Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Providensia Allah dalam bencana: Rekonstruksi persepsi pengungsi korban gempa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pengungsi korban gempa Tapanuli Utara tentang providensia Allah di tengah situasi sulit yang mereka hadapi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui penelitian lapangan (field research) dengan teknik observasi dan wawancara. Informan ditentukan secara purposive sampling. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah Kepala Desa, Kordinator Posko Pengungsi, Masyarakat korban erupsi dan Ketua BKAG. Peneliti menemukan beberapa situasi atau kondisi yang dihadapai oleh para korban gempa Tapanuli Utara diantaranya: pertama mengalami berbagai kesulitan selama tinggal di pengungsian, merasakan kejenuhan, berjuang untuk bisa bertahan dalam penghidupan, dan kelemahan iman. Kedua, berbagai kesulitan yang dialami membawa kepada pengenalan akan Allah dalam hidupnya sehingga berangsur-angsur pengungsi dapat menerima bahwa gempa sebagai bencana alam atas seijin Tuhan. Tuhan akan memberikan pemeliharaan dan perlindungan kepada umatNya yang percaya kepadaNya
Kombongan Masallo\u27 sebagai pemaknaan hakikat gereja dalam konteks bergereja Toraja
Kombongan Masallo\u27 is a translation into the context of the Toraja church, which shows the Toraja Church\u27s awareness of its culture as a gift and a tool used by God to reveal himself to him. However, the term "Kombongan Masallo" is suspected to be prone to swallowing, even misleading, in the appreciation of the nature of the church if it is not based on the right meaning. Therefore, this study aims to explore the concept of kombongan as an indigenous Toraja term and evaluate it in the light of biblical truth, according to the tradition of the Toraja Church itself, to offer a reconstruction of a new Christian meaning. For this effort, a theoretical approach to the theology of the Bevans-style translation model is used within the framework of developing contextual theology. By using a qualitative descriptive method that explores information sourced from written documents, information from church leaders, and traditional Toraja leaders, it is found that on the one hand, the term Kombongan Masalo\u27 greatly enriches and deepens the theological meaning of the church; however, on the other hand, the meaning of the term needs to be constructively transcended theologically based on the truth of the Bible. This will greatly help the Toraja church members to appreciate the church as a meeting, fellowship, and entity that continues to grow, where each member is subject to prevailing values and norms, lives in a relationship based on sincerity and spaciousness of heart, and is bound to one another by guidance. The Holy Spirit. AbstrakKombongan Masallo??" merupakan salah satu terjemahan ke dalam konteks bergereja Toraja, yang menunjukkan kesadaran Gereja Toraja akan budayanya sebagai anugerah dan alat yang dipakai Allah untuk menyatakan diri kepadanya. Namun, istilah Kombongan Masallo??" diduga rentan mendangkalkan, bahkan menyesatkan, dalam penghayatan hakikat bergereja jika tidak didasarkan pada pemaknaan yang tepat. Sebab itu, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep kombongan sebagai term indigenous Toraja, mengevaluasinya dalam terang kebenaran Alkitab, menurut tradisi Gereja Toraja sendiri, guna menawarkan sebuah rekonstruksi pemaknaan baru yang kristiani. Untuk upaya itu, digunakan pendekatan teoretis berteologi model terjemahan ala Bevans dalam kerangka pengembangan teologi kontekstual. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menggali informasi bersumber pada dokumen tertulis, informasi dari tokoh gereja, maupun tokoh adat Toraja, didapatkan bahwa pada satu sisi, term Kombongan Masalo??" sangat memperkaya dan memperdalam makna teologis gereja; namun, di sisi lain makna istilah tersebut perlu ditransendensi secara konstruktif teologis berlandaskan kebenaran Injil. Hal tersebut akan sangat menolong warga gereja Toraja menghayati gereja sebagai pertemuan, persekutuan, dan entitas yang terus bertumbuh, di mana setiap anggotanya tunduk pada nilai dan norma yang berlaku, hidup dalam relasi yang dilandasi ketulusan dan kelapangan hati, serta terikat satu sama lain oleh tuntunan Roh Kudus
Pembelajaran jarak jauh yang pedagogis-spiritual: Sebuah tawaran model pembelajaran ramah anak di tengah pandemi Covid-19
