Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
    387 research outputs found

    Pendidikan agama Kristen deliberatif sebagai implementasi pendidikan yang membebaskan: Kajian tentang student centered learning

    Get PDF
    This study stems from the need for a more interactive and liberating approach to Christian Religious Education, adopting the Student-Centered Learning (SCL) framework, which emphasizes active student engagement, self-reflection, and the development of critical skills. This research explores the implementation and effectiveness of deliberative Christian religious education in promoting deep understanding and relevant life skills among students. The research method used is descriptive qualitative with an exegetical and expository approach to collect and analyze data in depth. The study results indicate that the SCL approach effectively increases student motivation and engagement and supports the development of independence and creativity. However, challenges such as teacher and student adaptation and limited resources require specific strategies and training to effectively implement this approach in Christian Religious Education. AbstrakPenelitian ini berangkat dari kebutuhan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan membebaskan dalam Pendidikan Agama Kristen, dengan mengadopsi kerangka Student Centered Learning (SCL) yang menekankan pada keterlibatan aktif siswa, refleksi diri, dan pengembangan keterampilan kritis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelajahi implementasi dan efektivitas pendidikan agama Kristen deliberatif dalam mempromosikan pemahaman mendalam dan keterampilan hidup yang relevan di antara siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksegetis dan eksposisi untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan SCL efektif dalam meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa/i serta mendukung pengembangan kemandirian dan kreativitas. Namun, tantangan seperti adaptasi guru dan siswa/i serta keterbatasan sumber daya memerlukan strategi dan pelatihan khusus untuk mengimplementasikan pendekatan ini secara efektif dalam konteks Pendidikan Agama Kristen

    Konstruksi moderasi beragama dalam budaya lokal: Sebuah studi tentang interaksi antarpemeluk agama di Kampung Melayu, Hutagalung, Tapanuli Utara

    No full text
    This research analyzes the interaction of Religious Moderation in Kampung Melayu, Hutagalung, Tarutung District, North Tapanuli Regency. The research used a qualitative method. The results showed that the interaction of custom, or "Dalihan Na Tolu," is thicker in maintaining inter-religious relations in Malay villages, so Christians and Muslims can coexist well. People in Malay villages can also communicate well despite having different beliefs. Communication goes well when people can carry out customs, such as parties. The party understands the situation by providing special food to Muslims. Religious tolerance in Malay Village is not created by Christians and Muslims, but has been created by itself in Malay Village, this is evident when they carry out customary activities or religious celebrations, where Christians really appreciate Islamic religious activities and vice versa Islam is the same.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa interaksi Moderasi Beragama di Kampung Melayu, Hutagalung Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi adat atau “Dalihan Na Tolu”, lebih kental dalam menjaling hubungan antar umat beragama di kampung Melayu, sehingga umat Kristen dan Islam dapat berdampingan dengan baik. Masyarkat di kampung Melayu juga dapat berkomunikasi dengan baik walaupun memiliki keyakninan berbeda. Komunikasi berjalan dengan baik ketika masyarakat dapat melaksanakan adat istiadat, misalnya pesta. Pihak yang berpesta sangat memahami situasi dengan menyediakan makanan khusus kepada umat Islam. Toleransi beragama di Kampung Melayu bukan diciptakan umat Kristen dan Islam, tetapi sudah tercipta dengan sendirinya di Kampung Melayu, ini terbukti ketika mereka melaksanakan kegiatan adat istiadat atau perayaan keagamaan, dimana umat Kristen sangat menghargai kegiatan keagamaan Islam dan sebaliknya Islam pun demikian.  

