Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
    387 research outputs found

    Spiritualitas egalitarian dalam pendidikan kristiani

    Get PDF
    Christian education must demonstrate an egalitarian educational practice, which means treating the education process equally without discriminating against social, economic, or religious backgrounds. This research is a reflective study on various issues of Christian education that have been developed, such as education of hospitality and inclusion or those based on multiculturalism and religious moderation. Following academic discussions to find an ideal picture of Christian education, this research aims to demonstrate an egalitarian spirituality that can serve as a basis for Christian educational practices in church, home, and school. Using a qualitative approach to literature data, this research uses a descriptive method to map the needs of Christian education in this era. In conclusion, Christian education should be able to reflect God\u27s egalitarian work by providing participation opportunities for all learners to express themselves in God\u27s grace.  AbstrakPendidikan kristiani harus mampu memperlihatkan sebuah prak-tik pendidikan yang egaliter, artinya memperlakukan proses pendidikan secara setara tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, hingga agama. Penelitian ini adalah sebuah kajian reflektif terhadap berbagai isu pendidikan kristiani yang telah dikembangkan terlebih dahulu, seperti pendidikan hospitalitas dan inklusi, atau yang berbasis pada multikulturan dan moderasi beragama. Mengikuti diskusi akademik untuk menemukan sebuah potret pendidikan kristiani yang ideal, maka penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan spiritualitas egalitarian yang dapat menjadi basis pada praktik pendidikan kristiani, baik di gereja, rumah, dan sekolah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif pada data literatur, penelitian ini menggunakan metode deksriptif untuk memetakan kebutuhan pendidikan kristiani di era ini. Kesimpulannya, pendidikan kristiani harus dapat mencerminkan karya Allah yang egaliter dengan memberikan ruang partisipasi bagi semua peserta didik dalam mengekspresikan dirinya dalam anugerah Allah

    Analisis teologis dan historis pemahaman tohonan sebagai jabatan dan ordinasi di Huria Kristen Batak Protestan

    Get PDF
    The Protestant Batak Christian Huria\u27s understanding of the theology of office has received particular attention since the 2002 Church Order and Administration which was made after the Godang Reconciliation Synod. Church office, translated with the word tohonan are wrongly translated as tahbisan or ordination. The inconsistency influences direct or indirect the conclusion that the pastor??"s ordination, one of the offices in HKBP, represents Christ??"s office. By conducting a theological and historical analysis of HKBP??"s church office and ordination, this research will prove that the HKBP\u27s understanding of tohonan is inconsistent. The inconsistency of understanding church offices is influenced by contextual needs that made the church add ecclesiastical offices during the development of the church, mistranslations, and incorrect theological understandings of offices and ordination. To restore the spirit of the royal priesthood that was echoed by the reformer Martin Luther, HKBP must revisit its understanding of the tohonan (office) and the relationship between officeholders.AbstrakPemahaman Huria Kristen Batak Protestan mengenai teologi jabatan mendapat perhatian khusus sejak Tata Gereja dan Tata Laksana 2002 yang dibuat setelah Sinode Godang Rekonsiliasi. Jabatan gereja yang diterjemahkan dengan kata tohonan ternyata diterjemahkan secara inkonsisten sebagai tahbisan atau ordinasi. Perubahan tersebut juga secara tidak langsung mendorong kesimpulan bahwa tohonan pendeta, sebagai salah satu jabatan di HKBP, mencakup semua tohonan Kristus. Melalui penelitian kepustakaan dan analisis historis dan teologis, penelitian menelusuri terminologi mengenai tohonan sebagai jabatan gereja dan ordinasi. Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman HKBP mengenai hierarki jabatan disertai oleh pemahaman tohonan tidak konsisten antara jabatan gereja dan ordinasi. Inkonsistensi pemahaman tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan kontekstual pelayanan dari masa ke masa yang membuat gereja menambah jabatan gerejawi dengan fungsi khusus. Penambahan jabatan gereja, yang juga diberikan dengan ordinasi. Selain faktor utama tersebut, ada juga kesalahan penerjemahan serta pemahaman teologi yang tidak tepat mengenai jabatan dan ordinasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa HKBP perlu mengembalikan semangat reformasi imamat am yang rajani yang kembali didengungkan oleh Martin Luther

    Ucapan Yesus tentang "Berbahagialah" dalam Matius 5:1-12 sebagai spirit moderasi beragama

