Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Biarkan tubuhmu bergerak: Memahami tubuh melalui pemberlakuan gestur dalam Ibadah Minggu GPIB
This article contains field research on the experiences of liturgists in involving their bodies through communal and personal body gestures in the liturgy, the meaning of these gestures, and understanding of the body through movements carried out in one of the GPIB churches in Depok. The research used a descriptive-qualitative method with observation instruments at three weekly worship schedules for one month and semi-structured interviews with liturgical practitioners encountered throughout the observation. The interview focused on three themes: the liturgist\u27s interpretation of communal bodily gestures, the liturgist\u27s experience of personal gestures and the meaning attached to these gestures, and the liturgist\u27s understanding of the body, which is born from the experience of liturgy. The results of this research show the types of bodily involvement in the GPIB liturgy, both in the form of communal and personal gestures, as well as their meaning, the significance of the application of physical gestures in worship and a picture, in a limited way, of how members of the GPIB congregation understand the body. It is hoped that the results of this research will ultimately be a consideration for Calvinist churches to start giving more significant space to applying bodily gestures, especially personal gestures, as a form of liturgical language. AbstrakArtikel ini memuat penelitian lapangan tentang pengalaman para pelaku liturgi dalam melibatkan tubuh mereka melalui gestur tubuh komunal dan personal dalam liturgi, pemaknaan terhadap gestur-gestur tersebut, serta pemahaman tentang tubuh melalui gerakan yang dilakukan di salah satu gereja GPIB di Kota Depok. Penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan instrumen observasi pada tiga kali jadwal ibadah di setiap minggu dalam satu bulan, serta wawancara semi terstruktur kepada para pelaku liturgi yang dijumpai sepanjang observasi. Wawancara berfokus pada tiga tema, yaitu interpretasi pelaku liturgi ter-hadap gestur tubuh komunal, pengalaman pelaku liturgi dalam gestur personal serta pemaknaan yang dilekatkan pada gestur tersebut, dan pemahaman pelaku liturgi mengenai tubuh yang lahir dari pengalaman berliturgi. Hasil dari penelitian ini menampilkan jenis-jenis keterlibatan tubuh dalam liturgi GPIB, baik dalam bentuk gestur komunal maupun personal, serta pemaknaannya, signifikansi pemberlakuan gestur tubuh dalam ibadah serta gambaran, secara terbatas, tentang bagaimana warga jemaat GPIB memahami tubuh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah pertimbangan bagi gereja-gereja Calvinis untuk mulai memberi ruang yang lebih besar pada pemberlakuan gestur tubuh, khususnya gestur-gestur personal, sebagai salah satu bahasa liturgis
From Mentorship to Mastery: Investigating Paul\u27s method for lay leadership formation in the early church
The article aims is to shed light on the process of regenerating the laity into church-serving lay leaders. This article constitutes a literature review employing a qualitative approach to explore 2 Timothy 2:2, focusing on trustworthy, capable, and committed lay leadership as successors of truth. This analysis involves reading and interpreting the text 2 Timothy 2:2 while referencing relevant literature on Christian leadership and applying Paul\u27s model of lay leadership to Timothy, aiming to contribute to developing a pattern of lay leadership for contemporary churches. This article examines the concept of lay leadership, emphasizing the leader\u27s ability to inspire and motivate lay individuals to develop their potential and become future leaders. It underscores the importance of setting a positive example, building trust, and empowering followers to achieve change. This article employs this theory to explain how Paul mentored Timothy into a competent congregational leader for the Lord. According to the findings, Paul used a laity leadership approach to prepare Timothy for leadership in the early Christian church. He demonstrated leadership by emulating the life and attitude of the Lord Jesus. He instructed him of faith, duty, and ministry, entrusted him with ministry and leadership responsibilities, and encouraged him to be independent and mature in his leadership. Paul developed Timothy\u27s leadership potential and prepared him to lead the Lord\u27s congregation through this process. The conclusion emphasises the significance of transformative leadership in developing lay leaders who can effectively serve the church.Â
Berteologi yang humanis: Membangun spiritualitas kesetaraan di antara perbedaan pandangan teologis
The phenomenon of theology in the digital space has shown a worrying escalation, where pastors, theologians, or those who call themselves apologists tend to be condescending; they often label each other "heretics." This article aims to share the concept of humanist theology by building a spirituality of equality rooted in the life of the Triune God. Using a literature study approach, through the results of previous research on equality in church and theology, it was found that the church must imitate the life of the Triune God and live it in theology. This study concludes that the spirituality of doing church built on the life of the Triune God makes the church a container of humanity, so in theology, it must be in a humanizing or humanist corridor.
