Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
    3954 research outputs found

    Tentang Kematian Menurut Kaum Epikurean

    No full text
    Epicurus had four remedies called tetrapharmakos, which were as follows: \u27Don\u27t fear God, don\u27t worry about death: what is good is easy to get, and what is terrible is easy to endure.\u27 Death should not be feared because when it arrives, we are no longer capable of experiencing it. In reality, why do humans fear death? This issue has been examined using the research method of studying literature, particularly the philosophical thoughts of Epicureans. Many of the implicit fears humans have about death are actually fears of suffering (pain). Those who are excessively afraid of death and plan for it in great detail end up disturbing their inner peace and, as a result, they are not happy. Therefore, Epicureans suggest that we should enjoy the present moment. Death will certainly come, but we can face it with a calm and undisturbed soul (ataraxia), which is the happiness that Epicureans seek to achieve.Epikuros memiliki empat obat penawar bernama tetrapharmakos, isinya: ‘jangan takut Tuhan, jangan khawatir tentang kematian: rasa nikmat mudah didapat, dan rasa sakit mudah dijalankan’. Kematian tidak perlu ditakutkan, karena pada saat kematian itu datang, kita sudah tidak dapat lagi merasakannya. Pada realitanya, mengapa manusia takut akan kematian? Masalah ini diteliti menggunakan metode penelitian studi literatur, khususnya pemikiran filsafat kaum Epikurean.  Banyak ketakutan manusia tentang kematian secara implisit sebenarnya adalah ketakutan pada penderitaan (rasa sakit). Orang yang terlalu takut akan kematian dan merencanakannya dengan sangat detil justru mengakibatkan gangguan pada ketenangan jiwanya, ia justru tidak bahagia. Maka kaum Epikurean menyarankan kita untuk menikmati momen sekarang dan saat ini. Kematian pasti datang, tetapi kita dapat menghadapinya dengan jiwa yang tenang tanpa gangguan (ataraxia), inilah kebahagiaan yang ingin dicapai kaum Epikurean

    Preferensi Warga Kota Bandar Lampung Terhadap Angkutan Umum

    No full text
    Pemberlakuan tarif sangat murah belum mampu menarik minat masyarakat untuk memanfaatkannya. Hal ini menunjukkan bahwa tarif bukan merupakan faktor penentu minat masyarakat terhadap angkutan umum. Faktor pendorong minat masyarakat Bandar Lampung terhadap angkutan umum diteliti dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM). Instrument penelitian berupa kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan yang disusun berdasarkan pendekatan teoritis dan disajikan dalam Google Form. Pendekatan yang digunakan adalah bahwa variabel minat adalah variabel laten yang dapat diukur melalui faktor-faktor yang menimbulkan minat itu sendiri. Penelitian dilakukan di Kota Bandar Lampung terhadap masyarakat pada rentang umur 15-60 tahun. Sampel diambil secara accidental random sampling. Kuisioner disebarkan melalui aplikasi perpesanan WhatsApp. Jumlah sampel sebanyak 348 responden untuk mewakili populasi 785.450 jiwa dengan taraf kesalahan sebesar 5%. Hasil kuisioner diestimasi dengan alat bantu AMOS 23 (trial version). Hasil estimasi menunjukkan bahwa faktor penarik berupa perbaikan dalam kemudahan menjangkau layanan, memperbaiki pelayanan angkutan umum, dan menyediakan sistem pembayaran yang terintegrasi adalah faktor yang paling dominan dalam menentukan minat masyarakat untuk beralih ke angkutan umum. Dari hasil tersebut diajukan rekomendasi untuk memperbaiki faktor-faktor penarik untuk menarik minat masyarakat beralih ke angkutan umum yaitu dengan memperbaiki keterjangkauan, memperbaiki pelayanan angkutan umum, dan menyediakan sistem pembayaran yang terintegrasi

    Peran Institusi Ekonomi Dalam Menangani Eksternalitas Negatif Akibat Over Carrying Capacity Keramba Jaring Apung Waduk Jatiluhur

