Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Melintasi generasi: Analisis model kepemimpinan Yesus dalam kolaborasi baby boomer dan gen z pada konteks demokrasi politik Indonesia
The generational gap between Baby Boomers and Gen Z in Indonesian political leadership creates significant challenges in leadership regeneration and political organization effectiveness, exacerbated by fundamental differences in leadership paradigms, communication preferences, and decision-making approaches. This study aims to analyze and develop an integrative leadership model based on the principles of Jesus\u27 leadership to bridge the generation gap in the context of Indonesian political democracy. The methodology uses a qualitative approach with comprehensive literature analysis, including biblical studies on Jesus\u27 leadership, academic literature on leadership theory, and generational dynamics. Jesus\u27 leadership model offers a transformative framework that integrates traditional values with contemporary innovations through servant leadership and bridging leadership. The implementation of a collaborative leadership framework has shown significant effectiveness in improving bilateral knowledge transfer, reducing generational polarization, and strengthening multi-generational participation. The study concludes that the contextual adaptation of Jesus\u27 leadership principles can create a sustainable and inclusive leadership model in Indonesia\u27s political democracy.
Abstrak
Kesenjangan generasi antara Baby Boomer dan Gen Z dalam kepemimpinan politik Indonesia menciptakan tantangan signifikan dalam regenerasi kepemimpinan dan efektivitas organisasi politik, diperparah oleh perbedaan fundamental dalam paradigma kepemimpinan, preferensi komunikasi, dan pendekatan pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengembangkan model kepemimpinan integratif berbasis prinsip-prinsip kepemimpinan Yesus untuk menjembatani kesenjangan generasi dalam konteks demokrasi politik Indonesia. Metodologi menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis literatur komprehensif, meliputi studi Alkitabiah tentang kepemimpinan Yesus, literatur akademik tentang teori kepemimpinan, dan dinamika generasi. Model kepemimpinan Yesus menawarkan kerangka transformatif yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan inovasi kontemporer melalui kepemimpinan yang melayani dan kepemimpinan yang menjembatani. Implementasi kerangka kerja kepemimpinan kolaboratif menunjukkan efektivitas signifikan dalam meningkatkan transfer pengetahuan bilateral, reduksi polarisasi generasional, dan penguatan partisipasi multi-generasi. Penelitian menyimpulkan bahwa adaptasi kontekstual prinsip kepemimpinan Yesus dapat menciptakan model kepemimpinan berkelanjutan dan inklusif dalam demokrasi politik Indonesia
Model dialog iman: Analisis biblika dialog Yesus dalam Injil dan relevansinya pada konteks Indonesia masa kini
This study analyzes Jesus\u27 model of faith dialogue in the Gospel narratives through a biblical-historical approach to explore its relevance to the contemporary Indonesian context. The analysis reveals significant pa-rallels between the socio-religious tensions of Jesus\u27 era and the challenges faced by Indonesian Christian communities in dealing with social pressure and discrimination. In Indonesia\u27s heterogeneous landscape of plurality, Jesus\u27 dialogical model is proposed as a theoretical framework for developing inclusive faith communication conducive to social harmony. The findings reveal that Jesus\u27 faith dialogue offers theological-ethical principles relevant to religious moderation: empathy in listening, articulation of truth in love, and preservation of the integrity of faith amid external pressures. The research contributes to strengthening the spirituality of Indonesian Christian communities and providing strategic guidance for ecclesiastical institutions. This study enriches the discourse of contextual theology by presenting a model of dialogue rooted in the Gospel tradition that is responsive to Indonesia\u27s diverse reality.