Abstrak
Fenomena berteologi di ruang digital telah menunjukkan sebuah eskalasi yang memprihatinkan, di mana secara gamblang pendeta, teolog, atau mereka yang menyebut diri sebagai apologet cenderung bersikap yang merendahkan; tidak jarang mereka saling memberi label "sesat" terhadap sesama. Artikel ini bertujuan untuk membagikan konsep berteologi yang humanis dengan membangun spiritualitas kesetaraan yang berakar pada kehidupan Allah Trinitas. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, melalui hasil riset sebelumnya tentang kesetaraan dalam bergereja dan teologi, maka didapati bahwa gereja harus mengimitasi kehidupan Allah Trinitas dan menghidupinya dalam berteologi. Simpulan penelitian ini, bahwa spiritualitas menggereja yang dibangun pada kehidupan Allah Trinitas menjadikan gereja wadah kemanusiaan, sehingga dalam berteologi harus berada pada koridor yang memanusikan atau humanis
Mengembangkan praktik moderasi beragama melalui hospitalitas berbasis iman: Sebuah tawaran model menggereja pada pembacaan Ibrani 13:2
Amidst Indonesia\u27s pluralistic yet friction-prone religious landscape, the idea of religious moderation is crucial. This article presents a theological and practical model for the church to make substantive contributions to this agenda. Building on an exegetical-hermeneutical reading of Hebrews 13:2, this article argues that the practice of hospitality toward "strangers" is central to Christian faith identity and can be translated into a "churching model" that promotes religious moderation. Using qualitative literature studies, this article discusses the theological foundations of hospitality, connects them with the pillars of religious moderation, formulates a dialogical and diaconal model of churching, and identifies its practical implications and challenges. The result is a contextual ecclesiology that transforms the church from an inward-focused entity into an embracing community that provides grace to others, regardless of differences in religious identity.
Abstrak
Di tengah lanskap keagamaan Indonesia yang plural namun rentan terhadap friksi, gagasan moderasi beragama menjadi krusial. Artikel ini menawarkan sebuah model teologis-praktis bagi gereja untuk berkontribusi secara substantif dalam agenda tersebut. Berangkat dari pembacaan eksegetis-hermeneutis terhadap Ibrani 13:2, artikel ini berargumen bahwa praksis hospitalitas (keramahan) terhadap "orang asing" merupakan inti dari identitas iman Kristen yang dapat diterjemahkan menjadi sebuah "model menggereja" yang promotif terhadap moderasi beragama. Dengan menggunakan metode kualitatif studi literatur, artikel ini mendiskusikan landasan teologis hospitalitas, mengkoneksikannya dengan pilar-pilar moderasi beragama, merumuskan sebuah model menggereja yang dialogis dan diakonis, serta mengidentifikasi implikasi praktis maupun tantangannya. Hasilnya adalah sebuah tawaran eklesiologi kontekstual yang mentransformasikan gereja dari entitas yang berfokus ke dalam menjadi komunitas yang merangkul dan menjadi rahmat bagi sesama, terlepas dari perbedaan identitas keagamaan
Rekonstruksi karakter remaja yang terdampak negatif budaya ma’pasilaga tedong melalui pendekatan teologi spiritualitas Simon Chan
This research aims to see how the character of teenagers is negatively impacted by Ma\u27pasilaga Tedong culture. The research method uses a qualitative approach with interviews, observation, and content analysis. This research proposes an approach to reconstructing adolescent character through the application of character education with Simon Chan\u27s spirituality theology approach. Chan\u27s principles, which emphasize a deep understanding of sin, human nature, and the integration of Christian doctrine with spirituality, can guide youth toward spiritual growth and character following religious values. The research results show that what initially had a positive value in strengthening cultural identity and community solidarity, its implementation has developed into the practice of gambling and hurts adolescent morality and religiosity. However, the character of teenagers can be built again by providing a deep understanding of sin, vulnerable human nature, and the need to build spiritual values to avoid the negative impacts of the Ma\u27pasilaga Tedong culture.