    No full text
    This study aims to find out how externalities occur and the role of economic institutions in dealing with externalities of floating net cages in Jatiluhur Reservoir. The method used is descriptive qualitative analysis with secondary data on plot population numbers and water quality parameters in 2014-2019. The result of this study is that the increasing number of floating net cages plot populations causes over-carrying capacity, and negative externalities occur due to excessive leftover feed. The negative externality cause the reservoir water quality dicrease and disruption of activities around the Jatiluhur Reservoir. The study find, PJT II, the institution that have authority to manage Jatiluhur Reservoir, applies jurisdictional boundaries, rights, obligations, and representation rules to deal with negative externalities.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana eksternalitas terjadi dan peran lembaga ekonomi dalam mengatasi eksternalitas keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan data sekunder berupa jumlah populasi petak dan parameter kualitas air tahun 2014-2019. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa peningkatan jumlah populasi petak keramba jaring apung menyebabkan daya dukung yang berlebihan, dan eksternalitas negatif terjadi karena sisa pakan yang berlebihan. Eksternalitas negatif menyebabkan penurunan kualitas air waduk dan terganggunya aktivitas di sekitar Waduk Jatiluhur. Studi menemukan, PJT II, lembaga yang memiliki kewenangan untuk mengelola Waduk Jatiluhur, menerapkan batasan yurisdiksi, hak, kewajiban, dan aturan representasi untuk menghadapi eksternalitas negatif

    Eksistensi Tarian Kuda Lumping pada Masyarakat Sunda Berdasarkan Dimensi Tri Tangtu: Sebuah Kajian Hermeneutik

    No full text
    Kuda Lumping or ébég is a typical Sundanese traditional dance that requires the presence of spontaneity when it is played. In it, the elements of profane from the dance and the elements of sacred from its rituals are combined as a medium for the manifestation of the spiritual to the material. It is said that spiritual power is present in the human world through this spontaneity. This is why trance often occurs in the riders of Kuda Lumping as a medium for the presence of spiritual power. The Sundanese people with the Tri Tangtu philosophy believe that mediation through Kuda Lumping is a way for the community to communicate with Sang Hyang or Batara Tunggal. In this paper, the exploration of cultural hermeneutic studies on the Kuda Lumping dance will be discussed based on the dimensions of Tri Tangtu.  Kuda lumping, atau ébég merupakan kesenian tradisional khas Sunda yang sarat dengan hadirnya spontanitas ketika dimainkan. Di dalamnya, bercampur unsur seni tari yang profan dan tujuan ritual yang sakral sebagai medium manifestasi yang spiritual ke yang material. Konon, melalui spontanitas tersebut, daya spiritual hadir di dunia manusia. Inilah mengapa kesurupan seringkali terjadi kepada penunggang Kuda Lumping sebagai media dihadirkannya kekuatan roh. Masyarakat Sunda dengan falsafah Tri Tangtu mempercayai bahwa mediasasi melalui Kuda Lumping adalah cara masyarakat berkomunikasi dengan Sang Hyang atau Batara Tunggal. Pada tulisan ini, eksplorasi kajian hermeneutika kebudayaan tentang tarian Kuda Lumping akan dibahas berdasarkan dimensi Tri Tangtu

    Penilaian Keberlanjutan Padi Pada Tingkat Lahan Pertanian/Field Level Menggunakan Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fuzzy-Ahp