    Get PDF
    Religious moderation is still being discussed in order to present ideas or ideas that are able to build a common life in diversity in Indonesia. This article aims to offer the teachings of Jesus which are summarized in the ??Sblessed? sayings in Matthew 5:1-12 as a component in building religious moderation in a Christian context. This study uses a descriptive method with a literature approach to interpreting the reading of the text of Matthew 5:1-12 in a moderation frame. As a result, some of the Christian characteristics mentioned in the text can be taught as components of building religious moderation in a Christian context. In conclusion, the church can teach the material for Jesus\u27 sermon on the hill, about "blessed" sayings to build a spirit of religious moderation among Christians. AbstrakModerasi beragama masih terus diperbincangkan demi menghadirkan ide atau gagasan yang mampu membangun kehidupan bersama dalam keberagaman di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan ajaran Yesus yang dirangkai dalam ucapan-ucapan ??Sberbahagialah? di Matius 5:1-12 sebagai komponen dalam membangun moderasi beragama dalam konteks Kristen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan literatur untuk memaknai pembacaan teks Matius 5:1-12 dalam bingkai moderasi. Hasilnya, beberapa karakteristik kristiani yang disebutkan dalam teks tersebut dapat diajarkan sebagai komponen bangunan moderasi beragama dalam konteks Kristen. Kesimpulannya, gereja dapat mengajarkan materi khotbah Yesus di bukit, tentang ucapan ??Sberbahagialah? dalam rangka membangun spirit moderasi beragama di kalangan umat Kristen

    Teologi perempuan dan pengimajinasian ulang komunitas inklusif di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)

    Get PDF
    The aim of this paper is to develop some useful theological foundations for the ministry of GMIT women in the family, church, and community. Using feminist theological studies, this paper reflects critically on the experiences of GMIT women who struggle to develop the capacity of existing resources to face the challenges of poverty and underdevelopment that shackles their lives today. The results of these reflections are then dialogued with several biblical narratives as the basis for theology. This paper underscores that as the image and likeness of God, GMIT women are called to act as protectors, nurturing, and leaders in their families and communities with full responsibility. In addition, GMIT women are also required to imitate Christ in terms of loving sincerely regardless of ethnicity, religion, gender, culture, and social status and viewing other people as co-workers who work hand in hand in building the nation and state. AbstrakTujuan tulisan ini adalah untuk mengembangkan sejumlah landasan teologis yang berguna bagi pelayanan para perempuan GMIT baik di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Dengan menggunakan kajian teologi feminis, tulisan ini merefleksikan secara kritis berbagai pengalaman para perempuan GMIT yang berjuang untuk mengembangkan kapasitas sumber daya yang ada untuk menghadapi tantangan kemiskinan dan keterbelakangan yang membelenggu kehidupan mereka saat ini. Hasil refleksi tersebut kemudian didialogkan dengan sejumlah narasi Alkitab sebagai dasar berteologi. Tulisan ini menggarisbawahi bahwa sebagai gambar dan rupa Allah perempuan GMIT dipanggil untuk berperan sebagai pelindung, pemelihara, dan pemimpin dalam keluarga maupun masyarakat dengan penuh tanggungjawab. Selain itu, perempuan GMIT juga dituntut untuk meneladani Kristus dalam hal mengasihi dengan tulus tanpa membedakan suku, agama, jenis kelamin, budaya, dan status sosial serta memandang orang lain sebagai rekan sekerja yang saling bahu membahu dalam membangun bangsa dan negara

    Mengembangkan moderasi beragama di kalangan generasi milenial melalui perspektif Perjanjian Baru

    Get PDF
    This writing is motivated by anxiety about interreligious conflicts that are still happening, driven by truth claims regarding the teachings of the holy book, assuming that their religion is the most correct. This is due to misunderstandings and differences of opinion. Exclusive attitudes and a lack of respect for the teachings of other religions still exist among religious people. The purpose of this paper is to provide insight to Christians regarding religious moderation from the perspective of the new covenant for the millennial generation so that Christians have a collective awareness of understanding their own religion. This view invites Christians to prioritize moderation. This paper aims to enlighten the thoughts of Christians, especially the millennial generation. The qualitative-descriptive method was used to analyze the various data obtained. Data analysis can be done through preparation and interpretation activities to draw conclusions. The results of the analysis provide solutions to the millennial generation as the driving force of religious moderation. The effort made is that this generation treats other people first. There are efforts to respect each other, not be exclusive and actively involved, and religious organizations and majority awareness to respect minorities.  AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi pada keresahan terhadap konflik antaragama yang masih terjadi, didorong oleh klaim-klaim kebenaran mengenai ajaran kitab suci, menganggap agamanya yang paling benar. Hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman dan perbedaan pandangan. Sikap Eksklusif dan kurang meng-hargai ajaran agama lain masih ada di antara umat beragama. Tujuan tulisan ini untuk memberikan wawasan kepada umat Kristiani mengenai moderasi beragama dalam perspektif perjanjian baru bagi generasi milenial, agar umat kristiani memiliki kesadaran kolektif dalam memahami agama sendiri. Pandangan tersebut mengajak orang Kristen lebih mengedepankan sikap moderat. Tulisan ini bertujuan mencerahkan pemikiran umat kristiani, pada khususnya generasi milenial. Metode kualitatif-deskriptif dipakai untuk menganalisis berbagai data yang didapatkan. Analisis data dapat dilakukan melalui kegiatan penyusunan dan penafsiran untuk menyusun kesimpulan. Hasil analisis memberikan solusi kepada generasi milenial sebagai motor penggerak moderasi beragama. Usaha yang dilakukan adalah generasi ini memperlakukan orang lain lebih dahulu diperlakukan. Ada upaya untuk saling menghargai satu sama lain, tidak bersifat eksklusif dan terlibat aktif dan organisasi keagamaan serta kesadaran mayoritas untuk menghargai minoritas