Abstrak
Penelitian Ini bertujuan untuk melihat bagaimana karakter remaja yang terdampak negatif dari budaya Ma\u27pasilaga Tedong. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara, observasi, dan analisis konten. Penelitian ini mengusulkan pendekatan rekonstruksi karakter remaja melalui penerapan pendidikan karakter dengan pendekatan teologi spiritualitas Simon Chan. Prinsip-prinsip Chan, yang menekankan pemahaman mendalam tentang dosa, sifat manusia, dan integrasi antara doktrin Kristen dengan spiritualitas dapat membimbing remaja menuju pertumbuhan spiritual dan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa yang awalnya memiliki nilai positif dalam memperkuat identitas budaya dan solidaritas masyarakat, implementasinya telah berkembang menjadi praktik perjudian dan berdampak negatif terhadap moralitas dan religiositas remaja. Namun, Karakter remaja kembali dapat dibangun dengan memberikan pemahaman yang mendalam tentang dosa, sifat manusia yang rentan, dan perlunya membangun nilai spiritualitas agar terhindar dari dampak negatif dari budaya Ma\u27pasilaga Tedong
Perempuan, keheningan, dan otoritas: Emendasi konjektural atas ajaran Paulus dalam 1 Korintus 14:33b-35 dan implikasinya bagi perempuan Pentakostal
This research aims to understand the origins of the verse 1 Corinthians 14:33b-35, which is often used to limit the role of women in ecclesiastical ministry, as well as its implications for Pentecostal women. Using a qualitative approach and conjectural emendation methods, this research explores how the text has been understood and interpreted in the context of Pentecostal churches, which are often more accepting of women\u27s leadership roles than other denominations. This research shows that the interpretation and application of 1 Corinthians 14:33-35 varies, influenced by cultural and historical contexts and contemporary debates regarding conjectural emendation. The research results highlight that this verse may be a later interpolation inconsistent with Paul\u27s other teachings that support women\u27s active role in the church, including their role in prayer and prophecy. These findings indicate the importance of revisiting these texts in their social and rhetorical context to reveal a more inclusive view of the role of women in the church, potentially changing the practice and theology of contemporary Pentecostal churches to be more inclusive. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami asal usul ayat 1 Korintus 14:33b-35 yang sering digunakan untuk membatasi peranan perempuan dalam pelayanan gerejawi, serta implikasinya bagi perempuan Pentakostal. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode emendasi konjektural, penelitian ini menggali bagaimana teks tersebut telah dipahami dan ditafsirkan dalam konteks gereja Pentakostal, yang sering kali lebih menerima peran kepemimpinan perempuan dibandingkan denominasi lain. Penelitian ini menunjukkan bahwa interpretasi dan penerapan 1 Korintus 14:33-35 bervariasi, dipengaruhi oleh konteks budaya dan sejarah serta debat kontemporer mengenai emendasi konjektural. Hasil penelitian menyoroti bahwa ayat tersebut mungkin merupakan interpolasi belakangan yang tidak konsisten dengan ajaran Paulus lainnya yang lebih mendukung peran aktif perempuan dalam gereja, termasuk peran mereka dalam berdoa dan bernubuat. Temuan ini mengindikasikan pentingnya meninjau kembali teks-teks tersebut dalam konteks sosial dan retoris mereka untuk mengungkap pandangan yang lebih inklusif tentang peran perempuan dalam gereja, yang berpotensi mengubah praktik dan teologi gereja Pentakostal kontemporer menjadi lebih inklusif
Pedagogi ale tuyu: Konstruksi tradisi manganan sebagai alternatif wadah pendidikan kristiani dalam keluarga
The Manganan Ale Tuyu tradition in Lembang Ma’dong, North Toraja, is a cultural practice rich in Christian educational values but is often only seen from an economic perspective. This study explores the potential of this tradition as a means of character education and Christian values in families. Using a qualitative approach with ethnographic methods, data were collected through participatory observation and in-depth interviews with community leaders, Ale Tuyu mat craftsmen, religious leaders, and family members. The study results show that the Manganan tradition teaches hard work, patience, cooperation, and creativity and strengthens family relationships through shared activities. Based on The Traditioning Model of Education: Continuity and Change by Mary Elizabeth Mullino Moore, this tradition can integrate the values of the past, present, and future, creating wise and critical individuals. Thus, the Manganan Ale Tuyu tradition maintains local cultural values and becomes a practical and relevant educational tool in modern life.
Abstrak
Tradisi Manganan Ale Tuyu di Lembang Ma’dong, Toraja Utara, adalah praktik budaya yang kaya akan nilai-nilai pendidikan Kristiani, namun seringkali hanya dilihat dari sisi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi tradisi ini sebagai sarana pendidikan karakter dan nilai-nilai Kristiani dalam keluarga. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pengrajin tikar Ale Tuyu, pemuka agama, dan anggota keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Manganan mengajarkan kerja keras, kesabaran, gotong-royong, dan kreativitas, serta memperkuat hubungan keluarga melalui kegiatan bersama. Berdasarkan The Traditioning Model of Education: Continuity and Change oleh Mary Elizabeth Mullino Moore, tradisi ini mampu mengintegrasikan nilai-nilai masa lalu, masa kini, dan masa depan, menciptakan personal yang bijaksana dan kritis. Dengan demikian, tradisi Manganan Ale Tuyu tidak hanya mempertahankan nilai budaya lokal tetapi juga menjadi alat pendidikan yang efektif dan relevan dalam konteks kehidupan modern
Kesia-siaan yang penuh makna: Kajian etis terhadap kata hebel dalam kitab Pengkhotbah
The Book of Ecclesiastes presents a skeptical and somber reflection on human existence. The term vanity serves as a central theme for Qohelet in expressing the outcomes of his existential inquiry. But what exactly does vanity mean in this context? This article examines the concept of futility from an ethical perspective, aiming to clarify common misunderstandings of the term. Uncertainties beyond our control mark human life; thus, vanity becomes a key concept for understanding how humans might transcend the world\u27s absurdity. Ultimately, Ecclesiastes invites its readers to contemplate what it means to live rightly as creations of God.