    No full text
    Sustainable development in agriculture is needed to protect from economic, social and environmental aspects. The International Rice Research Institute has related goals, such as improving health by improving rice nutrition and food security and creating an environmentally friendly rice system. One of the United Nations’ sustainable development goals is to eliminate famine by implementing food security, improving nutrition, and encouraging agriculture sustainability. This study aims to identify the criteria, sub-criteria and assessment indicators and assess sustainable rice farming in two villages in Karawang, Parungsari and Pasirjengkol. The assessment consists of criteria, sub-criteria and indicators. Criteria and sub-criteria weights were also obtained from experts and calculated using the Fuzzy-Analytical Hierarchy Process (Fuzzy-AHP) method. Then, the rubric determines, and the assessment is carried out and compared to the standard. As a result, both regions have low score indicators. The results of the evaluation score for the economic, social and environmental criteria of Parungsari are 1,679; 2,615; and 3,495. The economic, social and environmental assessment scores of Pasirjengkol are 1,745; 2,588; and 3,189. Recommendations for improvement are also given for each low-scoring indicator.    Perkembangan berkelanjutan di bidang pertanian diperlukan untuk menjaga kelangsungan dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. International Rice Research Institute memiliki tujuan terkait, seperti meningkatkan kesehatan dengan meningkatkan nutrisi dan keamanan beras dan membuat sistem beras yang ramah lingkungan. Sejalan dengan itu, ada tujuan pembangunan berkelanjutan oleh PBB terkait yang menghilangkan dan mengakhiri kelaparan di mana-mana, menerapkan ketahanan pangan dan meningkatkan gizi serta mempromosikan pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, pertanian keberlanjutan perlu dipertimbangkan sebagai tindakan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria, sub kriteria dan indikator penilaian serta untuk melakukan penilaian terhadap pertanian padi berkelanjutan di dua desa di Karawang, yaitu Parungsari dan Pasirjengkol. Penilaian terdiri dari kriteria, sub kriteria dan indikator. Bobot kriteria dan sub kriteria juga diperoleh dari pakar dan dihitung dengan menggunakan metode Fuzzy-Analytical Hierarchy Process (Fuzzy-AHP). Kemudian, rubrik ditentukan dan penilaian dilakukan dan dibandingkan dengan standar. Hasilnya, kedua wilayah tersebut memiliki indikator skor rendah. Hasil skor penilaian kriteria ekonomi, sosial dan lingkungan Parungsari adalah 1,679; 2.615; dan 3.495. Hasil skor penilaian kriteria ekonomi, sosial dan lingkungan Pasirjengkol adalah 1,745; 2.588; dan 3.189. Rekomendasi perbaikan juga diberikan untuk setiap indikator skor rendah.

    Pengembangan Pendekatan Matematis dan Penyelesaiannya untuk Reliabilitas Sistem Dengan Distribusi Kegagalan Berbeda

    No full text
    The productivity of a company or industry is highly dependent on the performance of the machines or equipment used. Reliability is one measure of machine or equipment performances. In industry, machines usually will form a complex configuration with each component having a different failure distribution. Research has been carried out for three systems installed in parallel where the three systems have different of failure distributions. The failure distribution used is the Normal, Weibull, and Normal Log distribution. Reliability calculations can be accomplished by making the three distributions have a similar shape even if could e the same. The three distributions have their respective parameters whose values ​​will be determined so that there is a similarity in the shape of the three distributions. System reliability od system with parallel configuration can then be calculated.Produktivitas suatu perusahaan atau industri sangat bergantung dari performansi mesin atau peralatan yang digunakan. Keandalan merupakan salah satu ukuran performansi mesin atau peralatan. Pada industri, mesin-mesin akan membentuk sistem yang kompleks dengan masing-masing komponen dapat mempunyai distribusi kegagalan yang berbeda. Penelitian telah dilakukan untuk tiga sistem yang dipasang paralel dimana ketiga sistem memiliki distribusi kegagalan yang berbeda. Distribusi kegagalan yang digunakan adalah distribusi Normal, Weibull, dan distribusi Log Normal. Perhitungan keandalan dapat dilakukan dengan membuat ketiga distribusi memiliki bentuk yang mirip bahkan kalau bisa sama. Ketiga distribusi memiliki parameter masing-masing yang sedemikian rupa yang akan ditentukan nilainya sehingga ada kesamaan bentuk ketiga distribusi tersebut. Reliabilitas sistem dengan konfigurasi paralel kemudian dapat dihitung

    Model Prediksi dengan Pembelajaran Mesin dalam Pemberian Program Beasiswa kepada Calon Mahasiswa Baru Program S1 di Perguruan Tinggi Swasta.

