Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Dialog lintas kelompok dalam membangun harmoni kehidupan sebagai tindakan misi: Memaknai ulang narasi Yohanes 4:1-42
The church is in a world that is experiencing various upheavals, including conflicts between groups, both groups based on religion, ethnicity, or class. As part of a social group, the church plays a role in developing dialogue which can have an impact on creating a harmonious life. This study aims to show that developing dialogue which has implications for the harmonization of life is part of Christian mission activities, which makes repentance possible. Through a qualitative approach to literature, using an interpretive descriptive analogy method on the narrative of John 4:1-42, it is concluded, the encounter of Jesus and the Samaritan woman is an analogy of a cross-group dialogic encounter in creating a harmonious life, as an act of Christian mission. AbstrakGereja berada dalam dunia yang sedang mengalami berbagai gejolak, di antaranya konflik antarkelompok, baik kelompok dengan basis agama, suku, atau golongan. Sebagai bagian dari kelompok sosial, gereja berperan untuk mengembangkan dialog yang dapat memberikan dampak pada terciptanya kehidupan yang harmonis. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan, bahwa mengembangkan dialog yang berimplikasi pada harmonisasi kehidupan merupakan bagian dari kegiatan misi Kristen, yang memungkinkan terjadinya pertobatan. Melalui pendekatan kualitatif literatur, dengan menggunakan metode analogi deskriptiif interpretatif atas narasi Yohanes 4:1-42, maka disimpulkan, perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria merupakan analogi dari perjumpaan dialogis lintas kelompok dalam menciptakan kehidupan yang harmonis, sebagai tindakan misi Kristen
Etnisitas, teologi, dan musik dalam nyanyian gereja: sketsa awal studi etnoteomusikologi nyanyian Gereja Protestan Maluku
Church music is an essential part of Christian worship. The primary source to create Church music is commonly from the Bible, Christian tradition, and believers\u27 experience. Yet, in the church music of the Protestant Church in the Moluccas (GPM), there is harmony between some elements such as ethnicity, theology, and music. In ethnicity, there is some local cultural tradition derived from the old local religion, which Christianity contextualizes. Using a descriptive qualitative research method, the harmony of all elements, ethnicity, theology, and music result in a new perspective, namely ethno-theo-musicology, to analyze and understand the church music existence. This research found that the Protestant Church member in the Moluccas appreciates all church music substances, which led them not only to praise God but also to experience God in their cultural experience in Maluku.
Abstrak
Musik gereja merupakan salah satu unsur penting dalam peribadahan Kristen. Musik gereja umumnya diciptakan bersumber dari kesaksian Alkitab, tradisi atau ajaran gereja tertentu, dan pengalaman iman orang percaya. Namun, dalam nyanyian Gereja Protestan Maluku (GPM), musik gereja bersumber dari harmonisasi unsur budaya lokal, teologi, dan musik. Dalam unsur budaya lokal juga ditemukan proses kontekstualisasi narasi-narasi mistik dari kepercayaan asli masyarakat sebelum menjadi Kristen. Dengan penelitian deskriptif kualitatif, artikel ini menjelaskan adanya perpaduan unsur etnisitas, teologis, dan musik yang kemudian menghasilkan suatu pendekatan etnoteomusikologis dalam mengartikan suatu nyanyian gereja. Penelitian ini menemukan bahwa Warga Gereja Protestan Maluku sebagai pemilik dari Nyanyian GPM, sangat mengapresiasi pendekatan etnotheomusikologis sebab dirasakan bahwa musik gereja selain memuliakan Allah juga mengantarkan mereka mengalami kehadiran Allah di dalam pengalaman-pengalaman budaya yang mereka milik
Ibadah dan keadilan sosial: Interpretasi sosio-historis Amos 8:4-8 bagi hidup bergereja
This paper is an attempt to explore the deepest message of Amos 8:4-8 with the socio-historical interpretation approach. Progress and prosperity that occurred in northern Israel in the 8th century BC gave birth to religious euphoria. The euphoria can be seen from the crowded places of worship visited by people to offer praise and sacrifice. But unfortunately, religious life has no impact at all on their social life, greed and oppression occur here and there. This is the background to the criticism of the prophet found in Amos 8: 4-8. The socio-historical interpretation approach used in this study is a tool to explore the meaning of the text by investigating the social context of the community when the text was written. The results of the interpretation explain that the middle and upper classes form an economic system that harms the lower classes, namely small farmers and urbanites. Worship is useless if it does not give rise to social care for others.
