Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Kepemimpinan dan pendidikan yang berkelanjutan: Sebuah konstruksi pendidikan kristiani dalam dialektika teologi dan kearifan lokal Batak Toba
This research examines the construction of Christian education through the dialectic between theology and Toba Batak local wisdom in the context of sustainable leadership and education. Using qualitative library research methods, this study analyzes how the principles of servant leadership from Christian theology can be integrated with dalihan na tolu philosophy as a foundation for sustainable Christian education. The results show that dalihan na tolu values such as reciprocity, harmony, and social justice have significant theological relevance to sustainable education development. The integration of Christian theological perspectives with Batak Toba cultural wisdom creates a contextual educational model that is responsive to local identity while maintaining universal Christian values. This research contributes to the development of contextual theology in Indonesia, particularly in formulating sustainable Christian education that is rooted in local wisdom while oriented toward Education for Sustainable Development (ESD) goals.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji konstruksi pendidikan Kristiani melalui dialektika antara teologi dan kearifan lokal Batak Toba dalam konteks kepemimpinan dan pendidikan yang berkelanjutan. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan kualitatif, kajian ini menganalisis bagaimana prinsip-prinsip kepemimpinan melayani dari teologi Kristen dapat diintegrasikan dengan falsafah dalihan na tolu sebagai landasan pendidikan Kristiani yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai dalihan na tolu seperti resiprokalitas, harmoni, dan keadilan sosial memiliki relevansi teologis yang signifikan terhadap pengembangan pendidikan berkelanjutan. Integrasi perspektif teologis Kristen dengan kearifan budaya Batak Toba menciptakan model pendidikan kontekstual yang responsif terhadap identitas lokal sekaligus mempertahankan nilai-nilai universal Kristen. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan teologi kontekstual di Indonesia, khususnya dalam merumuskan pendidikan Kristiani yang berkelanjutan, berakar pada kearifan lokal, sekaligus berorientasi pada tujuan Education for Sustainable Development (ESD)
Merayakan harmoni ilahi dalam pembacaan Mazmur 133: Refleksi Teologi Pentakostal-Karismatik
This article offers a theological idea about religious harmony in both the Christian environment and the context of inter-religious relations. This idea responds to the outbreak of conflicts among religious adherents, both within the church and in relations with adherents of other religions. These conflicts often end in anarchic and sadistic behavior in the name of religion. Using a literature analysis method that refers to several previous research results on similar topics, this study shows the need to build harmony starting from within the church. The reading of Psalm 133 is an offer that concludes this research, that reflection on this verse can make a spirit that creates harmony in the body of Christ and, of course, in relations between Christians and other religions.
Abstrak
Artikel ini menawarkan sebuah gagasan teologis tentang harmonisasi kehidupan beragama, baik di dalam lingkungan kekristenan maupun dalam konteks relasi antarumat beragama. Gagasan ini merespons merebaknya konflik yang terjadi di antara para pemeluk agama, baik di lingkungan gereja maupun hubungannya dengan pemeluk agama lain. Konflik tersebut tidak jarang berujung pada perilaku anarkis hingga sadis yang mengatasnamakan agama. Dengan menggunakan metode analisis literatur yang merujuk dari beberapa hasil riset terdahulu dengan topik serupa, penelitian ini memperlihatkan perlunya membangun harmonisasi yang dimulai dari dalam gereja. Pembacaan Mazmur 133 menjadi tawaran yang menyimpulkan riset ini, bahwa refleksi atas nas ini dapat mengonstruksi spirit yang membangun harmoni dalam tubuh Kristus, dan niscaya pada relasi antara umat kristiani dan agama lainnya.
Polidoksi, polipati, dan polipraksis di dalam hidup menggereja yang elastis
Beranjak dari realitas pemisahan teologi, spiritualitas, dan praksis, artikel ini ingin menegaskan pentingnya reintegrasi ketiganya melalui sebuah modifikasi atas model integrasi teologi-spiritualitas yang disebut model poros-roda, yang diusulkan oleh Philip Sheldrake. Artikel ini berargumen bahwa reintegrasi teologi, spiritualitas, dan praksis sebagai tiga dimensi iman yang komunal mengandaikan sebuah model gereja sebagai menggereja-elastis, yang di dalamnya ketiga dimensi tersebut bertumbuh dalam multiplisitas sebagai polidoksi, polipati, dan polipraksis. Cara berpikir “poli†yang diusulkan merupakan alternatif bagi dikotomi “ortho†versus “hetero†yang selama ini dihidupi oleh gereja
Keadilan sebagai imparsialitas koheren dalam tradisi penghapusan utang bangsa Yahudi: Proses dialektika trilateral bersama John Rawls dan Amartya Sen
Justice is one of the fundamental issues in human life. This fact has placed the issue of justice as one of the essential goals fought for in various dimensions of human life. One form of effort to fight for justice is establishing the tradition of debt forgiveness in the history of the Jewish people. Dialectically, the concept of justice in the debt forgiveness tradition is the most progressive and proportional compared to John Rawls and Amartya Sen\u27s idea of justice. This concept of justice is referred to as coherent impartiality. The notion of justice as coherent impartiality has four principles that become its primary foundation. The four principles are the principle of local wisdom, the principle of proportional participation, the principle of procedure, and the teleological principle. These four principles become the basic principles of justice in the concept of coherent impartiality that can bridge the gap between the concepts of justice of closed impartiality and open impartiality based on the context of Jewish life. Justice as coherent impartiality emphasizes the balance between universal and contextual values of justice.
