has its own diversity context. The method in this article is qualitative, using the method of analyzing literature from various figures\u27 thoughts about the dialogue that can be applied in the Indonesian context. As a result, there are four forms of dialogue that can be applied in the context of Indonesia\u27s diversity, by specializing in a dialogue of work and dialogue of life.
Abstrak: Dialog bukanlah istilah kosong atau teori belaka; kata ini nyata dalam kehidupan beragama dan, bahkan, menjadi keharusan dalam sikap partisipasi sebagai simpul pemikiran kenosis (A. Pieris) dan teologi Asia (C.S. Song). Model dialog ideal telah dinarasikan dalam kisah perjalanan Emaus yang juga menjadi model perjamuan kudus. Dengan demikian, idealitas dialog adalah kisah perjamuan kudus. Indonesia sebagai bagian dari Asia memiliki konteks keberagamannya sendiri. Metode dalam artikel ini adalah kualitatif, dengan menggunakan metode analisis literatur dari berbagai pemikiran tokoh tentang dialog yang dapat diterapkan dalam konteks Indonesia. Hasilnya, ada empat bentuk dialog yang bisa diterapkan dalam konteks keberagaman Indonesia, dengan mengkhususkan dialog karya dan dialog kehidupan
Hubungan Kreativitas Mengajar Pendeta dengan Motivasi Belajar Anak Katekisasi Sidhi
The purpose of this study was to analyze the effect of creativity variables on student learning motivation. The method used in this research is a quantitative approach using descriptive statistics and simple linear regression statistical tests. Data collection techniques used a Likert attitude scale with four answer choices distributed to 32 students who were respondents in this study. The results showed that the variable obtained an average score of 41,68 which was included in the high category while the Student Learning Motivation variable obtained an average score of 36,50 which was also included in the high category. The results of data processing showed that there was an influence of creativity variables on Student Learning Motivation by 18,9 % meaning that changes in the learning Motivation variable by 18,9% could be explained by changes in creativity variables.
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh variable kreativitas terhadap motivasi belajar anak katekisasi sidhi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kuantitatif dengan mengunakan regresi linear sederhana. Teknik pengumpulan data mengunakan skala sikap Likert dengan empat pilihan jawab yang dibaikan kepada 32 orang anak katekisasi sidhi yang menjadi responden dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa varia-bel kreativitas memperoleh skor rata-rata sebesar 41,68 yang termasuk dalam kate-gori tinggi sementara variabel motivasi belajar anak katekisasis sidhi memperoleh skor rata-rata sebesar 36,50 yang juga termasuk dalam kategori tinggi. Hasil pe-ngolahan data menunjukkan ada korelasi variabel kreativitas mengajar terhadap motivasi belajar anak katekisasi sidhi sebesar 18,9%, artinya perubahan dalam variabel motivasi belajar sebesar 18,9 % dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variable kreativitas
Pendampingan Pastoral Keindonesiaan
Indonesian pastoral assistance is affiliated with developing potential and improving the quality of life in cultural encounters in Indonesia. This was motivated by the fact of rejection of Western aid, which is only emphasized as an individual approach without regard to the plural of socio-cultural and religious values of Indonesian society. A descriptive-analytical approach is describing and analyzing cultural encounters in spiritual and religious perspectives becomes a mentoring effort that refers to the improvement, development, and transformation of society. Besides that, the cultural encounter is a pastoral assistance effort to empower, revive, and humanize Indonesian people with different characteristics. Meanwhile, the study found that the meaning of pastoral care in the Indonesian context is cooperation, share feelings and mutual acceptance, harmonious brotherhood, solidarity, and friendship that show respect to one another. Pastoral assistance is also carried out to develop their potential, to empower and improve their quality of life. The development of the potential and quality of life occurs in cultural encounters, which are related to the development of mindsets, feelings, and personal behavior patterns of each individual as well as the community and society.
