Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Mengampuni dan seni berkomunikasi: Membaca ulang Kidung Agung 1-4 dalam bingkai penguatan keluarga pelayan gerejawi
Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan tindakan mengampuni sebagai sebuah seni dalam berkomunikasi. Metode yang digunakan adalah deskriptif interpretatif melalui pembacaan topikal naratif Kidung Agung
Model pembelajaran multiple intelligences pendidikan agama Kristen bagi anak dalam menghadapi era society 5.0
This paper discusses the multiple intelligences learning model\u27s contribution to children\u27s Christian religious education. The concept of the era of Society 5.0 motivates Christian religious education to improve itself to face the challenges and opportunities that exist through the multiple intelligences learning model. This objective is achieved using a qualitative description method with a literature review approach. The contribution of multiple intelligences learning presents critical, creative, and innovative work as the capital of Christian religious education equipped with digital technology skills without leaving the essence of Christian religious education. The challenges of the era of Society 5.0 will allow children\u27s Christian religious education to proclaim values as a Christian characteristic that produces challenging and God-fearing learners. AbstrakTulisan ini membahas tentang kontribusi model pembelajaran multiple intelligences dalam pendidikan agama Kristen anak. Konsep era society 5.0 memotivasi pendidikan agama Kristen untuk membenahi diri dalam rangka menghadapi tantangan dan peluang yang ada melalui model pembelajaran multiple intelligences. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan metode kualitatif deskripsi dengan pendekatan kajian pustaka. Kontribusi pembelajaran multiple intelligences menghadirkan karya kritis, kreatif dan inovatif sebagai modal pendidikan agama Kristen yang dilengkapi dengan keterampilan digital teknologi tanpa harus meninggalkan esensi pendidikan agama Kristen. Tantangan era society 5.0 akan menjadi peluang bagi pendidikan agama Kristen anak mewartakan nilai-nilai sebagai ciri khas Kristen yang menghasilkan nara didik yang tangguh dan takut akan Tuhan
Ritual midodareni sebagai medium spiritualitas Kristen: Perspektif triad-theological Steven Jack Land
Midodareni, carried out in preparation for marriage, still needs to be understood in Christian theology. Midodareni is a Javanese tradition that must be eliminated after someone believes in Jesus. This tension between Christian faith and culture continues into the modern era. If it continues to be preserved, culture will be eliminated and replaced with religious \u27culture\u27. Therefore, an analysis of symbols, activities, and philosophy is needed to be used as a medium for Christian spirituality. This research examines Midodareni\u27s wedding preparations from the perspective of Steven Jack Land\u27s theological triad. The research method used for analysis describes the midodareni tradition with Steven Jack Land\u27s theological triad approach. The research results show that not all midodareni preparations can be applied to Christian wedding preparations. Some processes can be carried out by transforming meaning, but others cannot. Midodareni has implications for society to encourage harmony and holistic education for bridal couples. AbstrakMidodareni dilakukan untuk persiapan pernikahan masih kerap disalahpahami dalam teologi Kristen. Midodareni dianggap sebagai tradisi Kejawen yang harus dihilangkan setelah seseorang percaya kepada Yesus. Ketegangan antara iman Kristen dan budaya ini terus bergulir hingga era modern ini; jika terus dipertahankan, maka budaya menjadi tersingkirkan dan digantikan dengan ‘budaya’ agama. Oleh karena itu, diperlukan analisis terhadap simbol-simbol, aktivitas-aktivitas, dan filosofi untuk dijadikan sebagai medium spiritualitas Kristen. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji persiapan pernikahan Midodareni dari perspektif triad theological Steven Jack Land. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif tentang tradisi midodareni dengan pendekatan triad theological Steven Jack Land. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan midodareni tidak semuanya dapat diterapkan dalam persiapan pernikahan iman Kristen. Ada prosesi yang dapat dilakukan dengan mentransformasi maknanya, ada juga yang sama sekali tidak perlu dilakukan. Midodareni berimplikasi kepada peran komunitas untuk mendorong keharmonisan dan pendidikan holistik bagi pasangan mempelai
Teologi persahabatan inter-subjektif dengan liyan: Sebuah studi pada masyarakat urban di Surabaya Pusat
