Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
    3954 research outputs found

    PENGARUH PENGEMBANGAN KAWASAN TERHADAP PROYEKSI VOLUME LALU LINTAS HARIAN RATA-RATA JALAN TOL RUAS KAYU AGUNG–PALEMBANG–BETUNG

    No full text
    Abstract   Toll roads are crucial infrastructure for interregional connectivity. The Kayu Agung–Palembang–Betung Toll Road section, examined in this study, is part of the Trans-Sumatra Toll Road and serves to support regional economic growth. This study projects average daily traffic volumes, taking into account the impact of the development of two areas, namely the Tanjung Enim Industrial Estate and the Tanjung Carat Special Economic Zone. Modeling was conducted using the four-stage transportation method with the assistance of PTV Visum 22 software. This study shows that regional development has a significant impact on increasing traffic volumes. The optimistic scenario in this study indicates that average daily traffic is predicted to reach more than 63,000 vehicles/day by 2065.   Keywords: toll road; Average Daily Traffic; industrial area; special economic zone     Abstrak   Jalan tol merupakan infrastruktur penting sebagai konektivitas antardaerah. Ruas Jalan Tol Kayu Agung–Palembang–Betung, yang dikaji pada studi ini, merupakan bagian Jalan Tol Trans Sumatera dan berfungsi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah. Pada Studi ini diproyeksikan lalu lintas harian rata-rata dengan mempertimbangkan pengaruh pengembangan 2 kawasan, yaitu Kawasan Industri Tanjung Enim dan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Carat. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan metode transportasi empat tahap dengan bantuan perangkat lunak PTV Visum 22. Studi ini menunjukkan bahwa pengembangan suatu kawasan berdampak signifikan terhadap peningkatan volume lalu lintas. Skenario optimis pada studi ini menunjukkan bahwa lalu lintas harian rata-rata diprediksi mencapai lebih daripada 63.000 kendaraan/hari pada tahun 2065.   Kata-kata kunci: jalan tol; Lalu Lintas Harian Rata-Rata; kawasan industri; kawasan ekonomi khusu

    Efficiency of Intensive Care Space in Class C Hospitals through IPD: Case Studies of RS JIH Purwokerto and RSA UII

    No full text
    The spatial organization of intensive care units (ICUs) in hospitals plays a crucial role in supporting the effectiveness of medical services, infection control, and patient comfort. This study aims to evaluate the spatial adequacy and configuration of intensive care spaces at RS JIH Purwokerto in accordance with national standards (Ministry of Health Regulation No. 40 of 2022) and to draw insights from RSA UII Yogyakarta as a comparative case. A qualitative–descriptive approach was employed, incorporating spatial analysis and document review, supported by technical plan visualizations and comparative matrices. The findings indicate that although most units meet the minimum area requirements, there remains room for improvement in spatial efficiency, sterile–non-sterile zoning, and integration of supporting facilities. The analysis also highlights the relevance of applying the Integrated Project Delivery (IPD) approach as a collaborative strategy to enhance design efficiency through interdisciplinary coordination, the use of Building Information Modeling (BIM), and early user involvement during the design process. The novelty of this research lies in the integration of spatial evaluation with the IPD framework within the context of Class C hospitals in Indonesia. These findings contribute to the development of efficient, adaptive, and collaborative design strategies for mid-sized healthcare facilities

