Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Teori modal budaya Pierre Bourdieu sebagai penguatan budaya pada anak dalam pendidikan keluarga Kristen
Family education plays a vital role in shaping children\u27s character and identity, including by strengthening a culture aligned with Christian values. Pierre Bourdieu\u27s theory of cultural capital offers a relevant perspective on how cultural heritage is transmitted within Christian families to shape children\u27s identities and moral values. This research aims to analyze the role of cultural capital in Christian family education as a means of strengthening children\u27s culture. The method used is a literature study. The results revealed that cultural capital, comprising habitus, symbolic capital, and social practices, shapes the mindsets, habits, and values adopted by children in daily life. In the context of Christian family education, cultural capital can be realized through the habituation of Christian values, the use of the language of faith in family communication, and children\u27s involvement in Christian religious and cultural practices. The recommendation of this study is that future research examine education in Christian families in a more comprehensive manner, drawing on Pierre Bourdieu\u27s theory of cultural capital.
Abstrak
Pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan identitas anak, termasuk dalam memperkuat budaya yang selaras dengan nilai-nilai Kristen. Teori modal budaya Pierre Bourdieu menawarkan perspektif yang relevan dalam memahami bagaimana warisan budaya ditransmisikan dalam keluarga Kristen guna membangun identitas dan nilai-nilai moral anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal budaya dalam pendidikan keluarga Kristen sebagai upaya penguatan budaya pada anak. Metode yang digunakan studi kepustakaan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa modal budaya yang meliputi habitus, kapital simbolik, dan praktik sosial berkontribusi dalam membentuk pola pikir, kebiasaan, serta nilai-nilai yang dianut oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan keluarga Kristen, modal budaya dapat diwujudkan melalui pembiasaan nilai-nilai kekristenan, penggunaan bahasa iman dalam komunikasi keluarga, serta keterlibatan anak dalam praktik keagamaan dan budaya Kristen. Rekomendasi penelitian ini agar penelitian berikutnya mengkaji secara aktual dan luas tentang Pendidikan dalam keluarga Kristen berbasis teori modal budaya Pierre Bourdieu
Kapasitas liminal: Kompetensi kepemimpinan Kristen dalam menavigasi ambiguitas dan transisi eklesiologis
Contemporary churches exist in a transitional phase marked by paradigmatic shifts, digital disruption, and institutional trust crises. This condition demands a reconstruction of Christian leadership models capable of functioning in transformative ways amid ambiguity. This article constructs the concept of "liminal capacity" as a leadership competency framework that integrates Victor Turner\u27s insights from ritual anthropology with biblical theology on wilderness experiences and eschatological existence. Through a qualitative approach employing a constructive-integrative literature review, this research identifies four dimensions of liminal capacity: the theological foundation of liminality, kenotic-apophatic spirituality, pastoral phronesis, and communal habitus formation. Findings demonstrate that liminal leadership is not merely an adaptive strategy but an authentic expression of Christian spirituality rooted in biblical traditions of God\u27s people being formed through threshold experiences.
Abstrak
Gereja kontemporer berada dalam fase transisional yang ditandai oleh pergeseran paradigmatik, disrupsi digital, dan krisis kepercayaan institusional. Kondisi ini menuntut rekonstruksi model kepemimpinan Kristen yang mampu berfungsi secara transformatif dalam situasi ambiguitas. Artikel ini mengonstruksi konsep "kapasitas liminal" sebagai ke-rangka kompetensi kepemimpinan yang mengintegrasikan wawasan antropologi ritual Victor Turner dengan teologi biblis tentang pengalaman padang gurun dan eksistensi eskatologis. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka konstruktif-integratif, penelitian ini mengidentifikasi empat dimensi kapasitas liminal: fondasi teologis liminalitas, spiritualitas kenotik-apofatik, phronesis pastoral, dan formasi habitus komunal. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan liminal bukan sekadar strategi adaptif, melainkan ekspresi autentik dari spiritualitas Kristen yang berakar pada tradisi biblis tentang pembentukan umat Allah melalui pengalaman ambang
Bersama bersaudara dalam kesatuan: Kerukunan sebagai kebajikan publik melalui pemaknaan paradigmatis-teologis Mazmur 133
This article constructs a Christian public theology of harmony (kerukunan) by employing Psalm 133 as a theological paradigm for understanding Indonesian cultural values within a biblical framework. While Indonesian rukun has been critiqued as promoting conflict avoidance that perpetuates structural injustices, this study argues for a theological reconstruction that retrieves its generative potential as a public virtue. Through historical-critical exegesis of Psalm 133, anthropological-theological analysis of the rukun concept, and comparative theological methodology placing both in critical correlation, this article demonstrates how the psalmist\u27s vision of unity (yachad) provides a biblical-theological foundation for kerukunan that transcends passive tolerance. The analysis reveals that authentic rukun, informed by the covenantal and eschatological dimensions of Psalm 133, functions as active peacebuilding that honors both unity and justice. This research contributes to contextual theology by demonstrating how indigenous cultural values, when critically appropriated through biblical hermeneutics, can enrich both local Christian witness and international theological discourse.