Abstrak
Pendampingan pastoral keindonesiaan berafliasi pada pengembangan potensi dan peningkatan kualitas hidup dalam perjumpaan budaya di Indonesia. Hal tersebut dimotivasi oleh fakta penolakan terhadap pendampingan barat, yang hanya menekankan pada pendekatan individualis tanpa memperhatikan nilai-nilai sosial budaya dan agama masyarakat Indonesia yang plural. Pende-katan deskriptif analitis untuk mendeskripsikan dan menganalisis perjumpaan budaya dalam perspektif spiritual dan agama menjadi suatu upaya pendam-pingan yang mengacu pada peningkatan, pengembangan dan transformasi masyarakat. Perjumpaan budaya menjadi suatu upaya pendampingan pastoral dalam rangka memberdayakan, menghidupkan serta memanusiakan manusia Indonesia yang berbeda-beda karakteristiknya. Kajian tersebut menemukan pen-dampingan pastoral dalam konteks Indonesia mempunyai arti gotong ro-yong, berbagi rasa dan saling menerima, persaudaraan yang rukun dan solida-ritas serta pertemanan yang saling menghargai dan menghormati. Pendam-pingan pastoral dilakukan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, dalam rangka memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Pengembangan potensi dan kualitas hidup terjadi dalam perjumpaan budaya, yang berkaitan dengan pengembangan pola pikir, perasaan dan pola perilaku pribadi setiap individu maupun komunitas dan masyarakat
Kewirausahaan dan Panggilan Kristen: Sebuah Pendekatan Interpretatif-Dialogis, Sosio-Historis dan Teologis
Is it possible to entrepreneurship as a Christian calling? This paper answers to this question by doing a combination of socio-historical and theological approaches. Historically, the ideas of entrepreneurship and its practices are undergoing a meaningful development. While from a theological perspective it delivered an ethical meaning if entrepreneurship located in the frame of a theology of creation and social action to build a common justice. This is all affiliates with mentality of God in the creation process of the world and Jesus??" criticism of a greedy attitude. Paul, furthermore, making entrepreneur-ship is as a constructive way of his service. Eventually, if locating entrepreneur-ship in Rahner??"s framework in terms of intellectual, res, and opera, it could be a base of Christian calling to create community welfare and justice.
Abstrak
Apakah mungkin kewirausahaan menjadi panggilan Kristen? Tulisan ini menjawab pertanyaan tersebut dengan menggabungkan pendekatan sosio-historis dan teologis. Secara historis, gagasan dan praktik kewirausahaan mengalami perkembangan bermakna. Sedangkan, dari perspektif teologis, makna etis kewirausahaan akan lahir kalau diletakkan dalam kerangka penciptaan dan tindakan membangun keadilan Bersama. Hal itu bersesuaian dengan mentalitas Allah dalam proses penciptaan dan kritik Yesus terhadap ketamakan. Paulus, lebih jauh lagi menjadikan kewirausahaan sebagai jalan pelayanan yang konstruktif. Akhirnya, dengan meletakannya dalam kerangka intellectus, res dan opera-nya Karl Rahner, kewirausahaan bisa dijadikan dasar bagi panggilan Kristen untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan masyaraka
Mengurai Landasan Konseptual PAK Berbasis Multikultural dalam konteks Indonesia
This study examines the implementation of Christian Religious Edu-cation in a multicultural society in the Indonesian context. The fundamental thing of concern is the weak adaptability of the multicultural context in PAK which is able to answer the demands of togetherness and equality amidst the various differences that exist as uniqueness and identity of self and group. A qualitative approach with descriptive research through analysis of descriptive-argumentative data used in this study is intended to bring researchers closer to the problems that exist in the field so that it fulfills the principles of adequacy and fulfillment of the required data. The results obtained are that PAK places its characteristics that are always dealing with multicultural contexts so that the context is not to be avoided but to be lived. Efforts to live up to the multicultural context in the realization of PAK place PAK attached to the foundation of Jesus\u27 concern who loves everyone. Based on the research findings, it is highly recommended that the Indonesian context is always the answer to the achievement of the goals of PAK, an Indonesian culture that accepts, respects, and upholds the principle of living together.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji implementasi Pendidikan Agama Kristen da-lam masyarakat multikultural konteks Indonesia. Hal mendasar yang menjadi keprihatinan adalah lemahnya kemampuan adaptasi konteks multikultural dalam PAK yang mampu menjawab tuntutan kebersamaan dan kesederajatan di tengah pelbagai perbedaan yang ada sebagai keunikan dan identitas diri dan kelompok. Pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif melalui analisis data deskriptif-argumentatif yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mendekatkan peneliti dengan masalah yang ada dilapangan sehingga memenuhi prinsip kecukupan dan kepenuhan data yang dibutuhkan. Hasil yang didapatkan, bahwa PAK menempatkan karakteristiknya yang senantiasa berhadapan dengan konteks multikultural, sehingga konteks tersebut bukan untuk dihindari melain-kan dihidupi. Upaya menghidupi konteks multikultural dalam realisasi PAK menempatkan PAK melekat pada dasar kepedulian Yesus yang mengasihi se-tiap orang. Berdasarkan temuan penelitian tersebut, maka sangat disarankan agar senantiasa menempatkan konteks Indonesia menjadi jawaban bagi penca-paian tujuan PAK, budaya Indonesia yang saling menerima, menghormati dan meninggikan prinsip kehidupan bersama
Mengembangkan Desa Wisata Kreatif Perdamaian Sebagai Upaya Menghadirkan Shalom di tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa
This paper is an analytical study of the "Peace Creative Tourism Village" initiated by the Creative and Peace Srumbung Gunung Society (CPSS). The analysis is carried out using sustainable tourism theory and socio-theological perspective through exploring the meaning of shalom. Srumbung Gunung Hamlet has the potential, both physically and non-physically, to be developed into a Peace Tourism Village. The physical potential of Srumbung gunung hamlet includes beautiful mountain views, traditional arts, and historical sites. Meanwhile, the non-physical potential is having local traditions and culture, having local wisdom, still living the values of harmony and mutual cooperation in the plural Srumbung Gunung community. All of these potentials are synergized into the capital to build a peace tourism village with an emphasis on the dimension of peace as its branding. The research results show that DWK "P" can be a model for a tourist village to bring peace (shalom) in the midst of the threat of national disintegration.
