Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Philosophy of Nemui Nyimah as an Indonesian pedagogic value of theology for disability
This study aims to carry the local philosophical value of Indonesian culture, Nemui Nyimah, as the value of theology for disability. Religious institutions’ inability to provide hospitality for people with disabilities creates a social gap in society. The incapability of religious institutions is due to psychological and economic aspects. This situation makes it a heavy burden for religious institutions to increase the well-being of those with disabilities and to provide facilities for them. As a society leaves the job of accepting disabilities at the religious institution’s door, it constructs the inability of it. Through the sociology of religion approach, this research brings up the emic perspective of the problem. The core problem is analyzed and presented logically and systematically through critical thinking by assessing the literature. The result of this study is to convey the local culture, Nemui Nyimah, as a theological value of life, solidarity, hope, hospitality, and economic justice for disability. The conclusion is that the culture of Nemui Nyimah constructs theology for disability through the cosmological value of accepting with the open arms of a church as Christ accepts the failures
Kemajemukan Indonesia menurut ajaran Gereja Protestan Maluku dalam perpekstif teologi agama-agama
Plurality, including religious plurality in Indonesia, is an indisputable reality. Many conflicts based on religious plurality still occur in Indonesia today, and all religions in Indonesia must be responsible for them. This article aims to review the religious plurality concept as the face of Indonesia in the form of the Maluku Protestant Church??"s dogma, as a responsibility of the Maluku Protestant Church in contributing to the development of Indonesia. This research uses a content analysis method of the Maluku Protestant Church??"s dogma, with the thoughts of the theology of religions as a basis. This research found 26 (twenty-six) articles about plurality, namely how the Maluku Protestant Church sees other faiths. Based on the objectives of this study, it can be concluded that the belief in Tuhan Yang Maha Kuasa, who works in all the realities of Indonesia, must become a common belief of all religions, including the Maluku Protestant Church, to become a common foothold in building interfaith relations towards beyond pluralism as a theological formulation of religions that is appropriate and relevant to the current context. AbstrakKemajemukan termasuk kemajemukan agama di Indonesia merupakan kenyataan yang tak terbantahkan. Banyak konflik bertemakan kemajemukan agama yang masih terjadi di Indonesia hingga kini, dan semua agama di Indonesia harus bertanggungjawab atasnya. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kemajemukan agama sebagai wajah Indonesia dalam Ajaran Gereja Protestan Maluku, sebagai wujud tanggungjawab Gereja Protestan Maluku dalam berkontribusi bagi perkembangan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi terhadap Ajaran Gereja Protestan Maluku, dengan teologi agama-agama sebagai pijakannya. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 26 (dua puluh enam) artikel tentang kemajemukan yakni cara Gereja Protestan Maluku melihat agama-agama lain. Berdasarkan tujuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa yang adalah Tuhan yang bekerja dalam seluruh realitas Indonesia harus menjadi keyakinan bersama semua agama, termasuk Gereja Protestan Maluku. Hal ini agar menjadi pijakan bersama dalam membangun hubungan antar agama menuju beyond pluralism atau melampaui kemajemukan sebagai rumusan teologi agama-agama yang tepat dan relevan dengan konteks masa kini.
Pendidikan kristiani dan spiritualitas merawat ciptaan: Sebuah pendekatan dalam membangun sikap peduli satwa langka
Hunting, killing, and trafficking of wildlife are crimes against nature that are a global issue. Even though there are wildlife protection laws and regulations stipulated in international law and Law Number 5 of 1990 concerning Natural Resources Conservation, as well as the church\u27s efforts to teach and nurture its congregation to protect and preserve God\u27s creation, the impact is still not significant due to problems human morals. This research aims to formulate a Christian education approach to building public awareness of care for endangered animals. The method used is qualitative research with a case study approach, with the Evangelical Christian Church in Minahasa (GMIM) as one of the pioneers of collaboration with the non-governmental organization "Save the Yaki" to socialize the importance of conservation and protection of endangered animals. We conclude that Christian education can be a construction of a spirituality of caring for creation, through which an attitude of caring for endangered animals can be established.AbstrakPerburuan, pembunuhan, dan perdagangan satwa liar adalah kejahatan terhadap satwa liar yang menjadi isu global. Meskipun telah ada undang-undang dan regulasi perlindungan satwa liar yang ditetapkan dalam hukum internasional dan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam serta upaya gereja untuk mengajarkan dan memelihara jemaatnya agar melindungi dan melestarikan ciptaan Tuhan, dampaknya masih belum signifikan karena masalah moral manusia. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pendekatan pendidikan kristiani dalam membangun kesadaran masyarakat untuk peduli pada satwa langka. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) sebagai salah satu pelopor kerjasama dengan organisasi non-pemerintah "Selamatkan Yaki" untuk mensosialisasikan pentingnya konservasi dan perlindungan satwa langka. Kami menyimpulkan bahwa pendidikan kristiani dapat menjadi konstruksi spiritualitas merawat ciptaan, yang melaluinya sikap peduli satwa langka dapat dibangun
Pembelajaran berbasis semiotika bagi kecerdasan spiritual anak dalam konteks keluarga Kristen Toraja
The struggle to educate children spiritually cannot be separated from the question, is learning carried out effectively in various ways, or is it burdensome? There are many ways to achieve educational goals, from changing the curriculum. However, something that is sometimes forgotten is the study of semiotics, which is related to signs, where these signs have meaning and can be understood. In the Toraja context, many signs are generally understood, whether in symbols or poetry, which are generally understood in terms of their meaning and purpose. If it is related to spirituality, then this sign, which is generally understood, is related to beliefs in life, values, and rules adhered to by the Torajan people. This research aims to develop children\u27s spirituality by analyzing the symbols in Tana Toraja based on learning Deuteronomy 6:4-9. Semiotics-based learning is very effective and interesting because it does not require children to memorize or force them to understand learning with new concepts but with symbols that are ingrained, both verbal and non-verbal. The results of this research can also be a reference for learning in developing spiritual intelligence globally because symbols are so close to everyone in various regions and countries. AbstrakPergumulan dalam mencerdaskan anak secara spiritual tidak terlepas dari pertanyaan, apakah pembelajaran itu terlaksanakan secara efektif dengan berbagai cara, ataukah justru membebani? Banyak cara yang ditempuh untuk sampain pada tujuan pendidikan yang dimulai dari perubahan kurikulum. Namun, hal yang terkadang dilupakan adalah pembelajaran semiotika, yang berkaitan dengan tanda, di mana tanda tersebut memiliki makna dan dapat dimengerti. Dalam konteks Toraja, banyak tanda yang dipahami secara umum baik itu berupa simbol, mau-pun syair, yang kemudian dipahami secara umum baik makna maupun tujuannya. Jika dikaitkan dengan spiritualitas, maka tanda yang secara umum dipahami ini berkaitan dengan kepercayaan atas nilai-nilai kehidu-pan maupun aturan yang dianut oleh orang Toraja. Penelitian ini bertu-juan untuk mengembangkan spiritualitas anak dengan menganalisis sim-bol-simbol yang ada di Tana Toraja berdasar pada pembelajaran Ulangan 6:4-9. Pembelajaran berbasis semiotika sangatlah efektif dan menarik karena tidak menuntut anak untuk menghafal ataupun memaksa mema-hami pembelajaran dengan konsep yang baru, melainkan dengan simbol-simbol yang telah mendarah daging, baik secara verbal maupun non-verbal. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan pembelajaran dalam mencerdaskan spiritual secara global oleh karena simbol begitu dekat dengan setiap orang di berbagai daerah maupun negara
Matrimonium sacramentum: Hakikat pernikahan Kristen sebagai refleksi kesatuan Kristus dengan gereja dan implikasinya terhadap indissolubilitas pernikahan
This study explores the sacramental nature of Christian marriage as a reflection of Christ\u27s union with the Church and its implications for marital indissolubility. Through theological-systematic analysis of biblical, patristic, scholastic, and magisterial sources, this research demonstrates that the indissolubility of marriage is not merely an external juridical norm but an ontological consequence flowing from marriage\u27s sacramental structure. The study identifies four key findings: the biblical-patristic foundation establishes marriage within salvation history; the sacramental structure reveals marriage as res et sacramentum with permanent ontological character; indissolubility emerges as an intrinsic property reflecting the irrevocable covenant between Christ and the Church; and contemporary pastoral challenges require balanced approaches maintaining doctrinal integrity while demonstrating ecclesial compassion. This research contributes to theological discourse by offering an integrated synthesis that bridges the gap between sacramental theology and pastoral praxis, particularly addressing irregular situations without compromising doctrinal principles.