Abstrak
Artikel ini mengkonstruksi teologi publik Kristen tentang kerukunan dengan menggunakan Mazmur 133 sebagai paradigma teologis untuk memahami nilai budaya Indonesia dalam kerangka alkitabiah. Meskipun rukun Indonesia telah dikritik sebagai sikap menghindari konflik yang melanggengkan ketidakadilan struktural, penelitian ini berargumen untuk rekonstruksi teologis yang mengambil kembali potensi generatifnya sebagai kebajikan publik. Melalui eksegesis historis-kritis terhadap Mazmur 133, analisis antropologis-teologis terhadap konsep rukun, dan metodologi teologi komparatif yang menempatkan keduanya dalam korelasi kritis, artikel ini menunjukkan bagaimana visi kesatuan (yachad) sang pemazmur menyediakan fondasi biblis-teologis untuk kerukunan yang melampaui toleransi pasif. Analisis mengungkapkan bahwa rukun autentik, yang diinformasikan oleh dimensi perjanjian dan eskatologis Mazmur 133, berfungsi sebagai pembangunan perdamaian aktif yang menghormati kesatuan dan keadilan sekaligus. Artikel ini berkontribusi pada teologi kontekstual dengan mendemonstrasikan bagaimana nilai-nilai budaya indigenous, ketika diapropriasi secara kritis melalui hermeneutika biblika, dapat memperkaya kesaksian Kristen lokal dan diskursus teologis internasional
Imago Dei dalam budaya algoritma: Fondasi teologis untuk pendidikan karakter kristiani di era digital
This article examines the crisis of character formation in the digital age from a theological-pedagogical perspective, focusing on the fundamental tension between Imago Dei and algorithmic culture that shapes identity through digital technology. The phenomena of gawai addiction, gaming disorder, and attention fragmentation are not merely behavioral problems but reflect a deeper ontological crisis concerning human nature and purpose. Through a qualitative-conceptual approach using theological-philosophical methods, this article analyzes how algorithmic culture systematically deconstructs Christian understanding of humanity as Imago Dei. The article proposes that Christian Religious Education (CRE) must be reconstructed as counter-cultural pedagogy grounded in Imago Dei theology. CRE should not merely transfer religious knowledge but form character through holistic spiritual formation, integrating spiritual disciplines, authentic community (koinonia), and embodied practices as alternatives to digital liturgies. Practical implications include reorienting CRE curriculum from cognitive-informational to formational-transformational, developing pedagogy emphasizing contemplation and presence, and forming formational ecosystems involving church, school, and family.
