Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Not a member yet
387 research outputs found
Sort by
Green liberation theology dan kepemimpinan eko-pastoral: Konstruksi teologis gereja yang berkomitmen pada keadilan ekologis
The contemporary ecological crisis demands an integrative and transformative theological response from church leadership. This article develops a model of eco-pastoral leadership grounded in green liberation theology, a creative synthesis of liberation theology and eco-theology. Through constructive theology with hermeneutical-ecological analysis, this study shows that eco-pastoral leadership requires ecological metanoia that integrates spiritual, social, and environmental dimensions. This theological construction rests on three pillars: the amplification of green theology, sustainable practices, and advocacy for environmental justice. The result is a framework of church leadership capable of responding to the cli-mate crisis while empowering the communities most affected by environmental injustice.
Abstrak: Krisis ekologis kontemporer menuntut respons teologis yang integratif dan transformatif dari kepemimpinan gereja. Artikel ini mengonstruksi model kepemimpinan eko-pastoral berbasis green liberation theology sebagai sintesis kreatif antara teologi pembebasan dan ekoteologi. Melalui metode teologi konstruktif dengan analisis hermeneutis-ekologis, penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan eko-pastoral memerlukan ecological metanoia yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis. Konstruksi teologis ini dibangun di atas tiga pilar: amplifikasi teologi hijau, praktik berkelanjutan, dan advokasi keadilan lingkungan. Hasilnya adalah kerangka kepemimpinan gerejawi yang mampu merespons krisis iklim sekaligus memberdayakan komunitas-komunitas yang paling terdampak oleh ketidakadilan lingkungan
Relasi hostipitalitas masyarakat multikultural dan multireligi: Sebuah upaya mendaratkan moderasi beragama
Multicultural and multireligious relations in Indonesia, particularly in Minahasa, display a dual nature: hospitality and hostility. Jacques Derrida refers to this as a relationship of hospitality. The Jaton and Werdhi Agung communities are real-life examples of how relationships are built on hospitality. Still, at another level, there are relationships of power, determination, and hostility toward adherents of other religions. That is why the idea of religious moderation has emerged as an alternative to hospitality, intended to foster a more hospitable relationship. Using a descriptive qualitative analysis, this study draws on books, articles, and interviews to conclude that the concept of religious moderation offers an alternative framework for intercultural and interreligious peacemaking.
Abstrak
Relasi masyarakat multikultural dan multireligi di Indonesia, khususnya Minahasa, menampilkan hubungan yang berwajah ganda: keramahan dan permusuhan. Jacques Derrida menyebutnya sebagai relasi hostipitalitas. Komunitas masyarakat Jaton dan Werdhi Agung merupakan potret nyata bagaimana hubungan yang terbangun didasarkan pada keramahan, namun pada lapisan tertentu ada relasi kekuasaan, determinasi, dan permusuhan terhadap yang berbeda agama. Itu sebabnya, gagasan moderasi beragama hadir sebagai salah satu alternatif bagi hubungan hos-tipitalitas untuk dapat mencapai relasi yang hospitable. Dengan menggu-nakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis, penelitian ini mengguna-kan referensi buku, artikel dan wawancara, maka dapat ditarik kesimpul-an bahwa konsep moderasi beragama merupakan gagasan alternatif bagi perdamaian antara kelompok yang berbeda kultur dan agama
Theologia morae: Slow leadership sebagai spiritualitas kepemimpinan Kristiani transformatif di era akselerasi disruptif
This article proposes Theologia Morae (Theology of Slowness) as a theological-spiritual framework for transformative Christian leadership in the era of disruptive acceleration. Drawing from Hartmut Rosa\u27s social acceleration theory and Byung-Chul Han\u27s critique of the burnout society, this study diagnoses acceleration as a spiritual pathology that negates the Sabbath principle inherent in creation. The theological construction of slow leadership is built upon four foundations: theologia crucis, kenosis, pneumatology, and already-not yet eschatology. Praxis dimensions include contemplation, Sabbath as prophetic resistance, temporal hospitality, and commitment to long-term formation. Contextualized within Indonesia, this framework resonates with local wisdom traditions such as alon-alon waton kelakon, tirakat, and musyawarah. Theologia Morae argues that slowness is not weakness but an essential theological virtue for sustainable and transformative leadership.