Abstrak
Studi ini menganalisis model dialog iman Yesus dalam narasi Injil melalui pendekatan analisis biblika-historis untuk mengeksplorasi relevansinya bagi konteks Indonesia kontemporer. Analisis menunjukkan paralelisme signifikan antara kompleksitas tensionalitas sosio-religius era Yesus dengan tantangan yang dihadapi komunitas Kristen Indonesia dalam menghadapi tekanan sosial dan diskriminasi. Dalam lanskap pluralitas Indonesia yang heterogen, model dialogis Yesus diposisikan sebagai kerangka teoretis untuk mengembangkan komunikasi iman yang inklusif dan kondusif bagi harmoni sosial. Temuan mengungkapkan bahwa dialog iman Yesus menawarkan prinsip teologis-etis yang relevan untuk moderasi beragama: empati dalam mendengarkan, artikulasi kebenaran dalam kasih, dan preservasi integritas iman di tengah tekanan eksternal. Kontribusi penelitian meliputi penguatan spiritualitas komunitas Kristen Indonesia dan penyediaan panduan strategis bagi institusi gerejawi. Studi ini memperkaya diskursus teologi kontekstual dengan menghadirkan model dialog berakar tradisi Injil yang responsif terhadap realitas kemajemukan Indonesia
Menuju gereja sebagai komunitas pembelajar: Rekonstruksi teologi pendidikan agama Kristen berbasis spiritualitas partisipatif
This study arises from a theological concern that Christian Religious Education (CRE) has been reduced to doctrinal transmission, thereby neglecting the dialectical dimension of faith formation. The prevailing instructive-hierarchical paradigm has produced congregations that are cognitively informed yet fail to mature into hermeneutical communities capable of collectively interpreting faith. This research aims to reconstruct the theological foundations of CRE through the framework of participatory spirituality. Employing a qualitative approach grounded in systematic literature review and a reflective-analytical approach to pastoral theology, faith pedagogy, and ecclesiological praxis, this study argues that participatory spirituality enables CRE to be reconceived as a dialogical, interactive, and transformative process of faith formation. The church is repositioned as a learning community wherein liturgy, ministry, and fellowship constitute the locus of formative encounter. In conclusion, this reconstruction offers an ecclesiological reorientation affirming the church\u27s nature as the Body of Christ, growing through a relational learning ecology that culti-vates reflective, participatory, and contextual faith.
Abstrak
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan teologis atas reduksi Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai transmisi doktrinal yang mengabaikan dimensi dialektis pembentukan iman. Paradigma instruktif-hierarkis telah melahirkan jemaat yang terinformasi secara kognitif, namun tidak bertumbuh sebagai komunitas hermeneutis yang menafsirkan iman secara kolektif. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi landasan teologis PAK melalui kerangka spiritualitas partisipatif. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur sistematis dan pendekatan reflektif-analitis terhadap literatur teologi pastoral, pedagogi iman, serta praksis eklesiologis, penelitian ini merumuskan bahwa spiritualitas partisipatif memungkinkan PAK dipahami sebagai proses formasi iman yang dialogis, interaktif, dan transformatif. Gereja diposisikan sebagai learning community di mana liturgi, pelayanan, dan persekutuan menjadi locus pembentukan iman. Kesimpulannya, rekonstruksi ini menawarkan reorientasi eklesiologis yang menegaskan hakikat gereja sebagai Tubuh Kristus yang bertumbuh melalui ekologi pembelajaran relasional, membentuk iman yang reflektif, partisipatif, dan kontekstual
Pendampingan pastoral dan kesehatan mental: Sebuah ikhtiar integratif dalam perspektif Alfred Adler
Amid the global mental health crisis, conventional psychotherapy often fails to address the spiritual-existential dimensions of humanity. This study constructs an integrative Pastoral-Adlerian model that bridges Alfred Adler\u27s individual psychology and pastoral theology to provide holistic mental health services. Through a critical literature review, the research synthesizes Adler\u27s concepts—inferiority complex, teleology, and social interest—with Christian theological principles of grace, imago Dei, and vocation. Analysis reveals substantial compatibility: feelings of inferiority are reframed as spaces in which grace operates, while social interest manifests as the restoration of God\u27s image. The model formulates four cyclical transformative stages: building empathic relationships, exploring life narratives, reorienting meaning and purpose, and community reintegration. This Pastoral-Adlerian integration signifies an ethical approach to comprehensively heal injured humanity, converting counseling environments into sanctuaries where faith and psychology collaborate to restore human dignity.