Friendship is at the peak of relationships; it is desired by each individual in an inter-subjective frame. In reality, even though you are missed, there are always challenges in being a friend to others, especially in times of difficulty. This article aims to ground the theology of friendship with others around halfway houses in the Central Surabaya area in the current situation. The research uses a qualitative approach with phenomenological methods combined with Paul Ricouer\u27s hermeneutic scheme. Data from new phenomena was achieved through direct encounters with participants, which involved a dialogue in the real-event listening process. This research found that friendship is a primary need in the context of the central Surabaya community around the shelter and is the best condition for local people to learn the values of life. It is hoped that these findings will become material for reflection for the church to continue implementing the theology of inter-subjective friendship with others based on the values of Christ, deepening its relationships and increasing the creative development of the space for cosmic encounters.AbstrakPersahabatan berada pada puncak relasionalitas, ia didambakan oleh tiap pribadi dalam bingkai inter-subjektif. Pada kenyataannya, walau dirindukan selalu ada tantangan untuk hadir menjadi sahabat bagi liyan, apalagi di masa-masa penuh kesulitan. Artikel ini bertujuan membumikan teologi persahabatan bersama liyan di sekitar rumah singgah yang berada di wilayah Surabaya Pusat dalam konteks situasi kekinian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yang dipadukan dengan skema hermeneutik Paul Ricouer. Data berupa fenomena segar digapai melalui perjumpaan langsung dengan para partisipan yang di dalamnya melibatkan proses mendengarkan in-the-real-event secara dialogis. Penelitian ini menemukan bahwa persahabatan adalah kebutuhan primer dalam konteks masyarakat Surabaya pusat sekitar rumah singgah dan menjadi kondisi terbaik untuk manusia setempat belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Temuan-temuan ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi gereja untuk terus mengimplementasikan teologi persahabatan inter-subjektif dengan liyan bersadarkan nilai-nilai Kristus, makin memperdalam relasinya dan tetap meningkatkan pengembangan ruang perjumpaan kosmik secara kreati
Hospitalitas kepemimpinan kristiani dalam falsafah elek marboru: Formasi spiritualitas pemimpin yang menghargai bawahan
Christian leadership ideally reflects the leadership of Christ, which prioritizes the values of humility and respect for others, including subordinates. Respecting subordinates with a spirit of equality is challenging because there is a negative tendency in authority hegemony. However, we argue that Christian hospitality can be a spiritual formation that can accept diversity up to hierarchical differences and treat them as equals. This article offers a culture-based construction of Christian hospitality based on the Elek Marboru philosophy as a means for Christian leaders to respect their subordinates or the people they lead. Using descriptive analysis methods on literature data from studies on similar topics, the elek Barbour philosophy in the dalihan natolu culture shows an attitude of acceptance and equal treatment of groups considered subordinate, namely the Boru. This research concludes that in the context of overseas Batak culture or communities, the values of the elek marboru philosophy can be applied by leaders to respect subordinates or treat them as equals. AbstrakKepemimpinan Kristen idealnya mencerminkan kepemimpinan Kristus yang mengedepankan nilai-nilai kerendahan hati dan menghor-mati orang lain, termasuk bawahannya. Menghargai bawahan dengan spirit kesetaraan bukanlah hal yang mudah untuk dipraktikkan, karena ada kecenderungan negatif dalam hegemoni kekuasaan. Namun demikian, kami berargumentasi bahwa hospitalitas kristiani dapat menjadi formasi spiritual yang dapat menerima keberagaman hingga perbedaan hierarkis dan memperlakukannya setara.  Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konstruksi hospitalitas kristiani berbasis budaya pada falsafah elek marboru sebagai cara pemimpin kristiani dapat menghargai bawahan atau orang yang dipimpinnya. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif pada data literatur hasil kajian dengan topik serupa, maka falsafah elek marboru dalam budaya dalihan natolu memperlihatkan sikap penerimaan dan perlakukan setara pada kelompok yang dianggap subordinasi, yakni boru. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa dalam konteks budaya atau komunitas Batak di perantauan, nilai falsafah elek marboru dapat diterapkan oleh pemimpin dalam rangka menghargai bawahan atau memperlakukannya setara.Â
