Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Roh Kudus dan ketekunan belajar: Eksplorasi spiritualitas pembelajar melalui permodelan komunitas gereja perdana dalam narasi Kisah Para Rasul 2:42
This article examines the relationship between the work of the Holy Spirit and the development of spiritual learning within contemporary Christian education contexts. Drawing upon the model of the early church community depicted in Acts 2:42, this research investigates how perseverance in the apostles\u27 teaching can be constructed as a Christian educational paradigm that stimulates students to develop learning perseverance. Through exegetical analysis of the Acts 2:42 text, a literature review on the Holy Spirit\u27s role in learning, and a synthesis of Christian educational theology, this study proposes a pneumatological framework for understanding learning perseverance as a spiritual practice empowered by the Holy Spirit. The study argues that authentic learning experiences within Christian communities are not merely cognitive activities but transformative spiritual experiences that occur through the dynamic interaction between the Holy Spirit, the Word, and the learning community. Implications for contemporary Christian educational practice are also discussed, highlighting the importance of creating Spirit-centered learning environments where learning perseverance is understood and experienced as a response to the work of the Holy Spirit.
Abstrak
Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara karya Roh Kudus dan pengembangan spiritualitas pembelajaran dalam konteks pendidikan Kristiani kontemporer. Dengan mengambil model komunitas gereja perdana yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul 2:42, penelitian ini menyelidiki bagaimana ketekunan dalam pengajaran para rasul dapat dikonstruksikan sebagai sebuah paradigma pendidikan Kristiani yang menstimulasi murid untuk mengembangkan ketekunan belajar. Melalui analisis eksegesis teks Kisah Para Rasul 2:42, tinjauan literatur tentang peran Roh Kudus dalam pembelajaran, dan sintesis teologi pendidikan Kristiani, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja pneumatologis untuk memahami ketekunan belajar sebagai praktik spiritual yang diberdayakan oleh Roh Kudus. Studi ini berargumen bahwa pengalaman pembelajaran autentik dalam komunitas Kristiani tidak hanya merupakan aktivitas kognitif tetapi juga pengalaman spiritual transformatif yang terjadi melalui interaksi dinamis antara Roh Kudus, Firman, dan komunitas pembelajar. Implikasi bagi praktik pendidikan Kristiani kontemporer juga dibahas, menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada Roh Kudus di mana ketekunan belajar dipahami dan dialami sebagai respons terhadap karya Roh Kudus
Menelisik praktik perhambaan di kampung Raja Prailiu, Sumba Timur: Sebuah kajian poskolonial dalam upaya memutus rantai perhambaan di era modern
In this modern era, the practice of slavery in various forms can be found in multiple places in the world, including in Raja Prailiu Village, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. This practice has been carried out by the Maramba (nobles) against the Ata (servants). This causes injustice and discrimination for the Ata people, who even experience violence, both physical and psychological. This research aims to study why this practice continues to be maintained and perpetuated, as well as propose efforts to break the chain of this kind of slavery so as not to cause further social problems, especially for the Ata. This research uses qualitative methods with a postcolonial approach. Data collection techniques included observation, in-depth interviews, and documentation. This research concerns efforts to eliminate various forms of slavery practices in society, especially in Raja Prailiu Village. This research found that this practice continues to occur because, as subalterns, the Ata’s voices are not heard, their experiences are silenced, and there is no "space" for them to speak out. This research concludes that the voices of the Ata as subalterns need to be heard in public spaces.