Abstrak
Di tengah krisis kesehatan mental global, psikoterapi konvensional sering gagal menyentuh dimensi spiritual-eksistensial manusia. Penelitian ini mengonstruksi model integratif Pastoral-Adlerian yang menjembatani psikologi individual Alfred Adler dengan teologi pastoral untuk menghadirkan layanan kesehatan jiwa holistik. Melalui studi pustaka kritis, penelitian mensintesiskan konsep Adler—inferiority complex, teleologi, dan social interest—dengan prinsip teologi Kristen tentang anugerah, imago Dei, dan panggilan hidup. Hasil analisis menunjukkan kompatibilitas substantif: perasaan inferioritas dimaknai sebagai ruang bagi kasih karunia, sementara kepedulian sosial sebagai pemulihan gambar Allah. Model ini diformulasikan dalam empat tahapan siklik: membangun relasi empatik, eksplorasi narasi hidup, reorientasi makna tujuan, dan reintegrasi komunitas. Integrasi ini merupakan respons etis untuk merawat kemanusiaan yang terluka secara utuh
Persekutuan dan relasi kuasa: Sebuah komparasi konsep tata gereja 1987 dan 2007, Gereja Masehi Injili di Halmahera
The purpose of this study is to demonstrate the differences and similarities in the concepts of fellowship (koinonia) and power relations in the self-organization of the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH), as articulated in the GMIH Church Orders of 1987 and 2007, both of which explicitly identify themselves as churches adhering to presbyterial-synodal principles. Through qualitative research methods employing library research on the GMIH Church Order documents of 1987 and 2007, it was found that there are fundamental differences between the concepts of fellowship and power relations in these two documents. In the 1987 Church Order, an exclusive nuance of the fellowship concept was identified, as it was interpreted solely as inter-congregational relations within the GMIH Synod; power relations were more structurally hierarchical. In the 2007 Church Order, the interpretation of the fellowship concept (koinonia) is more inclusive and multicultural, as it considers post-conflict reconciliatory social relations in Halmahera and its surrounding islands; power relations emphasize non-hierarchical structures and prioritize equality of power between congregations and between Congregations and the Synod. Nevertheless, both GMIH Church Orders maintain a Christocentric character.
Abstrak
Tujuan kajian ini untuk memperlihatkan perbedaan dan persamaan konsep persekutuan (koinonia) dan relasi-kuasa dalam pengorganisasian diri Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), sebagaimana tertuang dalam Tata Gereja GMIH 1987 dan 2007, serta mengaku diri secara eksplisit dalam kedua Tata Gereja sebagai Gereja yang berprinsip gereja presbiterial sinodal. Melalui metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan terhadap dokumen Tata Gereja GMIH 1987 dan 2007 ditemukan bahwa ada perbedaan prinsip antara konsep persekutuan dan relasi kuasa di antara keduanya. Dalam Tata Gereja 1987, ditemukan nuansa ekslusif dari konsep persekutuan karena hanya ditafsirkan sebagai relasi antarjemaat dalam Sinode GMIH; relasi kuasa lebih bersifat struktural-hierarkis. Dalam Tata Gereja 2007 pemaknaan konsep persekutuan (koinonia) lebih inklusif dan multikultural karena mempertimbangkan relasi sosial rekonsiliatif pascakonflik di Halamhera dan pulau-pulau sekitarnya; relasi kuasa lebih menekankan non-hierarkhis dan mengedepankan kesetaraan kuasa antarjemaat dan antara Jemaat dan Sinode. Sekalilipun demikian, kedua Tata Gereja GMIH tersebut memiliki sifat kristosentris
Ruminatio philosophiae sebagai strategi formatif imersi spiritual dalam pendidikan agama Kristen
The phenomenon of spiritual dryness in Christian Religious Education is often caused by an overly cognitive and informative approach, neglecting the formative dimension of students’ inner lives. This study explores ruminatio philosophiae as a formative strategy grounded in philosophical contemplation and Christian spirituality within the learning process of Christian Religious Education. This approach emphasizes deep reflection as a means of holistic faith formation by integrating reason, affection, and action. The study employs a library research method and reflective hermeneutical analysis of both classical and contemporary texts in theology and philosophy. The findings reveal that ruminatio philosophiae is relevant in addressing the crisis of spiritual formation in the context of the digital generation and functions as a pedagogical strategy that cultivates orthodoxy, orthopathē, and orthopraxis. This approach promotes an immersive, reflective, and transformational experience of faith that unites theological knowledge with lived reality. Therefore, ruminatio philosophiae is not merely an educational strategy, but a pedagogical spirituality that revitalizes the praxis of faith education contextually and holistically in Indonesia.