    No full text
    Competition in the higher education, especially private higher education (PTS) in the digital era, is becoming increasingly tough. In order to achieve the number of prospective new students, various methods are used so that the target for admitting the number of new students can be achieved in each new academic year. Providing a scholarship program is one way to attract the prospective new students. The awarding of a scholarship program must consider various possibilities such as the seriousness or commitment of the prospective new student. Refusal to grant scholarship programs can occur and become an obstacle for achieving the target. The prediction model through machine learning using some variables such as high school’s name, high school “category”, province or area of high school located, focus of specialization in high school, high school’s grade, type of parents income, and selected major of study in higher education. All of those variables will provides the probability values that will become an indicator that can be used to prioritize requests for scholarship program applications by taking into account the factors of acceptance or rejection from prospective students. Currently there is no measurement with accuracy of acceptance or rejection from prospective students. The purpose of this research is to build and compare machine learning models such as Logistic Regression, Artificial Neural Networks, Support Vector Machines, Decision Trees, Naïve Bayes, and K Nearest Neighbors so that a machine learning model is obtained that has the best predictions for awarding scholarship programs. The result of this research is that the Logistic Regression model has the highest model average accuracy value (62,05%) from training data compared to others. The highest accuracy of Logistic Regression model (62,29%) achieved based on the testing data. The highest AUC value (0,818) generated by Logistic Regression model which means the model is able to do the classification categorized “Good Classification” compare to other models.Persaingan di dalam dunia pendidikan tinggi secara khusus Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terutama di era digital menjadi semakin ketat. Dalam memperebutkan jumlah calon mahasiswa baru yang tersedia, berbagai cara dilakukan agar target penerimaan jumlah mahasiswa baru dapat tercapai. Pemberian program beasiswa adalah salah satu cara menjaring calon mahasiswa baru. Pemberian program beasiswa harus mempertimbangkan berbagai kemungkinan seperti keseriusan atau komitmen sedangkan penolakan pemberian program beasiswa dapat juga terjadi dan menjadi kendala pada akhir suatu periode Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Model prediksi melalui pembelajaran mesin dengan beberapa atribut seperti asal sekolah SMA, “Kategori Sekolah” SMA, provinsi atau daerah asal SMA, jurusan saat SMA yang diambil, nilai akademik SMA, jenis pekerjaan orang tua, dan pilihan program studi atau jurusan yang akan diambil saat nanti berkuliah pada akhirnya dapat memberikan suatu indikator nilai peluang atau kemungkinan penerimaan atau penolakan program beasiswa dari seorang calon mahasiswa baru. Saat ini belum ada usaha untuk memprediksi secara sistematis terhadap penerimaan / penolakan program beasiswa. Tujuan penelitian ini adalah membangun dan membandingkan model pembelajaran mesin seperti Logistic Regression, Artificial Neural Network, Support Vector Machine, Decision Tree, Naïve Bayes, dan K Nearest Neighbors sehingga didapatkan satu model pembelajaran mesin yang memiliki prediksi yang terbaik terhadap pemberian program beasiswa. Dari hasil penelitian maka model Logistic Regression memiliki nilai akurasi rata-rata tertinggi (62,05%) saat melakukan pembelajaran model dengan data latihan dibandingkan dengan model lainnya. Akurasi model Logistic Regression memiliki nilai tertinggi terhadap data uji sebesar (62,29%) dan juga memiliki nilai AUC (0.818) yang berarti bahwa model dapat melakukan pengklasifikasian dengan baik terhadap kelompok pengambilan keputusan dibandingkan dengan model lainnya

    Kajian Indikator Eye Tracking untuk Deteksi Kewaspadaan pada Pekerjaan Inspeksi dengan Batasan Durasi Tidur dan Perbedaan Jenis Kelamin