Abstrak
Di era modern seperti sekarang ini, praktik perhambaan dalam berbagai bentuk (tradisional maupun modern) dapat ditemukan di berbagai tempat di dunia, termasuk di Kampung Raja Prailiu, Sumba Timur - Nusa Tenggara Timur. Praktik ini dilakukan oleh para Maramba (kaum bangsawan) terhadap kaum Ata (hamba). Hal ini menyebabkan ketidakadilan dan diskriminasi bagi kaum Ata yang bahkan mengalami kekerasan, baik fisik maupun psikis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian mengapa praktik tersebut terus dipertahankan dan dilestarikan, serta mengusulkan upaya untuk memutus rantai perhambaan semacam ini agar tidak menimbulkan persoalan sosial lanjutan, terutama bagi kaum Ata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan poskolonial. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Urgensi dari penelitian ini adalah untuk menghapus segala bentuk praktik perhambaan di masyarakat, khususnya di Kampung Raja Prailiu. Dengan menggunakan teori subaltern dari Gayatri Spivak ditemukan bawah praktik tersebut terus terjadi karena kaum Ata sebagai subaltern suara mereka tidak terdengar, pengalaman mereka dibungkam dan tidak ada “ruang” bagi mereka untuk bersuara. Kesimpulan dari penelitian ini adalah suara-suara kaum Ata sebagai subaltern perlu diperdengarkan di ruang-ruang publik
From Moab to Selalang: Reading Ruth\u27s conversion in the mirror of Iban women\u27s narratives
This study interprets the narrative of Ruth\u27s conversion in the Old Testament as a hermeneutical model for understanding the faith experience of Dayak Iban women in Selalang, Malaysia, particularly through the story of Ibu Lega. Conversion is not viewed merely as a formal change of religion, but as a complex relational, cultural, and spiritual process. Using a narrative and intertextual hermeneutic approach, this research explores how conversion emerges from experiences of loss, vulnerability, and relational love. Ibu Lega, who chose to remain in the Longhouse after her husband\u27s death to care for her in-laws, created a space for the growth of Christian faith through her steadfastness. In this context, conversion does not reject culture but transforms it into a new form of embodied spirituality lived in daily practices. Like Ruth, Ibu Lega’s path to faith did not pass through institutional religion, but through embodied acts of love and sacrifice. This narrative challenges dogmatic colonial mission models and proposes an alternative theology of conversion that is contextual, relational, and intercultural. As a communal spiritual space, the Longhouse becomes a locus for liberating faith transformation that honors local cultural wisdom
Metakognisi rohani melalui hypnoteaching berbasis kitab suci: Pendekatan multidisipliner teologi-neurosains pada pembelajaran transformatif Pendidikan Agama Kristen
This study examines the development of spiritual metacognition through a Scripture-based hypnoteaching method and its influence on transformative learning in Christian Religious Education (CRE). The research employs a multidisciplinary approach integrating theology and neuroscience to understand how biblical suggestion techniques influence neuroplasticity and spiritual-cognitive development. Through literature-based analysis, this study reveals that Scripture-based hypnoteaching creates distinctive metacognitive awareness that transcends conventional educational paradigms. The integration of biblical texts as suggested materials in relaxed consciousness states facilitates deeper spiritual reflection and enhanced retention of theological concepts. Findings suggest that this method simultaneously activates both cognitive and spiritual dimensions, resulting in transformative learning experiences that align with Christian pedagogical objectives. The research demonstrates how neuroscientific understanding of suggestion mechanisms validates traditional Christian practices of meditation and contemplation, offering evidence-based foundations for innovative CRE methodologies. This study contributes to contemporary educational discourse by providing a theologically grounded framework for understanding metacognition within faith-based learning contexts.
Abstrak
Penelitian ini mengeksplorasi konstruksi metakognisi rohani melalui metode Scripture-based hypnoteaching dan dampaknya terhadap transformative learning dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK). Riset menggunakan pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan teologi dan neurosains untuk memahami bagaimana teknik biblical suggestion mempengaruhi neuroplastisitas dan perkembangan spiritual-kognitif. Melalui analisis berbasis literatur, penelitian ini mengungkap bahwa Scripture-based hypnoteaching menciptakan kesadaran metakognitif yang khas yang melampaui paradigma pendidikan konvensional. Integrasi teks-teks biblical sebagai materi suggestion dalam kondisi kesadaran yang rileks memfasilitasi refleksi spiritual yang lebih mendalam dan peningkatan retensi konsep-konsep teologis. Temuan menunjukkan bahwa metode ini mengaktivasi dimensi kognitif dan spiritual secara simultan, menghasilkan pengalaman transformative learning yang selaras dengan tujuan pedagogis Kristen. Penelitian mendemonstrasikan bagaimana pemahaman neurosaintifik tentang mekanisme suggestion memvalidasi praktik-praktik Kristen tradisional seperti meditasi dan kontemplasi, menawarkan fondasi berbasis bukti untuk metodologi PAK yang inovatif
Habitus pneumatis dan kompetensi emosional: Membaca ulang Galatia 5:22-24 bagi pendidikan karakter Kristiani
This article examines the concept of the fruit of the Spirit in Galatians 5:22-24 as pneumatic habitus that shapes students\u27 emotional competence in Christian character education. Through a qualitative approach using conceptual-hermeneutical analysis, this study explores how nine manifestations of karpos tou pneumatos—love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control—can be understood as pneumatic dispositions that transform human affective structures. The analysis reveals that Christian character formation is not superficial behavioral modification but fundamental habitus restructuring through the Holy Spirit\u27s work. This article offers a pedagogical model based on pneumatic habitus that integrates theological, psychological, and pedagogical dimensions in holistic and transformative emotional competence formation.
