Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Trauma dan rekonsiliasi: Peran gereja bagi perjuangan pemulihan penyintas tragedi kekerasan di indonesia
One way to reconcile is by acknowledging violence or crime incidents. Recognition of this tragedy, apart from opening the public\u27s eyes to the events that occurred, is also a form of acceptance for the survivors who experienced it. Revealing the facts about incidents of violence in public spaces becomes a path for further struggle, an effort to tell the truth to create forgiveness, justice, and peace. However, practically, this recognition takes work to realize. This difficulty occurs because people tend to want to forget and cover up the violent events; secondly, there is a connection with specific political policies, making recognition challenging to realize. In situations like this, recovery and reconciliation are tough to achieve. Using Soe Tjen Marching\u27s narrative experience, this paper will discuss the church\u27s role in public space to provide a place for narrative and confession for the violent events that occurred and for the survivors of the tragedy. AbstrakSalah satu jalan bagi terciptanya rekonsiliasi adalah adanya pengakuan terhadap peristiwa kekerasan atau kejahatan. Pengakuan atas tragedi tersebut, selain untuk membuka mata publik atas peristiwa yang terjadi, juga sebagai bentuk penerimaan bagi para penyintas yang mengalaminya. Pembukaan fakta atas peristiwa kekerasan di ruang publik menjadi jalan bagi perjuangan selanjutnya; usaha untuk membuka kebenaran demi terciptanya pengampunan, keadilan, dan perdamaian. Akan tetapi, dalam tataran praktis, pengakuan tersebut tidak mudah diwujudkan. Kesulitan ini terjadi karena pertama, orang cenderung ingin melu-pakan dan menutupi peristiwa kekerasan yang terjadi; kedua, adanya persinggungan dengan kebijakan politis tertentu yang membuat pengakuan tidak mudah diwujudkan. Dalam situasi seperti ini, pemulihan dan rekonsiliasi tidak mudah untuk diwujudkan. Dengan memakai narasi pengalaman dari Soe Tjen Marching, makalah ini akan membahas peran gereja di ruang publik untuk memberi tempat bagi narasi dan pengakuan; atas peristiwa kekerasan yang terjadi dan bagi para penyintas atas tragedi tersebut
Kerapuhan pada kayu salib: Sebuah refleksi spiritualitas pelayanan terhadap kaum disabilitas di Gereja Toraja
This article is backgrounded by concern for groups of people with disabilities who sometimes do not receive optimal services in the church. This situation makes them seem marginalized from other congregation members, while church services greatly influence the quality of the congregation\u27s faith growth, including people with disabilities. This article aims to show the theological construction of spirituality serving people with disabilities through the narrative of fragility on the cross. The method used is interpretive descriptive analysis, based on a literature study regarding the narrative of the cross of Christ from various references and observations in several Toraja churches related to services for people with disabilities. The narrative of the cross shows that Christ\u27s humanity was unable to escape suffering until death. The appreciation of the cross, which shows Christ\u27s disability, is an expression of the fragility that He embraced in love so that through it, the spirituality of serving people with disabilities can be built and developed.AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kelompok penyandang disabilitas yang kadangkala tidak mendapatkan pelayanan secara maksimal di gereja. Situasi tersebut membuat mereka seolah tersisihkan dari anggota jemaat yang lain, sementara pelayanan gereja sangat memengaruhi kualitas pertumbuhan iman jemaat, termasuk kaum disabilitas. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan konstruksi teologis tentang spiritualitas melayani kaum disabilitas melalui narasi kerapuhan pada kayu salib. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif interpretatif, berbasis pada kajian literatur tentang narasi salib Kristus dari beragam referensi dan observasi pada beberapa Geraja Toraja terkait pelayanan terhadap penyandang disabilitas. Narasi kayu salib memperlihatkan kemanusiaan Kristus tidak mampu melepaskan diri dari penderitaan hingga kematian. Penghayatan pada kayu salib yang memperlihatkan ketidakmampuan Kristus merupakan ekspresi kerapuhan yang direngkuh-Nya dalam cinta, sehingga melaluinya spiritualitas melayani kaum disabilitas dapat dibangun dan dikembangkan
Trinitas, tondi, dan ekologi: Dialog konstruktif ekologis konsep tondi dalam kosmologi Batak dan Trinitas Panenteisme Jurgen Moltmann
Forest destruction in Indonesia is mainly caused by illegal logging, forest and land fires, mining activities, forest conversion into large-scale plantations or industrial plant forests, and unsustainable logging. Before Christianity came, the Batak people in North Sumatra respected the forest because it was considered a place where Tondi (Spirit) existed. Forests cannot be encroached on arbitrarily just for the greed of a group of people. This article aims to construct a constructive dialogue with the concept of tondi in Batak cosmology with the Trinitarian theology of panentheism. The research results show that the Christian Panentheism Trinity can build an understanding of the tondi Batak community that is more ecologically and environmentally friendly.