Abstrak
Tulisan ini adalah kajian analisis ??SDesa Wisata Kreatif Perdamaian? yang diinisiasi oleh Creative and Peace Srumbung Gunung Society (CPSS). Analisis dilakukan dengan menggunakan teori sustainable tourism dan perspektif sosio-teologis melalui menggali makna shalom. Dusun Srumbung Gunung mempunyai potensi, baik secara fisik maupun non-fisik untuk dikembangkan menjadi Desa Wisata Perdamaian. Potensi fisik yang dimiliki dusun Srumbung Gunung, antara lain pemandangan pegunungan yang indah, kesenian-tradisional, dan situs-situs bersejarah. Sedangkan potensi non-fisiknya adalah memiliki tradisi dan budaya lokal, memiliki kearifan lokal, masih hidupnya nilai-nilai kerukunan dan kegotongroyongan dalam masyarakat Srumbung Gunung yang plural. Semua potensi tersebut disinergikan menjadi modal untuk membangun desa wisata perdamaian dengan penekanan pada dimensi perdamaian sebagai branding. Hasil analisis menunjukkan, DWKP dapat menjadi salah satu model desa wisata sebagai sebuah upaya untuk menghadirkan damai (shalom) di tengah-tengah ancaman disintegrasi bangsa
Menstimulasi Praktik Gereja Rumah di tengah Pandemi Covid-19
This paper is an analysis of various collective resources to consider the current practice of churches in Indonesia in connection with the Covid-19 pandemic. Government regulations have restricted social gatherings, including worship in churches, to break the chain of the spread of this deadly plague. Finally, worship was held online by adopting internet-based technology to carry out worship in their respective homes. This paper is qualitative research litera-ture to analyze the Covid-19 phenomenon from the perspective of Christian theology. As a conclusion, the church must see the pandemic outbreak as an opportunity to stimulate the rise of house churches through the government\u27s social restriction policy regarding religious worship. The house church is typical of the church carried out by the early church in the Acts.
Abstrak
Paper ini adalah analisis berbagai sumber daya kolektif untuk mem-pertimbangkan praktik gereja-gereja di Indonesia saat ini sehubungan dengan pandemi Covid-19. Peraturan pemerintah telah membatasi pertemuan sosial, termasuk ibadah di gereja demi memutus rantai penyebaran wabah yang mematikan ini. Akhirnya, ibadah pun diadakan secara online dengan mengadopsi teknologi berbasis internet untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing. Paper ini merupakan penelitian kualitatif literatur untuk menganalisis fenomena Covid-19 ini dari perspektif teologi Kristen. Sebagai kesimpulannya, gereja harus melihat peristiwa wabah pandemi ini sebagai kesempatan untuk menstimulasi bangkitnya gereja rumah melalui kebijakan pembatasan sosial dari pemerintah terkait ibadah keagamaan. Gereja rumah merupakan tipikal gereja yang dilakukan oleh gereja mula-mula di dalam Kisah Para Rasul
Kritik Retoris: Suatu upaya Memahami Teks Alkitab dari Sudut Latar Belakang Retorika
Hermeneutics in the last decade has experienced a very rapid development, which at first was more often associated with the field of theology, but has since undergone a development that is no longer limited to theological discourse. The development in theology is due to the existence of various critical approaches, one of which is rhetorical criticality. At first, this criticism gave rise to a lot of a priori, but later it developed into a model of interpretation or approach that can help interpreters find culturally appropriate truths when the text is delivered. The output of this paper is to describe the method of rhetorical criticism and the approach pattern used to interpret a text. The method used for this writing is the hermeneutic method. This method has a strategic role in the dialoguing text whose meaning is still ambiguous, becomes clear and does not have multiple interpretations, rationalizes the messages contained in the text so that it is easier to understand.