Abstrak
Penelitian ini mengeksplorasi hakikat sakramental pernikahan Kristen sebagai refleksi kesatuan Kristus dengan Gereja serta implikasinya terhadap indissolubilitas pernikahan. Melalui analisis teologis-sistematis terhadap sumber-sumber biblika, patristik, skolastik, dan magisterial, riset ini mendemonstrasikan bahwa indissolubilitas pernikahan bukan sekadar norma yuridis eksternal melainkan konsekuensi ontologis yang mengalir dari struktur sakramental pernikahan. Studi mengidentifikasi empat temuan kunci, yakni: fondasi biblika-patristik menempatkan pernikahan dalam sejarah keselamatan; struktur sakramental mengungkapkan pernikahan sebagai res et sacramentum dengan karakter ontologis permanen; indissolubilitas muncul sebagai properti intrinsik yang merefleksikan perjanjian tak terbatalkan antara Kristus dan Gereja; tantangan pastoral kontemporer memerlukan pendekatan seimbang yang mempertahankan integritas doktrinal sambil menunjukkan belas kasihan eklesial. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus teologis dengan menawarkan sintesis terintegrasi yang menjembatani kesenjangan antara teologi sakramental dan praksis pastoral, khususnya dalam menangani situasi irregular tanpa mengompromikan prinsip doktrinal
Redemptoris missio: Menyeimbangkan strategi misi dan pelayanan kepada kaum miskin dalam misi Paulus
BNKP Church in Pekanbaru City faces challenges in prioritizing evangelism and social service missions amidst urbanization and economic pressures. Church services focus more on physical development and categorical programs, while the evangelism mission program has not been implemented optimally. This study elaborates on the tentmaking model as a solution to overcome this gap, referring to the strategy of the Apostle Paul in the Acts of the Apostles. Through a qualitative approach and in-depth literature study, as well as participant observation in Gereja BNKP Pekanbaru City, the findings show that the tentmaking model allows church leaders to be directly involved in secular work, create more authentic connections with the local community, and carry out missions sustainably without relying on external support. As a result, this strategy is relevant and applicable to strengthening evangelism and congregation empowerment services in an urban context.
Abstrak
Gereja BNKP Kota Pekanbaru menghadapi tantangan dalam memprioritaskan misi penginjilan dan pelayanan sosial di tengah dinamika urbanisasi dan tekanan ekonomi. Pelayanan gereja lebih terfokus pada pengembangan fisik dan program kategorial, sementara program misi penginjilan belum terlaksana secara optimal. Kajian ini mengelaborasi model tentmaking sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan tersebut, merujuk pada strategi Rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul. Melalui pendekatan kualitatif dan studi literatur yang mendalam, serta observasi partisipatif di Gereja BNKP Kota Pekanbaru, temuan menunjukkan bahwa model tentmaking memungkinkan pemimpin gereja untuk terlibat langsung dalam pekerjaan sekuler, menciptakan koneksi yang lebih otentik dengan masyarakat setempat, dan menjalankan misi secara berkelanjutan tanpa bergantung pada dukungan eksternal. Hasilnya, strategi ini bukan hanya relevan tetapi juga aplikatif untuk memperkuat pelayanan penginjilan dan pemberdayaan jemaat dalam konteks urban
Penggembalaan spiral: Memetakan tantangan penggembalaan di era posmodern melalui refleksi naratif perempuan Siro-Fenisia
The practice of pastoral is required to be able to follow and respond to the dynamics of developments that have reached the postmodern era. There is a tendency in the postmodern era to present a post-truth reality, where many things are contrary to the values of the Christian faith. This study aims to descriptively stimulate pastoral needs in the postmodern era through identified challenges. This study uses descriptive-analysis methods and narrative analogies on the text Mark 7:24-30. The study results show a pattern of priorities in serving practices; This is analogous to the practice of grazing. By using the analogy of service that gives priority, spiral shepherding is an offer that needs to be actualized in Christian shepherding in the postmodern era. AbstrakDunia penggembalaan dituntut agar dapat mengikuti sekaligus merespons dinamika perkembangan zaman yang telah sampai pada era posmodern. Ada kecenderungan era posmodern menghadirkan realitas post-truth, di mana banyak hal yang bertentangan dengan nilai-nilai iman kristiani. Kajian ini bertujuan untuk menstimulasi secara deskriptif kebu-tuhan penggembalaan di era posmodern melalui tantangan yang diidenti-fikasi. Kajian ini menggunakan metode analisis-deskriptif dan analogi naratif pada teks Markus 7:24-30. Hasil kajian memperlihatkan adanya pola prioritas pada praktik melayani; hal ini yang dianalogikan pada praktik penggembalaan. Dengan menggunakan analogi pelayanan yang memberikan prioritas, maka penggembalaan spiral menjadi tawaran yang perlu diaktualisasikan dalam penggembalaan kristiani di era posmodern. Â
Utilizing narratives to promote gender equality in the classroom