The covid-19 Pandemic has impacted education in Indonesia. It causes the government to issue a policy, namely Distancing Learning. However, students have trouble doing the process of the policy. It is because the learning model is not completely child friendly. This manuscript aims to criticize the model of distancing learning and offer a new learning model that is needed to build the process of child-friendly education. This research uses a qualitative method by constructing the thought of Bell Hooks and Ralph W. Tyler about the curriculum and engaged pedagogy and analyzing the result of the interview with parents and students. The results show that PJJ needs a new learning model, which considers students\u27 spirituality. Moreover, this manuscript points out that pedagogical-spiritual distancing learning is a child-friendly learning model. AbstrakPandemi Covid-19 memberi dampak pada sektor pendidikan di Indonesia yang mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun, peserta didik mengalami kendala dalam proses pelaksanaan kebijakan tersebut karena model pembelajaran yang tidak sepenuhnya ramah pada anak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkritisi model PJJ dan menawarkan sebuah model pembelajaran yang dibutuhkan untuk membangun proses pendidikan yang ramah anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengkonstruksi pemikiran Bell Hooks dan Ralph W. Tyler mengenai kurikulum dan engaged pedagogy, serta menganalisis hasil wawancara terhadap orang tua dan peserta didik yang menunjukkan perlunya model baru dalam PJJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PJJ membutuhkan sebuah model pembelajaran yang baru, yang mempertimbangkan aspek spiritualitas peserta didik. Tulisan ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa PJJ yang pedagogis-spiritual merupakan sebuah tawaran model pembelajaran yang ramah anak di tengah pandemi Covid-19
Flexing in the lens of Christian education: Children\u27s failure to stem the negative influence of the era of disruption or neglect of parents instilling early childhood character
Flexing becomes a phenomenon that threatens the morality of the younger generation of Christians in this disruption era. The question that then arises is, this is just a common phenomenon, or is it the form of failure of Christian parents to shape the child\u27s personality? In Christian education in the family sphere, learning is emphasized on developing the potential of spiritual intelli-gence (psychiatric or spiritual and inner). The family is the right place for the growth of awareness of the beginning of the purpose and existence of life. It is the responsibility of the family to ensure that a child develops and grows into a good adult human being and can take care of himself, and not depend on others. The formation of personality at an early age is something that must be fulfilled and cannot be delayed. It is said that approximately 85% of basic human personalities are formed at the age of 0-6 years, and the rest are just polishing. This study aims to prove how much influence character cultivation by parents has on the potential flexing in children. The approach used in this study is quantitative, with a sample of 100 children. The results of data collection are analyzed using simple linear regression with the help of SPSS 23.0. The results of the study proved that the cultivation of personality by parents affected the flexing potential of children by 69%, while 31% was influenced by other factors. Further findings in this study, the formation of behavior in a planned, systematic, and targeted manner was shown to be able to reduce the potential for flexing by 73% in children. As a contribution to this study, it is recommended to parents instill humility, meek, patience, love, and peace in children from an early age. This has been shown to be able to ward off flexing which is a negative effect of the disruption era
Mewujudkan sila "Persatuan Indonesia" melalui gerakan ekumenis gereja
The solidity of Pancasila as the foundation for the nation\u27s unity continues to be undermined to the present day. The church is required to be able to contribute to realizing national unity through the actualization of Pancasila values. Our thesis is that the actualization of Pancasila values is the spirit contained in the Bible. This study aims to show the results of the analysis of 1 Corinthians 12:12-31 which can be used as a reference in designing the proposed contribution of the church in the actualization of Pancasila. The method used is descriptive and interpretive analysis related to the Corinthian text. The study\u27s results found that according to the concept of one body in 1 Corinthians 12:12-31, the church\u27s real form of