Abstrak
Artikel ini mengusulkan Theologia Morae (Teologi Kelambatan) sebagai kerangka teologis-spiritual bagi kepemimpinan Kristiani transformatif di era akselerasi disruptif. Studi ini mendiagnosis akselerasi sebagai patologi spiritual yang menegasi prinsip Sabbath dalam tatanan ciptaan, dengan berpijak pada teori akselerasi sosial Hartmut Rosa dan kritik Byung-Chul Han terhadap masyarakat burnout. Konstruksi teologis slow leadership dibangun di atas empat fondasi: theologia crucis, kenosis, pneumatologi, dan eskatologi already-not yet. Dimensi praksis mencakup kontemplasi, Sabbath sebagai resistensi profetis, hospitalitas temporal, dan komitmen pada formasi jangka panjang. Dikontekstualisasikan dalam horizon Indonesia, kerangka ini beresonansi dengan tradisi kearifan lokal seperti alon-alon waton kelakon, tirakat, dan musyawarah. Theologia Morae berargumen bahwa kelambatan bukanlah kelemahan melainkan virtus teologis yang esensial bagi kepemimpinan yang berkelanjutan dan transformatif.
Pendidikan Kristiani dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan: Interseksionalitas pemikiran Dietrich Bonhoeffer tentang relasi sosial-ekonomi
This study examines the role of Christian education in realizing sustainable development, particularly in the socio-economic dimension re-lated to SDG 1 (No Poverty), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), and SDG 10 (Reduced Inequalities). Using an intersectional approach, this research examines the role of Christian education in shaping character, promoting economic self-reliance, and fostering social cohesion. Dietrich Bonhoeffer’s concepts of Stellvertretung (vicarious responsibility) and being-for-others serve as the theological framework to underscore the pu-blic dimension of Christian faith. The findings suggest that Christian edu-cation can serve as a transformative agent, integrating faith, practical skills, work ethics, and social solidarity. Vocational education, the empowerment of vulnerable groups, and the formation of ethical leadership establish Christian education as a strategic means of addressing inequality, struc-tural poverty, and marginalization. Accordingly, the proposed new para-digm is that sustainable development should not rely solely on economic growth but must also integrate spirituality and social justice.
Abstrak
Penelitian ini menelaah peran pendidikan Kristiani dalam me-wujudkan pembangunan berkelanjutan, khususnya pada dimensi sosial-ekonomi yang berhubungan dengan SDGs 1 (No Poverty), SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDGs 10 (Reduced Inequalities). Dengan me-nggunakan pendekatan interseksional, penelitian ini mengkaji kontribusi pendidikan Kristen dalam membentuk karakter, memperkuat kemandi-rian ekonomi, dan membangun kohesi sosial. Pemikiran Dietrich Bonhoef-fer tentang Stellvertretung (tanggung jawab perwakilan) dan being-for-others (hidup bagi orang lain) dijadikan kerangka teologis untuk menegas-kan dimensi publik iman Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristiani dapat menjadi agen transformatif yang mengintegra-sikan iman, keterampilan praktis, etika kerja, dan solidaritas sosial. Pendi-dikan vokasional, pemberdayaan kelompok rentan, dan pembentukan ke-pemimpinan etis menjadikan pendidikan Kristiani sarana strategis untuk mengatasi ketimpangan, kemiskinan struktural, dan marginalisasi. De-ngan demikian, paradigma baru yang ditawarkan adalah pembangunan berkelanjutan tidak semata bertumpu pada pembangunan ekonomi, tetapi juga pada integrasi spiritualitas dan keadilan sosial
"Already but not yet": Konstruksi paradigma resiliensi teologis dalam konvergensi pemikiran eskatologis Paulus-Moltmann
This study examines the construction of the theological resilience paradigm through the convergence of Pauline and Moltmannian eschatological thought, particularly focusing on the "already but not yet" concept. The research demonstrates how Paul\u27s eschatological framework, as systematized by Geerhardus Vos, intersects with Jürgen Moltmann\u27s theology of hope to construct a paradigm of theological resilience. Through a literature-based analysis, this study reveals that the tension between present reality and future hope creates a distinctive theological framework for understanding human perseverance in the face of suffering. The convergence of these theological traditions offers a novel perspective on resilience that transcends psychological categories, grounding human endurance in eschatological hope. The findings suggest that theological resilience arises from the dialectical tension of Christ\u27s inaugurated yet incomplete reign, offering believers both present comfort and a future orientation. This research contributes to contemporary theological discourse by offering a biblical-theological foundation for understanding resilience within Christian faith communities.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji konstruksi paradigma resiliensi teologis melalui konvergensi pemikiran eskatologis Paulus dan Moltmann, khususnya fokus pada konsep "already but not yet". Riset ini mendemonstrasikan bagaimana kerangka eskatologis Paulus, sebagaimana disistematisasi oleh Geerhardus Vos, bersinggungan dengan teologi harapan Jürgen Moltmann untuk mengkonstruksi paradigma resiliensi teologis. Melalui analisis berbasis literatur, penelitian ini mengungkap bahwa tegangan antara realitas kini dan harapan masa depan menciptakan kerangka teologis yang khas untuk memahami daya tahan manusia di tengah penderitaan. Konvergensi tradisi-tradisi teologis ini menawarkan perspektif novel tentang resiliensi yang melampaui kategori-kategori psikologis, mendasarkan daya tahan manusia pada harapan eskatologis. Temuan menunjukkan bahwa resiliensi teologis muncul dari tegangan dialektis pemerintahan Kristus yang sudah dimulai namun belum lengkap, memberikan kepada orang percaya baik penghiburan masa kini maupun orientasi masa depan. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus teologis kontemporer dengan menawarkan fondasi biblis-teologis untuk memahami resiliensi dalam komunitas iman Kristen