    Transisi kepemimpinan pastoral menuju emeritasi dan dinamika family enterprise dalam Gereja-gereja Pentakostal di Indonesia

    Get PDF
    This research examines the transition of pastoral leadership towards emeritation in Indonesian Pentecostal churches that face the challenge of family-based leadership inheritance. The study aims to formulate an emeritation model based on the principle of Spirit-led pneumatocratic leadership. Using a constructive approach, the research developed an integrative model through analysis of theological literature, case studies, and church governance practices. Findings show that the practice of informal inheritance weakens accountability and the quality of spiritual ministry. The emeritation model offered includes six stages: theological affirmation, strategic planning, spiritual mentoring, the empowerment of contemporary competencies, honouring emeritus pastors, and periodic evaluation. The design of this model supports the regeneration of healthy and relevant leadership through a spiritual transformation process. Thus, Indonesian Pentecostal churches can strengthen leadership regeneration while maintaining a balance between spiritual authority and public accountability.   Abstrak Penelitian ini mengkaji transisi kepemimpinan pastoral menuju emeritasi dalam Gereja-gereja Pentakostal Indonesia yang menghadapi tantangan pewarisan kepemimpinan berbasis keluarga. Tujuan penelitian adalah merumuskan model emeritasi berdasarkan prinsip kepemimpinan pneumatokratis yang dipimpin Roh Kudus. Menggunakan pendekatan konstruktif melalui analisis literatur teologis, studi kasus, dan praktik pemerintahan gereja, penelitian ini menyusun model integratif. Temuan menunjukkan praktik pewarisan informal melemahkan akuntabilitas dan kualitas pelayanan rohani. Model emeritasi yang ditawarkan mencakup enam tahap: peneguhan teologis, perencanaan strategis, mentoring spiritualitas, pemberdayaan kompetensi kontemporer, penghormatan pendeta emeritus, serta evaluasi berkala. Model ini dirancang sebagai proses transformasi rohani yang mendukung regenerasi kepemimpinan yang sehat dan relevan. Dengan demikian, Gereja-gereja Pentakostal Indonesia dapat memperkuat regenerasi kepemimpinan sambil menjaga keseimbangan antara otoritas rohani dan akuntabilitas publik

    Mental and spiritual resilience of families based on the philosophy and local wisdom of the Mapur community

    No full text
    This research examines the Mapur community in Bangka, exploring how their philosophy, local wisdom, and cultural traditions enhance their mental and spiritual resilience in the face of social, economic, and environmental changes brought about by modernization and natural resource exploitation. A qualitative case study approach was employed. Data were collected through in-depth interviews with key figures, including traditional leader Abok Gedoi, Suli, and community member Apriyatno. Participatory observation and focus group discussions (FGD) provided a collective perspective on cultural and spiritual practices. Thematic analysis was applied to identify core themes related to resilience. The findings highlight that the Mapur people rely on harmony with nature, cooperation, gender equality, and culture-based education to build mental and spiritual resilience. Traditions such as Nujuh Jerami and the Bukaladang system are crucial in fostering social cohesion and community solidarity. The study focuses on a single community, which limits the generalizability of its findings to broader populations. The study suggests practical intervention strategies, including integrating cultural values into resilience-building programs to enhance the well-being of the Mapur community. This research addresses a gap in the literature regarding the resilience of the Mapur people. It offers insights into the interplay between cultural traditions and mental and spiritual well-being, contributing to broader discussions on community resilience in indigenous populations

    Meniti jalur keadilan ekologis: Kajian etika lingkungan hidup tentang merawat alam berdasarkan ritual pangelekon