Abstrak
Kerusakan hutan di Indonesia terutama disebabkan oleh penebangan liar (illegal logging), kebakaran hutan dan lahan, kegiatan penambangan, peralihan fungsi hutan (konversi) menjadi perkebunan skala besar atau hutan tanaman industri, dan penebangan tidak lestari (unsustainable logging). Sebelum masuknya Kekristenan, masyarakat Batak di Sumatera Utara sangat menghormati hutan karena dianggap sebagai tempat hadirnya tondi (Roh). Hutan tidak dapat dirambah secara sewenang-wenang hanya demi keserakahan sekelompok orang. Artikel ini bertujuan untuk melakukan dialog secara konstruktif konsep tondi dalam kosmologi Batak dengan gagasan teologi Trinitas panenteisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan Trinitas panenteisme Kristiani dapat mengonstruksi pemahaman tentang tondi masyarakat Batak yang lebih ekologis dan ramah lingkungan
Pendidikan kristiani bagi komunitas iman di tengah krisis kepercayaan antaranggota
A crisis of trust between members is one of the struggles of faith communities. This struggle must slowly be overcome and transformed into congregational unity. This effort can be carried out by educating congregations built through Christian education in faith communities. This effort is carried out by mapping the crisis of trust between members into congregational unity, church positions increasing congregational unity, and Christian education in the faith community. This step uses library research methods on related books and journals. The research results show that educating the congregation can be one of the steps that can be taken to overcome the crisis of trust that occurs in faith communities. However, this process is carried out from a conceptual perspective so that I open up space for readers or that further research can produce empirical tests of my proposed ideas. AbstrakKrisis kepercayaan antaranggota merupakan salah satu pergumulan komunitas iman. Pergumulan ini perlahan harus diatasi dan ditransformasi menjadi kesatuan jemaat. Saya mengusulkan upaya ini dapat dilakukan melalui mendidik jemaat yang dibangun melalui pendidikan kristiani dalam komunitas iman. Upaya ini dikerjakan dengan melibatkan pemetaan mentransformasi krisis kepercayaan antaranggota menjadi kesatuan jemaat, jabatan gereja mendongkrak kesatuan jemaat, PK dalam komunitas iman. Langkah ini dikerjakan dengan menggunakan metode penelitian pustaka terhadap buku dna jurnal yang berkaitan dengan itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mendidik jemaat bisa menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh guna mengatasi krisis kepercayaan yang terjadi di komunitas iman. Meski demikian, saya menyadari bahwa proses ini dikerjakan dari segi konseptual sehingga saya membuka ruang pembaca atau penelitian selanjutnya dapat menghasilkan pengujian empiris terhadap gagasan yang sudah saya usulkan
Fenomena narsis beragama di media sosial: Sebuah analisis-reflektif Matius 6:1
Sometimes social media is used to insult and attack people who do not share the same faith or religion and spiritual understanding through religious narcissism. This article explains the meaning of Jesus\u27 warning in Matthew 6:1 regarding religious activities as God\u27s people\u27s efforts to reject the phenomenon of religious narcissism on social media. Through the exegetical study method, the principle contained in Matthew 6:1 is not showing off and seeking human praise in carrying out religious or pious activities. Social media is an opportunity to show the existence of a believer\u27s faith to bring others to repentance, not a place to show off piety.  AbstrakTerkadang media sosial digunakan untuk menghina dan menyerang orang yang tidak memiliki keyakinan atau agama serta pemahaman spiritual yang sama melalui perilaku narsisme beragama. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna teguran Yesus dalam Matius 6:1 tentang kegiatan agama sebagai upaya umat Tuhan menolak fenomena narsisme beragama di media sosial. Melalui metode studi hermeneutik, prinsip yang terkandung dalam Matius 6:1 adalah tidak pamer dan mencari pujian manusia dalam melakukan kegiatan agama atau kesalehan. Pada dasarnya, media sosial merupakan peluang untuk menunjukkan eksistensi iman orang percaya untuk membawa orang lain kepada pertobatan, bukan ajang pamer kesalehan
Paralelisme Yanus dalam Habakuk 3: Pendekatan analisis semantik dan struktur
