Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
    387 research outputs found

    Hubungan Spiritualitas terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa

    No full text
    The purpose of this study was to analyze the effect of spirituality variables on student learning motivation. The method used in this research is a quantitative approach using descriptive statistics and simple linear regression statistical tests. Data collection techniques used a Likert attitude scale with four answer choices distributed to 76 students who were respondents in this study. The results showed that the Spirituality variable obtained an average score of 21.36 which was included in the high category while the Student Learning Motivation variable obtained an average score of 14.78 which was also included in the high category. The results of data processing showed that there was an influence of Spirituality variables on Student Learning Motivation by 9.9%, meaning that changes in the Learning Motivation variable by 9.9% could be explained by changes in Spirituality variables. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh variabel spiritualitas terhadap motivasi belajar mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kuantitatif dengan menggunakan regresi linear sederhana. Teknik pengumpulan data menggunakan skala sikap Likert dengan empat pilihan jawaban yang dibagikan kepada 76 orang mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Spiritualitas memperoleh skor rata-rata sebesar 21.36 yang termasuk dalam kategori tinggi sementara variabel motivasi belajar mahasiswa memperoleh skor rata-rata sebesar 14.78 yang juga termasuk dalam kategori tinggi. Hasil pengolahan data menunjukkan ada korelasi variabel spiritualitas terhadap moti-vasi belajar mahasiswa sebesar 9.9%, artinya perubahan dalam variabel motivasi belajar sebesar 9.9% dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variabel spiritualitas

    Penerapan Storytelling Dalam Menceritakan Kisah Alkitab Pada Anak Sekolah Minggu

    Get PDF
    Learning in Sunday schools requires good innovation in order to produce quality learning. In this study, the authors examined the application of storytelling in telling Bible stories to Sunday school children. Therefore, the authors use a qualitative approach by conducting observations and directed discussions on participants so that data obtained about the application of storytelling methods. The results showed that the application of storytelling-assisted lecture methods was carried out in accordance with the steps. The application of storytelling also provides benefits in the form of Increased ability to understand children, as evidenced by the success of retelling stories, specifically Bible stories; increased listening ability in children; increased ability to remember, so that you can retell; increased listening ability in children. Children can concentrate on listening to the teacher\u27s story. These results can be achieved because of an increase in listening, listening, remem-bering, and understanding so that the memorization process occurs which ultimately helps children retell stories that have been heard. Abstrak Pembelajaran pada Sekolah Minggu memerlukan inovasi yang baik agar meng-hasilkan kualitas belajar. Dalam penelitian ini penulis meneliti tentang penerapan storytelling dalam menceritakan kisah Alkitab pada anak Sekolah Minggu. Oleh karena itu, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan observasi dan diskusi terarah pada partisipan sehingga diper-oleh data tentang penerapan metode storytelling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode ceramah berbantuan storytelling dilakukan sesuai dengan langkah-langkahnya. Penerapan storytelling juga memberikan manfaat berupa: meningkatnya kemampuan memahami pada anak, terbukti dari keber-hasilan menceritakan kembali cerita, secara khusus cerita Alkitab; mening-katnya kemampuan mendengar pada anak; meningkatnya kemampuan meng-ingat, sehingga dapat menceritakan kembali; meningkatnya kemampuan menyi-mak pada anak. Anak dapat berkonsentrasi untuk menyimak cerita guru. Hasil tersebut dapat tercapai karena terjadi peningkatan menyimak, mendengar, mengingat, dan memahami sehingga terjadi proses memorisasi yang akhirnya membantu anak-anak menceritakan kembali cerita yang telah didengar