Abstrak
Artikel ini mengkaji krisis formasi karakter di era digital dari perspektif teologis-pedagogis, dengan fokus pada ketegangan fundamental antara konsep Imago Dei dan budaya algoritma yang membentuk identitas melalui teknologi digital. Fenomena adiksi gawai, gaming disorder, dan fragmentasi perhatian bukan sekadar masalah perilaku, tetapi mencerminkan krisis ontologis yang lebih dalam tentang hakikat dan tujuan manusia. Melalui pendekatan kualitatif-konseptual dengan metode teologis-filosofis, artikel ini menganalisis bagaimana budaya algoritma secara sistematis mendekonstruksi pemahaman Kristen tentang manusia sebagai Imago Dei. Artikel ini mengusulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen (PAK) harus direkonstruksi sebagai pedagogi kontra-kultural yang berfondasi pada teologi Imago Dei. PAK tidak sekadar mentransfer pengetahuan religius, tetapi membentuk karakter melalui formasi spiritual yang holistik, mengintegrasikan disiplin rohani, komunitas autentik (koinonia), dan mewujudkan praktik sebagai alternatif terhadap liturgi digital. Implikasi praktis mencakup reorientasi kurikulum PAK dari kognitif-informasional ke formasional-transformasional, pengembangan pedagogi yang menekankan kontemplasi dan kehadiran, serta pembentukan ekosistem formasi yang melibatkan gereja, sekolah, dan keluarga
Teologi persahabatan sebagai fondasi pendidikan karakter kristiani: Studi eksploratif integrasi nilai-nilai kebhinekaan dalam kurikulum PAK di era postmodern
This research explores the theological foundation of friendship as a cornerstone for Christian character education within Indonesia\u27s multicultural context during the postmodern era. Through a qualitative exploratory methodology, this study examines how theological concepts of friendship can be integrated into Christian Religious Education (CRE) curricula to foster values of diversity. The research analyzes the intersection between Christian theological anthropology and Indonesian multicultural dynamics, proposing a paradigmatic shift from tolerance-based to friendship-based educational approaches. Findings indicate that theological friendship concepts, rooted in Trinitarian relationality and biblical narratives, provide robust frameworks for developing inclusive character education that maintains Christian theological integrity while embracing cultural diversity. The study contributes to PAK pedagogical development by offering theoretical foundations and practical implementations for multicultural character education in contemporary Indonesian educational contexts.
Abstrak
Penelitian ini mengeksplorasi fondasi teologis persahabatan sebagai landasan pendidikan karakter Kristiani dalam konteks multikultural Indonesia di era postmodern. Melalui metodologi kualitatif eksploratif, studi ini mengkaji bagaimana konsep teologis persahabatan dapat diintegrasikan dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk menumbuhkan nilai-nilai kebhinekaan. Penelitian menganalisis titik temu antara antropologi teologis Kristen dan dinamika multikultural Indonesia, mengusulkan pergeseran paradigma dari pendekatan berbasis toleransi menuju persahabatan. Temuan menunjukkan bahwa konsep persahabatan teologis yang berakar pada relasionalitas Trinitarian dan narasi biblis memberikan kerangka kerja yang kokoh untuk mengembangkan pendidikan karakter inklusif yang mempertahankan integritas teologis Kristen sambil merangkul keberagaman budaya. Studi berkontribusi pada pengembangan pedagogis PAK dengan menawarkan fondasi teoretis dan implementasi praktis pendidikan karakter multikultural dalam konteks pendidikan Indonesia kontemporer
Pengajaran sebagai misi: Sebuah pembacaan naratif misi Paulus di Kisah Para Rasul
The era of digital disruption has created substantial challenges for the integrity of Christian teaching, with the proliferation of divergent doctrines spread through social media platforms. This research analyzes teaching patterns in Paul\u27s mission as represented in the Acts narrative to identify missiological models applicable to contemporary challenges. Using narrative analysis methodology, this study identifies three essential dimensions in Paul\u27s teaching strategy: a progressive pattern of spatial movement from synagogues to public spaces to private settings; adaptive yet uncompromising contextualization of teaching for Jewish, Greek, and Roman audiences; and, the role of teaching as a catalyst for transformative community formation. The results show that Paul\u27s missional success lay in integrating teaching with communal formation and cultural contextualization. This model offers a paradigm for contemporary churches facing digital disruption challenges, demonstrating the importance of comprehensive, contextual, and communal teaching for maintaining doctrinal integrity in the post-truth era..
Abstrak
Era disrupsi digital telah menciptakan tantangan substansif bagi integritas pengajaran Kristen, dengan proliferasi doktrin menyimpang yang disebarkan melalui platform media sosial. Penelitian ini menganalisis pola pengajaran dalam misi Paulus sebagaimana direpresentasikan dalam narasi Kisah Para Rasul untuk mengidentifikasi model misiologis yang dapat diaplikasikan dalam menghadapi tantangan kontemporer. Dengan menggunakan metode analisis naratif, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi penting dalam strategi pengajaran Paulus: pola progresif pergerakan spasial dari sinagoga ke ruang publik ke lingkungan privat; kontekstualisasi pengajaran yang adaptatif namun tidak kompromi untuk audiens Yahudi, Yunani, dan Romawi; dan, peran pengajaran sebagai katalis pembentukan komunitas transformatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan misi Paulus terletak pada integrasi pengajaran dengan formasi komunal dan kontekstualisasi kultural. Model ini menawarkan paradigma untuk gereja kontemporer yang menghadapi tantangan disrupsi digital, menunjukkan pentingnya pengajaran yang komprehensif, kontekstual, dan komunal untuk mempertahankan integritas doktrinal di era post-truth
Dari burnout ke burning bright: Self-care sebagai spirit kepemimpinan Kristen di era posdigital
This study reexamines the urgency of integrating self-care as a foundational framework in Christian leadership within the postdigital era, where the boundaries between physical and digital spaces have become increasingly blurred, and ministry expectations are intensifying. The pressures of multitasking, constant connectivity, and the erosion of contemplative space have contributed to burnout that is not merely psychological, but structural and theological. Employing a grounded constructivist approach, this research develops a renewed theological understanding of self-care, not merely as stress management, but as a spiritual discipline that acknowledges human vulnerability as a locus of divine activity. The study formulates five pillars of a healthy leadership model to address contemporary challenges in ministry. It argues that churches will continue to reproduce fragile, exploitative, and unsustainable leadership unless there is a paradigmatic shift in leadership and a reconfiguration of structural support systems. Thus, self-care must be reclaimed as a prophetic praxis that disrupts dysfunctional ministry systems and paves the way for a resilient leadership model, rooted in grace and capable of burning bright amid an era craving authentic spiritual presence.