Abstrak
Keadilan merupakan salah satu persoalan mendasar dalam kehidupan umat manusia. Fakta tersebut telah menempatkan persoalan keadilan sebagai salah satu tujuan penting yang diperjuangkan dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Salah satu bentuk usaha untuk memperjuangkan keadilan adalah pembentukan tradisi penghapusan utang dalam sejarah bangsa Yahudi. Jika dipercakapkan secara dialektis, konsep keadilan dalam tradisi penghapusan utang merupakan konsep keadilan yang paling progresif dan proporsional daripada konsep keadilan John Rawls dan Amartya Sen. Konsep keadilan ini disebut sebagai imparsialitas koheren. Konsep keadilan sebagai imparsialitas koheren memiliki empat prinsip yang menjadi fondasi utamanya. Empat prinsip tersebut yakni prinsip kearifan lokal, prinsip partisipan proporsional, prinsip prosedur, dan prinsip teleologis. Keempat prinsip itu menjadi prinsip dasar keadilan dalam konsep imparsialitas koheren yang dapat menjembatani kesenjangan antara konsep keadilan imparsialitas tertutup dan imparsialitas terbuka berdasarkan konteks kehidupan bangsa Yahudi. Keadilan sebagai imparsialitas koheren menekankan keseimbangan antara nilai-nilai keadilan yang bersifat universal dan kontekstual.
Pendampingan pastoral yang memberdayakan bagi para perempuan Papalele
Papalele women face a difficult situation in pursuing their efforts to improve their quality of life from just trading to meeting their daily needs amidst intense competition in the economic sector by developing their physical, mental, spiritual, economic, social, and cultural advantages. Therefore, resources for empowering women small traders are needed and sought through the concept of empowering pastoral care. This article aims to construct empowering pastoral care based on the elaboration of the idea of pastoral care according to Emmanuel Yartekwey Lartey and cosmology, as well as the meaning of life of Papalele women by referring to the views of experts. The qualitative research in this paper uses descriptive analysis with literature study and observation data collection techniques. The findings in this research are that the concept of pastoral care with a theological approach and Lartey\u27s pastoral care can be a theological source for empowering women small traders, especially Papalele women. AbstrakPara perempuan papalele menghadapi situasi yang sukar dalam menekuni usaha mereka demi meningkatkan kualitas hidup dari sekadar berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kompetisi yang ketat dalam bidang ekonomi, dengan mengembangkan berbagai kelebihan yang mereka miliki secara fisik, mental, spiritual, ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh sebab itu, sumber-sumber pemberdayaan kaum perempuan pedagang kecil diperlukan dan diupayakan melalui konsep pendampingan pastoral yang memberdayakan. Artikel ini bertujuan untuk mengkonstruksi sebuah pendampingan pastoral yang memberdayakan berdasarkan elaborasi antara gagasan pendampingan pastoral menurut Emmanuel Yartekwey Lartey dan kosmologi, juga pemaknaan hidup para perempuan papalele tersebut dengan mengacu pada pandangan para ahli. Jenis penelitian kualitatif dalam tulisan ini menggunakan analisis deskriptif dengan teknik pengumpulan data studi literatur dan observasi. Temuan dalam penelitian ini adalah, konsep pendampingan pastoral dengan pendekatan teologi dan pendampingan pastoral Lartey dapat menjadi sumber teologi bagi pemberdayaan kaum perempuan pedagang kecil, khususnya para perempuan papalele
Religious and sustainability: Studi integrasi antara pentakostalisme, populisme, dan politik
As part of the world community, Pentecostals must consider their role in achieving the Sustainable Development Goals (SDGs). This role must be carried out in various aspects, including socio-political with a populism approach to unify the identity of Pentecostalism. This research integrates Pentecostalism, politics, and populism to achieve sustainable development. The research method used is descriptive qualitative with a constructive theological approach. The research results show that Pentecostalism populism in politics has a cheerful face in efforts to achieve sustainability. The universalism of the Sustainable Development Goals (SDGs) must be combined with a more internal view and involve the Pentecostal community in the struggle for hegemony over the concept of sustainable development. Populism, which often mobilizes support through emotional issues and religious identity, can be integrated with sustainability strategies through religious communities providing spiritual and moral support. Integration between Pentecostalism, populism, and politics to achieve effective and inclusive sustainable development while recognizing the challenges and need for adaptation in the face of global social, political, and economic change. AbstrakPentakostal sebagai bagian dalam masyarakat dunia ditantang untuk memikirkan peranannya dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Peranan tersebut mesti dilakukan dalam berbagai aspek, termasuk sosial-politik dengan pendekatan populisme sebagai sarana pemersatu identitas Pentakostalisme. Tujuan penelitian ini adalah mengintegrasikan antara Pentakostalisme, politik, dan populis sebagai sarana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populisme Pentakostalisme dalam politik berwajah positif dalam upaya mencapai sustainability. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB harus dipadukan dengan pandangan yang lebih internal dan melibatkan komunitas Pentakostal dalam perjuangan mendukung dan menolak hegemoni atas konsep pembangunan berkelanjutan. Populisme, yang seringkali memobilisasi dukungan melalui isu-isu emosional dan identitas religius, dapat diintegrasikan dengan strategi keberlanjutan melalui komunitas agama yang menyediakan dukungan spiritual dan moral. Integrasi antara Pentakostalisme, populisme, dan politik sebagai sarana untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang efektif dan inklusif, sambil mengakui tantangan dan kebutuhan adaptasi dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan ekonomi global
Revitalisasi filsafat eksistensialisme Kristen dalam manajemen pendidikan kristiani: Merancang sistem pembelajaran yang resilien dan bermakna
Christian education in Indonesia faces excellent challenges in responding to rapid social, cultural, and technological changes. This research uses the literature method to explore the application of Christian Existentialism Philosophy, based on the thoughts of Søren Kierkegaard and Jean-Paul Sartre, in a more reflective, authentic, and resilient Christian education management. This research consists of three steps: critical analysis of the results-oriented educational paradigm, study of existentialism, and development of an academic management model. The results show that the overly rigid and result-oriented model of Christian education ignores critical existential and spiritual dimensions. Integrating existentialism principles can help create a more inclusive, dialogical, and responsive educational management of the local context. Moreover, by incorporating reflective approaches, authentic experiences, and community engagement, Christian education can be more adaptive in shaping students\u27 characters with integrity, insight, and ability to face global challenges. The model also underscores the importance of collaboration between schools, churches, and families in building a holistic and transformative educational ecosystem.
Abstrak
Pendidikan Kristen di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam merespons perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang cepat. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan untuk mengeksplorasi penerapan Filsafat Eksistensialisme Kristen, berdasarkan pemikiran Søren Kierkegaard dan Jean-Paul Sartre, dalam manajemen pendidikan Kristen yang lebih reflektif, otentik, dan resilien. Penelitian ini terdiri dari tiga langkah: analisis kritis terhadap paradigma pendidikan yang berorientasi hasil, kajian konsep eksistensialisme, dan pengembangan model manajemen pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pendidikan Kristen yang terlalu kaku dan berorientasi pada hasil mengabaikan dimensi eksistensial dan spiritual yang penting. Integrasi prinsip-prinsip eksistensialisme dapat membantu menciptakan manajemen pendidikan yang lebih inklusif, dialogis, dan responsif terhadap konteks lokal. Selain itu, dengan menggabungkan pendekatan reflektif, pengalaman otentik, dan keterlibatan komunitas, pendidikan Kristen dapat lebih adaptif dalam membentuk karakter siswa yang berintegritas, berwawasan luas, dan mampu menghadapi tantangan global. Model ini juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara sekolah, gereja, dan keluarga untuk membangun ekosistem pendidikan yang holistik dan transformatif
Rekonsiliasi gender dalam bingkai imago Dei: Sebuah fase dalam diskursus kesetaraan gender
This article is a study based on the discussion of gender equality. In the discussion of equality, the topic of equality has become a mode of struggle for women who have felt discriminated against by practices based on scriptural interpretations based on patriarchal culture. The tendency of the struggle for equality tends to be a transition of domination as if there is a spirit of resistance to male domination. This research aims to show the existence of a phase in the gender equality discourse that has been skipped, namely gender reconciliation. Using the descriptive-interpretative analysis method of related research literature, it is found that the discourse of gender equality is not a struggle of women to fight against male domination but a common struggle, men and women, because gender equality is rooted in the understanding of imago Dei.