    Menemukan Tuhan dalam Segalanya: Analisis Spiritualitas Kristiani dalam Puisi

    Get PDF
    As a language of devotion, poetry can help people gain peace and understanding about themselves, each other, and the world around them. This article explores a number of world poetry that tells about the presence of God. Based on the contemplative relationship between poetry and spirituality, the aim of this study is to examine how God the Creator is present and represented in poetry. Using the hermeneutic-interpretative method of analysis, the research data which include six poems from various countries were analyzed with the conceptual framework being (1) poetry as a prayer and (2) Ignatian Spirituality, i.e., a spiritual practice to affirm that God is present in our world and active in our lives. The reading of the selected poems shows that God can indeed be found in everything. First, God is present in the universe and everything living in it. Second, having gone through various struggles, the characters or speakers in the poems find God within themselves. Third, the face of God is visible in others because humans are created in His image. The conclusion is that studying God\u27s presence in poetry can contribute to the narratives of one\u27s spiritual journey. Abstrak Sebagai bahasa pengabdian, puisi dapat membantu orang memperoleh kedamaian dan pengertian tentang diri sendiri, sesamanya, dan dunia di sekitarnya. Artikel ini membahas sejumlah puisi lintas negara yang mengkisahkan kehadiran Tuhan. Bertumpu pada relasi yang berpatutan antara puisi dan spiritualitas, tujuan studi ini adalah meneliti bagaimana Sang Pencipta hadir dan direpresentasikan dalam puisi. Metode interpretasi hermeneutik dipakai untuk menganalisis data yang berupa enam puisi dari berbagai negara dengan kerangka pikir (1) puisi sebagai doa dan (2) Spiritualitas Ignasian, yaitu latihan rohani yang menegaskan bahwa Tuhan hadir di dunia dan aktif dalam kehidupan kita. Hasil pembacaan sejumlah puisi tersebut menunjukkan bahwa Tuhan sungguh dapat ditemukan dalam segalanya. Pertama, di alam raya dan segala isinya Tuhan hadir. Kedua, setelah melalui pelbagai pergumulan, tokoh atau pembicara dalam puisi menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri. Ketiga, wajah Tuhan terlihat dalam diri sesama karena manusia diciptakan sesuai citraNya. Sebagai simpulan, kajian puisi tentang kehadiran Tuhan dapat menambah alur kisah perjalanan spiritual seseoran

    Mengajarkan Pendidikan Karakter Melalui Matius 5:6-12

    Get PDF
    The background of the problem in this study is the occurrence of changes in the current generation due to mass media that change the mindsets, behavior, and habits of today\u27s youth, accompanied by education that tends to be based on knowledge or cognitive. All of this will result in humans not being human. Thus, character education offered by Jesus in a happy speech at the Sermon on the Mount is character-based education centered on the imitation of Christ, which is to follow in the footsteps or steps of Christ in the lives of Indonesian Christian students. This framework of thought or world view is what Christian Character education is. Thus, this research will use an asynchronous method that is to exegete what is said in the text of Matthew 5:6-12. Abstrak Latar belakang dari masalah dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan pada generasi saat ini karena media massa yang mengubah pola pikir, perilaku, dan kebiasaan pemuda saat ini, disertai dengan pendidikan yang cenderung didasarkan pada pengetahuan atau kognitif. Semua ini akan meng-akibatkan manusia tidak manusia. Dengan demikian, pendidikan karakter yang diajarkan Yesus melalui khotbah ucapan bahagia di bukit merupakan pengajaran berbasis karakter yang berpusat pada meniru Kristus, yang mengikuti jejak atau langkah Kristus dalam kehidupan siswa Kristen Indonesia. Kerangka pemikiran atau pandangan dunia ini adalah apa yang pendidikan karakter Kristen. Dengan demikian, penelitian ini akan menggunakan metode asynchronous yaitu untuk penafsir apa yang dikatakan dalam teks Matius 5:6-12