Abstrak
Tulisan ini adalah suatu upaya menggali pesan terdalam teks Amos 8:4-8. Kemajuan dan kemakmuran yang terjadi di Israel Utara pada abad 8 sM melahirkan euforia keagamaan. Euforia itu tampak dengan ramainya tempat-tempat peribadatan yang dikunjungi umat untuk menyampaikan pujian dan korban. Tetapi sayangnya kehidupan beragama tersebut tidak berdampak sama sekali bagi kehidupan sosial mereka, ketamakan serta penindasan terjadi di sana-sini. Hal inilah yang menjadi latar belakang kecaman nabi yang terdapat pada Amos 8:4-8. Interpretasi sosio-historis yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat untuk menggali makna teks dengan menyelidiki konteks sosial masyarakat saat teks dituliskan. Hasil penafsiran menjelaskan bahwa kalangan menengah dan atas membentuk sistem perekonomian yang merugikan kalangan bawah yaitu petani kecil dan kaum urban. Ibadah menjadi sia-sia belaka bila tidak melahirkan sikap kepedulian sosial terhadap sesamanya
On be...ing political: Empat model identitas ramah-gereja di bawah bayang-bayang kanopi suci kebangsaan
This article discusses the idea of a hospitable church that struggles under the sacred canopy of the state, especially in the Indonesian context. By using Stanley Hauerwas??" social ethics and ecclesiology that views the church as an exemplary community, this article proposes an ecclesial model that maintains the tension of being true to its nature on the one hand and being political on the other hand. Such a model is demonstrated through its four dimensions: beholding, becoming, belonging, and befriending. The paper ends with a conclusion, in which the author reflects on the four dimensions by using the perspective of the four classical marks of the church (notae ecclesiae). AbstrakArtikel ini membahas gagasan mengenai gereja dengan identitas-ramah yang berjuang di bawah kanopi suci negara, khususnya dalam konteks Indonesia. Dengan menggunakan etika sosial dan eklesiologi Stanley Hauerwas, yang memandang gereja sebagai komunitas eksemplaris, artikel ini mengusul-kan model gerejawi yang mempertahankan ketegangan antara menjadi setia pada hakikatnya di satu sisi dan menjadi politis di sisi lain. Model semacam itu ditunjukkan melalui empat dimensinya: beholding, becoming, belonging, dan befriending. Makalah diakhiri dengan kesimpulan yang di dalamnya penulis merefleksikan empat dimensi di atas dengan menggunakan perspektif empat tanda klasik gereja (notae ecclesiae)
Peduli kemanusiaan dan keutuhan ciptaan: Melacak pesan penatalayanan ciptaan di era pandemi
The Covid-19 pandemic has hit the world and become a global problem today. Various theological responses are also present to interpret suffering, worship to pastoral care. However, this pandemic cannot be separated from the problem of the relationship between humans and other creations of God. Humanitarian issues and environmental problems are interrelated. So, there needs to be a theological reflection related to the integrity of creation in the midst of a pandemic. The author uses the term stewardship of creation to describe the relationship between humans and other creations of God. This article uses a descriptive-analytic research method with a qualitative approach. The author found that important themes in the Bible can encourage human involvement in the stewardship of creation even though there are certainly various challenges that will be faced. AbstrakPandemi Covid-19 telah melanda dunia dan menjadi persoalan glo-bal saat ini. Berbagai respons teologispun hadir untuk memaknai mengenai penderitaan, peribadahan hingga pelayanan pastoral. Namun, pandemi ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan relasi antara manusia dan ciptaan Allah lainnya. Persoalan kemanusiaan dan persoalan lingkungan saling berkelindan, sehingga, perlu ada refleksi teologis yang berkaitan dengan keutuhan ciptaan di tengah pandemi. Kajian ini menggunakan istilah penatalayanan ciptaan untuk menggambarkan relasi manusia dengan ciptaan Allah lainnya. artikel ini menggunakan metode penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan kualitatif. Apa yang ditemukan adalah, bahwa tema-tema penting dalam Alkitab bisa ditarik untuk mendorong keterlibatan manusia dalam penatalayanan cip-taan sekalipun tentu ada berbagai tantangan yang akan dihadapi