Abstrak
Artikel ini mengkaji konsep buah Roh dalam Galatia 5:22-24 sebagai habitus pneumatis yang membentuk kompetensi emosional peserta didik dalam konteks pendidikan karakter Kristiani. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis konseptual-hermeneutis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana sembilan manifestasi karpos tou pneumatos—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri—dapat dipahami sebagai disposisi-disposisi pneumatis yang mentransformasi struktur afektif manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa formasi karakter Kristiani bukanlah modifikasi perilaku superfisial, melainkan restrukturisasi habitus secara mendasar melalui karya Roh Kudus. Artikel ini menawarkan model pedagogis berbasis habitus pneumatis yang mengintegrasikan dimensi teologis, psikologis, dan pedagogis dalam pembentukan kompetensi emosional yang holistik dan transformatif
Merajut iman dan budaya: Peran pemuda gereja melestarikan tradisi temu pengantin Jawa dalam perspektif pendidikan agama Kristen kontekstual
This article examines the contextual Christian religious education model in preserving the Temu Pengantin tradition by church youth in Indonesia. Employing a theological-cultural analytical approach, this study explores the relevance and significance of Javanese traditional wedding ceremonies as a dialogical space between Christian values and local wisdom. The research finds that preserving the Temu Pengantin tradition within Javanese Christian communities contributes significantly to forming a contextual Christian identity rooted in local culture while remaining faithful to the essence of Christian faith. The article proposes a transformative hermeneutical approach that facilitates critical-constructive dialogue between Christian faith and local cultural traditions, and offers a multidimensional Christian religious education model that integrates cultural elements as materials for theological reflection. This study contributes to developing a culturally-informed and contextual Christian religious education paradigm in Indonesia that bridges the gap between Christian faith and its artistic expressions.
Abstrak
Artikel ini mengkaji model pendidikan agama Kristen kontekstual dalam upaya pelestarian tradisi Temu Pengantin oleh pemuda gereja di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan analisis teologis-kultural, studi ini mengeksplorasi relevansi dan signifikansi tradisi pernikahan adat Jawa sebagai ruang dialog antara nilai-nilai kekristenan dan kearifan lokal. Penelitian ini menemukan bahwa pelestarian tradisi Temu Pengantin dalam komunitas Kristen Jawa memberikan kontribusi penting dalam pembentukan identitas Kristen kontekstual yang berakar pada budaya lokal sekaligus setia pada esensi iman Kristen. Artikel ini mengusulkan pendekatan hermeneutika transformatif yang memungkinkan dialog kritis-konstruktif antara iman Kristen dan tradisi budaya lokal, serta menawarkan model pendidikan agama Kristen multidimensional yang mengintegrasikan unsur-unsur budaya sebagai bahan refleksi teologis. Studi ini berkontribusi pada pengembangan paradigma pendidikan agama Kristen yang berbudaya dan kontekstual di Indonesia yang menjembatani kesenjangan antara iman Kristen dan ekspresi kulturalnya
Transformasi kepemimpinan Kristiani melalui dialog antarbudaya: Strategi membangun ketahanan komunitas di era posmodern
The postmodern era presents complex challenges for Christian leadership in building resilient communities amid social fragmentation and cultural plurality. This research analyzes the transformation of Christian leadership through intercultural dialogue as a strategy for building community resilience. Using literature analysis methods with hermeneutic-phenomenological approaches, data were collected through comprehensive studies of theological, leadership, and cultural anthropology sources. The research produces a culturally responsive leadership model that integrates Christian values with intercultural sensitivity. Findings reveal that intercultural dialogue transforms leadership paradigms from monocultural approaches toward authentic inclusivity. Community resilience strategies are developed through seven dimensions: adaptive capacity, social cohesion, member empowerment, economic resilience, cultural preservation, network formation, and crisis preparedness. The research contribution is a theoretical framework that synergizes contextual theology with transformative leadership to address the realities of multicultural societies.
Abstrak
Era posmodern menghadirkan tantangan kompleks bagi kepemimpinan Kristiani dalam membangun komunitas yang resilien di tengah fragmentasi sosial dan pluralitas budaya. Penelitian ini menganalisis transformasi kepemimpinan Kristiani melalui dialog antarbudaya sebagai strategi membangun ketahanan komunitas. Menggunakan metode analisis literatur dengan pendekatan hermeneutik-fenomenologis, data dikumpulkan melalui studi komprehensif terhadap sumber-sumber teologi, kepemimpinan, dan antropologi budaya. Penelitian menghasilkan model kepemimpinan responsif budaya yang mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani dengan sensitivitas antarbudaya. Temuan menunjukkan bahwa dialog antarbudaya mentransformasi paradigma kepemimpinan dari pendekatan monokultur menuju inklusivitas yang autentik. Strategi ketahanan komunitas dikembangkan melalui tujuh dimensi: kapasitas adaptif, kohesi sosial, pemberdayaan anggota, resiliensi ekonomi, preservasi budaya, pembentukan jaringan, dan kesiapsiagaan krisis. Kontribusi penelitian adalah kerangka teoretis yang mensinergikan teologi kontekstual dengan kepemimpinan transformatif untuk menghadapi realitas masyarakat multikultural
Oikonomia theou dan oikonomia institusional: Participatio in mysterion sebagai paradigma manajemen pendidikan Kristiani Indonesia
This article develops a theological framework for understanding Christian education management through the concept of oikonomia in Pauline and patristic theology. By analyzing the intrinsic relationship between oikonomia theou (divine management) and mysterion (the revealed plan of salvation), this article argues that the management of Christian educational institutions must be understood as participatio, the ontological and practical participation in God\u27s work of salvation. Through exegetical analysis of key texts from Ephesians and Colossians, and by appropriating the concept of participatio from the Thomistic tradition and contemporary sacramental theology, this article offers a theological reconstitution of managerial practices that transcend the technocratic-instrumental approach. The implications of this paradigm are elaborated in the specific context of Indonesian Christian education, considering the challenges of contextualization and the need for theological-practical integration.