Abstrak
Fenomena kekeringan spiritual dalam Pendidikan Agama Kristen sering kali disebabkan oleh pendekatan yang terlalu kognitif dan informatif, sehingga mengabaikan dimensi formasi batin peserta didik. Penelitian ini mengeksplorasi ruminatio philosophae sebagai strategi formatif berbasis kontemplasi filosofis dan spiritualitas Kristen dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Pendekatan ini menempatkan refleksi mendalam sebagai sarana pembentukan iman yang menyeluruh dengan mengintegrasikan akal, afeksi, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan analisis hermeneutik reflektif terhadap teks-teks klasik dan kontemporer, baik dari teologi maupun filsafat. Hasil kajian menunjukkan bahwa ruminatio philosophae tidak hanya relevan untuk menjawab krisis formasi spiritual dalam konteks generasi digital, tetapi juga mampu menjadi strategi pedagogis yang membentuk orthodoxy, orthopathē, dan orthopraxis. Pendekatan ini menekankan pengalaman iman yang imersif, reflektif, dan transformasional, yang menyatukan pengetahuan religius dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, ruminatio philosophae bukan hanya strategi pendidikan, melainkan spiritualitas pedagogis yang mampu menghidupkan kembali praksis pendidikan iman secara kontekstual dan holistik di Indonesia
Pernikahan sebagai ruang liminal: Rekonstruksi teologis sakramen dalam perspektif studi ritual
Artikel ini mengajukan rekonstruksi teologis terhadap sakramen pernikahan Kristen melalui perspektif ritual studies, khususnya konsep liminalitas Victor Turner. Teologi pernikahan konvensional cenderung beroperasi dalam logika biner statis yang mereduksi pernikahan menjadi status ontologis yang diperoleh sekali dan permanen. Melalui analisis konseptual terhadap struktur ritus peralihan (rites of passage), artikel ini berargumen bahwa pernikahan lebih tepat dipahami sebagai permanent liminality, yakni kondisi ambang berkelanjutan yang tidak pernah sepenuhnya terselesaikan ke dalam stabilitas struktural. Implikasi teologis dari paradigma ini mencakup reinterpretasi komunitas Turner sebagai analog dengan koinonia Perjanjian Baru, serta pengembangan konsep ritual maintenance sebagai praktik liturgis domestik yang memelihara dimensi sakramental pernikahan sepanjang kehidupan pasangan.
Dekolonialisasi servant leadership: Karakter, kritik, dan rekonstruksi tata kelola eklesial dalam konteks indonesia
The "servant leadership" discourse has achieved quasi-dogmatic status in contemporary Christian leadership, yet rarely undergoes critical interrogation of its epistemological assumptions and political implications. This article argues that the uncritical adoption of servant leadership in Indonesian church governance perpetuates colonial patterns through the depoliticization of biblical servanthood, the domestication of service rhetoric that conceals untransformed hierarchical power relations, and the reproduction of Western governance models as universal templates while marginalizing indigenous communal wisdom. Through critical analysis, this study identifies four constitutive characteristics of servant leadership discourse: individualization, moralization, leader-centrism, and ahistoricity. The reconstructive section develops an alternative paradigm of "Participatory-Communal Governance" that integrates early church practices (Acts 2:42-47; 1 Corinthians 12:12-27) with Indonesian indigenous wisdom—gotong royong, tepo seliro, and musyawarah-mufakat—proposing a distributed authority based on charismata, facilitative rotation, and communal deliberation.
Abstrak
Diskursus "servant leadership" telah mencapai status quasi-dogmatis dalam kepemimpinan Kristiani kontemporer, namun jarang mengalami interogasi kritis atas asumsi epistemologis dan implikasi politisnya. Artikel ini mengargumentasikan bahwa adopsi tanpa kritik terhadap servant leadership dalam tata kelola gereja Indonesia melanggengkan pola-pola kolonial melalui depolitisasi servanthood biblika, domestikasi retorika pelayanan yang menyembunyikan relasi kekuasaan hierarkis yang tidak tertransformasi, dan reproduksi model governansi Barat sebagai template universal dengan memarjinalkan kearifan komunal indigenous. Melalui analisis kritis, studi ini mengidentifikasi empat karakter konstitutif diskursus servant leadership: individualisasi, moralisasi, leader-sentrisme, dan ahistorisitas. Bagian rekonstruktif mengembangkan alternatif paradigma "Governansi Partisipatif-Komunal" yang mengintegrasikan praktik gereja mula-mula (Kis 2:42-47; 1 Kor 12:12-27) dengan kearifan indigenous Indonesia—gotong royong, tepo seliro, dan musyawarah-mufakat—mengusulkan distribusi otoritas berbasis charismata, rotasi fasilitatif, dan deliberasi komunal
Tamu yang menjamu: Pembacaan subversif atas hospitalitas profetik dalam Lukas 11:37–45
This research offers a subversive reading of Luke 11:37–45 by in-terpreting the meal scene through the framework of prophetic hospitality. Hospitality is not treated merely as a social convention but as a theological space in which Jesus, invited as a guest, assumes a prophetic role that redefines purity, justice, and authentic faith. Employing a qualitative, library-based method with historical, narrative, and theological analyses, this study situates the pericope within the socio-religious context of first-century Judaism, in which table fellowship functioned as a marker of ritual purity and social boundaries. The analysis shows that Jesus’ refusal to perform ritual handwashing constitutes a deliberate act that disrupts perfor-mative piety and exposes the tension between external observance and ethical responsibility. By transforming the host’s table into a site of prophetic critique, the narrative unmasks institutional hypocrisy embedded in religious practice. This study contributes to Lukan scholarship by framing hospitality as a prophetic practice that calls for justice, integrity, and embodied faith, and offers critical implications for contemporary ecclesial life amid the challenges posed by performative religiosity in the digital era.