Abstrak
Artikel ini merupakan kajian yang berlatar belakang pada dis-kusi kesetaraan gender. Dalam perbincangan kesetaraan tersebut, topik kesetaraan menjadi modus dalam perjuangan kaum perempuan yang selama ini merasa didiskriminasi oleh prakti yang dilandaskan pada tafsir kitab suci yang berbasis pada budaya patriarki. Kecenderungan perjuangan kesetaraan tersebut cenderung menjadi peralihan dominasi, seolah ada spirit perlawanan terhadap dominasi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan adanya fase dalam diskursus kesetaraan gender, yang selama ini terlewati, yakni rekonsiliasi gender. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif-interpretatif atas literatur hasil riset terkait, didapatkan bahwa diskursus kesetaraan gender bukanlah sebuah perjuangan kaum perempuan, melakukan perlawanan terhadap dominasi laki-laki, melainkan perjuangan bersama, laki-laki dan perempuan, karena kesetaraan gender berakar pada pemahaman imago Dei
Keterlibatan perempuan Kristen dalam politik praktis dan gaya kepemimpinan: Sebuah perspektif teologi feminis
The year 2024 is the year of democracy. In addition to direct presidential elections, legislative elections are held at the Regency, City, Provincial, and Central levels. One aspect that needs attention in consolidating Indonesian democracy is gender equality in political life. After the 2019 elections, gender inequality still exists in Indonesia\u27s political constellation. This can be seen from the unideal number of female parliamentarians. Then, what about the involvement of Christian women in practical politics? Do they get equal political opportunities, and what are the inhibiting factors? What style of women\u27s leadership can contribute to practical politics? This issue will be reviewed from a feminist perspective to provide awareness so that more Christian women are involved in practical politics to fight for the fate of women.
Abstrak
Tahun 2024 adalah tahun pesta demokrasi. Selain diselenggara-kan pemilihan presiden secara langsung, juga pemilihan legislatif baik tingkat Kabupaten, Kota, Provinsi, dan Pusat. Salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian dalam mengkonsolidasikan demokrasi Indonesia adalah kesetaraan gender dalam kehidupan politik. Pasca Pemilu 2019, ketimpangan gender masih terjadi dengan jelas dalam konstelasi politik Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari belum idealnya jumlah anggota parlemen perempuan. Lalu, bagaimana dengan keterlibatan perempuan Kristen dalam politik praktis? Apakah mereka mendapat peluang yang sama dalam politik, dan apa yang menjadi faktor penghambatnya. Apa gaya kepemimpinan perempuan yang bisa disumbangkan dalam politik praktis? Masalah ini akan ditinjau dari perspektif feminis, dengan tujuan memberikan penyadaran agar lebih banyak kaum perempuan Kristen yang terlibat dalam politik praktis untuk memperjuangkan nasib kaum perempua
Mewujudkan pendidikan agama Kristen yang transformatif: Sinergi filsafat progresivisme dengan kurikulum merdeka
The mismatch between the principles of progressivism and educational practices in the field is a challenge in implementing the Independent Curriculum in Rote Ndao Regency. Schools often use an authoritarian approach, with minimal innovative learning media, so the learning atmosphere becomes more varied and dynamic. Teachers tend to be dominant as presenters of material rather than facilitators, which hinders experience-based learning. This study uses a descriptive qualitative method through observation, interviews, and document studies to explore the implementation of progressivism and the Independent Curriculum. The study results show that learning has been adjusted to the development of students, and teachers act as facilitators by motivating them. However, schools must still provide suggestion boxes and learning media according to student needs. For improvement, intensive training is necessary for teachers, and school policies must be strengthened to create a more inclusive and innovative learning environment.
Abstrak
Ketidaksesuaian antara prinsip progresivisme dan praktik pendidikan di lapangan menjadi tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Rote Ndao. Sekolah sering menggunakan pendekatan otoriter, dengan minimnya penggunaan media pembelajaran yang inovatif, sehingga suasana belajar menjadi monoton dan kurang dinamis. Guru cenderung dominan sebagai penyampai materi daripada fasilitator, yang menghambat pembelajaran berbasis pengalaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen untuk mengeksplorasi penerapan progresivisme dan Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran telah disesuaikan dengan perkembangan peserta didik, dan guru bertindak sebagai fasilitator dengan memotivasi mereka. Namun, sekolah belum menyediakan kotak saran dan media pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Untuk perbaikan, diperlukan pelatihan intensif bagi guru dan penguatan kebijakan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan inovatif