Ancient Near Eastern poetry has a different style from poetry known in Indonesia. One distinctive style of Semitic poetry is the style known as Parallelismus Membrorum. Among this type of parallelism, there is a very distinctive style of Parallelism, which in the mid-20th century was known as Janus parallelism. This paper reviews some of the Janus Parallelism in one of the Hebrew books, the book of the prophet Habakkuk, chapter 3. This paper uses a method of structure and semantics analysis of poetry. By knowing this type of Janus Parallelism, it is expected that translators of Hebrew poetry, in particular, and Semitic poetry, in general, should be careful because it turns out that in Semitic poetry, there is a literary style of this Semitic poem. AbstrakPuisi Timur Tengah Kuna memiliki gaya yang berbeda dengan puisi yang dikenal di Indonesia. Salah satu gaya khas puisi Semit adalah gaya yang dikenal dengan Parallelismus Membrorum. Di antara jenis paralelisme ini, ada satu gaya paralelisme yang sangat khas, yang pada pertengahan abad ke-20 ini ditemukan yang dikenal dengan istilah teknis paralelisme Yanus. Makalah ini mengulas beberapa paralelisme Yanus pada salah satu kitab Ibrani, yaitu kitab nabi Habakuk pasal 3. Makalah ini memakai metode analisa struktur puisi dan semantis. Dengan mengetahui jenis paralelisme Yanus ini, maka diharapkan para penerjemah puisi Ibrani pada khususnya dan puisi rumpun Semit pada umumnya harus berhati-hati, karena ternyata dalam puisi Semit terdapat gaya sastra puisi
Dari relasi menuju partisipasi: Sebuah teologi keterhisaban identitas manusia ke dalam imago Dei pada konteks autisme
This article, focusing on the theology of belongingness, centers its concern on the discriminatory interpretation of the theology of imago Dei towards individuals living with autism. Superficially, our understanding of the theology of imago Dei (image of God) legitimizes human identity as perfect creations due to their resemblance to God. Therefore, individuals living with autism are often considered outside the realm of imago Dei identity due to their limitations in physical, cognitive, and social functions. This article aims to elucidate the complexity of human identity, emphasizing that humans cannot be comprehended solely based on their physical, cognitive, and social functions. To achieve this goal, through a constructive theological approach, this article presents the participative theology of imago Dei as the fourth model of imago Dei theology, following the functional, substantial, and relational models. Ultimately, this article formulates a participative theology of imago Dei that guides us to comprehend humans\u27 belongingness within the Imago Dei fully. Thus, we understand the essence of humanity as unrestricted by any capability reference, providing an equal space for individuals living with autism. AbstrakArtikel yang berfokus pada teologi keterhisaban (theology of belongingness) ini mendasarkan persoalannya pada pemaknaan teologi imago Dei yang diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan autisme. Secara dangkal, teologi imago Dei (gambar Allah) kita pahami guna melegitimasi identitas manusia sebagai ciptaan yang sempurna karena kesegambarannya dengan Allah. Itulah sebabnya, orang yang hidup dengan autisme dianggap tidak termasuk ciptaan yang menggambarkan identitas Imago Dei karena keterbatasan fungsi fisik, kognitif, dan sosialnya. Tujuan artikel ini adalah untuk memaparkan tentang kompleksitas identitas manusia sehingga manusia tidak dapat dipahami hanya berdasarkan fungsi dan substansi fisik, kognitif, juga sosialnya. Untuk mencapai tujuan itu, melalui pendekatan teologi konstruktif, artikel ini menawarkan teologi imago Dei partisipatif sebagai model keempat teologi imago Dei, setelah model fungsional, substansial, dan relasional. Pada akhirnya, artikel ini menghasilkan teologi imago Dei model partisipatif yang menuntun kita memahami tentang keterhisaban manusia secara penuh ke dalam Sang Imago Dei. Dengan demikian, kita memahami hakikat manusia secara utuh yang tidak terikat pada acuan kemampuan apapun, sehingga ada ruang perimaan yang sama bagi orang yang hidup dengan autisme
Gereja sebagai administrator misi keadilan sosial: Sebuah panggilan misional holistik Pentakostal
This research aims to show the holistic mission of the Pentecostal perspective, which departs from the Christian concept of holistic mission, namely Missio Dei, where God initiates the mission. The trinitarian framework of sending becomes a biblical philosophical foundation for understanding the Christian mission centered on God rather than the church, a shift from an ecclesiocentric mission to a theocentric mission. The church\u27s place is important as the administrator of God\u27s work in the world. The method used is descriptive qualitative with a library research approach, which brings the concept of holistic Christian mission, in general, closer to the potential of Pentecostal pneumatic spirituality. Suppose the Pentecostal movement can continue to realize the potential of a friendly pneumatic spirituality (hospitality) and embrace all of creation. In that case, that solid mission drive will enable Pentecostals to present the church as an administrator