    #MeToo in Sweden: A Legal Game-Changer on Sexual Harassment

    No full text
    Sweden is well-known for having the highest levels of gender equality. In reality, Sweden has one of the highest reported incidences of sexual harassment in the European Union. Numerous feminist movements have arisen as a result, with the #MeToo movement and the Harvey Weinstein case being highly well-known in 2017.  As one of the social movements, #MeToo aims to accomplish certain objectives. For example, it is now working to change sexual harassment laws in Sweden. This poses the question, how can a social movement such as #MeToo impact a nation\u27s laws to the extent that those laws have impacted? In this essay, we aim to give a broad overview of a social movement that has garnered a lot of support from Swedish society. The approach is qualitative and uses the theory of liberal feminism and social movement in addition to secondary data collection. The study\u27s findings examine a social movement that urged the government to transform the status quo by providing a safe space for women to fight for gender equality. This movement ultimately resulted in the passing of a new law that was a reform that benefited the victims. Keywords: Social Movement; #MeToo; Sexual Harassment; Policy Change; Sweden.Swedia sering kali dikenal sebagai negara dengan kesetaraan gender terbaik. Namun nyatanya, di Uni Eropa, Swedia merupakan salah satu negara dengan Tingkat pelaporan pelecehan seksual tertinggi. Hal ini mengakibatkan banyaknya gerakan feminisme yang muncul, hingga membuat gerakan #MeToo menjadi sangat digandrungi pada 2017 silam dengan adanya kasus Harvey Weinstein. #MeToo sendiri termasuk ke dalam salah satu gerakan sosial, di mana setiap gerakan sosial memiliki tujuan yang ingin mereka capai, seperti bagaimana #MeToo berusaha memengaruhi kebijakan di Swedia terkait dengan pelecehan seksual. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana gerakan sosial seperti #MeToo dapat memengaruhi hukum suatu negara hingga melakukan reformasi hukum di negara tersebut? Dalam artikel ini, kami ingin memberikan gambaran mengenai sebuah gerakan sosial yang mendapatkan dukungan masif, di mana Masyarakat Swedia sangat mendukung gerakan sosial ini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data sekunder, selain itu juga menggunakan teori Feminisme Liberal serta Social Movement.Hasil dari penelitian ini menganalisis mengenai sebuah gerakan sosial dengan tuntutannya kepada pemerintah untuk mengubah kebiasaan lama dan menjadikannya lebih baik lagi, sebuah kondisi yang aman bagi perempuan, di mana kesetaraan gender dapat diperjuangkan dengan baik, yang pada akhirnya melahirkan sebuah hukum baru sebagai bentuk reformasi yang berpihak kepada mereka, para korban pelecehan seksual. Kata Kunci: Gerakan Sosial, #MeToo, Pelecehan Seksual, Perubahan Kebijakan, Swedia

    Global Market Entry Strategies in K-Pop’s Expansion into Southeast Asia A Comparative Study on SM Entertainment, YG Entertainment, JYP Entertainment, & HYBE

    No full text
    South Korea\u27s leading K-Pop multinational corporations—HYBE, SM, JYP, and YG—have actively pursued international growth, with Southeast Asia emerging as a pivotal market. This research investigates the strategic approaches these companies employ to penetrate the Southeast Asian market, a region characterized by substantial K-pop fandom. Utilizing a qualitative case study design, the analysis draws upon secondary data, including news reports and official corporate publications, to examine the Big Four\u27s global market entry models through several categories, including exports, licensing, alliances or joint ventures, and FDI. The study finds that the Big Four primarily focus on exporting K-pop products to Southeast Asia, capitalizing on its large, loyal fan base. These companies prefer partnership and distribution strategies to enter the Southeast Asian market while reducing risk by avoiding long-term investment through FDI (i.e., establishing subsidiaries, acquiring local companies, or building new business operations in the region).Keywords: market entry strategy, big four agencies, Korean music industry, Southeast Asia.Perusahaan multinasional K-Pop terbesar di Korea Selatan-HYBE, SM, JYP, dan YG-telah secara aktif mendorong pertumbuhan internasional, dengan menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar yang sangat penting. Penelitian ini menyelidiki pendekatan strategis yang digunakan perusahaan-perusahaan tersebut untuk menembus pasar Asia Tenggara, sebagai kawasan dengan jumlah penggemar K-pop yang besar. Dengan menggunakan metode studi kasus kualitatif, penelitian ini menggunakan data sekunder, termasuk laporan berita dan publikasi resmi perusahaan, untuk memeriksa market entry models dari Big Four melalui beberapa kategori, termasuk ekspor, lisensi, aliansi atau usaha kemitraan, dan FDI. Studi ini menemukan bahwa Big Four memiliki fokus utama untuk mengekspor produk K-pop ke Asia Tenggara, dengan memanfaatkan basis penggemar yang besar dan loyal. Perusahaan-perusahaan tersebut lebih memilih strategi kemitraan dan distribusi untuk memasuki pasar Asia Tenggara untuk mengurangi risiko dengan menghindari investasi jangka panjang melalui FDI (misalnya mendirikan anak perusahaan, mengakuisisi perusahaan lokal, atau membangun operasi bisnis baru di wilayah tersebut).Kata Kunci: strategi market entry, agensi big four, industri musik Korea, Asia Tenggara

    Post-Uthmanic Qur’anic Re-Canonization: A Historical Reconstruction of the Second Maṣāḥif Project during the Abbasid–Mamluk Era