Makan sebagai sarana pengasuhan, persekutuan, dan hospitalitas: Sebuah konstruksi Teologi Makan dengan lensa trinitarian
This article raises the issue of eating, which is rarely discussed theologically, while the issue of eating has been widely discussed in various other disciplines. This article aims to construct a theology of eating through the lens of Trinitarian theology of eating. Using the doctrine of the Trinity as a lens to re-understand the theological meaning of eating, I argue that the theological meaning of eating is a means of nurturing, communion, and hospitality. This article uses a constructive theology method with a qualitative approach that examines various kinds of literature that discuss the doctrine of the Trinity and eating and the relationship between the two variables to construct a Trinitarian theology of eating. The results of this study indicate that the meaning of eating should not be reduced to merely satisfying hunger because eating is a means through which God nurtures human life and establish communion and hospitality between individuals and even with God himself. AbstrakArtikel ini mengangkat masalah makan yang jarang dibahas secara teologis, sedangkan masalah makan telah banyak dibahas di berbagai disiplin ilmu yang lain. Tujuan artikel ini adalah untuk mengkonstruksi sebuah teologi makan dengan lensa teologi makan Trinitarian. Dengan menggunakan doktrin Trinitas sebagai lensa untuk memahami kembali makna makan secara teologis, saya berargumen bahwa makna teologis dari makan adalah sebagai sarana pengasuhan, persekutuan, dan keramahtamahan. Artikel ini menggunakan metode berteologi konstruktif dengan pendekatan kualitatif yang mengkaji berbagai literatur yang membahas tentang doktrin Trinitas dan makan, dan juga hubungan antara kedua variabel tersebut dalam rangka mengkonstruksi sebuah teologi makan Trinitarian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna makan tidak boleh direduksi sekadar memuaskan rasa lapar karena makan adalah sarana yang melaluinya Allah mengasuh kehidupan manusia, dan menjalin persekutuan serta keramahan antar pribadi dan bahkan dengan Allah sendiri
Terapi keluarga sebagai pelayanan pastoral dalam membangun resiliensi keluarga Kristen
Family therapy is an alternative therapy that can be used in pastoral care. This is possible due to the awareness of the importance of pastoral service, which involves various other sciences so that pastoral service can achieve holistic service. This research examines the role of pastoral theology and holistic pastoral care in family pastoral therapy. Qualitative methods were used to achieve the objectives of this research. The research results show that Pastoral Theology provides the basis for family pastoral care with a family therapy approach. Presence and empathy are essential aspects of pastoral ministry based on the love exemplified by Jesus Christ. Then, caring in the pastoral care of families and their members relies on the theological belief that humans are God\u27s creatures entrusted with the earth\u27s care.AbstrakTerapi keluarga merupakan salah satu terapi alternatif yang dapat digunakan dalam pelayanan pastoral. Hal ini dimungkinkan dalam kesadaran pentingnya pelayanan pastoral yang melibatkan berbagai ilmu lain agar pelayanan pastoral dapat mencapai pelayanan yang holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan telogi pastoral dan pelayanan pastoral holistik dalam terapi pastoral keluarga. Metode kualitatif digunakan dalam pencapaian tujuan penelitian ini. Hasil penelitian mengemukakan bahwa Teologi Pastoral memberi dasar bagi pelayanan pastoral keluarga dengan pendekatan terapi keluarga. Di mana kehadiran dan empati aspek penting dalam pelayanan pastoral yang mana didasarkan pada kasih yang telah diteladankan Yesus Kristus. Kemudian, caring dalam perawatan pastoral keluarga dan anggota-anggotanya bertumpu pada keyakinan teologis bahwa manusia merupakan makhluk Tuhan yang dipercayakan dengan perawatan bumi
Partikularitas pendidikan agama Kristen menjawab tantangan Posmodernisme Lyotard