of social justice. AbstrakTujuan dari penelitian ini untuk menunjukkan misi holistik perspektif Pentakostal yang bertolak dari konsep misi holistik Kristen, yakni Missio Dei, di mana Allah sebagai inisiator misi. Kerangka pengutusan trinitarian menjadi fondasi filosofis alkitabiah untuk memahami misi Kristen yang berpusat pada Allah ketimbang gereja, sebuah pergeseran dari ecclesiocentric mission ke theocentric mission. Tempat gereja menjadi penting sebagai administrator dari pekerjaan Allah di dunia. Metode yang dipergunakan adalah kualitif deskriptif dengan pendekatan library research yang mendekatkan konsep misi holistik Kristen pada umumnya dengan pontensi spritualitas pneumatik Pentakostal. Jika gerakan Pentakostal dapat terus menyadari akan potensi spiritualitas pneumatik yang ramah (hospitalitas) dan merangkul semua ciptaan, maka dorongan misi yang kuat itu memungkinkan orang-orang Pentakostal mampu menghadirkan gereja sebagai administrator keadilan sosial.Â
Perempuan melawan: Tafsir terhadap ratu Wasti dan dewi Drupadi dalam perspektif feminis
In a patriarchal society, women are often positioned as weak beings and must be controlled by men in almost all fields. Women themselves believe that this is their position and accept unfair treatment without being able to protest or fight back. This research aims to explore Drupadi and Vashti\u27s resistance to exploiting their bodies by using qualitative research methods with literature studies. As for interpretation, I used the cross-textual hermeneutic method. Women\u27s bodies belong to women themselves; therefore, women must dare to reclaim authority over their bodies. The resistance carried out by Drupadi and Vashti will inspire women to liberate themselves from the shackles of oppression and experience liberation.  AbstrakDalam kehidupan masyarakat patriarkhi, perempuan sering diposisikan sebagai makhluk yang lemah dan harus dikontrol oleh laki-laki hampir dalam segala bidang. Perempuan sendiri percaya bahwa posisi mereka memang demikian dan menerima perlakuan yang tidak adil tanpa mampu untuk protes atau melawan. Penelitian ini bertujuan menelusuri bagaimana perlawanan Drupadi dan Wasti akan eksploitasi terhadap tubuh mereka dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi literatur. Sedangkan untuk tafsir saya menggunakan metode cross textual hermeneutic. Tubuh perempuan adalah milik perempuan sendiri karena itu perempuan harus berani merebut kembali otoritas terhadap tubuh mereka. Perlawanan yang dilakukan oleh Drupadi dan Wasti akan memberikan inspirasi bagi kaum perempuan untuk membebaskan diri dari belenggu penindasan dan mengalami pembebasan. Â
Ekofeminisme Batak Toba: Pembacaan lintas tekstual Kejadian 1 dan kosmologi si Boru Deang Parujar
Ecofeminism positions women and nature as having a strong passion so that the suffering experienced by nature as a result of global multi-systems is also women\u27s suffering. Efforts to achieve gender and ecological justice are usually carried out by Western feminists who focus on liberal, radical, and socialist models of feminism, which do not always seem to be relevant to contexts in other parts of the world, especially Indonesia. Related to this, this research aims to construct contextual ecofeminist ideas for Batak Toba women in Tapanuli whose nature is being injured. This research uses a cross-textual hermeneutic approach to dialogue Genesis 1 with the cosmological myth Si Boru Deang Parujar. The results of constructive dialogue show no hierarchical domination between men, women, and nature. The order of creation is only realized when humans and nature can live in harmony and harmony. Batak Toba women are the "owners" of the land and the mothers of all creatures living there.AbstrakEkofeminisme memosisikan perempuan dan alam memiliki keterikatan yang kuat, sehingga penderitaan yang dialami oleh alam akibat multi-sistem global merupakan penderitaan perempuan juga. Upaya untuk mendapatkan keadilan gender dan ekologi biasanya dilakukan kaum feminisme Barat berkutat dengan model feminisme liberal, radikal, dan sosialis tampaknya tidak selalu mengena dengan konteks di belahan dunia lain, khususnya Indonesia. Terkait dengan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah mengonstruksi gagasan ekofeminis yang kontekstual bagi perempuan Batak Toba di Tapanuli yang alamnya sedang terluka. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika lintas tekstual untuk mendialogkan Kejadian 1 dengan mite kosmologi Si Boru Deang Parujar. Hasil dialog konstruktif menunjukkan bahwa tidak ada dominasi hirearkis antara laki-laki, perempuan, dan alam. Keteraturan ciptaan hanya terwujud ketika manusia dan alam dapat hidup selaras dan harmoni. Perempuan Batak Toba adalah “pemilik†tanah dan ibu dari segala makhluk yang hidup di atas tanah