Kerukunan sosial internal dalam jemaat: Refleksi teologis 1 Korintus 1:10-13
Harmony in society is an important thing that needs to be realized as an effort to suppress conflict with the nuances of SARA (ethnicity, religion, race, inter-group). The church needs to have sensitivity in contributing to realizing this harmony. Starting from the internal harmony of Christians, this harmony extends to social harmony. This article seeks to answer how Christians realize social harmony with regard to Paul\u27s message on 1 Corinthians 1:10-13. This research was conducted with a qualitative literature approach, using an interpretive descriptive method on the text of 1 Corinthians 1: 10-13. The conclusion of this paper is that Christians need to participate in building social harmony starting from the internal harmony of the congregation, which is done in three ways: speaking the same things, which means having agreement; being closely united, which means being bound together; and having one mind, which means having similarities in thinking and considering. AbstrakKerukunan dalam bermasyarakat merupakan hal penting yang perlu diwujudkan sebagai upaya untuk menekan konflik dengan nuansa SARA. Gereja perlu memiliki sensitivitas dalam turut mewujudkan kerukunan tersebut. Diawali dari kerukunan intern umat Kristen, kerukunan ini meluas kepada kerukunan sosial. Artikel ini berusaha menjawab bagaimana orang Kristen mewujudkan kerukunan sosial berkenaan dengan pesan Paulus melalui 1 Korintus 1:10-13. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif literatur, menggunakan metode deskriptif interpretatif atas teks 1 Korintus 1:10-13. Kesimpulan dari tulisan ini adalah, orang Kristen perlu turut membangun kerukunan sosial, yang dimulai dari kerukunan internal jemaat, dengan menerapkan tiga hal, yaitu: seia sekata, yang berarti memiliki kesepakatan; erat bersatu, yang berarti terikat bersama; dan sehati sepikir, yang berarti memiliki kesamaan dalam berpikir dan mempertimbangkan
Implementasi pendidikan agama Kristen yang relevan dalam masyarakat majemuk sebagai dimensi misi gereja
The reality of pluralism in the context of Indonesia on the one hand, is a challenge towards the implementation of Christian Religious Education. However, on the other hand, Christian Religious Education is becoming very essential for Christians to demonstrate the love of God in the midst of society. Christians are always in touch with adherents of other religions, even that kind of relationship feels so strong in various areas of life. This problem triggers how the idea of implementing Christian Education is relevant in the pluralistic context in Indonesia. This study was analyzed using qualitative research methods through library research techniques. Findings showed that, in the pluralistic context, the implementation of Christian Religious Education in Indonesia as an integral part of the mission can be carried out through three aspects, namely: revitalizing the thinking paradigm about pluralism; interpreting the implementation strategy of Christian Religious Education in a pluralistic society and mainstreaming and building the vision and mission of multicultural based Christian Religious Education. AbstrakRealitas kemajemukan dalam konteks Indonesia di satu sisi merupakan tanatangan terhadap pelaksanaan pendidikan agama Kristen, namun di sisi lain Pendidikan agama Kristen menjadi amat penting bagi orang Kristen untuk mendemonstrasikan kasih Allah di tengah-tengah masyarakat. Orang orang Kristen selalu bersentuhan dengan penganut agama lain, bahkan sentuhan itu terasa amat kuat