    No full text
    Eye tracking (ET) has been widely used to detect ocular changes that are also correlated with fatigue. However, whether there is an ET indicator capable of detecting fatigue closely related to vigilance decrement is unknown. This study aims to determine which ET indicators are sensitive in detecting changes in vigilance due to sleep restriction (4 and 8 hours) in different gender. Fifty-six participants (28 men, 21.32 ± 1.16 years and 28 women, 21.5 ± 1.2 years) were involved in this study. Using an eye tracker device, participants were asked to simulate inspecting defects (dirt, scratches, missing parts, and poor assembly) at 50 flashlights. In addition, vigilance assessment was carried out with the Psychomotor Vigilance Task (PVT) and the Karolinska Sleepiness Scale (KSS). The results of ANOVA showed that sleep restriction affected the mean RT (p-value = 0.001), minor lapse (p-value = 0.036), mean 1/RT (p-value = 0.001), saccadic velocity (p-value = 0.001), and KSS (p-value = <0.001). Gender influenced the mean 1/RT (p-value = 0.016), pupil diameter (p-value = 0.022), and saccadic velocity (p-value = 0.030). The Pearson correlation test shows a weak relationship between the ET and PVT indicators. However, saccadic velocity has the potential to be able to detect changes in vigilance because it is influenced by sleep restriction. Further research is still needed to confirm these results because the correlation between saccade velocity and PVT indicators in this study still needs to show a stronger relationship to become a vigilance indicator.Eye tracking (ET) sudah banyak digunakan untuk mendeteksi perubahan okular yang juga berkorelasi dengan kelelahan. Namun, sejauh ini belum diketahui apakah terdapat indikator ET yang mampu mendeteksi kelelahan yang berkaitan erat dengan penurunan kewaspadaan. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator ET yang sensitif mendeteksi perubahan kewaspadaan akibat batasan durasi tidur (4 dan 8 jam) pada perbedaan jenis kelamin. Sebanyak 56 partisipan (28 pria, 21,32 1,16 tahun dan 28 wanita, 21,5  1,2 tahun) dilibatkan pada penelitian ini. Partisipan diminta melakukan simulasi inspeksi cacat (dirt, scratch, missing part, dan poor assembly) pada 50 senter sambil menggunakan eye tracker. Selain itu juga dilakukan pengujian kewaspadaan dengan Psychomotor Vigilance Task (PVT) dan Karolinska Sleepiness Scale (KSS). Hasil ANOVA menunjukkan durasi tidur memengaruhi mean RT, minor lapse, mean 1/RT, kecepatan sakadik, dan KSS.  Sebaliknya, jenis kelamin memengaruhi mean 1/RT, diameter pupil, dan kecepatan sakadik. Selain itu, uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan yang lemah antara indikator ET dan PVT. Meski demikian, kecepatan sakadik berpotensi mampu mendeteksi perubahan kewaspadaan karena dipengaruhi durasi tidur yang sangat terkait dengan kewaspadaan. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hasil ini karena pada penelitian ini korelasi kecepatan sakadik dan indikator PVT masih menunjukkan hubungan yang lemah

    Model-Model Kebersamaan Lingkungan: Mewujudkan Persaudaraan Gerejawi

    No full text
    The Catholic Church in Indonesia views the parochial lingkungan as a community of believers who live in a nearby neighbourhood, practicing fraternity, supporting and enriching one another in their life and ministry. The activities and meetings in the lingkungan are a means for the faithful to establish fraternal relations through shared faith experiences and joint ministries. However, the lingkungan members’ participation in such activities and meetings might decrease due to certain difficulties, and this situation can interfere with the effort of realising their ecclesial communion and fraternity. In this article, the issue of the faithful’s decrease of participation in lingkungan is addressed by offering some models of togetherness inspired by the Scriptures and the Church documents such as Evangelii Gaudium and Fratelli Tutti. The models offered refer to some important aspects as personal encounter, everyday conversation, and sharing of life. Each model explores a different point of view to develop some ways of building togetherness among the faithful in the lingkungan. These models are considered flexible as they can be (re)interpreted according to the relevant challenges and are complementary in their character. Models offered in this article can be seen as alternatives to the existing practices of meeting and catechesis in the parochial lingkungan. They also can help lingkungan  administrators and their members participate more actively in realising the ecclesial communion and the Christian fraternity among themselves

    The Impact of Philosophy on Religious Education for High School Students

    No full text
    This article is a result of a research conducted to examine the interrelation between religion and philosophy and to measure how such interaction is embodied in religious subjects taught in middle-high schools in Indonesia. This is considered important because in Indonesian national education, the religious dimension is regarded fundamental and therefore must be emphasised. The classes are divided based on the students’ religion. In order to prevent such division becomes religious segregation that could lead to practices of intolerance, philosophy is proposed as a rational solution to bridge the discrepancy. This is considered imperative so that in school religion is not understood as an exclusive set of doctrines, but as a subject in education process that brings inclusive and pluralistic attitudes. Three basic and important characteristics are analysed in this article, that is, the breadth of perspective about God, the openness towards other religions, and the willingness to embrace science in general

    0

    full texts

    3,954

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