    No full text
    This study aims to reconstruct the historical, philological, and ideological dynamics behind the phenomenon of post-Uthmanic Qur’anic re-canonization, known as the second maṣāḥif project. Specifically, it investigates how this process of textual reconsolidation unfolded during the Abbasid and Mamluk periods by highlighting the roles of scholars (ʿulamāʾ), political institutions, and bureaucratic mechanisms in shaping Sunni orthodoxy through the standardization of Qur’anic recitations (qirāʾāt). The study employs a qualitative-descriptive method with a historical-philological and sociological-ideological approach, based on an examination of classical maṣāḥif manuscripts (al-Dānī, Ibn Mujāhid, al-Suyūṭī) as well as secondary analyses from contemporary studies on the history of Qur’anic canonization. The findings reveal that the second maṣāḥif project represents a phase of textual and ideological consolidation marking the transition from oral to institutional authority. Ibn Mujāhid (d. 324 H/936 CE) played a central role in establishing the qirāʾāt sabʿah as the official boundary of canonical readings, supported by Abbasid political power to stabilize religious discourse and strengthen Sunni orthodoxy. The standardization of rasm Uthmānī and the elimination of non-canonical readings produced a hierarchical system of knowledge transmission, in which the qurrāʾ and ʿulamāʾ served as the exclusive mediators between the text and the Muslim community. Although this process achieved theological uniformity and ritual unity, it also resulted in dysfunctions—particularly the loss of linguistic and hermeneutical diversity within the qirāʾāt tradition. Theoretically, this study introduces the concepts of dual canonization and textual statecraft to explain the reciprocal relationship between sacred text, political authority, and the production of orthodoxy in classical Islam

    Retrofit Kolom Menggunakan Concrete Jacketing dan Steel Jacketing Pada Gedung Beton Bertulang Dengan Soft Story

    No full text
    Ketidakberaturan struktur akibat tuntutan arsitektur, seperti perbedaan tinggi lantai yang signifikan, dapat menimbulkan kondisi soft story (ketidakberaturan vertikal tipe 1a) yang berisiko menyebabkan kegagalan pada kolom. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas metode retrofit kolom dalam mengatasi kondisi soft story. Tiga model dianalisis: (1) model eksisting dengan soft story pada lantai 1, (2) model 1 yaitu model eksisting dengan soft story pada lantai 1 dengan retrofit concrete jacketing, dan (3) model 2 adalah model eksisting dengan soft story pada lantai 1 dengan retrofit steel jacketing. Retrofit diterapkan pada kolom sisi terluar lantai 1, dengan analisis menggunakan metode respons spektrum pada sistem struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Hasil analisis menunjukkan peningkatan kekakuan tingkat sebesar 26,12% pada model 1 dan 11,95% pada model 2, yang berhasil menghilangkan kondisi soft story. Selain itu, terjadi peningkatan kapasitas kolom yang ditunjukkan oleh penurunan nilai Demand to Capacity (D/C) Ratio masing-masing sebesar 4,11% dan 6,75%, serta peningkatan kapasitas aksial dan momen sebesar 58,58% dan 78,43% pada model 1, serta 273,11% dan 65,27% pada model 2.https://drive.google.com/file/d/19QY-vQnc1_Lffr9VEzUvk7AoodahSBbI/view?usp=sharin

    FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK INFRASTRUKTUR DI INDONESIA DAN STRATEGI MANAJEMENNYA: STUDI LITERATUR

    No full text
    Keterlambatan proyek infrastruktur merupakan permasalahan yang umum terjadi di sektor konstruksi Indonesia dan berdampak pada peningkatan biaya, penurunan mutu, dan gangguan pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan dan strategi mitigasinya melalui pendekatan systematic literature review (SLR). Sebanyak 13 artikel ilmiah terpilih yang diterbitkan antara tahun 2020 – 2025 dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat 80 entri faktor penyebab keterlambatan yang dapat diklasifikasikan ke dalam Sembilan kategori utama, dengan tiga kategori paling dominan yaitu faktor teknis (22 kemunculan), manajerial (20 kemunculan), dan kesternal (18 kemunculan). Faktor teknis mencakup kesalahan desain, metode pelaksanaan yang tidak sesuai, dan kondisi lapangan yang tidak terprediksi. Faktor manajerial berkaitan dengan lemahnya perencanaan, koordinasi, serta dokumentasi proyek, sedangkan faktor eksternal meliputi cuaca buruk, pembebasan lahan, dan kebijakan regulasi. Strategi mitigasi yang ditemukan mencakup penggunaan teknologi (BIM), penjadwalan adaptif, pelatihan SDM, penguatan logistic, dan koordinasi lintas instansi. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan secara menyeluruh dan kolaboratif dalam pengelolaan keterlambatan proyek infrastruktur. Keterlambatan proyek infrastruktur merupakan permaslaahan yang umum terjadi di sektor konstruksi Indonesia dan berdampak pada peningkatan biaya, penurunan mutu, dan gangguan pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan dan strategi mitigasinya melalui pendekatan systematic literature review (SLR). Sebanyak 13 artikel ilmiah terpilih yang diterbitkan antara tahun 2020 – 2025 dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat 80 entri faktor penyebab keterlambatan yang dapat diklasifikasikan ke dalam Sembilan kategori utama, dengan tiga kategori paling dominan yaitu faktor teknis (22 kemunculan), manajerial (20 kemunculan), dan kesternal (18 kemunculan). Faktor teknis mencakup kesalahan desain, metode pelaksanaan yang tidak sesuai, dan kondisi lapangan yang tidak terprediksi. Faktor manajerial berkaitan dengan lemahnya perencanaan, koordinasi, serta dokumentasi proyek, sedangkan faktor eksternal meliputi cuaca buruk, pembebasan lahan, dan kebijakan regulasi. Strategi mitigasi yang ditemukan mencakup penggunaan teknologi (BIM), penjadwalan adaptif, pelatihan SDM, penguatan logistic, dan koordinasi lintas instansi. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan secara menyeluruh dan kolaboratif dalam pengelolaan keterlambatan proyek infrastruktur