    Get PDF
    The ecological crisis is one of Indonesia\u27s concrete problems, specifically illegal logging that has an impact on the Lake Toba area, starting from the loss of forest areas that cause natural disasters, such as landslides and flash floods. This provides a real picture of the consequences of activities and actions carried out by humans on the environment. Departing from this problem, the author sees that the study of environmental ethics in conjunction with the concept of Pangelekon in Toba Batak culture seeks to offer a perspective to overcome the increasingly alarming ecological crisis. This research was conducted using the literature study research method in data collection and analysis. The results show that the encounter between environmental ethics rooted in Pangelekon values creates a conceptual foundation that excites humans as stewards to care for nature as creation. Respect for nature in the Pangelekon concept encourages humans not to be reckless and hierarchical in viewing nature as a fellow creation. Thus, the encounter between environmental ethics and Pangelekon provides a comprehensive answer, as a concept of life lived to achieve harmony between humans and nature.   Abstrak  Krisis ekologis merupakan salah satu persoalan konkret di Indo-nesia, secara khusus penebangan hutan secara liar yang memberikan dam-pak bagi kawasan Danau Toba, mulai dari, hilangnya kawasan hutan yang menyebabkan bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir bandang. Hal tersebut memberikan gambaran nyata akan konsekuensi atas aktivitas dan perbuatan yang dilakukan manusia terhadap lingkungan. Berangkat dari persoalan ini, saya melihat bahwa kajian etika lingkungan hidup yang diperjumpakan dengan konsep pangelekon dalam budaya Batak Toba me-nawarkan perspektif untuk mengatasi krisis ekologi yang semakin mem-prihatinkan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pene-litian studi pustaka dalam pengumpulan dan analisis data. Hasil peneli-tian menunjukkan bahwa perjumpaan antara etika lingkungan hidup yang berakar pada nilai-nilai pangelekon menciptakan landasan konseptual yang menggairahkan manusia sebagai penatalayan untuk merawat alam seba-gai ciptaan. Penghargaan terhadap alam dalam konsep pangelekon men-dorong manusia untuk tidak sembrono dan hierarkis dalam memandang alam sebagai sesama ciptaan. Dengan demikian, perjumpaan antara etika lingkungan hidup dan pangelekon memberikan jawaban komprehensif, sebagai sebuah konsep kehidupan yang dijalani untuk mencapai kehar-monisan antara manusia dan alam

    Pembelajaran kontekstual pendidikan agama Kristen melalui Tari Giring-Giring berbasis media audio visual

    Get PDF
    This research aims to analyze the design of a contextual learning model in Christian Religious Education by integrating Christian values through local cultural elements, namely the Giring-Giring dance. Audio-visual media in the form of Giring-Giring dance videos facilitate students\u27 understanding more concretely and contextually understanding more concretely and contextually. The literature review method was used in data collection and data analysis. The results show that implementing this learning model has a positive impact on students\u27 understanding and appreciation of Christian values. Some of the main findings of this research reveal that the use of audio-visual media in the form of Giring-Giring dance videos can increase students\u27 interest and motivation in learning Christian values. Integrating local cultural elements through Giring-Giring dance helps learners understand the connection between Christian values and real life in the surrounding environment. A contextual approach in learning facilitates learners to construct knowledge and apply Christian values more meaningfully.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rancangan model pembelajaran kontekstual dalam Pendidikan Agama Kristen dengan mengintegrasikan nilai-nilai kristiani melalui unsur budaya lokal, yaitu tari Giring-Giring. Media audio visual berupa video tari Giring-Giring digunakan untuk memfasilitasi pemahaman peserta didik secara lebih konkret dan kontekstual. Metode literature review digunakan dalam pengumpulan data maupun analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman dan penghayatan peserta didik terhadap nilai-nilai kristiani. Beberapa temuan utama dari penelitian ini mengungkapkan bahwa penggunaan media audio visual berupa video tari Giring-Giring dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik dalam mempelajari nilai-nilai kristiani. Integrasi unsur budaya lokal melalui tari Giring-Giring membantu peserta didik memahami keterkaitan antara nilai-nilai kristiani dengan kehidupan nyata di lingkungan sekitar. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran memfasilitasi peserta didik untuk mengonstruksi pengetahuan dan mengaplikasikan nilai-nilai kristiani secara lebih bermakna

    Eschatology already or not yet: Sebuah pendekatan eskatologi Pentakostal dan Marapu di Sumba Timur berdasarkan teologi pengharapan Jurgen Moltmann