Abstrak
Hermenetika pada decade terakhir ini mengalami perkembangan yang begitu pesat, yang semula lebih sering dikaitkan dengan bidang teologi, namun di waktu berikutnya mengalami perkembangan yang tidak lagi hanya terbatas pada ilmu teologi. Perkembangan dalam teologi adalah dengan adanya berbagai pendekatan kritis, yang salah satunya adalah kritis retoris. Pada awalnya kritik ini menimbulkan banyak apriori, tetapi di kemudian hari berkembang menjadi model tafsir atau pendekatan yang dapat menolong penafsir menemukan kebenaran yang sesuai kultur ketika teks disampaikan. Luaran dari tulisan ini adalah untuk memaparkan metode kritik retoris dan pola pendekatan yang digunakan untuk mengintepretasi suatu teks. Metode yang digunakan untuk penulisan ini adalah metode hermenetika. Metode ini memiliki peran strategis dalam mendialogkan teks yang maknanya masih ambigu menjadi jelas dan tidak multitafsir, merasionalisasikan pesan yang terkandung dalam teks agar lebih mudah dipaham
Kebertahanan Janda Kristen Batak Toba dalam Hidup Menjanda Setelah Cerai Mati dan Cerai Hidup
The reality of the persistence of the Toba Batak Christian widows indicates a different habitus to that of most other widows who tend to remarry. This paper aims to determine the habitus that underlies the survival of Toba Batak Christian widows after divorce and divorce by using the theoretical framework or the habitus concept of Pierre Bourdiau. While the research method used in this study is a feminist qualitative research method that emphasizes women as the subject/center of research. Furthermore, it was found that the persistence of Toba Batak Christian widow women to live as widows was related to their habitus as women who have to be strong, hard-working, independent, and tough to support their children. This habitus is obtained from several dimensions of social capital. First, the cultural value of anakonki do hamo-raon diau (children are the most valuable treasure). Second, religious values, namely surrender and surrender of life to God by diligently praying and active-ly worshiping in churches and third, family values in the form of moral and material support from the closest family. This habitus creates a new image that the Toba Batak Christian widow is a hardworking, independent, and strong woman.
Abstrak
Realitas kebertahanan janda Kristen Batak Toba menjanda meng-isyaratkan habitus yang berbeda dengan habitus kebanyakan janda lain yang berkecenderungan menikah kembali. Tulisan ini bertujuan mengetahui habitus yang mendasari kebertahanan janda Kristen Batak Toba menjanda pasca cerai mati dan cerai hidup dengan menggunakan kerangka teori atau konsep habitus Pierre Bourdiau. Sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode penelitian kualitatif feminis yang menekankan perempuan seba-gai subyek/sentral penelitian. Selanjutnya, diperoleh bahwa kebertahanan pe-rempuan janda Kristen Batak Toba untuk hidup menjanda ternyata berkaitan dengan habitus mereka sebagai perempuan yang harus kuat, pekerja keras, mandiri dan tangguh menghidupi anak-anaknya. Habitus ini diperoleh dari beberapa dimensi modal sosial. Pertama, nilai budaya anakonki do hamoraon diau (anak adalah harta yang paling berharga). Kedua, nilai religius yaitu berserah dan penyerahan hidup pada Tuhan dengan tekun berdoa dan aktif beribadah di gereja dan ketiga, nilai keluarga berupa dukungan moril dan materiil dari keluarga terdekat. Habitus ini menumbuhkan pencitraan baru bahwa janda Kristen Batak Toba merupakan sosok perempuan pekerja keras, mandiri dan kua
Kecakapan Lulusan Pendidikan Tinggi Teologi Menghadapi Kebutuhan Pelayanan Gereja dan Dunia Pendidikan Kristen
The stakeholder of college graduates oftenly complained about the low skills possessed by the graduates. The same thing is experienced in the world of church service and Christian education, that there are still many theological scholars who lack the skills or expertise in their fields.This study aimed to determine how well the graduates of theological college having skills which answer the needs in the Church and Christian educational institutions. The results of the study concluded that the skills of the graduates of theological college are still not optimal. There are five skills that have a fairly low assess-ment, namely skill of leadership, servants, service experience, theological knowledge, and English ability.
Abstrak
Para pengguna lulusan perguruan tinggi mengeluhkan masih rendahnya kecakapan yang dimiliki oleh para lulusan terebut. Hal serupa juga dialami dalam dunia pelayanan gereja dan pendidikan Kristen, bahwa masih banyak sarjana teologi yang kurang memiliki kecakapan atau keahlian dalam bidangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa baik kecakapan lulusan STT dalam menjawab kebutuhan pelayanan di gereja dan lembaga pendidikan Kristen. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kecakapan lulusan STT masih belum maksimal. Ada lima kecakapan yang memiliki penilaian yang cukup rendah yaitu kecakapan sebagai pemimpin, sebagai pelayan, pengalaman pelayanan, pengetahuan teologi, dan kemampuan berbahasa Inggris