dalam berbagai bidang kehidupan. Permasalahan ini memicu bagaimana gagasan pelaksanaan Pendidikan Kristen yang relevan dalam konteks majemuk di Indonesia. Kajian ini ditelaah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui teknik pustaka. Hasil temuan menunjukkan bahwa dalam konteks majemuk penyelenggaraan Pendidikan agama Kristen di Indonesia sebagai bagian integral misi dapat dilakukan melalui tiga aspek yaitu: merevitalisasi paradigma berpikir tentang kemajemukan; mereinterpretasi strategi pelaksanaan Pendidikan agama Kristen dalam masyarakat yang majemuk; serta mengarusutamakan dan membangun visi dan misi pendidikan agama Kristen berbasis multikultura
Refleksi konseptual misi Yesus melalui keramahan gereja di Indonesia
Jesus, reflecting on the context of the mission in the Gospels, often touches on various dimensions, both physical, emotional, intellectual, social, and spiritual for each person and his environment. Many Gospel narratives show the face of friendliness as well as the social responsibility of Jesus in public spaces. Jesus didn\u27t just stop at the gracious nature of God in His mission of ministry but also inspired his listeners to bring out the same kind of hospitality that Jesus did. This needs to reflect the portrait of church life in Indonesian society, which in general tends to focus on religious formalism. This paper aims to explore the concept of Jesus\u27 mission and to realize it practically in the context of Indonesian society today. The method used is descriptive analysis and a hermeneutic approach to the narratives in the Gospels. This study seeks to offer a contextual concept and model of Jesus\u27 ministry to the community served not only as an object of God\u27s hospitality but also as a subject who actively participates in presenting hospitality in public spaces. In conclusion, the mission that Jesus intended to be carried forward by the church was God\u27s mission which Jesus himself had accomplished during his earthly ministry, namely manifesting God\u27s hospitality for humans through the preaching of the gospel and social care.AbstrakYesus, dalam konteks misi di Injil, kerap menyentuh berbagai dimensi, baik secara fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual, setiap orang dengan lingkungannya. Narasi Injil banyak menunjukkan wajah keramahan sekaligus tanggung jawab sosial Yesus di ruang publik. Yesus tidak hanya berhenti pada sifat keramahan Allah dalam misi pelayanan-Nya, namun juga menginspirasi para pendengarnya untuk menghadirkan keramahan yang sama, seperti yang Yesus lakukan. Hal ini perlu menjadi refleksi potret kehidupan bergereja pada masyarakat Indonesia, yang umumnya cenderung terfokus kepada formalisme agawami. Artikel ini bertujuan untuk menggali konsep misi Yesus serta merealisasikan secara praktis dalam konteks masyarakat Indonesia di masa ini. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif serta pendekatan yang hermeneutis pada narasi kitab-kitab Injil. Penelitian ini berupaya menawarkan konsep dan model pelayanan Yesus yang kontekstual kepada komunitas yang dilayani, bukan hanya sebagai objek keramahan Allah, namun sekaligus sebagai subjek yang aktif berpartisipasi menghadirkan keramahan pada ruang publik. Kesimpulannya, jelas terlihat bahwa misi yang dimaksudkan Yesus untuk diteruskan oleh gereja adalah misi Allah yang telah dikerjakan Yesus sendiri selama pelayanan-Nya di dunia, yaitu memanifestasikan keramahan Allah bagi manusia melalui pemberitaan Injil dan kepedulian sosial
Fungsi moral pendidikan kristiani membangun resiliensi homo digitalis