Sexism is an ongoing issue which happens in many layers of the society, including educational institution such as school. Students witness and experience sexism in daily life may it be inside or outside the school and it may affect them negatively. Students should be guided and facilitated to be aware of sexism as well as to understand gender equality between men and women and its importance. This paper uses descriptive qualitative method to dig deeper about the existence of sexism at school and narrative as a tool to promote gender equality to students. The result shows that there are various forms of sexism that may happen in school and students should be guided to be aware of those sexism forms. Narrative can be an effective tool to promote gender equality to students because it is easier to comprehend, fun, engaging, relatable, and is able to shape people??"s worldviews. For future studies, it is recommended to dig deeper about how effective can narrative be used to promote gender equality. To get a comprehensive evaluation, the analysis of the usage should consider teachers\u27 cultural backgrounds and gender-issues knowledge
Polisentris perkembangan Pentakostalisme: Sebuah kajian retrospektif dari gereja abad kuno hingga pertengahan
Pentecostals are multiplying in quantity due to the socio-cultural context in which they grow. This development occurred in the Southern part of the world, namely Latin America, Africa, and Asia. The World South displays a unique and different Pentecostal spirituality from the 1906 Azusa Street incident. This difference provokes a search for the roots of Pentecostalism besides Azusa Street. That is why a polycentric approach is needed in tracing the history of the Pentecostal church. This study aims to examine Azusa Street retrospectively from ancient to medieval churches. The research method used is qualitative with a historical approach. The study results show that a spirituality similar to Pentecostalism has spanned from ancient to medieval church history practiced by certain groups and people. However, their influence to become the beginning of the classical Pentecostalism movement was not decisive because the praxis shown did not have a significant effect and did not shake the social life of the community where their spirituality was born. In conclusion, the differences in the praxis of Pentecostalism in Latin America, Africa, and Asia show other roots outside Azusa Street. AbstrakKaum Pentakostal berkembang dengan sangat cepat dalam kuantitas karena konteks sosial-budaya dimana mereka bertumbuh. Perkembangan ini terjadi di dunia bagian Selatan, yaitu Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Dunia Selatan menampilkan spiritualitas Pentakostal yang unik dan berbeda dengan peristiwa Azusa Street 1906. Perbedaan ini memancing penelusuran mengenai akar-akar Pentakostalisme selain Azusa Street. Itu sebabnya, diperlukan pendekatan polisentris dalam menelusuri sejarah gereja Pentakostal. Penelitian ini bertujuan mengkaji retrospektif Azusa Street dari gereja abad kuno hingga abad pertengahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas yang mirip dengan Pentakostalisme telah terbentang dari sejarah gereja abad kuno hingga pertengahan yang dipraktikkan oleh kelompok dan orang tertentu. Namun, pengaruh mereka untuk menjadi awal pergerakan Pentakostalisme klasik tidak kuat karena praksis yang ditunjukkan tidak berpengaruh besar dan tidak mengguncang kehidupan sosial masyarakat tempat spiritualitas mereka lahir. Kesimpulannya, perbedaan praksis Pentakostalisme di Amerika Latin, Afrika, dan Asia menunjukkan bahwa terdapat akar-akar lain di luar Azusa Street
Fungsi pendampingan pastoral pada ritual kematian: Sebuah perspektif sosiologis-teologis pada budaya suku Dayak Ngaju
Losing a family member is integral to human life. Losses due to death are the biggest crisis for humanity. The event of death makes people feel lost and lonely in the depths of this relationship and experience emotional wounds that must be healed. This research aims to describe the meaning of the death ritual of Tantulak Ambun Rutas Matei from the Dayak Ngaju tribe. Using descriptive analysis methods, this research reveals that the ritual symbolically reunites the wife/husband and children of the dead person into life with a new status and role in society, where after the purification process, they are freed from all bad luck or evil influences. as a result of death and are brought back to a normal state of life after the ritual is carried out. This ritual also helps grieving people so that their grieving process goes well. Through good pastoral care, we can help bereaved family members obtain emotional and spiritual relief and complete their grief process well. AbstrakKehilangan anggota keluarga merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Kerugian akibat kematian merupakan krisis terbesar bagi umat manusia. Peristiwa kematian membuat orang merasa tersesat dan kesepian dalam kedalaman relasional tersebut, serta mengalami luka emosional yang harus disembuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ritual kematian Tantulak Ambun Rutas Matei dari suku Dayak Ngaju. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif, penelitian ini mengungkapkan bahwa ritual tersebut secara simbolis menyatukan kembali istri/suami dan anak dari orang yang mati ke dalam kehidupan dengan status dan peran yang baru di masyarakat, yang setelah proses penyucian, mereka dibebaskan dari segala sial atau pengaruh buruk akibat kematian, dan dibawa kembali ke dalam keadaan kehidupan yang normal setelah ritual dilaksanakan. Ritual ini juga menolong orang berdukacita agar proses dukacitanya berjalan dengan baik. Melalui pendampingan pastoral yang baik, menolong anggota keluarga yang berduka untuk memperoleh kelegaan secara emosional dan spiritual, serta dapat menyelesaikan proses dukacitanya dengan baik pul