    Bimbingan Orang tua terhadap Perkembangan Iman Anak Menurut Kitab Amsal

    No full text
    Pada dasarnya orang tua memiliki peran penting dalam hal membina anak, sebab orang tua merupakan pendidik/pembimbing yang paling utama dalam kehidupan anak khususnya dalam perkembangan iman anak. Akan tetapi banyak orang tua yang menyerahkan anak mereka untuk dididik/dibimbing oleh guru atau bahkan oleh pembantu rumah tangga tanpa menyadari bahwa dalam keluarga adalah tempat yang paling pertama di mana anak menerima pendidikan. Pembinaan iman dimulai dari dalam keluarga karena tidak ada orang yang tidak dilahirkan dalam keluarga. Dalam dan dari keluarga anak mempelajari banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana mengatur nilai-nilai tertentu. Menurut kajian teori peneliti, kehidupan seorang anak untuk memperkembangkan imannya sangat dipengaruhi oleh pola didikan/bimbingan dari orang tua. Bimbingan yang diperoleh anak di Jemaat GPdI ??SEl-Shaddai⬝ Imandoa, Serui ?? Papua sangat berbeda-beda, tergantung karakter dan kepribadian orang tua yang membimbing mereka. Pertumbuhan iman merupakan proses untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ini dapat dilakukan dengan membina anak-anak dengan hal-hal yang dapat menumbuhkan iman seorang anak seperti rajin berdoa, membaca Alkitab dan mendorong anak untuk ikut Sekolah Minggu atau ke Gereja. Dengan menerapkan firman Tuhan khususnya Kitab Amsal sebagai dasar bimbingan kepada anak terhadap pertumbuhan imannya, kelak ketika anak menjadi dewasa mereka tidak akan menyimpang dari jalan yang benar. Untuk memperoleh hasil penelitian, maka Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang memperoleh data-data penelitian secara langsung di lapangan, metode dan teknik mengumpulkan data wawancara. Analisis Data mengunakan metode Milles dan Huberman. Metode keabsahan data yaitu kepercayaan (Credibility), keteralihan (Transferability), kebergantungan (Dependability), kepastian (Confirmability), diskusi dengan teman, member check; Teknik pemeriksaan keabsahan (Validitas) data dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/keajegan pengamatan, triangulasi, Pengecekan sejawat, pengecekan dengan data rekaman, analisis kasus negatif, pengecekan anggota. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa responden telah memberikan perhatian yang cukup untuk mendukung perkembangan iman anak menurut Kitab Amsal dengan berbagai usaha yang telah dilaksanakan dan permasalahan yang dihadapi, namun masih ada orang tua yang kurang memperhatikan perkembangan iman anak

    Keteladanan Yesus Sebagai Guru Menurut Injil Matius dan Aplikasinya Bagi Guru Sekolah Minggu GPdi ??SBethesda⬝ Merauke Papua

    No full text
    Teacher modeling in carrying out church mission is very important. The teacher as a spiritual leader is crucial for success or failure ministry in spiritual educational, as well as education in all life fields. All educational institutions require theachers not only to be good at teaching but also as role models, as well as in Sundy school education in the church there needs to be a model teacher. The Gospel of Matthew gives an example that Jesus is the example of creative teacher. Specially the verb of didasko (teaching) with various forms used nine times to describe the activity of Jesus as a teacher. The activity of Jesus is more often informed by the word teaching (didasko = teaching) rather than the verb of preaching (kerusso = preaching). That Is why Jesus called the Teacher as a creative teacher, the teaching methods used by Jesus are not monotonous but varies according to the place, circumstance and needs of His students or listeners. The purpose of this research is to describe the example of Jesus as a teacher according to Matthew, to describe the extent of the exemplary teachers of Sunday School of the GPdI ??SBethesda⬝ Merauke Papua to recommend the application of Jesus example as a teacher based on the Gospel of Matthew for Sunday School teachers in the GPdi Church. This research uses a qualitative approach; research paradigm, theological phenomenology, because it uses the interpretation of the text in the context of the Gospel of Matthew as a theoretical basis. Data source from 44 participants of Sunday School teachers in GPdI ??SBethesda⬝ Merauke. Methods and techniques of collecting interview data. Data analysis using the theory of Miles and Huberman. Conclusion: The Gospel of Matthew shows Jesus as the best teacher and can be emulated by all Sunday School teachers, example: in terms of His caling to receive a vision to serve, carry out a mission as a teacher, understand His purpose to serve in His personality is characterized, have integrity, charismatic, to be responsible, positive thinking, have ethos, nice worl, confidence, extensive knowledge, pull yourself together. In His spirituality includes centering on God, living in prayer, living righteously, living holy. In the professionalism of His ministry that is focused on goals and tasks, understanding children??"s psychology, mastering teaching materials, skillful planning, skillful carrying out, skillful evaluating, skillful assessing as a communicator, as a facilitator. Having the ability to serve children is a thing, very important and can not be ignored because children are. The assets of the church and the next generation of God??"s church. Therefore the role of a teacher in serving Sunday School children must be an important concern in a pastoral hearing, because church leaders and teachers have a great responsibility for the growth of faith in Sunday School children

    Pengembangan Kepemimpinan Gereja Masehi Injili di Halmahera melalui Pemaknaan Filosofis Kepemimpinan Gembala