Melawan alienasi digital: Spiritualitas relasional sebagai antitesis phubbing dalam diskursus teologi komunikasi Kristen di era posdigital
The post-digital era has given rise to the phenomenon of phubbing, with a prevalence of 49.3% among young people, creating a crisis of relational spirituality within Christian communities. This research aims to analyze phubbing as a manifestation of digital alienation from a Christian communication theology perspective and construct relational spirituality as its theological antithesis. Through literature study methods with an integrative theological reflection approach, this research explores the phenomenology of phubbing, the framework of relational spirituality, the construction of resistant communities, and the transformation of ministry. Findings indicate that phubbing represents a fundamental crisis in understanding the relational imago Dei, threatening fellowship that reflects Trinitarian love. Relational spirituality offers a comprehensive theological paradigm that integrates the wisdom of Christian tradition with contemporary digital realities. Practical implications include developing theological praxis for forming communities resistant to digital alienation and reconceptualizing pastoral ministry for the post-digital era, as well as creating compelling counter-narratives to digital culture\u27s assumptions about connectivity as a substitute for authentic human development.
Abstrak
Era post-digital telah melahirkan fenomena phubbing dengan prevalensi 49,3% di kalangan generasi muda, menciptakan krisis spiritualitas relasional dalam komunitas Kristen. Penelitian ini bertujuan menganalisis phubbing sebagai manifestasi alienasi digital dalam perspektif teologi komunikasi Kristen dan mengkonstruksi spiritualitas relasional sebagai antitesis teologisnya. Melalui metode studi literatur dengan pendekatan teologis refleksi integratif, penelitian mengeksplorasi fenomenologi phubbing, kerangka spiritualitas relasional, konstruksi komunitas resisten, dan transformasi pelayanan. Temuan menunjukkan bahwa phubbing merepresentasikan krisis fundamental dalam pemahaman imago Dei yang relasional, mengancam persekutuan yang mencerminkan cinta Trinitas. Spiritualitas relasional menawarkan paradigma teologis komprehensif yang mengintegrasikan kebijaksanaan tradisi Kristen dengan realitas digital kontemporer. Implikasi praktisnya meliputi pengembangan praksis teologis untuk formasi komunitas yang resisten terhadap alienasi digital dan rekonseptualisasi pelayanan pastoral untuk era pasca-digital, menciptakan kontra-narasi terhadap asumsi kultur digital tentang konektivitas sebagai pengganti perkembangan manusia yang autentik
Dalek esa sebagai “integrating force”: Sebuah konstruksi teologis interaksi sosial masyarakat multikultural berbasis kearifan lokal di Kabupaten Rote Ndao
There has been substantial research within Indonesian community contexts attempting to understand violent conflicts in inter-ethnic, religious, and cultural interactions. Conversely, research exploring how people can live harmoniously in social interactions across ethnic, spiritual, and cultural boundaries remains limited. This study examines the local wisdom of "Dalek Esa," which has underpinned inter-ethnic and inter-religious interactions in the context of Rote Ndao Regency, East Nusa Tenggara Province. Employing qualitative research methods with phenomenological and ethnographic approaches, the study involved the author\u27s full immersion in the context of the community\u27s life. The research reveals that "Dalek Esa" has served as a foundation in the mechanism of ethnic and religious agreements. At the same time, differences in livelihoods have constructed the peaceful and harmonious life of the culturally and religiously diverse Rote Ndao community.
Abstrak
Terdapat banyak penelitian dalam konteks komunitas masyarakat di Indonesia yang berupaya memahami tentang konflik kekerasan dalam interaksi antar etnis, agama dan budaya. Sementara, di sisi yang lain, penelitian tentang bagaimana orang-orang bisa hidup rukun dalam interaksi sosial antar etnis, agama dan budaya masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi kearifan lokal “Dalek Esa” yang telah mendasari interaksi antar etnis dan agama dalam konteks masyarakat Kabupaten Rote Ndao- Propinsi Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan etnografi yang dilakukan berupa keterlibatan penuh penulis dalam konteks kehidupan masyarakat. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa “Dalek Esa” telah menjadi pondasi dalam mekanisme kesepakatan etnis, agama dan perbedaan mata pencaharian telah mengkonstruksi kehidupan masyarakat Rote Ndao yang berbeda budaya dan agama yang rukun dan damai
Teologi hospitalitas dalam pendidikan seksualitas: Pendekatan Pedagogi Kristen untuk meningkatkan efikasi diri seksual remaja
Sexuality education in Christian institutions still faces significant challenges due to the normative approach that often causes stigma and fear among adolescents. Hospitality theology provides a more reflective and inclusive approach to sexuality education, grounded in Christian Pedagogy. This model emphasizes dialogue, contextual theological reflection, and charity-based mentoring to improve students\u27 sexual self-efficacy. By creating a safe space for exploring sexual identity in the light of faith, this approach helps adolescents build a more mature moral and spiritual awareness. This study uses a conceptual analysis method to develop a model of hospitality-based sexuality education that can be implemented in Christian institutions. The results show that hospitality-based education is more effective in fostering reflective awareness, promoting healthy decision-making, and cultivating a more supportive community in understanding responsible sexuality.