    Get PDF
    Eschatology is often discussed and gives rise to much speculation about this reality. The debate of eschatology arises because it is a hope for the existence of the future and is part of the Creator\u27s plan to save creation. The Pentecostal group emphasizes eschatology on the condition of hope for future salvation, which refers to the salvation of the soul. The Marapu belief in the culture of the East Sumba people is that human life has ecological meaning. The structure of the house displays a house building that has cosmological significance. This use moves the Sumba people to treat the land and other objects as sacred objects and have eschatological content in which a sustainable creation occurs and needs to be protected. The concept of eschatology that must be maintained is an eschatological concept that is already present but has yet to be discussed with the Theology of Hope. According to Moltmann, using qualitative research methods through literary analysis shows that biblical texts never teach abandonment or reveal creation to others as an act of hope in eschatological anticipation. AbstrakEskatologi merupakan suatu pembahasan yang kerap diperbincangkan dan menimbulkan banyak spekulasi mengenai realitas tersebut. Pembahasan eskatologi muncul karena menjadi suatu pengharapan akan realitas masa depan dan menjadi bagian dari rencana penyelamatan Sang Pencipta terhadap ciptaan. Kelompok Pentakostal menekankan eskatologi pada kondisi pengharapan keselamatan yang bersifat masa depan yang merujuk pada keselamatan jiwa. Keyakinan Marapu dalam kebudayaan masyarakat Sumba Timur, kehidupan manusia memiliki makna ekologis struktur rumah yang menampilkan bangunan rumah yang bermakna kosmologis. Pemaknaan tersebut menggerakkan orang-orang Sumba untuk memperlakukan tanah dan benda-benda lainnya sebagai benda-benda sakral dan memiliki muatan eskatologis yang mana terjadinya suatu penciptaan yang berlanjut dan perlu dijaga. Konsep Eskatologi yang harus dipertahankan adalah eskatologi yang bersifat already but not yet. konsep ini dipercakapkan dengan teologi Pengharapan menurut Moltmann dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui analisa literatur. Penelitian ini menampilkan bahwa teks-teks Alkitab tidak pernah mengajarkan pengabaian atau penghancuran alam semesta sebagai tindakan pengharapan atas antisipasi eskatologi. Â

    Cara pandang hierarkis dan logika dominasi sebagai akar penyebab ketidakadilan gender dan kerusakan alam: Sebuah kritik teologi ekofeminis Kristen

    Get PDF
    In a world that is still constrained by oppression, discrimination, and violence against others, this article attempts to critically examine the hierarchical worldview and the logic of domination using a Christian ecofeminist theological perspective. This article aims to provide critical notes on several theological views that inherit or contribute to perpetuating hierarchical worldview, the logic of domination, and asymmetrical relationships, especially those that have become the basis for the oppression of women and nature. This study uses text analysis methods within the framework of a qualitative literature study to analyze and outline the core ideas of the logic of domination and the main theses of Christian ecofeminist theology to overcome the common exclusive and discriminatory theological problems. This research concludes that a hierarchical worldview and the logic of domination have become the root causes of various asymmetric exploitative relationships that have given rise to gender inequality, environmental destruction, and various other structural injustices in the world. This article encourages the emergence of collective awareness to fight for the social and ecological transformation of exploitative life structures.   Abstrak Dalam dunia yang masih terkekang oleh penindasan, diskriminasi, dan kekerasan terhadap yang lain, artikel ini mengkaji secara kritis pandangan dunia hierarkis dan logika dominasi dengan menggunakan perspektif teologis ekofeminis Kristen. Artikel ini bertujuan untuk memberikan catatan kritis atas beberapa pandangan teologis yang mewarisi ataupun ikut melanggengkan cara pandang yang hierarkis, logika dominasi, dan relasi yang asimetris dalam kehidupan bersama, teristimewa yang telah menjadi dasar penindasan terhadap perempuan dan alam. Metode yang digunakan adalah analisis teks dalam bingkai studi kualitatif literatur, menguraikan ide-ide inti logika dominasi yang melahirkan pandangan teologi yang eksklusif dan diskriminatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pandangan dunia hierarkis dan logika dominasi telah menjadi akar penyebab utama dari berbagai hubungan eksploitatif asimetris yang telah melahirkan ketidaksetaraan gender, perusakan lingkungan hidup, dan berbagai ketidakadilan struktural lainnya di dunia. Riset ini mendorong lahirnya kesadaran kolektif untuk memperjuangan transformasi sosial dan ekologis dari struktur-struktur kehidupan eksploitatif yang ada