Abstrak
Penelitian ini menawarkan pembacaan subversif terhadap Lukas 11:37-45 dengan menempatkan perikop jamuan makan dalam kerangka hospitalitas profetik. Hospitalitas dipahami bukan sekadar praktik sosial, melainkan ruang teologis di mana Yesus, meskipun hadir sebagai tamu, bertindak sebagai penjamu yang menafsir ulang makna kesucian, keadilan, dan iman yang otentik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis historis, naratif, dan teologis, dengan mempertimbangkan konteks sosio-religius Yudaisme abad pertama yang menjadikan meja makan sebagai penanda kemurnian ritual dan batas sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa penolakan Yesus terhadap ritual pencucian tangan merupakan tindakan hospitalitas yang bersifat subversif dan profetik, yang menyingkap ketegangan antara kesalehan lahiriah dan tanggung jawab etis. Narasi ini membongkar formalisme religius yang menutupi ketidakadilan struktural. Secara teologis, Injil Lukas menampilkan hospitalitas sebagai praksis profetik yang menuntut keadilan, belas kasih, dan integritas moral. Implikasinya, gereja masa kini dipanggil untuk menata ulang ibadah dan persekutuan sebagai ruang perjumpaan iman yang autentik dan bertanggung jawab secara etis di tengah budaya religius yang semakin performatif di era digital
Kepemimpinan feminis yang memulihkan di masa duka: Suksesor gembala perempuan Gereja-gereja Pentakostal di Indonesia
This study explores the dynamics of female leadership succession in Indonesian Pentecostal churches, particularly when pastors\u27 wives automatically inherit leadership roles after their husbands\u27 deaths. Using a narrative qualitative approach framed by feminist hermeneutics and trauma theology, this study examines the experiences of female leaders who are survivors, employing the conceptual frameworks of Holy Saturday and Middle Spirit from Shelly Rambo, as well as the Table Principle and Community of Hospitality from Letty Russell. The findings show that the logic of structural inheritance often overlooks the spiritual-emotional healing needs of grieving leaders, thereby reproducing suffering rather than fostering healing. This study affirms that restorative feminist leadership requires the church to suspend the functionalistic logic of succession, provide space for hospitality, and uphold gender justice as fidelity to the work of the Holy Spirit in forming authentic and transformative leadership.
Abstrak
Penelitian ini mengeksplorasi dinamika suksesi kepemimpinan perempuan dalam Gereja-gereja Pentakostal Indonesia, khususnya ketika istri gembala secara otomatis mewarisi peran kepemimpinan pasca-kematian suaminya. Melalui pendekatan kualitatif naratif yang dibingkai her-meneutika feminis dan teologi trauma, penelitian ini membaca pengalaman para pemimpin perempuan penyintas dengan kerangka konseptual Holy Saturday dan Middle Spirit dari Shelly Rambo, serta Table Principle dan Community of Hospitality dari Letty Russell. Temuan menunjukkan bahwa logika pewarisan struktural kerap mengabaikan kebutuhan pemulihan spiritual-emosional pemimpin yang berduka, sehingga gereja justru menjadi aktor reproduksi penderitaan alih-alih komunitas penyembuh. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan feminis yang memulihkan menuntut gereja menunda logika fungsionalistik suksesi, memberi ruang hospitalitas, dan menegakkan keadilan gender sebagai kesetiaan pada karya Roh Kudus dalam membentuk kepemimpinan yang otentik dan transformatif