Abstrak
manusia di dunia. Kesia-siaan menjadi kata kunci bagi Qõhelet dalam menyajikan hasil pergumulannya sebagai manusia. Lantas, apa yang dimaksud dari kesia-siaan? Artikel ini akan mendalami terminologi kesia-siaan dengan menggunakan lensa etis, untuk menghindari kekeliruan pemahaman tentang kesia-siaan. Manusia hidup di dalam ketidak-pastian yang berada di luar kontrol dirinya, sehingga kesia-siaan adalah kunci utama bagi manusia untuk melampaui ke-absurd-an duniawi. Kitab Pengkhotbah mendorong pembacanya untuk merenungkan kembali, bagaimana menjalani kehidupan yang sepantasnya sebagai ciptaan Allah
Mengenakan mahkota berduri: Kepemimpinan kristiani dalam kerangka etika partisipatif
Christian leadership can be understood as bearing a crown of thorns. The ecclesiastical office is not a throne or the pinnacle of church life, but an uncomfortable cross. An ecclesiastical leader must be willing and able to participate in Christ\u27s divine work and sufferings. Just as Christ became incarnate to encompass all humanity within Himself, so too must ecclesiastical leaders embrace each member of every faith community. Christian leadership is not merely a model to emulate or a role to perform, but an ethical response demanded of those called and chosen. It is the lived realization of participation in the divine work revealed through the person of Christ.
Abstrak
Kepemimpinan kristiani dapat diandaikan sebagai tindakan untuk mengenakan mahkota berduri. Jabatan gerejawi bukan sebuah takhta dan menjadi puncak dalam kehidupan bergereja. Justru, jabatan gerejawi adalah salib yang sangat tidak enak. Seorang pemimpin gerejawi harus mau dan mampu mengambil bagian ke dalam karya ilahi dan penderitaan Kristus. Sebagaimana Kristus berinkarnasi untuk merengkuh seluruh manusia ke dalam diri-Nya, begitu pula para pemimpin gerejawi harus merangkul setiap pribadi di dalam komunitas iman. Kepemimpinan kristiani bukan sebuah model yang harus dituju atau dilakukan, melainkan sebuah tanggapan etis yang selayaknya dilakukan oleh mereka yang telah dipanggil dan dipilih. Kepemimpinan kristiani adalah wujud nyata dari partisipasi ke dalam karya ilahi yang diwahyukan melalui pribadi Kristus
Konstruksi teologis-pedagogis moderasi beragama: Upaya pendidikan tinggi teologi mendorong moderasi di era digital
This research raises the issue of the challenges of implementing religious moderation in theological higher education in the digital era, with the locus of the Theological College of the Kalimantan Evangelical Church (STT GKE) in Banjarmasin. The research aims to explore how STT GKE implements and promotes religious moderation through curriculum and student activities, taking into account the challenges and opportunities of the digital era. The method used was a qualitative approach with a case study, using in-depth interviews and document analysis. The results showed that STT GKE has integrated the values of religious moderation into the curriculum, student activities, and interfaith collaboration, although it still faces challenges in implementation in the digital era. Finally, this study concludes that theological higher education, such as STT GKE, can play an important role in shaping a generation of religious leaders who are ready to promote moderation in an increasingly digitally connected world. We recommend increased investment in digital capacity building and closer collaboration between theological higher education institutions and interfaith communities to strengthen networks of tolerance and mutual understanding in the digital age.
Abstrak
Penelitian ini mengangkat masalah tantangan implementasi moderasi beragama di pendidikan tinggi teologi dalam era digital, dengan lokus Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE) di Banjarmasin. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi bagaimana STT GKE mengimplementasikan dan mempromosikan moderasi beragama melalui kurikulum dan kegiatan mahasiswa, dengan memperhatikan tantangan dan peluang era digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, menggunakan wawancara mendalam dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa STT GKE telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam kurikulum, kegiatan mahasiswa, dan kolaborasi lintas agama, meskipun masih menghadapi tantangan dalam implementasi di era digital. Akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan tinggi teologi, seperti STT GKE, dapat memainkan peran penting dalam membentuk generasi pemimpin agama yang siap mempromosikan moderasi dalam dunia yang semakin terkoneksi secara digital. Kami merekomendasikan peningkatan investasi dalam pengembangan kapasitas digital dan kolaborasi yang lebih erat antara institusi pendidikan tinggi teologi dengan komunitas lintas agama untuk memperkuat jaringan toleransi dan pemahaman bersama di era digital