Lyotard is a figure who is straightforward in criticizing modernism; for him, the era of modernism has ended, so values such as metanarratives must be abandoned because of their negative impact on civilization. Postmodernism offers a spirit of aufklarung that modernists have abandoned. This article aims to show how Christian education should respond to the era of postmodernism in Lyotard\u27s concept. The method used is philosophical hermeneutics. The theory is built from literary sources that discuss the issue of postmodernism, which is linked to Christian education discourse utilizing interpretation, description, and comparison. The results show that postmodernism is an ideology that seeks to revive Aufklarung\u27s ideals to achieve equality in various aspects of human life. Postmodernism seeks to dismantle the concepts and ideas of modernism through a creative, humanist, and critical approach to metanarratives, thereby providing opportunities for the potential for Christian education to flourish.AbstrakLyotard merupakan sosok yang lugas dalam mengkritik paham modernisme; baginya, era modernisme sudah berakhir, sehingga nilai-nilai seperti metanarasi harus ditinggalkan karena dampak buruknya terhadap peradaban. Posmodernisme menawarkan semangat Aufklarung yang oleh para modernis sudah ditinggalkan. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana seharusnya pendidikan kristiani merespons posmodernisme dalam konsep Lyotard tersebut. Metode yang digunakan adalah studi hermeneutika filosofis. Teori dibangun dari sumber-sumber kepustakaan yang membahas tentang isu posmodernisme yang dikaitkan dengan diskursus pendidikan kristiani dengan cara interpretasi, deskripsi, dan komparasi. Hasil yang ditunjukkan bahwa posmodernisme merupakan sebuah paham yang berupaya menghidupkan kembali cita-cita Aufklarung agar tercapai pemerataan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Posmodernisme berupaya membongkar konsep dan gagasan modernisme melalui pendekatan yang kreatif, humanis, dan kritis terhadap metanarasi, sehingga memberi peluang untuk potensi pendidikan kristiani semakin berkembang
Hospitalitas dan spiritualitas egalitarian dalam kepemimpinan kristiani
Artikel ini merupakan sebuah kajian tentang kepemimpinan kristiani, sebuah bentuk kepemimpinan yang tidak hanya dilakukan di gereja, melainkan di segala bidang. Fokus utamanya adalah pemimpin itu sendiri, dengan nilai-nilai yang diejawantah pada kepemimpinannya. Tujuan artikel ini menawarkan sebuah spiritualitas egalitarian yang seharusnya dimiliki setiap pemimpin kristiani, terlebih dalam kepemimpinan gerejawi. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif penelitian ini menggunakan diskursus hospitalitas Kristen sebagai dasar bangunan kepemimpinan kristiani yang egaliter. Sebagai simpulan, hospitalitas Kristen dapat menjadi core dalam membangun spiritualitas kepemimpinan kristiani yang egaliter.Â
Hermeneutik post-strukturalis atas Yohanes 4:1-26
This paper studies John 4: 1-26 in a post-structuralist hermeneutical perspective. Hermeneutics is the art of understanding, namely understanding a text, aiming to reveal the meaning contained in the text. In this case, what is meant is a post-structuralist hermeneutics which assumes that the meaning of a text lies not behind the text but in front of it. With this assumption, the meaning is beyond the author\u27s interests, thus opening up the possibility for the polysemy of meaning found by the reader today. Four successive contextual concerns that can be examined hermeneutically in the narrative of John 4:1-26 are the context of injustice, poverty, radicalism, and ecological damage. These four context challenges are also the challenges facing the churches in Indonesia, which they grapple with in the 16th Session of the Communion of Churches in Indonesia (CCI) in Nias and the 17th in Sumba. The results of the hermeneutics study arrived at the praxis of the holistic liberation of Jesus to overcome these four challenges. They can be used as a praxis for the holistic ministry of the churches today. AbstrakTulisan ini adalah sebuah kajian atas Yohanes 4:1-26 dengan perspektif hermeneutik post-strukturalis. Hermeneutik adalah sebuah seni memahami, yaitu memahami teks, yang tujuannya untuk mengungkap makna yang terdapat di dalam teks. Hermeneutik yang dimaksud adalah hermeneutik post-strukturalis yang basisnya bahwa makna teks tidak terletak di belakang teks melainkan di depannya. Karena makna ada di depan teks, maka makna melampaui kepentingan pengarang, yang berarti membuka kemungkinan bagi polisemi makna yang ditemukan oleh pembaca masa kini. Secara berturut-turut empat keprihatinan kontekstual yang dapat ditelaah secara hermeneutis ke atas narasi Yohanes 4:1-26 adalah konteks ketidakadilan, kemiskinan, radikalisme dan kerusakan ekologi. Keempat tantangan konteks ini juga menjadi tantangan gereja-gereja di Indonesia seperti yang digumuli dalam Sidang Raya Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) XVI di Nias dan XVII di Sumba. Hasil kajian secara hermeneutis menibakan pada praksis pembebasan Yesus yang holistik, untuk mengatasi keempat tantangan konteks tersebut dan dapat dijadikan praksis pelayanan holistik gereja-gereja di hari ini