Abstrak
Artikel ini mengembangkan suatu kerangka teologis, untuk memahami manajemen pendidikan Kristiani melalui konsep oikonomia dalam teologi Paulus dan patristik. Dengan menganalisis hubungan intrinsik antara oikonomia theou (pengelolaan ilahi) dan mysterion (rencana keselamatan yang terungkap), artikel ini berargumen bahwa manajemen institusi pendidikan Kristiani harus dipahami sebagai participation, partisipasi ontologis dan praktis dalam karya penyelamatan Allah. Melalui analisis eksegesis terhadap teks-teks kunci Efesus dan Kolose, serta apropriasi konsep participatio dari tradisi Thomistik dan teologi sakramental kontemporer, artikel ini menawarkan rekonstitusi teologis atas praktik manajerial yang melampaui pendekatan teknokratis-instrumental. Implikasi paradigma ini dijabarkan dalam konteks spesifik pendidikan Kristiani Indonesia dengan mempertimbangkan tantangan kontekstualisasi dan kebutuhan akan integrasi teologis-praktis
Imago Dei sebagai kritik profetis terhadap diskriminasi: Rekonstruksi antropologi-teologis untuk keadilan dan harmoni dalam kebinekaan Indonesia
This article explores the potential of the imago Dei doctrine as a prophetic critique of various forms of discrimination that threaten social harmony in Indonesia\u27s multicultural society. This study employs a constructive-contextual theological approach to reconstruct a theological anthropology based on a relational interpretation of the image of God, thereby establishing an ethical foundation for a just and dignified communal existence. The findings of this study indicate that a relational and democratic understanding of imago Dei provides a strong theological resource for rejecting all forms of degradation of human dignity, while affirming respect for cultural diversity as a manifestation of divine creativity. This reconstruction has implications for the development of an inclusive social ethic grounded in mutual recognition and for strengthening local cultural values that support harmony in diversity.
Abstrak
Artikel ini mengeksplorasi potensi doktrin imago Dei sebagai kritik profetis terhadap berbagai bentuk diskriminasi yang mengancam harmoni sosial dalam masyarakat multikultural Indonesia. Melalui pendekatan teologi konstruktif-kontekstual, studi ini merekonstruksi antropologi-teologis yang berakar pada pemahaman relasional tentang gambar Allah untuk membangun fondasi etis bagi kehidupan bersama yang adil dan bermartabat. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman imago Dei secara relasional dan demokratis menyediakan sumber daya teologis yang kuat untuk menolak segala bentuk degradasi martabat manusia, sekaligus menegaskan penghargaan terhadap keberagaman budaya sebagai manifestasi kreativitas Ilahi. Rekonstruksi ini berimplikasi pada pengembangan etika sosial yang inklusif berbasis pengakuan timbal balik dan penguatan nilai-nilai budaya lokal yang mendukung harmoni dalam kebinekaan
Ekoteologi kontekstual: Sintesis tondi dalam Batak Toba dengan tubuh Allah menurut Sallie McFague berdasarkan pemikiran Stephen B. Bevans
Kerusakan hutan telah memberikan dampak yang beragam, dan memengaruhi kelangsungan hidup manusia. Manusia adalah salah satu pelaku dari kerusakan hutan tersebut. Artikel ini akan mengkaji ulang pemahaman Batak Toba tentang tondi dengan perspektif “Tubuh Allah” menurut Sallie McFague untuk memberikan tawaran teologis tentang sikap manusia terhadap dengan alam. Untuk menemukan tawaran tersebut, akan dilakukan dialog antara konsep tondi pandangan McFague tentang “Tubuh Allah” dengan menggunakan metode penelitian kualitatif secara khusus pendekatan model sintesis menurut Stephen B. Bevans. Tondi dalam pemahaman Batak Toba memiliki nilai teologis yang mendorong terciptanya relasi yang seimbang antara manusia dengan alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjumpaan manusia dengan alam adalah perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan tersebut mendorong terciptanya relasi yang seimbang dan berkelanjutan.