    Interaksi sosial dalam mewujudkan kasih persaudaraan antaranggota jemaat

    Get PDF
    The early church demonstrated a model of life that could endure suffering together, and this model has continued to be lived throughout the ages. Along the way, it is not uncommon for the very diverse backgrounds of members in the church to result in clashes and disputes to conflict, whereas the core of Christ\u27s teachings is about loving and igniting brotherly love. This article aims to show the importance of social interaction in realizing brotherly love among congregation members and how to manifest it. A descriptive analysis method based on a literature review shows that brotherly love among church members reflects the spirituality of Christian friendship and solidarity. To realize this, social interaction that reflects Christian hospitality is needed among the church members.   Abstrak Gereja mula-mula memperlihatkan sebuah model kehidupan yang dapat menanggung penderitaan secara bersama-sama; dan model ini terus dihidupi sepanjang zaman. Dalam perjalanannya, tidak jarang latar belakang anggota yang sangat majemuk di dalam gereja mengakibatkan benturan dan perselisihan hingga konflik; padahal inti dari ajaran Kristus adalah tentang mengasihi dan mengobarkan kasih persaudaraan. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan pentingnya interaksi sosial yang dapat mewujudkan kasih persaudaraan di antara anggota jemaat, dan bagaimana mengejawantahnya. Dengan menggunakan metode analisis deksriptif yang berbasis kajian literatur diperlihatkan bahwa kasih persaudaraan di antara anggota gereja merefleksikan spiritualitas persahabatan dan solidaritas kristiani. Untuk mewujudkannya dibutuhkan interaksi sosial yang merefleksikan hospitalitas kristiani di antara anggota jemaat

    Partisipasi aktif dalam ibadah online sebagai tanda persekutuan

    Get PDF
    This article aims to explain the differences between the online community and fellowship (church) through the dimensions of active participation in online worship. A fellowship is a community of baptized who confessed their faith and are actively involved in their calling. In a local church, members are united by common culture, language, and history. It is feared that online worship carried out during the Covid-19 pandemic will reduce the meaning of fellowship. Through descriptive qualitative method plus observation, with the theory from Alan Rathe and F. Gerrit Immink regarding active participation, this study found three indicators that could help churches prepare their worship to invite active participation as a sign of fellowship. The three indicators are ??Sin⬝ which refers to the common ground, namely initiation in the Triune God; "with" which refers to the congregation\u27s togetherness to follow and participate both in terms of time and ability to interact; and "by" that is doing something together such as singing and responding to the same ritual. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan komunitas dan persekutuan (gereja) online melalui dimensi partisipasi aktif dalam ibadah secara online. Persekutuan adalah komunitas orang-orang yang dibaptis yang memiliki pengakuan iman, dan terlibat aktif dalam tugas panggilannya. Dalam bentuk gereja lokal, anggota diikat oleh kesamaan budaya, bahasa, dan sejarah. Ibadah online yang dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19 dikhawatirkan akan mengurangi makna persekutuan. Melalui metode kualitatif deskriptif ditambah observasi, dengan teori dari Alan Rathe dan F. Gerrit Immink mengenai partisipasi aktif dalam ibadah, penelitian ini menemukan tiga indikator yang mengukur partisipasi jemaat dalam ibadah. Ketiga indikator itu adalah ??Sdalam⬝ yang merujuk kepada kesamaan landasan yaitu inisiasi dalam Allah Tritunggal; ??Sbersama⬝ yang merujuk kepada kebersamaan jemaat mengikuti dan berpartisipasi baik dari sisi waktu maupun kemampuan berinteraksi; dan ??Sdengan cara⬝ yaitu melakukan sesuatu bersama seperti bernyanyi dan merespons tata ibadah yang sama

    Development of Christian religious education learning model based on the philosophy of orang basudara life in Maluku