Abstrak
Penelitian ini mengeksplorasi kembali urgensi integrasi self-care sebagai kerangka fundamental dalam kepemimpinan Kristen di era posdigital, di mana batas antara ruang fisik dan digital semakin kabur, dan ekspektasi pelayanan mengalami intensifikasi. Tekanan multitugas, ekspektasi keterhubungan konstan, dan absennya ruang kontemplatif menyebabkan munculnya gejala burnout yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga struktural dan teologis. Dengan menggunakan pendekatan grounded constructivist, studi ini mengembangkan pemahaman baru tentang self-care sebagai tindakan teologis yang melampaui sekadar pengelolaan stres, melainkan sebagai disiplin spiritual yang mengakui kerapuhan manusia sebagai ruang kerja ilahi. Lima pilar model kepemimpinan sehat diformulasikan untuk menjawab tantangan kontemporer dalam pelayanan. Penelitian ini menegaskan bahwa tanpa reposisi paradigma pelayanan dan reformulasi sistem pendukung yang memadai, gereja akan terus memproduksi kepemimpinan yang rapuh, eksploitatif, dan rentan gagal. Oleh karena itu, self-care harus dilihat sebagai praksis kenabian yang membongkar struktur pelayanan disfungsional dan membuka jalan bagi model kepemimpinan yang tahan krisis, berakar pada kasih karunia, dan mampu menyala di tengah era yang haus kehadiran autentik
Relasi persahabatan dalam kepemimpinan kristiani: Sebuah tawaran spiritualitas persahabatan dalam kepemimpinan kristiani melalui pembacaan Yohanes 15:15
This article examines the paradigm of friendship relations in Christian leadership based on a reading of John 15:15. Conventional Christian leadership is often identified with the servant leadership model inherited from Robert Greenleaf. Still, this hierarchical approach may limit transformative potential within Christian communities. Through interpretative and theological analysis of the concept of friendship expressed by Jesus in John 15:15, this research aims to develop a spirituality of friendship as an alternative leadership model. This study employs a qualitative approach with textual analysis and hermeneutical methods to explore the theological meaning of friendship in leadership. The findings indicate that friendship-based leadership models offer more egalitarian, participatory, and transformative relationships than top-down or servant leadership models, which still contain hierarchical elements. The spirituality of friendship in Christian leadership offers equality, openness, and collaboration that can empower the entire church community to grow together in love and service.