    Analisis Time History terhadap Kinerja Struktur Gedung Baja Bresing Konsentrik (Inverted-V)

    No full text
    Indonesia adalah negara yang memiliki aktivitas seismik cukup tinggi, sehingga mendorong perkembangan sistem struktur gedung baja tahan gempa. Untuk mendapatkan perilaku struktur yang lebih baik terhadap beban seismik, maka perlu diaplikasikan bresing konsentrik pada struktur gedung baja. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja struktur gedung baja bresing konsentrik tipe inverted-v dengan variasi profil bresing yaitu equal angle (model 1) dan hollow (model 2), yang memiliki luas penampang hampir sama. Analisis kinerja struktur menggunakan time history pada perangkat lunak ETABS. Kinerja struktur yang dibandingkan meliputi berat seismik efektif, gaya geser dasar, simpangan antar lantai, pengaruh P-Δ, rasio kapasitas penampang, dan tingkat kinerja berdasarkan FEMA 356. Setelah dilakukan analisis kinerja struktur secara keseluruhan, baik equal angle maupun hollow, dapat diaplikasikan sebagai bresing karena berada pada tingkat kinerja yang sama yaitu Immediate Occupancy (IO). Namun, dari rasio kapasitas penampang ternyata model 2 lebih unggul dibandingkan dengan model 1, yaitu sebesar 0,993

    Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Membantu Penulisan Karya Ilmiah: Sebuah Tinjauan Sistematis dengan Grey Literature

    No full text
    Penelitian ini membahas penggunaan kecerdasan buatan dalam penulisan karya ilmiah melalui pendekatan tinjauan sistematis terhadap grey literature. Meningkatnya pemanfaatan alat berbasis kecerdasan buatan, seperti sistem pendukung penulisan, pemeriksa bahasa, dan generator teks, menimbulkan peluang sekaligus tantangan dalam praktik akademik. Berbeda dari tinjauan berbasis jurnal ilmiah konvensional, studi ini menelaah laporan kebijakan, panduan institusi, dokumen organisasi profesional, dan publikasi daring non-komersial untuk menangkap perkembangan wacana yang lebih cepat dan aplikatif. Metode penelitian mencakup perumusan strategi pencarian, kriteria inklusi dan eksklusi, serta proses seleksi dan sintesis tematik terhadap sumber grey literature yang relevan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kecerdasan buatan dimanfaatkan terutama untuk peningkatan kualitas bahasa, efisiensi penulisan, dan dukungan struktur naskah, namun juga memunculkan isu etika terkait transparansi, authorship, dan integritas akademik. Studi ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan dalam penulisan karya ilmiah memerlukan kerangka kebijakan yang jelas dan pedoman etis yang adaptif, agar teknologi tersebut dapat mendukung produktivitas akademik tanpa mengorbankan prinsip-prinsip keilmuan

    PENGARUH PENGGUNAAN BIG DATA ANALYTICS DAN KINERJA AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT

    No full text
    In the digital era 4.0, technology is something that is needed by humans in supporting human activities. The rapid development of technology encourages a fast and precise way of working, with technology being a necessity for auditors in carrying out the audit process. One of the technological developments created is Big Data Analytics which can help the auditor\u27s work in the hope that it can help the audit process which can produce good audit quality. However, in addition to Big Data Analytics, auditor performance is also needed Auditors deal with various types of data. In this case, auditors are needed to process data and check whether the financial statements are in accordance with applicable standards. In the Digital 4.0 era, processing various types of data requires technology and also requires the ability of auditors. And it is hoped that the use of Big Data Analytics and auditor performance can produce good audit quality. This research uses quantitative methods. Samples were taken from Public Accounting Firms (KAP) located in Indonesia using purposive sampling. The data was processed using the IBM SPSS Statistics version 27 program, with 31 respondents. The results of this study explain that when the Big Data Analytics and auditor performance variables are reviewed partially on audit quality, the results Big Data Analytics and auditor performance have a significant effect on audit quality. Recommendations that can be given are that auditors must utilize the use of Big Data Analytics and improve good performance so that the resulting audit quality is also goo

    0

    full texts

    3,954

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