participation or contribution in actualizing Pancasila values can be done by forming the church as a "Pancasila body". At least, the church has begun to realize the actualization of Pancasila values through an ecumenical movement that expresses the precepts of "Indonesian Unity". AbstrakKekokohan Pancasila sebagai dasar persatuan dan kesatuan bangsa masih terus mendapatkan rongrongan sampai saat ini. Gereja dituntut untuk dapat berkontribusi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pengaktualisasian nilai-nilai Pancasila. Tesis yang kami bangun adalah, bahwa pengaktualisasian nilai Pancasila merupakan spirit yang terkandung dalam Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan hasil analisis 1 Korintus 12:12-31 yang dapat dijadikan acuan dalam mendesain usulan kontribusi gereja dalam pengaktualisasian Pancasila. Metode yang dipergunakan adalah analisis deskriptif dan intepretatif terkait teks Korintus yang digunakan. Hasil penelitian mendapatkan, bahwa sesuai konsep satu tubuh dalam 1 Korintus 12:12-31, bentuk partisipasi atau kontribusi nyata gereja dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan membentuk gereja sebagai ??Stubuh Pancasila⬝. Setidaknya, gereja mulai mewujudkan pengaktualisasian nilai Pancasila melalui gerakan ekumenis yang mengekspresikan sila ??SPersatuan Indonesia⬝
Diakonia transformatif sebagai aktualisasi missio dei dalam membangun jemaat
The church must be able to represent, even present, Christ and inherently express His love. The increasingly difficult and complex challenges of the times require transformative church services so that the congregation can grow and develop appropriately as His chosen people. This study aims to describe the principles of transformative diakonia for the church so that it can successfully fulfill its vocation according to the teachings of the Bible. The method used is descriptive qualitative, using a literature study approach and conducting interviews with congregations regarding understanding the Diakonia ministry. The study results found that in the current technological era, transformative diakonia is an absolute for the church to carry out as the actualization of missio Dei. The basic principle of transformative diakonia is fulfilling two main dimensions: the physical-material and spiritual. In its implementation, the church must fulfill its function as the executor of the mission Dei which can be a support and solution for the life of the congregation and the community around the church.AbstrakGereja harus mampu merepresentasikan, bahkan mempresentasikan, Kristus serta menyatakan kasih-Nya secara nyata di dalam dunia. Tantangan zaman yang semakin berat dan kompleks membutuhkan pelayanan gereja yang transformatif agar jemaat mampu bertumbuh dan berkembang secara baik sebagai umat pilihan-Nya. Kajian ini bertujuan menguraikan tentang prinsip diakonia transformatif bagi gereja agar dapat berhasil menunaikan tugas panggilan sesuai ajaran Alkitab. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif kualitatif, baik dalam bentuk pendekatan studi pustaka maupun melakukan wawancara kepada jemaat untuk mendapatkan informasi terkait pemahaman pelayanan diakonia. Hasil kajian menemukan bahwa pada era teknologi saat ini, diakonia transformatif menjadi suatu kemutlakan untuk dilakukan gereja sebagai aktualisasi dari missio Dei. Prinsip dasar diakonia transformatif adalah memenuhi dua dimensi utama, yakni fisikal-material dan dimensi spiritual. Dalam implementasinya, gereja dituntut dapat memenuhi fungsinya sebagai eksekutor missio Dei yang dapat menjadi pendukung dan solusi bagi kehidupan jemaat dan mayarakat sekitar gerej
Merefleksikan ibadah nabi-nabi abad delapan dalam ibadah new normal
This study examines the prophet Amos\u27 perspective on worship and its implications in new normal worship. Researchers use qualitative methods with literature studies to obtain the purpose of the research. The results revealed that: first, worship should avoid excitement, luxury, and hypocrisy. The church and the people of God today need to avoid worship that highlights the excitement and luxury that can distance itself from God, instead prioritizing social care and simple worship pleasing to God\u27s eyes. Second, worship should be accompanied by an attitude that is faithful to God and away from sinful acts. With loyalty, any condition, including the new normal today does not prevent a person from doing personal worship or worship together, and dedication does not make oneself far from the place of worship. Third, worship should be accompanied by