    Get PDF
    This study aims to find the ideal concept of leadership in church circles and make it relevant to the church process at the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH). The method used is research or literature review by exploring leadership management concepts, both general in society and specifically in the church. This study found that the success or failure of a leader will indeed be seen from the results of his work. The process influences these results from the beginning of becoming a leader, the lead management process, and its evaluation, both process evaluation and work results. Leadership in the Church is the same way. One thing that needs to be instilled early in church leadership is that the leader-pastor is not God. They are only tools in God\u27s hands because they are also not free from various weaknesses. The church does not adhere to a "cult of church leaders" and, therefore, never makes leaders saints who cannot be criticized or blasphemed. This research concludes that every pastor-leader will continue to learn to improve himself and the leadership system to improve in the future, even in the church, including GMIH. Good traditions in the church should be maintained, and if they are outdated and tend to be destructive, they should be let go willingly. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep ideal kepemim-pinan di kalangan gereja dan merelevansikannya dalam proses bergereja di Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Metode yang digunakan adalah penelitian atau kajian pustaka, dengan menelusuri konsep-konsep manajemen kepemimpinan, baik yang umum di masyarakat maupun secara khusus di gereja. Penelitian ini menemukan bahwa berhasil tidaknya seorang pemimpin memang akan dilihat dari hasil kerjanya. Hasil itu tentu saja dipengaruhi oleh proses sejak awal menjadi pemimpin, proses manajemen kepemimpinan, dan evaluasinya, baik evaluasi proses maupun hasil kerjanya. Kepemimpinana dalam Gereja juga demikian. Satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini dalam kepemimpinan gereja, yaitu bahwa pemimpin-gembala bukanlah Tuhan. Mereka hanyalah alat di tangan Tuhan, karena itu tidak lepas dari berbagai kelemahan juga. Di dalam gereja tidak menganut paham “pengkultusan pemimpin gereja†karena itu, jangan sekali-kali menjadikan pemimpin sebagai orang kudus yang tidak boleh dikritik atau dihujat. Penelitian ini menyim-pulkan bahwa setiap pemimpin-gembala akan terus belajar memperbaiki diri dan memperbaiki sistem kepemimpinan agar lebih baik ke depan, begitu pun di gereja, termasuk GMIH. Tradisi-tradisi yang baik di gereja patut dijaga, dan jika sudah ketinggalan zaman dan cenderung merusak, sebaiknya dilepaskan dengan ikhlas

    Penguatan Nilai-nilai Kristiani Melalui Interaksi Sosial bagi Peserta Didik

    Get PDF
    The study aims to analyze the strengthening of students\u27 Christian values through social interaction. Literature methods or literature studies are used to collect and analyze this research data. Research findings reveal that the role of Christian Education teachers is needed in strengthening Christian values for students through social interaction. The form of social interaction that can be used by Christian Education teachers to strengthen Christian values for students is the form of cooperation and accommodation. Strengthening Christian values in schools requires cooperation between Christian Education teachers and students, as well as between students and other students. While the form of accommodation, in instilling Christian values in students, requires the ability to overcome conflicts and, at the same time, the ability to avoid disputes. Both among students as well as students with Christian Education teachers. With this approach, strengthening Christian values for students through social interaction can be created well.AbstrakPenelitian bertujuan untuk menganalisis penguatan nilai-nilai kristiani peserta didik melalui interaksi sosial. Metode literatur atau studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan data dan menanalisis data penelitian ini. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa diperlukan peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam memperkuat nilai-nilai kristiani bagi peserta didik melalui interaksi sosial. Bentuk interaksi sosial yang dapat digunakan oleh guru Pendidikan Kristen dalam penguatan nilai-nilai kristiani bagi peserta didik yaitu dengan bentuk kerja sama dan akomodasi. Penguatan nilai-nilai kristiani di sekolah diperlukan jalinan kerja sama, baik itu kerja sama antara guru Pendidikan Agama Kristen dengan peserta didik, maupun antara peserta didik dengan peserta didik lainnya. Sedangkan bentuk akomodasi, dalam menanamkan nilai-nilai kristiani kepada peserta didik diperlukan kemampuan dalam mengatasi pertentangan dan sekaligus kemampuan dalam menghindari perselisihan. Baik itu di antara peserta didik, maupun peserta didik dengan guru Pendidikan Agama Kristen. Dengan pendekatan ini, penguatan nilai-nilai kristiani bagi peserta didik melalui interaksi sosial dapat tercipta dengan baik