The digital revolution has ushered global society into the era of Society 5.0, with all its positive and negative consequences. This revolution has also brought forth homo digitalis as the controller, who simultaneously has the potential to manage the digital space better. This article uses recommendations from the research of Budi Hardiman and Wiwin Hendriani to offer a construction of Christian education that functions to moralize homo digitalis in building digital resilience. Using a constructive descriptive analysis method, it is shown that the essence of Christian education can function morally. The conclusion is that the internalization of Christian education values provides moral strength that shapes the resilience of Christian homo digitalis. This is very important because, in this way, Christian homo digitalis can manage the digital space more morally, thereby minimizing the negative consequences of this digital era. AbstrakRevolusi digital telah mengantar masyarakat dunia memasuki era society 5.0, dengan segala konsekuensinya, baik positif dan negatif. Revolusi ini pun telah menghadirkan para homo digitalis sebagai pemegang kendali yang sekaligus berpotensi untuk menata ruang digital secara lebih baik. Artikel ini menggunakan rekomendasi dari hasil penelitian Budi Hardiman dan Wiwin Hendriani untuk menawarkan sebuah konstruksi pendidikan kristiani yang berfungsi memoralisasi homo digitalis dalam membentuk resiliensi digital. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif konstruktif diperlihatkan bahwa hakikat pendidikan kristiani dapat berfungsi secara moral. Kesimpulan-nya, internalisasi nilai pendidikan kristiani memberikan kekuatan moral yang membentuk resiliensi para homo digitalis kristiani. Hal ini sangat penting, karena dengan demikian homo digitalis kristiani dapat menata ruang digital lebih bermoral, sehingga meminimalisir konsekuensi negatif dari era digital ini
Penderitaan tidak kasat mata di tengah pandemi: analisis naratif Hakim-hakim 19:1-30 dalam perspektif feminis
Statistics show an increase in violence against women during a pandemic. Violence experienced by women is invisible and silent suffering that can be heard on humanitarian issues during a pandemic. This article intends to contribute to theological thinking as well as advocacy for women suffering during the pandemic. This theological thinking is built through a narrative analysis of Judges 19: 1-30 using a feminist perspective narrative analysis. This analysis aims to critically review the text of violence from a pro-women perspective. It is hoped that this analysis will be useful in enriching the treasures of theological thought related to the narrative of Judges 19: 1-30 and emphasizing the importance of discussing gender-based violence in theological thinking and ecclesiastical ministry. In the end, violence against women in Judges 19: 1-30 cannot be separated from the phenomenon of moral degradation among the Israelites. So contextually, the existence of gender-based violence, especially against women, can be seen as a moral crisis that must be seriously confronted during a pandemic.
Abstrak
Statistik menunjukkan adanya peningkatan kekerasan terhadap perempuan pada masa pandemi. Kekerasan yang dialami perempuan adalah penderitaan yang tidak kasat mata dan sunyi terdengar pada isu kemanusiaan di masa pandemi. Artikel ini hendak memberi kontribusi pemikiran teologis sekaligus advokasi terhadap perempuan yang menderita di masa pandemi. Pemikiran teologis ini dibangun melalui analisis narasi Hakim-hakim 19:1-30 dengan menggunakan analisis naratif berperspektif feminis. Analisis ini bertujuan untuk meninjau dengan kritis teks kekerasan dengan perspektif yang berpihak pada perempuan. Analisis ini diharapkan bermanfaat memperkaya khazanah pemikiran teologis terkait narasi Hakim-hakim 19:1-30 dan memberi penekanan bagi pentingnya pembahasan mengenai kekerasan berbasis gender dalam pemikiran teologis serta pelayanan gerejawi. Pada akhirnya, kekerasan terhadap perempuan dalam Hakim-hakim 19:1-30 tidak dapat dilepaskan dari fenomena degradasi moralitas di antara bangsa Israel. Sehingga secara kontekstual, eksisnya kekerasan berbasis gender, khususnya kepada perempuan, dapat dilihat sebagai krisis moralitas yang harus dikonfrontasi dengan serius pada masa pandemi