justice, truth, and holiness. Worship is accompanied by actual acts of justice and fact in social interaction. Fourth, worship should be accompanied by sacrifices and offerings pleasing to God. The principle of imitating Christ\u27s sacrifice became the basis of Christian worship. Even if the difficulties and unfriendly circumstances due to the new normal conditions do not make the attitude of surrender and offerings pleasing to God fade. AbstrakPenelitian ini mengulas perspektif nabi Amos tentang ibadah dan implikasinya dalam ibadah new normal. Untuk memperoleh tujuan penelitian tersebut peneliti menggunakan metode kualitatif dengan kajian literatur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: pertama, ibadah hendaknya menghindari kemeriahan, kemewahan, dan kemunafikan. Gereja dan umat Allah masa kini perlu menghindari ibadah yang menonjolkan kemeriahan dan kemewahan yang dapat menjauhkan diri dengan Allah, sebaliknya lebih mengutamakan kepedu-lian sosial dan ibadah sederhana yang berkenan di mata Tuhan. Kedua, ibadah hendaknya disertai sikap yang setia kepada Tuhan dan menjauhi perbuatan dosa. Dengan kesetiaan, kondisi apa pun, termasuk new normal sekarang ini, tidak menghalangi seseorang untuk melakukan ibadah pribadi maupun ibadah bersama, serta kesetiaan tidak membuat diri jauh dari tempat ibadah. Ketiga, ibadah hendaknya disertai keadilan, kebenaran, dan kekudusan. Ibadah yang diiringi perbuatan nyata akan keadilan dan kebenaran dalam interaksi sosial. Keempat, ibadah hendaknya disertai pengorbanan dan persembahan yang berkenan di hadapan Allah. Prinsip meneladani pengorbanan Kristus menjadi dasar ibadah-ibadah umat Kristen. Sekalipun kesulitan dan keadaan yang tidak bersahabat karena kondisi new normal, tidak membuat sikap pengorbanan dan persembahan yang berkenan kepada Tuhan menjadi pudar
Pedagogi filoeirene: Ajakan untuk mencintai perdamaian dalam kemajemukan
Hate speech and invitations to be hostile to adherents of other religions and beliefs are becoming a strengthening phenomenon today. Intolerance and radicalism that lead to violence and social conflict are increasingly arbitrary. This hostility occurs in the world of education, teachers and students are exposed to ideas that are contrary to the values of Pancasila and religious norms. Religious moderation as an effort to deradicalize through religious education, especially Christian religious education, is gaining momentum to instill peace-loving values in students. To achieve this, Christian religious education exists and participates in and through it. Various sources of literature or literature study to explore the data, with qualitative-descriptive research were conducted to find a picture of the philoeirene model in Christian religious education and to actualize the education of peace-loving attitudes in students. This study found that a comprehensive, basic, or deep and deeply rooted understanding of the concepts of peace and philoeirene is not an option but is imperative in nature to be instilled in every student. Strengthening contextual or relevant curriculum and commitment to implementing a peace-loving attitude is praxis in Christian religious education in a pluralistic society. AbstrakUjaran kebencian dan ajakan untuk memusuhi penganut agama dan kepercayaan lain menjadi fenomena yang menguat dewasa ini. Intoleransi dan radikalisme yang berujung pada kekerasan dan konflik sosial semakin semena-mena. Sikap permusuhan tersebut terjadi di dunia pendidikan, guru dan murid terpapar pada paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila dan norma agama. Moderasi beragama sebagai upaya deradikalisasi melalui pendidikan agama, khususnya pendidikan agama Kristen mendapat momentum untuk menanamkan nilai cinta damai dalam diri peserta didik. Untuk mewujudkan hal tersebut pendidikan agama Kristen hadir dan berpartisipasi di dalam dan melaluinya. Berbagai sumber literatur ataupun studi pustaka untuk mengeksplorasi data, dengan penelitian kualitatif-deskriptif dilakukan untuk menemukan gambaran model filoeirene dalam pendidikan agama Kristen, serta mengaktualisasikan pendidikan sikap cinta damai dalam dalam diri peserta didik. Penelitian ini menemukan bahwa pemahaman yang komprehensif, mendasar atau mendalam serta mengakar kuat berkenaan dengan konsep perdamaian dan filoeirene bukan opsi namun bersifat imperatif ditanamkan bagi setiap peserta didik. Penguatan kurikulum yang kontekstual atau relevan dan komitmen dalam mengimplementasikan sikap cinta damai merupakan suatu praksis dalam pendidikan agama Kristen di tengah masyarakat majemuk
Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui nyanyian jemaat
The environmental crisis has threatened the world. Natural disasters can cause a wide range of issues. Various efforts have been made to overcome the effects of natural damage. From a Christian perspective, ecological theology has tried to answer the problem of environmental degradation. However, the efforts to raise awareness among the congregation members must not stop. Based on H. Paul Santmire\u27s belief that liturgy related to worship can encourage congregational awareness, this research proposes singing as one of the liturgical elements that can play a role in encouraging concern for environmental crises. This research was pursued with a qualitative approach using literature and observation methods. This study found that congregational singing has a significant role in encouraging the congregation\u27s concern for the environment. This role can be achieved by singing and living the nature-themed songs, supported by a calendar of warnings related to environmental themes. AbstrakKrisis lingkungan hidup telah mengancam dunia. Berbagai persoalan ditimbulkan dari berbagai kerusakan alam. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi akibat dari kerusakan alam. Dalam persfektif kekristenan, teologi ekologi telah berusaha menjawab persoalan kerusakan lingkungan. Namun, usaha penyadaran warga jemaat tidak boleh berhenti. Berlandaskan keyakinan H. Paul Santmire tentang liturgi yang terkait dengan ibadah dapat mendorong kepedulian jemaat, maka penelitian ini mengagas nyanyian jemaat sebagai salah satu unsur liturgi yang dapat berperan mendorong kepedulian terhadap krisis lingkungan hidup. Penelitian ini ditempuh dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode kepustakaan dan observasi. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa nyanyian jemaat memilik peran yang signifikan untuk mendorong kepedulian warga jemaat terhadap lingkungan hidup. Peran itu dapat ditempuh dengan menyanyikan dan menghayati nyanyian yang bertema alam serta didukung oleh kalender peringatan yang berkaitan dengan tema lingkungan hidup
Dimensi meta learning dalam transformasi pendidikan kristiani di Indonesia
In the current digital era, life\u27s challenges are increasingly complex, so it needs to be balanced by quality human resources superior to the previous era. In the context of Christian education, this can be realized through transformation efforts to form students who have a strong faith so that they are skilled at dealing with life\u27s problems, can develop themselves into the character of Christ, and have an increasing impact on others and the world. This study aims to describe the importance of transforming Christian education and the gaps in its current implementation. The research method used is descriptive qualitative with a literature study approach to synthesize relevant previous research results. The results of this study indicate that meta-learning is a new "power" that can be developed to close the gap in the transformation of Christian education. Meta-learning is a dimension that goes beyond knowledge, skills, and character, which allows students to practice reflection: learning to adapt learning and behavior towards goals (learning how to learn). Two appropriate approaches were found in its application, namely the action-relational and collaborative approaches. AbstrakDi era digital saat ini tantangan hidup semakin kompleks sehingga perlu diimbangi oleh sumber daya manusia yang berkualitas lebih unggul dari era sebelumnya. Dalam konteks pendidikan Kristiani hal tersebut dapat diwujudkan melalui upaya transformasi untuk membentuk anak didik yang beriman kuat, sehingga terampil mengatasi persoalan hidup, mampu mengembangkan diri, berkarakter Kristus, serta semakin berdam-pak bagi sesama dan dunia. Penelitian ini memiliki tujuan mendeskripsikan tentang pentingnya transformasi pendidikan Kristiani dan kesenjangan dalam pelaksanaanya saat ini. Metode penelitian yang dipergunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka untuk mendapatkan sintesis dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meta learning merupakan ??Skekuatan? baru yang dapat dikembangkan agar dapat menutup kesenjangan transfor-masi pendidikan kristiani. Meta learning merupakan dimensi yang melam-paui knowledge, skiil, dan karakter, yang memungkinkan anak didik berlatih refleksi: belajar menyesuaikan pembelajaran dan perilaku searah tujuan (learning how to learn). Ditemukan dua pendekatan yang sesuai dalam pene-rapannya, yaitu aksi-relasi dan kolaborasi