    Menerapkan Strategi Penginjilan Paulus dalam Kisah Para Rasul 17:16-34 pada Penginjilian Suku Auri, Papua

    Get PDF
    Gospel messages are important, so to achieve the right goals, proper planning or strategy is needed. A person who does the gospel message not only depends on the magnitude of the strategy but also how effective the strategy is in introducing Christ. Therefore, the need to apply an effective strategy is very much needed by the GPdI congregation pastors in the East Waropen region in carrying out the Gospel message to the Auri tribe in Papua. The story of Paul in Athens in the Acts of the Apostles Acts 17: 16-34 is used as the biblical foundation in this study which results in five aspects, namely: understanding God\u27s plan in eternity; understand the true purpose of the gospel message; has good characteristics as an evangelist; understand the characteristics of the target community of the gospel message, and using appropriate contextualization methods. This article aims to provide an understanding of Paul\u27s evangelistic strategy to pastors of the GPdI congregation in the East Waropen region so that they can apply it in the Gospel message to the Auri tribe in Papua. Abstrak Pemberitaan Injil adalah hal yang penting, sehingga untuk mencapai sasaran yang tepat perlu adanya perencanaan atau strategi yang tepat juga. Seseorang yang melakukan pekabaran Injil tidak saja bergantung pada hebatnya strategi, namun juga seberapa efektif strategi tersebut dalam memperkenalkan Kristus. Oleh karena itu kebutuhan untuk mengaplikasikan strategi yang efektif sangat diperlukan oleh para gembala sidang GPdI wilayah Waropen Timur da-lam melakukan pekabaran Injil kepada suku Auri di Papua. Kisah Paulus di Atena dalam Kisah Para Rasul Kisah Para Rasul 17:16-34 dijadikan landasan biblika dalam penelitian ini yang menghasilkan lima aspek, yakni: aktualisasi karya penyelamatan Allah; mengerti tujuan hakiki dari pekabaran Injil; memili-ki karakteristik yang baik sebagai seorang penginjil; memahami karakteristik masyarakat sasaran pekabaran Injil; dan melakukan metode kontekstualisasi yang tepat. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai stra-tegi penginjilan Paulus kepada para gembala sidang GPdI wilayah Waropen Timur, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam penginjilan suku Aur

    Tantangan Teologi Agama-agama: Suatu Diskursus Model

    Get PDF
    Live side by side between religions is no longer a choice of life, especially in Indonesia. Because Indonesian society is formed from various religions and tribes or sub-tribes. Therefore, the effort to find a format and order to live side by side in getting along well and harmony is a relevant topic of all time. In this paper, the pattern of life in diversity is traced to the time of the first human life on earth through the narrative of the Scriptures in Christianity, the Bible. With the help of searching for cognate libraries, this paper presents proposals that are simple and easy to understand for each adherent of the religion. Various data collected were then processed using the heuristic inquiry theory approach while the data from the scriptures were explored with a hermeneutic pattern. The tripolar typology that is considered to be the first or pioneering pattern in the theology of religions is now gaining a new partner in realizing life between religious communities towards harmony. Abstrak Hidup berdampingan antar pemeluk agama tidak lagi menjadi pilihan hidup, apalagi di Indonesia. Sebab masyarakat Indonesia terbentuk dari berbagai agama dan suku atau sub-suku. Karena itu pula upaya mencari format dan tatanan hidup berdampingan dengan rukun dan harmonis menjadi topik yang relevan sepanjang masa. Dalam tulisan ini, pola kehidupan dalam keberagaman ditelusuri hingga masa-masa kehidapan pertama manusia di bumi melalui narasi Kitab Suci dalam kekristenan yaitu Alkitab. Dengan bantuan penelusuran pustaka serumpun, tulisan ini menyajikan usulan yang sederhana dan mudah untuk dimengerti oleh masing-masing pemeluk agama. Berbagai data yang berhasil dihimpun kemudian diolah dengan pendekatan teori heuristic inquiry sedangkan data dari kitab suci didalami dengan pola hermeneutik. Kerangkeng tipologi tripolar yang dianggap menjadi pola pertama atau perintis dalam teologi agama-agama kini memperoleh mitra baru dalam mewujudkan kehidupan antar umat beragama menuju keharmonisa

    319

    full texts

    387

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