Abstrak
Artikel ini mengkaji paradigma relasi persahabatan dalam kepemimpinan kristiani berdasarkan pembacaan Yohanes 15:15. Kepemimpinan kristiani konvensional sering diidentikkan dengan model servant leadership yang diwariskan oleh Robert Greenleaf, namun pendekatan yang terlalu hierarkis ini dapat membatasi potensi transformatif dalam komunitas Kristiani. Melalui analisis interpretatif dan teologis terhadap konsep persahabatan yang diungkapkan Yesus dalam Yohanes 15:15, penelitian ini bertujuan mengembangkan spiritualitas persahabatan sebagai model kepemimpinan alternatif. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan hermeneutika untuk mengeksplorasi makna teologis persahabatan dalam kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kepemimpinan berbasis persahabatan menawarkan relasi yang lebih egaliter, partisipatif, dan transformatif dibandingkan dengan model kepemimpinan top-down atau servant leadership yang masih mengandung unsur hierarkis. Spiritualitas persahabatan dalam kepemimpinan kristiani menawarkan kesetaraan, keterbukaan, dan kolaborasi yang dapat memberdayakan seluruh komunitas gereja untuk bertumbuh bersama dalam kasih dan pelayanan
Sengsara Yesus: Analisis melalui lensa Injil dan Thucydidean tentang konflik dan pengorbanan
The Passion of Jesus reveals how power uses sacrifice to maintain stability. The suffering of Jesus is not only a theological aspect but also a consequence of the calculation of power that oppresses those who are considered a threat. Similar patterns occur in various incidents of political violence in Indonesia, such as the 1965 Tragedy and sectarian conflicts in Ambon and Poso, where certain groups are sacrificed for political interests. The church, which should be a prophetic voice, in some cases, is in league with the oppressive system. This study aims to analyze the passion of Jesus through the perspective of the Gospel and the thoughts of Thucydides to understand how sacrifice is politicized by power. This study employs critical discourse analysis and historical hermeneutics to examine the relationship between power, suffering, and political strategies in shaping the narrative of sacrifice. The study results indicate that Jesus\u27 passion symbolizes the atonement of sin and critiques the oppressive power structure. The church is called to refuse to be a tool of power and is committed to fighting for justice for those who are oppressed.
Abstrak
Sengsara Yesus mengungkap bagaimana kekuasaan menggunakan pengorbanan sebagai alat untuk mempertahankan stabilitas. Penderitaan Yesus bukan hanya aspek teologis, tetapi juga konsekuensi dari kalkulasi kekuasaan yang menindas mereka yang dianggap sebagai ancaman. Pola serupa terjadi dalam berbagai peristiwa kekerasan politik di Indonesia, seperti Tragedi 1965 dan konflik sektarian di Ambon dan Poso, di mana kelompok tertentu dikorbankan demi kepentingan politik. Gereja, yang seharusnya menjadi suara kenabian, dalam beberapa kasus justru bersekutu dengan sistem yang menindas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sengsara Yesus melalui perspektif Injil dan pemikiran Thucydides guna memahami bagaimana pengorbanan dipolitisasi oleh kekuasaan. Menggunakan metode analisis wacana kritis dan hermeneutika historis, penelitian ini mengkaji keterkaitan antara kekuasaan, penderitaan, dan strategi politik dalam membentuk narasi pengorbanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengsara Yesus tidak hanya berbicara tentang penebusan dosa, tetapi juga merupakan kritik terhadap struktur kekuasaan yang menindas. Gereja dipanggil untuk menolak menjadi alat kekuasaan dan berkomitmen memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tertindas
Teologi kerukunan dalam praktik homiletika: Konstruksi model khotbah profetik-dialogis untuk masyarakat multikultural
This study examines the development of a prophetic-dialogical preaching model as a means of fostering interfaith harmony in multicultural societies. Through qualitative research employing hermeneutical and phenomenological approaches, this article analyzes the theological foundations of harmony and their implementation in homiletical practices. The findings reveal that prophetic-dialogical preaching integrates three essential dimensions: theological depth rooted in biblical narratives, prophetic courage in addressing social justice, and dialogical openness toward religious plurality. This model transforms traditional homiletics from monological proclamation into participatory communication that acknowledges the presence of the religious other. The study contributes to contemporary homiletical discourse by offering a contextual framework that balances evangelical identity with inclusive social engagement, particularly relevant for Indonesian multicultural contexts.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji konstruksi model khotbah profetik-dialogis sebagai instrumen pembangunan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat multikultural. Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutis dan fenomenologis, artikel ini menganalisis fondasi teologis kerukunan dan implementasinya dalam praktik homiletika. Temuan menunjukkan bahwa khotbah profetik-dialogis mengintegrasikan tiga dimensi esensial: kedalaman teologis yang berakar pada narasi biblika, keberanian profetik dalam menyuarakan keadilan sosial, dan keterbukaan dialogis terhadap pluralitas agama. Model ini mentransformasi homiletika tradisional dari proklamasi monologis menjadi komunikasi partisipatif yang mengakui kehadiran liyan religius. Studi ini berkontribusi pada diskursus homiletika kontemporer dengan menawarkan kerangka kontekstual yang menyeimbangkan identitas evangelikal dengan keterlibatan sosial inklusif, khususnya relevan untuk konteks multikultural Indonesia