Abstrak
Pendidikan seksualitas dalam institusi Kristen masih menghadapi tantangan besar akibat pendekatan normatif yang sering kali menimbulkan stigma dan rasa takut di kalangan remaja. Teologi hospitalitas menawarkan pendekatan yang lebih reflektif dan inklusif dalam pendidikan seksualitas berbasis Pedagogi Kristen. Model ini menekankan dialog, refleksi teologis yang kontekstual, serta pendampingan berbasis karitas untuk meningkatkan efikasi diri seksual peserta didik. Dengan menciptakan ruang aman untuk eksplorasi identitas seksual dalam terang iman, pendekatan ini membantu remaja membangun kesadaran moral dan spiritual yang lebih matang. Penelitian ini menggunakan metode analisis konseptual untuk mengembangkan model pendidikan seksualitas berbasis hospitalitas yang dapat diimplementasikan dalam institusi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis hospitalitas lebih efektif dalam membangun kesadaran reflektif, meningkatkan pengambilan keputusan yang sehat, serta menciptakan komunitas yang lebih mendukung dalam pemahaman seksualitas yang bertanggung jawab
Dari lokalitas ke universalitas: Pengembangan model pendidikan kristiani berbasis kearifan lokal sebagai fondasi solidaritas dan tanggung jawab sosial-teologis
This research explores the development of a Christian education model that integrates local wisdom as a foundation for building solidarity and socio-theological responsibility. Through a comprehensive literature study approach with a hermeneutical-critical analysis of theological and pedagogical sources, this research identifies how local values can serve as a bridge to a universal understanding of human solidarity. The findings suggest that integrating local wisdom into Christian education not only enriches theological understanding but also enhances pedagogical relevance and effectiveness in the Indonesian context. The developed model offers a transformative framework that connects locality with universality through a contextual educational praxis while remaining faithful to fundamental Christian values.
Abstrak
Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan model pendidikan Kristiani yang mengintegrasikan kearifan lokal sebagai fondasi untuk membangun solidaritas dan tanggung jawab sosial-teologis. Melalui pendekatan studi literatur komprehensif dengan analisis hermeneutis-kritis terhadap sumber-sumber teologis dan pedagogis, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana nilai-nilai lokal dapat menjadi jembatan menuju pemahaman universal tentang solidaritas kemanusiaan. Temuan menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pendidikan Kristiani tidak hanya memperkaya pemahaman teologis tetapi juga meningkatkan relevansi dan efektivitas pedagogis dalam konteks Indonesia. Model yang dikembangkan menawarkan kerangka kerja transformatif yang menghubungkan lokalitas dengan universalitas melalui praxis pendidikan yang kontekstual namun tetap setia pada nilai-nilai Kristiani fundamental
Tanah sebagai sakralitas: Makna teologis tanah dalam tradisi tenun ikat Rote dari perspektif kaum perempuan penenun Rote Ndao
This article explores the theological significance of land in the Rote ikat weaving tradition from the perspective of women weavers in Rote Ndao, East Nusa Tenggara. Through a literary approach, this research reveals how the practice of prayer is not only an economic activity but also a sacred space where women connect with the land as a source of life and spiritual identity. The findings suggest that in the cosmology of Rote women weavers, land possesses a sacred dimension that is intricately linked to the practice of ikat weaving, thereby creating a unique contextual theology within the Eastern Indonesian context.
Abstrak
Artikel ini mengeksplorasi makna teologis tanah dalam tradisi tenun ikat Rote dari perspektif perempuan penenun di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Melalui pendekatan literatur, penelitian ini mengungkap bagaimana praktik berdoa tidak hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sakral di mana perempuan menjalin hubungan dengan tanah sebagai sumber kehidupan dan identitas spiritual. Temuan menunjukkan bahwa dalam kosmologi perempuan penenun Rote, tanah memiliki dimensi sakralitas yang terintegrasi dengan praktik tenun ikat, menciptakan teologi kontekstual yang unik dalam konteks Indonesia Timur