    Get PDF
    Knowledge of the Basudara concept in Maluku is generally understood by adults only. Among young people, the concept of the Basudara is not familiar. The impact of the loss of its concept, that views as a philosophy, among young people in Ambon City, Latta Village, often occurs in brawls between teenagers of different ethics and religions. It is a threat to finding peace and can create new conflicts. Therefore, the teachers need to develop a model of Christian Religious Education for peace based on the philosophy of the Basudara people in Maluku. This study aims to develop a learning model for Christian religious education for peace based on the philosophy of life of the Orang Basudara in Maluku. The research method used is development research using the ADDIE learning model (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). The results of this study indicate that the development of the peaceful Christian religious education learning model based on the Orang Basudara philosophy of life in Maluku is needed by Sunday School students. It is learning materials based on local content that can be used as relevant teaching materials. An effective cultural instrument in revitalizing and transforming peace in the context of the Church, which is contextually adapted to the philosophical values of local cultural wisdom in Maluku. Thus, it is concluded that with the teaching materials used, students can apply how to live peacefully side by side in a multicultural context

    Air menjadi anggur dalam perkawinan di Kana: Sebuah tanda penyataan diri Yesus sebagai Anak Allah

    Get PDF
    This is a qualitative research article with an exegesis approach to finding the meaning of the miracle of the water turning into wine in the marriage at Cana which is recorded in John 2:1-11. The miracle of water turning into wine in the perspective of the Gospel of John is the first miracle that Jesus did to reveal Himself as the Son of God which fulfilled God\u27s Covenant in the Old Testament. The miracle of water turning into wine is a miracle that must be understood in the theological perspective and the agenda of the Gospel of John which is intended to display the presence of Jesus and all that He did in history as an expression of Jesus\u27 identity as the Son of God as well as the fulfillment of God\u27s promise in the Old Testament.AbstrakPenelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan eksegesis untuk menemukan makna dari peristiwa mujizat air berubah menjadi anggur dalam perkawinan di Kana yang dicatat dalam Yohanes 2:1-11. Mujizat air berubah menjadi anggur dalam perspektif Injil Yohanes merupakan mujizat pertama yang Yesus lakukan untuk memberikan penyataan diri-Nya sebagai Anak Allah yang menggenapi Perjanjian Allah di dalam Perjanjian Lama. Mujizat air berubah jadi anggur adalah mujizat yang harus dipahami dalam perspektif teologis dan agenda dari Injil Yohanes yang memang bertujuan untuk menampilkan kehadiran Yesus dan semua yang Ia lakukan dalam sejarah sebagai penyingkapan identitas Yesus sebagai Anak Allah  sekaligus juga adalah pemenuhan dari janji Allah di dalam Perjanjian Lama

    Pendidikan kristiani berbasis kearifan lokal: Sebuah tawaran konstruktif budaya Eseupalaloi di Maluku

    Get PDF
    Culture at the practical level regulates the way of life, including education. In Ambon, especially in Allang land, there is a culture of eseupaloloi which is a form of cooperation between communities, both in building houses and making new land for plantations. The aim of the research is to demonstrate the construction of Christian education based on local cultural wisdom, by proposing a cultural eseupaloloi of the Allang community in Ambon. By using a descriptive-qualitative method, both with literature instruments and interviews with several local traditional leaders, an understanding was obtained about the spirit that animates eseupaloloi as a result of the research, namely mutual cooperation, characterized by: common problems/challenges; a mutual will to solve it; grace in problem-solving; common sense to solve problems; sincerity and willingness to lighten the will in solving problems. The conclusion of this study is, eseupaloloi culture contains values that can be the construction of multicultural Christian education. AbstrakKebudayaan pada tataran praksis mengatur cara hidup, termasuk aspek pendidikan. Di Ambon, khususnya di tanah Allang, terdapat budaya eseupaloloi yang merupakan bentuk kerjasama antarmasyarakat, baik dalam membangun rumah, membuat lahan baru untuk perkebunan. Tujuan penelitian untuk menunjukkan sebuah konstruksi pendidikan kristiani yang berbasis pada kearifan budaya lokal, dengan mengusulkan budaya eseupaloloi masyarakat Allang di Ambon. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif, baik dengan instrumen literatur maupun wawancara pada beberapa tokoh adat setempat, diperoleh pemahaman tentang semangat yang menjiwai eseupaloloi sebagai hasil penelitian, yakni gotong royong, dengan bercirikan pada: masalah/tantangan bersama; kemauan bersama untuk menyelesaikannya; rahmat dalam pemecahan masalah; akal sehat untuk memecahkan masalah; keikhlasan dan kesediaan untuk meringankan keinginan dalam memecahkan masalah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, budaya eseupaloloi mengandung nilai-nilai yang dapat menjadi bangunan sebuah pendidikan kristiani multikultural

    319

    full texts

    387

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