    Spiritualitas ngelai yang partisipatif: Meningkatkan gairah pelayanan gerejawi yang relasional

    Get PDF
    Church elders, deacons, and church members are the main elements of a church and have different functions. Moreover, the church elders and deacons are ecclesiastical ministers held by elected church members. Those three are different but, at the same time, is a unity of church members. Therefore, those three should synergize in the act of service as the realization of faith in Christ. Then, how can ordained ministers and church members perform ministry action passionately, even if it has different functions? This article will interpret ngelai as the spirituality of ministry with a dimension of participation. The unity of ordained ministers and church members manifests church life character, which has a relational dimension with Christ as the axis. Ngelai is then seen as the main power of those three to do an act of ministry as a responsibility of themselves as imago Christi that seek to imitate Christ the Head of the Church. AbstrakPertua, diaken, dan warga gereja adalah unsur utama dari suatu jemaat yang memiliki fungsi berbeda-beda. Kendati demikian, pertua dan diaken adalah jabatan gerejawi yang diemban oleh warga jemaat yang terpilih. Ketiganya berbeda tetapi di saat yang bersamaan adalah kesatuan utuh dari warga gereja. Oleh karena itu, ketiganya sudah seharusnya saling bersinergi dalam tindak-pelayanan sebagai wujud dari iman kepada Kristus. Lantas, bagaimana pelayan yang tertahbis dan warga gereja dapat melakukan tindak-pelayanan dengan penuh gairah sekalipun memiliki fungsi yang berbeda? Artikel ini mencoba untuk memaknai ngelai sebagai spiritualitas pelayanan yang memiliki dimensi partisipasi. Kesatuan dari pelayan tertahbis dan warga gereja menampakkan watak kehidupan gerejawi yang relasional dengan Kristus sebagai poros. Ngelai kemudian dilihat sebagai daya utama bagi ketiganya untuk melakukan tindak-pelayanan sebagai tanggung jawab dirinya adalah imago Chirsti yang berupaya untuk meniru Kristus Sang Kepala Gereja

    Manajemen konflik dan dinamika sosial: Membangun kedewasaan sosial remaja melalui pendidikan kristiani

    Get PDF
    This study aims to analyze efforts to manage conflict effectively for Christian adolescents in dealing with social dynamics among adolescents. This study uses a descriptive method based on observations of adolescent cases in Teling Atas Village, Lingkungan 1, Manado, and a literature review that strengthens efforts to manage the social conflict of teenagers. The study\u27s results indicate that teenagers\u27 social dynamics that have the potential for conflict require the ability to manage the conflict, and teenagers have the potential to do so through social maturity. This study concludes that Christian education, which focuses on family education, has great potential to shape the social maturity of teenagers, especially Generation Z.   Abstrak Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis upaya mengelola konflik yang efektif bagi remaja Kristen dalam menghadapi dinamika sosial di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif berbasis pada observasi kasus remaja di Kelurahan Teling Atas, Lingkungan 1, Manado, dan kajian literatur yang memperkuat upaya manajemen konflik sosial remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika sosial remaja yang berpotensi pada konflik membutuhkan kemampuan dalam mengelola konflik tersebut, dan remaja memiliki potensi untuk melakukannya melalui kedewasaan sosial. Simpulan penelitian ini adalah, pendidikan kristiani, yang difokuskan pada pendidikan keluarga, sangat berpeluang untuk membentuk kedewasaan sosial remaja, khususnya Generasi Z

    319

    full texts

    387

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